Jurnal KALAM
KALAM (ISSN 0853-9510; E-ISSN: 2540-7759) is a journal published by the Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic University of Lampung, INDONESIA. KALAM published twice a year. KALAM focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Theology, and Mysticism. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by Kalam will review by two peer review through a double-blind review process.
KALAM has been accredited by The Ministry of Research, Technology, and Higher Education, the Republic of Indonesia as an academic journal (SK Dirjen PRP Kemenristekdikti No. 1/E/KPT/2015).
Articles
201 Documents
Khitan Perempuan Antara Tradisi dan Syari’ah
Hermanto, Agus
KALAM Vol 10 No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v10i1.343
Artikel ini membahas tentang praktek khitan untuk kaum perempuan melalui perspektif hukum Islam. Khitan perempuan dilakukan dengan memotong, melukai dan menghilangkan sebagian dari alat vital yang terpenting dan terkait alat reproduksi perempuan. Praktik ini sesungguhnya tidak harus dilakukan oleh setiap perempuan. Khitan dapat dilakukan oleh perempuan jika ia memiliki libido seksual yang tinggi sehingga dihawatirkan akan membawanya ke jurang kemaksiatan. Namun jika khitan itu tidak mendatangkan manfaat, bahkan merusak organ perempuan, maka perbuatan itu harus ditinggalkan. Dalam Kaidah Fiqh kalau suatu perbuatan mendatangkan lebih banyak mudharat daripada kemaslahatan, (la dharara wa la dhirara), maka hukumnya adalah makruh dan harus ditinggalkan.
TELAAH METAFISIK UPACARA KASADA, MITOS DAN KEARIFAN HIDUP DALAM MASYARAKAT TENGGER
Anas, Mohamad
KALAM Vol 7 No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i1.367
Dalam upaya mencari dimensi yang paling hakiki, manusia tidak boleh hanya berkutat pada level empiris dan apriori semata. Manusia harus melakukan perenungan dengan melepaskan diri dari segala sesuatu yang bersifat empiris dan apriori untuk menemukan prinsip utama. Tulisan ini menganalisis dimensi metafisik upacara kasada. Hasil kajian menunjukkan bahwa refleksi metafisik mampu ‘mengatasi’ realitas yang nampak, yang seakan-akan “sesungguhnya” namun pada kenyataanya ‘menipu’. Kepalsuan ini tanpa disadari masuk ke dalam ranah ideologis dan membuat manusia tak mampu keluar dari sakralisasi ruang, waktu dan tempat yang mewarnai ritual upacara Kasada. Bertitik tolak dari penemuan ini, pelacakan dimensi metafisik dilanjutkan untuk menemukan eksistensi dan makna dari sebuah simbol-simbol dan mitos. Pelacakan ini pada akhirnya memberi kesimpulan bahwa dimensi metafisik dalam upacara Kasada masyarakat Tengger pada hakekatnya adalah miniatur dari kehidupan semua.
AGAMA DAN INTEGRASI SOSIAL DALAM PEMIKIRAN CLIFFORD GEERTZ
Tago, Mahli Zainudin;
Shonhaji, Shonhaji
KALAM Vol 7 No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i1.377
Artikel ini menelaah hasil penelitian Clifford Geertz tentang keberagamaan masarakat di Mojokuto Jawa Timur. Tema yang diusung dalam artikel ini adalah interelasi antara agama dan masyarakat serta interaksi sosial antara berbagai kelompok sosial yang ada di Mojokuto Jawa Timur. Dari kajian terhadap interrelasi agama dan masyarakat dapat dipahami seberapa jauh pengaruh agama terhadap prilaku relegiousitas masyarakat Jawa, termasuk pengaruh budaya lokal terhadap agama itu sendiri, yang menurut pengamatan Clifford Geertz melahirkan ”Agama Jawa”. Sementara dari kajian terhadap interaksi dari berbagai kelompok sosial dapat dipahami bahwa, agama, di samping memiliki fungsi integrasi (kohesi sosial) juga menjadi penyebab terjadinya konflik dalam masyarakat. Ketiga varian agama Jawa; santri, priyayi, dan abangan meskipun secara kualitas berbeda dan saling mengklaim bahwa komunitasnya yang paling baik dan benar namun ketiganya masih memperlihatkan nuansa tradisi Jawa. Bahkan, kaum santri yang ketat sekalipun dalam batas-batas tertentu pada kenyataannya masih mentolerir tradisi jawa.
NILAI-NILAI SOSIAL BUDAYA ISLAM Upaya Merajut Kembali “Spiritualitas” Yang Hilang
Masturin, Masturin
KALAM Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i1.381
Spiritualitas Islam sebagai respon terhadap persoalan sosial-budaya kontemporer bukan saja menjadi keharusan, namun sekaligus menjadi kebutuhan dan keharusan sejarah, baik masa dulu, kini maupun pada abad mendatang. Modernitas dengan segala dampaknya telah menimbulkan kesadaran kultural berupa kerinduan orang untuk kembali pada nilai-nilai spiritual atau terjadi semacam romantisisme sejarah. Spiritualitas Islam yang dibutuhkan ke depan adalah menggabungkan antara kesalehan simbolik-individual dan kesalehan aktual-struktural. Spiritualitas Islam yang menggabungkan sikap kesalehan simbolik dan aktual tersebut harus berfungsi dalam tiga hal yaitu fungsi emansipasi, liberasi dan transendensi.
MEMBANGUN KEPRIBADIAN MUSLIM MELALUI TAKWA DAN JIHAD
Arif, Moh.
KALAM Vol 7 No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v7i2.383
Artikel ini membahas tentang konsep Taqwa dan Jihad dalam al-Qur’an. Taqwa sekalipun pendek pelafalannya namun merupakan himpunan dari semua kebaikan dan kumpulan dari hak dan kewajiban; sedangkan jihad ‘merupakan “ruhbaniyah”, karena dengan jihad kaum muslimin telah meninggalkan kelezatan duniawiyah. Kepribadian seorang muslim tidak terlepas dari cita-cita Islam yang meliputi penyerahan diri, kepasrahan, ketundukan, dan kepatuhan terhadap sang pencipta. Allah memerintahkan orang muslim untuk bertaqwa sebelum memerintahkan hal-hal lain, agar taqwa itu menjadi pendorong bagi mereka untuk melaksanakan perintah–perintah-Nya. Mentaati segala apa yang telah dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya dan an menjauhi sebisa mungkin segala apa yang telah dilarang-Nya merupakan salah satu ciri dari taqwa. Adapun keterkaitan taqwa dan jihad ialah seorang Muslim harus melaksanakan semua yang telah dianjurkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya tanpa memikirkan keuntungan dan kerugian dalam menjalankan syariat-Nya. Kesemuanya itu dapat terwujud melalui pengamalan perintah Allah sebagai suatu bentuk jihad fisabilillah.
MENGGAGAS PENGETAHUAN BERBASIS KEMANUSIAAN: Menelaah Pemikiran Henry Bergson
Yusuf, Himyari
KALAM Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i1.388
Dewasa ini sistem pengetahuan modern disadari telah menimbulkan implikasi yang tidak kondusif bagi manusia dan kemanusiaan. Karenanya pengembangan pengetahuan yang berbasis kemanusiaan sudah merupakan hal yang sangat penting untuk ditampilkan. Tulisan ini mencoba untuk mengkaji tentang apa dan bagaimana struktur fundamental pengetahuan manusia dalam pandangan Henry Bergson dan relevansinya bagi pengembangan pengetahuan yang berbasis kemanusiaan. Pendekatan yang digunakan bersifat filosofis dengan metode refleksi kritis. Henry Bergson menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai dasar dan sumber yang permanen dalam struktur pengetahuan manusia. Landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis pengetahuan manusia adalah manusia dan kemanusiaan. Sarana dan sumber untuk mendapatkan pengetahuan adalah indra, akal, hati nurani atau intuisi. Sarana dan sumber-sumber pengetahuan tersebut bersifat sinergik atau saling menguatkan. Struktur pengetahuan manusia dalam pemikiran Bergson secara filosofis koheren dengan pengetahuan yang berbasis kemanusiaan. Pengetahuan yang berbasis kemanusiaan pada idealita juga harus menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai dasar, sumber dan tujuan yang paling fundamental.
Kritik Hossein Nasr Atas Problem Sains dan Modernitas
Anas, Moh.
KALAM Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i1.391
Sains Barat Modern, yang menjadi komponen utama penyokong tumbuhnya modernitas, telah kehilangan rujukan transendentalnya. Hilangnya rujukan kepada yang Mutlak ini disebabkan adanya pemisahan antara sains dan agama sejak munculnya zaman renaissance, yang pada akhirnya bermetamorfosis menjadi modernitas- suatu zaman yang mempunyai karakter antroposentris, memisahkan antara kontemplatif dan aksi, serta menghilangkan aspek transendental atau spiritual. Akibatnya, dunia modern dilanda tragedi dan berbagai krisis, seperti krisis spiritual, krisis lingkungan, kecemasan terhadap bahaya perang dan lain-lain. Tulisan ini membahas kritik Hossein Nashr tentang problem modernitas dan sains. Menurut Nashr sains Barat telah kehilangan rujukan transendentalnya karena memisahkan antara sains dengan teologi, atau agama. Dalam pandangan Nasr, akar dari seluruh krisis di dunia modern adalah kesalahan dalam mengkonsepsikan manusia. Peradaban dunia modern yang ditegakkan di atas landasan konsep manusia namun tidak menyertakan hal yang paling esensial bagi manusia itulah yang menjadi penyebab kegagalan proyek modernitas.
Pendekatan Sistem Jasser Auda Terhadap Hukum Islam: Ke Arah Fiqh Post-Postmodernisme
Faisol, Muhammad
KALAM Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i1.393
Persoalan utama yang dihadapi dunia Islam dewasa ini adalah kegagalan dalam proses demokratisasi politik, sistem ekonomi dan pendidikan, berkembangnya ancaman ekstrimis religius (fundamentalis), serta upaya pemupukan pluralisme dan pemahaman modern atas toleransi yang didasarkan pada sikap saling memahami. Realitas dunia Islam seperti itu telah menggelitik Jasser Auda untuk mempertanyakan kembali posisi syariat Islam- dimanakah syariat Islam? Bagaimana syariat Islam dapat berperan positif dalam mensikapi krisis yang dihadapi dunia Islam? Apakah ada masalah dalam syariat Islam? Tulisan ini menelusuri gagasan pembaharuan Jasser Auda dalam bidang hukum Islam yang menawarkan pendekatan sistemik terhadap hukum Islam. Menurut Auda, sebagai suatu sistem, hukum Islam harus dijabarkan melalui enam kategori-teoritis, yaitu: sifat kognitif (cognitive nature), saling keterkaitan (interrelated), keutuhan (wholeness), keterbukaan (openess), multi-dimensionalitas (multi-dimentionality) dan kebermaknaan (purposefulness). Di sini Auda menawarkan rekonstruksi teori maqa>s}id sekaligus, pada saat yang sama, mengkritik teori maqa>s}id klasik yang cenderung hirarkis dan sempit. Menurutnya, suatu ijtihad hukum Islam hanya akan efektif manakala ia mencerminkan maqa>s}id (tujuan) di balik teks sebagaimana yang diinginkan oleh sya>ri’.
URGENSI TRANSFORMASI GLOBAL ARABIA-ISLAM
Widiastuti, Widiastuti
KALAM Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i1.395
Globalisasi yang terjadi di kawasan Arabia dewasa ini telah mendorong timbulnya sikap pro-kontra, yaitu antara kelompok al-mutahawwil (pro perubahan) dengan kelompok ats-tsabit (pro kemapanan). Dengan menggunakan pendekatan historis, tulisan ini mencoba untuk menganalisis Islam sebagai suatu agama, peradaban dan sistim perilaku serta hubungan timbal baliknya dengan transformasi global sebagai suatu kekuatan peradaban yang baru muncul. Kurangnya pemahaman tentang definisi dan makna Islam, sering membuat umat terjebak pada pemikiran sempit. Mereka mencampuradukkan antara Islam sebagai agama dan peradaban dan memandang remeh terhadap transformasi global. Padahal Islam yang mereka pahami sesungguhnya juga merupakan produk transformasi global. Akibatnya munculah ittiba’ terhadap sesuatu yang mestinya dapat berubah secara dinamis. Transformasi global adalah sesuatu yang urgen karena dapat mendorong seseorang atau masyarakat menjadi lebih baik dari masa sebelumnya. Sejalan dengan itu, transformasi global di dunia Muslim Arab juga merupakan hal yang urgen, karena perkembangan Islam pada masa kini merupakan kelanjutan dari kekuatan yang muncul dalam transformasi global yang terjadi di masa lalu.
NEGOSIASI ISLAM KULTUR DALAM GERAKAN PADERI RAO DI SUMATERA TENGAH (1820-1833)
Rozi, Safwan
KALAM Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v6i1.396
Gerakan Paderi di Sumatera Tengah adalah revolusi intelektual dan sebuah batas sejarah yang menentukan perkembangan Minangkabau. Di dalamnya ada elemen-elemen fanatisme, kesalehan, resistensi terhadap kolonialisme, dan juga negosiasi budaya. Tulisan ini mengkaji tipologi gerakan keagamaan dalam gerakan Paderi melalui pendekatan sejarah sosial. Pembahasan difokuskan pada sejarah gerakan Paderi, dialektika agama dan budaya lokal, serta negosiasi kaum adat dan kaum agama dalam gerakan Paderi di tanah Rao. Negosiasi adat dan Islam tersebut terjadi pada tahun 1833. Golongan adat dan golongan Paderi bersatu bahu-membahu melawan Belanda. Persatuan bukan hanya dalam bentuk kekuatan saja tapi juga dalam bentuk visi yang kemudian dikenal dengan konsensus Plakat Puncak Pato di Tabek Patah Tanah Datar yang berbunyi “Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah dan syarak mangato adat mamakai”. Ikrar ini mengikat golongan adat dan golongan Paderi yang mengakui eksistensi adat dan eksistensi agama Islam dalam pranata sosial. Kesepakatan tersebut kemudian memperkokoh posisi kelembagaan agama dalam masyarakat Minang.