Jurnal KALAM
KALAM (ISSN 0853-9510; E-ISSN: 2540-7759) is a journal published by the Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic University of Lampung, INDONESIA. KALAM published twice a year. KALAM focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Theology, and Mysticism. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by Kalam will review by two peer review through a double-blind review process.
KALAM has been accredited by The Ministry of Research, Technology, and Higher Education, the Republic of Indonesia as an academic journal (SK Dirjen PRP Kemenristekdikti No. 1/E/KPT/2015).
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 7 No 2 (2013)"
:
10 Documents
clear
MEMBANGUN KEPRIBADIAN MUSLIM MELALUI TAKWA DAN JIHAD
Arif, Moh.
KALAM Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i2.383
Artikel ini membahas tentang konsep Taqwa dan Jihad dalam al-Qur’an. Taqwa sekalipun pendek pelafalannya namun merupakan himpunan dari semua kebaikan dan kumpulan dari hak dan kewajiban; sedangkan jihad ‘merupakan “ruhbaniyah”, karena dengan jihad kaum muslimin telah meninggalkan kelezatan duniawiyah. Kepribadian seorang muslim tidak terlepas dari cita-cita Islam yang meliputi penyerahan diri, kepasrahan, ketundukan, dan kepatuhan terhadap sang pencipta. Allah memerintahkan orang muslim untuk bertaqwa sebelum memerintahkan hal-hal lain, agar taqwa itu menjadi pendorong bagi mereka untuk melaksanakan perintah–perintah-Nya. Mentaati segala apa yang telah dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya dan an menjauhi sebisa mungkin segala apa yang telah dilarang-Nya merupakan salah satu ciri dari taqwa. Adapun keterkaitan taqwa dan jihad ialah seorang Muslim harus melaksanakan semua yang telah dianjurkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya tanpa memikirkan keuntungan dan kerugian dalam menjalankan syariat-Nya. Kesemuanya itu dapat terwujud melalui pengamalan perintah Allah sebagai suatu bentuk jihad fisabilillah.
FEMINISME DALAM PANDANGAN ISLAM: Telaah Kitab Risalah Nur
Septiana, Erika
KALAM Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i2.452
Feminisme merupakan salah satu realitas modernisasi yang terjadi dalam perkembangan pemahaman umat, terutama dalam mempertegas berbagai produk hukum Islam bagi para muslimah di dunia ini. Artikel ini mengkaji tentang kedudukan perempuan dalam Islam sebagaimana yang terdapat dalam kitab Risalah Nur karya Said Nursi. Interpretasi Said Nursi yang memihak pada kehidupan perempuan merupakan obat ampuh bagi penyakit jumud para perempuan Turki saat itu. Sesuai dengan proporsinya, pemilihan topik hijab menjadi sangat relevan, karena kesejajaran yang diakuinya juga berlandaskan pada dalil Allah mengenai kemerdekaan dan amanah yang diemban oleh perempuan. Perempuan merupakan sosok manusia yang mendapat peran ganda dalam konteks kemerdekaan hidupnya. Ia dapat berkiprah dalam kehidupan rumah tangga, namun ia juga dapat berkiprah di luar rumah dengan tetap melandaskan kegiatannnya pada ketentuan-ketentuan syari’ah. Istilah an-nisa sebagaimana dalam al-Qur’an memberikan bias keistimewaan bagi subjeknya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam status ini kaum perempuan telah mendapat derajat mulia dengan segala keistimewaan yang melingkupi diri mereka.
TEOLOGI NATURALISME DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PARADIGMA PERADABAN MANUSIA KONTEMPORER
Yusuf, Himyari
KALAM Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i2.453
Artikel ini membahas tentang teologi naturalisme yang telah mengantarkan peradaban modern yang positivisik. Persoalan idealisme metafisika atau super-naturalis mulai terkikis atau cenderung tidak lagi mendapatkan tempat dalam pemikiran barat modern karena telah dialihkan pada hal-hal yang konkret atau positifistik. Teologi naturalisme merupakan paham yang korelatif dengan filsafat alam. Paham theologi naturalisme semata-mata bersandarkan pada keberadaan alam dan kemampuan akal manusia. Teologi naturalisme memandang bahwa alam kesemestaan ini berjalan dengan sendirinya dalam arti tanpa intervensi Tuhan. Tuhan diyakini sebagai pencipta alam, namun setelah alam diciptakan Tuhan pergi keluar alam. Selain itu teologi naturalisme juga menolak semua yang bersifat metafisik dan spiritual yang ada dalam agama-agama. Agama dianggap benar manakala kebenarannya bersifat alamiah. Secara faktual teologi naturalisme telah berimplikasi terhadap sebahagian besar peradaban umat manusia kontemporer. Tampilan perilaku kekerasan, kebebasan seks, korupsi dan lain sebagainya, secara filosofis adalah representasi dari teologi yang tanpa Tuhan, tanpa spiritual-metafisik dan agama.
STUDI KRITIS PEMIKIRAN NICO SYUKUR DISTER TENTANG PENGALAMAN KEAGAMAAN
Ruslan, Idrus
KALAM Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i2.454
Studi agama dalam wacana intelektual Islam dapat dikatakan masih berjalan lambat. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan dunia Barat, di mana studi agama yang mereka lakukan tidak hanya dalam areal agama mereka sendiri tetapi telah merambah kepada wilayah agama di luar mereka. Artikel ini menelaah pemikiran Nico Syukur Dister tentang pengalaman keagamaan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pengalaman keagamaan manusia merupakan respon manusia terhadap sesuatu “Yang Maha Kuasa” terhadap alam dan itu dianggap sebagai yang kudus (sakral) sehingga manusia perlu untuk melakukan ‘ritus’ atau upacara keagamaan. Pada agama masyarakat kuno pengalaman agama dapat diterima dengan mudah, dimana mereka berasumsi bahwa pada setiap benda terdapat suatu yang mereka anggap adikodrati. Dalam masyarakat modern penerimaan pengalaman keagamaan lebih lambat karena rasionalitas mencurigai apa yang dianggap irrasional. Walaupun demikian, manusia modern tetap akan membutuhkan pengalaman keagamaan sebab keimanan mereka tanpa pengalaman keagamaan akan terasa hampa.
LANDASAN ONTOLOGIS, EPISTEMOLOGIS, DAN AKSIOLOGIS DALAM PENELITIAN PSIKOLOGI
Nursalim, M.
KALAM Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i2.455
Seperti halnya dengan penelitian pada disiplin ilmu lainnya, penelitian dalam ilmu psikologi tidak akan pernah dapat lepas dari filsafat ilmu. Artikel ini mengkaji landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam penelitian Psikologi. Secara ontologis, objek formalnya adalah jiwa yang dimanifestasikan dalam perilaku. Secara epistemologis, penelitian psikologi berkembang pesat dengan pendekatan kuantitatif sehingga psikologi menjadi ilmu terapan yang dapat memecahkan problema manusia saat ini, seperti penggunaan alat tes bidang pendidikan, bidang kesehatan, hukum dan lain-lain. Namun pengkuantifikasian manusia ini, menjadikan penelitian psikologi tidak utuh dan dingin dalam memandang manusia. Sehingga lahirlah pendekatan kualitatif untuk lebih memahami hakekat manusia. Sedangkan peranan filsafat ilmu dalam penelitian psikologi adalah mendampingi pengguna hasil penelitian ilmu psikologi secara kritis sehingga peneliti mampu menggunakannya untuk kesejahteraan umat manusia. Pendekatan kuantitatif, dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, dapat diintegrasikan dengan pendekatan kualitatif supaya lebih memahami manusia secara utuh. Untuk mencapai kebenaran, peneliti hendaknya memiliki kejujuran sebagai etika penelitian yang diintegrasikan ke dalam kepribadiannya.
METODOLOGI ILMU: Dari Teori Hingga Teologi
Muslih, Mohammad
KALAM Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i2.456
Tulisan ini merupakan review dari buku Science and Religion: a Critical Survey karya Holmes Rolston, khususnya bab pertama yang berjudul “Methods in Scientific and Religious Inquiry”. Bab pertama ini, secara umum, menguraikan pendekatan atau kawasan kajian Rolston dalam melihat kemungkinan pertemuan antara sains dan agama. Dalam penglihatan Rolston, antara teori dalam sains dan teologi dalam agama lebih banyak memiliki kesamaan dari pada perbedaannya. “...dalam bentuk logika umum sains dan agama, lebih memiliki kesamaan dari pada yang sering diduga...”, demikian Rolston. Rolston mengakui bahwa pandangannya itu membawa implikasi terhadap pandangan positivisme dan saintisme yang selama ini mengagungkan sains dan merendahkan agama. Bagi Rolston, pandangan itu jelas “mengandung kesalah-pahaman serius tentang alam, baik dari metode ilmiah maupun metode keagamaan”.
KEBANGKITAN SPIRITUALITAS MASYARAKAT MODERN
Naim, Ngainun
KALAM Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i2.457
Menurut August Comte, semakin modern sebuah masyarakat maka agama seharusnya semakin ditinggalkan. Namun realitas justru sebaliknya, dalam kompleksitas kehidupan modern, masyarakat justru semakin haus terhadap nilai-nilai spiritualitas. Fenomena inilah yang oleh Harvey Cox disebut sebagai turning east. Tulisan ini mengkritisi dinamika kebangkitan spiritualitas yang sedemikian pesat. Spiritualitas ternyata tidak harus selalu berkaitan dengan Tuhan. Pada spirirualitas dengan model semacam ini, spiritualitas hanya berfungsi sebagai pelarian psikologis, obsesi, dan kebutuhan ruhaniah sesaat. Maka yang muncul adalah usaha untuk menjadikan spiritualitas bukan sebagai bagian integral dari kehidupan, tetapi sekedar pemuasan rasa ingin tahu, dan sebagai terapi atas beragam persoalan hidup yang kian rumit. Pada kondisi semacam ini, esensi dan hakekat spiritualitas bukan lagi menjadi persoalan yang penting. Bagi para konsumen spiritualitas ini, hal yang penting adalah tujuan mereka tercapai. Mereka tidak memperdulikan akan kemana orientasi spiritualitas yang digelutinya, apa rujukan agamanya, dan seperti apa relasinya dengan Tuhan. Bahkan, Tuhan pun bukan lagi hal yang penting bagi mereka..
Tafsir Sufistik Tentang Taubat Dalam al-Qur'an
Septiawadi, Septiawadi
KALAM Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i2.462
Islam sesungguhnya memberikan ruang untuk penghapusan dosa, yaitu Taubat. Namun demikian tidak semua ummat Islam memahami hakekat Taubat yang sesungguhnya (taubat an-Nasuha). Tulisan ini mengkaji ayat-ayat yang terkait dengan makna taubat. Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan sufistik berdasarkan pada kitab tafsir karya Ibnu Arabi, at-Tustari dan Sa‘i>d H}awwa. Dalam perspektif sufistik, makna taubat yang mendasar adalah yang dilakukan secara istimrar (berkelanjutan) serta diikuti oleh amal saleh. Taubat seperti ini yang dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. Taubat juga harus diiringi dengan amal saleh yang dapat disaksikan orang lain. Sebab, taubat tidak mencapai sasaran yang diharapkan untuk mengganti keburukan dengan kebaikan bila tidak ada usaha perbaikan diri sendiri dan masyarakat. Karena itu, menurut perspektif ini, upaya menciptakan masyarakat yang selalu dekat dengan Allah hanya dapat dicapai melalaui tasawuf kolektif. Taubat harus didahului dengan pengakuan diri sebagai orang yang tunduk pasrah (muslimain) secara totalitas sehingga merasa luluh dalam kefana’an.
PERDAMAIAN DAN KEMANUSIAAN DALAM PANDANGAN ISLAM
Supriyanto, Supriyanto
KALAM Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i2.464
Perdamaian bukan hanya bertujuan untuk meredakan konflik atau ketegangan. Perdamaian memiliki dimensi personal dan sekali-gus dimensi sosial. Oleh karenanya, untuk menciptakan perdamaian dunia, mestinya setiap individu bisa berdamai terlebih dahulu dengan dirinya sendiri. Kedamaian individu itu tercermin pada p’kiran, ucapan, dan tindakan yang dilakukannya secara sadar dan konsisten. Hak Asasi Manusia (HAM) yang menekankan pada prinsip kebebasan dan perlindungan terhadap hak hidup ini, sangat vital kedudukannya dalam mencegah pembunuhan antar saudara sendiri dan mengembangkan kreativitas itulah peradaban manusia yang agung akan berlangsung dan berkembang terus-menerus, demokratisa-sipun akan lebih mudah diwujudkan. Tindakan preventif untuk mencegah dan mengakhiri perang, sebetulnya juga bisa disandarkan pada upaya implementasi HAM pada masyarakat dunia.
Membangun Relasi Agama dan Ilmu Pengetahuan
Zaprulkhan, Zaprulkhan
KALAM Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i2.465
Kehidupan dunia modern yang positvistik telah menempatkan ilmu pengetahuan atau sains pada posisi yang terpisah dari agama. Sehingga ilmu pengetahuan seringkali lepas sama sekali dari nilai-nilai etis religius. Artikel ini fokus pada upaya membangun relasi agama dengan ilmu pengetahuan. Kajian ini diawali dengan menyoroti bagaimana prinsip-prinsip dalam penyelidikan ilmiah dan agama, kemungkinan pertemuan keduanya, serta diakhiri dengan catatan kritis terhadap kekurangan masing-masing. Kendati sains mempunyai metodenya sendiri yang bersifat ilmiah, sebagaimana agama juga memiliki metodenya tersendiri untuk menyibak makna, namun keduanya tidak seharusnya saling menegasikan eksistensi masing-masing. Meskipun sains dan agama mempunyai wilayah yurisdiksinya masing-masing, namun keduanya dapat saling berbagi. Sains dan agama bisa menjadi mitra dalam menafsirkan alam semesta dengan pelbagai metodenya yang saling melengkapi. Dalam hubungan dialogis antara keduanya, agama bisa mendukung segala kegiatan ilmiah, sebaliknya sains bisa memperbaiki pemahaman religius demi kesejahteraan umat manusia. Sebagaimana dinyatakan Albert Einstein: ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta..