cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM " : 18 Documents clear
LOGIKA WUJUD SADRA MERETAS NALAR RADIKALISME BERAGAMA Ulya, Ulya
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.934

Abstract

Abstract: Ṣadra was a philosopher whose thought remains unique. Its uniqueness lies in his ability to articulate the various traditions of thoughts that grew and developed rapidly in Persia, the land of his birth. The traditions were peripatetic, illuminative, gnostic, and theological tradition of Islam. It has necessitated Persia as a heterogeneous region. This heterogeneity, to some extent, can susceptibly bring conflict i.e., physical violence from hurting to even casting innocent human life.  Indeed, the thought of Ṣadra was born within the era of a deep reflection process responding to the socio-cultural sphere. Also, it answered the issues that emerged at that time i.e., how the heterogeneous condition did not lead to intolerance, violence, and even acts of terror, instead created a safe, peace, and harmonious atmosphere. By his thought, Ṣadra did something very valuable to solve the problems in the country. Sadra’s thought is built up by and inherent with his basic idea, fundamental and logical structure of transcendence which are relevant to be socialized in a plural and heterogeneous society in which  conflict and violence are vulnerable. Socialization of logica structure is relevant for attitudes and behaviors of people since they  do not appear suddenly, yet are formed due to reason or logic or way of thinking. Thus, the study of the classical intellectual treasures potentially provides a meaningful contribution to be a basic solution for similar problems existing in nowadays.Abstrak: Sadra adalah seorang filosof yang produk pemikirannya tergolong unik. Keunikannya terletak pada kepiawaiannya mendialogkan antar berbagai tradisi pemikiran yang tumbuh dan berkembang pesat di Persia, tanah kelahirannya. Tradisi pemikiran dimaksud adalah tradisi paripatetik, tradisi illuminatif, tradisi gnosis, dan tradisi teologi Islam. Hal ini telah meniscayakan Persia menjadi sebuah wilayah yang heterogen. Heterogenitas rentan memunculkan konflik sampai aksi kekerasan fisik yang seringkali melukai, bahkan melayangkan jiwa manusia tak berdosa.   Sesungguhnya pemikiran Sadra lahir sebagai anak zaman dari sebuah proses refleksi mendalam, merespon kondisi sosial-kultural, menjawab persoalan yang berkembang saat itu: bagaimana agar sebuah kondisi yang heterogen tidak melahirkan intoleransi, kekerasan, bahkan aksi-aksi teror, tetapi justru tercipta suasana aman, damai, dan harmonis. Dari pemikiran wujudnya, Sadra melakukan sesuatu yang sangat berharga di negerinya dalam rangka memecahkan persoalan tersebut. Dalam pemikiran wujudnya ini terbangun dan inheren di dalamnya ide dasar, struktur fundamental, struktur logika transendensi yang relevan untuk disosialisasikan dalam masyarakat berbasis plural dan heterogen yang rentan konflik dan kekerasan tersebut. Sosialisasi struktur logika tersebut relevan karena sikap dan perilaku seseorang tidaklah muncul secara tiba-tiba tetapi terbentuk berkat nalar atau logika atau cara berpikir yang dimilikinya. Dari sini maka kajian terhadap khasanah intelektual masa lalu berpeluang bermakna dan bisa memberikan kontribusinya bagi dasar solusi permasalahan senada yang ada pada saat sekarang ini.
URGENSI FILSAFAT DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT KONTEMPORER: Tinjauan Filsafat Islam terhadap Fungsi Moral dan Agama Yusuf, Himyari
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.926

Abstract

Abstract: This study reveals the function of morality and religion, especially for today's contemporary society. In fact, moral and religious issues are intimately related to human life in today's global era which has experiences a change or shift of meaning and function. Truthfully, the function of morality and religion in contemporary society barely possesses any value. Morality is noticeably a classic problem that hinders the freedom of human life, as well as religion is considerably an individual issue and another world issue (hereafter). Therefore, the focus of this study is the nature and function of morality and religion for the contemporary society, and the relationship of man, morality, and religion (Islam). Through answering the various issues above, this study uses a philosophical approach (philosophy as a method). The use aims to wholly, radically, and rationally understand what the nature and function of morality and religion for human life or for the contemporary society to the point that the understanding reaches its essential and fundamental meaning. Those issues are principally related to human and humanity. The moral and religious dimensions have been fused with the existence and essence of human life. Religion (Islam) is in accordance with the nature of humanity, and it contains the values of morality. Thus, philosophically, it implies that man, morality, and religion (Islam) is one species, and they cannot be separated. Consequently, morality and religion (Islam) should be implemented in a whole series of human life in the contemporary and global age like nowadays. Abstrak: Pengkajian ini menampilkan persoalan fungsi moralitas dan agama, khususnya bagi masyarakat kontemporer dewasa ini. Secara faktual persoalan moral dan agama adalah persoalan yang terkait dengan kehidupan manusia yang pada era global sekarang ini telah mengalami perubahan atau pergeseran pemaknaan dan fungsi. Secara faktual fungsi moralitas dan agama pada masya¬rakat kontemporer nyaris tidak memiliki nilai apa-apa. Moralitas dianggap persoalan klasik yang menghambat kebebasan hidup manusia, demikian pula agama hanya dianggap sebagai persoalan individu dan persoalan dunia lain (akhirat). Oleh karena itu yang menjadi pokok kajian dalam tulisan ini adalah apa hakikat dan fungsi moralitas dan agama bagi kehidupan masyarakat kontem¬porer, dan bagaimana korelasi manusia, moralitas, dan agama (Islam). Menjawab berbagai pokok persoalan di atas, dalam kajian ini akan menggunakan pendekatan filsafat (filsafat sebagai metode). Penggunakan pendekatan filsafat, dimaksudkan agar apa yang menjadi hakikat dan fungsi moralitas dan agama bagi kehidupan manusia atau bagi masyarakat kontemporer dapat pahami secara menyeluruh, mendasar (radikal), dan rasional, sehingga sampai pada hakikatnya yang paling hakiki dan mendasar. Persoalan hakikat dan fungsi moralitas dan agama, sesungguhnya merupakan persoalan yang terkait dengan manusia dan kemanusiaan. Dimensi moralitas dan agama sejatinya telah menyatu dengan eksistensi dan esensi manusia sendiri. Agama (Islam) sesuai dengan fitrah kemanusiaan, dan di dalamnya terkandung nilai-nilai moralitas. Dengan demikian secara filosofis dapat dikatakan bahwa manusia, moralitas, dan agama (Islam) merupakan satu spesies, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu moralitas dan agama (Islam) harus diimplentasikan dalam seluruh rangkaian kehidupan umat manusia pada era kontemporer dan globalisasi dewasa ini.
MASHSHA’IYAH: MAZHAB AWAL FILSAFAT ISLAM Bakti, Hasan
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.919

Abstract

Abstract: The development of Islam in the golden age was certainly spotted by philosophy (i.e. islamic philosophy), besides having been marked by political and economic progress as well as the advance of sciences in all fields. The advance of Islamic philosophy was marked by the emergence of various thoughts called as schools of Islamic philosophy, like Masysya'iyah (Peripatesism), Isyraqiyyah (Illuminasionism), and 'Irfaniyyah (Gnosticism). The Peripatic school is distinctly characterized by its argumentative and rational emphasis, and its use of Aristotelian logic through a reliable verification. This more applicable method has accordingly made the school get more support, from either its quantity or quality, than other two schools, i.e. Isyraqiyyah and ‘Irfaniyah/Gnosticism. Abstrak: Perkembangan Islam pada zaman keemasan, selain ditandai dengan kemajuan politik dan ekonomi, juga ditandai dengan perkembangan ilmu pe¬ngetahuan dalam semua bidang, termasuk dalam bidang filsafat Islam. Kemajuan filsafat Islam ini ditandai dengan bermunculan berbagai corak pemikiran yang juga disebut dengan mazhab filsafat Islam, seperti Mashsha’iyah (Peripatesisme), Isyrāqiyyah (Illuminasionisme), dan ‘Irfāniyyah (Gnosisme). Ciri khas mazhab peripatesis ialah semangatnya yang rasional argumentatif, menggunakan logika Aristoteles dengan pembuktian yang teruji dan rasional. Cara kerja yang lebih aplikatif ini membuat mazhab peripatesis lebih mendapat dukungan yang lebih banyak secara kuantitas dan kualitas dibanding dua mazhab lainnya, yaitu Isyrāqiyyah dan Gnosisme.
KONVERGENSI AGAMA DAN SAINS DALAM MELACAK BASIS ONTOLOGI SEMESTA: Tinjauan Hermeneutika Hadis Penciptaan Umar, Mustofa
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.925

Abstract

Abstract: The main purpose of this article (research) is to provide the unity of coherent conceptual frameworks between religion and science on the discourse about the origins of the universe. Contemporary cosmological theories reveal the continuing encounter between physics and theology (religion). The concepts of modern physics show surprising parallels to the ideas expressed in the religious philosophies that the basic features of their worldview are the same. Mystical traditions are present in all religions and they also can be found in the theory of modern physics on the holistic conception of reality. It obviously indicates a new “paradigm”— a new vision of reality. By the “antinomic” principles of light, both religion and science, ontologically, can trace the beginning of the universe, and also unveil the deepest secrets of the laws of physics. Light as the basic ontology of reality in the hadith texts has been used by muslem theosophists (sufi) to formulate their theories of the universe creation, especially, in the sufism of Ibn Arabi. His cosmological concepts are essentially similar to the scientific conceptions of cosmology and completely in accordance with the laws of physics in the very heart of the cosmos itself. At the moment, the integration of religion and science has arrived at the same holistic conception of reality. As the pillar of civilization, both are expected to go hand in hand and form a powerful force for social change in the new conceptual frameworks for ways of life, thought, and consciousness. Abstrak: Tujuan utama dari artikel (riset) ini adalah untuk membuktikan terdapatnya kesatuan kerangka konseptual yang koheren antara agama dan sains tentang persoalan muasal alam semesta. Teori-teori kosmologi modern menunjukkan adanya titik temu yang berkelanjutan antara sains dan teologi (agama). Konsep-konsep fisika modern memperlihatkan kesejajaran yang menakjubkan terhadap ide-ide yang diungkapkan dalam filsafat agama, yaitu ciri-ciri dasar pandangan mereka yang sama. Tradisi-tradisi mistik yang terdapat dalam agama, juga dapat dijumpai dalam teori fisika modern tentang konsep realitas yang holistik. Ini dapat disebut sebagai paradigm baru-visi baru terhadap realitas. Melalui prinsip “antinomi” cahaya, secara ontologis, agama dan sains keduanya dapat melacak permulaan semesta, juga dapat membuka selubung terdalam dari rahasia hukum alam (sunnatullāh). Cahaya sebagai basis ontology realitas yang terdapat dalam teks-teks hadis, telah digunakan oleh para sufi untuk menformulasikan teori-teori mereka tentang penciptaan semesta, khususnya Ibn Arabi. Secara esensial, konsep kosmologi Ibn Arabi memiliki kemiripan dengan konsepsi dalam sains dan secara sempurna sesuai dengan hukum alam pada aspek yang paling dalam dari kosmos itu sendiri. Saat ini, intregrasi agama dan sains sudah sampai pada kesamaan konsepsi tentang realitas secara holistik. Sebagai pular peradaban, keduanya diharapkan dapat berjalan beriringan dan membentuk sebuah kekuatan penuh bagi perubahan sosial dalam bingkai keonseptual baru terhadap pandangan hidup, pemikiran dan kesadaran.
NEGARA ADIL MAKMUR DALAM PERSPEKTIF FOUNDING FATHERS NEGARA INDONESIA DAN FILOSOF MUSLIM Khalik, Abu Tholib
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.920

Abstract

Abstract: This article elaborates on the concept of a fair and prosperous among the Indonesian founding fathers with the Muslim philosophers. Basic concepts of the founding fathers is Pancasila in which there is the word ‘fair’. The word ‘fair’ is also a very serious discussion among Muslim philosophers. The Muslim philosophers underlined that fair is one of the basics of leadership exemplified by the Prophet Muhammad while leading the people of Madina multi-ethnic and multi-religious, and this of course is relevant to the context of Indonesia's multi-religious, multi-ethnic and multi-class. For founding fathers, desire to create a fair society and a prosperous lofty ideals and key for the Indonesian nation. Therefore, they feel how much suffering people of Indonesia as a nation occupied by foreign interchangeably. In the occupation of Indonesia was treated unfairly, and natural wealth confiscated. This goal was already thought by the Muslim philosophers. Therefore, in comparing the two is where the significance of the concept of a just and prosperous one. Abstrak: Artikel ini akan mengelaborasi konsep negara adil dan makmur antara founding fathers (Para Pendiri Bangsa) Indonesia dengan para para filosof Muslim. Asas konsep founding fathers adalah Pancasila yang di dalamnya terdapat kata adil. Kata adil juga menjadi pembahasan yang sangat serius di kalangan filosof Muslim. Para filosof Muslim menggarisbawahi bahwa adil merupakan salah satu asas kepemimpinan yang diteladankan oleh Nabi Muhammad saat memimpin masyarakat Madinah yang multi-agama, dan ini tentu saja relevan dengan konteks Indonesia yang multiagama, multi-etnik, dan multi-golongan. Bagi founding fathers, keinginan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur merupakan cita-cita luhur dan utama bagi bangsa Indonesia. Sebab, mereka merasakan betapa menderitanya bangsa Indonesia ketika dijajah oleh bangsa asing yang silih berganti. Dalam penjajahan itu bangsa Indonesia diperlakukan tidak adil, dan kekayaan alam dirampas. Keinginan seperti ini ternyata sudah pula menjadi pemikiran para filosof Muslim. Karena itu, di sinilah signifikansi membandingkan kedua konsep adil dan makmur tersebut.
GAP ANTARA DAS SOLLEN DAN DAS SEIN ILMU-ILMU KEAGAMAAN ISLAM: Perspektif Filsafat Ilmu Suyono, Yusuf
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.933

Abstract

Abstract: Since the Muslim Reformers launched the campaign of calling to return the glory of Islam back to Muslim people like what had been reached in classic era, the call came into nothing. The backwardness, ruin, and destruction in all aspects of life in Middle era could not have been completely overcome. The scientifical sphere which is hoped to be real means to reach the glory and get rid of these destructions,does not work as what has been hoped. Accordingly, nothing of what was mentioned by Thomas S. Kuhn as Shifting Paradigm happens, because the scientifical anomalies could not be overcome and in turn the crisis accumulates that lead to no scientifical revolution. In this case, Islamic sciences in general and Islamic religious sciences in particular do not develop. The religious sciences taught in Islamic University nowadays are those taught in classic era. The slogan of modern Islam “ the door of Ijtihad must be open ” changes that of middle era “ The door of Ijtihad must closed ” really be campaigned, but has no longer effect. Consequently, Islamic religious sciences have no relevance to their users. They taste very heavenly not worldly. That is what the writer means as the gap in Islamic sciences. Abstrak: Sejak para pemabaharu Muslim di abad 19 M mendengungkan ajakan untuk mengembalikan kejayaan Islam sebagaimana yang telah dicapai di era klasik, ajakan itu seperti belum menghasilkan apa yang diharapkan. Ke¬terpuruk¬an, keterbelakangan di berbagai bidang yang mereka sejak era pertengahan belum bisa sepenuhnya teratasi. Bidang keilmuan yang mestinya menjadi lokomotif dan garda depan untuk menggapai kejayaan yang bisa mengusir keterpurukan dan keterbelakangan tersebut, juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pada gilirannya, tidak terjadi apa yang disebut oleh Thomas S. Kuhn sebagai Shifting Paradigm, karena anomali-anomali yang di dalamnya tidak bisa diatasi sehingga krisis menumpuk namun tidak terjadi revolusi ilmiah. Secara demikian rupa, sehingga ilmu-ilmu keislaman terutama ilmu agama menjadi mandeg. Ilmu-ilmu agama yang diajarkan di Perguruan Tinggi Agama Islam adalah juga masih yang digagas para pendahulu di era klasik. Semboyan era modern “ Pintu Ijtihad harus dibuka “ menggantikan semboyan era pertengahan “ Pintu Ijtihad Tertutup “ memang sudah dicanangkan, namun nuansanya Pintu Ijtihad itu masih terus tertutup. Akibatnya, ilmu-ilmu agama Islam seperti putus relevansi dengan masyarakat penggunanya. Ilmu-ilmu agama terasa melangit, padahal penggunanya ada di bumi. Itulah yang dimaksud dengan gap dalam ilmu-ilmu Islam.
LIBERASI TEOLOGI DI IRAN PASCA-REVOLUSI: Telisik Pemikiran Abdul Karim Soroush Purnama, Fahmy Farid
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.923

Abstract

Abstract: This paper will discuss the identity struggle and discourse of thought in the Islamic world, especially in the Islamic civilization and culture of Iran. That is, by trying to explain various religio-philosophical discourse presented by Soroush to restore Iranian civilization from an identity crisis, psychological deterioration, to the ontological dislocation that have obscured the authenticity of existential society. This paper will also explain why Soroush calls for new directions in theology and Islamic political discourse, particularly in Iran, which is supported by various philosophical discourse. By involving the philosophy of science (epistemology) in understanding human religiosity, Soroush philo­sophical thought also necessitates a new perspective of looking at reality, both the reality of individual, social, or global.Abstrak: Tulisan ini akan mengurai pergulatan identitas dan wacana pemikiran di dunia Islam, khususnya di kancah peradaban dan kebudayaan Iran. Yaitu de­ngan berusaha menjelaskan pelbagai wacana filsafat-keagamaan yang di­ketengah­kan Soroush untuk memulihkan peradaban Iran dari krisis identitas, keterpurukan psikologis, hingga dislokasi ontologis yang telah mengaburkan otentisitas eksistensial masyarakatnya. Tulisan ini juga akan menjelaskan mengapa Soroush menghendaki adanya arah baru dalam diskursus teologi dan politik Islam, khususnya di Iran, yang ditopang oleh pelbagai wacana filosofis. Dengan melibatkan filsafat ilmu (epistemologi) dalam memahami religiusitas manusia, pembacaan Soroush juga meniscayakan suatu perspektif baru dalam memandang realitas, baik realitas individual, sosial, maupun global.
KOMODIFIKASI BUDAYA DI ERA EKONOMI GLOBAL TERHADAP KEARIFAN LOKAL: Studi Kasus Eksistensi Industri Pariwisata dan Kesenian Tradisional di Jawa Tengah Irianto, Agus Maladi
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.935

Abstract

Abstract: The culture commodification is the sale-purchase transaction of cultural objects through industrial process that was born along with the globalization era. The tourism industry is the child of globalization that produce cultural objects to be traded for the financial benefit. One form of the commodification cultural objects in the globalization era is the traditional arts. The problem is how the strategy needs to be developed so that the traditional arts as the subject of its supporting society's local wisdom is remain protected, but on the other hand it is expected to accomodate the demand of economic globalization that has conducted the culture commodification? With the aim to synergize the presence of traditional arts as the cultural identity of its supporting society and the tourism industry demands that conduct culture commo¬dification, then through a field research using qualitative method, it resulted the following description. First, the culture commo¬dification becomes a necessity in the global economy era that evolve in this era of postmodernity, especially it's marked by the growing of the tourism industry. Second, the culture commo¬dification to the local wisdom can basically be solved by several strategies without marginalizing the supporting society of the local wisdom. Third, the existence of traditional arts as a cultural identity can be protected and revitalized from the demands of the culture commodification, as long as it is also developing a concept that is able to synergize the perception and responses of the supporting society to the demands of the tourism industry. Fourth, one of the most relevant concepts to accommodate the demands of the culture com¬modification is a concept that is commonly referred as the pseudo traditional art. Abstrak: Komodifikasi budaya adalah transaksi jual beli benda budaya melalui proses industri yang lahir seiring dengan era globalisasi. Industri pariwisata adalah anak kandung globalisasi yang memproduksi benda budaya untuk diperjualbelikan demi keuntungan secara finansial. Salah satu bentuk benda budaya yang dikomodifikasi di era globalisasi adalah kesenian tradisional. Permasalahannya adalah, bagaimana strategi yang perlu dikembangkan agar kesenian tradisional sebagai subjek kearifan lokal masyarakat pendukungnya tetap telindungi, tetapi di sisi lain ia diharapkan bisa mengakomodasi tuntutan globalisasi ekonomi yang telah melakukan komodifikasi budaya? Dengan tujuan untuk mensinergikan antara keberadaan kesenian tradisional sebagai identitas kultural masyarakat pendukung dan tuntutan industri pariwisata yang melakukan komodifikasi budaya, maka melalui penelitian lapangan yang menggunakan metode kualitatif telah menghasilkan gambaran sebagai berikut. Pertama, komodifikasi budaya menjadi keniscayaan di era ekonomi global yang berkembang di era pascamodernitas ini, terutama ditandai dengan kian berkembangnya industri pariwisata. Kedua, komodifikasi budaya terhadap kearifan lokal pada dasarnya dapat dipecahkan dengan sejumlah strategi tanpa harus memarjinalkan masyarakat pendukung kearifan lokal tersebut. Ketiga, keberadaan kesenian tradisional sebagai identitas kultural dapat terlindungi dan direvitalisasi dari tuntutan komodifikasi budaya, sepanjang dikembangkan suatu konsep yang mampu mensinergikan antara persepsi dan respons masyarakat pendukung dengan tuntutan industri pariwisata. Keempat, salah satu konsep yang paling relevan untuk mengakomodasi tuntutan komodifikasi budaya adalah konsep yang lazim disebut sebagai psedo traditional art.
PENYERAPAN DAN MOTIVASI UMAT ISLAM MENGEMBANGKAN FILSAFAT Mufid, Fathul
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.921

Abstract

Abstract: A touch of Hellenistic culture on Muslims was apparent in the first Umayyah caliph era, Mu'a>wiyah ibn Abi Sufya>n (41-60 H), who was kind to officially appoint high officers and his personal physician of the Roman scientists. At that very moment, the translation of books from Greco-Roman to Arabic had not been done, but the absorption of Greco-Roman culture was done by regular interaction or everyday conversation (social interaction). The aim of the paper is to track when the absorption of the Muslims started concerning on the Greco-Roman philosophy, because there is information that they, in first century of Hijriyah, had started copying Greek books into Arabic. According to historical data, at the time of the Umayah, the Caliph Kha>lid ibn Yazi>d had ordered a Greek scientist who lived in Alexandria to translate the Organon of Aristotle from Greek into Arabic. This paper is a literary study that particularly discusses the absorption process and the motivation of Muslims in developing a philosophy imported from the Greco-Roman, and some part of the world in general. Abstrak: Sentuhan budaya hellenistik pada umat Islam sebenarnya sudah nampak signalnya pada perilaku khalifah pertama Bani Umayyah, Mu’āwiyah ibn Abī Sufyān (41-60 H), yang dengan penuh toleran mengangkat pejabat tinggi dan dokter pribadinya dari ilmuan Romawi. Pada waktu itu memang kegiatan penerjemahan buku-buku Yunani-Romawi ke dalam bahasa Arab belum dilakukan, tetapi penyerapan budaya Yunani-Romawi dilakukan dengan jalan pergaulan biasa atau percakapan sehari-hari (interaksi sosial). Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melacak sejak kapan penyerapan kaum Muslimin terhadap filsafat Yunani-Romawi, sebab ada informasi bahwa mereka sejak abad pertama Hijriyah telah memulai menyalin buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Menurut data sejarah, pada zaman Bani Umayyah, yaitu Khalifah Khālid ibn Yazī d telah memerintahkan seorang ilmuan Yunani yang berdomisili di Iskandariyah untuk menerjemahkan buku Organon karya Aristoteles dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Tulisan ini merupakan kajian literer yang membahas tentang proses penyerapan dan motivasi umat Islam mengembangkan filsafat yang diimport dari Yunani-Romawi khususnya, dan belahan dunia lain pada umumnya.
PENYERAPAN DAN MOTIVASI UMAT ISLAM MENGEMBANGKAN FILSAFAT Fathul Mufid
Jurnal Theologia Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.921

Abstract

Abstract: A touch of Hellenistic culture on Muslims was apparent in the first Umayyah caliph era, Mu'a>wiyah ibn Abi Sufya>n (41-60 H), who was kind to officially appoint high officers and his personal physician of the Roman scientists. At that very moment, the translation of books from Greco-Roman to Arabic had not been done, but the absorption of Greco-Roman culture was done by regular interaction or everyday conversation (social interaction). The aim of the paper is to track when the absorption of the Muslims started concerning on the Greco-Roman philosophy, because there is information that they, in first century of Hijriyah, had started copying Greek books into Arabic. According to historical data, at the time of the Umayah, the Caliph Kha>lid ibn Yazi>d had ordered a Greek scientist who lived in Alexandria to translate the Organon of Aristotle from Greek into Arabic. This paper is a literary study that particularly discusses the absorption process and the motivation of Muslims in developing a philosophy imported from the Greco-Roman, and some part of the world in general. Abstrak: Sentuhan budaya hellenistik pada umat Islam sebenarnya sudah nampak signalnya pada perilaku khalifah pertama Bani Umayyah, Mu’āwiyah ibn Abī Sufyān (41-60 H), yang dengan penuh toleran mengangkat pejabat tinggi dan dokter pribadinya dari ilmuan Romawi. Pada waktu itu memang kegiatan penerjemahan buku-buku Yunani-Romawi ke dalam bahasa Arab belum dilakukan, tetapi penyerapan budaya Yunani-Romawi dilakukan dengan jalan pergaulan biasa atau percakapan sehari-hari (interaksi sosial). Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melacak sejak kapan penyerapan kaum Muslimin terhadap filsafat Yunani-Romawi, sebab ada informasi bahwa mereka sejak abad pertama Hijriyah telah memulai menyalin buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Menurut data sejarah, pada zaman Bani Umayyah, yaitu Khalifah Khālid ibn Yazī d telah memerintahkan seorang ilmuan Yunani yang berdomisili di Iskandariyah untuk menerjemahkan buku Organon karya Aristoteles dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Tulisan ini merupakan kajian literer yang membahas tentang proses penyerapan dan motivasi umat Islam mengembangkan filsafat yang diimport dari Yunani-Romawi khususnya, dan belahan dunia lain pada umumnya.

Page 1 of 2 | Total Record : 18