cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Maspari Journal
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Maspari Journal diterbitkan sebagai wahana komunikasi ilmiah di bidang kelautan dan perikanan yang mencakup kajian-kajian ekologi dan biologi kelautan, perikanan, akustik kelautan, oseanografi, bioteknologi kelautan, budidaya laut dan konservasi lingkungan kelautan dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Januari dan Juli.
Arjuna Subject : -
Articles 214 Documents
AKURASI NILAI KONSENTRASI KLOROFIL-A DAN SUHU PERMUKAAN LAUT MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH DI PERAIRAN PULAU ALANGGANTANG TAMAN NASIONAL SEMBILANG Sidik, Astrijaya; Agussalim, Andi; Ridho, Moh. Rasyid
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 7, No 2 (2015): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.824 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v7i2.2435

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui akurasi pemetaan hasil pengolahan citra nilai konsentrasi  klorofil-a  dan  suhu  permukaan  laut  di  sekitar perairan pulau  Alanggantang, Taman  Nasional  Sembilang  pada  bulan  Juli 2013.  Proses  pemetaan  dilakukan  dengan mengolah data citra Landsat 8 tanggal 19 Mei 2013 dengan menggunakan perangkat lunak ENVI 4.8 dan ArcGis 9.3 kemudian dianalisis. Hasil analisis pengolahan citra diregresikan dengan data hasil pengukuran lapangan untuk mengetahui akurasi pemetaan. Konsentrasi klorofil-a  hasil  analisis  laboratorium  dikorelasikan  dengan  suhu permukaan  laut  hasil pengukuran  lapangan  untuk  mengetahui  hubungan antara  kedua  parameter.  Hasil penelitian  menunjukkan  hubungan konsentrasi  klorofil-a  dengan  suhu  permukaan  laut pengukuran  lapangan masuk  kedalam  kategori  rendah  yaitu  -0,234  dan  hubungan signifikan antara  kedua  parameter  adalah  tidak  signifikan  yaitu  sebesar  0,321. Akurasi pemetaan menggunakan regresi  polynomial 3  untuk klorofil-a koefisien determinasi (R2) sebesar 0,314 sedangkan untuk suhu permukaan laut adalah 0,599.KATA KUNCI: , Klorofil-a, Landsat 8, pulau Alanggantang, suhu permukaan laut.
ANALISIS PERANAN SUBSEKTOR PERIKANAN TANGKAP TERHADAP PEMBANGUNAN DAERAH DAN PENENTUAN KOMODITAS HASIL TANGKAPAN UNGGULAN DI KOTA SIBOLGA Lumbantobing, Haslan FI; Agustriani, Fitri; ., Isnaini
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 8, No 2 (2016): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (901.007 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v8i2.3482

Abstract

Selama  tahun  2007-2011,  produksi  rata-rata  perikanan  tangkap  Kota Sibolga mencapai  12,67% dari  rata-rata  produksi  perikanan  tangkap Sumatera Utara  dengan  pendapatan  PDRB   sebesar 23,07%  dari total PDRB Kota  Sibolga.Penelitian   ini   bertujuan  menganalisis  peranan  subsektor perikanan  tangkapterhadap  pembangunan  daerah  dan    mengidentifikasi jenis    komoditas hasiltangkapan  unggulan  di  Kota  Sibolga. Jenis penelitian adalah  studi  kasus  yang dianalisis  secara  deskriptif  menggunakan  analisis shift  share,  multiplier effect    dan    location  quotient  (lq).    Hasil  analisis shift  share  menunjukkankontribusi  perikanan  tangkap  di  Kota  Sibolga pada tahun    2011    terhadapsektor  pertanian  sebesar  97,91%    dan    total   PDRB    sebesar  22,85%. Perhitungan LQ  berdasarkan  indikator PDRB   dan   tenaga kerja menunjukkansubsektor  perikanan  tangkap  merupakan  sektor basis  di Kota  Sibolga dengan  nilai  LQ   lebih   dari  1.  Hasil  mutiplier effect  berdasarkan  indikator PDRB dan tenaga  kerja  rata-rata    sebesar 4,22 satuan  dan    4,90   satuan. Penentuan  komoditas unggulan  untuk  subsektor perikanan  tangkap,  yaitukakap  putih  (Lates  calcarifer),  lencam  (Lethrinus spp.)  dan    kakap merah/bambangan  (Lutjanus  spp.)    dari  kelompok  ikan demersal;  ikanlayang  (Decapterus  sp.),  lemuru  (Sardinella  lemuru),  dan   teri  (Stolephorusspp.)    dari  kelompok  ikan  pelagis  kecil;    serta  ikan tongkol  como    (Euthynnus affinis)  dari    kelompok  ikan    pelagis  besar.   Dengan  diketahuinya    jenis komoditas  ikan  unggulan  maka  dapat dijadikan sebagai  komoditas  kuncidalam  pengembangan  perikanan  tangkap  untuk meningkatkan pendapatandan   kontribusi  pada  perekonomian  Kota  Sibolga KATA KUNCI:  Komoditas  unggulan,  subsektor  perikanan  tangkap.
   Komposisi dan Kelimpahan Moluska (Gastropoda dan Bivalvia) di Ekosistem Mangrove Muara Sungai Musi Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan ., Hartoni; Agussalim, Andi
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 5, No 1 (2013): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.828 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v5i1.1291

Abstract

ABSTRAKPenelitian mengenai komposisi dan kelimpahan moluska (gastropoda dan bivalvia) di ekosistem mangrove muara Sungai Musi Kabupaten Banyuasin provinsi Sumatera Selatan telah dilaksanakan dari bulan Juli - Agustus 2007. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan moluska terutama gastropoda dan bivalvia di ekosistem mangrove muara Sungai Musi Kabupaten Banyuasin provinsi Sumatera Selatan. Stasiun penelitian dilakukan pada 5 stasiun. Metode penempatan stasiun yang digunakan adalah purposive sampling. Pengambilan sampel moluska (gastropoda dan bivalvia) dilakukan menggunakan transek kuadrat yang berukuran 1 x 1 m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi moluska adalah 21 spesies yang terdiri gastropoda 17 spesies dan bivalvia 4 spesies. Kelimpahan moluska tertinggi pada stasiun 2 yaitu 845.556 ind/ha sedangkan terendah pada stasiun 4 yaitu 330.000 ind/ha. Kelimpahan gastropoda tertinggi pada stasiun 2 yaitu  844.444 ind/ha sedangkan terendah pada stasiun 4 yaitu sebesar 330.000 ind/ha. Kelimpahan bivalvia tertinggi pada stasiun 5 yaitu 4.444 ind/ha. Gastropoda spesies Littoria scabra ditemukan sangat dominan disetiap stasiun. Mangrove yang ditemukan Avicennia alba, Sonneratia caseolaris, Rhizophora stylosa dan Bruguiera gymnorrhiza. Kata kunci : Gastropoda, Bivalvia, Sungai Musi ABSTRACTResearch on the composition and abundance of mollusca (gastropods and bivalves) in the Musi River estuary mangrove ecosystem Banyuasin regency of South Sumatra province has been conducted from July to August 2007. The purpose of this study was to determine the composition and abundance of mollusca, especially gastropods and bivalves in the ecosystem of the mangrove estuary of the Musi River Banyuasin district in South Sumatra province. Station research conducted at 5 stations. Station placement method used was purposive sampling. Sampling mollusca (gastropods and bivalves) are conducted using transect squares measuring 1 x 1 m2. The results showed that the composition of 21 species of mollusca are gastropods contain of 17 species and 4 species of bivalves. Mollusca abundance highest in station 2 was 845.556 ind / ha while the lowest at station 4 was 330.000 ind / ha. Gastropod abundance is highest at station 2 was 844.444 ind / ha while the lowest at station 4 was 330.000 ind / ha. Bivalves highest abundance at station 5 was 4444 ind / ha. Gastropod species found Littorina scabra very dominant in every station. Mangroves are found Avicennia alba, Sonneratia caseolaris, Rhizophora stylosa and Bruguiera gymnorrhizaKeywords: Gastropoda, Bivalvia, Musi River
KLASIFIKASI TERBIMBING BERBASIS OBJEK MENGGUNAKAN ALGORITMA NEAREST NEIGHBOR UNTUK PEMETAAN MANGROVE DI SUNGAI KEMBUNG, PULAU BENGKALIS Deswina, Deswina; Oktorini, Yossi; Jhonnerie, Romie
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 10, No 2 (2018): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1227.943 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v10i2.5950

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan suatu komunitas tumbuhan yang khas, dipengaruhi pasang-surut air laut. Sungai Kembung merupakan salah satu ekosistem mangrove di Pulau Bengkalis dan saat ini cenderung mengalami tekanan seperti adanya aktivitas budidaya tambak udang dan penebangan liar. Penginderaan jauh dapat dijadikan sebagai solusi dalam pemantauan ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan penutup lahan mangrove Sungai Kembung menggunakan citra satelit Sentinel-2A dengan penerapan algoritma klasifikasi nearest neighbor. Segmentasi multiresolusi dengan nilai parameter scale yang berbeda (10, 30, 50, 100 dan 150) digunakan untuk menghasilkan objek penutup lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa segmentasi terbaik diperoleh dari nilai scale 30 dengan jumlah objek sebanyak 10.750. Semakin besar nilai scale maka jumlah objek yang tersegmen semakin sedikit serta nilai akurasi keseluruhan yang dicapai cenderung menurun. Hasil perhitungan matrik kesalahan menunjukkan akurasi keseluruhan terbaik sebesar 74%. Penelitian ini merekomendasikan penerapan nearest neighbor sebagai algoritma klasifikasi alternatif untuk memetakan penutup lahan mangrove.
Besaran Kerugian Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan : Kasus Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu Lubis, Ernani; Pane, Anwar Bey; Muninggar, Retno; Hamzah, Asep
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 4, No 2 (2012): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.857 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v4i2.1382

Abstract

ABSTRACTThe Fisherman livelihoods at sea are filled with uncertainty and the catch marketing system is not optimum so that fisherman has difficulty in the capital. In this condition, the fisherman to seek capital through the process quickly and with no collateral even if in the end did’n realize that fisherman has actually entangled and lost money. The financiers in general is often called middlemen/pengijon that certain conditions have created a monopoly system because they operate from the provision of capital, the factors of production to determine the marketing of fish. The research objective was to determine how far the dependence of fishermen in obtaining capital and how much is the actual loss occurred. This study uses the case of the dependence of fisherman on middlemen in PPN  Palabuhanratu by quantitative descriptive analysis. The research has gotten the results that the majority (90%) of fisherman PPN Palabuhanratu use middlemen to obtain fishing capital. This is because the lending process easier, without collateral, but most of the catch must be sold to the middleman without passing auction. Based on formulated results, the fishermen lose between  2000.00 to 5000.00 IDR/kg if their catch is sold to middlemen. Losses are also caused by the price of diesel at the middleman or the retailer is different IDR 1000.00/liter compared with it price in the pump. This loss is especially for fishing line and gillnet fisherman. The role of fishing ports would need to be optimized in efforts  the fishing supplies provision and the implementation of the fish auction system as a whole in order to the small fisherman has the bargaining power in auction system and get the cash money from the catch sale.Key words: loss, the fisherman, fishing ports, PPN PalabuhanratuABSTRAKMata pencaharian nelayan di laut yang sarat dengan ketidakpastian dan sistem pemasaran hasil tangkapannya yang tidak optimal membuat nelayan kesulitan dalam permodalan melaut. Pada kondisi ini nelayan mencari modal melalui proses yang cepat dan tanpa agunan walaupun pada akhirnya tidak disadari bahwa nelayan sebenarnya telah terjerat dan merugi. Pemberi modal tersebut pada umumnya sering disebut tengkulak/pengijon yang pada kondisi tertentu telah menciptakan sistem monopoli karena mereka juga menyediakan modal, faktor-faktor produksi sampai menentukan pemasaran ikan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui seberapa jauh ketergantungan nelayan dalam memperoleh permodalan melaut dan berapa besarkah kerugian yang sebenarnya terjadi. Penelitian ini menggunakan metode kasus ketergantungan nelayan pada tengkulak di PPN Palabuhanratu melalui analisis deskkriptif kuantitaif.  Penelitian ini telah mendapatkan hasil bahwa sebagian besar (90 %) nelayan PPN Palabuhanratu memanfaatkan tengkulak khususnya untuk memperoleh permodalan melaut. Hal ini dikarenakan proses peminjamannya lebih mudah, tanpa agunan namun sebagian besar hasil tangkapan harus dijual pada tengkulak tanpa melalui pelelangan. Berdasarkan hasil perhitungan, nelayan merugi antara Rp 2000,00 sampai Rp 5000,00/kg apabila hasil tangkapannya dijual kepada tengkulak. Selain itu kerugian juga karena pembelian solar di tengkulak atau pengecer berbeda Rp 1000,00/liter dengan harga SPBU khususnya nelayan pancing dan gillnet.  Peran pelabuhan perikanan kiranya perlu dioptimalkan dalam mengupayakan penyediaan perbekalan melaut dan terlaksananya sistem pelelangan ikan secara menyeluruh agar nelayan kecil memiliki posisi tawar dalam tata niaga perikanan dan mendapatkan hasil penjualan secara cash.Kata kunci : kerugian, nelayan, pelabuhan perikanan, PPN Palabuhanratu
Laju Pertumbuhan Udang Windu (Penaeus monodon), Ikan Bandeng (Chanos chanos), dan Rumput Laut (Eucheuma cottonii, Gracilaria sp) pada Budidaya Polikultur dengan Padat Tebar yang Berbeda di Desa Sungai Lumpur Kabupaten OKI Sumatera Selatan Siboro, Guido F; ., Melki; ., Isnaini
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 6, No 1 (2014): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.124 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v6i1.1709

Abstract

Pengembangan usaha perikanan di Kabupaten Ogan Komering Ilir sangat prospektif ditinjau dari segi aspek  teknis,  sosial,  ekonomi,  maupun  sumberdaya  yang  tersedia.  Kabupaten  Ogan  Komering  Ilir  khususnyadesa  Simpang  Tiga  Kecamatan  Tulung  Selapan  telah  mengembangkan  budidaya  udang  dan  bandeng  secara polikultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan pada Udang Windu (Penaeus monodon), Ikan Bandeng (Chanos-chanos),dan Rumpu Laut  Eucheumacotonii,Gracilaria sp) pada budidaya polikultur dengan padat  tebar  yang  berbeda.  Metode  pengumpulan  data  yang  diterapkan  dalam  penelitian  ini  adalah  metode eksperimental  dengan  menggunakan  rancangan  acak  kelompok  (RAK)  dengan  menggunakan  uji  One  Away Anova dengan 2 perlakuan dan 9 pengulangan. Data yang digunakan adalah data yang didapat langsung dari lapangan, dengan pengukuran yang dilakukan 10 hari  sekali dan penimbangan berat selama 80 hari kedepan. Lajupertumbuhan  berat  rata-rata  udang  windu  tertinggi  dengan  nilai  7,963%  pada  perlakuan  A  dan  pada perlakuan B dengan nilai 7,667%. Laju pertumbuhan berat rata-rata ikan bandeng lebih tinggi pada perlakuan A dengan  nilai  6,867%.  Hal  ini  disebabkan  karena  dilakukan  pemberian  pakan,  sedangkan  perlakuan  B  dengannilai 6,528%. Laju pertumbuhan panjang udang windu telihat pada Tabel 7, terlihat jelas padat tebar yang tinggi memiliki panjang rata-rata yang lebih tinggi dengannilai 0,288 cm dan diikuti perlakuan B dengan nilai 0,236 cm. Laju pertumbuhan panjang rata-rata ikan bandengpadaTambak A lebih tinggi dengan nilai 0,284 cm dari perlakuan B dengannilai 0,231 cm.
LAJU PENGENDAPAN SEDIMEN DI PULAU ANAKAN MUARA SUNGAI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN Aritonang, Alexander A; Surbakti, Heron; Purwiyanto, Anna I S
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 8, No 1 (2016): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.738 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v8i1.2645

Abstract

Perairan  muara  Banyuasin  Sumatera  Selatan,  merupakan  salah  satu muara  sungai  yang mengalami sedimentasi atau pengendapan, dimana dapat dinyatakan bahwa muara Sungai Banyuasin masih mendapatkan pengaruh yang besar dari aktifitas daratan. Pengendapan yang terjadi sangat berpengaruh terhadap kondisi sekitarnya, diantaranya Pula u Anakan yang  terdapat  di Muara  Sungai  Banyuasin.  Terbatasnya  informasi  tentang  laju pengendapan di  lokasi  kajian  menjadi  dasar  pentingnya  penelitian  ini  untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ukuran butir dan karakteristik sedimen serta menganalisis  laju pengendapan sedimen  yang terjadi di  muara  Pulau  Anakan.  Penelitian ini dilaksanakan pada Mei  –  Juni 2013. Penelitian ini dimulai dengan pengambilan sampel sedimen  di  lokasi kajian  menggunakan  sedimen  trap  yang  telah  dimodifikasi, yang berfungsi menangkap sedimen yang berada pada dasar serta permukaan sungai sehingga bisa  ditentukan  karakteristik  maupun  laju  pengendapan  di  lokasi kajian  sekaligus mendapatkan  sumber  sedimen  tersebut  berasal  yang kemudian  dilanjutkan  dengan analisis  sampel  di  laboratorium.  Hasil penelitian  menunjukkan  karakterisitik  sedimen pada Pulau Anakan didominasi lumpur dan lumpur berpasir dengan dominansi sedimen berasal dari masukan sungai/daratan. Laju pengendapan yang terdapat di Pulau Anakan sebelah Utara adalah  2,645  x  10-11m3/s,  untuk  sebelah  Barat  Daya  adalah  1,421  x 10-10m3/s  dan  sebelah  Selatan  adalah  1,625  x  10-9m3/s,  dimana  laju pengendapan  tertinggi berada  pada  bagian  Selatan  Pulau  Anakan,  yang berhadapan  langsung  dengan  muara Sungai Banyuasin dan Sungai Lalan.KATA KUNCI: Banyuasin, pengendapan, Pulau Anakan, sedimentasi.
MODEL ADSORPSI LOGAM BERAT Pb, Cu, dan Zn SISTEM AIR-SEDIMEN MUARA SUNGAI BANJIR KANAL BARAT SEMARANG Maslukah, Lilik; Yudiati, Ervia; ., Sarjito
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 9, No 2 (2017): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.725 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v9i2.4484

Abstract

Adsorpsi merupakan proses penting dalam mengontrol transfer logam dari fase terlarut menjadi fase padatan. Logam Pb, Cu dan Zn merupakan logam yang dalam konsentrasi tinggi membahayakan bagi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi model adsorpsi Pb, Cu dan Zn dalam sistem air laut-sedimen di Muara Sungai Banjir Kanal Barat, Semarang. Sampel air dan sedimen diambil dari 7 stasiun. Untuk mendapatkan konsentrasi Pb, Cu dan Zn, sampel air diekstraksi menggunakan larutan organic APDC_MIBK. Sedangkan untuk sampel sedimen melalui tahapan destruksi menggunakan asam chlorida (HCl) dan asam nitrat (HNO3) pada suhu 1000C selama 8 jam. Pembacaan nilai absorbansi dilakukan dengan AAS merk Shimidzu tipe 680 AA. Data yang didapat dikalkulasi berdasarkan model adsorpsi yaitu model Partisi, model Freundlich dan model Langmuir. Hasil perhitungan linieritas menunjukkan bahwa transfer ion logam Pb, Cu dan Zn ke dalam sedimen mengikuti model Langmuir dengan koefisien determinasi (R2) 0,72 untuk Pb, 0,96 (Cu) dan 0,73 (Zn). Sementara nilai kapasitas adsorpsi maksimum logam Pb (11,01-25,72), logam Cu (22,88-112,79) dan Zn (216,68-25.106). Kapasitas adsorpsi maksimum antara fase terlarut terhadap material partikel jauh lebih besar dibanding antara sistem terlarut terhadap sedimen.KATA KUNCI: Adsorpsi, Freundlich, Langmuir, model, partisi.
Indeks Keanekaragaman dan Indeks Saprobik Plankton dalam menilai Kualitas Perairan Laut Bangka di Sekitar FSO Laksmiati PT. MEDCO E & P INDONESIA, Kabupaten Bangka Barat, Propinsi Bangka Belitung Sagala, Efendi Parlindungan
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 4, No 1 (2012): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.084 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v4i1.1326

Abstract

Diversity and saprobic indices  of plankton community had been analysis acording to research results about composition dan abundance of plankton species have been carried out to water samples from sea waters around FSO (Floating Storage Operation) Laksmiati Tanker Ship PT. MEDCO E & P INDONESIA at Bangka Straits on March 2007.  According to the observation and researching in laboratory can be found 40 species of plankton organism consist of 30 species were phytoplankton and 10 species were zooplankton. There were nine grups of taxonomic categories which can be found in these study namely Cyanophyceae, Chlorophyceae, Desmidiaceae, Bacillariophyceae, Flagellata, Rhizopoda, Rotifera, Copepoda and Ostracoda. The abundance of plankton community were 37 individuals/liter (seawaters around 1000 m backside of FSO) upto 55 individuals/liter (seawaters around 500 m backside FSO). The aim of calculating of plankton community diversity and saprobic indeces useful for determinating the levels of pollution  in waters ecosystem. The results of research point out that diversity index of plankton commnunity for five research sampling location were lowest 2,42 (Loading Host FSO location) upto 2,98 (500 m backside FSO). The range of plankton diversity index for five location were 2,42 – 2,98 means the condition of plankton community include into stable upto almost very stable (> 2,00 - < 3,00) so that able assessed the levels of pollution was low in rank. The saprobic index of plankton community for five research location had range of 1,17 lowest (1000 m ahead FSO) upto + 1,47 (500 m ahead of FSO) highest. Assessment of saprobic index + 1,17 – 1,47 for five research location prooved that the levels of pollutions was low and view organic or anorganic matters into phase of mesosaprobic/oligosaprobic. Those condition related to parameters of phisics and chemicals almost everage in environment standart value. For example, pH at 500 m ahead FSO and 1000 m backside FSO each 8,55 and 8,51 respectively were view over  environment standart value, but naturally situation. The parameter BOD (Biochemical Oxygen Demand) average for five location were 20,40 – 25,52 mg/l, while the environment standart value was <20 mg/l. The increasingly a view BOD above  environment standart value give indication that the quality of sea waters in around of study location to become bad or low quality, caused saprobic index become a view low.   Keywords: Diversity index, Saprobic Index, Plankton, Pollution   ABSTRAK Indeks keanekaragaman dan indeks saprobik komunitas plankton dianalisis adalah berdasarkan hasil pengamatan komposisi dan kelimpahan jenis-jenis plankton yang telah dilakukan terhadap contoh air yang diambil dari  perairan laut sekitar FSO (Floating Storage Operation) Laksmiati PT. MEDCO E & P INDONESIA di Selat Bangka, Maret 2007. Dari pengamatan tersebut diperoleh 40 spesies plankton yang termasuk dalam 30 spesies fitoplankton dan 10 spesies zooplankton. Secara keseluruhan termasuk ke dalam 9 kategori taksonomi (Cyanophyceae, Chlorophyceae, Desmidiaceae, Bacillariophyceae, Flagellata, Rhizopoda, Rotifera, Copepoda dan Ostacoda). Kelimpahan komunitas plankton berkisar dari 37 individu/liter  laut sekitar 1000 m belakang FSO   hingga 55 individu/liter Laut 500 m belakang FSO. Tujuan dari perhitungan indeks keanekaragaman dan indeks saprobik komunitas plankton berguna untuk mengetahui tingkat pencemaran ekosistem perairan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman komunitas plankton untuk ke 5 stasiun penelitian berkisar paling rendah sebesar 2,42 (lokasi Loading Host FSO) hingga tertinggi sebesar 2,98 (500 m belakang FSO). Indeks keanekaragaman berkisar 2,42 – 2,98 tersebut menunjukkan kondisi komunitas plankton berada diatas posisi mantap hingga hampir sangat mantap (> 2,00 - < 3,00) yang juga dapat ditafsirkan tingkat pencemaran rendah. Sementara itu,  indeks saprobik komunitas plankton untuk ke 5 stasiun penelitian berkisar paling rendah + 1,17 (lokasi 1000 m depan FSO) hingga tertinggi sebesar + 1,47 (lokasi 500 m depan FSO). Dari nilai indeks saprobik  berkisar + 1,17 hingga 1,47 untuk ke 5 lokasi yang dianalisis, membuktikan bahwa  tingkat pencemaran tergolong ringan atau rendah dan sedikit mengandung senyawa organik dan anorganik berlangsung pada fase mesosaprobik/oligosaprobik. Hal ini didukung oleh parameter fisika dan kimia yang sebagian besar rata-rata dibawah baku mutu lingkungan yang diperuntukkan untuk kualitas perairan umum. Namun demikian, ada beberapa parameter yang sedikit melampaui BML. Seperti pH pada lokasi pengamatan 500 m depan FSO dan 1000 m belakang FSO masing-masing 8,55 dan 8,51 sedikit diatas BML, namun hal ini berlangsung alami. demikian pula parameter BOD (Biochemical oxygen demand) rata-rata untuk semua lokasi yang diamati dan dianalisis berkisar 20,40 – 25,52 mg/l, sementara BML nya < 20 mg/l. Kenaikan BOD sedikit diatas BML tersebut memberi indikasi bahwa kualitas air laut di wilayah studi adalah kurang baik, sehingga menimbulkan nilai indeks saprobik terlihat agak rendah.   Kata kunci: Indeks Keanekaragaman, Indeks Saprobik, Plankton, Pencemaran
PERTUMBUHAN Rhizopora apiculata DENGAN DUA TEKNIK PERSEMAIAN HIDROPONIK NFT (NUTRIENT FILM TECHNIQUE) DAN TRADISIONAL ., ardani; surbakti, heron; ., sarno
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 10, No 2 (2018): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.705 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v10i2.8469

Abstract

Luasan hutan mangrove di Indonesia semakin berkurang akibat pemanfaatan hutan mangrove secara berlebihan. Adapun upaya untuk mencegah kerusakan hutan mangrove yang semakin parah, perlu dilakukan rehabilitasi hutan mangrove, tepatnya penanaman kembali. Penanaman mangrove dari bibit hasil persemaian memiliki tingkat keberhasilan tumbuh yang relative tinggi, sekitar 60-80 %. Persemaian mangrove saat ini masih dilakukan secara tradisional, sehingga perlu adanya inovasi sebagai alternative, salah satunya menggunakan NFT (nutrient film technique). Penelitian ini berujuan menganalisis seberapa besar persentase hidup Rhizopora apiculata pada persemaian NFT dan tradisional, serta untuk menganalisis laju pertumbuhan R.apiculata sehingga diperoleh teknik persemaian yang lebih baik. Hasil penelitian menunjukkan persentase hidup bibit R.apiculata pada kedua persemaian adalah 100 %. Pertumbuhan terbaik ada pada perlakuan tradisional dengan nilai laju pertumbuhan tinggi tunas 2,54 cm/bulan, laju pertumbuhan diameter tunas rata-rata 1,33 mm/bulan dan laju pertumbuhan daun rata-rata 4 helai/3 bulan.