cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 473 Documents
Efek Cairan Rehidrasi terhadap Denyut Nadi, Tekanan Darah dan Lama Periode Pemulihan Krisnawati, Dyah; Pradigdo, S. Fatimah; Kartini, Apoina
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bertujuan untuk mengetahui jenis cairan rehidrasi mana yang mempercepat pemulihan setelah olahraga. Metode yang digunakan quasi eksperimen  dengan desain pretest-posttest Group Design untuk membandingkan efek rehidrasi air minum, elektrolit dan elektrolit+glukosa. Subjek adalah 20 orang atlet sepakbola di klub Mandala. Pengukuran berat badan, denyut nadi, tekanan darah sebelum dan setelah latihan fisik selama 45 menit, serta lama periode pemulihan pada pemberian tiap jenis cairan rehidrasi dilakukan 2 kali dengan interval waktu 3 hari. Variabel-variabel tersebut dibandingkan antara ke 3 jenis cairan. Analisis dilakukan dengan menggunakan metoda Repeated Measure untuk variabel yang berdistribusi normal dan metoda Friedman untuk variabel yang tidak berdistribusi normal serta dilanjutkan dengan regresi linier berganda untuk mengontrol variabel pengganggu. Hasil penelitian menunjukkan; Ada perbedaan efek pemberian ke 3 jenis cairan rehidrasi terhadap peningkatan denyut nadi setelah latihan fisik. Cairan rehidrasi air minum menghasilkan peningkatan denyut nadi terkecil yaitu sebesar 28 kali/menit dibandingkan dengan 39 kali/menit pada pemberian cairan elektrolit dan 45 kali/menit pada pemberian cairan elektrolit+glukosa. Tidak ada perbedaan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik setelah pemberian 3 jenis cairan tersebut. Tidak ada perbedaan periode pemulihan denyut nadi, tekanan darah sistolik dan diastolik setelah pemberian 3 jenis cairan rehidrasi. Simpulan; pemberian cairan air minum memberikan hasil yang terbaik pada latihan fisik selama 45 menit.Kata Kunci: cairan rehidrasi; denyut nadi; tekanan darah; lama periode pemulihanAbstract This study aimed to find the best rehydration solution for recovery after exercise. The method of this research is quasy experiment with pretest-postest design study was conducted to compare the rehydration effect of water, electrolyte and glucose-electrolyte. The subjects were 20 football athletes of Mandala football club. Body weight, heart rate, blood pressure at pre and post 45 minutes exercise and the recovery period were done twice by 3 days interval for three weeks. Those measurements at 3 kinds of rehydration solutions were comparid. Analysis was conducted by repeated measure for normally distributed variables and friedman for not normally distributed variables and followed by multiple linear regresion for controlling the confounding variable. The result are; drinking water solution gave the smallest increase of heart rate (28 X/minutes) compared to electrolyte solutions (39 X/minutes) and electrolyte-glucose solutions (45 X/minutes). There were no difference in systolic and diastolic blood pressure increase after the three different rehydration solution consumption. There was no difference in the recovery period of heart rate, systolic and diastolic blood pressure after the three different rehydration solution consumption.The conclusion is drinking water showed the best effect as a rehydration solution for 45 minute exercise.Keywords: rehydration solution; heart rate; blood pressure recovery period
Pengaruh Metode Latihan Global terhadap Akurasi Ground Stroke Forehand dalam Permainan Tenis A., Palmizal
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada pengaruh latihan ground stroke forehand dalam permainan tenis dengan menggunakan metode latihan global. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Jambi yang mengikuti perkuliahan tenis, yaitu berjumlah 78 orang. Sampel penelitian ini adalah berjumlah 25 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik proportional random sampling. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen. Hipotesis penelitian adalah Metode latihan global dapat meningkatkan akurasi ground stroke forehand  dalam permainan tenis. Teknik analisa data dalam penelitian ini dilakukan dengan uji t. Berdasarkan analisis data yang dilakukan diketahui terjadi peningkatan rata-rata antara tes awal dan tes akhir pada metode latihan, yaitu untuk metode latihan global sebesar 4,92. Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis ketiga dalam penelitian ini dengan menggunakan analisis statistik uji t tes. Setelah dilakukan pengujian hipotesis diketahui nilai t-hitung  adalah sebesar didapat  t hitung = 19.09 lebih besar dari t tabel  (ά=0.05:24) = 1.711. Dengan demikian dapat disimpulan bahwa metode latihan global  efektif dalam meningkatkan akurasi ground stroke forehand dalam permainan tenis mahasiswa Prodi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan  FKIP Universitas Jambi.Kata Kunci: tenis; ground stroke forehand; metode latihan globalAbstract The purpose of this study is to see whether there are training effects of ground strokes forehand in tennis game by using the global training method. The populations in this study are students of Sport and Health  Education, Jambi University, who attending the tennis course, which numbered 78 people. The sample in this study are 25 people. The sampling technique is done by using proportional random sampling technique. Research carried out by using experimental method. Research hypothesis is the global training method can improve the accuracy of ground strokes forehand in tennis game. A data analysis technique in the study was performed by t-test. Based on the data analysis, there was improvement of score average between the initial test and final test on the training method, namely to the global training method for 4.92. Furthermore, the third hypothesis was tested in this study by using the t-test statistical analysis. After testing the hypothesis, known t count = 19. 09 bigger than t tabel  (ά=0,05:24) = 1.711. Thus it can be concluded that the global training method is effective in improving the accuracy of the ground stroke forehand in tennis game of students of Sport and Health  Education, Faculty of Teacher Training and Education, Jambi University.Keywords: tennis; ground stroke forehand; global training method
Bola Multifungsi untuk Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Hartono, Mugiyo
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mendesain bola multifungsi yang dapat digunakan untuk kebutuhan permainan basket, voli dan sepakbola. Metode penelitian yang digunakan, yaitu: 1) analisis kebutuhan; 2) Merancang produk awal; 3) Produk awal; 4) Validasi ahli dengan menggunakan para ahli; 5) Revisi produk pertama dilakukan untuk perbaikan atas hasil evaluasi ahli; 6) Uji coba skala kecil; 7) Revisi produk kedua; 8) Uji coba skala besar; 9) Revisi produk akhir; 10) Pelaporan Hasil. Sampel uji coba skala kecil menggunakan 36 peserta didik SD dan SMP, dan untuk uji coba skala besar menggunakan sebanyak 72 anak SD dan SMP di Kota Semarang. Hasil produk akhir adalah sebuah bola multifungsi untuk permainan basket, voli dan sepakbola dengan ukuran 66 cm terbuat dari bahan Spon PU (Poly Urhetane) halus tidak licin, berat 270 gram, tekanan angin 0.250-0.3 bar dan memiliki pantulan 105-115. Desain bola menggambarkan cirri khas ketiga bola yaitu basket, voli dan sepakbola dengan warna cerah dan menarik. Simpulan dalam penelitian ini adalah bola multifungsi yang memiliki fungsi ganda untuk permainan basket, voli dan sepakbola untuk anak SD dan SMP, tidak menimbulkan rasa sakit karena ringan dan tidak terlalu besar untuk ukuran anak SD dan SMP.Kata Kunci: bola multifungsi; pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan  Abstract The aims of this research is to design the multifunction of the ball that can fulfill the needs of basketball, volleyball and football games. The method are; 1) needs analysis, 2) Designing the initial product, 3) initial product; 4) Validation of expert by using experts; 5) Revision of the first products is done for the improvement of expert evaluation results; 6) Small scale test trials; 7) Revision of the second product; 8) large-scale trials; 9) Revision of the final product; 10) Deployment and implementation of results. Samples of small-scale trials use 36 elementary and junior high students, and for large-scale trials use 72 students of Elementary and Junior High Schools in Semarang City. The results of the final product are a multifunctional ball for basketball, volleyball and football with a size of 66 cm, made from sponge material PU (Poly Urhetane), a smooth non-slippery, weight of 270 grams, 0.250-0.3 bar of air pressure and has reflections of 105-115. Ball design describes characteristic of three ball, there are basketball, volleyball and football with bright and interesting colors. Conclusions in this study are a multifunctional ball with the correct specification as in the research results above, has a multifunction for basketball, volleyball and football for Elementary and Junior High School students, does not cause pain because they are light and proper size for Elementary and Secondary School students.Keywords: multifunctional ball; physical education sport and health
Asam Laktat dan Aktivitas SOD Eritrosit pada Fase Pemulihan Setelah Latihan Submaksimal Purnomo, Mochamad
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian untuk membandingkan kadar asam laktat dan aktivitas SOD eritrosit pada fase setelah latihan submaksimal. Hasil menunjukkan bahwa rerata asam laktat awal 2,282 ± 0,555 mMol/L, asam laktat 5 menit setelah latihan 7,936  ± 1,125 mMol/L, asam laktat 60 menit setelah latihan 3,109± 0,501 mMol/L, aktivitas SOD eritrosit awal 70,727 % ± 11,889, aktivitas SOD eritrosit 5 menit setelah latihan 4,364 % ± 2,501, aktivitas SOD eritrosit 60 menit setelah latihan 10,000 % ± 2,828. Persentase kadar asam laktat darah 60 menit setelah latihan 85,099 % ± 11,515, persentase aktivitas SOD eritrosit 60 menit setelah latihan 8,177 % ± 5,132. Uji normalitas menunjukkan nilai p > 0,05. Uji ANOVA sama subyek menunjukkan  asam laktat sebelum dengan 5 menit setelah latihan nilai p sebesar 0,000 (p < 0,05) dan aktivitas SOD eritrosit sebelum latihan dengan 5 menit  setelah latihan nilai p sebesar 0,000 (p < 0,05). Asam laktat 5 menit dengan 60 menit setelah latihan nilai p sebesar 0,000 (p < 0,05), aktivitas SOD eritrosit 5 menit dengan 60 menit setelah latihan memiliki nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan persentase aktivitas SOD eritrosit lebih kecil dari pada persentase kadar asam laktat darah 60 menit setelah latihan olahraga submaksimal.Kata Kunci: kadar asam laktat darah; aktivitas SOD eritrosit; latihan submaksimalAbstrast The aims of study is to compare the levels of lactic acid and erythrocyte SOD activity in the phase after exercise submaximal. The results showed: the early lactic acid levels 2.282 ± 0.555 mMol / L, lactic acid level 5 minutes after exercise 7.936 ± 1.125 mMol / L, lactic acid levels 60 minutes after exercise 3.109 ± 0.501 mMol / L, activity initial erythrocyte SOD 11.889 ± 70.727%, erythrocyte SOD activity 5 minutes after the workout 4.364% ± 2.501, erythrocyte SOD activity 60 minutes after the workout 10.000% ± 2.828. Percentage of blood lactic acid levels 60 minutes after exercise 11.515 ± 85.099%, and the erythrocyte SOD activity 60 minutes after the workout 8.177% ± 5.132. Normality test p value > 0.05. ANOVA of the same subjects obtained by lactic acid levels before the 5 minutes after the workout has a p value of 0.000 (p <0.05) and erythrocyte SOD activity before exercise by 5 minutes after the workout has a p value of 0.000 (p <0.05). Lactic acid levels in 5 minutes with 60 minutes of exercise a p value of 0.000 (p <0.05) and erythrocyte SOD activity 5 minutes to 60 minutes after exercise has a p value of 0.001 (p<0.05). With the test of independent sample T test on the percentage decrease in blood lactic acid levels in erythrocyte SOD activity 60 minutes after exercise obtained p value of 0.000 (p <0.05).  Conclusion that the percentage of erythrocyte SOD activity is less than the percentage of blood lactic acid levels 60 minutes after exercise submaximal.Keywords: lactic acid; erythrocyte SOD activity; exercise submaximal.
Kajian Teh Rosella (Hibiscus sabdariffa) dalam Meningkatkan Kemampuan Fisik Berenang (Penelitian Eksperimen Pada Mencit Jantan Remaja) Ekanto, Budi; -, Sugiarto
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan aliran darah ke sel jantung, paru, otot rangka akan mengganggu dalam proses metabolisme untuk menyediakan energi yang diperlukan dalam aktifitas. Penurunan ketersediaan ATP berdampak pada penurunan kemampuan otot jantung dan otot skeletal untuk kontraksi. ATP yang menurun menyebabkan penurunan kemampuan fisik seseorang dalam melakukan kegiatan olahraga. Superoksida Dismutase sebagai antioksidan tubuh tidak mampu lagi mengimbangi jumlah radikal bebas yang ditimbulkan oleh metabolisme atau dari polutan lingkungan. Ketidakseimbangan tersebut dapat diatasi dengan antioksidan dari luar tubuh. Rosella merupakan salah satu sumber antioksidan eksogen yang diharapkan dapat mencegah aterosklerosis dan vasokonstriksi serta menyediakan nutrisi yang cukup pada proses metabolisme sel. Tujuan penelitian ini mengkaji perbedaan kemampuan fisik berenang pada tikus yang diberi teh Rosella dengan yang tidak diberi teh Rosella. Desain penelitian  pre-post test control group design. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu teh rosella, variabel terikat yaitu kemampuan fisik berenang. Jumlah total sampel 30 mencit. Kelompok kontrol 15 dan kelompok perlakuan 15. Bahan yang digunakan; mencit usia 1 bulan, BB minimal 10 gr, bunga rosella yang dibuat menjadi minuman teh, pakan jenis BR II. Alat yang digunakan; kandang pemeliharaan hewan coba, timbangan hewan, ember pengukur daya tahan berenang, dan alat pencatat waktu (stop watch). Analisis data menggunakan analisis varian (Anova) untuk menguji perbedaan secara keseluruhan rerata perubahan kemampuan fisik sebelum perlakuan, hari ke 7, hari ke 14, hari ke 21, hari ke 28 perlakuan dan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. Data diolah menggunakan alat bantu komputer yaitu program  SPSS for windows version 16.00. Hasil penelitian yaitu pemberian minuman teh rosella pada mencit belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap kemampuan fisik berenang sampai pada minggu ke-3 (p value > 0,05), tetapi memberikan kontribusi yang nyata terhadap peningkatan kemampuan fisik mencit setelah diberikan secara kontinyu sampai pada minggu ke-4 (p value = 0,029 < 0,05). Kelompok mencit tanpa perlakuan teh rosella mengalami penurunan daya tahan fisik berenang setelah minggu ke-empat. Saran dari hasil penelitian yaitu hendaknya minuman teh rosella dapat dijadikan sebagai salah satu minuman untuk meningkatkan kemampuan fisik. Untuk menyempurnakan penelitian, perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang efek minuman  rosella dengan kajian tingkat molekul dan organela sel. Kata Kunci: metabolisme; antioksidan; teh rosella; kemampuan fisikAbstractDecreased blood flow to the heart cells, lung, skeletal muscle will interfere in the  metabolism process to provide energy required in the activity. Decreased availability of ATP impact the reduction ability of the heart muscle and skeletal muscles to contraction. ATP reduction causes a decrease in a person’s physical abilities in performing sports activities. Superoxide Dismutase as an antioxidant of the body no longer able to compensate the amount of free radicals generated by metabolism or from environmental pollutants. The imbalance can be mitigated by antioxidants from outside the body. Rosella is one source of exogenous antioxidants is expected to prevent atherosclerosis and vasoconstriction as well as providing adequate nutrition in the process of cell metabolism. The purpose of this study examines differences in physical ability to swim in rats fed with tea Rosella with those are not given. The study design pre-post test control group design. The independent variable in this research is rosella tea, the dependent variable is the physical ability to swim. Total sample is 30 mice. The control group are 15 and 15 are treatment groups. Materials used: mice aged 1 month, Body Weight least 10 grams, rosella flowers are made ​​into tea, feed type BR II. The tools used; maintenance animal cages, animal weighing, measuring bucket endurance swimming, and time recording devices (stop watch). Data analysis using analysis of variance (ANOVA) to examine differences in overall rates of change in physical ability before treatment, day 7, day 14, day 21, day 28 between treatment and control groups with treatment groups. Data processed using computer tools that SPSS for windows version 16:00. The results of rosella tea beverage delivery in mice not given a noticeable effect on the physical ability to swim up in week 3 (p value> 0.05), but provide a real contribution to improving the physical ability of mice when administered continuously until the week 4th (p value = 0.029 <0.05). Group of mice without treatment rosella tea decreased physical endurance to swim after four week. Suggestions from the research results is rosella tea beverages should be used as a beverage to enhance physical abilities. To improve research, need to do further research on the effects of rosella drinks with studies on the molecular level and cell organelles.Keywords: metabolism; antioxidant; rosella tea; physical capabilities
Sistem Informasi Perencanaan Pola Hidup Sehat melalui Keseimbangan Aktivitas dan Asupan Makanan A.P., Ranu Baskora; -, Sutardji; Woro, Oktia
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor yang penting dalam pengaturan Pola hidup yang sehat adalah ketersediaan informasi tentang kesehatan yang cepat, baik dan akurat. Kajian ini menghasilkan sistem informasi berbasis komputer yang cepat mengenai kebutuhan kalori tubuh kita sehari-hari sekaligus kita diajak untuk mengurai pola aktivitas  kita setiap hari dalam menit.Sehingga prakiraan keseimbangan kebutuhan energi aktiftas dengan konsumsi makanan yang kita konsumsi sehari-hari dapat kita lakukan. Asupan makanan sehari-hari kitapun dapat direncanakan melalui produk sistem informasi  ini, Perencanaan pola hidup sehat, selaras dan seimbangpun dapat dirancang. Dengan produk ini kita dapat  memprediksi seberapa besar sebenarnya kebutuhan kalori tubuh kita, zat makanan berupa karbohidrat , lemak dan protein yang kita butuhkan dalam satu hari.Kata Kunci:  pola hidup; kalori; pola aktivitas tubuh; asupan makananAbstract One of factor which is of important deep arrangement Pattern to live that healthy is information accessibility about fast one health, well and accurate. This study result fasts one computer-based information system hit body calorie requirement our everyday at a swoop we are asked out to decompose our activity pattern everyday in minute. So balance  energy activity requirement by consumes food that our consumption everyday gets we do. consumption is our knockabout food even gets to be plotted through this information system product, Planning patterns to live healthy, harmony and even handed even gets to be designed. With this product we can predict how big actually body calorie requirement us, alimentary substance as carbohydrate, fat and protein that we needs deep one days.Keywords: living pattern; calorie;  activity pattern; food consumption
Hubungan Kesegaran Jasmani, Hemoglobin, Status Gizi, dan Makan Pagi terhadap Prestasi Belajar Annas, Mohamad
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya prestasi belajar siswa di MTs AL Asror Kota Semarang, Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan croos-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas II MTs Al Asror Kota Semarang tahun pelajaran 2006/2007 yang berjumlah 183 siswa, dengan sampel 65 siswi yang diambil dengan tehnik Simple Random Sampling. Instrumen dalam penelitian adalah 1) timbangan injak, 2) mikrotoa, 3) Stopwatch, 4) Kuesioner. Data primer diperoleh melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan, pengukuran tingkat kesegaran jasmani dan kuisioner. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan uji statistik Chi-Square dengan derajat kemaknaan (α) = 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakana antara tingkat kesegaran jasmani dan status gizi dengan prestasi belajar siswa. Sementara itu status hemolglobin dan kebiasaan sarapan pagi secara signifikan berhubungan dengan prestasi belajar siswa. Ada hubungan yang bermakan antara kebiasaan makan pagi dengan prestasi belajar siswa kelas VIII MTs Al Asror Kota Semarang. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada MTS Al Asror Kota Semarang untuk meningkatkan upaya peningkatan prestasi belajar siswa dengan memperhatikan variabel kesehatan seperti status hemoglobin dan kebiasaan sarapan pagi siswa. Kepada siswa, disarankan agar senantiasa sarapan pagi sebelum berangkat sekolah.Kata Kunci: tingkat kesegaran jasmani; kadar hemoglobin; status gizi; kebiasaan makan pagi; prestasi belajar siswaAbstract Research is motivated by low student achievment of the MTs Al Asror. Type of reserch is analytical survey of the approaches cross-sectional. Population in this study were students in grade 2 of the MTs Al Asror, Gunungpati, Semarang totaling 183 students, with the sample 65 school girl with techniques taken from Random Sampling. Instruments in research is 1) stepped on the scales, 2) mikrotoa, 3) stopwatch, 4) questionnaire. Data obtained in this study were processed using statistical tests chi-square with degree of significance (α) = 5%. Results showed that there was no significant association between level of physical fitness and nutritional status with students achievment. While the status of hemoglobin and breakfast habits were significantly related to student achievment. There was a significant association between eating breakfast with a grade 8 student achievment of the MTs Al Asror, Gunungpati, Semarang. Based on research results suggested to the MTs Al Asror, Gunungpati, Semarang to increase efforts to improve student achievment by taking into account variables such as health status and hemoglobin breakfast habits of students. Students are advised to always eat breakfast before leaving for school.Keywords: the level of physical fitness; hemoglobin levels; nutritional status; and breakfast habits with student achievment
Efek Psikologis dari Pendidikan Jasmani ditinjau dari Teori Neurosains dan Teori Kognitif Sosial Rustiana, Eunike R.
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah terjadi krisis identitas di dalam mata pelajaran pendidikan jasmani (penjas) di beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Banyak sekolah-sekolah yang ketika mendekati masa ujian akhir mengambil kebijakan untuk meniadakan pendidikan jasmani dan menggantinya dengan mata pelajaran IPA atau Matematika tambahan. Banyak pula guru-guru penjas yang kemudian merasa kurang percaya diri, kurang yakin apakah mata pelajaran yang diampunya betul-betul bermanfaat. Padahal banyak penelitian menunjukkan bahwa penjas adalah mata pelajaran yang penting dan amat bermanfaat bagi siswa, baik secara fisiologis maupun psikologis. Manfaat-manfaat psikologis dapat dijelaskan melalui teori Neurosains maupun teori Kognitif Sosial. Bila guru-guru penjas memahami dan menyadari manfaat-manfaat penjas selain menguasai ketrampilan-ketrampilan gerak yang akan diajarkan, guru-guru tersebut akan merasa lebih percaya diri dalam mengajar penjas. Guru penjas  selain mengajarkan ketrampilan fisik juga dapat menjelaskan manfaat-manfaat ini kepada siswa, serta membina suasana yang menyenangkan dalam pendidikan jasmani. Dengan demikian para guru penjas tidak usah merasa rendah diri, dan bahkan dapat mensejajarkan diri dengan teman-teman sejawat yang mengampu mata pelajaran lain.Kata Kunci:  neurosains; teori kognitif sosialAbstract Some countries in the world including Indonesia, have been suffering from identity crisis in physical education (PE). There are many schools make absence of physical education and extend Mathematics and Physics Science. There are also many physical education teachers who are not convinced whether physical education is beneficial for their students or not. Actually, there are many research results showed that physical education is an important subject and very useful for students, physically and psychologically. Psychological benefits of physical education can be explained through Neuroscience approach or Social Cognitive approach. If the PE teachers understand and realize those benefits, beside mastering the motoric skills needed, they will be more confident in teaching their subject. They will perceive that their position is on the same level as their colleagues, who teach another subjects. They can explain those benefits to their students while teaching, and create a good climate to make their students feel happy.Keywords: neuroscience; social cognitive theory
Pengembangan Sketsa Kewarganegaraan Multidimensional melalui Pendidikan Olahraga dalam Nation And Character Building Anggraeni, Leni
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan nation and character building merupakan pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Dimana proses membangun karakter itu memerlukan disiplin tinggi karena tidaklah mudah dan seketika atau instan. Oleh karenanya diperlukan pengembangan model pembelajaran yang efektif, yaitu model pembelajaran yang mampu membangun komitmen dalam menerapkan nilai-nilai nation and character building dalam diri setiap siswa. Untuk mengembangkan model tersebut maka diperlukan sumbangsih serta peran dari rumpun mata pelajaran olahraga guna mengokohkan karakter dan dimensi kewarganegaraan, yang mencakup dimensi kewarganegaraan pribadi, sosial, spasial dan temporal. Pengembangan sketsa kewarganegaraam multidimensional merupakan wahana yang paling strategis untuk membangun komitmen dalam rangka membangun nation and character building khususnya dikalangan siswa sebagai warga negara, yang harus diimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.Kata Kunci: sketsa kewarganegaraan; multidimensional, pendidikan olahraga; nation and character buildingAbstract Development of nation and character building is the main foundation in the success of Indonesia Gold 2025.  Where the process of character building that requires discipline because it is not easy and instant. Therefore required the development of un effective learning model, the learning model can build commitment in implementing the values ​​of nation and character building in every student.  To develop that model require the contribution and role of the part of sports subjects in order to establish his character and dimensions of citizenship, which includes civic dimensions of personal, social, spatial and temporal. Sketch the development of multidementional citizenship is the most strategic vehicle for building commitment in order to build a nation and character building, especially among students as citizens, to be implemented in daily life.Keywords: sketch of citizenship; multidimentional; physical education; nation and character building
Wheelchair Athletes and Their Considerations in Sporting Activities Abdullah, Nagoor Meera; Tumijan, Wahidah; Appukutty, Mahenderan
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wheelchair athletes need to engage into physical activity and sports in order to keep their body functioning for activity for daily living (ADL) or for sporting actions. Sports also are a part of the rehabilitation program since it been introduced by Sir Ludwig Gutmann in England late 1940s. With the growth of sport activity in daily lives of persons with disabilities, it has been rightly perceived that disabled persons could obtain the same physical and emotional benefits from sport as their able-bodied counterparts, leading to an increased need to overcome limitations, opponents and records. The introduction of sports therapy in rehabilitation, as well as further involvement in sports depends on the severity of the injury, might lead a disabled person to either become a non-competitive athlete or a paralympic athlete. Athletes with Spinal cord injury facing problems with their thermoregulatory response. In relation to that, during exercise in the heat, paraplegic athletes demonstrates similar increase in core temperature compared with able-bodied athletes, but at a much lower metabolic rate, reflecting the decreased heat dissipation. Individuals who use wheelchairs vary widely in their level of cardiorespiratory fitness, some being seriously unfit and others are achieving levels that compare closely with those of fit able-bodied athletes. Wheelchair users also should be encouraged to use a hand-propelled rather than a motorized chair in daily life and to eat a diet that is well regulated to avoid accumulation of excess body fat.

Page 3 of 48 | Total Record : 473