cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan
ISSN : -     EISSN : 25031899     DOI : https://doi.org/10.15294/jtsp
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan (JTSP) is a scientific journal which biannualy published in April and October. We firstly published in 1999 as national journal of Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Semarang. In 2016, JTSP was indexed in DOAJ with Green Tick critera. And in 2018, JTSP expands its range of article quality and publication through publishing English-language articles.
Arjuna Subject : -
Articles 774 Documents
Debonding Behavior of Conventional Concrete Strengthened with Anchored FRP and Staked Ariyansyah, Rona; Gunadi, Riawan
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v21i2.19927

Abstract

Concrete structures can be damaged or deteriorate due to various reasons such as errors in planning, implementation factors, getting overload burden, decreased capacity and quality of structures, and changes in structural functions. Thus, to strengthen the damaged structures, there is a need for an investigation regarding the damage to the existing concrete structures. Retrofitting FRP (Fiber Reinforced Polymer) to the damaged structures can be a reinforcement alternative. The bond shear between FRP and concrete need to be considered in using FRP to solve the damaged structure. Shear behavior on the bonded structures greatly affects the condition of the structure. Therefore, this study aimed to examine the effect of anchors and stakes on FRP debonding behavior. This study was carried out experimentally to obtain the results and data on the effects of the anchors and stakes. This study used 9 specimens with a size of 150 mm x 150 mm x 300 mm. From those 9 specimens, 3 specimens were specimens without reinforcement (FR), 3 specimens were reinforced with anchor (FRA), and 3 specimens were reinforced with anchor and stake (FRAP). The test method used in this study referred to ASTM D5379 concerning the Standard Test Method for Shear Properties of Composite Materials. From the bond shear test of each FR, FRA, and FRAP specimens, it was found that the average maximum shear load was 19.405 kN, 28.465 kN, and 29.699 kN, consecutively.
PROSPEK PUBLIC SPACE PADA KAMPUNG SUSUN SEBAGAI RUANG INTERAKSI SOSIAL, EKONOMI DAN PENGEMBANGAN ILMU DI AREA BANTARAN SUNGAI Mulyandari, Hestin; Bhayusukma, Muhammad Yani
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v17i2.6883

Abstract

Commercial buildings in the city of Yogyakarta is growing rapidly and removing settlements outside the city of Yogyakarta. Some settlements reject commercial buildings, besides there is a plan of Ministry of public housing about the proposed location of settlements in the city of Yogyakarta to serve flats to maintain residential land and provide homes for low-income people. This study aims to explore the needs of the needs of the public space for children, adults, and the elderly. This study uses research methods - explorative search were the findings of the survey location, land use policy along the riverbank, and the use of public spaces in the building. RW 07 Jetis Harjo has become one of the targeted land for flats. Components of flats should enter "public space" that is used for public facilities together, and has designed the research team include: corridors, workshops, parking areas (motorcycles, bicycles, tricycles and  angkringan), banquet facilities, warehouses, open space, post of Code information that comes with this famous hawker centers and entertainment stage, children's playground (out door), where gardening and farming, planting space, business space, drying rooms, creative space including space of music (band). The expectations of the public space of flats can strengthen the social structure of society, by institutional structures and solidarity in society, and understanding the values of a new life in solving the problems of life.Bangunan komersial di Kota Yogyakarta tumbuh dengan pesat dan mendesak permukiman untuk bergeser ke luar ring Kota Yogyakarta. Namun beberapa permukiman menolak dengan tegas alih fungsi lahan tersebut, selain itu terdapat rencana dari Kemenpera tentang usulan lokasi permukiman di Kota Yogyakarta untuk dijadikan Rumah Susun dan/atau Kampung Susun untuk mempertahankan lahan permukiman dan menyediakan rumah tinggal bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi kebutuhan ruang bersama agar dapat memenuhi kebutuhan ruang publik untuk anak-anak, dewasa, dan lansia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian - eksploratif dengan penelusuran temuan-temuan pada hasil survey lokasi, kebijakan pemanfaatan lahan bangunan di bantaran sungai, dan penggunaan ruang-ruang publik dalam bangunan. Wilayah RW 07 Jetis Harjo menjadi salah satu lahan yang dibidik untuk perencanaan kampung susun milik seperti halnya rusunami. Komponen kampung susun harus memasukkan “public space” yang digunakan untuk fasilitas umum bersama, dan sudah dirancang tim peneliti antara lain: selasar/koridor, bengkel kerja, ruang parkir bersama (sepeda motor, sepeda, becak, dan gerobak angkringan), ruang serbaguna, gudang bersama, Ruang Terbuka Hijau (RTH)/ taman tepian Sungai Code, pos informasi wisata yang dilengkapi dengan angkringan pusat jajanan dan panggung hiburan, tempat bermain anak (out door), tempat berkebun dan beternak, ruang bercocok tanam, ruang usaha, ruang jemur bersama, ruang kreasi termasuk ruang bermusik (band). Harapan dari ruang publik kampung susun dapat memperkuat struktur sosial masyarakat, dengan membangun struktur kelembagaan maupun solidaritas di dalam masyarakat, dan memahamkan nilai-nilai kehidupan baru dalam menyelesaikan permasalahan hidup. 
ANALISA PERMINTAAN PARKIR DI STASIUN PONCOL DAN TAWANG SEMARANG Sutarto, Agung
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v12i2.1350

Abstract

Abstract: Activities in a railway station will generate trips which need parking space. This research is aimed  to analyze  the difference demand characteristics between Poncol and Tawang stations. These  characteristics  are  the  effect  of  ticket  price  to  trip  attraction,  trip  attraction  model, transportation mode demand and parking space demand. The economic class and transportation of goods  are  served  in  Poncol.  Bussiness  and  executive  class  is  served  in  Tawang  stastion.  The correlation  between  trip  attraction  and  the  number  of  ticket  can  be  described  in  the  following equation  : Ytrip  attraction  =  120,51  +  1,0602 Xticket      for Poncol  station,  and  : Ytrip  attraction  =  175,21 + 1,3212 Xticket      for Tawang station. Correlation between  trip attraction and  transportation mode can be described  in  the  following equation  : Ytripattr = 7,3063 + 3,271 Xprivate  car + 2,464 Xbecak + 2,406 Xmotor cycle + 2,448 Xpick up   for Poncol,  and : Ytrip attraction   =  4,467 + 3,567 Xprivate car + 2,517 Xmotorcycle,  for Tawang station. It can be concluded that the parking space demand for each passenger is  1,48 m2  in Poncol station and 7,3 m2  in Tawang station. Trips attraction per  ticket    is 1,0602  in Poncol station  and  1,3212  in  Tawang  station.  Transportation mode which  is  dominantly  used  in Poncol station  is   motorcycle, while  in Tawang station  is private car and motorcycle. Private car  is often used because the public transport facility could not support the train passenger’s needs. There are variable  pick-up  vehicles  in Poncol  because Poncol  station  served  passengers  and  goods. SRP which are used in Poncol station for passenger car  65 SRP, motorcycle 282 SRP, pick-up 52 SRP, and  tricycle (becak) 64 SRP.   SRP which are used  in Tawang station for passenger car 235 SRP, motor cycle 350 SRP and tricycle (becak) 13 SRP. Keywords:  trips attraction,  parking demand,  poncol station,  tawang station .   Abstrak: Kegiatan di stasiun kereta api akan menghasilkan perjalanan yang membutuhkan  ruang parkir. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menganalisis  karakteristik  permintaan  perbedaan  antara stasiun  Poncol  dan  Tawang. Ciri  ini  pengaruh  harga  tiket  ke  atraksi  perjalanan,  model  tarikan perjalanan,  kebutuhan  transportasi  mode  dan  kebutuhan  ruang  parkir. Kelas  ekonomi  dan transportasi  barang  disajikan  di  Poncol.Bisnis  dan  kelas  eksekutif  disajikan  di  Tawang stastion. Korelasi  antara  daya  tarik  perjalanan  dan  jumlah  tiket  dapat  digambarkan  dalam persamaan  berikut: Ytrip  atraksi =  120,51  +  1,0602 Xticket  untuk  stasiun Poncol, dan: Ytrip  atraksi = 175,21  +  1,3212  Xticket  untuk  stasiun  Tawang. Korelasi  antara  daya  tarik  dan moda  transportasi dapat digambarkan dalam persamaan berikut: Ytarikan = 7,3063 + 3271 Xmobil pribadi + 2.464 Xbecak + 2.406 Xsepeda  motor  +  2.448 Xpick-up  untuk  stasiun Poncol,  dan: Ytarikan  =  4467  +  3567 Xmobil  pribadi  + 2.517 Xsepeda  motor,  untuk  stasiun  Tawang. Dapat  disimpulkan  bahwa  ruang  parkir  permintaan penumpang masing-masing 1,48 m² di stasiun Poncol dan 7,3 m² di stasiun Tawang. Perjalanan atraksi per  tiket di stasiun Poncol 1,0602 dan 1,3212 di stasiun Tawang.Transportasi modus yang dominan digunakan di stasiun Poncol adalah sepeda motor, sedangkan di stasiun Tawang adalah mobil pribadi dan sepeda motor. mobil pribadi sering digunakan karena fasilitas transportasi publik tidak dapat mendukung kebutuhan penumpang kereta. Ada variabel kendaraan pick-up di stasiun Poncol  Poncol  karena  melayani  penumpang  dan  barang. SRP  yang  digunakan  dalam  stasiun Poncol untuk penumpang mobil 65 SRP, sepeda motor 282 SRP, pick-up 52 SRP, dan  roda  tiga (becak) 64 SRP. SRP yang digunakan dalam stasiun Tawang untuk mobil penumpang 235 SRP, sepeda motor 350 SRP dan roda tiga (becak) 13 SRP Kata kunci: bangkitan perjalanan, kebutuhan parkir, stasiun poncol, stasiun tawang
OPTIMALISASI PENATAAN FASILITAS PEJALAN KAKI DENGAN EFISIENSI PERGERAKAN BERDASARKAN PADA KARAKTERISTIK PEDESTRIAN (Studi Kasus di Simpang Empat Kartasura) Prasetyo, Harwidyo Eko
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v16i1.7227

Abstract

Problems related to the sidewalks and pedestrian facilities are provided in part used as a place of trade. The purpose of the study is to determine the characteristics of pedestrians, availability of facilities, the amount of pedestrian characteristics (flow (flow), velocity (speed), and density (density)), optimazion of facilities available to accommodate pedestrians and to determine how to resolve problems arise in pedestrian activity at the intersection of four Kartasura on Jl Ahmad Yani, Kartasura. Research object is taken along the pedestrian sidewalk and pedestrian crossing the road. Data taken consists of: pedestrian travel time, number of pedestrians, pedestrian number, the number of vehicles and pedestrians passing questionnaires at survey sites. The analytical methods used to determine the level of pedestrian facilities services with HCM method 2000 and for the results of the PV2 pedestrian facilities of the Department of Transport, UK. Based on the analysis and discussion in mind that pedestrian facilities are already available on Jl Ahmad Yani, Kartasura not function efficiently. The ability of the facility to accommodate pedestrian pedestrian expressed in the level of service is included based on the current and A pedestrian space and is based on the speed of pedestrians. Based on the results of the questionnaire showed that the optimal conditions are desired by the community and the use of pedestrian crosswalk with traffic lights / pelican crossing.Permasalahan terkait fasilitas pejalan kaki yaitu trotoar yang disediakan sebagian digunakan sebagai tempat berdagang. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik pejalan kaki, ketersediaan fasilitas, besarnya karakteristik pejalan kaki (arus (flow), kecepatan (speed), dan kepadatan (density)), optimalisasi fasilitas yang tersedia untuk mengakomodasi pejalan kaki dan untuk mengetahui cara mengatasi permasalahan yang timbul pada aktifitas pejalan kaki di simpang empat Kartasura pada Jl Ahmad Yani , Kartasura.   Obyek penelitian yang diambil adalah pejalan kaki yang menyusuri trotoar dan pejalan kaki yang menyeberang jalan. Data yang diambil terdiri dari: waktu tempuh pejalan kaki, jumlah pejalan kaki, jumlah penyeberang jalan, jumlah kendaraan dan kuisioner pejalan kaki yang melintas pada lokasi survai. Metode analisa yang digunakan untuk mengetahui tingkat pelayanan fasilitas pejalan kaki dengan metode HCM 2000 dan untuk hasil fasilitas penyeberang jalan dengan PV2 dari Department of Transport, Inggris.  Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan diketahui bahwa fasilitas pejalan kaki yang telah tersedia di Jl Ahmad Yani , Kartasura belum berfungsi secara efisien. Kemampuan fasilitas pejalan kaki untuk mengakomodasi pejalan kaki yang dinyatakan dalam tingkat pelayanan adalah termasuk A didasarkan pada arus dan ruang pejalan kaki serta didasarkan pada kecepatan pejalan kaki.  Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa kondisi optimal yang diinginkan masyarakat dan pejalan kaki dengan menggunakan zebra cross dengan lampu lalu lintas/pelican crossing.
LATAR BELAKANG PERILAKU BERSEPEDA DI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Narendra, Alfa
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v14i2.7095

Abstract

In late 2009, Conservation Development Team held a working meeting that one of them is related to the concept of campus bike. The result is a program of prioritizing bicycles and pedestrians, as part of Green Transport System Internal Framework. On March 20, 2010 Date of declared conservation campus. In the same year, in 1000 the bike Unnes get grants from the Corporate Social Responsibility 3rd party. From the cordon line survey closed, recorded at least 3,000 motorcycles were on campus at the time sama.Berdasarkan Sekaran other surveys, boundary surveys tiered, has been growing interest in citizen UNNES for cycling and berjalankaki on campus have now UNNES, and on the other , UNNES managers are trying hard to meet the demand ini.Tulisan is trying to focus on the facts obtained from the results of the 2010-2012 survey, and make recommendations based on those facts. Di akhir tahun 2009, Tim Pengembang Konservasi mengadakan rapat kerja yang salah satunya berkenaan dengan konsep sepeda kampus. Hasilnya adalah program pengutamaan sepeda dan pejalan kaki, sebagai bagian dari Kerangkakerja Sistem Transportasi Hijau Internal. Pada Tanggal 20 Maret 2010 di deklarasikan kampus konservasi. Pada tahun yang sama, Unnes mendapatkan hibah 1000 sepeda dari program Corporate Social Responsibility pihak ke 3. Dari survei cordon line tertutup, dicatat setidaknya ada 3000 sepeda motor berada di dalam kampus Sekaran pada saat yang sama.Berdasarkan survei yang lain, survei berjenjang berbatas, sudah tumbuh minat warga unnes untuk bersepeda dan berjalankaki di lingkungan kampus sekaran unnes, dan di sisi lain, pengelola unnes sedang berusaha keras untuk memenuhi permintaan ini.Tulisan ini berusaha fokus pada fakta-fakta yang didapat dari hasil survei dari 2010-2012, dan memberi rekomendasi berdasar fakta-fakta tersebut
ANALISA PARKIR PARAGON MALL SEMARANG Handajani, Mudjiastuti; Handayani, Tut Wuri
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v18i1.6692

Abstract

Pull traffic that occurs in complex Paragon Mall affect parking demand in these locations. For that we need research to obtain data - data that is requirsed by way of observations of drivers and parking attendants. The intent and purpose of this paper is to get the amount of traffic traveling tug toward Paragon Mall shopping complex and to determine parking demand at Paragon Mall shopping complex.  Furthermore, based on the data that has been obtained so that data processing is done to obtain the desired result of which the accumulated maximum parking, towing trips, towing traffic, parking demand factors. From the calculation it is known that the maximum accumulation occurs on a Saturday, which is 173 to 295 types of automobiles and vehicle type motorcycle. Pull the whole trip occurred on Sunday at 4.76 people / 100m2 Floor Area Groos. The amount of traffic tug Day on Saturday by 219 smp / hour for this type of car and 108 smp / hour for this type of motorcycle. Thus Paragon Mall has considerable pull the trip and have enough parking area where the number of plots for the car park as many as 260 plots for motorcycle parking and 800 parking plots.  Tarikan lalu lintas yang terjadi pada kompleks Paragon Mall mempengaruhi kebutuhan parkir di lokasi tersebut. Untuk itu diperlukan penelitian untuk mendapatkan data – data yang diperlukan yaitu dengan cara pengamatan pengemudi dan petugas parkir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan besarnya tarikan perjalanan lalu lintas yang menuju kompleks pertokoan Paragon Mall dan untuk mengetahui faktor kebutuhan parkir pada kompleks pertokoan Paragon Mall. Berdasarkan data yang telah didapatkan maka dilakukan pengolahan data tersebut untuk mendapatkan hasil yang diinginkan diantaranya akumulasi parkir maksimum, tarikan perjalanan, tarikan lalu lintas, faktor kebutuhan parkir. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa akumulasi maksimum terjadi pada hari Sabtu, yaitu 173 untuk jenis kendaraan mobil dan 295 untuk jenis kendaraan sepeda motor. Tarikan perjalanan orang keseluruhan terbanyak terjadi pada hari Minggu sebesar 4,76 orang/100m2 Groos Floor Area. Besarnya tarikan lalu lintas Harian pada Sabtu sebesar 219 smp/jam untuk jenis mobil dan 108 smp/jam untuk jenis sepeda motor. Dengan demikian Paragon Mall memiliki tarikan perjalanan orang yang cukup dan memiliki lahan parkir yang cukup dimana jumlah petak parkir untuk mobil sebanyak 260 petak parkir dan untuk sepeda motor sebanyak 800 petak parkir. 
EVALUASI MODEL PEMELIHARAAN PERKERASAN JALAN TOL SEMARANG-SOLO Sriwidodo, Sriwidodo
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v12i1.1340

Abstract

Abstract: Maintaining road pavement need to be fully programmed to get the road network with a good condition and optimized cost. Maintenance Management System (MMS) represent a system created and developed especially for maintenance management of highway. MMS system divides the highway mantenance into two process, rutine maintenance programmed process and pavemet process (timed maintenance and increasng). This paper was evaluate the utilizing of MMS system in the process of pavement maintenance process, by  taking case study of Semarang-Solo Highway. Condition value on MMS system was a combination of structural and functional pricing, by rationalized functinal value to get condition value of first to fifth year. MMS system could offer alternative maintenance program and impact of the alternative selection. This paper was exemined in three maintenance scenario. In the first scenario, maintenance conducted by the appropriate timed need, second scenario by giveing the maintenance in first year, rutine maintenance conducted in second, third and fifth year and also timed maintenance in fourth year, while in the third scenario, maintenance conducted in every year. The optimal result obtained from the first scenario.Keywords:  road maintenance, traffic, highway pavement Abstrak. Mempertahankan perkerasan jalan perlu sepenuhnya diprogram untuk mendapatkan jaringan jalan dengan kondisi baik dan biaya dioptimalkan. Manajemen Pemeliharaan Sistem (MMS) merupakan sistem yang diciptakan dan dikembangkan terutama untuk manajemen pemeliharaan jalan raya. MMS membagi sistem mantenance jalan raya menjadi dua proses, proses perawatan rutinitas terprogram dan proses perkerasan (waktunya pemeliharaan dan meningkat). Makalah ini mengevaluasi pemanfaatan sistem MMS dalam proses proses pemeliharaan perkerasan, dengan mengambil studi kasus Semarang-Solo Highway. Kondisi nilai pada sistem MMS merupakan kombinasi dari harga struktural dan fungsional, dengan nilai fungsional kemudian dirasionalisasikan untuk mendapatkan nilai kondisi pertama untuk tahun kelima. Sistem MMS bisa menawarkan alternatif program pemeliharaan dan dampak pemilihan alternatif. Makalah ini diperiksa dalam tiga skenario pemeliharaan. Dalam skenario pertama, pemeliharaan yang dilakukan oleh kebutuhan waktu yang sesuai, skenario kedua dengan memberikan pemeliharaan pada tahun pertama, pemeliharaan rutinitas yang dilakukan di tahun kedua, ketiga dan kelima dan pemeliharaan juga waktunya di tahun keempat, sedangkan pada skenario ketiga pemeliharaan dilakukan di setiap tahun. Hasil optimal diperoleh dari skenario pertama.Kata Kunci: pemeliharaan jalan, lalu lintas, perkerasan jalan raya
PERSEPSI RISIKO PENGEMBANG PERUMAHAN DI KABUPATEN BANYUMAS Partamihardja, Basuki
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v16i2.7212

Abstract

This study aims to analyze the perceptions of developer and renovator on the probability and risk impact of housing development and response to risks that occur in the business of housing pengembangs . The study was conducted by distributing questionnaires to 30 respondents 30 respondents pengembangs and implementers in real estate development project in Banyumas. The analysis was performed based on the average value , probability - impact risk matrix. ANOVA test (F - test) to test the differences between groups of respondents pengembangs and implementers . The results of this study are: the risks that have a high probability and high impact are the financial risks and risk sales, the risks are rare and have a low impact is legal risk and political risk, the risk is often the case , but have a low impact is technical risk and risk management , the risk of a rare but has a high impact is the nature of risk. Responded by controlling the risk of sales through increased marketing, promotion and the selection of the right location. Technical risk and control management responded through contract clauses, control mechanisms and labor standards. Risk legality responded ceck risk aversion through legal documents. Risk responded political risk aversion through negotiation and socialization. Natural risks that climate and weather are responded to through planning control, whereas a natural disaster is a pure risk transfer of risk allocation responded with a third party such as an insurance. Financial risks such as rising prices responded to the acceptance of risk through a revision of the sales price.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsipengembang dan pelaksana terhadap probabilitas dan dampak risiko pengembangan perumahan serta respon terhadap risiko yang terjadi pada usaha pengembang perumahan. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner terhadap 30 responden pengembang dan30 responden pelaksana pada proyek pembangunan perumahan di Kabupaten Banyumas.Analisis dilakukan berdasarkan nilai rata-rata, matriks probabilitas-dampak risiko. Uji Anava (F-test) untuk menguji ada tidaknya perbedaan antara kelompok responden pengembang dan pelaksana. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah: risiko yang mempunyai probabilitas tinggi dan dampak tinggi adalah risiko keuangan serta risiko penjualan, risiko yang jarang terjadi dan mempunyai dampak rendah adalah risiko legalitas dan risiko politik, risiko yang sering terjadi namun mempunyai dampak rendah adalah risiko teknis dan risiko manajemen, risiko yang jarang terjadi namun mempunyai dampak tinggi adalah risiko alam.   Risiko penjualan direspon dengan pengendalian melalui peningkatan  pemasaran, promosi serta pemilihan lokasi yang tepat. Risiko teknis dan manajemen direspon dengan pengendalian melalui klausul kontrak, mekanisme kontrol dan standar kerja. Risiko legalitas direspon dengan penghindaran risiko melalui ceck dokumen legalitas. Risiko politik direspon dengan penghindaran risiko melalui negosiasi dan sosialisasi. Risiko alam yaitu iklim dan cuaca direspon dengan pengendalian melalui perencanaan, sedangkan bencana alam merupakan risiko murni direspon dengan pengalihan risiko alokasi pihak ketiga seperti asuransi. Risiko keuangan seperti kenaikan harga-harga direspon dengan penerimaan risiko melalui revisi harga penjualan. 
BRESING YANG BAIK UNTUK STRUKTUR GEDUNG TAHAN GEMPA Taveriyanto, Arie
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v13i2.7071

Abstract

On some types of chevron regular, concentric steel frame bresing (OCBF) suffered a major earthquake hazard. A building in North Hollywood, which was chosen for this study, due in January 1994 Northridge earthquake. The danger of this earthquake that underlie the development of bresing shape configuration, in order to obtain good bresing for building earthquake-resistant structures. Bresing of chevron configuration changes to the configuration X 2 floors to avoid instability and plastic joints in the floor beams. Further improvement can be achieved by redesigning bresing and floor beams into a system of weak and strong beams SCBFs. The increase in CSBFs produce this full histeretik good response with inelastic action produces a good response to the action histeristk inelastic bresing produce a ductile, showing the distribution of the ductile, showing the proper distribution of the dangers that are high on the buildingPada beberapa tipe chevron biasa, rangka bresing baja konsentrik (OCBF) menderita bahaya gempa bumi yang besar. Sebuah gedung di Hollywood Utara, yang dipilih untuk studi ini, karena pada bulan Januari 1994 di Northridge terjadi gempa bumi. Adanya bahaya gempa bumi ini yang mendasari pengembangan  bentuk konfigurasi dari bresing, sehingga diperoleh  bresing yang baik untuk struktur gedung yang tahan gempa. Perubahan konfigurasi bresing dari chevron menjadi konfigurasi X 2 lantai dapat menghindari ketidakstabilan dan sendi plastis pada balok lantai. Lebih lanjut perbaikan dapat dicapai dengan mendesain ulang bresing dan balok lantai menjadi sistem lemah dan balok kuat SCBFs. Peningkatan penuh ini pada CSBFs menghasilkan respon histeretik yang baik dengan aksi inelastik menghasilkan respon histeristk yang baik dengan aksi inelastik menghasilkan bresing yang daktail, menunjukkan distribusi yang daktail, menunjukkan ditribusi yang layak dari bahaya yang tinggi pada gedung.
ANALISIS KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN CARBON FIBER WRAP Pangestuti, Endah Kanti; Prihanantio, Januar
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v10i1.6941

Abstract

The increase of capacity of reinforced concrete structure flexibility can be conducted by strengthening that structure. This day, new type of materials have been introduced, that is carbon fiber wrap (CFW). This material usually used as shift strength on beam either column. However in this research, CFW is tested as flexibility strength on beam. This research using 4 test objects, one of test object as control beam ( BK ) and the other three objects with different installation variation pattern of CFW, that is the test object is given by a strength as wide as 1/2b along the beam reach ( BCFW- 1/2b ), and than as wide as b ( BCFW – b ) and “U” model ( BCFW – U ). The test result shows that on BCFW –1/2b, the moment capacity ancrease at 72.22%, ductility increase at 119.3% to the control beam. While to the BCFW – b the momen capacity is 91.67%, ductility increase at 233.33%. While on BCFW – U the moment capacity increase only 8.33% and the ductility increase at 7.72%. From this test result, shows that strengthening using CFW that most effective is on the BCFW – 1/2b. Because with the installation of CFW as wide as 1/2b able to increase the moment capacity significantly than the other test object. For BCFW – U, this strength pattern is not suggested because the moment capacity increase insignificantly.Peningkatan kapasitas lentur struktur beton bertulang dapat dilakukan dengan melakukan perkuatan terhadap struktur. Saat ini material jenis baru telah diperkenalkan yaitu carbon fiber wrap (CFW). Material ini biasanya digunakan sebagai perkuatan geser baik pada balok maupun kolom. Namun dalam penelitian ini CFW diujicobakan sebagai perkuatan lentur pada balok. Penelitian ini menggunakan empat buah benda uji, satu benda uji sebagai balok kontrol (BK) dan tiga lainnya sebagai benda uji dengan pola variasi pemasangan CFW yang berbeda, yaitu benda uji diberi perkuatan selebar ½ b sepanjang bentang balok (BCFW-1/2b),kemudian selebar b (BCFW-b) dan model U (BCFW-U). Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada BCFW–½ b kapasitas momen naik sebesar 72,22%, daktilitas naik 119,3% terhadap balok kontrol. Sedangkan pada BCFW – b kapasitas momen 91,71%, daktilitas naik 233,33%. Sementara untuk BCFW–U kapasitas  momen  hanya mengalami kenaikan sebesar 8,33% dan daktilitasnya naik 7,72%. Dari hasil pengujian ini ternyata perkuatan dengan CFW yang paling efektif adalah pada BCFW – 1/2b. Karena dengan pemasangan CFW selebar 1/2b mampu meningkatkan kapasitas momen yang cukup signifikan dibandingkan benda uji lainnya. Untuk BCFW–U, pola perkuatan ini tidak disarankan karena peningkatan kapasitas momennya relatif kecil.

Filter by Year

2006 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 2 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 22, No 1 (2020) Vol 22, No 1 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 21, No 1 (2019): Jurnal Teknik SIpil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017) Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 8, No 2 (2006) More Issue