cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Geografi Indonesia
ISSN : 02151790     EISSN : 2540945X     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 421 Documents
Kualitas Pelayanan Keluarga Berencana di Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe Budiman Budiman; Kasto Kasto
Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.561 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13333

Abstract

ABSTRAK Kualitas Pelayanan Keluarga Berencana  Di Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe. Tesis, Pascasarjana Studi Ilmu Kependudukan. Universitas Gadjah Mada.  Salah satu  upaya yang telah dan terus dilakukan oleh pemerintah dalam pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas adalah mengendalikan jumlah penduduk dan meningkatkan kualitas penduduk melalui program keluarga berencana. Kecamatan Unaaha sebagai pusat ibu kota Kabupaten Konawe memiliki jumlah pasangan usia subur (PUS) tahun 2007 sebanyak 3.511 dengan jumlah peserta KB aktif sebanyak 2.363 (67,30%)  sedangkan tahun 2008 PUS berjumlah 3.624 dengan jumlah peserta KB aktif 2.688 (74,17% ). Data tersebut menunjukkan jumlah peserta KB aktif di Kecamatan Unaaha cukup tinggi. Namun, secara  empiris belum diketahui apakah tinggihnya kepesertaan KB aktif di Kecamatan ini diikuti pula dengan peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan oleh provider. Untuk mengkaji Kualitas Pelayanan Keluarga Berencana  Di Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe, sebagaimana tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan tehnik penelitian survey. Selanjutnya untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, maka dalam analisis data menggunakan teknik statistik deskriptif dengan program SPSS 12.0 for windows. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik demografis akseptor seperti umur, pendidikan dan pekerjaan mempengaruhi penilaian  akseptor terhadap kualitas pelayanan di Kecamatan Unaaha. Adapun gambaran utuh  pandangan akseptor tentang kualitas pelayanan Keluarga Berencana di Kecamatan Unaaha berdasarkan enam elemen pengukuran menunjukkan bahwa pertama, pilihan terhadap metode kontrasepsi umumnya merupakan keputusan yang diambil sendiri oleh akseptor, baik berkaitan dengan unsur-unsur pilihan pribadi, metode yang disediakan dan ditawarkan oleh petugas, kecocokan metode dan tujuan pemakaiannya. Kedua,  kualitas informasi yang diberikan oleh provider masih sangat rendah, hal ini ditandai banyaknya keluhan dari akseptor menyangkut informasi KB terutama menyangkut jenis  kontrasepsi yang akan mereka gunakan. Ketiga, kemampuan teknis provider masih sangat rendah, hal ini ditandai  masih banyaknya  keluhan dari akseptor menyangkut pelayanan Keluarga Berencana. Keempat, hubungan interpersonal antara provider dan akseptor menurut pandangan akseptor belum terjalin secara baik. Hal ini dibuktikan masih adanya akseptor yang memilih berkonsultasi tentang alat kontrasepsi yang akan digunakan kepada dukun ketimbang kepada petugas kesehatan. Kelima, kunjungan tindak lanjut (kontrol) meskipun dirasakan penting oleh akseptor, namun umumnya mereka tidak menganggap sebagai kebutuhan yang rutin untuk dilakukan, kontrol dilakukan apabila dirasakan ada keluhan-keluhan serius yang timbul selama memakai kontrasepsi.  Keenam. Ketepatan pemberian layanan menurut pandangan akseptor masih kurang baik, hal ini disebabkan karena walaupun ratio jumlah petugas dan akseptor sudah mencukupi, namun seringkali ada petugas yang tidak masuk, sehingga menyebabkan pelayanan tidak berjalan lancar dan tepat waktu. ABSTRACT The Quality of Family Planning Service in Unaaha Subdistrict, Konawe District. Thesis. Postgraduate Study in Demography. Gadjah Mada University.  One of the efforts continuously sought by government in the development of demography and quality small family is to control the number of population and improve the quality of life through the Family Planning Program. Unaaha Subdistrict as the capital of Konawe District has significant numbers of spouse with sexually productive age in 2007 (3,511) and of active acceptors in the Family Planning 2,363 (67.30%), while in 2008 the former was 3,624 and the latter was 2,688 (74.17% ). The data indicates that the number of acceptors in the Family Planning in Unaaha Subdistrict was relatively high. However, it is not empirically recognized whether or not the high level of active participation in the program is necessarily followed also by the increased quality of the Family Planning service delivered by health providers. This study is to find out the quality of Family Planning Service in Unaaha Subdistrict, Konawe District. It uses a quantitative method with data collected by applying a survey technique. Data collected are then analyzed using a descriptive technique assisted by the SPSS software for Windows version 12.0. Result of the study indicates that geographical characteristics of acceptors, such as age, education, and occupation influenced their assessment on the quality of Family Planning service in Unaaha Subdistrict. Moreover, the comprehensive picture of the acceptors’ view on the quality of Family Planning service in Unaaha Subdistrict could be known also based on six measuring elements. These were, first, contraception selection method was generally a private decision taken by the acceptors with respect to personal choice, methods provided and offered by health personnel, the match of method and objective of use. Second, information quality provided by health provider was still very low indicated by the fact that there were still many complaints from acceptors related to information on Family Planning, particularly on the kinds of contraception they will use. Third, technical capacity of health provider was still very low, marked by the fact that there were still many complaints from acceptors related to Family Planning services. Forth, according to acceptors, interpersonal relationship between provider and acceptors was not established well. It could be seen from the fact that there were many acceptors that chosen to consult with local traditional healer than with health personnel on the contraception they will use. Fifth, although acceptors felt follow-up visit as very important, they did not generally considered it as a routine something need to do. In this case, control should be done if serious complaints resulted from the use of contraception was found. And, sixth, according to acceptors, the availability of the health provider was low due to the fact that despite sufficient number of the health personnel they did frequently not attend the office and it in turn caused the Family Planning Program unable to be performed well and timely.
Dampak Erupsi Merapi 2010 terhadap Pemanfaatan Lahan dan Aktivitas Perekonomian Masyarakat di Daerah Aliran Sungai Gendol Alvyntha Glaudia Ardianingrum; Danang Sri Hadmoko; Lutfhi Muta’ali
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4205.212 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13071

Abstract

ABSTRAK Perubahan pemanfaatan lahan pasca erupsi menyebabkan perubahan aktivitas perekonomian masyarakat, terutama untuk pemanfaatan lahan pertanian. Tujuan penelitian ini adalah :  (1). Mengidentifikasi dampak erupsi Merapi 2010 terhadap perubahan  pemanfaatan penggunaan lahan; (2). Menganalisis dampak perubahan pemanfaatan penggunaan lahan  terhadap aktivitas perekonomian (matapencaharian) masyarakat setempat; (3). Mengevaluasi dan merekomendasi upaya pemulihan ekonomi masyarakat pasca erupsi. Perubahan penggunaan lahan diperoleh dari overlay Peta Penggunaan Lahan Sebelum Erupsi dengan Peta Penggunaan Lahan Sesudah Erupsi. Analisa daya pulih rumahtangga diperoleh dari wawancara. Penyamplingan dilakukan di Dusun dengan purposive sampling, mempertimbangkan daerah tersebut termasuk di daerah terdampak total atau sebagian dan jumlah korban KK terbanyak dan sedikit. Pengambilan sampel di KRB 3 sebanyak 50 responden, KRB 2 sebanyak 30 responden, dan KRB 1 sebanyak 15 responden. Pengambilan responden di setiap Dusun menggunakan metode simple random sampling karena memperhatikan keragaman populasi yang relatif  homogen. Variabel yang dianalisa meliputi asset, akses, dan aktivitas masyarakat. Jenis penggunaan lahan mengalami penambahan pascaerupsi yaitu penambahan shelter dengan luas 140,66 Ha. Penggunaan lahan yang berkurang luasanya adalah semak belukar 312,994 Ha, kebun 292,702 Ha, rumput 30,514, dan tegalan 2155,698 Ha. Sedangkan penggunaan lahan yang bertambah luasannya adalah pemukiman 2222,664 Ha, sawah irigasi 428,584 Ha, dan shelter 140,66 Ha. Tingkat daya pulih rendah lebih besar yaitu 65%, dan daya pulih tinggi sebesar 35%. Dari ketiga variabel asset, akses, dan aktivitas, variabel asetlah yang memiliki kontribusi berpengaruh lebih besar. ABSTRACT Gendol Watershed be a research location because this watershed is the most severely affected. Cangkringan was chosen as the focus area on this research because this area as one of the District in Sleman that located on the slopes of Mount Merapi and the resources was affected. The changing of land use after the eruption can changes the economic activity of the communities, particularly for agricultural. The aims of this research are: (1). Identify the impact of Merapi eruption in 2010 for land use changes, (2). Analyzing the impact of land use changes for economic activities (livelihood) on local community; (3). Evaluation and recommendation public economic recovery efforts after the eruption. The land use changes acquired from the result overlay of Land Use before eruption and Land Use after eruption. Analysis of household resilience derived from the interviews. Sampling area on Kepuhharjo Village, Wukirsari , Glagahharjo and Argomulyo because this area was the greatest affected area. Sampling this area was done with purposive sampling, considering this area included in the severely affected or partial. Respondents of KRB 3 are 50 respondents, KRB 2 are 30 respondents, and KRB 1 are 15 respondents. Respondents in each Village was choosen by simple random sampling method because the observed variability is relatively homogeneous population. Variables analyzed include the assets, access, and community activities. Type of land use have increased post-eruption is shelters area 140,66 Ha. Land use was reduced by bush 312.994 ha , farm 292.702 ha, grass 30.514, and field 2155.698 Ha. Land use was improved by settlement 2222.664 ha, 428.584 ha of irrigated rice fields, and shelter 140.66 Ha. The changing of land use on post-eruption has a positive and negative impact on societies. The positive side for some communities provide new livelihoods, and  negative  impact the public land could not be processed, many homes are destroyed and majority communities lost their occupation. Resilience of communities are in low classified 65 %. From the three variables, asset variables that have the largest contribution affect on resilience.
Tingkat Kerentanan dan Kapasitas Masyarakat dalam Menghadapi Risiko Banjir di Kecamatan Pasarkliwon Kota Surakarta Jaswadi Jaswadi; R. Rijanta; Mohammad Pramono Hadi
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3383.479 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13420

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pasarkliwon di Kota Surakarta bertujuan untuk mengetahui kerentanan penduduk, pemukiman dan infrastruktur dan kapasitas penduduk. Measuremants kerentanan yang menggunakan skala lokal yang melibatkan masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir. Metode yang digunakan untuk determinine kerentanan sosial yang mencetak dan pembobotan faktor yang berpengaruh. Analisis kerentanan fisik bangunan menggunakan ketinggian banjir dan bahan bangunan. Kapasitas diidentifikasi dari populasi beresiko berdasarkan kesiapan banjir, adaptasi, kerjasama antar kelompok masyarakat ketika banjir terjadi. Tingkat kapasitas populasi yang terdiri dari pernyataan kapasitas dan persepsi diukur menggunakan Skala Likert. Hasil analisis berdasarkan 113 rumah tangga menunjukkan bahwa rumah tangga dengan tingkat rendah kerentanan sosial adalah 17%, kerentanan moderat 66% dan kerentanan yang tinggi 17%. Berdasarkan kerentanan fisik bangunan, bangunan tipe 6, semen-berlantai berdinding kayu lapis, adalah jenis bangunan yang paling rentan. Sedangkan, bangunan ketik 4 dan 5, semen berdinding ubin berlantai semen dan, yang jenis bangunan yang tidak rentan. Tingkat kapasitas dan persepsi penduduk kelas menengah, baik yang terletak di daerah rawan bencana tinggi, sedang, rendah dan tidak rentan, tidak memiliki perbedaan.ABSTRACT This research was conducted in Pasarkliwon sub district in Surakarta City aimed to determine the vulnerability of population, settlements and infrastructure and the capacity of the population.  Vulnerability measuremants were using local scale  involving people living in flood prone areas. Methods used to determinine  social vulnerability were scoring and weighting of the influential factors. Analysis of the physical vulnerability of buildings using the height of  floodwaters and the building materials. Capacity identified from population at risk based on flood preparedness, adaptation, cooperation among community groups when floods occured. Population capacity level consisting of  statement of capacity and the perception was measured using Likert Scale. The result of  analysis based on 113 households shows that household with low level of social vulnerability was 17%, moderate vulnerability 66% and high vulnerability 17%. Based on physical vulnerability of buildings, building type 6, cement-floored walled plywood, is the most vulnerable building types. Whereas, buildings type 4 and 5, cement-walled tile-floored and cement, were types of building that were not vulnerable. Capacity and perception levels of middle-class inhabitants, either located in disaster prone areas of high, medium, low and not prone, have  no difference. 
MUSIM DI INDONESIA : TREND DAN VARIASI MULTI-DEKADE Dewi Galuh CondroKirono
Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.13228

Abstract

ABSTRAK Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca telah diyakini sebagai salah saru penyebab terjadinya perubahan iklim global yang dapat mempengaruhi berbagai sektor kehidupan. Agar kemungkinan dampak yang timbul dapat dicermati secara seksama, proyeksi mengenai perubahan iklim sangat penting dilakukan. Sehingga, salah satu strategi nasional jangka panjang yang akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah mengembangkan kajian ilmiah dan teknologi untuk sistem pemantauan cuaca dan iklim. Paper ini secara umum bertujuan untuk mencari bukti empirik guna mengetahui apakah perubahan musim di Indonesia memang telah terjadi. Secara khusus ada dua tujuan yang akan dicapai dalam paper ini, yaitu (1) mengetahui eksistensi dan arah kecenderungan hujan musiman; dan (2) mengetahui apakah variasi ilmiah multi-dekade juga terjadi di Indonesia. Untuk mencapai tujuan ini, telah digunakan indek hujan Indonesia yang merentang dan tahun 1879 hingga 1999. Indek ini meliputi indek hujan musim kemarau dan indek hujan musim hujan. Keberadaan suatu trend secara kualitatif dilihat dan garis trend polynomial yang tergambar dan secara kuantitatif dikaji dan signifikansinya berdasarkan metode ranking Spearman. Sementara itu, variasi multi-dekade diketahui dengan menerapkan metode perataan berjalan dengan dasar perataan sepanjang 30 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) semenjak 1879 hingga 1999, hujan yang terjadi pada musim kemarau maupun musim hujan cenderung menurun. Namun demikian, secara statistic, trend penurunan pada musim kemarau tidak signifikan, sementara trend penurunan musim hujan adalah signifikan; (2) sebagaimana halnya yang dialami negara lain yang terpengaruh oleh monsoon, hujan di Indonesia juga menunjukkan adanya variasi multi-dekade. Perubahan multi-dekade itu berkisar pada siklus tiga puluh tahunan. 
Pengaruh Jumlah Kelas dan Skema Klasifikasi terhadap Akurasi Informasi Penggunaan Lahan Hasil Klasifikasi Berbasis Objek dengan Teknik Support Vector Machine di Sebagian Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah Aria Jaka Dwiputra; R. Suharyadi; Projo Danoedoro
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4772.844 KB) | DOI: 10.22146/mgi.15632

Abstract

KAJIAN SIFAT FISIK BAHAN LAPUKAN DIORIT GUNUNG WUNGKAL KECAMATAN GODEAN, KABUPATEN SLEMAN Jamulya Jamulya
Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.305 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13267

Abstract

Pelapukan batuan intrusi diorit pada bukit terisolasi G. Wungkal di daerah Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, menghasilkan bahan lapukan yang dikenal dengan tanah lempung sebagai bahan baku industri genting. Tujuan penelitian adalah mengetahui sifat fisik bahan lapukan batuan intrusi diorit di daerah penelitian.Penelitian ini mengambil cuplikan bahan lapukan yang terdiri alas lapisan tanah dan lapisan bahan induk tanah (regolith) pada 3 lokasi di G. Wungkal. Lokast pertama di Dusun Kewagon pada lereng bagman timur G. Wungkal, lokasi kedua di Dusun Jering pada lereng bagman selatan, dan lokasi ketiga di Dusun Clthen pada lereng bagian. barat. Cuplikan bahan lapukan tersebut dideskripsi sifat-sifat fisik di lapangan, dan dianalisis di laboratorium yang meliputi : (a) variasi kelompok butir gravel, pasir kasar, pasir sedang, pasir halus, debu, dan lempung; (b) analisis difraksi sinar X untuk mengetahui tipe lempung bahan lapukan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan lapukan dicirikan oleh keiebalan mencapai 400 cm lebih, warna coklat kuat – coklat pucat (7,5 YR 4/2 – 10 YR 6/4), struktur gumpal granuler berbutir tunggal, konsistensi lekat plastis – agak lekat agak plastis, tekstur geluh lempung berdebu – geluh berdebu, kadar lempung antara 22,2% dan 36,2%, tipe mineral lempung kaolinit, haloisit, dan mineral resisten kuarsa. Berdasarkan sifatftsik tersebut dapat ditunjukkan bahwa tingkal pelapukan telah lanjut.
Memantau Toponimi Dan Permasalahannya Di Indonesia Yusron Halim
Majalah Geografi Indonesia Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.972 KB) | DOI: 10.22146/mgi.5278

Abstract

Publications on toponimy in Indonesia are still small in number. The term toponimy has not been widely known by the .society, although the problems that can be observed are among others: inaccuracy in providing geographical names, change in spelling, a great number of local languages, change in names in foreign languages into Indonesian, all of which have given rise to various difficulties, obstacles or confusion in identifying geographical features. In this paper stress is placed on the basic concept of toponimy and the problems of geographical names in Indonesia in the framework of national standardization.
DINAMIKA KEMISKINAN DI JAWA-MADURA MENURUT KABUPATEN/KOTA TAHUN 2002-2007 Ade Ermasari; Sukamdi Sukamdi; Tukiran Tukiran
Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.733 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13324

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pada variasi dan pengembangan kemiskinan (angka kemiskinan) di Jawa-Madura berbasis pada kabupaten / kota tahun 2002 hingga 2007, dan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menjelaskan perubahan kemiskinan. Penelitian ini makro, dengan skala analisis adalah pulau Jawa-Madura secara keseluruhan.  Metode penelitian yang digunakan adalah analisis data sekunder. Sumber data utama diambil dari Data Dan Informasi Kemiskinan, Tahun 2002 2005/2006, dan 2007  Buku 2: Kabupaten / Kota diterbitkan oleh BPS. Analisis data dalam penelitian ini adalah berbagai seperti tabulasi silang, Chi Square, grafik, peta, dan analisis regresi linier ganda disediakan oleh analisis kuadran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kabupaten / kota di Jawa-Madura dari tahun 2002 hingga 2007 tingkat kemiskinan berfluktuasi terutama di pusat dan timur Jawa. Selain itu, ada perbedaan nyata antara tingkat kemiskinan di kabupaten dan kotamadya. Kabupaten cenderung dominan dalam kemiskinan kelas menengah dan kotamadya yang dominan dalam kemiskinan kelas rendah. Walaupun PDRB per kapita secara signifikan faktor berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Jawa-Madura khususnya di kabupaten tahun 2002-2007, mempengaruhi relatif tidak signifikan (R2 selalu di bawah 20 persen). Faktor yang paling berpengaruh adalah persentase orang yang bekerja di sektor informal dengan nilai R2 yang selalu di atas 40 persen pada tahun 2002-2007. Untuk alasan bahwa tingkat pengangguran masalah di Jawa-Madura cukup tinggi, faktor tenaga kerja lebih berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Jawa-Madura pada tahun 2002-2007 (R2 selalu di atas 35 persen) dibandingkan faktor-faktor sosio-ekonomi lainnya , terutama di kabupaten. Sementara itu di kota, faktor ekonomi secara signifikan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan pada tahun 2007 saja dan memiliki pengaruh yang paling dalam periode 2005 sampai dengan 2007 (nilai R2 adalah sebesar 7,5 Dan 11,6 persen).  Implikasi kebijakan yang dapat diambil adalah memiliki program program penanganan kemiskinan di Jawa-Madura yang lebih dari tenaga kerja dan bidang ekonomi, terutama dalam mengatasi masalah pengangguran. Selain itu, juga perlu ada peningkatan anggaran untuk pendidikan, kesehatan, dan tenaga kerja karena persentase pengeluaran pembangunan di tiga bidang ini masih tidak signifikan.  ABSTRACT The research is aimed at obtaining a description on the variation and the development of poverty (the poverty rate) in Java-Madura based on regencies/municipalities year 2002 to 2007, and to find out the factors that may explain the change of the poverty. The research is macro, with the analysis scale is the entire Java-Madura island. The research method used is secondary data analysis. The main data source is taken from Data dan Informasi Kemiskinan Tahun 2002, 2005/2006, and 2007 Buku 2: Kabupaten/Kota published by BPS. The data analysis in the research is various such as cross tabulations, Chi Square, graphics, maps, linier and double regression analysis provided by quadrant analysis. The result of the research shows that the majority of regencies/municipalities in Java-Madura from year 2002 to 2007 has the fluctuated poverty rate especially in the central and the east of Java. Besides, there is a tangible difference between the poverty rate in regencies and in municipalities. Regencies tend to be dominant in the middle class poverty and municipalities are dominant in the low class poverty. Although GDRP per capita is significantly the influential factor to the poverty rate in Java-Madura especially in regencies year 2002-2007, the influence is relatively insignificant (R2  is always below 20 percent). The most influential factor is the percentage of people working in the informal sector with the R2  value is always above 40 percent in year 2002-2007. For the reason that the unemployment rate problem in Java-Madura is quite high, the manpower factor is more influential to the poverty rate in Java-Madura in year 2002-2007 (R2 is always above 35 percent) than the other socio-economic factors, especially in regencies. Meanwhile in municipalities, the economic factor significantly influences to the poverty rate in 2007 only and has the most influence in the period of 2005 to 2007 (R2 value are 7.5 dan 11.6 percent). The  implication  of  the  policy  that  can  be  taken  is  having  programs  on poverty handling in Java-Madura which is more of manpower and economic field, especially  in  coping  with  unemployment  problem.  Aside  from  that,  it  is also necessary to have the budget increase on education, health, and manpower because the percentage on developmental expenditure in the three fields is still insignificant.
Model Spasial Perubahan Penggunaan Lahan dan Pengaruhnya Terhadap Kebijakan Swasembada Padi Dede Amrillah; Eko Kusratmoko; Supriatna Supriatna
Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1094.001 KB) | DOI: 10.22146/mgi.31911

Abstract

Perubahan tutupan dan penggunaan lahan di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro cukup signifikan khususnya untuk penggunaan lahan sawah. Suatu wilayah dikatakan berswasembada padi jika produksi berasnya lebih besar dibandingkan dengan angka konsumsi berasnya. Dalam penelitian ini dilakukan pemodelan spasial menggunakan metode jaringan saraf Multi-Layer Perceptron (MLP) dan Markov Chain (MC) yang terdapat dalam metode Land Change Modeler (LCM) pada perangkat lunak Idrisi. Pada pemodelan spasial tersebut digunakan variabel jalan sebagai faktor pendukung perubahan penggunaan lahan di tahun 2025. Hasil yang diperoleh dari pemodelan spasial tersebut yaitu besaran luasan sawah pada tahun 2025 dengan angka 4644.99 hektar dengan nilai akurasi 56.51%. Kemudian nilai tersebut dikalikan dengan angka produktifitas padi tahun 2015 dan angka konversi gabah kering giling (GKG) menghasilkan nilai produksi beras di tahun 2025 sebesar 95705.37 ton. Angka konsumsi beras tahun 2025 sebesar 4648.402 ton didapatkan dengan mengkalikan jumlah penduduk di tahun 2025 yang memiliki angka 52515 jiwa dengan angka rata-rata konsumsi per kapita per tahun yang berada di angka 88.52 kg. Dengan demikian Kecamatan Kalitidu di tahun 2025 mampu berswasembada padi.Changes in land cover and land use in Kalitidu District, Bojonegoro Regency are significant, especially for paddy land use. A region is said to be self-sufficient in rice if its rice production is greater than its rice consumption rate. In this research, spatial modeling using Multi-Layer Perceptron (MLP) and markov chain method is applied in Land Change Modeler (LCM) method in Idrisi software. In spatial modeling used road variables as a driving factor the change of land use in 2025. The results obtained from spatial modeling is the size of paddy field area in 2025 with the number 4644.99 hectares with an accuracy of 56.51%. Then the value is multiplied by the rate of rice productivity in 2015 and the conversion rate of dry milled grain (GKG) produces rice production value in 2025 of 95705.37 tons. The consumption rate of rice in 2025 amounted to 4648,402 tons was obtained by multiplying the number of population in the year 2025 which has the number 52515 people with the average rate per capita consumption per year which is at 88.52 kg. Thus Kalitidu District in 2025 is capable of self-sufficient rice.    
Kajian Kualitas Air Sungai Code Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Imroatush shoolikhah; Setyawan Purnama; Slamet Suprayogi
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3392.716 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13062

Abstract

ABSTRAK Status pencemaran dan beban daya tampung Sungai Code yang besar menunjukkan besarnya bahan pencemar yang masuk ke sungai, selain itu Sungai Code juga merupakan salah satu sungai yang terkena dampak aliran lahar din-gin Erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010. Erupsi meningkatkan input sedimen dan debit air Sungai Code, serta men-gubah substrat dasar perairan. Tujuan penelitian ini : (1) Menganalisis kualitas air Sungai Code secara fisik dan kimia; (2). Membandingkan kualitas air Sungai Code pasca erupsi Merapi 2010 berdasarkan paramater pH, sulfida, dan besi total, dengan kondisi sebelum erupsi; (3). Menganalisis kondisi makrozoobentos pasca erupsi Gunungapi Merapi 2010, serta menganalisis pengaruh kualitas air sungai terhadap makrozoobentos; dan (4). Menganalisis kerugian ekonomi dan mengetahui persepsi terhadap sungai dari sebagian masyarakat yang memanfaatkan air sungai untuk irigasi pertanian dan perikanan keramba.Pengumpulan data dengan metode survei. Lokasi pengambilan sampel ditentukan secara pur-posive sampling yang mewakili kawasan bagian tengah Sungai Code (sebelum kota dan tengah kota), dan bagian hilir Sungai Code kawasan (setelah kota), meliputi setengah panjang Sungai Code. Sampel air dianalisis secara fisika kimia di Laboratorium. Sampel makrozoobentos diidentifikasi kemudian dianalisis dengan pendekatan kemelimpahan, dom-inansi, dan keragaman, serta regresi. Hasil wawancara untuk menilai persepsi masyarakat dan kerugian ekonomi akibat banjir lahar dingin dianalisis dengan crosstab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter DO, BOD, COD, dan ni-trat, tidak memenuhi baku mutu air kelas I di beberapa lokasi. Adapun kekeruhan, fosfat, dan sulfida, hampir di seluruh lokasi tidak memenuhi baku mutu. Menurunnya kualitas DO, BOD, COD, nitrat, dan fosfat disebabkan oleh limbah yang masuk ke sungai, sedangkan menurunnya kualitas sulfida dan kekeruhan, selain dari limbah juga disebabkan oleh erupsi Merapi. Makrozoobentos yang ditemukan di Sungai Code ada 5 genus yaitu Chironomous, Simulium, Ephemer-optera, Lymnaea, dan Tubifex. Suhu, kecepatan arus dan DO berpengaruh pada menurunnya keragaman dan dominansi bentos. Status Sungai Code pasca erupsi tercemar ringan berdasarkan indeks keragaman bentos = 1,69. Pendapatan masyarakat dari sawah dan perikanan keramba sungai pasca banjir lahar dingin menurun antara Rp.500.000,00-Rp. 2.000.000,00/ responden/ panen. ABSTRACT Pollution status and load capacity of Code River which great shows total of pollutants entering the river, beside of the Code River also one of the affected rivers of lava Merapi Volcano Eruption at 2010. Eruption increase input of sediment and water discharge Code River and change the base substrate waters. The aim of this study: (1) Analyze the Code River water quality of physical and chemical; (2) Compare the Code River water quality after the eruption of Merapi in 2010 based on the parameters pH, sulfide, and total iron, with condition before the eruption; (3) Analyze the conditions of macrozoobenthos after eruption of Merapi Volcano in 2010, and to analyze the effect of water quality on macrozoobenthos; and; (4) Analyze the economic loss and know  perception of most people on the river water for agriculture irrigation and fishpond. Location of sampling is determined by purposive sampling to represent the central part of the Code River (before town and downtown), and the lower of the Code River (after city), include a half the length of the Code River. The water sampling were analyzed in the laboratory to examine quality water of chemical and physics. Macrozoobenthos sampling were identified and analyzed with the approach of abundance, dominant, and diversity, and regression. Results of interview to assess public perceptions and economic loss due to lava flood were analyzed by crosstab. The results show parameters of DO, BOD, COD, and nitrat. Results of interview to assess public perceptions and economic loss due to lava flood were analyzed by crosstab. The results show parameters of DO, BOD, COD, and nitrat, not comply with water quality standard of class I in some locations. Also, turbidity, phosphates and sulfides, nearly all locations not comply quality standards. Decrease of quality of DO, BOD, COD, nitrates, and phosphates were caused by waste into the river, while the declining quality of sulphide and turbidity, besides from waste also caused by eruption of Merapi. Macrozoobenthos were found in the River Code as genus as Chironomous, Simulium, Ephemer-optera, Lymnaea, and Tubifex. Temperature, current speed and DO effect on decreasing the diversity and dominance benthos. Status of Code River after eruption has polluted with the diversity index of benthic = 1.69. Income of farmer and fisherman of river after lava flood has descreasing between in IDR 500.000,00 until IDR 2,000,000.00 / respondent / harvest.

Filter by Year

1988 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia Vol 37, No 1 (2023): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 2 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 1 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 2 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 2 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 2 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 2 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 1 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000) Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992) Vol 6, No 9 (1992): Majalah Geografi Indonesia Vol 2, No 3 (1989) Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988) Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 1 (1988) Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia More Issue