cover
Contact Name
Amirullah
Contact Email
amirullah8505@unm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.pattingalloang@unm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan
Jurnal Pattigalloang adalah Publikasi Karya Tulis Ilmiah dan Pemikiran Kesejarahan dan ilmu-ilmu sosial.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 9, No. 1 April 2022" : 9 Documents clear
Penegakan Syariat Islam dalam Perspektif Pendidikan di Bira dan Tiro Bulukumba Najamuddin Najamuddin; Dg Mapata
PATTINGALLOANG Vol. 9, No. 1 April 2022
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v9i1.25143

Abstract

Masalah penelitian sejarah yang bernuansa Syariat Islam dalam perspektif  pendidikan di Bulukumba diuraikan antara lain  1 ) bagaimanakah  perkembangan syariat Islam di Bira dan Tiro Dalam Pendidikan di Bulukumba?  2) bagaimana perkembangan syariat Islam di  Bira  dan Tiro  di Bulukumba?. Metode penelitian yang digunakan yakni metode sejarah yang mencakup atas empat tahapan kegiatan 1) heuristik, 2) kritik sumber, 3) interpretasi dan  4) histografi. Dari keempat langkah kegiatan penelitian sejarah inilah, yang dapat digunakan peneliti di dalam menelusuri dan mengungkapkan perkembangan syariat Islam di daerah Bulukumba dengan mengadakan wawancara terhadap saksi sejarah sebagai sumber primer dan berusaha membandingkan sumber sekunder serta sumber benda untuk menuliskan kisah sejarah secara objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil penelitian diperoleh perkembangan syariat Islam di Bira diawali  dari tahun 1604 masehi disebarkan Syekh Abdurrahman  berhasil mengislamkan Karaeng Bira V Bakka Dg. Bura’ne bergelaar To Useng, kemudian perkembangan syariat Islam di Tiro diwali dari tahun 1605 masehi yang disebarkan Abdul Jawwad Khatib Bungsu bergelar Datok ri Tiro berhasil mengislamkan karaeng Tiro VIII La Unru Dg. Biasa bersamaan Islamisasi di kerajaan Gowa, serta penegakan syariat Islam dalam pandangan pendidikan  di daerah Bulukumba diawali diwali Andi Mulia Dg. Radja yang bergelar karaeng panrita (umarah dan ulama) pada masa pendudukan Jepang  kemudian didukung oleh bupati Bulukumba Drs. A. Patabai Pabokori (2000-2005).   Kata Kunci: penegakan, syariat Islam, perspektif, pendidikan AbstractThe issue of historical research nuanced islamic sharia in the perspective of education in Bulukumba is outlined among others 1) how is the development of Islamic sharia in Bira and Tiro in education in Bulukumba?  2) How is the development of Islamic sharia in Bira and Tiro in Bulukumba? The research method used is a historical method that covers the four stages of activities 1) heuristic, 2) criticism of sources, 3) interpretation and 4) histography. From these four steps of historical research activities, which researchers can use in tracing and revealing the development of Islamic sharia in the Bulukumba area by conducting interviews with historical witnesses as primary sources and trying to compare secondary sources and sources of objects to write historical stories objectively and can be accounted for scientifically. The results of the research obtained the development of Islamic sharia in Bira began from 1604 AD spread by Sheikh Abdurrahman successfully islamized Karaeng Bira V Bakka Dg. Bura'ne bergelaar To Useng, then the development of Islamic sharia in Tiro was initiated from 1605 AD spread by Abdul Jawwad Khatib Youngest titled Datok ri Tiro managed to islamize karaeng Tiro VIII La Unru Dg. Usual simultaneous Islamization in the kingdom of Gowa,  As well as the enforcement of Islamic sharia in the view of education in the Bulukumba area began in the andi Mulia Dg. Radja title karaeng panrita (umarah and ulama) during the Japanese occupation then supported by the regent of Bulukumba Drs. A. Patabai Pabokori (2000-2005).   Keywords: enforcement, Islamic sharia, perspective, education
Peran Makkaraeng Daeng Manjarungi dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Takalar (1945-1950) Rahmat Azhari Haeruddin; Najamuddin Najamuddin; Amirullah Amirullah
PATTINGALLOANG Vol. 9, No. 1 April 2022
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v9i1.25167

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui situasi Takalar pada awal kemerdekaan, proses perlawanan Makkaraeng Dg. Manjarungi dalam mempertahankan kemerdekaan RI di Takalar, dan dampak perlawanan Makkaraeng Dg. Manjarungi dalam mempertahankan kemerdekaan RI di Takalar. Penelitian ini bersifat Deskriptif Analitik dengan menggunakan metode penelitian sejarah, yaitu heuristik (mencari dan mengumpulkan sumber), kritik sumber (kritik ekstern dan kritik intern), interpretasi (penafsiran sumber) dan historiografi (penulisan sejarah). Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan penelitian pustaka atau diambil dari sumber tertulis, yakni khasanah arsip nasional (Provinsi Sulawesi Selatan), buku, jurnal, makalah dan hasil riset terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi Takalar pada awal kemerdekaan yaitu membentuk tim-tim penerangan yang bertugas mengunjungi kampung-kampung di Polombangkeng guna menyebar berita proklamasi serta mengadakan perkumpulan logistik yang dapat menunjang perjuangan kelak dengan mengambil alih bahan logistik yang telah dikumpulkan Jepang pada masa pendudukannya. Proses perjuangan yang dilakukan oleh Makkaraeng Daeng. Manjarungi tidak lepas dari kedatangan Sekutu membonceng NICA yang hendak memulihkan Kembali pengaruh dan kedudukan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Khususnya di wilayah Kabupaten Takalar.  Makkaraeng daeng manjarungi bergabung dengan beberapa wadah perjuangan yakni mulai dari laskar Lipan Bajeng hingga LAPRIS sebagai wadah perjuangan rakyat di daerah Takalar bertujuan untuk menentang penjajahan NICA serta berjuang mempertahankan kedaulatan negara Republik Indonesia.. Dampak dari perjuangan yang dilakukan oleh Makkaraeng Dg. Manjarungi adalah menumbuhkan nilai patriotisme di kalangan pemuda bahkan seluruh masyarakat Takalar untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.  Kata Kunci : Makkaraeng Dg. Manjarungi, Takalar, Mempertahankan kemerdekaan AbstractThis research aims to determine the situation of Takalar at the beginning of independence, the process of resistance by Makkaraeng Daeng Manjarungi in defending the independence of Indonesia in Takalar, and the impact of the resistance of Makkaraeng Daeng Manjarungi in defending the independence of Indonesia in Takalar. This research is descriptive analytical using historical research methods, namely heuristics (finding and collecting sources), source criticism (external criticism and internal criticism), interpretation (source interpretation) and historiography (historical writing). The data collection method is carried out by conducting library research or taken from written sources, namely the repertoire of the national archives (South Sulawesi Province), books, journals, papers and related research results. The results showed that the condition of Takalar at the beginning of independence was forming information teams whose task was to visit villages in Polombangkeng to spread news of the proclamation and hold logistical associations that could support the struggle in the future by taking over the logistics materials that Japan had collected during its occupation. The process of struggle carried out by Makkaraeng Daeng Manjarungi could not be separated from the arrival of the Allies on a ride with NICA who wanted to restore the influence and position of power of the Dutch colonial government in Indonesia. Especially in the Takalar Regency area. Makkaraeng daeng manjarungi joined several struggles, starting from the Lipan Bajeng army to LAPRIS as a forum for the struggle of the people in the Takalar area aimed at opposing NICA colonialism and fighting to defend the sovereignty of the Republic of Indonesia. The impact of the struggle carried out by Makkaraeng Dg. Manjarungi is to foster the value of patriotism among the youth and even the entire Takalar community to defend the independence that was proclaimed on August 17, 1945. Keywords: Makkaraeng Daeng Manjarungi, Takalar, Maintain Of Independence
Perkembangan Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kanoman Cirebon Dari Tahun 2015-2021 Imam Nur Fattah; Asep Achmad Hidayat
PATTINGALLOANG Vol. 9, No. 1 April 2022
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v9i1.26200

Abstract

Tradisi adalah kebiasaan dari nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dilakukan sampai sekarang. Pada kesempatan kali ini saya akan menulis hasil penelitian tentang Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kanoman. Tulisan ini akan membahas perkembangan tradisi panjang jimat dari tahun 2015-2021. Tradisi panjang jimat adalah tradisi yang rutin dilakukan setiap tahun pada  bulan Maulid sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pada penulisan kali ini, penulis menggunakan metode penelitian sejarah. Menurut Prof. Dr. H. Sulasman, M. Hum di dalam bukunya yang berjudul “Metode Penelitian Sejarah” ada 4 langkah dalam melakukan metode penelitian sejarah. 4 langkah metode penelitian sejarah tersebut yang yaitu, Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi.  Keraton Kanoman dibangun oleh Pangeran Muhamad Badrudin Kartawidjaya pada tahun 1588 M. Pangeran Kartawidjaya yang mendapat gelar Sultan Anom tersebut mendirikan Keraton Kanoman dibangunan bekas rumah Pangeran Cakrabuana saat baru tiba di Tegal Alang-alang. Keraton Kanoman memiliki banyak keanekaragaman tradisi yang unik dan menarik jika dibahas. Salah satunya adalah Tradisi Panjang Jimat yang rutin digelar pada bulan Maulid (jika hitungan hijriyah) sebagai bentuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi panjang jimat adalah sebuah upacara yang sakral dimana acara ini dilakukan oleh orang-orang secara beramai-ramai. Tradisi ini dilakukan setiap malam tanggal 12 Rabiul Awal sebagai bentuk peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Panjang Jimat berasal dari 2 kata, panjang yang berarti lestari sedangkan jimat memiliki arti pusaka atau benda yang dikeramatkan.Kata Kunci: Tradisi, Keraton Kanoman, SejarahAbstracTradition is a habit from our ancestors that has been passed down from generation to generation and is still practiced today. On this occasion I will write the results of research on the Long Amulet Tradition in the Kanoman Palace. This paper will discuss the development of the long tradition of talismans from 2015-2021. The long tradition of talismans is a tradition that is routinely carried out every year in the month of Maulid as a commemoration of the Birthday of the Prophet Muhammad. At this writing, the author uses historical research methods. According to Prof. Dr. H. Sulasman, M. Hum in his book entitled "Historical Research Methods" there are 4 steps in conducting historical research methods. The 4 steps of the historical research method are, Heuristics, Criticism, Interpretation and Historiography. The Kanoman Palace was built by Prince Muhamad Badrudin Kartawidjaya in 1588 AD. Prince Kartawidjaya, who received the title Sultan Anom, founded the Kanoman Palace, which was built as the former house of Prince Cakrabuana when he arrived in Tegal Alang-alang. Kanoman Palace has a lot of unique and interesting diversity of traditions if discussed. One of them is the Long Amulet Tradition which is routinely held in the month of Mawlid (if the hijriyah counts) as a form of commemoration of the Birthday of the Prophet Muhammad SAW. The long tradition of amulets is a sacred ceremony where this event is carried out by people in groups. This tradition is carried out every night on the 12th of Rabiul Awal as a form of commemoration of the birthday of the Prophet Muhammad. Long Amulet comes from 2 words, long which means sustainable while talisman means heirloom or sacred object.Keywords: Tradition, Kanoman Palace, History
Kearifan Lokal Sholat Waktu Telu Suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat I Ketut Arya Sentana Mahartha; Muh Akbar; Sudrajat Sudrajat
PATTINGALLOANG Vol. 9, No. 1 April 2022
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v9i1.29939

Abstract

Suku Sasak merupakan penduduk yang menghuni pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pulau Lombok  ditinggali  oleh  masyarakat Sasak yang  sekitar  80 % beragama Islam, 15  %  Hindu  (sebagian  besar  dulunya  berasal  dari  Bali),  sisanya  pemeluk  agama  lain  dari berbagai  etnis  selain  tersebut  di  atas. Komposisi  ini  terjadi  setelah  perjalanan  agama-agama dalam  lintasan  sejarah  timbul  dan  tenggelam,  Hindu-Budha  dan kemudian  Islam. Beberapa  kerajaan  pernah  eksis  di Bumi Sasak, namun  sejarah  kerajaan-kerajaan  itu  adalah  sejarah  konflik,  intrik  politik  dan berujung  pada pendudukan  oleh kekuatan-kekuatan  luar,  mulai  dari  Majapahit,  Makassar/Gowa,  Karangasem,  Belanda  dan Jepang.  Bauran  faktor  kesejarahan  inilah  yang  kelak  menjadi  salah  satu  pembentuk  kekhasan identitas orang Sasak. Pengalaman getir penjajahan/penaklukan   berulang-ulang dialami Suku Sasak. Pada saat ini masih terdapat kearifan lokal yang merupakan akulturasi dari berbagai kebudayaan yang pernah berbaur di masyarakat Suku Sasak terkait dengan sejarahnya. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif, dengan menganalisis sumber. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi dan gambaran terkait kearifan lokal Suku Sasak di Lombok Kata kunci : Kearifan Lokal, Suku Sasak, Akulturasi. AbstractThe Sasak tribe is a resident who inhabits the island of Lombok, West Nusa Tenggara. The island of Lombok is inhabited by the Sasak community, about 80% of whom are Muslim, 15% are Hindu (most of whom used to come from Bali), the rest are adherents of other religions from the various ethnic groups mentioned above. The material that occurs after the journey of religions in the trajectory of the journey of arising and sinking, Hindu-Buddhist and then Islam. Several kingdoms existed in Sasak Earth, but the history of these kingdoms is a history of conflict, political intrigue and outside occupation by forces, ranging from Majapahit, Makassar/Gowa, Karangasem, the Netherlands and Japan. This mix of historical factors will later become one of the forms of the distinctive identity of the Sasak people. The experience of getting repeated visits/conquests experienced by the Sasak Tribe. At this time there is still local wisdom which is the acculturation of various cultures that have mingled in the Sasak community related to its history. This study uses a qualitative method, by analyzing the sources of. Point of this research is describe about information arround local genius from Sasak tribe. Key word : Local Genius, Sasak Tribe, Aculturation.
Kiprah Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Tana Panrita Kitta (1965-2020) Andi Malik Fajar; Mustari Bosra; Asmunandar Asmunandar
PATTINGALLOANG Vol. 9, No. 1 April 2022
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v9i1.24751

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas 4 tahapan yaitu; Heuristik, Kritik sumber, Interpretasi dan Historiografi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan Penelitian Historis (Historical Research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berdirinya IAIM Sinjai dilatarbelakangi keinginan di kalangan pendidik Kabupaten Sinjai untuk meningkatkan taraf pendidikan, terutama untuk menghadirkan Perguruan tinggi. Sedangkan STIP dan STISIP berdiri dilatarbelakangi keinginan pendidik STAIM (IAIM Sekarang) untuk mengembangkan Perguruan tinggi berbentuk Universitas di Sinjai, namun tidak sampai Universitas, pemerintah hanya mengizinkan pendirian Sekolah Tinggi maka lahirlah STIP dan STISIP. Pada tahun 2020, dua institusi ini kemudian melebur menjadi satu dan diberi nama UMSI. Perkembangan yang telah dicapai oleh IAIM dan UMSI dapat dilihat dari kualitas dan kuantitas SDM Perguruan tinggi, baik dari segi Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada masyarakat serta Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kinerja IAIM dan UMSI sejak berdirinya telah menghasilkan Kiprah kemajuan di Sinjai baik segi dakwah, pendidikan, ekonomi terlebih berkembanganya cabang dan ranting.Kata Kunci: Sinjai, Muhammadiyah, Perguruan Tinggi MuhammadiyahAbstractThis study uses historical research methods which consist of 4 stages, namely; Heuristics, Source Criticism, Interpretation and Historiography. This research is a qualitative research approach with Historical Research (Historical Research). The results showed that the process of establishing IAIM Sinjai was motivated by a desire among educators in Sinjai Regency to improve the level of education, especially to bring universities. While STIP and STISIP were founded on the background of the desire of STAIM educators (now IAIM) to develop universities in the form of universities in Sinjai, not to universities, the government only allowed the establishment of higher schools, so STIP and STISIP were born. In 2020, these two institutions merged into one and were given the name UMSI. The developments that have been achieved by IAIM and UMSI can be seen from the quality and quantity of higher education human resources, both in terms of Teaching, Research, Community Service and Development of Al-Islam Kemuhammadiyahan. In the end, it can be said that the performance of IAIM and UMSI since their establishment has resulted in progress in Sinjai both in terms of da'wah, education, economic development of branches and fanfare.Keywords: Sinjai, Muhammadiyah, Muhammadiyah College   
Sejarah Lokal dalam Muatan Kurikulum Tematik di Sekolah Dasar Andi Dewi Riang Tati; St Junaeda; Nurlela Nurlela; Bahri Bahri
PATTINGALLOANG Vol. 9, No. 1 April 2022
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v9i1.31894

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya integrasi muatan sejarah lokal dalam pembelajaran tematik di Sekolah Dasar sebagai upaya untuk penanaman sejak dini pengetahuan sejarah lokal peserta didik. Metode penelitian ini adalah yang bertujuan untuk memberikan deskriptsi atau gambaran mengenai integrasi muatan sejarah lokal dalam pembelajaran tematik di jenjang pendidikan SD. Berbagai tema dalam setiap jenjang kelas di SD dapat mengintegrasikan muatan sejarah lokal, seperti tema “menghargai jasa pahlawan”, “peristiwa dalam kehidupan”. Kegiatan-kegiatan yang dapat mengintegrasikan muatan sejarah lokal adalah;  mengidentifikasi materi sejarah lokal suatu daerah, menentukan tujuan dan fungsi, menentuan kriteria dan bahan kajian, menyusun rencana pembelajaran.Kata Kunci: Sejarah Lokal, Sekolah DasarAbstractThis study aims to determine the importance of integrating local historical content in thematic learning in elementary schools as an effort to inculcate local historical knowledge in students from an early age. This research method is aimed at providing a description or description of the integration of local historical content in thematic learning at the elementary school level. Various themes in each grade level in Elementary School can integrate local historical content, such as the theme “appreciating the services of heroes”, “events in life”. Activities that can integrate local historical content are; identify local history materials of an area, determine objectives and functions, determine criteria and study materials, develop lesson plans.Keyword: Local History, Elementary School
A.G.H. Hayyung : Tokoh Sentral Berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah Selayar 1918-1932 Misbahuddin Misbahuddin
PATTINGALLOANG Vol. 9, No. 1 April 2022
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v9i1.32792

Abstract

Tokoh utama yang merintis dan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah Selayar bernama A.G.H. Hayyung. Tokoh yang memiliki jasa besar dalam masa pergerakan nasional di Sulawesi Selatan, namun kian terlupakan di tanah kelahirannya. Latar belakang kehidupannya yang tidak dapat dipisahkan dari gerakan modernis Islam di masa Kolonial menjadi daya tarik yang harus diurai secara khusus. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif dan tipe deskriptif. Sumber primer yang digunakan adalah Memorie van Overgave (Badan Arsip Daerah Sulawesi Selatan) dan catatan pribadi almarhum Muh. Abdu Fetta (putra pertama A.G.H. Hayyung). Selain itu, buku-buku yang relevan, hasil wawancara dari penelitian terdahulu, dan tokoh Penutur Sejarah Umum menjadi seumber sekundernya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A.G.H. Hayyung merupakan tokoh sentral lahirnya gerakan Persyarikatan Muhammadiyah di Selayar tidak terbantahkan. Segala aspek dalam latar belakang kehidupan sang tokoh mejadi bagian yang tidak terpisahkan dari suksesi dakwah kemuhammadiyahannya di masa Kolonial. Segala tindakan terstruktur dan terukur dalam merintis Persyarikatan Muhammadiyah adalah hasil inisiasi dari pribadi A.G.H. Hayyung. Meskipun demikian, juga tidak dipungkiri terdapat banyak sokongan moril dan materil dari istri, kerabat, dan sahabat yang senantiasa mendukung dakwahnya. Sejak tahun 1918 Persyarikatan Muhammadiyah berhasil dirintis di Pulau Tambolongang (masih dalam wilayah afdeling Selayar) dan diresmikan keberadaannya di Barugaia (Distrik Bonea) pada 21 September 1932.Kata Kunci: A.G.H. Hayyung, Persyarikatan Muhammadiyah Selayar. AbstractThe main character who pioneered and founded Persyarikatan Muhammadiyah Selayar was named A.G.H. Hayyung. A figure who had great service during the national movement in South Sulawesi, but was increasingly forgotten in his homeland. The background of his life which cannot be separated from the Islamic modernist movement in the Colonial period is an attraction that must be described in particular. This research uses historical method with qualitative approach and descriptive type. The primary sources used are Memorie van Overgave (South Sulawesi Regional Archives Agency) and the personal notes of the late Muh. Abdu Fetta (the first son of A.G.H. Hayyung). In addition, relevant books, interviews from previous research, and figures from General History Speakers are secondary sources. The results showed that A.G.H. Hayyung is a central figure in the birth of the Persyarikatan Muhammadiyah movement in Selayar. All aspects of the background of the character's life became an inseparable part of the succession of his Muhammadiyah preaching during the Colonial period. All structured and measurable actions in pioneering Persyarikatan Muhammadiyah are the results of the initiation of A.G.H. Hayyung. However, it is also undeniable that there is a lot of moral and material support from his wife, relatives, and friends who always support his da'wah. Since 1918 Persyarikatan Muhammadiyah was successfully pioneered on Tambolongang Island (still in the Selayar afdeling area) and was inaugurated in Barugaia (Bonea District) on September 21, 1932. Keywords: A.G.H. Hayyung, Muhammadiyah Selayar Association.
Karya dan Pemikiran K.H Ahmad Sanusi di Sukabumi Abad XX Muhamad Zaky Avicena; Agus Perman
PATTINGALLOANG Vol. 9, No. 1 April 2022
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v9i1.26490

Abstract

K.H Ahmad Sanusi adalah seorang ulama dan negarawan asal sukabumi memiliki keilmuan yang tinggi. Sebagai seorang tokoh agama, ia aktif berdiskusi mengenai berbagai permasalahan agama yang terjadi di masyarakat. Ia juga aktif dalam dunia literasi banyak buku dan artikel yang ia lahirkan di berbagai kondisi. Sebagai cendikiawan islam, dengan karya yang banyak membuat pemikirannya tersebar ke masyarakat dengan mudah. Selain aktif di dunia pendidikan ia juga aktif di berbagai organisasi seperti serikat islam. Ia pernah membela serikat islam semasa ia mengenyam pendidikan di mekah saat serikat islam di hantam berbagai tuduhan yang menyudutkan serikat islam. Ia membela serikat islam dengan buku yang ia tulis di mekah kemudian ia kirim kepada temanya di tanah air yaitu K.H. Hasan Basri cicurug. Sebagi kaum muda saat ini semangat literasiK.H. Ahmad sanusi patut kita ikuti bagaimana ia dapat melahirkan banyak karaya meski dalam pengasingan. Hingga kini karyanya masih dikaji dan di pelajari dan membuat ia hidup abadi dalam tulisan. Salah satu kitab karangan beliau menjadi inspirasi salah satu masjid di sukabumi yaitu masjid Raudhatul Irfan. Kata Kunci : Karya, pemikiran, Ahmad Sanusi  Abtract  K.H. Ahmad Sanusi is a scholar and statesman of the origin of sukabumi has a high science. As a religious figure, he actively discussed various religious issues that occurred in the community. He was also active in the world of literacy of many books and articles that he born in various conditions. As an Islamic scholar, with a lot of work makes his thoughts spread to the community easily. In addition to being active in the world of education he is also active in various organizations such as Islamic unions. He once defended islamic unions while he was studying in Mecca when islamic unions were hit by various accusations that cornered islamic unions. He defended the Islamic union with a book he wrote in Mecca and then sent to his theme in the country, namely K.H. Hasan Basri cicurug. As a young person today the spirit of literacyK.H. Ahmad sanusi should follow how he can give birth to many karaya even in exile. Until now his work is still studied and studied and makes him live eternally in writing. One of his books inspired one of the mosques in Sukabumi, the Raudhatul Irfan mosque. Keywords:  works, thoughts, Ahmad Sanusi
Peran dan Kontribusi Syehk Fattah Rahmatullah dalam Mengembangkan Dakwah Islam di Semarang Garut pada Abad ke XVI muhamad rafly Gunatama; Agus Permana
PATTINGALLOANG Vol. 9, No. 1 April 2022
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v9i1.26636

Abstract

A This research article aims to (1) find out the history of curriculum vitae about who a muslim figure or ulama cleric named Syeikh Fatah Rahmatullah the life in Samarang Garut in the 15th century (2) for find out role/contribution of yeikh Fatah Rahmatullah in developing Islamic da’wah in Samarang Garut in the 15th century (3) to find out what are thr relics Sheikh Fatah Rahmatullah. Sheikh Fatah Rahmatullah is the son of Sembah Dalem Sewa Sagara and grandson of SunanTubuy and also a great scholar who onces lived in Samarang Garut sub district right in Tanjung Singuru Village, Sheikh Fatah Rahmatullah who lived in the 15th century was actually not a native of Samarang Garut, but Islamic fighters and students who were sent by Sultan Hasanudin form Banten to spread islam to the local community in Samarang Garut, precisely in Tanjung Singuru Village. Sheikh Fatah when leading da’wah is very intelligent and humble in preaching. Sheikh Fatah when he was sent to Samarang Garut acted as a cleric and contribution to estabilishing a boarding school in his preaching namely Tanjung Singuru Islamic boarding school.But this pesantren Tanjung Singru is thougt to have survived only until the mid-17th century when Sheikh Fatah had been living for a long time. Keywords : Sheikh Fatah Rahmatullah; Role/Contribution; Curriculum Vitae 

Page 1 of 1 | Total Record : 9