cover
Contact Name
Aditya Mahatidanar Hidayat
Contact Email
adityamahatidanar@gmail.com
Phone
+6281379843467
Journal Mail Official
tekniksipil@ubl.ac.id
Editorial Address
Jl. Z.A. Pagar Alam No 26, Labuhan Ratu, Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 20872860     EISSN : 27456110     DOI : http://dx.doi.org/10.36448/jts.v14i1
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil ini memberikan para peneliti dan praktisi di bidang teknik struktural dan sipil dengan forum unik untuk menyebarkan ide dan teknik baru dengan dampak potensial yang signifikan. Jurnal Teknik Sipil mengundang pengajuan makalah asli, empiris, dan teoretis serta studi kasus dan resensi buku yang mencakup berbagai bidang Teknik Sipil yang terdaftar (namun tidak terbatas pada) sebagai berikut: 1. Konstruksi dan Bahan Bangunan 2. Rekayasa Struktur dan Gempa 3. Mekanika Batuan dan Rekayasa Geoteknik 4. Teknik Lingkungan 5. Ilmu dan Teknik Air 6. Rekayasa Transportasi 7. Teknik Kelautan dan Kelautan
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2012): Oktober" : 7 Documents clear
Studi Daya Dukung Tanah Lempung Plastisitas Rendah Yang Distabilisasi Menggunakan TX-300 Sebagai Lapisan Subgrade Erwan Syafri; Muhammad Jafri; Lusmeilia Afriani
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2012): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.263 KB) | DOI: 10.36448/jts.v3i2.277

Abstract

Soil is a material that serves as an support for the basis of a constuction, be it construction of buildings, bridges and roads. Each region has different soil characteristics in other regions, there is good and has a bearing capacity of those that are poor. To improve the soil characteristics that can lead to por bearing capacity, the necessary repairs to soil stabilization methods. Stabilization efforts are often undertaken by stabilizing additives. In this research using a chemical additive material that is TX-300, which is expected to improve the characteristics of the soil so the soil is worthy of a construction established. Soil samples that tested in this research is the low plasticity clay are derived from Karang Anyar, South Lampung. Variation levels used ia a mixture of 0,8 ml; 1,1 ml; 1,4 ml and 1,7 ml with the same curing time for 7 days and soaking for 4 days. Based on the examination of the physical properties of original soil, AASHTO classify soil samples in group A-6 (clay soil), while the USCS soil samples classify as fine-grained soil and included into the CL group. The results of laboratory research showed that the stabilizing agent TX-300 can improve the physical and mechanical properties of low plasticity clay. On physical testing such as decreased specific gravity and atterberg limits increase after stabilized. While the mechanical testing, a mixture of TX-300 can increase the bearing capacity of the land. From the test results of CBR soaked or unsoaked, soil stabilized with a stabilizing agent TX-300 at optimum levels can be used as a subgrade for road construction due to CBR value = 6 %Tanah merupakan material yang berfungsi sebagai penyokong dasar suatu konstruksi, baik itu konstruksi gedung, jembatan maupun jalan. Setiap daerah memiliki sifat tanah yang berbeda dengan daerah lainnya, ada yang mempunyai daya dukung baik dan adapula yang buruk. Untuk memperbaiki sifat tanah yang dapat mengakibatkan daya dukung menjadi buruk, maka diperlukan perbaikan tanah dengan metode stabilisasi. Usaha stabilisasi yang banyak dilakukan adalah stabilisasi dengan bahan tambahan. Pada penelitian ini menggunakan bahan additif kimia yaitu TX-300 yang diharapkan mampu memperbaiki sifat tanah sehingga pada lapisan tanah tersebut layak didirikan suatu konstruksi. Sampel tanah yang di uji pada penelitian ini yaitu tanah lempung plastisitas rendah yang berasal dari daerah Karang Anyar, Lampung Selatan. Variasi kadar campuran yang digunakan yaitu 0,8 ml; 1,1 ml; 1,4 ml dan 1,7 ml; dengan dilakukan waktu pemeraman yang sama selama 7 hari dan perendaman selama 4 hari. Berdasarkan pemeriksaan sifat fisik tanah asli, AASHTO mengklasifikasikan sampel tanah pada kelompok A-6 (tanah berlempung),sedangkan USCS mengklasifikasikan sampel tanah sebagai tanah berbutir halus dan termasuk kedalam kelompok CL. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa bahan stabilisasi TX-300 dapat memperbaiki sifat fisik dan mekanik tanah lempung plastisitas rendah. Pada pengujian fisik seperti berat jenis mengalami penurunan dan batas-batas Atterberg mengalami kenaikan setelah distabilisasi. Sementara pada pengujian mekanik, campuran TX-300 dapat meningkatkan daya dukung tanah tersebut. Dari hasil pengujian CBR rendaman atau tanpa rendaman, tanah yang distabilisasi dengan bahan stabilisasi TX-300 pada kadar optimum dapat digunakan sebagai tanah dasar pada konstruksi jalan dikarenakan nilai CBRnya = 6 %.
Penerapan Standar Pelayanan Transjakarta Busway Ditinjau Dari Pengoperasian Dan Karakteristik Penumpang Rahayu Sulistyorini
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2012): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.103 KB) | DOI: 10.36448/jts.v3i2.282

Abstract

Congestion in Indonesias capital Jakarta in particular can not be avoided, especially at the intersection points either on the streets of the protocol to the road environment. The purpose of this study the standard implementation of community service for public transport Busway is to identify the aspects related to the service standards for public transport Busway, providing recommendations and improvements to the way in community service standards for public transport Busway. Data obtained from the survey questionnaires directly to the 100 respondents were randomly dipadat. Operation of public transit planning process usually involves four basic activities that constitute a continuum: (1) route network design, (2) development of scheduling, (3) scheduling of vehicles, and (4) scheduling employees (Ceder and Wilson, 1986; Ceder, 2001 , 2002). The survey conducted in this study was the passenger interviews, surveys up and down the passengers to count the number of passengers in the bus, passenger travel time surveys, survey and calculation of headway, and stop busway facility survey and survey respondents to instansi.Persepsi relatively good levels of organizational performance , but the respondents perception of the level of service quality quite poor.Kemacetan di Indonesia khususnya ibukota DKI Jakarta tidak dapat dihindari, terutama pada titik-titik persimpangan baik di jalan-jalan protokol hingga di jalan lingkungan. Tujuan dari kajian penerapan standar pelayanan masyarakat untuk transportasi umum Busway ini adalah mengidentifikasi aspek-aspek yang berkaitan dengan standar pelayanan masyarakat untuk transportasi umum Busway, memberikan rekomendasi upaya penanganan dan perbaikan terhadap standar pelayanan masyarakat untuk transportasi umum Busway. Data diperoleh dari survey secara langsung dengan kuesioner terhadap 100 orang responden yang dipadat secara acak. Proses perencanaan pengoperasian angkutan umum biasanya meliputi empat kegiatan dasar yang merupakan suatu rangkaian : (1)Desain jaringan rute, (2) pengembangan penjadwalan, (3) penjadwalan kendaraan, dan (4) penjadwalan pegawai (Ceder and Wilson, 1986; Ceder, 2001, 2002). Survei yang dilakukan dalam studi ini adalah wawancara penumpang, survey naik dan turun penumpang untuk menghitung jumlah penumpang dalam bus, survey waktu perjalanan penumpang, survey dan perhitungan headway, survey fasilitas busway dan halte serta survey ke instansi.Persepsi responden terhadap tingkat kinerja organisasi tergolong baik, namun persepsi responden terhadap tingkat kualitas pelayanan tergolong kurang baik.
Analisis Pengaruh "SPEED HUMPS" Terhadap Karakteristik Lalulintas A. Ikhsan Karim
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2012): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1036.55 KB) | DOI: 10.36448/jts.v3i2.278

Abstract

Perkembangan teknologi kendaraan bermotor yang semakin pesat menyebabkan kecepatan kendaraan semakin bertambah. Hal tersebut disamping memberikan keuntungan bagi pengguna kendaraan berupa waktu tempuh yang semakin singkat juga dapat menimbulkan kerugian dengan sering terjadinya kecelakaan akibat kecerobohan pengemudi baik roda dua ataupun roda empat, khususnya jika melewati jalan-jalan di lingkungan pemukiman yang padat penduduk. Di lingkungan pemukiman yang padat penduduk, anak-anak sering bermain di jalan akibat terbatasnya fasilitas umum yang tersedia. Hal tersebut tentu saja sangat membahayakan keselamatan jiwa mereka jika ada kendaraan yang lewat. Untuk mengatasi hal tersebut warga di sekitar pemukiman biasanya memasang speed humps (alat pembatas kecepatan) dengan bentuk dan ukuran yang beragam dengan maksud untuk menurunkan kecepatan kendaraan yang melintas, melindungi pejalan kaki ataupun anak-anak yang sedang bermain di lingkungan tersebut. Penelitian ini menganalisis Speed Humps terhadap kecepatan yang meliputi pengaruh pemasangan speed humps terhadap penurunan kecepatan; mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan kendaraan pada area speed humps.serta karakteristik yang mempengaruhi kendaraan ketika melintasi daerah speed humps. Kecepatan kendaraan sebelum di speed humps berbeda dengan kecepatan kendaraan pada saat melintas di speed humps, hal ini menunjukkan bahwa keberadaan speed humps secara nyata mampu untuk menurunkan kecepatan kendaraan. Hubungan Kecepatan dan Kepadatan diperoleh persamaan linier, sebelum speed humps adalah Y = 20,032491 - 1,1123 X dengan koeffisien korelasi sebesar 0,958431; saat melintas adalah Y = 16,377346 - 0,718344 X dengan koeffisien korelasi sebesar 0,98294 , sedangkan setelah melintas adalah Y = 27,690623 - 1,643643X dengan koeffisien korelasi sebesar 0,991433. Hubungan Kecepatan dan Aliran lalu lintas mempunyai persamaan sebelum speed humps adalah f=((20,03249 v-v^2))/1,11241 ; saat melintas adalah f=((16,377346 v-v^2))/(-0,718344), sedangkan setelah melintas adalah f=((27,690623 v-v^2))/(-1,643643). Hubungan Kepadatan dan Aliran lalu lintas mempunyai persamaan sebelum speed humps adalah f = 20,03249 d - 1,1123 d2 ; saat melintas adalah f = 16,377346 d - 0,718344 d2, sedangkan setelah melintas adalah f = 27,690623 d - 1,643643 d2
Daktilitas Kolom Yang Diperkuat Dengan CFRP Vega Agustriana Noorhidana; Eddy Purwanto
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2012): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.079 KB) | DOI: 10.36448/jts.v3i2.283

Abstract

Aspek penting dalam perkuatan kolom bukan hanya dilihat dari kontribusi perkuatan terhadap peningkatan kapasitas kolom dalam menahan beban, tetapi juga perilaku struktur yang dihasilkan oleh perkuatan tersebut, terutama dalam hal daktilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perkuatan Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) terhadap beban maksimum dan daktilitas kolom akibat beban aksial konsentris, yang dilakukan secara eksperimental. Benda uji terdiri dari kolom tanpa perkuatan (kode: K-0), kolom dengan perkuatan CFRP 5 strip (kode: K-5), dan kolom dengan perkuatan CFRP 7 strip (kode: K-7). CFRP dipasang melingkar pada kolom dengan lebar setiap strip adalah 50mm. Dimensi kolom 150mm x 150mm dengan tinggi 600mm. Kuat tekan beton 19,09 MPa, dengan mutu baja tulangan 240 MPa untuk 6 (sengkang) dan 10 (tulangan memanjang). Pengujian kolom dilakukan dengan memberikan beban tekan vertikal secara bertahap dari atas kolom sampai kolom mengalami keruntuhan. Selama pengujian dilakukan pengamatan terhadap defleksi lateral, perpendekan, dan regangan kolom. Hasil penelitian ini menunjukkan beban maksimum K-01, K-5, dan K-7 berturut-turut adalah 38 ton, 46 ton, dan 48 ton. Kolom K-7 memiliki perpendekan maksimum rerata terbesar yaitu 0,593 cm dan nilai daktilitas terbesar yaitu 23,475 toncm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penambahan CFRP mampu memberikan daktilitas dan kemampuan menyerap energi yang lebih besar pada kolom beton bertulang.An important aspect in the column strengthened is not only seen from strengthening contribution to the increase of the bearing capacity of the column, but also the behavior of the structure produced by the retrofitting, especially in terms of ductility. This study aimed to determine the effect of strengthening Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) on the maximum load and the ductility of the column due to concentric axial load, which was done experimentally. The specimens are consisted of columns without reinforcement (code: K-0), a column with 5 CFRP strips (code: K-5), and a column with 7 CFRP strips (code: K-7). The CFRP strips isimplemented on column with the width of strip is 50mm. The dimension of columns is 150mm x 150mm x 600mm. The concrete compressive strength is19.09 MPa, with yield stress of the steel reinforcement is 240 MPa. A vertical compressive load is applied to the center of columns gradually until collapse. During the test conducted observations of lateral deflection and shortening of columns, and strain of CFRP. The results indicate the maximum load K-01, K-5 and K-7 in a row is 38 tons, 46 tons and 48 tons. Column K-7 has the greatest mean maximum shortening of 0.593 cm and the greatest ductility value of 23.475 toncm. It can be concluded that the strengthening of CFRP provide ductility and ability to absorb greater energy on reinforced concrete columns
Prediksi Morfologi Dasar Sungai Akibat Variasi Tutupan Vegetasi Tebing Sungai Way Sekampung . Kastamto
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2012): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1365.253 KB) | DOI: 10.36448/jts.v3i2.279

Abstract

Perubahan tata guna lahan sangat berdampak pada degradasi fungsi hutan karena hutan merupakan salah satu komponen ekosistem yang berfungsi sebagai penyanggga kawasan di bawahnya yang dapat mempengaruhi perubahan debit banjir dan erosi lahan dalam kawasan DAS. Alih fungsi kawasan hutan menjadi pertanian, pemukiman maupun industri dapat mengakibatkan perubahan terhadap puncak debit dan tingginya tingkat erosi yang terjadi pada lahan.Vegetasi mempunyai peranan yang sangat besar dalam penekanan erosi tanah. Pada hutan rimba, hampir tidak terjadi erosi tanah dan kalaupun ada kehilangan tanah tidak jauh berbeda dengan kecepatan pembentukan tanah. Sebaliknya tanah yang tanpa vegetasi hampir selalu terjadi erosi dan kehilangan tanah jauh lebih besar daripada tanah yang terbentuk. Beberapa upaya penanggulangan erosi tebing sungai Way Sekampung dengan menggunakan struktur telah dilaksanakan yaitu dengan pemasangan bronjong dan pasangan batu kali, tetapi penelitian terhadap efektivitas penanggulangan banjir yang dilaksanakan belum ada. Dalam penelitian ini dilakukan perhitungan debit banjir rancangan, yaitu untuk kala ulang Q2, Q5, Q10, Q25, Q50, dan Q100 tahun, inventarisasi vegetasi tebing sungai, uji laboratorium data sedimen, pengukuran debit sesaat dengan menggunakan current meter dan uji pena erosi untuk mengetahui erosi tebing yang terjadi. Data-data tersebut kemudian disimulasikan bersama dengan data penampang sungai (long & cross) ke dalam sofware HEC RAS versi 4.0. Dalam penelitian ini dibagi dalam tiga skenario yaitu skenario 1 dengan tutupan vegetasi (0-30%), skenario 2 tutupan vegetasi (30-60% dan skenario 3 dengan tutupan vegetasi > 60%. Sedangkan untuk memudahkan dalam analisis hasil running HEC RAS 4.0 maka daerah penelitian dibagi menjadi tiga segmen yaitu segmen A yang mengalami erosi (degradasi), segmen B yang mengalami sedimentasi (agradasi) dan segmen C yang tidak mengalami perubahan elevasi dasar sungai. Pada masing-masing segmen di ambil 4 titik uji analisis yang mewakilinya. Berdasarkan hasil Running HEC RAS 4.0 pada skenario 1 tutupan vegetasi (0-30%) terlihat adanya perubahan dasar sungai jika dibandingkan dengan kondisi eksisting, sedangkan skenario 2 tutupan vegetasi (30-60%) hasilnya hampir sama dengan eksisting hanya pada titik tertentu terjadi variasi, sedangkan pada skenario 3 tutupan vegetasi (> 60%) perubahan elevasi dasar sungai lebih variatif jika dibandingkan dengan kondisi eksisting. Makin besar prosentase tutupan vegetasi tebing sungai maka perubahan morfologi dasar sungai akan semakin kecil. Hal ini disebabkan karena erosi yang terjadi pada tebing sungai lebih kecil. Perubahan tinggi elevasi dasar sungai (relatif) Way Sekampung berdasarkan hasil Running HEC RAS 4.0 pada masing-masing segmen dengan 4 titik uji setelah dirata-ratakan adalah untuk segmen A sebesar 0.36 m, segmen B sebesar 1.44 m dan segmen C sebesar 0.26 m.Land use change has an impact to degradation of forest function because the forest is one of ecosystem components as the buffer of the region below that could influence the flood discharge change and land erosion in the river DAS area. The switch of forest area function into farming, housing even industry could result in change of discharge peak and the erosion level height that could occure to the land. Vegetation has very big part in land erosion compression. In the jungle, almost there is no land erosion and if there is, the lost of the land is not so different between the velocity of land forming. On the contrary, theres almost always happen the land erosion in the land without vegetation and the lost of the land is bigger than the formed land. Some efforts in dealing with slope erosion of Way Sekampung are using the structur that have been done which are the concertina and stone installation, but the effectivity has not been researched. In this research, it has calculated of flood discharge design based on year period for Q2, Q5, Q10, Q50 and Q100 year, the river slope inventory, sediment laboratory test, measurement of in time discharge using current meter and pen erosion test to find out the slope erosion that occured. Those data will be simulated together with long & cross river section using HEC RAS version 4.0 software. This research divided by three scenarios, scenario 1 : vegetation cover 0-30%, scenario 2 : vegetation cover 30-60% and scenario 3 : vegetation cover > 60%. In order to ease the analysis of HEC RAS running result, so that the research area divided by three segments, which are segment A : has experienced erosion (degradation), segment B : has experienced sedimentation (agredation) and segment C : has no experience in river bed elevation change. Each segment was taken 4 test points that represent the experience. Based on the running result by HEC RAS 4.0 on scenario 1 : vegetation cover 0-30% showed the change of river bed compare to the existing condition, while the scenario 2 ; vegetation cover 30-60% showed the similar with the existing condition, only in certaint points variation occured. The scenario 3 : vegetation cover .>60% showed the change of river bed elevation was more vary than the existing condition. The greater the precentage of vegetation cover of river slope the the less change of river bed morphology. That is caused by the erosion at the river slope is less. The average of change of way sekampung river bed elevation based on running result HEC RAS 4.0 for each segment with 4 test points are segment A laid on 0.36 m, segment B laid on 1.44 m and segment C laid on 0.26 m.
Kuat Tarik Tak Langsung Campuran Aspal Beton Dengan Menggunakan Bahan Tambah Serat Karung Goni Leo Sentosa; Agus Ika Putra; T. Gina Vinola
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2012): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36448/jts.v3i2.280

Abstract

The increasing of oil raw price, the quality of asphalt as cementitious materials is getting lower while the traffic loads always increase preferring to the need of transportation. To increase the quality qJbituminous mixture could be conducted by adding additive to asphalt mixture, such as cellulose and polymer materials such as Arbocel, Cellulose Fibres CF-31500, Roadcel, etc. This research was conducted to use local raw materials such as fracegonifiher that was accepted to be new fiber of cellulose to increase biturninOUS mixture ability.This researched was conducted on the mixture ofLASTON of Bina "Varga type III by using asphalt pen 60170 and additive, such as trace goni fiber; it was obtained from Cik Puan market, Pekanharu. The adding offibre contains as 0%, 0,03%, 0,05% and 0, 07% of total weight of mixture. The length offiber were 0,25cm, 0,5 cm and 1 cm.The addition of fiber content on the same fiber length, will increase the value of the optimum asphalt content. Whereas the addition offiber length will decrease the value of the optimum asphalt content. Test of indirect tensile strength of asphalt concrete without goni fiber is amounted 1.404 kg/cm2. The highest value of indirect tensile strength is amounted 1,876k-,-Iciii2i,vhichi,vasohiaiiiedbyaddiiig0.03Y, coiitentgoiiijihei-ivithfihei-leiigthojI cm. This value is 34% higher than the value of indirect tensile strength for asphalt mixture without fiber additive- The lowest of indirect tensile strength is amounted 1, 628 kg/cm2, which was obtained by adding 0.05% content goni fiber with fiber length of 0. 25 cm. This value is 16Y, higher than the value of indirect tensile strength for asphalt mixture without fiber additive.Meningkatnya fiarga minyak mentah mengakibatkan kualitas aspal sebagai bahan perkerasan semakin rendah sedangkan beban lalu limas selalu meningkat sejalan dengan kebutuhan transportasi. Usalia untuk meningkatkan kualitas campuran beraspal dapat dilakukan dengan menambahkan aditif pada campuran aspal, seperti selulosa dan bahan polimer seperti Arbocel, Selulosa Serat CF-3 1500, Roadcel, dan lainnya. Penelitian ini dilakukan menggunakan bahan baku lokal berupa serat karung goni yang diharapkan menjadi serat selulosa baruuntuk meningkatkan kemampuan campuran aspal.Penambahan kadar scratpadapanjatig scratyang sama, akan meningkatkan nilai kadar aspal optimum. Sedangkan penambahan panjang serat akan mengurangi nilai kadar aspal optirniu-n. Uji kuat tarik tidak langsung beton aspal tanpa serat goni adalah sebesar 1.404 kg/cm2. Nilai tertinggi dari kekuatan tarik tidak langsung sebesar 1.876 kg/cm2 yang diperolch dengan tuctrarnbahkan 0,03% scrat goni dengan panj ang scrat dari 1 cm. Nilai ini adalah 34% lebih tinggi dari nilai kuat tarik tak langsung untuk campuran aspal tanpa sera[. Yang terendah dari kekuatan tarik tidak langsung sebesar 1.628 kg/cm2, yang diperoleh dengan menambahkan 0,05% sera[ goni dengan panjang sera[ dari 0,25 cm. Nilai ini adalah 16% lebih tinggi dari nilai kuat tarik tak langsung untuk campuran aspal tanpa serat.
Uji Dispersivitas Bahan Timbunan Bendungan Way Linggo Lilies Widojoko
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2012): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1418.036 KB) | DOI: 10.36448/jts.v3i2.281

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti dispersivitas bahan timbunan bendungan tambang Way Linggo. Pengujian dilakukan dengan dua cara yaitu uji crump dan uji pin hole. Selain uji tersebut dilakukan pula uji batas Atterberg yaitu batas cair dan batas plastis. Uji batas Atterberg ini dilakukan karena uji ini dapat mendeteksi sifat fisik tanah dispersive. Hasil pengujian mendapatkan bahwa tanah tergolong jenis tanah lanau berplastisitas tinggi ( MH ). Tanah dengan jenis ini kemungkinan tidak bersifat dispersive. Hasil pengujian khusus dispersivitas yaitu dengan uji crump dan uji pin hole menunjukkan bahwa bahan timbunan bendungan Way Linggo tidak termasuk tanah dispersive, sehingga aman digunakan sebagai bahan timbunan bendungan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7