cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Sekaran, Gunungpati, Semarang, Central Java, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lembaran Ilmu Kependidikan
ISSN : -     EISSN : 02160847     DOI : 10.15294/lik
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol 40, No 1 (2011)" : 33 Documents clear
OPTIMALISASI GRUOP FIELD TOUR SEBAGAI USAHA PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA MAHASISWA PRODI PBSJ Yuwono, Agus
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 40, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu penyebabrendahnya keterampilan berbicara mahasiswa adalah strategi pembelajaran yang kurang akomodatif terhadap kondisi mahasiswa. Untuk itu perlu penelitian yang menggunakan strategi yang dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Jawa yakni strategi Gruop Field Tour. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, yang masing-masing siklus terdiri dari tahapan perencanaan, observasi, refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan pembelajaran dengan strategi Gruop Field Tour ini nilai rata-rata kelas siklus I meningkat sebesar 63,47 dan siklus II telah mengalami peningkatan sebesar 24,07. Peningkatan nilai rata-rata kelas keterampilan berbicara tersebut merupakan gabungan masing-masing aspek penilaian. Keterampilan berbicara bahasa Jawa mahasiswa mengalami peningkatan setelah dilaksanakannya proses pembelajaran bahasa Jawa dengan menggunakan strategi Gruop Field Tour pada siklus I dan siklus II. One of the causes of students’ low speaking skill was learning strategy which does not sufficiently accommodate the students’ condition. A study which employs astrategy to improve the speaking skill in Javanese through Group Field Tour was required. The study was conducted in two cycles, each of which consisted of planning, observation, and reflection. The study showed that through the Group Field Tour the average score in cycle I improved 63.47 and in cycle II 24.07. The improvement of the average score of speaking was a combination of each assessment criterion. The students’ speaking skill in Javanese improved after the Group Field Tour strategy in cycle I and cycle II was executed
UJI KOMPETENSI KEAHLIAN SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Budiyono, Aris
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 40, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bertugas menyiapkan peserta didik memasuki lapangan pekerjaan dan telah melakukan trobosan antara lain bahwa pendidikan di SMK dilaksanakan dengan pendekatan berbasis kompetensi serta pada akhir pendidikan peserta didik yang memenuhi persyaratan akan memperoleh ijazah dan sertifikat kompetensi keahlian. Pembahasan meliputi: (1) penilaian berbasis kompetensi (Competency-based Assessment /CBA) sebagai komsekuaensi diimplementasikannya Competency-based Learning di SMK dan (2) model uji kompetensi keahlian di SMK. Uji kompetensi keahlian siswa SMK sebagai penilaian hasil belajar dalam sistem pembelajaran kompetensi pada dasarnya merupakan proses penentuan untuk memastikan peserta didik apakah sudah kompeten atau belum kompeten. Terdapat tiga model uji kompetensi keahlian siswa SMK dan  model project work adalah model yang paling banyak diterapkan oleh SMK sebagai model uji kompetensi keahlian siswa.   Vocational Secondary Education is responsible for preparing students to enter the work force. The education has taken an innovative step that the education is conducted with competence-based approach. At the end of the education, the students who satisfy the requirements will be awarded a diploma and competence certificate. The paper discusses: 1) Competence-Based Assessment (CBA) as a consequence of the implementation of  Competence-Based Learning in vocational schools, 2) model of competence test in vocational schools. Competence test for vocational school students as an assessment in competence learning system is basically a process to determine whether a student has been competent or not. There are three model of competence test for vocational school students. The project work is the model that is most widely applied by vocational schools as competence assessment model.
KOMPETENSI KOMUNIKATIF MAHASISWA JURUSAN BAHASA INGGRIS DALAM INTERNET CHATTING Dwi Areni, Galuh Kirana
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 40, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini berfokus pada kompetensi komunikatif mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris, khususnya dalam menggunakan tindak tutur dan strategi komunikasi. Obyek penelitian ini adalah 20 buah transkrip percakapan internet mahasiswa program studi Sastra Inggris semester 2 tahun akademik 2008-2009 yang mengambil mata kuliah Speaking for Interactional and Interpersonal Purposes. Kompetensi penggunaan tindak tutur mahasiswa dianalisis dengan menggunakan teori Halliday (1997), sedangkan strategi komunikasi mahasiswa dianalisis dengan menggunakan teori Thornburry (2005). Berdasarkan analisis data, tindak tutur yang paling sering dipergunakan adalah question dan answer. Adapun komunikasi strategi yang paling banyak dipergunakan mahasiswa adalah language switch, paraphrase, guessing, repetition, and foreignizing a word. Berdasarkan analisis kedua kompetensi tersebut, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa sudah mempunyai kompetensi komunikatif yang memadai.   This study focuses on the communicative competence of English Department students, especially their competence in using speech acts and communication strategies. The object of the study is the internet chatting transcript, as an outside-class assignment, of 20 students of Speaking for Interactional and Interpersonal Purposes class, English Literature study program,  semester 2 2008-2009 academic year. The data were analyzed by using the Halliday theory (1997) for the speech acts, and the Thornburry theory (2005) for the communication strategies. Based on the data analysis, it was found out that the most frequency used of speech acts are Question and Answer. The communication strategies mostly used in the data are Language Switch, Paraphrase, Guessing, Repetition, and Foreignizing a Word. Basically, based on both competence, the students have good communicative competence to make any interaction in real situation, e.g. in the internet.
PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS STUDENT CENTERED LEARNING PADA MATA KULIAH EKONOMETRI (Studi Kasus: Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang) br Sebayang, Lesta Karolina
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 40, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antara dosen dan mahasiswa merupakan satu kesatuan yang sulit dipisahkan sehingga dibutuhkan suatu metode yang mampu berjalan dengan baik pada proses pembelajaran. Kondisi ini coba diterapkan pada mata kuliah ekonometrika sebagai peningkatan kemampuan mahasiswa. Ekonometri sebagai salah satu mata kuliah yang relatif sulit dan membutuhkan pemahaman yang lebih tinggi. Berdasarkan kondisi tersebut, dibutuhkan metode pembelajaran yang dapat memberikan kemudahan pada proses pembelajaran.  Proses pembelajaran dengan pendekatan student center learning pada kuliah ekonometrika ternyata memberikan efek yang positif. Indikator yang digunakan sebagai ukuran keberhasilan metode pembelajaran adalah perolehan nilai pada kuliah ekonometrika. Berdasarkan survei terhadap 41 orang mahasiswa, hampir sebagian mahasiswa mencapai nilai rata-rata cukup baik. Walupun demikian masih ada mahasiswa dengan perolehan nilai yang relatif  rendah. Sehingga diharapkan pendekatan student center learning mampu menjembatani komunikasai antara dosen dengan mahasiswa.   Lecturers and students are a unity that is difficult to separate each others, it is needed appropriate method on the learning process. This condition is tryied to apply in econometric subjects as improving students’ ability. Econometrics is as one of the subject that is relatively difficult and requires a higher understanding. Under these conditions, it takes a learning method that can facilitate the learning process. The process of learning to approach student learning center on econometric study found a positive effect. Indicators to a measure of success are the grade of learning in college econometrics. Based on a survey of 41 students, most students achieve an average grade. Thus even though there are still students with relatively low grades. So expect a student approaches learning center is good communication between lecturers and students.
IDENTIFIKASI DAN IMPLEMENTASI MENGAJAR DALAM TIM PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH Rachman, Maman
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 40, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai tenaga profesional, guru harus merencanakan, melaksanakan, menilai pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan. Tujuan penelitian adalah memotret jenis pembalajaran dalam tim  yang diimplentasikan para guru, mendeskripsikan perencanaan yang seharusnya disiapkan para guru, merumuskan keuntungan dan kekurangan pembelajaran dalam tim yang dirasakan para guru dan para siswa, mendeskripsikan hal-hal yang harus diperhatikan para guru dalam melaksanakan pembelajaran dalam tim. Pendekatan penelitian adalah deskriptif dengan unit analisis para kepala/wakil kepala sekolah, dan para guru  SMP, SMA, dan SMK Kota Semarang dengan sampel penelitian sebanyak 84 orang yang ditarik secara acak. Data dikumpulkan melalui kuesioner, dokumentasi, dan wawancara mendalam secara terbatas. Data terkumpul dianalisis dengan memadukan analisis kuantitatif dan kualitatif. Studi ini menunjukan bahwa pembalajaran dalam tim telah banyak diimplentasikan dengan bentuk yang bervariasi: tradisional, kolaboratif,  bimbingan/dorongan, paralel, pemisahan/perbedaan kelas, pengawasan, kelompok anggota, perbedaan sub-kelompok, dan perencanaan individual. Manfaat yang dirasakan oleh para guru adalah saling mengisi materi, saling menutup  kelemahan, menanggulangi pembelajaran yang luas dan kompleks, meningkatkan kerjasama, dan memberi peluang kepada para guru muda bertim dengan guru senior. Aspek penting yang harus diperhatikan adalah pemilikan rasa saling mempercayai, mampu berkomunikasi secara efektif, saling memberi dan menerima, bersikap terbuka, jaminan ketuntasan belajar, dominasi salah seorang tim, penyatuan gagasan/ide, materi kurang fokus, masih ada rasa egois seseorang,dan kurangnya saling percaya diri. Teachers, as professionals, have to plan, implement, and assess learning. Teachers have also to mentor, train students, and perform additional duties as well. One of many ways that can be taken to accomplish the jobs is implementing team teaching. The objectives of the research were to describe the implementation, the planning, and the advantages and disadvantages of team teaching. The study was also aimed for describing the aspects that must be observed by teachers in implementing team teaching.  The study was descriptive with the unit of analysis of principals/vice principals and teachers of junior high schools, senior high schools, and vocational high schools of Semarang (84 people, randomly sampled). The data were collected through a questionnaire, documentation, and limited in-depth interview. The data were analyzed quantitatively and qualitatively. The study showed that team teaching was implemented in various forms: traditional, collaborative, mentoring, parallel instruction, splitting class, monitoring, team members, sub-team difference, and individual plans. The benefits perceived by teachers were that team teaching compensated learning materials, compensated each others’ weakness, tackled a broad and complex learning, enhanced cooperation, and gave opportunities to young teachers to work with the senior ones. The important aspect that must be considered was the feeling of mutual trust, ability to communicate effectively, give and take, being open, learning mastery guarantee, the dominance of an individual team member, collaborative ideas, less focused material, egoistic feeling, and lack of self confidence.
PENGGUNAAN MEDIA GUDMEN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGETIK MANUAL 10 JARI BUTA PADA MAHASISWA ADMINISTRASI PERKANTORAN FE UNNES -, Marimin; Kuswantoro, Agung
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 40, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengetik manual merupakan salah satu mata kuliah keahlian berkarya yang bersifat keterampilan. Ini bertujuan untuk mengajarkan mahasiswa bagaimana mengetik secara baik dengan menggunakan sistem 10 jari buta. Selain itu, dengan mengetik yang baik akan meringankan pekerjaan lainnya. Hasil keterampilan mengetik manual mahasiswa saat ini tidak memuaskan. Misalnya, mereka tidak menggunakan jari-jari mereka dengan benar pada keybord sesuai dengan fungsinya. Mata terfokus pada keyboard bukan pada teks naskah yang akan diketik. Akibatnya, membutuhkan waktu lama dalam mengetik. Media Gudmen sebagai alat untuk membantu mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan mengetik. Subyek penelitian adalah 20 mahasiswa semester 3, jurusan pendidikan ekonomi administrasi kantor yang sedang mengambil mengetik manual I. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Pada siklus I, ditemukan bahwa 65% mahasiswa mampu menerapkan sistem 10 jari buta. Pada siklus II, keterampilan mengetik dengan 10 jari buta meningkat sebesar 85%. Simpulan dalam penelitian ini adalah media Gudmen dapat membantu meningkatkan keterampilan mengetik 10 jari buta pada mahasiswa. Sedangkan sarannya adalah (1) Pengajar mengetik manual diharapkan menggunakan media Gudmen dalam pembelajaran, (2) Mahasiswa diharapkan sering berlatih menerapkan sistem 10 jari buta. Manual typing is one of vocational skill subjects. It aims to teach the students how to type accurately by using Touch System. Moreover, it also gives the students typing skills so that they can do various typing jobs well. Current students’ typing skill is not satisfactory yet. For example, they do not use their fingers properly on the right keyboard. They focus their eyes on the keyboard not on the text. As a result, they take a long time to type. Gudmen media has been used as a tool for helping students to improve their typing skills. The subjects of the study were twenty 3rd semester students, majoring in office administrations. The students were taking typing subject. This study is Classroom Action Research involving two cycles. In cycle I, it was found that 65% students were able to apply Touch System. In cycle II, their skill improved as much as 85%.  It is concluded that the Gudmen media could help improve the students’ touch system typing skill. Finally, it is suggested that : (1) manual typing lecturers use Gudmen media, (2) the students practice applying touch system more frequently.
PRAKTIK SIMULASI GLOBAL DALAM KETERAMPILAN BERBICARA UNTUK KEBERHASILAN MAHASISWA PADA TES INTERNASIONAL BAHASA PRANCIS DELF Syaefudin, Mohamad
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 40, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Uji sertifikasi DELF Tingkat B1 adalah persyaratan bagi lulusan departemen Perancis. Uji sertifikasi ini diberikan oleh semua universitas besar di Indonesia. Tingkat B1 penting bagi peserta didik dari Prancis yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai apakah simulasi global dapat berkontribusi terhadap keberhasilan siswa dalam ujian berbicara DELF. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kompetensi berbicara menigkat melalui skenario pembelajaran menggunakan simulasi global. Peningkatan kemampuan berbicara 1,13 poin dibandingkan dengan rata-rata pre-test adalah 14,5 sedangkan post-test 16,36 dari 25 poin maksimal. Berdasarkan hasil penelitian, kami menyimpulkan bahwa simulasi global yang memberikan kontribusi untuk akuisisi kompetensi di uji produksi DELF lisan.   The test DELF Level B1 certification is requirement for graduates of the French department. It has been given by all the major universities in Indonesia. This level is important for learners of French to the reason for the frequent use in daily life. The purpose of this research is to assess whether the global simulation could contribute to student success in the DELF’ speaking test. The result of data analysis has shown that the speaking competence improved through the learning scenario using the global simulation. The jurisdiction of the oral production increases by 1.13 points by comparing the mean pre-test is 14.5 while the post-test 16.36 of 25 points maximal. Based on the results of research, we conclude that global simulation contributes to the acquisition of competence in oral production test DELF.
PENGGUNAAN PORTOFOLIO PADA MATA KULIAH ENGLISH LANGUAGE TEACHING ACROSS CURRICULUM (ELTAC) UNTUK MENDORONG KETERLIBATAN MAHASISWA DALAM PERKULIAHAN Astuti, Puji
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 40, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

English Language Teaching across Curriculum (ELTAC) merupakan salah satu dari Kelompok Mata Kuliah pengetahuan dan Ketrampilan di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Semarang untuk mempersiapkan lulusannya agar dapat berpartisipasi dalam implementasi ELTAC di Indonesia; yaitu pengajaran content-area subjects atau mata pelajaran konten dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Selama perkuliahan, mahasiswa membaca bacaan wajib dan membuat responnya, membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, melaksanakan microteaching, membuat refleksi atas microteaching yang telah dilaksanakan dan atas perkuliahan secara umum. Mahasiswa mendokumenkan proses pembelajarannya dalam bentuk portofolio.   Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana portofolio dapat membantu meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam perkuliahan. Data diambil melalui jurnal mengajar, refleksi akhir perkuliahan yang ditulis mahasiswa, analisis dokumen, dan konferensi informal dengan beberapa mahasiswa secara individu. Penelitian ini mengungkap bahwa pada tingkatan tertentu, portofolio membantu mendorong keterlibatan mahasiswa dalam perkuliahan ELTAC dan membawa mereka pada pencapaian nilai akhir yang memuaskan.   English Language Teaching across Curriculum (ELTAC) is a course in undergraduate English Education program, Semarang State University. It prepares the graduates to be able to participate in the implementation of ELTAC in Indonesia; the teaching of content-area subjects using English as the medium of instruction. Throughout the course, students are required to read course readings and write the responses, make lesson plans, conduct microteachings, and reflection on their microteaching and on the course in general. In the context of the study, students should document their learning processes in the form of portfolio. The study aims at revealing how portfolio could help promote students’ involvement in the course. Data is gathered through teaching journal, written end-of-course reflection, document analysis, and informal conferences with individual students. The study indicates that students’ involvement in the course is, to some degree, high with the help of the portfolio, resulting in highly satisfactory academic achievement.
PENINGKATAN PEMAHAMAN MATERI KULIAH MANAJEMEN KATERING DENGAN METODE LESSON STUDY -, Saptariana
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 40, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompetensi yang ingin dicapai dari mata kuliah manajemen katering adalah agar mahasiswa memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang konsep manajemen katering serta terampil mengelola usaha katering. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1). Untuk mengetahui apakah metode mengajar lesson study dapat meningkatkan pemahaman materi kuliah manajemen katering? 2). Untuk mengetahui bagaimanakah aktivitas mahasiswa dalam perkuliahan manajemen katering dengan menggunakan metode mengajar lesson study. Metode penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan dua siklus, mengikuti prosedur: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (action), (3) observasi (observation) dan (4) refleksi (reflection) dalam setiap siklusnya. Untuk mengetahui peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap materi manajemen katering, dilakukan dengan membandingkan nilai tes ke-I dengan tes ke-II, serta membandingkan nilai tes ke-II dengan tes ke-III, menggunakan t- test. Hasil penelitian pada siklus I didapat data sig. (2 tailed) yang nilainya .000 dan ternyata < 0.010 sehingga sangat signifikan, artinya ada perbedaan antara nilai pada tes I dengan tes II. Untuk mengetahui mana yang terbaik dilihat dari capaian rata-ratanya, dimana rata-rata yang tertinggi ada pada tes II yaitu 76,08, sehingga dapat dikatakan ada peningkatan hasil belajar dari siklus I dan II. Hasil penelitian pada siklus II data sig. (2 tailed) nilainya .000 dan ternyata < 0.010 sehingga sangat signifikan, artinya ada perbedaan antara nilai pada tes II dengan tes III. Untuk mengetahui mana yang terbaik dilihat dari capaian rata-ratanya, dimana rata-rata yang tertinggi ada pada tes III yaitu 78,25, sehingga dapat dikatakan ada peningkatan hasil belajar dari siklus II dan III dengan menggunakan metode lesson study.   Interest that wish reached by from eye of management course catering is in order to student haves knowledge and an understating of concept of catering management and skillful effort catering management. Intention of research this is the: 1). To know wether method of lesson study can improve understanding of management course matter catering? 2). To know how student activity in catering management by using method of lesson study. Its research method is research of class action that conducted with two cycles, follow procedure: (1) planning, (2) action,  (3) observation and (4) reflection in every its cycle. To know improvement of student understanding to catering management, conducted by compare to value first tes with second tes, and compare to value second tes with third tes, use t-test. Research Result at cycle first got data sig. (2-taileds) that its value .000 and in the reality < 0.010 until very significant, that means there is difference between value at first tes and second tes. To know maximum the best are seen from performance the average of its, where the average of the very top is on second tes that is 76,08, so it’s can be told there is result improvement learns from cycle first and second. Research Result at cycle second data sig. (2-taileds) its value .000 and in the reality < 0.010 until very significant, that means there is difference between value at second tes and third tes. To know maximum the best are seen from performance of the average of its, where the average of the very top is on third tes that is 78,25, so it’s can be told there is result improvement learns from cycle second and third by using lesson study method.
APLIKASI PEMBELAJARAN CHEMOEDUTAINMENT DENGAN PENDEKATAN GAME SIMULATION UNTUK MENINGKATKAN KECAKAPAN HIDUP Pita Rengga, Wara Dyah; Wijayati, Nanik
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 40, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama ini pendidikan berjalan dengan verbalistik dan berorientasi pada penguasaan mata pelajaran. Praktek pendidikan masih difokuskan agar siswa menguasai informasi yang terkandung dalam materi pelajaran dan kemudian dievaluasi dari seberapa jauh penguasaan siswa. Tujuan penelitian adalah mengaplikasikan Chemoedutainment dengan pendekatan  game simulation agar dalam pembelajaran siswa dibekali dengan kecakapan hidup. Penelitian tindakan kelas ini pada jumlah siswa 38 orang yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data berupa observasi, tes akhir siklus, dan angket. Berdasarkan analisa data hasil penelitian, rata-rata kecakapan hidup (life skill) siswa pada siklus I adalah 64,86% dan pada siklus II 71,52%, selanjutnya mengalami peningkatan 3,5% dengan rata-rata kecakapan hidup (life skill) 75,02% pada siklus III. Hasil belajar siswa dengan rata-rata 71,05 pada siklus I, dan pada siklus II mengalami peningkatan dengan rata-rata 75,27, selanjutnya pada siklus III dengan rata-rata 82,24.   This character education during verbalistik and oriented solely to the mastery of subjects. Practice education is still focused so that students master the information contained in the subject matter and then evaluated by how much control students. The research objective was to apply the Chemoedutainment with the approach of simulation games in teaching students to be equipped with life skills. This classroom action research based on the analysis of survey data, the average life skills students increased in the first cycle was 64.86% and 71.52% on the second cycle, then increased 3.5% with an average life skills 75 , 02% in cycle III. Student learning outcomes increased by an average of 71.05 in the first cycle, and on the second cycle was increased by an average of 75.27, then on the third cycle with an average of 82.24. (Total 138 kata),

Page 1 of 4 | Total Record : 33


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 52, No 2 (2023): September: Technology and Innovation in Education, Inclusive Education and Equi Vol 52, No 1 (2023): April: Curriculum and Learning, Technology and Innovation in Education Vol 51, No 2 (2022): September: Curriculum and Learning, Inclusive Education and Equity Vol 51, No 1 (2022): April: Technology and Innovation in Education, Leadership, Policy, and Educatio Vol 50, No 2 (2021): September: Leadership, Policy, and Educational Governance Vol 50, No 2 (2021): September Vol 50, No 1 (2021): April: Curriculum and Learning, Technology and Innovation in Education Vol 50, No 1 (2021): April Vol 49, No 2 (2020): September Vol 49, No 1 (2020): April Vol 48, No 2 (2019): September Vol 48, No 1 (2019): April Vol 47, No 2 (2018): September Vol 47, No 1 (2018): April Vol 46, No 2 (2017): September 2017 Vol 46, No 1 (2017): April 2017 Vol 46, No 1 (2017): Lembaran Ilmu Kependidikan: April 2017 Vol 45, No 2 (2016): Lembaran Ilmu Kependidikan: September 2016 Vol 45, No 2 (2016): September 2016 Vol 45, No 1 (2016): Lembaran Ilmu Kependidikan: April 2016 Vol 45, No 1 (2016): April 2016 Vol 44, No 2 (2015): Lembaran Ilmu Kependidikan: September 2015 Vol 44, No 2 (2015): September 2015 Vol 44, No 1 (2015): April 2015 Vol 44, No 1 (2015): Lembaran Ilmu Kependidikan: April 2015 Vol 43, No 2 (2014): September 2014 Vol 43, No 2 (2014): Edisi September 2014 Vol 43, No 1 (2014): Edisi April 2014 Vol 43, No 1 (2014): April 2014 Vol 42, No 2 (2013) Vol 42, No 2 (2013) Vol 42, No 1 (2013) Vol 42, No 1 (2013) Vol 41, No 2 (2012) Vol 41, No 2 (2012) Vol 41, No 1 (2012) Vol 41, No 1 (2012) Vol 40, No 1 (2011) Vol 40, No 1 (2011) Vol 39, No 2 (2010) Vol 39, No 2 (2010) Vol 39, No 1 (2010) Vol 39, No 1 (2010) Vol 38, No 2 (2009) Vol 38, No 2 (2009) Vol 38, No 1 (2009) Vol 38, No 1 (2009) Vol 37, No 2 (2008) Vol 37, No 2 (2008) Vol 37, No 1 (2008) Vol 37, No 1 (2008) Vol 36, No 2 (2007) Vol 36, No 2 (2007) Vol 36, No 1 (2007) Vol 36, No 1 (2007) More Issue