cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Pendidikan Geografi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014" : 7 Documents clear
MEMFASILTASI PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA PERDANA PRASETYA, SUKMA
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penerapan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered) dalam pembelajaran Geografi diasumsikan akan menimbulkan hasil yang lebih baik. Hal ini tidak terlepas dari pandangan bahwa proses pembelajaran yang benar adalah pembelajaran yang tidak hanya memindahkan informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi juga menggalakkan perkembangan kemampuan siswa (bertanya dan menemukan). Guru  Geografi membutuhkan adaptasi gaya mengajar  dan metode pembelajaran mereka untuk memfasilitasi proses belajar (learning process) dengan menawarkan beragam kesempatan belajar yang sesuai untuk gaya belajar siswa yang berbeda, subjek materi yang berbeda, dan untuk hasil belajar berbagai materi Geografi yang berbeda.   Kata Kunci : Pembelajaran, Geografi, Student Centered.   PENDAHULUAN Pengajaran yang berpusat pada guru masih dominan di Indonesia. Meskipun kurikulum terus berubah dan disempurnakan dengan menuntut keterlibatan aktif siswa dalam belajar, kenyataannya pengajaran tradisional tersebut masih banyak diterapkan. Dalam pengajaran tradisional tersebut siswa menjadi pasif atau tidak lebih hanya sebagai penerima pengetahuan dari guru. Siswa tidak mempunyai kontrol terhadap perolehan belajar mereka. Guru membuat semua keputusan mengenai kurikulum yang mencakup metode, sumber belajar,  media, penilaian, dan sebagainya. Bahkan dengan lugas Duckworth (2013) menegaskan bahwa pengajaran berpusat pada guru sebenarnya mencegah perkembangan pendidikan siswa, dimana siswa tidak diberi kebebasan dan tanggung jawab dalam mengembangkan pengetahuan. Bertentangan dengan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, dimana siswa diberi kebebasan aktif dalam belajar mengumpulkan pengetahuan, bagaimana mereka  belajar, dan kapan mereka belajar. Artinya siswa mengambil tanggung jawab dan mengarahkan proses belajar mereka sendiri. Guru yang lebih tahu banyak pengetahuan faktual tentang konten materi belum tentu memiliki siswa yang aktif belajar. Guru yang mempunyai banyak pengetahuan faktual kemungkinan mampu membuat  banyak presentasi-presentasi yang lebih jelas dan mudah difahami siswa. Guru yang banyak pengetahuan siap menghadapi semua pertanyaan siswa dan tidak harus berkelit dengan memberikan jawaban yang kabur. Pengetahuan  yang memadai memang perlu dimiliki guru, tetapi tidak cukup untuk proses pembelajarpuan efektif karena pengetahuan akan lebih bermakna apabila diperoleh melalui pengalaman konstruksi oleh siswa baik secara individu maupun kelompok. Guru berperan memfasilitasi dengan merancang strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Jacobsen et al. (2009) mengemukakan strategi-strategi pembelajaran dimana guru berperan sebagai fasilitator, dengan memper-kenankan siswa untuk mengambil bagian yang lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga siswa mampu menkontruksi pengetahuannya sendiri. Guru sebagai fasilitator memberi kesempatan siswa untuk mengoptimal-kan kemampuan-kemampuan memecah-kan masalah dengan mengunakan strategi-strategi yang berpusat pada siswa, dimana siswa memiliki  kebebasan dan otonomi yang lebih luas. Bila dik2aitkan dengan pembelajaran Geografi, strategi  pembelajaran yang berpusat pada siswa sangat sesuai untuk diterapkan. Menurut  Pawson et al. (2006) Geografi merupakan studi multidisiplin (melibatkan berbagai aspek fisik dan sosial). Karakter belajar multidisiplin ini merupakan pembelajaran yang dapat dikembangkan melalui aktivitas aktif siswa untuk memecahkan masalah dengan mengumpulkan beragam sumber informasi dan data, beragam pemikiran dan bahkan beragam latar keilmuan. Pembelajaran Geografi yang diseting dengan melibatkan siswa baik secara individu dan kelompok dalam membangun pemahaman pengetahuan geografi  telah mampu menunjukkan hasil yang sangat baik. Hal ini diakibatkan karena  proses  pengkonstruksian pengetahuan geografi dilakukan secara bersama-sama menggantikan proses pembelajaran klasikal dengan sistem ceramah yang proses pengkonstruksian pengetahuan dilakukan sendiri-sendiri sesuai dengan apa yang ditangkap oleh siswa secara individu dan kelompok. Pengkonstruksian pengetahuan secara bersama-sama melalui kerja kelompok memungkinkan siswa dapat mengungkapkan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain dan secara bersama-sama membangun pemahaman. Dalam pembelajaran Geografi  yang berpusat pada siswa, guru harus lebih banyak meninggalkan gaya belajar ceramah dengan menggunkan catatan-catatan dan banyak meninggalkan catatan power point agar pembelajaran  siswa lebih aktif. Keterlibatan guru dan siswa dalam kolaboratif pembelajaran harus lebih ditekankan untuk menelaah fonemena geosfer secara komperhensif. Dalam dua dekade terakhir, gaya mengajar berpusat pada guru digantikan dengan gaya mengajar berpusat pada siswa. Pembelajran berpusat pada siswa dipandang paling pantas karena memberikan lebih otonomi, lebih mengarahkan belajar sendiri (self-directed learning), dimana siswa dapat berpartisipasi tentang apa, bagaimana dan kapan mereka belajar, serta membangun pengetahuan melalui pembelajaran berdasarkan pengalaman mereka sendiri (Weimer, 2012). Penerapan pendekatan yang berpusat pada siswa dalam pembelajaran geografi diasumsikan akan menimbulkan hasil yang lebih baik. Hal ini tidak terlepas dari pandangan bahwa proses pembelajaran yang benar adalah pembelajaran yang tidak hanya memindahkan informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi juga menggalakkan perkembangan kemampuan siswa (bertanya dan menemukan). Selain itu, guru harus mampu membantu siswa belajar bertanya dan menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang dihadapi secara efektif dan bukan semata-mata membantu mereka memperoleh pelajaran.   MODEL-MODEL GAYA MENGAJAR GURU Menyinggung pembelajaran secara umum, Kain (2013) menjelaskan bahwa pembelajaran berpusat pada siswa mempunyai pendekatan yang mengharuskan berbagai pengetahuan dibangun melalui kegiatan aktif siswa dalam beragam aktivitas. Pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa bertujuan untuk mengembangkan program dan materi pembelajaran yang dibangun dengan mengumpulkan pengalaman dan pengetahuan siswa, baik diperoleh secara individu maupun  bersama. Pandangan kontruktivis tentang pengetahuan dan pembelajaran mengusulkan bahwa siswa seharusnya mempunyai kebebasan berfikir aktif sehingga dapat menguji secara kritis prosedur dalam  mengkontruksi pengetahuan. Kelas pembelajaran yang berpusat pada siswa senantiasa mengikutsertakan siswa ke dalam aktivitas yang membutuhkan rasionalitas, penemuan, pemecahan masalah, pengumpulan data, aplikasi dan mengkomunikasikan gagasan. Gagasan utamanya dimulai dari pendekatan kontruktivisme dalam pembelajaran dengan tidak meniadakan arti pentingnya pengetahuan faktual berupa hafalan, tetapi lebih menekankan cara terbaik bagi siswa untuk mencapai dan memahami pengetahuan tersebut. Dengan pemahaman pengetahuan tersebut siswa akan dapat merefkesikan, mengorganisasikan, menganalisis, dan memecahkan masalah. Efektifitas penerapan pembelajaran berpusat pada siswa sangat tergantung pada gaya mengajar guru di kelas. Gaya mengajar guru mengarahkan pada kombinasi dari teknik dan metode yang diterapkan guru di kelas. Pada Pendidikan Geografi secara umum ada tiga model gaya pembelajaran, yaitu transmission-reception models, behavior-shaping models, dan the interactionist models seperti yang disajikan di Gambar 1 (Lambert and Balderstone 2012).                   Gambar 1. Model  Mengajar Guru Geografi (sumber: Lambaert dan Balderstone, 2012)     Model pertama (The Transmission-Reception Model), Siswa merasa sebagai organime  kosong yang menunggu untuk diisi pengetahuan. Kelas dirancang secara formal dengan cara memindahkan pengetahuan langsung dari guru ke siswa. Meja tulis diarah di depan, guru menempati posisi dominan di depan kelas. Informasi lebih bersifat faktual dan hafalan konsep Geografi yang dipresentasikan sampai selesai, sedangkan siswa merekam informasi yang sudah ditentukan oleh guru. The Transmission-Reception Model yang umumnya dilakukan guru,  membuat guru cenderung mengajar monoton. Seperti ceramah, menulis di papan tulis, menggunakan buku bacaan, mencatat di buku tulis, mengerjakan tugas tertulis, dan mengerjakan tes secara tertulis. Semua kegiatan tersebut lebih menitikberatkan pada aspek visual dan auditorial.    Dengan pola pembelajaran sekarang ini yang diuntungkan adalah siswa dengan gaya belajar visua- auditorial. Disisi lain, sistem pengajaran di sekolah mengharuskan siswa untuk diam dan mendengarkan guru. Model kedua (The Behavior-Shaping Model), guru menyediakan contoh dan sekumpulan pengalaman belajar kepada siswa ke dalam sosial grup. Dalam kelas pembelajaran Geografi menekankan pada pemahaman dan penerapan konsep Geografi. Ketika terjadi interaksi komunikasi antara siswa dan guru, beberapa strategi yang digunakan seringkali berupa tanya jawab, diskusi, penugasan, dan umpanbalik kelas dari siswa yang telah menyelesaikan beberapa tugas. Model Ketiga (The Interactionist Model), model ini menekankan pada pembelajaran individu siswa dan guru melibatkan proses inkuiri dan pemecahan masalah secara kolaboratif. Siswa  dipandang sebagai organime sosial dan kelas dirancang adanya interkasi antara siswa dengan siswa dan guru dengan siswa. Model ini menjadikan guru menjadi bagian dari proses pembelajaran dan mempunyai kekhasan berupa tanggungjawab pembelajaran dari guru dialihkan kepada siswa. Beberapa tipe strategi pembelajaran yang dapat diterapkan pada model ini antara lain: pembelajaran cooperative, pemecahan masalah, pembelajaran inkuiri, debat, studi kasus, bermain peran, dan simulasi. Dari Gambar 1, dapat dideskripsikan gaya model pertama merupakan gaya mengajar tradisional dengan pendekatan yang berpusat pada guru. Sedangkan pada model kedua dan ketiga lebih cenderung mengarah pada gaya mengajar yang berpusat pada siswa. Penyesuaian terhadap semua gaya mengajar merupakan bagian penting dalam persiapan guru Geografi untuk mengajar dengan berbagai kondisi, dimana guru Geografi dapat mempertimbangkan perolehan hasil belajar siswa ke tingkat yang lebih tinggi. Buch and Bartley (2012) mengemukakan bahwa guru Geografi membutuhkan adaptasi gaya mengajar  dan metode pembelajaran mereka untuk memfalitasi proses belajar (learning process) dengan menawarkan beragam kesempatan belajar yang sesuai untuk gaya belajar yang berbeda, subjek materi yang berbeda, dan untuk hasil belajar berbagai materi Geografi yang berbeda. Lebih lanjut Prasetya (2013), mengemukakan bahwa gaya dan strategi mengajar diterapkan oleh guru Geografi perlu secara terus-menerus direvisi susuai pada konten dasar materinya. Atau bisa jadi konten materinya sama tetapi menggolongkan siswa berbeda, maka gaya dan strategi mengajar guru Geografi juga perlu memfasilitasi perbedaan karakter belajar siswa tersebut.   PERBANDINGAN TEACHER CENTERED VS STUDENT CENTERED   Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru dan berpusat pada siswa mempunyai perbedaan yang jelas, antara lain dapat dilihat dengan membandingkan paradigma, pedagogis, dan strategi pembelajaran pada Tabel 1, 2, dan 3.     MELIBATKAN SISWA DALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN YANG BERPUSAT PADA SISWA Guru secara terus-menerus mencari makna untuk keberhasilan belajar siswa mereka. Hal ini selalu mempunyai arti penting dalam pembelajaran di kelas. Tetapi sering perubahan waktu terjadi pergeseran paradikma pendidikan. Agar pemeblajaran berjalan optimal, guru perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut ini. Kenali karakteristik siswa. Tergantung besarnya kelas, Artinya dapat menyebut karakter umum seperti nama, gaya belajar, kemampuan individual, dan sebaginya. Sebaiknya guru perlu memahami sifat dan karakteristik siswa  terutama kemampuan belajarnya, cara dan kebiasaan belajar, minat terhadap mata  pelajaran, motivasi untuk belajar dan hasil belajar yang dicapainya. Belajar yang baik harus dapat melibatkan siswa secara proses dan  komprehensif baik segi intelektual, emosional maupun psikomotor. Perbedaan tersebut mencakup karakteristik maupun kemampuan fisik dan psikis. Adanya perbedaan secara  individu di  antara siswa dapat    mempengaruhi  proses dan hasil belajar.  Oleh     karena itu, guru  perlu memperhatikan perbedaan siswa, supaya aktivitas dan konten  belajar yang diberikan selaras dengan  penempatan potensi siswa yang bersangkutan. Melalui memahami karakter siswa guru dapat mengadaptasikan strategi pembelajaran yang sesuai dengan siswa, membantu siswa mengembangkan ketrampilan yang mempunyai kemampuan rendah, membantu kekurangsiapan siswa dalam mengembangkan ketrampilan belajar. Gaya mengajar. Guru senantiasa mendukung interktif kelas. Salah satu aspek pembelajaran berpusat pada siswa adalah menyediakan kesempatan kepada siswa untuk berbagi pengetahuan dengan temannya.  Guru harus mampu menjabarkan bahan pengajaran dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk pertanyaan-petanyaan problematik untuk didiskusikan antar teman, dalam bentuk skenario atau disimulasikan dan didemonstrasikan oleh siswa, dalam bentuk pernyataan hipotesis untuk dipecahkan melalui problem solving, dalam bentuk konsep dan prisip agar diaplikasikan oleh para siswa. Membuat pelajaran yang relevan. bahan pelajaran yang diberikan benar-benar dibutuhkan untuk pelajaran selanjutnya atau untuk kehidupan mereka di kemudian hari. Bahan pelajaran  yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Bahan bahan pelajaran dapat didesain dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk  pertanyaan-petanyaan problematik untuk didiskusikan antar teman, dalam bentuk scenario atau disimulasikan dan didemonstrasikan oleh siswa, dalam bentuk pernyataan hipotesisuntuk dipecahkan melalui problem solving, dalam bentuk konsep dan prisip agar diaplikasikan oleh para siswa. Pengajaran aktif (active teaching). Guru  harus dapat mendesain, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran berkadar aktivitas siswa yang tinggi.  Untuk mencapai ke arah itu bukan berati guru cukup hanya dapat memilih dan melaksanakan strategi pembelajaran yang  diklasifikasikan sebagai strategi yang dapat meningkatkan aktivitas siswa. Strategi  belajar yang efektif seperti cara belajar mandiri, berkelompok, cara mempelajari buku, cara bertanya  atau mengajukan pertanyaan, cara mengemukakan pendapat dan sebagainya. Cara-cara tersebut  hendaknya ditanamkan pada siswa sehingga siswa dapat mempraktikkanya.   PENUTUP Pembelajaran yang berpusat pada siswa, menumbuhkan kemampuan  membangun pengetahuan sendiri, berpikir kritis, dan kemampuan membantu teman untuk mencapai ketuntasan belajar baik secara individu maupun klasikal.  Hasil belajar siswa dalam pembelajaran Geografi dapat ditingkatkan apabila guru dapat memilih dan menerapkan strategi inovatif berpusat pada siswa yang tepat sebagai sarana penyampaian materi pembelajaran yang diberikan.         Tabel 1. Perbandingan Paradigma Teacher Centered vs Student Centered        Tabel 2. Perbandingan Pedagogis Teacher Centered vs Student Centered        Tabel 3. Perbandingan Strategi Teacher Centered vs Student Centered        DAFTAR PUSTAKA Buch, K., and S. Bartley. 2012. Learning styles and training delivery mode preference. Journal of Workplace Learning 14 (10): 5–10. Duckworth, E. 2013. Helping students get to where ideas can find them. Journal of The New Educator, 5(3): 10-22.         Jacobsen D.A, Paul Eggen, Donal Kauvhak. 2009. Methods For Teaching. New Jersey : Pearson Education. Inc, Publishings Allyn & Bacon. Kain, D. J. 2003. Teacher-centered versus student-centered: Balancing constraint and theory in the composition classroom. Journal of Pedagogy 3 (1): 104–108. Lambert, D., and D. Balderstone. 2012. Learning to Teach Geography in the Secondary Schools. London: Routledge-Falmer. Prasetya, Sukma. P, 2013. Pengaruh Strategi dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar Penginderaan Jauh Siswa SMA Kelas XII IPS,  Disertasi, Malang: Universitas Negeri Malang. Weimer, M. (2012). Learner-Centered Teaching. San Francisco: Jossey Bas
KAJIAN PERTIMBANGAN PENENTUAN LOKASI SEKOLAH (STUDI KASUS SMKN 1 GEGER KABUPATEN MADIUN) SIGIT WIDODO, BAMBANG
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. This research aims to know the description of: 1) how the consideration of determining the location and school building, and 2)  how the development of school. The research approach is qualitative by case study plan. The procedure of data collection is done by : (1) in-depth interview, (2) participative observation and (3) document study. The data analysis are consisted of: (1) data reduction, (2) data display, and (3) conclusion. But, the data approval check uses credibility, transferability, dependability, and confirmatablity. The finding of those three location show that : (1) the consideration of determining location and building school based on the social need, and (5) the development of school which is observed from the numbers of students, school building, skills program, school achievement and partnerships between schools and external institution has increased, bocause the support and commitment from the district / city and community.   Keywords: consideration, school location, development of school.
KONSEP FENOMENA GEOSFIR SEBAGAI ACUAN RUMUSAN MASALAH DALAM PENELITIAN GEOGRAFI SUDARYONO, LUCIANUS
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Rumusan masalah sangat penting dalam penelitian, karena melalui rumusan masalah dijelaskan arah dan tujuan penelitian. Rumusan masalah sering juga disebut pertanyaan penelitian, yang jawabannya merupakan hipotesis yang hendak diuji. Sering terjadi di bidang geografi bahwa rumusan masalah penelitian dikemukakan tanpa memperhatikan batas-batas kepatutannya dengan hakekat hal yang dipersoalkan. Keadaan demikian disebabkan oleh banyaknya anasir pendukung  yang terlibat dalam setiap peristiwa atau fenomena yang menjadi obyek kajian geografi. Kurang fahamnya peneliti terhadap konsepsi obyek kajian geografi yang disebut fenomena geosfir, sering merupakan sebab-musabab terjadinya kerancuan dalam perumusan masalah penelitian. Rumusan masalah yang dikemukakan sering merupakan pertanyaan-pertanyaan yang berdiri sendiri-sendiri, dan tidak sesuai dengan hakekat permasalahan yang dikaji. Dengan memahami secara benar konsepsi obyek kajian geografi dan menggunakannya sebagai acuan dalam pengenalan dan penyataan masalah penelitian, maka kemungkinan terjadinya kesesatan berpikir dapat diatasi, sehingga perumusan masalah penelitian  dapat dilakukan dengan semestinya.   Kata Kunci : Penelitian Geografi, Fenomena Geosfir, Rumusan Masalah.  
KARAKTERISTIK MORFOLOGI CEKUNGAN KARST GUNUNGSEWU MALALUI DATA GDEM ASTER BUDIYANTO, EKO
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Kawasan karst memiliki karakteristik alamiah yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Pemahaman tentang karakteristik alamiah suatu tempat di daerah karst sangat penting dalam kaitannya dengan pengelolaan wilayah karst. Penelitian ini mengkaji karakteristik morfologi cekungan karst Gunungsewu didasarkan pada parameter pola persebaran cekungan, kemiringan lereng cekungan, dan kekasaran permukaan karst. Data pokok yang digunakan adalah data GDEM ASTER dan diolah dengan menggunakan perangkat lunak Global Mapper 11, dan Quantum GIS. Pola persebaran cekungan dianalisis dengan menggunakan tool Nearest Neighbour. Kemiringan lereng diukur melalui profiling DEM. Kekasaran permukaan diukur dengan menggunakan tool Ruggedness Index. Uji beda dilakukan dengan menggunakan statistik uji T. Hasil pengukuran diketahui bahwa terdapat variasi pada parameter penelitian diseluruh area karst Gunungsewu. Area karst gunungsewu memiliki pola persebaran cekungan yang acak. Kemiringan lereng cekungan terkecil terdapat disebelah barat dan semakin meningkat hingga sisi timur. Untuk kekasaran permukaan diketahui bahwa karst gunungsewu memiliki kekasaran permukaan dari level datar hingga intermediately rugged dan moderately rugged.   Kata Kunci : morfologi cekungan karst, GDEM ASTER
PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI RAWAN BANJIR , SOEGIYANTO
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Pada umumnya banjir dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu (1) faktor meteorologis, (2) faktor daerah aliran sungai, (3) faktor manusia. Faktor meteorologis yang penting adalah presipitasi atau hujan. Dalam pendefinisian DAS, pemahaman akan konsep daur hidrologi sangat diperlukan terutama untuk melihat masukan berupa curah hujan yang selanjutnya didistribusikan melalui konsep daur hidrologi. Konsep daur hidrologi DAS menjelaskan bahwa air hujan langsung  sampai ke permukaan tanah untuk kemudian terbagi menjadi air larian, perkolasi dan infiltrasi, yang kemudian akan mengalir ke sungai sebagai debit aliran. Dalam mempelajari ekosistem DAS, dapat diklasifikasikan menjadi daerah hulu, tengah dan hilir. DAS bagian hulu dicirikan sebagai daerah konservasi, DAS bagian hilir merupakan daerah pemanfaatan. Dalam suatu sistem DAS, hujan adalah faktor input, DAS itu sendiri sebagai prosesor, dan tata air di hilir sebagai output. Apabila hujan sebagai faktor yang tidak dapat dikendalikan, maka kondisi tata air akan sangat tergantung pada kondisi DAS. Banjir maupun banjir bandang menunjukkan fenomena perubahan tata air sebagai bentuk respon alam atas interaksi alam dan manusia dalam sistem pengelolaan. Telaah masalah kerusakan siklus air tersebut harus menggunakan satuan Daerah Aliran Sungai (DAS). Untuk menganalisa kinerja suatu DAS, harus melihat keseluruhan komponen yang ada, baik output yang bersifat positif (produksi) maupun dampak negatif. Pengelolaan DAS dapat disebutkan merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang secara umum untuk mencapai tujuan peningkatan produksi pertanian dan kehutanan yang optimum dan berkelanjutan (lestari) dengan upaya menekan kerusakan seminimum mungkin agar distribusi aliran air sungai yang berasal dari DAS dapat merata sepanjang tahun. Pentingnya posisi DAS sebagai unit perencanaan yang utuh merupakan konsekuensi logis untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan sumberdaya hutan, tanah dan air. Dalam upaya  menciptakan pendekatan pengelolaan DAS secara terpadu, diperlukan perencanaan secara terpadu, menyeluruh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dengan mempertimbangkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan.   Kata kunci : Pengelolaan, Daerah Aliran Sungai (DAS)
KAJIAN KERUSAKAN PANTAI AKIBAT EROSI MARIN DI WILAYAH PESISIR KELURAHAN KASTELA KECAMATAN PULAU TERNATE Sofyan, Adnan
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Tingkat kerusakan di wilayah pesisir Kelurahan Kastela yaitu  sesuai panjang garis pantai dengan panjang 1.652 meter dan lebar yang tererosi marin  pertahunnya mencapai 1,5 meter. Kerusakan oleh erosi marin di wilayah pesisir Kelurahan Kastela disebabkan oleh faktor alam dan faktor buatan/manusia. Faktor alam yang disebabkan oleh erosi marin adalah arus, pasang surut, gelombang, dan angin. Sedangkan penyebab erosi marin oleh faktor buatan atau manusia yang berupa aktifitas penambangan pasir oleh masyarakat di sepanjang wilayah pesisir Kelurahan Kastela. Dampak yang ditimbulkan erosi marin di wilayah pesisir Kelurahan Kastela secara fisik yang berupa rusaknya fasilitas rekreasi, berubahnya daratan menjadi laut, pergeseran garis pantai, terancamnya permukiman dari terjangan ombak karena jarak permukiman 3 sampai 30 meter dari pasang tertinggi. Kerusakan biotik berupa rusaknya lahan perkebunan, seperti kebun kelapa, rusaknya salah satu tanaman endemik pulau Ternate yaitu pohon capilong/nyamplung (Calophyllum inophyllum)   di sepanjang pesisir Kelurahan Kastela yang disebabkan oleh gelombang yang menghantam wilayah pesisir secara terus menerus, dengan demikian perlu adanya penangan dan pengelolaan untuk mengurangi ancaman erosi marin tersebut.   Kata Kunci : Kerusakan, Pantai, Pesisir, Erosi marin
KEWASPADAAN BENCANA PADA WARGA SUKU DAYAK DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Ashari, Beny Dwi; Hariyono, Widodo
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : Background: Merapi Volcano is located between Central Java and Yogyakarta Special Region (DIY), considered the most active volcanoes in the world and the intensity of the eruptions tend to be short between 3-7 years. The Island of Borneo, an area for the native Dayak tribesmen, known not pick volcanoes and plate tectonics Earth line. Residents "Dayak" need to know that there are differences in the characteristics of the disaster in Yogyakarta Special Region and the island of Borneo, and to learn and to adapt from the state. The purpose of this study to determine the citizen disaster preparedness "Dayak" in the DIY. Methods: This research uses descriptive qualitative method, which is to describe the disaster preparedness in Dayak tribesmen in the province of DIY, which consists of a description of the difference of potential disaster, the view on the citizens "Dayak" against disasters and security threats of disasters, preparedness, experiences and events trauma caused by natural disasters in the disaster in DIY. Data was collected by observation, interview and documentation. Result: Based on geography, geology, hydrology, and demographic, DIY has a condition that allows disasters (natural, non-natural, and human). Yogyakarta Special Region himself long enough until now has good title to continue their education, not to mention followed by Dayak tribesmen. By the respondents answered all of the characteristics of the narrow scope of the disaster. Yogyakarta Special Region disasters in view of relatively safe. Knowing the signs of a disaster there are lessons that never obtained before and some are aware of social media. Conclusion: Overview of the potential difference between DIY disasters with local residents origin "Dayak" different sources always vigilant and careful, there are misgivings and always alert, sources in the face of a disaster in the province is one accepted (resigned), mediocre, confused, frightened, safe, and there are gearing up to take instructions from the government through electronic media as well as the direction of the surrounding community, and the trauma experienced by interviewees tend to be brief and mild.   Keywords: disaster awareness, Dayak People, Yogyakarta Special Region.

Page 1 of 1 | Total Record : 7