cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan
ISSN : -     EISSN : 25031899     DOI : https://doi.org/10.15294/jtsp
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan (JTSP) is a scientific journal which biannualy published in April and October. We firstly published in 1999 as national journal of Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Semarang. In 2016, JTSP was indexed in DOAJ with Green Tick critera. And in 2018, JTSP expands its range of article quality and publication through publishing English-language articles.
Arjuna Subject : -
Articles 774 Documents
ANALISIS PENGUJIAN STRUKTUR BALOK LAMINASI KAYU SENGON DAN KAYU KELAPA Handayani, Sri
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wood Sengon (Sengon) is a type of timber that can quickly grow, accessible but its use as a construction material has not been optimized. The technology used to support the wood as a construction material is a laminate. Engineering experiments was done by making laminated beams of wood Sengon and wood coconut. The purpose of this study is to determine how much the increase in flexural strength for laminated wood Sengon beams and wood Coconut beams as a replacement of structural beam with a variety of adhesive and timber placement. The method used is an experimental method for flexural strength testing of laminated beams. The results showed an average flexural strength of the maximum obtained in laminated beams with variations EP-S (adhesive epoxy glue and placement position in the wood Sengon) amounted to 679 350 kg / cm2. An increase in the strength of 254 025 kg / cm2 (59.72%) are from wood Sengon bending strength 425 325 kg / cm2 (probe grade IV) to 679 350 kg / cm2 (strong class III). The use of technology should pay attention to the position of the bearing laminated wood. Wood with strong higher class should be put on the outside position to provide reinforcement for the wood with a powerful low grade placed in the position. Kayu Sengon (Sengon) termasuk dalam jenis kayu yang dapat dengan cepat tumbuh, mudah di dapat tetapi penggunaannya sebagai bahan konstruksi belum optimal. Teknologi yang digunakan guna mendukung kayu sebagai bahan konstruksi adalah dengan laminasi.  Rekayasa eksperimen dilakukan dengan membuat balok laminasi dari kayu Sengon dan kayu Kelapa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kuat lentur balok kayu dengan laminasi Sengon dan Kelapa sebagai pengganti balok struktur dengan variasi bahan perekat dan perletakan kayu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen  untuk pengujian kuat lentur balok  laminasi. Hasil penelitian menunjukkan kuat lentur rata-rata maksimum  diperoleh pada balok laminasi dengan variasi EP-S  (perekat lem epoksi dan perletakan posisi kayu  Sengon didalam) sebesar 679.350 kg/cm2. Terjadi peningkatan kekuatan sebesar 254.025 kg/cm2 (59.72%) yaitu dari kuat lentur  kayu  Sengon 425.325 kg/cm2 (kelas kuar IV) menjadi 679.350 kg/cm2(kelas kuat III). Penggunaan teknologi laminasi hendaknya memperhatikan posisi perletakan kayu.  Kayu dengan klas kuat lebih tinggi  diletakkan pada posisi luar untuk memberikan perkuatan pada kayu dengan kelas kuat rendah yang terletak pada posisi dalam. 
UPAYA PENGELOLAAN LAHAN BANGUNAN PADA BANTARAN SUNGAI BERBASIS LINGKUNGAN DI KABUPATEN SLEMAN DIY Mulyandari, Hestin
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sleman district have many good lands for investment, cause price of land would be raised, so that people look for the area increasingly. Eventually affect the increase land using in flood plains area in Sleman district as a reason of cheap land. From various studies that have been done, which flooding occurs in areas prone basically due to three factors, namely: human activities, natural events and environmental degradation. This study aims to direct the management of flood plains area better. This research was conducted by exploration to find using river bank and evaluate policy and control mechanisms in the areas of space utilization riverbanks in Sleman district. the case study of river are: Boyong-Code river, Winongo river, and Gadjah Wong river. Generally, the drainage concept of the three rivers are still referring to the concept of conventional drainage. The concept was interpreted as a run off water as soon as possible to the river and further downstream. Even the conventional drainage is often interpreted as an effort to drying area. The concept must be changed with the concept of environmentally friendly toward the drainage, for example run off water into a river naturally. It is therefore necessary to overcome the floods with the application of the concept: "one river one plan and one integrated management".: Kabupaten Sleman merupakan lahan bagus untuk investasi lahan, mengakibatkan harga tanah di daerah tersebut semakin tinggi, sehingga masyarakat semakin mengincar daerah tersebut, akhirnya mempengaruhi peningkatan pemanfaatan lahan di daerah bantaran sungai di Kabupaten Sleman dengan alasan lahannya murah. Dari berbagai kajian yang telah dilakukan, banjir yang terjadi di daerah-daerah rawan banjir pada dasarnya disebabkan oleh tiga hal, yaitu: kegiatan manusia, peristiwa alam dan degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengarahkan pengelolaan lahan bangunan di daerah bantaran sungai untuk menjadi lebih baik.Penelitian dilakukan  dengan eksplorasi untuk menemukan profil pemanfaatan ruang bantaran sungai dan mengevaluasi kebijakan serta mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang oleh bangunan di daerah bantaran sungai di Kabupaten Sleman. Sungai yang menjadi studi kasus ini adalah: sungai Boyong-Code, sungai Winongo, dan Sungai Gadjah Wong. Pada umumnya konsep drainase di ketiga sungai tersebut masih mengacu pada konsep drainase konvensional. Konsep tersebut mengartikan drainasi sebagai upaya mengatuskan air secepat-cepatnya ke sungai dan selanjutnya ke hilir. Bahkan drainase konvensional sering diartikan sebagai upaya pengeringan kawasan. Konsep tersebut harus diubah dengan konsep menuju drainasi ramah lingkungan, yaitu upaya mengalirkan air kelebihan di suatu kawasan dengan jalan meresapkan air atau mengalirkan secara alamiah dan bertahap ke sungai. Oleh karena itu perlu penerapan mengatasi banjir dengan konsep: “one river one plan and one integrated management”.
ANALISIS TEKNIS PEMILIHAN LOKASI TPA REGIONAL MAGELANG (KOTA MAGELANG DAN KABUPATEN MAGELANG) Diharto, .
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Make-up of amount of resident of urban with the make-up of garbage volume. Make-up of garbage volume perhaps will weigh against the final process place operational (TPA), at one blow will cut short the age TPA. This research target is to look for the correct location TPA regional serve the Town of Magelang and Regency Magelang. This TPA is hereinafter managed by together between Town and Regency Magelang. Its analysis use the SNI 03-3241-1991 - SK SNI T-11-1991-03. Pursuant to perception/field observation and interview secondly is party handling garbage in the region, chosen two location alternative that is Countryside of Banyuurip and Countryside of Glagahombo of Subdistrict of Tegalrejo of Regency Magelang. Result of chosen analysis location of TPA regional in Countryside Glagahombo.Peningkatan jumlah penduduk perkotaan dibarengi dengan peningkatan volume sampah. Peningkatan volume sampah tentunya akan memberatkan operasional tempat pemrosesan akhir (TPA), sekaligus akan memperpendek usia TPA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari lokasi TPA regional yang tepat melayani Kota Magelang dan Kabupaten Magelang. TPA ini selanjutnya dikelola secara bersama-sama antara Kota dan Kabupaten Magelang. Analisisnya menggunakan SNI 03-3241-1991 – SK SNI T-11-1991-03. Berdasarkan pengamatan/observasi lapangan dan wawancara dengan kedua pihak yang menangani persampahan di wilayah tersebut, terpilih dua alternatif lokasi yaitu Desa Banyuurip dan Desa Glagahombo Kecamatan Tegalrejo Kabupaten Magelang. Hasil analisis terpilih lokasi TPA regional di Desa Glagahombo.
TEORI, METODA, DAN APLIKASI KARYA ARSITEKTUR TADAO ANDO Setyowati, Wiwit
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Theory, method, and application of Tadao Ando studied to comprehending Ando’s architecture masterpiece. The research method with content analysis to primary archives data. Tadao Ando introduce ‘Self Enclosed Modernity’ theory. In this theory contain with components, that is space and shintai, individualism, abstract and representative, nature and architecture, material, geometry, symmetric and assymmetric, minimalism, and also draw and technology. To apply the theory need method so that seen in its architecture masterpiece application. From this study seen continuity in formulate theory, through with method into its masterpiece designTeori, metoda, dan aplikasi karya Tadao Ando dikaji untuk memahami karya arsitekturnya. Pengkajian dilakukan dengan metoda content analisis terhadap data-data arsip tertulis primer. Tadao Ando memperkenalkan teori ‘Self Enclosed Modernity’ dimana didalamnya mengandung komponen ruang dan shintai, individualisme, abstract dan representatif, arsitektur dan alam, material, geometri, simetri dan asimetri, minimalis, serta gambar dan teknologi. Dalam mengaplikasikan teori tersebut diperlukan metoda sehingga terlihat di dalam aplikasi karya arsitekturnya. Dari pengkajian ini terlihat kesinambungan dalam menjabarkan teori melalui metoda kedalam desain karyanya
RUMAH BATU DI PESAYANGAN MARTAPURA SEBUAH KARYA ARSITEKTUR EKLEKTIK DI KALIMANTAN SELATAN Anhar, Pakhri; Tharziansyah, Muhammad
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eclectism in architecture is seen as an emerging style driven by the desire or effort to immitate and apply elements of interest to compose a new form at architecture. Ecletic architecture has also developed in South Borneo. The mansory houses are evidence of ecleticsm development process in local architecture. Merchants holds an inportant role in this eclectism process, due to intensive cultural contacts inherited within this society. The intensity of the cultural contact plays a substantial part form the aculturation process. This intensity of cultural contact is the main part of alculturation process, which increased after the fall of Banjar Kingdom in mid 19th century. Gaya eklektik dalam arsitektur digambarkan sebagai suatu gaya yang muncul karena adanya keinginan atau usaha menjiplak dan kemudian memadukan berbagai unsur yang dianggap menarik ke dalam bentuk baru. Begitu pula dengan perkembangan arsitektur eklektik di Kalimantan Selatan, dimana arsitektur Rumah Batu merupakan bukti adanya proses eklektikisme dalam arsitektur setempat. Pemegang peran utama dalam proses eklektik ini adalah para saudagar atau pedagang, yang tentunya tidak terlepas dari intensitas kontak budaya yang dimiliki oleh kelompok masyarakat ini. Intensitas kontak budaya ini merupakan bagian utama dari proses akulturasi budaya yang meningkat setelah runtuhnya Kerajaan Banjar pada pertengahan abad ke 19. 
IDENTIFIKASI RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK KOTA REMBANG -, Mashuri; Inrianingrum, Lulut; -, Diharto
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Draft Laporan Akhir Rencana Rinci Ruang Terbuka Hijau Wilayah Perkotaan Kabupaten Rembang” said that at present public green open spaces of City of Rembang areameasuring 73.10 ha, or only 2.3% calculated from Rembang City area (3183.76 ha), the number is still far from the minimum requirements . While according to Minister of Public Works No.. 05 of 2008 requires that public green open spaces of urban areas must be met at least 20% of the total area of the city. The research was conducted in the City of Rembang. The study was conducted to determine how extensive green open space located in the heart of Rembang both existing and potential by using a data analysis method based on an area by way of interviews and field surveys. The research found the green open spaces of the existing Rembang City of ± 73.10 acres. Potential land that can be enabled / converted functioned as green open space ± 189.68 acres. Draft Laporan Akhir Rencana Rinci RTH Perkotaan Kabupaten Rembang menyebutkan bahwa pada saat ini RTH publik wilayah Kota Rembang seluas 73,10 Ha atau hanya 2,3% dihitung dari luas wilayah Kota Rembang (3.183,76 Ha), jumlah tersebut masih jauh dari persyaratan minimal. Sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05 tahun 2008 mensyaratkan bahwa ruang terbuka hijau publik kawasan perkotaan minimal harus terpenuhi sebesar 20% dari luas total wilayah kota. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kota Rembang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa luas ruang terbuka hijau yang berada di kawasan Kota Rembang baik eksisting maupun potensial dengan menggunakan metode analisis data berdasarkan luas wilayah dengan cara wawancara dan survey lapangan. Hasil penelitian ditemukan ruang terbuka hijau eksisting Kota Rembang yang berupa lapangan olahraga, taman, jalur hijau jalan, dan RTH fungsi tertentu ± 77,75 hektar. Luas akumulasi potensi lahan yang dapat difungsikan/ dialih fungsikan sebagai ruang terbuka hijau ± 206,52 hektar (6,48% dari luas wilayah Kota Rembang), terdiri dari aset tanah milik Pemerintah Kabupaten Rembang ± 43,92 hektar (1,38% dari luas wilayah Kota Rembang), aset tanah negara ± 133,45 hektar (4,19% dari luas wilayah Kota Rembang), dan aset tanah lain ± 29,14 hektar (0,92% dari luas wilayah Kota Rembang).
ANALISIS KAPASITAS DAYA DUKUNG TIANG PANCANG TERHADAP HASIL UJI CALENDERING (Studi Kasus Review Design Pada Overpass Lemah Ireng Sta 20+212 Proyek Jalan Tol Semarang - Bawen Paket V) Saptorini, Takdir Rochjati
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The potential for a design review becomes a necessity in construction projects and the principle of efficiency to be one of the considerations in conducting a design review at a construction while maintaining the technical factors such as structural safety of the building. Design review can be done to some construction that can not be implemented in the field because encounter some obstacle or structure can be implemented, but because of economic considerations it is necessary to change. As happened at the overpass Lemah Ireng Semarang Toll Road Development Project - Bawen Package V. The presence of excess stake in another overpass (L = 8 m), raises thought to be used in the overpass abutment 2 (OP) Lemah Ireng, where appropriate initial design , needs stake in OP Lemah Ireng are a number of 8 pieces, diameter (D) 50 cm, length of 9 meters. Results analisispondasi abutment piles in 2 Over Pass (OP) Lemah Ireng produce pile needs to be 10 (ten) pile diameter D = 50 cm length L = 8 meters. Analysis of design review is done by calculating the initial design capacity of pile group obtained at 8694.468 Kn, then share it with a capacity of 1 pole on a review of design (L = 8 m) in accordance with the SPT value at a depth of 8 (eight) of the meter. From the analysis of the bearing capacity of piles kalendering results obtained capacity 1 pole (Pcal) = 1527.941kN, while analysis of the bearing capacity of 1 stake on a review of design is determined by the strength of the soil, which amounted Pijin_rd = 1214.74916 kN. Thus the carrying capacity of piles technical design review results declared safe.Potensi adanya review design menjadi sebuah keniscayaan dalam proyek konstruksi dan prinsip efisiensi menjadi salah satu pertimbangan dalam melakukan review design pada sebuah konstruksi dengan tetap mengutamakan faktor teknis berupa keamanan struktur bangunan. Review design bisa dilakukan untuk beberapa konstruksi yang tidak dapat dilaksanakan di lapangan karena menjumpai beberapa kendala atau struktur bisa dilaksanakan tetapi karena pertimbangan ekonomis maka perlu diadakan perubahan. Seperti yang terjadi di  overpass Lemah Ireng Proyek Pembangunan Jalan Tol Semarang – Bawen Paket V. Adanya kelebihan tiang pancang di overpass lain (L = 8 m), memunculkan pemikiran untuk dapat digunakan di abutment 2 overpass (OP) Lemah Ireng, dimana sesuai design awal, kebutuhan tiang pancang di OP Lemah Ireng adalah sejumlah 8 buah, diameter (D) 50 cm, panjang 9 meter. Hasil analisispondasi tiang pancang di abutment 2 Over Pass (OP) Lemah Ireng menghasilkan kebutuhan tiang pancang menjadi 10 (sepuluh) tiang pancang diameter D = 50 cm panjang L = 8 meter. Analisis review design ini dilakukan dengan menghitung kapasitas kelompok tiang design awal yang didapat sebesar 8694,468 Kn, kemudian membaginya dengan kapasitas 1 tiang hasil review design (L = 8 m) sesuai dengan nilai SPT pada kedalaman 8 (delapan) meter tersebut. Dari analisis kapasitas daya dukung tiang pancang hasil kalendering didapat kapasitas 1 tiang (Pcal) = 1527.941kN, sementara analisis kapasitas daya dukung 1 tiang pancang hasil review design ditentukan oleh  kekuatan tanahnya, yaitu sebesar Pijin_rd = 1214.74916 kN. Dengan demikian kapsitas daya dukung tiang pancang hasil review design secara teknis dinyatakan aman.
PENGARUH PENGGUNAAN POTONGAN KAWAT BENDRAT PADA CAMPURAN BETON DENGAN KONSENTRASI SERAT PANJANG 4 CM BERAT SEMEN 350 KG/M3 DAN FAS 0,5 Widodo, Aris
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Concrete is a construction material that can withstand compressive strength well but to withstand tensile strength, these materials diras less perfect. To overcome this, it is given an additional piece of wire with a length of 4 cm bendrat the concrete mix. The addition of this wire as a fiber (fiber) is expected to increase the tensile strength sides, compressive strength and modulus of elasticity of concrete. From the test results obtained an increase in split tensile strength, compressive strength and modulus of elasticity. In tensile sides obtained an increase of 39.931% was achieved at a concentration of ± 5% fiber. In the compressive strength obtained an increase of 31.648% at a concentration of ± 7.5% and the modulus of elasticity of 25 670 MPa results obtained at a concentration of 7.5% ± fibers. Thus the use of wire bendrat can increase the strength of the concrete.Beton merupakan bahan konstruksi yang mampu menahan kuat tekan dengan baik namun untuk menahan kuat tarik, bahan ini diras kurang begitu sempurna. Untuk mengatasi hal itu maka diberikan tambahan potongan kawat bendrat dengan panjang 4 cm pada campuran beton. Penambahan kawat ini sebagai serat (fiber) yang diharapkan mampu meningkatkan kuat tarik belah, kuat tekan dan modulus elastisitas dari beton. Dari hasil pengujian didapatkan adanya peningkatan kuat tarik belah, kuat tekan dan modulus elastisitas. Pada kuat tarik belah didapatkan peningkatan sebesar 39,931% yang tercapai pada konsentrasi serat sebesar ± 5%. Pada kuat tekan didapatkan kenaikan sebesar 31,648% pada konsentrasi ± 7,5% dan pada modulus elastisitas didapatkan hasil sebesar 25670 Mpa pada konsentrasi serat ±7,5%. Dengan demikian penggunaan kawat bendrat dapat meningkatkan kekuatan pada beton.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN KERJA KONSTRUKSI Endroyo, Bambang; Tugino, .
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Since two decades later, accident rate in construction work has been higher than the rate in any other industry. Referring to that, attention to the safety  must be improved to depress the accident rate. The effort to find out an accident causation needs complete understanding about how and why the accident happened. Therefore, it is very important both to develop the theory of accident causation and to do research in the field. Regarding the old theory,  occupational accident is an effect of a poor worker action. The new theory pointed that the accident caused by organizational and management factors. Therefore, till now, the development of theory about construction safety still relevant to be studied. The studies may regard to: (1) organizational/ management, that is participation the owner, designer, and contractor in  accident mitigation and  (2) time/phase of the project, from conception to execution, even demolition. Here in after, the results of the case study  to the accidents would be a valuable knowledge’s which very useful for  construction accident mitigation.Sejak dua dasawarsa terakhir ini, angka kecelakaan kerja konstruksi masih selalu lebih tinggi dibanding sektor industri lainnya. Oleh karena itu, perhatian akan keselamatan harus  ditingkatkan untuk lebih menekan angka kecelakaan. Usaha untuk menemukan faktor-faktor penyebab kecelakaan konstruksi memerlukan pemahaman yang lengkap tentang bagaimana dan mengapa peristiwa seperti itu  terjadi. Untuk itu diperlukan pengembangan teori-teori penyebab kecelakaan dan penelitian-penelitian lapangan yang lebih mendalam. Teori lama mengatakan bahwa kecelakaan kerja diakibatkan oleh tindakan pekerja yang buruk. Teori baru menunjuk bahwa kecelakaan kerja bersumber kepada faktor-faktor organisasi dan manajemen. Oleh karena itu, sampai saat ini pengembangan teori tentang keselamatan kerja konstruksi masih sangat relevan untuk dikaji. Pengkajian/pengembangan yang dilakukan dapat berkenaan dengan: (1) organisasi/ manajemen, yaitu partisipasi owner, perencana dan kontraktor dalam pencegahan kecelakaan, dan (2) waktu/tahapan proyek, yaitu sejak konsepsi sampai ke pelaksanaan, bahkan  pembongkaran (demolition). Akhirnya, hasil-hasil studi kasus terhadap kecelakaan-kecelakaan dapat  menjadi suatu pengetahuan yang sangat berguna bagi pencegahan kecelakaan konstruksi selanjutnya.
KEBIJAKAN DAN TANTANGAN PELAYANAN ANGKUTAN UMUM Siswoyo, M. Pujo
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Public city transportation is an integral part of the system of the city that make both interaction between the pattern of area with the system of transportation. If the public transportation is bad, so the captive group will try to fulfill necessity of transpotation service becomes choice group which usually happen in the cuty. In preparation of the system of public transportation service involve user, operator and regulator. Regulator is a controller between operator and user, to instruct the performance system in operational technic or financial economic and give the specification for the system of public transportation. The diserection of policy becomes a standard for the grade of public transportation supply which leader by service concept, with anticipate a number of challenge in order to get a dracnetion whicih can answer the problem effectivelly and correctly.Pelayanan angkutan umum perkotaan merupakan bagian integral dari sistem kota yang menyusun interankasi timbal balik antara pola tata guna lahan dengan suatu sistem transportasi. Bila pelayanan angkutan umum itu buruk, maka kelompok captive akan berusaha memenuhi kebutuhan jasa transportasi menjadi kelompok choice yang banyak terjadi di masyarakat perkotaan. Dalam penyelenggaraan sistem pelayanan angkutan umum itu melibatkan user (pengguna), operator (pengusaha) dan regulator (pemerintah). Regulator sebagai pihak pengontrol antara operator dan user, mengkaji performansi sistem dalam teknik operasional maupun ekonomi finansial, dan memberikan spesifikasi bagi sistem pelayanan sistem angkutan umum. Kebijakan regulator menjadi tolak ukur bagi tingkat pelayanan suplai transportasi umum yang dilandasi oleh konsep pelayanan, dengan mengantisipasi sejumlah tantangan agar kebijakan yang diambil dapat menjawab secara tepat dan efektif.

Page 7 of 78 | Total Record : 774


Filter by Year

2006 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 2 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 22, No 1 (2020) Vol 22, No 1 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019): Jurnal Teknik SIpil & Perencanaan Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 2 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017) Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 8, No 2 (2006) More Issue