Jurnal KALAM
KALAM (ISSN 0853-9510; E-ISSN: 2540-7759) is a journal published by the Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic University of Lampung, INDONESIA. KALAM published twice a year. KALAM focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Theology, and Mysticism. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by Kalam will review by two peer review through a double-blind review process.
KALAM has been accredited by The Ministry of Research, Technology, and Higher Education, the Republic of Indonesia as an academic journal (SK Dirjen PRP Kemenristekdikti No. 1/E/KPT/2015).
Articles
201 Documents
Akulturasi Islam dan Budaya Jawa: Kajian Pada Ritual “Pengesahan” Warga Baru Persaudaraan Setia Hati Terate
Fauzan, Fauzan
KALAM Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i1.397
Kehadiran Islam ke wilayah Indonesia meniscayakan terjadinya dialektika antara Islam dengan kebudayaan nusantara. Dialektika ini kemudian melahirkan beberapa varian keagamaan Islam di Indonesia. Setiap varian keagamaan memiliki ritual yang khas sebagai hasil akulturasi Islam dan budaya. Di antara ritual-ritual yang ada, terdapat suatu bentuk ritual “pengesahan” yang dilaksanakan oleh suatu komunitas yang tergabung dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Tulisan ini menyoroti simbolisme yang ada pada ritual pengesahan warga baru PSHT yang merupakan satu bentuk ekspresi keagamaan masyarakat (jawa) yang tergabung di dalamnya. Di dalam ritual itu terjadi pergulatan antara Islam dan kepercayaan pra-Islam, negosiasi Islam dan budaya lokal, serta proses saling mempengaruhi satu sama lain yang kadang berwujud dalam pola sinkretis, konflik, atau pola-pola lain yang kadang sulit untuk didefinisikan. Dalam konteks ritual pengesahan ini, simbolisme yang terdapat di dalamnya, serta proses ritual itu sendiri menunjukkan ekspresi keberagamaan anggotanya yang menambah ragam keagamaan Islam di Indonesia.
PENGAMANAN PILAR BANGSA DAN MASA DEPAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
Irham, M. Aqil
KALAM Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i1.398
Sejak reformasi bergulir di Indonesia, terdapat dua kecenderungan yang berkembang dalam masyarakat. Pada satu sisi, masyarakat berharap bahwa penegakan demokrasi di segala bidang dapat ditegakkan, tetapi di sisi lain, sebagai akibat dari euphoria politik, masyarakat cenderung keluar dari koridor ketatanegaraan dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan karakter masyarakat yang berakal dan beradab. Kecenderungan yang kedua ini muncul karena pilar-pilar bangsa- Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia- telah dinafikan bahkan dilupakan. Tulisan ini mengkaji upaya penegakan empat pilar bangsa sebagai suatu strategi dalam menjaga keutuhan NKRI. Dalam upaya tersebut, langkah utama yang harus dilakukan adalah merevitalisasi secara epistemologis Pancasila lewat kajian-kajian ilmiah di dunia pendidikan. Selain dari itu, konsepsi dan makna dari empat pilar kebangsaan tersebut harus juga diperkenalkan dan dikembangkan dalam wacana publik. Melalui langkah-langkah ini, kristalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam pilar-pilar kebangsaan tersebut dapat diwujudkan tanpa melalui proses pemaksaan dan penggunaan hegemoni kekuasaan.
REKONSTRUKSI POLITIK EGALITARIANISME BANGSA PERSPEKTIF MODEL NEGARA MADINAH
Ritaudin, M. Sidi
KALAM Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i1.399
Hingga saat ini kondisi perpolitikan bangsa belum bisa menampilkan bentuk yang harmonis antara pemerintah dan rakyat. Meskipun pasca revormasi pemerintah tidak lagi mengkooptasi kekuasaan dan mengontrol partisipasi rakyat, namun euphoria demokrasi belum mampu menjamin keadilan dan kesejahteraan rakyat. Hal itu lebih dikarenakan bangsa ini belum mampu mengembangkan tatanan politik yang egalitarianistis. Tulisan ini menelaah sistem pemerintahan Negara Madinah yang dipimpin Nabi Saw., sebagai model untuk memasuki pentas politik yang demokratis dan egaliter di Indonesia. Praktik politik di Negara Madinah, merupakan model pembangunan politik egalitarianisme yang sangat kondusif bagi program pemanusiaan manusia dalam Negara dan pemerintahan. Tatanan politik yang egalitarian kala itu mencerminkan idealisme politik Islam yang didasarkan kepada prinsip-prinsip dasar politik Islam yaitu: al-‘adl, al-musa>wa>h, dan syu>ra>. Prinsip kesetaraan atau persamaan sesama manusia di depan hukum dan peradilan yang diterapkan oleh nabi terbukti memberikan dampak sosial-politik yang signifikan bagi upaya penegakan hukum. Penerapan prinsip-prinsip ini di Indonesia sama sekali tidak akan mengancam kesatuan nasional Indonesia. Bahkan sebaliknya, ia justru akan memberikan nilai positif dan kondusif bagi tercapainya cita-cita politik nasional.
NEGERI SEJAHTERA ALA KONFUSIANISME MELALUI SELF CULTIVATION
Rozie, Fachroer
KALAM Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i1.400
Dalam peta keagamaan di Indonesia, ada kecenderungan orang mengidentifikasi Konfusianisme hanya kepada filsafat Konfusius. Masalah mis-konsepsi semacam ini bukan saja pada suatu sisi akan menghambat sebagian orang untuk dapat memahami Konfusius secara komprehensif, pada sisi yang lain ia juga dapat mendistorsi nilai-nilai positif Konfusius dan menafikannya dalam proses pembangunan bangsa. Tulisan ini mengkaji ajaran Konfusianisme, baik sebagai agama maupun sebagai aliran filsafat. Sesungguhnya di dalam ajaran tersebut terkandung kearifan yang bisa dijadikan sebagai pertimbangan dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan makmur. Konfusianisme berangkat dari pemahaman antropocentris, di mana manusia menjadi pusat alam semesta; manusia tidak bisa hidup sendiri, ia mesti berhubungan dengan manusia lain. Oleh karena itu, etika merupakan starting point untuk mencapai kebahagiaan sejati manusia tersebut. Dengan memposisikan manusia sebagai pusat pemikiran, Konfusianisme mengembangkan lima ajaran pokok yang harus ditempuh dalam mencapai kebahagiaan, ketentraman, dan kesejahteraan. Lima ajaran pokok tersebut pada gilirannya harus diimplementasikan dalam kehidupan nyata dalam bentuk etika, baik individual maupun sosial.
EKSISTENSI TUHAN DAN AGAMA DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT KONTEMPORER
Yusuf, Himyari
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i2.404
Kajian ini membahas perspektif masyarakat kontemporer terhadap eksistensi Tuhan dan Agama dan kaitannya dengan kehidupan praktis manusia. Pembahasan menggunakan pendekatan filosofis atau filsafat ke-Tuhanan dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman secara menyeluruh dan mendasar terhadap hakikat keber-Tuhanan dan keberagamaan masyarakat dewasa ini. Eksistensi Tuhan dan agama selalu menjadi perbincangan bahkan menjadi perdebatan sepanjang sejarah umat manusia. Perdebatan yang tak kunjung selesai itu telah melahirkan berbagai pandangan yang satu dengan lainnya sangat berbeda bahkan bertentangan. Fakta belakangan ini menunjukkan bahwa secara teologis ada yang bertuhan dan beragama hanya pada tataran teoretis tapi tidak dalam tataran praktis (atheisme praktis/sekularisme), ada yang berlindung di balik ketidak mampuan atau kemustahilan manusia mengetahui Tuhan (agnotisisme) bahkan ada yang sama sekali mengingkari Tuhan dan agama baik secara teoretis maupun praktis (atheisme).
PEMIKIRAN LUDWIG WITTGENSTEIN TENTANG EKSISTENSI TUHAN
Listiana, Anisa
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i2.405
Tulisan ini mengkaji pemikiran Ludwig Wittgenstein tentang eksistensi Tuhan. Pokok masalah difokuskan pada upaya mengungkap bagaimana seting historis Witgenstein, bagaimana pemikirannya dan implikasi pemikirannya. Kajian ini menggunakan pendekatan historis filosofis, dengan tujuan untuk mengidentifikasi konsep pemikiran Witgenstein tentang eksistensi Tuhan berikut historisitas pemikirannya. Dalam usahanya mengetahui Tuhan, Witgenstein menggunakan pendekatan filsafat bahasa. Witgenstein beranggapan bahwa setiap hal yang dipikirkan harus pula dapat diucapkan. Ketika kita berbicara tentang bahasa sebagai ekspresi pengucapan pikiran, demkian Wittgenstein, maka pembatasan bahasa juga berarti pembatasan pikiran. Dari sini ia kemudian melihat bahwa pengalaman mistik merupakan pengalaman yang hanya dapat ditunjuk dan dialami, tetapi kita tidak bisa berbicara tentangnya karena bahasa kita sendiri juga sifatnya terbatas. Sesuatu yang berbau metafisika, seperti Tuhan menurutnya adalah mistik dan tidak perlu ditafsirkan, karena Tuhan bukanlah obyek fisik yang terbatas, Tuhan bukanlah sebuah nama barang, Tuhan merupakan semangat dan bukan fisik. Pemikiran Witgenstein semacam ini pada gilirannya telah melahirkan aliran positivisme logis.
Sekularisasi Dalam Pandangan Harvey Cox
Fauzan, Fauzan
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i2.406
Sebagian besar kaum agamawan (ortodoks) memandang sekularisasi sebagai ancaman terhadap eksistensi agama. Namun sebaliknya, Harvey Cox memandang sekularisasi sebagai teologi perubahan sosial yang bertujuan mendobrak kebuntuan agama yang terbelenggu oleh ide “pemeliharaan” dan “kemapanan”. Tulisan ini membahas pandangan Harvey Cox tentang sekularisasi, konsepnya tentang Kota Sekuler (Secular City), dan Tuhan pada masyarakat sekuler. Cox melihat sekularisasi merupakan sebuah keniscayaan sejarah. Sekularisasi merupakan gerakan yang membebaskan manusia dari dogma yang membelenggu kebebasan manusia. Melalui simbol Kota Sekuler, Cox menghadirkan paradigma teologi yang lebih sesuai dengan keadaan masyarakat modern saat ini. Cox melihat bahwa Tuhan sebagaimana yang diajarkan oleh Kristiani –juga agama lain– bukanlah Tuhan yang sebenarnya. Tuhan tak lebih dari sebuah penamaan yang kehadirannya terkadang kosong dan ambigu. Semenjak penamaan dilekatkan dalam lingkungan sosio kultural tertentu, maka kata “Tuhan” tidak suci lagi. Apabila Tuhan dimaknai secara “ketat” dalam ruang tradisi yang berbeda-beda, maka akan terjadi benturan yang terkadang membutuhkan pengorbanan jiwa.
PANENTEISME DALAM PEMIKIRAN TEOLOGI METAFISIK MOH. IQBAL
Ja’far, Suhermanto
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i2.407
Panenteisme merupakan salah satu paham tentang Tuhan yang meyakini bahwa alam adalah bagian dari Tuhan. Secara geneologi paham panenteisme merupakan pengembangan idealisme Jerman pada abad ke-19, khususnya pada karya Fichte, Hegel, Schelling, dan dilanjutkan oleh Alfred North Whitehead pada abad 20. Begitu populernya gagasan Panenteisme ini hingga cukup berpengaruh pada pemikiran teologis Iqbal. Tulisan ini membahas tentang paham Panenteisme dalam pemikiran teologi metafisik M. Iqbal. Dalam hal ini Iqbal lebih mengarah pada eksistensi Realitas absolut, sebagai realitas yang sebenarnya dalam hubungannya dengan manusia dan alam. Karena itu, Realitas Ultim, Realitas Diri, Wujud Mutlak atau Ego Mutlak hanya dapat dicapai dengan intuisi. Untuk sampai mengetahui dan memahami Wujud Mutlak, Iqbal bertitik tolak dari intuisi tentang wujud ego manusia yang bergerak pada Realitas Wujud Ego Mutlak. Hanya intuisi, kata Iqbal yang dapat mengungkap Realitas Mutlak atau Wujud Super Ego yang sebenarnya. Hal ini karena kodrat Realitas yang sesungguhnya adalah spiritual.
IDENTITAS DAN KARAKTERISTIK NABI-NABI ISRAEL DALAM PERJANJIAN LAMA
Sudarman, Sudarman
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i2.408
Nabi-Nabi Israel banyak dikemukakan Kitab Suci Agama Kristen, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Artikel ini menguraikan konsep kenabian dalam perspektif agama Kristen, terutama dalam Perjanjian Lama. Uraian diawali dengan pemaparan Israel sebagai bangsa, identitas orang pemberani, sosok manusia yang mirip nabi tetapi bukan nabi yang muncul pada bangsa-bangsa sekitar Israel. Tulisan ini juga mengungkap sebutan dan tugas nabi, nabi dan kondisi ekstase, dan nabi dan nubuat. Masing-masing tema yang diuraikan terdiri dari beberapa sub-tema yang dianggap relevan. Nabi-Nabi Israel yang dikisahkan dalam Perjanjian Lama menempati ruang istimewa dalam sejarah kekristenan, bahkan sejarah kenabian Agama Samawi lainnya, seperti Yahudi dan Islam. Keistimewaan para nabi terletak pada status keterpilihannya oleh Tuhan dan panggilan khusus yang diberikan kepada mereka. Seorang nabi memiliki tugas untuk menerima pesan Tuhan melalui wahyu dan menyampaikan pesan tersebut kepada manusia. Nabi adalah orang yang berbicara atas namaTuhan dengan keterlibatan perasaan yang kuat.
Konstruksi Filsafat Sosial al-Mawardi
Alwie, Alfoe Niam
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i2.409
Agama diyakini memiliki peran strategis dalam mengembangkan etika sosial, ekonomi dan politik. Dalam konteks ini, Islam tidak hanya dikembangkan di daerah pemikiran spekulatif murni, tetapi juga harus ditempatkan sebagai dasar etika sosial yang digerakkan oleh praksis sosial. Artikel ini membahas pemikiran al-Mawardi tentang filsafat sosial dan teori kontrak sosial. Menurut al-Mawardi manusia adalah makhluk yang paling membutuhkan bantuan pihak lain sehingga interaksi antar mereka menjadi sesuatu yang pasti. Bentuk kontrak sosial yang ditawarkan oleh al-Mawardi adalah kebutuhan manusia untuk membentuk suatu negara. Negara adalah kebutuhan manusia untuk berkumpul dan membangun ikatan antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, pembentukan negara merupakan kontrak sosial atau perjanjian atas dasar sukarela. Keunikan pemikiran al-Mawardi adalah ia menempatkan Allah sebagai poros dalam segenap sirkulasi sosial. Oleh karena itu ia senantiasa menyandarkan segala pemikiran dan beragam konsepsionalnya tentang kehidupan bermasyarakat kepada grand narative Islam itu sendiri yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.