cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
PERSEPSI MASYARAKAT SEKITAR KAWASAN TNMB DAN TNAP YANG TERGANGGU SATWALIAR TERHADAP KONSERVASI BANTENG (Bos javanicus d’Alton 1823) R. Garsetiasih
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2015.12.2.119-135

Abstract

Populasi banteng (Bos javanicus d’Alton 1823) di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dan Taman Nasio- nal Alas Purwo (TNAP) semakin terancam dengan meningkatnya konflik akibat gangguan banteng pada lahan pertanian dan perkebunan. Pengelola taman nasional perlu memahami situasi dan kondisi sosial masyarakat setempat, khususnya yang berkonflik dengan banteng. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang karakteristik sosial, ekonomi serta persepsi masyarakat sekitar kawasan TNAP dan TNMB terhadap manfaat taman nasional dan konservasi banteng. Penelitian dilakukan bulan Desember 2010 sampai Desem- ber 2011 menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui wawancara dengan masyarakat desa sekitar kawasan dan tokoh masyarakat. Wawancara menggunakan panduan secara terstruktur dan mendalam (indepth interview). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden masuk katagori umur produktif dan tingkat pendidikannya rendah. Gangguan banteng tertinggi di Desa Kalipait (TNAP) dengan persentase 31,91%, Desa Curah Nongko dan Andongrejo (TNMB)  masing-masing 16,22% dan 29,73%. Kondisi ekonomi masyarakat petani sekitar TNAP tergolong lebih baik dibanding petani sekitar TNMB dengan pendapatan rata-rata per bulan berkisar Rp 885.500,- sampai Rp 1.445.000,-. Pendapatan petani sekitar TNMB berkisar Rp 332.500, sampai Rp 614.000, termasuk katagori miskin. Petani umumnya memiliki persepsi positif terhadap taman nasional, sebaliknya persepsi terhadap banteng cenderung negatif karena statusnya dilindungi, sehingga tidak dapat dimanfaatkan dan keberadaannya menyebabkan kerusakan tanaman pertanian dan perkebunan masyarakat. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai dasar dalam pengelolaan banteng
RIAP TEGAKAN DUABANGA (Duabanga moluccana Bl.) DI RARUNG I Wayan Widhana Susila
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.1.47-58

Abstract

Duabanga (Duabanga moluccana Bl.) merupakan salah satu jenis unggulan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kayunya dapat digunakan untuk kayu pertukangan, bahan bangunan, dan kayu perkakas rumah tangga. Jenis ini sudah banyak dikembangkan pada hutan rakyat di Pulau Lombok, karena riapnya relatif cepat. Akan tetapi, informasi kuantitatif hutan tanaman duabanga masih relatif kurang, seperti data riap tegakan. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi riap dan model pertumbuhan untuk pengelolaan tegakan duabanga yang lestari.Penelitian dilaksanakan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rarung, Kelompok Hutan Gunung Rinjani RTK 1, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah dengan pembuatan dan pengukuran tiga petak ukur permanen (PUP)  70 m x 70 m  pada tegakan duabanga 1996 dan lima PUP berbentuk lingkaran seluas 625 m 2  pada tegakan 1997 secara berulang dari tahun 2003 s/d 2006. Tegakan 1996 pada umur 10 tahun, riap diameter tegakan = 3,29 cm tahun-1, riap tinggi = 1,97 m tahun-1, dan riap volume tegakan = 25,02 m3 ha -1 tahun -1 .  Untuk tegakan 1997 pada umur sembilan tahun, riap diameter tegakan = 3,77 cm tahun -1 , riap tinggi = 2,16 m tahun -1, dan riap volume tegakan = 34,41 m 1 tahun -1. Model penduga diameter (D) dan tinggi tegakan (T) berdasarkan umur tegakan (X) dapat dinotasikan sebagai berikut: 1) Tegakan duabanga tahun 1996 adalah  D (cm) =  1,6622 X  dan  T (m) =1,3159 X 1,1913 , 2)  Tegakan tahun 1997 adalah  D (cm) =  5,6751 X0,81501,3075  dan  T (m) =  2,1623 X , dan 3) Tegakan duabanga tahun 1996 dan 1997 adalah D (cm) = 7,2015 X 0,6627  dan T (m) = 2,6550 X 0,8834.
UJI COBA PADl GOGO (Oriza sativa) TAHAN NAUNGAN DENGAN SISTEM WANATANI DI BAWAH TEGAKAN HUTAN TANAMAN JATI (Tectona grandis) DI BKPH JAMPANG KULON, JAWA DARAT Harun Alrasjid; Yetti Heryati
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.3.227-239

Abstract

Percobaan penanaman padi gogo tahan naungan di bawah tegakan hutan tanaman jati telah di lakikan di Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jampang Kulon,Jawa Barat . Tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan galur/varietas padi gogo tahan naungan yang potensial untuk dikembangkan di penelitian ini menggunakan 5 galur/varietas padi gogo di bawah tegakan jati umur 3 tahun, 14 tahun , dan 26 tahun. penelitian menggunakan rancangan split Plot Design dengan perlakuan 3 klas umur jati sebagai petak utama 5 galur/varietas padi gogo sebagai anak petak,yang masing-masing di ulang 4 kali.Ukurang petak utama masing-masing ialah 36 m x 35 m dan anak petak inilah 4 m x 5 m. Hasil uji coba memperlihatkan bahwa 5 galur/varietas padi gogo yang tahan naungan, tahan kekeringan, toleran terhadap tanah asam ,dan berumur dapat tumbuh dengan baik di bawah tegakan hutantanaman jati umur 3 tahun (70,25%)dengan intensitas cahaya 70,28%dari pada tegakan jati umur 14 dan 26 tahun .produksi padi gogo yang tertinggi adalah galur Dt-15/II/KU (2,487,50 gr/20m.')dan varietas jati luhur (2.725,00gr/20 m ').kedua galur,varietas padi tersebut memupnyai prospek yang baik sebagai komoditi tanaman pangan dengan sistem wanatani/agroforrestry di bawah tegakan hutan tanaman jati. padi gogo galur Dt-15/II/KU dan varietas jatiluhur mempunyai peluang di kembangkan memlalui penelitian pengembangan  dalam skala luas.
EFEKTIVITAS BENTUK INOKULUM CENDAWAN Scleroderma citrinum Persoon DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN SEMAI Pinus merkusii Jungh Sugiarti Sugiarti; Darwo Darwo; Dimpu J. Panjaitan
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.1.1-12

Abstract

Kegiatan merehabilitasi lahan kritis perlu memperhatikan karakteristik lahan dengan pemilihan jenis yang adaptif dan dapat bersimbiosis dengan mikroorganisme tanah, seperti mikoriza. Penggunaan mikoriza telah menyumbangkan manfaat  yang  banyak  dalam  meningkatkan  mutu  dan  pertumbuhan  semai.  Penelitian bertujuan   untuk   mengetahui   efektifitas   inokulum  cendawan   Scleroderma   citrinum   Persoon   dalam menginfeksi akar semai Pinus merkusii Jungh. Et de Vriese, pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan kualitas semai. Rancangannya menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan (serbuk, suspensi, kapsul dan kontrol).  Hasilnya menunjukkan semai Pinus merkusii Jungh. Et de Vriese yang telah diinokulasi dalam bentuk inokulum serbuk spora dapat meningkatkan pertambahan tinggi, diameter dan berat kering total berturut-turut adalah 210 %, 173 %, dan 196 % terhadap kontrol. Inokulum suspensi telah meningkatkan pertambahan tinggi, diameter, dan berat kering total semai berturut-turut adalah 178 %, 141 %, dan 170 % terhadap kontrol. Dan inokulum kapsul telah meningkatkan pertambahan tinggi, diameter dan berat kering total semai berturut-turut adalah 157 %, 131 %, dan 168 % terhadap kontrol. Nilai rasio akar pucuk semai untuk semua perlakuan berkualitas baik. Nilai indeks kualitas semai yang bermikoriza termasuk kualitas baik.  Inokulum serbuk  spora  termasuk klasifikasi persentase pembentukan mikoriza  yang  sangat  baik, suspensi spora termasuk baik dan kapsul spora termasuk sedang. Penggunaan bentuk inokulum suspensi spora lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan inokulum serbuk spora dan kapsul spora. 
STUDI BIOFISIK DAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DALAM RANGKA MEMANTAPKAN PENGELOLAAN DAS RONGKONG Ogi Setiawan; Ryke Nandini
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.4.401-419

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di DAS Rongkong, Kabupaten Luwu Utara Adapun tujuannya adalah untuk mendapatkan data dan informasi   biofisik, sosial dan ekonomi masyarakat dan informasi tentang arahan penggunaan lahan di DAS Rongkong. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahap kegiatan, yaitu interpretasi peta, pengamatan lapangan sena wawancara dan studi literatur. DAS Rongkong mempunyai luas 182.011,3 ha, penggunaan lahan DAS Rongkong didominasi hutan campuran 110.839,5 ha (61,4%) dan kebun campuran 44.098.5 ha (23,9%). Tipe  iklim DAS Rongkong adalah A (sangat basah), jenis  tanah dominan podsolik merah kuning (45,5%) dan kelas lereng  didominasi lereng sangat curam (> 40%). Nilai KRS mernpunyai kecenderungan semakin rneningkat dari  tahun ke  tahun dengan tingkat erosi 2,01 ton/ha/tahun dan laju sedimentasi 1,35 mm/tahun.  Berdasarkan hasil analisis aliran permukaan, penyumbang aliran   permukaan terbesar adalah kebun campuran dan kebun sejenis. Kelas KPL yang  mendominasi DAS Rongkong adalah KPL  IV. Jumlah penduduk DAS Rongkong 122.468  jiwa, dengan tingkat pendapatan Rp 225.000,-/bulan- Rp 275.000,-/bulan. DAS Rongkong mempunyai kelembagaan formal dan informal yang berpotensi untuk dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengelolaan DAS. Berdasarkan kriteria   dan indikator hidrologi, lahan, sosial, ekonomi dan budaya DAS Rongkoog mempunyai skor nilai 1,96 yang berarti bahwa kondisi DAS Rongkong termasuk sedang. Arahan pemantapan pengelolaan DAS Rongkong adalah perbaikan kualitas penggunaan lahan, penerapan teknik konservasi  tanah dan air  serta adanya dukungan institusional
KOMPOSISI DAN STRUKTUR TEGAKAN, BIOMASA, DAN POTENSI KANDUNGAN KARBON HUTAN MANGROVE DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO N. M. Heriyanto; Endro Subiandono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.1.023-032

Abstract

Penelitian dilakukan pada bulan April sampai bulan Mei 2011 bertujuan untuk memperoleh informasi tentang keragaman, jenis, struktur tegakan  dan kandungan karbon pada hutan mangrove, di Resort Bedul Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Plot dibuat di tiga tempat diulang tiga kali, ukuran sub plot 10m x 10m.Hasil penelitian menunjukkan pada sepanjang sembilan km riverine mangrove tercatat 13 jenis yaitu, Rhizophora apiculata Blume, Rhizophora mucronata Blume, Bruguiera gymnorhyza (L). Savigny, Bruguiera cylindrica W.et.A., Avicennia marina L., Avicennia officinalis L., Cordia bantamensis Blume, Xylocarpus molucensis L., Xylocarpus granatum Koen., Heritiera littoralis Dryand. Aiton., Sonneratia alba Griff., Sonneratia caseolaris (L) Engl., dan Luminitzera littorea Voigl. Empat jenis mendominasi tegakan yaitu: B. cylindrica, dengan kerapatan 1367 pohon/ha,R. mucronata dengan kerapatan 1.033 pohon/ha, A. officinalis, dengan kerapatan 167 pohon/ha dan X. moluccensis, kerapatannya 167 pohon/ha. Tingkat semai didominir oleh jenis R. mucronata dengan kerapatan sebesar 2.500 batang/ha, sedangkan untuk tingkat belta pada semua plot tidak dijumpai. Biomasa dan kandungan karbon di lokasi penelitian didominir oleh jenis R. mucronata sebesar 217,22 ton/ha (108,61 ton C/ha, serapan karbon dioksidanya sebesar 398,60 ton CO2/ha), dan jenis B. cylindrica sebesar 115,66ton/ha (57,83 ton C/ha setara 212,24 CO2/ha).  Jenis A. officinalis sebesar 18,99ton/ha (9,49 ton C/ha setara 34,83 CO2/ha), dan jenis  X. Moluccensissebesar 6,92ton/ha (3,46 ton C/ha setara 12,70 CO2/ha).
PENGARUH KONDISI KEMASAKAN BENIH DAN JENIS MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI TANAMAN PENGHASIL GAHARU JENIS KARAS Yana Sumarna
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.2.129-135

Abstract

Gaharu tergolong Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang memiliki nilai guna yang kompleks, selain sebagai bahan  parfum dan kosmetika,  juga sebagai  bahan  baku  industri obat-obatan. Produk  gaharu  semula dihasilkan dari pohon penghasil yang telah mati, akan tetapi kini masyarakat mencari gaharu dengan cara menebang pohon hidup yang bisa mengancam kelestarian sumberdaya pohon penghasil. Sejak tahun 2004 jenis Aquilaria spp. dan Gyrinops sp telah ditetapkan sebagai tumbuhan langka dalam Appendix II oleh Komisi II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Upaya konservasi sumberdaya pohon penghasil gaharu untuk menjaga kelestarian produksi dapat dilakukan melalui upaya pembudidayaan. Sesuai sifat biologis tumbuhan, bahan tanaman penghasil gaharu dapat dibudidayakan dengan benih yang jatuh di bawah pohon induk atau dengan cara pengumpulan benih dari hasil pemanenan buah yang telah matang secara fisiologis. Secara teknis pertumbuhan benih untuk menghasilkan anakan tingkat semai yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan dipengaruhi oleh jenis media perkecambahan yang digunakan. Melalui pengujian terhadap benih jatuh (A) dan benih dari buah hasil panen (B) yang dikecambahkan dengan tiga perlakuan jenis media: (a) tanah, (b) tanah + kompos organik (1 : 1), dan (c) tanah + pasir zeolit, diperoleh persen tumbuh benih jatuh (A) sekitar 82,88% dan benih dari buah matang sekitar 70,33% setelah tiga bulan tanam, dengan media perkecambahan yang baik ditunjukkan oleh perlakuan campuran tanah dengan kompos organik (b)
STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA MANGROVE DI KAWASAN PANTAI TANJUNG BARA, KUTAI TIMUR , KALIMATAN TIMUR Endang Karlina
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2015.12.2.191-208

Abstract

Kawasan mangrove Pantai Tanjung Bara Sangatta merupakan bagian kawasan yang dikelola pertambangan batu  bara  PT.  Kaltim Prima  Coal dan  sedang  dikembangkan sebagai  obyek  dan  atraksi  wisata  alam. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rumusan strategi pengembangan ekowisata di kawasan mangrove mencakup : (1) identifikasi potensi penawaran ekowisata; (2) identifika si potensi permintaan ekowisata dan (3) strategi pengembangan ekowisata di kawasan mangrove. Penelitian dilaksanakan dari Januari hingga April 2010. Potensi penawaran dan permintaan ekowisata dinilai melalui analisis penilaian kriteria pengem bangan ADO-ODTWA. Analisis SWOT digunakan untuk merumuskan strategi pengembangan ekowisata. Hasil penelitian unsur penawaran yang utama berupa keindahan, fasilitas dan kegiatan wisata alam secara kumulatif mempunyai  nilai 204 (klasifikasi tinggi) dan nilai unsur penunjang ekowisata mempunyai nilai 472 (klasifikasi tinggi ), maka kawasan mangrove berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. Posisi strategi pengembangan ekowisata di kawasan mangrove berada pada kuadran I, yaitu dengan menggunakan kekuatan internal untuk mengambil keuntungan dari peluang eksternal. Strategi yang dapat dikembangkan adalah (1) mengembangkan produk ekowisata minat khusus mangrove; (2) meningkatkan fasilitas dan sarana; (3) meningkatkan mutu sumberdaya manusia yang kompeten; (4) membuat jejaring website ekowisata mangrove dan (5) meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah Kabupaten Kutai Timur terkait dengan pengawasan terhadap kelestarian dan kebersihan kawasan mangrove
PERTUMBUHAN MERANTI (Shorea spp.) PADA SISTEM TEBANG PILIH TANAM JALUR DENGAN TEKNIK SILVIKULTUR INTENSIF (TPTJ-SILIN) Widiyatno Widiyatno; Soekotjo Soekotjo; Moh Naiem; Suryo Hardiwinoto; Susilo Purnomo
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2011.8.4.373-383

Abstract

Penanaman pengayaan intensif pada kawasan hutan bekas tebangan (Logged Over Area, LOA), telah dilakukan oleh PT Sari Bumi Kusuma sejak tahun 1999. Luas kawasan yang telah ditanami dengan jenis-jenis indigenous grup meranti sekitar 21.000 ha sampai dengan tahun 2007. Jenis meranti yang digunakan untuk penanaman adalah Shorea leprosula Miq, S. parvifolia Dyer, S. platyclados Sloot. ex Foxw, S. johorensis Foxw dan S. dasiphylla Foxw. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi hasil evalusi pertumbuhan jenis-jenis Dipterocarpa terpilih dan pengaruh naungan terhadap pertumbuhan yang ditanam dengan sistem Tebang Pilih Tanam Jalur dengan penerapan teknik silvikultur intensif (TPTJ-SILIN). Penelitian mengunakan tanaman meranti pada sistem TPTJ yang telah berumur 1-5 tahun. Pada setiap kelas umur tanaman dibuat 10 buah plot PUP monitoring dengan ukuran 50 m x 100 m (0,5 ha). Dari penanaman lima tahun terakhir riap DBH tanaman tertinggi adalah S.leprosula Miq, yaitu 1,94 cm/thn dan diikuti oleh S.platyclados Sloot. ex Foxw, S.johorensi Foxw, S.parvifolia Dyer dan S.dasiphylla Foxw yang masing-masing mempunyai riap DBH sebesar 1,81, 1,59, 1,58 dan 1,49 cm/thn. Pertumbuhan yang masih sangat bervariasi di lapangan disebabkan karena perbedaan tingkat naungan. Perbaikan tipe naungan 1-2 dan 1-3 akan meningkatkan perkembangan DBH antara 17-69% dan 20-96%.  Sedangkan pada variabel tinggi perbaikan tipe naungan 1-2 dan  tipe naungan 1-3, masing-masing akan meningkatkan pertumbuhan tinggi antara 18-22% dan 18-33%.
HABITAT DAN POTENSI REGENERASI POHON PAKAN BEKANTAN (Nasalis larvatus) DI KUALA SAMBOJA KALIMANTAN TIMUR Kade Sidiyasa; Noorhidayah Noorhidayah; Amir Ma'ruf
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.4.409-416

Abstract

Bekantan (Nasalis larvatus) yang merupakan salah satu satwa endemik di Kalimantan juga dijumpai pada hutan mangrove di Kuala Samboja Kalimantan Timur. Kondisi habitat dan potensi regenerasi pohon pakannya telah diteliti.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sonneratia caseolaris sebagai sumber pakan utarna  bekantan mendorninasi tegakan pada semua tingkat pertumbuhan (pohon, pancang, semai).  Berdasarkan penyebaran kelas diameter batang, proses regenerasi alami pada tingkat pohon berlangsung dengan sangat baik yang dicirikan oleh kehadiran pohon-pohon yang berdiameter batang kecil (10-20 cm) dengan jumlah terbanyak. Kondisi regenerasi yang baik tidak dijurnpai pada tingkat pancang dan semai.  Terutama pada tingkat semai bahkan sangat rendah, hanya terdapat sebanyak 39,68 semai/ha.  Tidak ada anakan dari jenis pohon lain yang tercatat pada tingkat sernai.  S.  caseolaris diketahui sebagai sumber pakan yang utama bagi bekantan di Kuala Samboja.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue