cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
PEMANFAATAN IRIGASI TETES UNTUK PENANAMAN CENDANA (Santalum album L.) DI LAHAN KRITIS BANAMBLAAT, PULAU TIMOR, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR I Komang Surata
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.2.129-138

Abstract

Dewasa ini keberhasilan tumbuh tanaman cendana (Santalum album L.) pada lahan kritis di daerah savana kering Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dirasakan masih rendah (kurang dari 20 %). Hal ini disebabkan tanaman cendana pada awal penanaman di lapangan belum beradaptasi dengan baik, karena masalah kondisi tanahnya marginal dan kekurangan air. Masalah kekurangan air akibat curah hujan yang rendah, waktunya yang pendek, dan turunnya tidak teratur adalah salah satu masalah krusial yang dihadapi setiap tahun. Untuk menangani masalah ini maka teknik pengairan secara konvensional dengan irigasi tetes perlu diterapkan agar tanaman cepat beradaptasi dengan lingkungan dan pertumbuhannya meningkat. Pemanfaatan irigasi tetes dengan menggunakan wadah yang murah dan mudah didapat di lokasi penanaman seperti bambu, bekas botol air mineral, dan pot tanah   perlu mendapatkan pertimbangan. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pengaruh pengairan dengan teknik irigasi tetes terhadap pertumbuhan tanaman cendana di lapangan. Metode penelitian yaitu Rancangan Acak Kelompok, dengan perlakuan irigasi tetes sampai umur empat bulan, antara lain: kontrol (tanpa pengairan), pengairan dengan wadah pot tanah, botol plastik, pot bambu, serta tanpa wadah. Perlakuan terdiri dari tiga kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 25 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai umur satu tahun pertumbuhan tanaman cendana nyata lebih baik bilamana pada empat bulan pertama diairi. Pengairan meningkatkan pertumbuhan tinggi, diameter, dan persen hidup tanaman. Urutan ranking pertumbuhan yang terbaik-terendah berturut-turut pada perlakuan pengairan dengan menggunakan pot tanah, botol plastik, pot bambu, tanpa wadah, dan terakhir kontrol (tanpa pengairan) dengan persen hidup tanaman masing-masing 89,4 %; 88,9 %; 73,9 %; 60,1 %; dan 15,5 %.
KERAGAMAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR DI CAGAR ALAM DOLOK TINGGI RAJA, SUMATERA UTARA Rozza Tri Kwatrina; Asep Sukmana
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.1.71-82

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keragaman jenis tumbuhan dan satwaliar serta gangguan habitat yang dapat mengancam kawasan tersebut. Vegetasidiamati dengan menggunakanmetode transek dan digunakan untuk menentukan Indek Nilai Penting, Indek Keragaman Shannon-Weaver, dan Indek Dorninansi. Satwaliar diamati dengan menggunakan metode pengamatan langsung dan tak langsung. Hasil menunjukkan bahwa cagar alam didominasi oleh lima suku tumbuh-tumbuhan yaitu Moraceae, Euphorbiaceae,Lauraceae, Dipterocarpaceae, dan Fagaceae yang tergolong dalam 66 jenis dan 37 suku dengan indeks keragamanjenis terletak pada kisaran 1,4-1,5.  Sedangkan satwaliar yang diamati tergolong ke dalam enamjenis herbivora, delapanjenis karnivora, dan 13 jenis omnivora dengan indeks keragaman jenis yaitu 1,29.  Terdapat satu jenis tumbuhan yang dilindungi di Indonesia, yaitu Amorphophallus titanum dan beberapa jenis satwaliar yang dilindungi. Ancaman yang utama terhadap kawasan cagar alam adalah penebangan pohon dan perambahan lahan untuk berkebun. Solusi penanggulangan masalah yang dapat diusulkan  adalah  meninjau kembali pembangunan jalan,  peningkatan pengawasan dan pengamanan hutan, dan kemungkinan pembangunan taman wisata alam air panas.
PENGARUH PERBAIKAN KONDISI TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN KALIANDRA (Calliandra calothyrsus) DAN BUNI (Antidesma bunius) DI KAWASAN KONSERVASI GUNUNG BATUR, BALI Budi Hadi Narendra
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.2.101-111

Abstract

Kawasan konservasi Gunung Batur yang termasuk dalam kelompok hutan Gunung Batur - Bukit Payang (RTK 7) memiliki nilai penting dalam menyangga kelestarian Danau Batur dan kehidupan masyarakat sekitarnya. Kawasan hutan seluas 2.528 ha ini didominasi lahan dengan kriteria sangat kritis akibat tutupan lahan yang didominasi pasir dan bekuan lava. Berbagai upaya rehabilitasi telah dilakukan namun keberhasilannya terbatas hanya pada jenis tanaman tertentu terutama pada lahan dengan solum yang cukup dalam. Penelitian ini berupaya melakukan perbaikan kondisi tanah melalui peningkatan bahan organik dan melihat pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman jenis kaliandra (Calliandra calothyrsus Meisn.) dan buni (Antidesma bunius  (L.) Spreng). Ujicoba dilakukan dengan rancangan acak lengkap berblok, perlakuan yang diberikan adalah penambahan pupuk kandang dari kotoran ayam dan top soil pada lubang tanam.  Pengamatan yang dilakukan pada tahun ketiga menunjukkan adanya respon nyata dari penambahan pupuk kandang terhadap perbaikan kondisi tanah dan pertumbuhan tanaman. Perlakuan pemberian pupuk kandang mampu meningkatkan kandungan N dan P tanah masing-masing sebanyak 46 dan 10 kali lipat dibandingkan kontrol dan berkorelasi kuat dengan pertumbuhan tanaman.
PENGARUH JENIS MEDIA DAN PUPUK NITROGEN, POSFOR, DAN KALIUM (NPK) TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT POHON PENGHASIL GAHARU JENIS KARAS Yana Sumarna
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.2.193-199

Abstract

Gaharu tergolong salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang memiliki nilai komersial tinggi. Produksi gaharu dapat diperoleh dengan cara memungut dari pohon yang telah mati secara alami. Akibat semakin sulitnya mendapatkan pohon yang mati tersebut serta permintaan pasar dengan harga jual yang semakin tinggi, kini masyarakat mencari gaharu dengan cara menebang pohon dan mencacah batang untuk mencari bagian kayu yang telah bergaharu. Tingginya pemungutan gaharu dengan cara menebang pohon hidup di berbagai wilayah, mengakibatkan populasi pohon penghasil gaharu terancam punah. Salah satu upaya konservasi untuk menjaga kelestarian produksi gaharu pada masa mendatang adalah melalui pembudidayaan di berbagai wilayah sentra produksi serta pada lahan-lahan yang memenuhi kesesuaian tempat tumbuh. Tersedianya bahan tanaman berkualitas merupakan faktor dasar yang menentukan keberhasilan budidaya. Penelitian pemeliharaan bibit di persemaian dilakukan dengan metode rancangan split plot dengan media sebagai plot utama dan perlakuan dosis pupuk NPK sebagai sub plot, diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai teknik pemupukan untuk memperoleh bibit   yang  berkualitas. Hasil pengujian terhadap pertumbuhan bibit karas (Aquilaria malaccensis Lamk) menunjukkan bahwa diantara empat faktor jenis media (A : tanah, B : tanah + kompos (1:1), C : tanah + pasir (1:1), dan  D : tanah + kompos + pasir (1:1:1)), dengan tiga faktor dosis pupuk NPK (a : 0 gram, b : dua gram, dan c : empat gram), diperoleh gambaran teknis bahwa media  B (campuran tanah + kompos (1:1)) dan D (campuran tanah + kompos + pasir (1:1:1)) dengan induksi dua gram pupuk NPK menghasilkan persen tumbuh bibit yang optimal dan cepat mencapai umur siap tanam.
PENGARUH BERBAGAI PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI DI KAWASAN HUTAN PINUS DI GOMBONG, KEBUMEN, JAWA TENGAH Agung B. Supangat
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.3.267-276

Abstract

Permasalahan kelangkaan air bersih di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh rendahnya kualitas air yang tersedia. Banyak aliran sungai  yang  telah  tercemar dan tidak layak lagi dikonsumsi untuk berbagai kebutuhan, bahkan air sungai dari dalam kawasan hutan pun disinyalir telah banyak terkontaminasi zat pencemar.  Kondisi kualitas air sungai yang berasal dari kawasan hutan sangat erat kaitannya dengan kondisi penggunaan lahan yang ada serta pengaruhnya terhadap kualitas air sungai. Penelitian yang dilakukan di kawasan hutan Pinus merkusii Jungh. et de Vriese di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh berbagai penggunaan lahan terhadap kondisi kualitas air sungai di kawasan hutan pinus.  Pengambilan contoh kualitas air dilakukan di 13 titik (stasiun) di sepanjang aliran sungai Kemit. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kualitas air pada musim kemarau di kawasan hutan pinus  Gombong  secara umum dalam kategori baik dan layak digunakan untuk kebutuhan  mandi  dan mencuci, tetapi tidak untuk air minum secara langsung. Semakin kecil tutupan hutan dalam sub DAS serta semakin beragamnya jenis penggunaan lahan dalam sub DAS menyebabkan kondisi kualitas air sungai yang semakin buruk, terutama akibat adanya aktivitas pertanian dan pemukiman. Untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas air sungai secara berkelanjutan disarankan upaya penghijauan terutama di sekitar pemukiman, pengaturan resapan air bekas limbah di areal pertanian serta pengendalian limbah rumah tangga secara komprehensif dari seluruh sumber bahan pencemar di sekitar daerah aliran sungai.
PENILAIAN DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR SUB DAS LUBUK PARAKU KOTA PADANG, SUMATERA BARAT Rebecha Prananta; Endes N. Dahlan; Omo Rusdiana
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2015.12.1.19-31

Abstract

Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Lubuk Paraku ada di daerah hulu DAS Batang Arau dengan Sungai Lubuk Paraku sebagai sungai utama. Kawasan  ini terdiri dari dua tipe hutan : Taman Hutan Raya Dr. Mohammad Hatta dan Hutan Lindung Bukit Barisan I. Fungsi hidrologis yang baik adalah kemampuan suatu DAS dalam menjaga keseimbangan tata air untuk mencegah banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Aktivitas manusia dapat mempengaruhi sifat fisik suatu DAS, diantaranya yaitu pengelolaan lahan yang muncul karena pertumbuhan jumlah penduduk dan perkembangan teknologi. Hal tersebut terjadi karena kebutuhan manusia akan lahan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Hal yang sama terjadi juga pada Sub DAS Lubuk Paraku. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang bentuk pemanfaatan dan juga nilai ekonomi dari sumberdaya air Sub DAS Lubuk Paraku. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisis kuantitatif dan kualitatif. Jumlah debit air Sub DAS Lubuk Paraku yaitu 2,8 m³/detik yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air rumah tangga, pertanian, pembangkit listrik dan industri. Nilai ekonomi sumberdaya air yang berasal dari Sungai Lubuk Paraku dengan pendekatan pasar adalah sebesar Rp 54.488.861.890/tahun dan dengan pendekatan Willingness to Pay (WTP) sebesar Rp 363.273.000/tahun
POTENSI DAN NILAI MANFAAT JASA LINGKUNGAN HUTAN MANGROVE DI KABUPATEN SINJAI SULAWESI SELATAN Saprudin Saprudin; Halidah Halidah
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.3.213-219

Abstract

 Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan yang penting di wilayah pesisir dan lautan. Mempunyai fungsi ekonomi yang  penting seperti, penyedia kayu, daun-daunan sebagai bahan baku obat-obatan dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan nilai  manfaat langsung dari hutan  tanaman  mangrove.  Pengamatan  terhadap  potensi  tegakan  dilakukan  dengan  metode  observasi lapangan melalui pembuatan petak ukur berukuran 10 m x 10 m untuk setiap tipe strata tegakan. Pengamatan pada masyarakat dilakukan melalui wawancara terhadap 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pesisir Sinjai Timur telah memanfaatkan hutan mangrove secara langsung berupa kayu, buah dan daun bakau masing-masing sebanyak 67%, 20% dan 13%. kuantifikasi dan penilaian ekonomi dari pemanfaatan fungsi sumberdayahutan mangrove berupa manfaat kayu senilai Rp 7,85 juta/ha/th, buah bakau senilai Rp 2,04 juta/ha/th dan daun bakau senilai Rp 1,72 juta/ha/th secara keseluruhan sejumlah Rp 11,61 juta/ha/th.   Perkiraan perolehan total nilai ekonomi manfaat langsung sumberdayahutan mangrove paling besar didapat dari produk kayu untuk bahan bangunan yaitu senilai Rp 847,27 juta/th, selanjutnya produk buah bakau sebagai sumber benih senilai Rp 779,28 juta/th, produk kayu bakar senilai Rp 584,80 juta/th dan paling kecil diperoleh dari daun bakau sebagai produk pakan ternak senilai Rp 292,40 juta/th.
ANALISIS KOMPOSISI, RIAP, DAN REGRESI ANTARA DIAMETER DENGAN RIAP PADA HUTAN PENELITIAN SANGAI, KALIMANTAN TENGAH Suryanto Suryanto; Ayi Suyana; Supianto Supianto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.5.437-448

Abstract

Sasaran penelitian ini  adalah untuk mengetahui komposisi, riap, dan hubungan regresi antara riap dan diameter.Data yang dianalisis adalah data dasar stasiun penelitian hutan Sangai, tahun pengukuran 1993-1996 dan 2003.Analisis data menggunakan metode validasi melalui rumus-rumus persamaan distribusi normal. Penelitian  ini memberikan hasil bahwa pada  15 petak inti terdapat 63 famili, meliputi 407 jenis dari 8.768 individu pohon. Berdasarkan  kelas diametemya, kecenderungan dominasi kelompok jenis non-dipterocarpaceae  terdapat pada pohon-pohon besdiameter kecil (IO cm) dan terus menurun hingga diameter medium (60 cm). Berikutnya, kelompok jenis dipterocarpaceae lebih mendominasi pada kelas diameter besar (60 cm ke atas). Kecenderungan dominasi kelompokjenis dipterocarpaceae pada kelas diameter besar ini mengakibatkan dominasinya pada kriteria volume dan basal area. Kelompokjenis  dipterocarpaceae memiliki nilai riap rata rata yang lebih tinggi daripada kelompok jenis non dipterocarpaceae, untuk semua kelas diameter. Pada kelompokjenis dipterocarpaceae, riap dimulai pada nilai 0,33 cm/tahun pada kelas diameter di bawah 20 cm, kemudian nilai riap menunjukkan pergerakan menaik hingga tertinggi pada kelas diameter 40-50 cm, yaitu 0,56crnltahun dan kembali menurun hingga nilai riap 0,35cm/tahun pada kelas diameter di atas 100 cm.  Pada kelompok jenis non dipterocarpaceae, riap dimulai pada nilai 0,22cm/tahun pada kelas diameter di bawah 20 cm, kemudian nilai riap menunjukkan pergerakan menaik hingga tertinggi pada kelas diameter 30-40 cm, yaitu 0,30 crnltahun dan kembali menurun hingga nilai riap 0,26 crnltahun pada kelas diameter di atas 100 cm. Pada analisis regresi berikutnya menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan regresi yang signifikan antara riap dengan diametemya pada empatjenis persamaan yang diuji, yaitu persaman linear, kuadrat, kubik, dan logaritma. Hal tersebut ditunjukkan dari nilai koefisien determinasi yang kecil, yaitu antara 0,05-0,20, yang berarti hanya sebesar 5-20% variabel riap dapat dijelaskan oleh variabel diameter melalui persaman tersebut. Berdasarkan has ii tiga analisis pada penelitian ini, dapat ditarik sebuah sintesa bahwa dinamika hutan dibentuk atas kinerja tiga sistem yang kompleks, yaitu sistem hara dan cahaya, sistem riap, dan sistem regenerasi. Tiga sistem dinamika tersebut berjalan dalam mekanisme persaingan yang sempuma, namun atas dasar mekanisme persaingan tersebut tercipta kondisi pendorong dan pembatas yang membentuk keseimbangan dalam dinamika hutan hujan tersebut.                                                                                                                                                                                    
KERAGAMAN JENIS TINGKAT PANCANG PADA KAWASAN BEKAS PEMBALAKAN DENGAN SISTEM KONVENSIONAL DAN RIL (REDUCED IMPACT LOGGING) DI PT. INHUTANI I LABANAN Ernayati Ernayati; Nina Juliaty
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.2.183-193

Abstract

Penelitian keragaman jenis tumbuhan (pohon) tingkat pancang pada kawasan bekas pembalakan dengan sistem konvensional dan Reduced Impact Logging (RIL) di PT. Inhutani I Labanan dilakukan pada dua buah plot masing masing seluas satu hektar, yang dibagi menjadi sub plot seluas 5 m x 5 m. Semua jenis pancang yang berukuran diameter kurang dari 10 cm dan tinggi ≥ 1,5 diidentifikasi dan diukur. Data dikumpulkan sebelum dan sesudah penebangan. Tujuan penelitian untuk mendapatkan informasi tentang keragaman dan komposisi jenis-jenis pohon tingkat pancang yang masih tertinggal dalam tegakan tinggal setelah kegiatan pembalakan dengan sistem pembalakan ramah lingkungan (RIL) dan konvensional. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terjadi penurunan jumlah suku 6,25 %, genus 6,78 %, dan jenis 5,4 % pada sistem pembalakan ramah lingkungan; dan penurunan genus 12,79 %, jenis 3,60 % pada sistem konvensional. Penurunan 31,26 % semua jenis sesudah pembalakan dengan RIL dan 24,6 % dengan sistem konvensional. RIL menyebabkan kerusakan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem konvensional.
PREFERENSI HABITAT MACAN TUTUL JAWA (Panthera pardus melas Cuvier 1809) DI JAWA BAGIAN BARAT Hendra Gunawan; Vivin Silvaliandra Sihombing
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2017.14.1.35-44

Abstract

ABSTRACT The Javan leopard (Panthera pardus melas Cuvier 1809) is a highly adaptable species, and therfore it can be found in most land types such as savannah, grassland, shrub, swampy tropical rain forest, steep mountain forest, dry and deciduous forest, coniferous forest, and even in the vicinity of human settlements. However, in occupying their habitat, the leopard has preferences for certain habitat features that increase their chances for survival. The objective of this research was to study the Javan leopard preferences for particular habitat features such as land type, topography, elevation, and status of forest function. Chi-square tests were applied to test the significance of the correlation between the presence of leopard and particular habitat features. Neu’s indexes were calculated to rank the preference of the leopard for the habitat features. The results showed that the Javan leopard has preferences for particular land types, elevations, topography, and forest status. These preferences were correlated with the availability of prey and shelter (cover) and disturbance by human activities. Javan leopard preferred primary forest in mountain areas with height of more than 1,000 m above sea level, steep slopes and protected area in conservation forest, which is less disturbed by human activities.Key words: Leopard, preference, habitat, selection, Panthera pardus ABSTRAKMacan Tutul Jawa (Panthera pardus melas Cuvier 1809) mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungannya, oleh karena itu satwa ini ditemukan di setiap tipe tutupan lahan seperti savana, padang rumput, semak, hutan hujan tropis berawa, pegunungan yang terjal, hutan gugur yang kering, hutan konifer sampai sekitar pemukiman. Meskipun demikian, dalam menempati suatu habitat, Macan Tutul Jawa memiliki preferensi terhadap fitur-fitur habitat tertentu untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui preferensi habitat Macan Tutul Jawa, dilihat dari tipe tutupan lahan, topografi, elevasi dan fungsi kawasan hutan. Uji Chi-square ( 2 ) dilakukan untuk mengetahui signifikansi korelasi keberadaan Macan Tutul Jawa dengan fitur habitat tertentu. Indeks Neu dihitung untuk mengetahui fitur habitat yang paling disukai oleh Macan Tutul Jawa. Hasil penelitian ini menemukan bahwa Macan Tutul Jawa memiliki preferensi terhadap tipe tutupan lahan, topografi, elevasi dan fungsi kawasan hutan. Preferensi ini diduga berkaitan dengan ketersediaan satwa mangsa, lindungan (cover) dan tingkat keamanan dari gangguan manusia. Macan Tutul Jawa menyukai tipe hutan primer di daerah pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.000 m dpl, berlereng curam dan terlindungi dengan status sebagai kawasan konservasi yang jauh dari gangguan aktivitas manusia.Kata kunci: Macan tutul, preferensi, habitat, seleksi, Panthera pardus

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue