cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 26, No 2 (2015)" : 6 Documents clear
KEHIDUPAN SUFISTIK PADA PONDOK PESANTREN BIBAḤRI ‘ASFARAḤ SANANREJO, TUREN, MALANG Musthofa, Musthofa
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The article will explore the sufi’s life at the Islamic boarding school (pesantren) Bibaḥri ‘Asfarah Sanarejo, Turen, Malang. The focus of study is the practies and how they practice to become a sufi, how their circumstance of mind when practicing, and how their circumstance of mind after practicing. The santri who never studying at the Pesantren can be divided three categories: al-Fussāq, al-Fusyl, and al-Abriyā’. The method used to a sufi’s life are mapped in two kinds of practices namely inward (bāṭiniya) and outward (lahiriya) practices. The inward practices include ṣalawat (prayer for the Prophet Muhammad pbuh), istighāṡah (mass prayer), asmā’ al-ḥusnā (reciting name of God), Yāsīn recital. The outward practices include spiritual traveling, cleaning the pesantren environment, installing paving and ornaments, making bricks, taking care of animal, becoming a sectary and treasures of the pesantren. Those inward practices are called riyāḍah (the spiritual excercise). The soul circumstances (aḥwāl) while performing those practices could be described that they feel muḥāsabah (introspective), wuṣūl (pure), happy, excited, khauf (fearful), and rajā’ (hopeful). Asbtrak: Artikel ini akan memaparkan kehidupan sufistik di Pondok Pesantren Bibaḥri ‘Asfarah Sanarejo, Turen, Malang. Fokus bahasan adalah amalan-amalan dan tata cara para santri dalam mengamalkan ajaran tasawuf sehingga mereka layak disebut sufi, keadaan jiwa selama dan setelah mereka mengamal ajaran tasawuf. Santri yang belum mondok dibagi dalam tiga kelompok: al-Fussāq, al-Fusyl, dan al-Abriyā’. Jalan yang santri tempuh menuju kehidupan sebagai sufi, antara lain, melalui pengamalan-pengamalan yang dipetakan menjadi dua jenis: pengamalan bersifat lahiriah dan batiniah. Yang termasuk pengamalan batiniah adalah pengamalan ṣalawat, istighāṡah, asmā’ al-ḥusnā, membaca surat Yāsīn; sedangkan pengamalan lahiriahnya adalah musafir, membersihkan lingkungan pondok, memasang paving dan ornament, mencetak bata, memelihara binatang, sekretaris, dan bendahara pondok. Pengamalan lahiriah ini disebut riyāḍah. Keadaan-keadaan jiwa mereka (aḥwāl) mengamalkan ajaran tasawuf akan merasakan pengalaman-pengalaman spiritual (spiritual experience) seperti muḥāsabah, wuṣūl, senang, gembira, khauf, dan rajā’. Di lain pihak, para santri yang telah mengamalkan ajaran tasawuf tersebut akan mengalami perubahan yang baru seperti merasa senang, gembira, beriman, ṣaddiq, tenteram, wuṣūl, yakin, tawaḍu’, zuhud, dan ikhlas. Keywords: al-Fussāq, al-Fusyl, al-Abriyā’, tasawuf, dan sufi.
PERGUMULAN ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL: Studi Kasus Masyarakat Samin di Dusun Jepang Bojonegoro Widiana, Nurhuda
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article will explain the process of acculturation which is a concept to describe the long process of convergence of two or more values ​​between Islam and local values ​​in which individuals, groups and communities living with the culture he had. The emergence of resistance to the new school, to be understood as part of the communitys love for the old values ​​(local). On the one hand, it is a learning process to understand the new values ​​(Islam). In these conditions, it is not appropriate to use claims of winning or losing, between Islam vis a vis local culture. Samin community understanding of the teachings of Islam, with the advantages and disadvantages of a form the beginnings of the community openness to cultures from the outside including the values ​​of Islam. Samin society no longer close themselves from the outside community, slowly began to mingle with other people and being able to adapt to the changes that reaches it. Their understanding of the religion of Islam with regard to faith (theology), worship (ritual), muamalah (social), was inherited by the teachings Saminisme. Islam understood the teachings of Samin frame, so that the integrated nature ajaranlah, but the practice of worship (ritual) Islam has not been implemented. Tempers syncretic practice (Islam typical Samin), because Islam diakomodisasi in accordance with the teachings of Samin. Abstrak: Artikel ini akan menjelaskan tentang proses akulturasi yang  merupakan konsep untuk menggambarkan proses panjang bertemunya dua atau lebih tata nilai antara Islam dengan nilai-nilai lokal di mana individu, kelompok dan masyarakat bertempat tinggal dengan budaya yang telah dimilikinya. Munculnya penolakan terhadap ajaran baru, harus dipahami sebagai bagian kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai lama (lokal).  Pada  satu sisi, ia adalah proses belajar untuk memahami nilai-nilai baru (Islam).  Pada kondisi seperti ini, tidak tepat digunakan klaim menang atau kalah, antara Islam vis a vis budaya lokal. Pemahaman masyarakat Samin tentang ajaran Islam, dengan kelebihan dan kekurangannya merupakan wujud dimulainya era keterbukaan komunitas tersebut terhadap budaya-budaya dari luar termasuk di dalamnya nilai-nilai ajaran Islam. Masyarakat Samin tidak lagi menutup diri dari masyarakat luar, secara perlahan mulai berbaur dengan masyarakat lain dan mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang menerpanya. Pemahaman mereka terhadap agama Islam yang berkaitan dengan akidah (teologi), ibadah (ritual), muamalah (sosial kemasyarakatan), masih terwarisi oleh ajaran Saminisme. Islam dipahami dengan bingkai ajaran Samin, sehingga hakekat ajaranlah yang terintegrasi, namun praktek ibadah (ritual) Islam belum dilaksanakan. Terjadilah praktek sinkretis (Islam khas Samin), karena ajaran Islam diakomodisasi sesuai dengan ajaran Samin.   Keywords : Islam, budaya lokal, ajaran Samin.
PROFESI SEBAGAI TAREKAT Munji, Ahmad
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Generally in the teachings of any religion, both divine religions such as Islam, Christianity and Judaism, or earth religions such as Hinduism, Buddhism there is a polarization between religion and economic activity. So that all activities which seeking riches is viewed negatively and not in accordance with the lofty ideals of spirituality. In the teachings of Islamic religion there is also tendency that sees economic activity as an activity that is in appropriate for a religious. By using content analysis, the studies illustrate that everyone can make his profession as a path to God. Provided that each profession held by Islamic guidance, according to the Quran and the Hadith. Abstrak: Dalam ajaran keagamaan secara umum, baik agama-agama samawi seperti Islam, Kristen dan Yahudi, maupun agama bumi seperti Hindu, Buddha dan lain sebagainya terdapat anti-nomi antara agama dan kegiatan ekonomi. Sehingga seluruh kegiatan yang mencari kekayaan dipandang negatif dan tidak sesuai dengan cita-cita luhur spiritualitas. Dalam ajaran Agama Islam juga terdapat tendensi yang cukup kuat yang memandang kegiatan ekonomi sebagai aktifitas yang tidak pantas bagi manusia yang taat beragama. Dengan menggunakan analisis isi (content analysis), setudi ini menggambarkan bahwa, setiap orang bisa menjadikan profesinya sebagi jalan menuju kepada Allah. Asalkan setiap apa yang menjadi aktifitas keseharianya dilaksanakan berdasarkan tuntunan Islam, sesuai dengan al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad. Keywords: profesi, wirid, al-Quran, hadis, tarekat.
STRATEGI REGULASI EMOSI DAN PERILAKU KOPING RELIGIUS NARAPIDANA WANITA DALAM MASA PEMBINAAN Studi Kasus: Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Bulu Semarang Anggraini, Erlina
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article aims to elaborate emotion regulation strategies and religious coping of inmates in Clas II A women’s prison of Bulu Semarang. Staying  at detention center or prison definitely makes someone stress and automatically influences to their social life, health-physics, and psychic. Moreover for new inmates (unrecidivist), the  effect can be worse. The new athmosphere of the jail can make them feel meaningless, useless, bore, and give up. It means they get both of physics and psychology punishment. Therefore the inmates should be able to control their emotion and be adaptive in their ‘new live’. This ability is called emotion regulation. Surely, the good ability will help them to face many kinds of stressors in their life. This study describes emotion regulation strategies and religious coping of women inmates. because as known in most of the society, the women are more sensitive than the men. The method of this research is qualitative. The  Informants of this study are inmates of Clas II A women’s prison of Bulu Semarang which taken by random system. The researcher finds that  the inmates will be easier   to face stressors if they have good-emotion regulation. such as having positive thinking and controlling  their attitude and feeling. But if they con not regulate their emotion well, they will be easy to feel anxiety, depression and distress. They are also will be more more aggresive. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengelaborai strategi regulasi emosi dan koping religius narapidana wanita dalam masa pembinaan. Hidup dalam rutan, penjara atau lembaga pemasyarakatan (Lapas) pasti menimbulkan berbagai tekanan yang akan berdampak pada kehidupan sosial, keadaan fisik dan juga psikis narapidana, apalagi bagi narapidana baru (bukan residivis). Dampak fisik dan psikologis yang dialami oleh narapidana dapat membuat mereka merasa tidak bermakna (meaningless) yang ditandai dengan perasaan hampa, gersang, bosan, dan putus asa. Konflik batin seperti perasaan sedih, menyesal, khawatir, tertekan, merasa terbatasi, rindu keluarga, jenuh dan perasaan tidak mengenakkan lainnya muncul dalam diri mereka. Ini artinya bagi sebagian besar narapidana, penjara bukan saja hukuman fisik (serba terbatas) melainkan juga hukuman psikologis. Untuk itu narapidana harus memiliki kemampuan untuk bisa mengontrol emosi mereka agar tetap efektif dan adaptif dalam tekanan, kemampuan ini disebut regulasi emosi. Kemampuan regulasi emosi yang baik tentu akan sangat membantu narapidana dalam menghadapi masa-masa yang sulit dan penuh tekanan dalam masa pembinaan. Keywords: coping religious, narapidana, stressor, hukuman psikologis, hukuman fisik.
TUAN GURU, POLITIK DAN KEKERASAN-RITUAL DALAM KONFLIK NAHDLATUL WATHAN DI LOMBOK NUSA TENGGARA BARAT Hamdi, Saipul
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article examines the role of tuan guru in the prolonged internal conflict in the Nahdlatul Wathan (NW) organization in Lombok. The meaning of the term ‘tuan guru’ is similar to that of a ‘kiai’ in Java, which refers to the highest title given to Muslim male experts in the field of Islamic theology and syari’ah. Tuan guru play an important role as central figures in the community. In the NW organization their importance extends into both structural and cultural aspects of society. Their involvement in the NW conflict raises many questions about their dynamic role in society because they stepped out of their normative role as religious teachers, protectors, guardians and social advisors, and into roles as actors in conflict. Specifically, this article explores the process of their involvement in the conflict; how they use their charisma and authority to legitimize their political power and interests; how they produce knowledge and ritual for violent practices; how society responds to and views tuan guru in the post-conflict setting; and patterns of social critique about tuan guru. This article is based on ethnographic research from 2008 to 2009 in East Lombok. It is based on qualitative data collection and analysis, namely participant-observation, in-depth interviews, and focus group discussions. Artikel ini menguji peran tuan guru di dalam organisasi Nahdlatul Wathan (NW), khususnya peran mereka di dalam konflik internal NW yang berkepanjangan di Lombok Nusa Tenggara Barat. Tuan guru atau kiai dalam istilah jawa adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada orang yang ahli di bidang ilmu agama. Tuan guru memainkan peran penting sebagai tokoh sentral di masyarakat. Di NW mereka juga memiliki peran yang signifikan baik di tingkat struktural maupun kultural. Keterlibatan mereka di dalam konflik NW banyak menimbulkan pertanyaan karena mereka telah keluar dari tugas normatifnya sebagai pelindung, pengayom dan pembimbing jamaah, bukan sebaliknya sebagai aktor konflik. Maka secara khusus artikel ini bertanya, bagaimana proses keterlibatan mereka di dalam konflik NW, bagaimana mereka menggunakan otoroitas dan kharisma mereka untuk melegitimasi kekuasaan dan kepentingan politik mereka, bagaimana mereka memproduksi ilmu dan ritual untuk praktik kekerasan dan bagaimana pandangan masyarakat terhadap tuan guru pasca konflik dan apa bentuk gugatan dan kritik mereka terhadap tuan guru? Artikel ini berdasarkan hasil penelitian etnografi di tahun 2008-2010 di Lombok dengan menggunakan pendekatan kualitatif di dalam pengumpulan dan analisa data. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi-partisipasi, wawancara mendalam, dan fokus diskusi kelompok.   Keywords: Tuan Guru, Nahdlatul Wathan, konflik, kekerasan dan ritual
PEMIKIRAN ANNEMARIE SCHIMMEL TENTANG SIFAT FEMININ DALAM TASAWUF Purwanto, Ahmad
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The article explores the ideas of Annemarie Schimmel relating to aspects of feminism in Sufism. According to Schimmel, that Sufism, or mystical Islam is the awareness of a single reality and love of the Absolute, because the forces that separate the true mystic by asceticism   is love. Even true love can make enjoyment of all painful. Mystical considered a mysterious thing that can not be achieved by ordinary means or by intellectual effort. While the literature and difficult spiritual life depicted as blind men touching an elephant, in pengambaraannya will say according to the elephant body parts are touched. While the nature of feminine in Sufism has been revealed as to uncover the elements of womanhood is in Sufism itself, like having love, affection, obedient, patient, prejudiced either (ḥusnu ẓan), and willing to sacrifice. From here it turns keperempuan nature not only possessed by women alone, but is owned by the Sufis men.   Abstrak: Artikel ini akan mengeksplorasi pemikiran Annemarie Schimmel yang berkaitan dengan aspek feminisme (keperempuan)  dalam tasawuf.  Dalam pandangan Schimmel, bahwa tasawuf atau mistik Islam merupakan kesadaran terhadap kenyataan tunggal dan cinta  Yang Mutlak, sebab kekuatan yang memisahkan antara mistik sejati dengan hanya sekedar tapa brata (asceticism) adalah cinta. Bahkan cinta sejati dapat menjadikan kenikmatan terhadap segala yang menyakitkan. Mistik dianggap sebagai hal yang misterius yang tidak dapat dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual. Sedangkan literature dan kehidupan rohaninya sulit digambarkan sebagaimana orang buta yang menyentuh gajah, dalam pengambaraannya akan mengatakan sesuai dengan bagian tubuh gajah yang disentuhnya. Sedangkan sifat keperempuan (feminin) dalam tasawuf telah terungkap sebagaimana mengungkap unsur-unsur kewanitaan yang ada dalam tasawuf itu sendiri, seperti memiliki cinta, kasih sayang, taat, sabar, berprasangka baik (ḥusnu ẓan), dan rela berkorban. Dari sini ternyata sifat keperempuan tidak hanya dimiliki oleh perempuan saja, tetapi dimiliki oleh para sufi laki-laki.

Page 1 of 1 | Total Record : 6