cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Geografi Indonesia
ISSN : 02151790     EISSN : 2540945X     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 421 Documents
Analisis Karakteristik Hujan untuk Pendugaan Debit Aliran Rencana Sungai Anafri di Kota Jayapura Nurfaijin Nurfaijin
Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2621.87 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13451

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik hujan wilayah DAS Anafri, menghitung debit aliran rencana, dan mengkaji kapasitas Sungai Anafri dalam merespon pengalihragaman hujan menjadi aliran permukaan. Kajian karakteristik hujan yakni ketebalan, intensitas, dan durasi hujan dilakukan dengan analisis statistik data hujan. Analisis distribusi data hujan diasumsikan sesuai dengan Metode Gumbel, sehingga untuk menentukan hujan periode ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan 25 tahun menggunakan persamaan Gumbel. Hujan periode ulang digunakan untuk menghitung debit aliran rencana Metode Rasional. Analisis kapasitas sungai dilakukan dengan membandingkan debit aliran rencana dalam periode ulang T dengan kapasitas sungai. Penghitungan kapasitas sungai dilakukan pada penampang PI (bagian hulu), P2,dan P3 (bagian hilir). Debit aliran rencana yang digunakan dalam analisis kapasitas sungai adalah debit aliran Q25tahun (107,478 m³/detikdan 163,726 m³/detik). Hasil analisis menunjukan bahawa, terjadinya limpasan pada penampang sungai PI dan P2 pada saat menampung debit banjir yang diketahui penyebab utamanya adalah bank full capacity kecil, maka alternat! ( penanganan yang direkomendasikan adalah peninggian tanggul sungai. Analisis kapasitas sungai menggunakan debit banjir periode ulang 25 tahun menunjukan bahwa, terjadi limpasan pada lokasi penampang PI sampai P2 dengan panjang ruas 400 m yang terjadi pada tanggul sisi kanan dan tanggul sisi kiri dengan panjang ruas 40 meter. Limpasan terjadi setinggi 0,1 m hingga 1,6 m pada tanggul sisi kanan dan 0,1 m hingga 0,3 m pada tanggul sisi kiri, sehingga peninggian tanggul yang direkomendasikan adalah setinggi 1,6 mpada sisi kanan dan 0,3 m pada tanggul sisi kiri.ABSTRACT This study aims to examine the characteristics of rainfall watershed of Anafri calculate the flow rate plan, and assess the river capacity to respond diversion of rain to be surface runoff. In this study, the analysis of rainfall data distribution is assumed to correspond to the Gumbel method, so as to determine the rainfall return period of 2 years, 5 years. 10 years, and 25 years using Gumbel equation. The return period of rainfall use to calculate the flow rate Rational Method. Calculations of the river capacity on the P1 cross section, P2 and P3 flow rate plan used in the analysis of river capacity is the Q25 years (107.478 m3/s and 163.726 m3/s). The result of the analysis show that, river overflowing on the cross section P1 and P3 at the time a flood discharge accommodate is known the main cause was bank full capacity is small, then the alternative treatment was recommended elevation embankment. Analysis capacity of river by using a return period of 25 years show that runoff occurred at locations P1 to P2 with a length of 400 m which occurred on the right side of the levee and embankment on the left side with the length of 40 m. Runoff occurs as high as 0.1 m to 1.6 m the embankment on the right side and 0.1 m to 0.3 m on the left side, so the recommended levee elevation is as high as 1.6 m on the right side and 0.3 m on the left side embankment.
Estimasi Debit Limpasan Menggunakan Metode Natural Resources Conservation Soil (NRCS) untuk Optimalisasi Tutupan Lahan di DAS Serang Daerah Istimewa Yogyakarta Iwuk Sri Lestari; Totok Gunawan; Slamet Suprayogi
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5093.99 KB) | DOI: 10.22146/mgi.15641

Abstract

DINAMIKA SISTEM KOTA-KOTA DAN PEMILIHAN ALTERNATIF PUSAT PERTUMBUHAN BARU DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Bambang Sriyanto Prakoso; Luthfi Muta'ali
Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.39 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13293

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian adalah menganalisa dinamika dan variasi perkembangan sistem kota-kota dan karakter kekotaan, guna memilih atau menentukan alternatif pengembangan pusat pusat baru di Propinsi sehingga pembangunan lebih merata. Penelitian menggunakan metode deskriptifianalitis dengan analisis data sekunder. Lingkup daerah penelitian meliputi seluruh desa di Propinsi DIY, sejumlah 438 desa yang tersebar di lima Kabupaten. Variabel yang digunakan meliputi variabel demografis untuk menganalisa sistem dan hirarki kota-kota dan variabel karakter kekotaan. Teknik analisis data yang digunakan adalah Index primacy, Analisis Faktor, Crosstab dan Korelasi, Pembuatan Tipologi Wilayah. Sedangkan analisis spasial atau pemetaan dengan program Arc View. Hasil penelitian menunjukkan, dinamika sistem kota-kota di Propinsi DIY sepanjang tahun 1960-2002 memperlihatkan gejala primacy atau pemusatan perkembangan di Kota Yogyakarta dan sekitarnya (pinggiran). Hal tersebut mengindikasikan adanya kesenjangan perkembangan wilayah dan beban kota semakin meningkat. Semakin tinggi peringkat wilayah, semakin dinamis perubahan yang terjadi, sena semakin tinggi karakter kekotaan yang dimilikinya. Fenomena pemusatan perkembangan yang tedadi di kota Yogyakarta dan sekitarnya merupakan bukti empiris pemusatan sistem perkotaan. Berdasarkan analisis yang komprehensif, ditetapkan kluster pusat pertumbuhan baru di lima Kabupaten Kota, yaitu Kluster Sentolo (Kabupaten Kulonprogo), Kluster Srandakan-Galur (Kabupaten Bantul), Kluster Playen-Patuk (Kabupaten Gunung Kidul), Kluster Tempel-Sleman (Kabupaten Sleman), dan Kluster Giwangan (Kota Yogyakarta). Penelitian merekomendasikan redistribusi hasil-hasil pembangunan melalui pengembangan dan penguatan pusat pertumbuhan baru, pembentukan tata ruang perwilayahan dan sistem perkotaan yang fungsional. Pusat pertumbuhan baru harus `mandiri. dan diintegrasikan dengan wilayah belakangnya (hinterland), sehingga tercipta keterkaitan fisik maupun ekonomi, khususnya dengan daerah perdesaan atau kawasan sentra produksi (agropolitan).
Dampak Hidrologis Pembangunan Waduk Kotapanjang terhadap Kompleks Candi Muara Takus di Riau Soenarso Simoen
Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.011 KB) | DOI: 10.22146/mgi.6753

Abstract

Perusahaan Listrik Negara (PLN) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kotopanjang Riau dengan membendung Sungai Kampar di Muara Lahat luas genangan direncanakan 124 km2 pada elevasi 85 meter (dpal). Pembangunan waduk ini memindahkan penduduk sejumlah 4.886 KK dari daerah genangan di samping itu genangan tersebut akan menenggelamkan sebagian dari area situs Candi Muara Takus. Tujuan penelitian ini adalah (1) mempelajari dampak genangan terhadap bangunan candi; (2) mencari alternatif untuk nrenanggulangi dampak yang terjadi. Metode survai, observasi lapangan dan pendugaan geolistrik digunakan dalam penelitian ini. Analisis data dilakukan diskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 3 dampak hidrologis terhadap situs muara takus. (1) pada elevasi genangan 85 meter dpal akan menimbulkan air kapiler yang melernbabkan bangunan candi yang dibuat dari batubata. (2) air kapiler akan melembekkan lempung di bawah candi dan dasar candi akan melosok ke dalam tanah lempung (3) pada elevasi muka air waduk antara 83 in dpal dan 80 In dpal tebing sebelah barat yang berupa pasir kerikil dan pragmen batu akan mudah lepas dan longsor.
Keanekaragaman dan Pola Komunitas Hutan Mangrove di Andai Kabupaten Manokwari Onasius Pieter Matan; Djoko Marsono; Su Ritohardoyo
Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1304.964 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13340

Abstract

ABSTRAK Dalam upaya mempertahankan kelestarian hutan mangrove, informasi tentang potensi sumberdaya mangrove sangat diperlukan sebagai data dasar bagi perencanaan pengelolaan dan pemanfaatan  hutan  mangrove.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  komposisi  jenis, keanekaragaman dan pola komunitas di hutan mangrove Andai, Kabupaten Manokwari. Areal  penelitian dibagi menjadi 2 bagian oleh sungai Andai, dimana bagian pertama terdiri dari 6 releve dan bagian kedua 7 releve.   Pada setiap releve dibuat petak pengamatan untuk tingkat semai, pancang dan pohon.  Data yang dicatat meliputi jenis, jumlah, diameter, tinggi, serta data parameter lingkungan. Data dianalisis dengan menghitung indeks nilai penting, menentukan pola pengelompokkan komunitas dengan metode ordinasi 2 dimensi, dan menghitung nilai indeks keanekaragaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis pada tingkat semai terdiri dari 31 jenis mangrove (19 jenis mangrove sejati, 12 jenis mangrove ikutan). Tingkat   pancang terdiri dari  29 jenis mangrove (18 jenis mangrove sejati, 11 jenis mangrove ikutan). Tingkat pohon terdiri dari 30 jenis mangrove (20 jenis mangrove sejati dan 10 jenis mangrove ikutan). Mangrove sejati meliputi 7 family. Sedangkan mangrove ikutan meliputi 13 family.  Dominasi jenis mangrove pada tingkat semai yaitu Bruguiera parviflora (INP=481.71), pada tingkat pancang  didominasi  jenis  Rhizophora  apiculata  (INP  =  903.27)  dan  pada  tingkat  pohon didominasi oleh jenis Rhizophora apiculata (INP=664.91).  Pola pengelompokkan komunitaspada  tingkat  semai,  pancang  dan  pohon  terbagi  menjadi  3  (Tiga)  kelompok  komunitas. Sedangkan faktor lingkungan yang memiliki hubungan signifikan dengan pola pengelompokkan komunitas di tingkat semai, pancang   dan pohon pada masing-masing releve adalah tekstur tanah (lempung, debu, pasir), salinitas tanah dan air, pH tanah, bahan organik, P tersedia, K tersedia dan Ca. Nilai indeks keanekaragaman menunjukkan bahwa  nilai terendah terdapat pada releve 2 sedangkan nilai tertinggi ada pada releve 3.   Namun secara keseluruhan nilai indeks keanekaragaman sedang  untuk setiap  tingkatan  pertumbuhan pada semua releve.  Nilai tersebut menunjukkan bahwa  perkembangan ekosistem  pada hutan mangrove Andai tergolong sedang. ABSTRACT In an effort to maintain the sustainability of mangrove forests, information about the potential  of  mangrove  resources  are  needed  as  basic  data  for  management  planning  and utilization of mangrove forests. This study aims to determine species composition, diversity and community patterns in mangrove forest, the Regency of Manokwari. Research area is divided into 2 parts by the river, where the first part consists of  6 releve and the second part 7 releve. In each releve plot observations made for the level of seedlings, saplings  and  trees.  The  data  recorded  includes  species,  number,  diameter,  height,  and environmental  parameters  data.  Data  were  analyzed  by  calculating  the  index  key  value, determine the pattern of community grouping with a 2-dimensional ordination methods, and calculate the value of diversity index. The results showed that the composition of species at the seedling level consists of 31  species  of  mangrove  (19  true  mangrove  species,  12  species  of  mangrove  follow-up). Saplings level consists of 29 species of mangrove (18 true mangrove species, 11 species of mangrove follow-up). Tree level consists of 30 species of mangrove (20 true mangrove species and 10 mangrove species follow-up). True mangrove cover 7 family. While mangrove follow-up includes 13 family. Dominance of mangrove seedlings at the level of Bruguiera parviflora (IVI = 481.71), at the saplings level Rhizophora apiculata dominated (IVI = 903.27) and at the tree level dominated by Rhizophora apiculata (IVI = 664.91). Community grouping pattern at the level of seedlings, saplings and trees were divided into 3 (three) groups of the community. While environmental factors have a significant relationship with patterns of community-level grouping of seedlings, saplings and trees in each releve was the soil texture (clay, dust, sand), soil and water salinity, soil pH, organic matter, available P, K is available and Ca. Diversity index value indicates that the lowest values found in releve 2 while the highest value on releve 3. But overall diversity index values are for each level of growth in all releve. Value  indicates  that  the  development  of  the  mangrove  forest  ecosystem  classified  at  the medium.
Strategi Penghidupan Rumah Tangga di Kecamatan Patamuan Kabupaten Padang Pariaman Pasca Gempa Bumi Tahun 2009 Siti Rukayah; Hadi Sabari Yunus; Umi Listyaningsih
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3006.299 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13078

Abstract

ABSTRAK Penelitian strategi penghidupan rumah tangga Kecamatan Patamuan pasca gempa bumi Sumatera Barat ini dilatarbelakangi oleh perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat Kecamatan Patamuan pasca terjadinya gempa bumi. Gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009 menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa serta kehancuran lingkungan fisik, termasuk rumah dan fasilitas umum yang berdampak pada kerugian sosial dan ekonomi yang menyebabkan masyarakat perlu mengatur strategi penghidupan untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang kerentanan rumah tangga pasca gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009 serta menganalisis strategi penghidupan rumah tangga di Kecamatan Patamuan pasca gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009. Metode penelitian yang digunakan untuk sampling adalah survey dan untuk analisisnya menggunakan metode kuantitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kerentanan rumah tangga terbesar disebabkan oleh pendapatan rendah sebanyak 61 rumah tangga (40,67%), kerusakan rumah sebanyak 32 rumah tangga (21,33%), pendapatan berkurang sebanyak 17 rumah tangga (11,33%), anggota rumah tangga meninggal sebanyak 4 rumah tangga (2,67%), kehilangan pekerjaan sebanyak 3 rumah tangga (2,00%), kegagalan panen dan kegagalan usaha masing-masing sebanyak 25 orang (16,67%) dan 8 orang (5,33%). Strategi bertahan hidup yang umumnya dilakukan rumah tangga di antaranya strategi survival dengan cara membeli beras berkualitas rendah sebanyak 50 rumah tangga (33,33%), membeli padi yang belum ditumbuk menjadi beras sebanyak 14 rumah tangga (9,33%), dan 25 rumah tangga (16,67%) berhutang. Selanjutnya strategi konsolidasi dengan cara menanam sendiri ketela dan sayur-sayuran untuk dikonsumsi sehari-hari sebanyak 29 rumah tangga (19,34%), menanam padi ladang sebanyak 18 rumah tangga (12%), berjualan kecil-kecilan sebanyak 6 rumah tangga (4%), serta strategi akumulasi dengan cara beternak ayam sebanyak 8 rumah tangga (5,33%). ABSTRACT The Research of household livelihood strategies of Patamuan District after West Sumatra earthquake is motivated by changes in socio-economic conditions of the District Patamuan due to the earthquake. West Sumatra earthquake in 2009 caused the loss of life and destruction of the physical environment including homes and public facilities that have an impact on social and economic losses caused people need to adjust livelihood strategies to maintain their live survival. This research aims to get an overview of the vulnerability of the household after the West Sumatra earthquake in 2009 and analyzing household livelihood strategies in Patamuan District of West Sumatra post earthquake in 2009. The research method used in this is to survey sampling using quantitative for analysis. The results of this study indicate that the largest household vulnerability caused by as many as 61 low-income households (40.67%), damage to house a total of 32 households (21.33%), revenues decreased by 17 households (11.33%), household member dies by 4 households (2.67%), loss of employment as much as 3 households (2.00%), crop failure and the failure of their respective businesses as many as 25 people (16.67%) and 8 (5.33%). Livelihood strategy is generally made them household is survival strategy by buying low-quality rice by 50 households (33.33%), buy paddy that has not been ground into rice a total of 14 households (9.33%), and 25 households (16.67 %) in debt. Further consolidation strategy alone by planting cassava and vegetables consumed daily for a total of 29 households (19.34%), plant rice fields a total of 18 households (12%), selling small as 6 households (4%), and accumulation strategies in how to raise chickens as much as 8 households (5.33%).
Pengembangan Sistem Informasi Bahaya Erupsi untuk Pengelolaan Kebencanaan di Lereng Selatan Gunungapi Merapi Sriadi Setyowati; Bambang Saeful Hadi; Arif Ashari
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1240.733 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13427

Abstract

ABSTRAK Pengembangan sistem informasi bencana ini dilakukan di Lereng Selatan Gunungapi Merapi sebagai salah satu upaya mitigasi bencana. Penelitian ini bertujuan: 1) menyusun peta tingkat bahaya dan sebaran bahaya pasca erupsi 2010, dan 2) menyusun informasi spasial untuk pengurangan risiko bencana. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif pada setiap satuan medan. Analisis spasial dilakukan dengan bantuan SIG, yang terlebih dulu dilakukan pengharkatan terhadap atribut datanya. Hasil penelitiannya adalah, pertama, terdapat tiga kelas bahaya erupsi di lereng selatan Gunungapi Merapi yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Tingkat bahaya erupsi sedang meliputi 73% wilayah, sedangkan tingkat bahaya rendah dan tinggi meliputi 27% wilayah. Faktor yang mempengaruhi tingkat bahaya adalah jarak dari kepundan, jarak dari alur sungai utama, kemiringan lereng, dan relief. Kedua, terdapat empat jalur evakuasi yang disarankan untuk digunakan dalam pengelolaan bencana dengan memperhatikan tingkat bahaya, penduduk, aksesibilitas, serta keberadaan fasilitas pendukung. ABSTRACT This research aims to: (1) map the hazard level and distribution after 2010 eruption, based on new morphological database at southern flank of Merapi Volcano. (2) make spatial information for disaster risk reduction according to renovated hazard level information. This research employs explorative survey methods. Population sampling is done through purposive sampling methods. Samplings are taken in terrain units. The analysis technique employs in this research are GIS, scoring, and descriptive spatial analysis. Result shows: (1) there are three level of eruption hazard in southern flank of Merapi Volcano, namely: low, middle, and high. Middle eruption hazard level to includes 73% area, low and high hazard level to includes 27% area. The factors that influence hazard level are distance from crater, distance from main river channel, slope, and relief. (2) there are four routes suggested to use in disaster management by looking at hazard level, population, acessibility, and facility.
DEPOPULASI DAN TEKANAN PENDUDUK TERHADAP LAHAN DI DAERAH PERDESAAN : STUDI DETERMINAN REGIONAL DEPOPULASI PERDESAAN DAN KONSEKUENSINYA PADA TEKANAN PENDUDUK ATAS LAHAN DI PERDESAAN KABUPATEN BANTUL R. Rijanta; Bambang Sriyanto Eko Prakoso
Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.13242

Abstract

ABSTRAK Depopulasi perdesaan atau menurunnya jumlah absolut penduduk perdesaan merupakan fenomena baru dalam sejarah kependudukan Indonesia. Fenomena ini mulai terlihat nyata di DIY sejak tahun 1990an. Sejauh ini belum ada penelitian yang menelaah hubungan antara depopulasi perdesaan sebagai wujud perubahan perilaku reproduksi dan migrasi penduduk di satu pihak dengan arah dan intensitas penggunaan lahan perdesaan di lain pihak sebagai wujud perubahan lingkungan binaan. Selanjutnya pertanyaan tentang konsekuensi depopulasi terhadap perbaikan kesejahteraan penduduk perdesaan juga penting dicari jawabannya, sebab selama ini berbagai kebijakan kependudukan umumnya berasumsi jumlah penduduk yang kecil merupakan prakondisi untuk meningkatkan kesejahteraan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1)menyusun tipologi daerah perdesaan menurut tingkat depopulasinya, (2)mengenal determinan-determinan depopulasi perdesaan pada tingkat regional. Selanjutnya berdasarkan tipologi yang tersusun akan dilakukan penelitian pada tingkat rumahtangga untuk mengetahui (1)faktor-faktor internal pada tingkat rumahtangga yang mendorong terjadinya depopulasi, (2)konsekuensi depopulasi perdesaan pada intensitas dan orientasi penggunaan lahan perdesaan pada tingkat rumahtangga, dan (3) konsekuensi depopulasi perdesaan pada tingkat kesejahtraan rumahtangga. Studi penyusunan tipologi perdesaan menurut tingkat depopulasinya akan memanfaatkan data sekunder BPS dan data primer disertai observasi lapangan dengan teknik rapid rural appraisal (RRA). Dalam penyusunan tipologi perdesaan dan pengenalan determinan depopulasi perdesaan pada tingkat regional digunakan metode pemetaan dan tumpang-susun peta dalam rangka mengenali hbungan relasional secara spasial dengan bantuan teknologi Sistem Informasi Geografi (GIS). Survai rumahtangga dilakukan pada desa-desa yang dipilih berdasarkan hasil tipologi di atas. Survai rumahtangga ini diperlukan untuk menjelaskan berbagai faktor internal yang mendorong rumahtangga perdesaan mengalami depopulasi dan mengenali konsekuensi depopulasi perdesaan pada intensitas dan orientasi penggunaan lahan. Analisis statistic baik yang bersifat deskriptif maupun relasional akan dipergunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keruangan wilayah perdesaan di Kabupaten Bantul yang mengalami depopulasi berbentuk dua buah gugus, yaitu : (a)satu gugus besar di wilayah dataran rendah yang meliputi Kecamatan Tirtohargo, Srigading, Bambanglipuro, Srandakan, Pundong, dan sebagian Imogiri dan (b)satu buah gugus kecil di sekitar Kecamatan Dlingo. Terdapat empat macam faktor yang menentukan fisik alamiah yang berupa kerentanan wilayah terhadap bencana alam banjir dan kekeringan, (b) tingkat pendidikan masyarakat yang relatif tinggi, (c)isolasi wilayah yang tercermin dari sulitnya interaksi dengan Kota Yogyakarta sebagai pusat penyedia kesempatan kerja non-pertanian serta, (d)terjadinya migrasi keluar yang besar sebagai akibat dari sempitnya kemungkinan melakukan mobilitas non-permanen ke kota secara efisien. Depopulasi perdesaan pada tingkat rumahtangga terjadi karena rendahnya tingkat kelahiran dan kematian selama lima belas tahun terakhir disertai dengan tingkat migrasi keluar yang tinggi pula. Menurunnya jumlah absolut penduduk perdesaan pada tingkat rumahtangga ditangkap sebagai peluang untuk melonggarkan tekanan subsistensi dalam rangka menuju komersialiasi pertanian pada skala usaha yang amat kecil. Konsekuensinya depopulasi perdesaan tidak diikuti dengan penurunan tekanan penduduk atas lahan, tetapi sebaliknya justru diikuti dengan peningkatan intensitas tanam penggunaan masukan dan teknologi modern serta pemanfaatan tenaga kerja luar keluarga sebagai suplemen kecilnya jumlah tenaga kerja rumahtangga. Meskipun secara sosial-ekonomi depopulasi telah mampu mengantarkan masyarakat pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, namun keberlanjutan kegiatan komersialiasi ini perlu dipertanyakan. 
GEOMORFOLOGI TANAH DAS SERAYU JAWA TENGAH Junun Sartohadi
Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.121 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13273

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penyusunan tulisan ini adalah untuk membahas kondisi geomorfologi dengan tekanan pada persebaran satuan-satuan bentuklahan dalam kaitannya dengan persebaran satuan-satuan tanah yang mungkin terdapat padanya. Tulisan ini juga membahas mengenai proses-proses geomorfologi yang terjadi pada satuan-satuan bentuklahan-tanah yang ada di daerah penelitian. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah metode interpretasi citra Landsat ETM yang dilengkapi dengan pengecekan lapangan. Pengecekan lapangan dilakukan menurut jalur-jalur pengamatan yang dipilih dengan mempertimbangkan keragaman satuan bentuklahan-tanah dan kemudahan dijangkau. Pengungkapan data dan analisis pada tulisan ini dilakukan secara deskriptif. Pemahaman mengenai kondisi geomorfologi dengan menekankan pada proses geomorfologi yang membentuk satuan bentuklahan sangat bermanfaat untuk memahami pembentukan tanah setiap satuan bentuklahan yang ada di DAS Serayu. Untuk selanjutnya persebaran satuan-satuan tanah dapat dipahami melalui analisis geomorfologi untuk mendapatkan informasi mengenai asal bahan induk tanah dan morfodinamik bentuklahan. Pembentukan tanah dapat dipandang sebagai bagian integral dari proses geomorfologi (morfodinamik). Pembentukan tanah di daerah penelitian terkait erat dengan proses-proses erosi-sedimentasi, pelongsoran (gerakan massa), penggenangan, intrusi air laut (air asin), entisolisasi, dan kekeringan litologis.
Geografi, Ilmu Dan Aplikasinya: Sebuah Informasi R. Bintarto
Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.645 KB) | DOI: 10.22146/mgi.5276

Abstract

..

Filter by Year

1988 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia Vol 37, No 1 (2023): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 2 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 1 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 2 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 2 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 2 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 2 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 1 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000) Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992) Vol 6, No 9 (1992): Majalah Geografi Indonesia Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia Vol 2, No 3 (1989) Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988) Vol 1, No 1 (1988) Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia More Issue