cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
INTERAKSI MASYARAKAT DENGAN HUTAN DAN LINGKUNGAN SEKITARNYA DI KAWASAN DAN DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KUTAI Reny Sawitri; Sri Suharti; Endang Karlina
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2011.8.2.129-142

Abstract

Taman Nasional Kutai (TNK) seluas 198.629 ha, sejak tahun 2000-an mulai dirambah penduduk untuk dimanfaatkan sebagai tempat pemukiman, lahan perkebunan dan tambak seluas 53.629 ha (27%), sehingga hutan yang tersisa dan masih utuh sekitar 145.000 (73%). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kondisi interaksi masyarakat di dalam kawasan maupun daerah penyangga TNK, melalui wawancara dengan responden sebanyak 33 KK (Kepala Keluarga) yang dipilih secara purposive. Keterkaitan masyarakat dengan TNK dibedakan berdasarkan tipologi masyarakat berlatar belakang sosial ekonomi dan budaya berbeda yaitu dari etnis Dayak, Kutai, Jawa dan Bugis. Interaksi masyarakat ke dalam kawasan TNK dilakukan dengan berbagai tujuan antara lain untuk memperluas lahan garapan masyarakat, sedangkan bagi pemerintah daerah dilakukan guna memperluas daerah dalam rangka otonomi daerah. Untuk mengatasi masalah perambahan hutan hendaknya didasarkan pada aspek konservasi untuk mengembalikan fungsi kawasan TNK seperti semula, sedangkan pelestarian dan pengembangan pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang termasuk keanekaragaman tumbuhan lokal dan endemik Kalimantan seperti buah-buahan dan bahan pewarna perlu disosialisasikan dan dibudidayakan di kebun rakyat baik untuk masyarakat lokal maupun pendatang.
KARBON TANAH DAN PENDUGAAN KARBON TEGAKAN Avicennia marina (Forsk.) Vierh. DI CIASEM, PURWAKARTA I Wayan Susi Dharmawan; Chairil Anwar Siregar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.4.317-328

Abstract

Meningkatnya  kandungan  karbondioksida  (CO2 ) di atmosfer merupakan salah  satu  faktor  penyebab terjadinya perubahan iklim dunia (global climate change). Penambatan karbondioksida melalui berbagai vegetasi hutan, misalnya di hutan mangrove diyakini sebagai salah satu upaya penurunan kandungan gas karbondioksida dari atmosfer. Avicennia marina (Forsk.) Vierh. sebagai salah satu jenis pohon pada tegakan mangrove memiliki potensi penambatan karbondioksida yang cukup besar. Selain melakukan pendugaan kandungan karbon pada tegakan Avicennia marina, juga dilakukan analisis karbon organik tanah.  Kegiatan penelitian ini dilakukan di BKPH Ciasem, KPH Purwakarta, Perum Perhutani Unit III – Jawa Barat dan Banten. Dari lima plot pengambilan contoh tanah, diperoleh hasil rata-rata kandungan karbon organik tanah sebesar 2,9%. Kandungan karbon organik tanah ini tergolong sedang.   Berdasarkan hasil dari sampling dengan merusak pohon di lapangan, diperoleh persamaan allometrik kandungan biomasa (Y) sebagai berikut: untuk biomasa atas Y = 0,1848(DBH)2,3524 R2 = 0,9839, untuk biomasa bawah   Y = 0,1682(DBH)1,7939 R2  = 0,8581, dan untuk biomasa total  Y = 0,2905(DBH)2,2598 R2 = 0,9815.  Tegakan A. marina di BKPH Ciasem memiliki potensi kandungan biomasa total sebesar 364,9 ton/ha dan kandungan karbon sebesar 182,5 ton/ha. Nilai serapan CO2 total tegakan A. marina (Forsk.) Vierh. di BKPH Ciasem adalah 669,0 ton/ha dengan nilai serapan CO2 rata-rata 14,2 ton/ pohon.
TEKNlK PEMBIBITAN BITTI (Vitex cofassus Reinw.) SECARA KULTUR JARINGAN Suhartati Suhartati
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.2.165-176

Abstract

Teknik pembibitan  bun (vire» rofassus  Remw.)  dilakukan  di Laboratorium  Kultur  Jaringan  Balai Penelitian dan  Pcngcmbangan   Kehutanan   Sulawesi,   Makassar,  Penelittan   perbanyakan tanaman bitu secara kultur jaringan,   bertujuan  untuk  mendapatkan  informasi  tcntang kombinasi   antara sumber eksplan   dan jems zat pcngatur tumbuh   yang  terbaik untuk  perkembangan   kalus,  serta  komposrsi   media yang tcrbaik  untuk perturnbuhan planlct  tanaman  bitti.   Pcrlakuan  yang dicobakan  adalah  kombinasi  antara sumber eksplan  dan jcnis  zat  pengatur   turnbuh, dan  perlakuan   berbagai jems  komposisi   media  kultur.   Hasrl  pcnclitian menunjukkan bahwa  kombmasi   antara  sumbcr eksplan  embrio  dan  0, 1            ppm  NAA  menghasilkan pcrkernbangan  kalus  yang terbaik yaitu  90 %.  Komposist  media  yang tcrbaik    untuk pcrtumbuhan   tunas planlet adalah   1,0  ppm BAP + 1,0  ppm GA3.  Media tersebutjuga dapat untuk perbanyakan  bibit brrti  secara kultur jaringan.
PENGUSAHAAN REBUNG BAMBU OLEH MASYARAKAT, STUDI KASUS DI KABUPATEN DEMAK DAN WONOSOBO Asmanah Widiarti
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.1.51-61

Abstract

KESESUAIAN JENIS UNTUK PENGAYAAN HABITAT ORANGUTAN TERDEGRADASI DI DAERAH PENYANGGA CAGAR ALAM DOLOK SIBUAL- BUALI Wanda Kuswanda; Asep Sukmana
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2009.6.2.125-139

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang pertumbuhan dan jenis tanaman yang sesuai untuk pengayaan pada berbagai tipe lahan terdegradasi yang berfungsi sebagai habitat orangutan (Pongo abelii Lesson) di daerah penyangga Cagar Alam Dolok Sibual-buali, Tapanuli Selatan. Parameter pertumbuhan (pertumbuhan tinggi, persen hidup, dan persen kesehatan tanaman) diamati pada plot seluas 0,4 ha (10 plot dengan ukuran 20 m x 20 m setiap plot), lima plot untuk setiap perlakuan pola tanam (pola jalur dan pola acak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis yang memiliki pertumbuhan tertinggi pada pola jalur adalah rambutan (Cryptocarya nitens (Blume) Koord.&Val.) sebesar 0,88cm/bulan dan pada pola acak adalah meranti (Shorea leprosula Miq) sebesar 0,93 cm/bulan. Begitu pula, berdasarkan klasifikasi tipe lahan adalah rambutan sebesar 1,2 cm/bulan (lahan kosong dan budidaya) dan durian (Durio zibethinus Murr) sebesar 0,93 cm/bulan (hutan sekunder). Jenis yang memiliki persen hidup tertinggi pada pola tanam jalur adalah durian sebesar 96% dan pada pola acak adalah medang (Litsea odorifera Valeton) sebesar 84%. Rata- rata persen kesehatan tanaman pada pola tanam jalur sebesar 65% dan pada pola acak 64,9%. Hasil analisis uji t  diperoleh bahwa pola tanam tidak berpengaruh terhadap persen hidup dan persen kesehatan tanaman. Jenis tanaman yang sesuai untuk pengayaan habitat pada tipe hutan rakyat sebagai jalur hijau adalah meranti (S. leprosula) dan medang (L. odorifera), pada lahan kosong atau semak belukar sebagai daerah interaksi adalah kombinasi antara tanaman penghasil kayu dengan MPTs (multipurpose tree species); dan pada lahan budidaya adalah tanaman MPTs, seperti durian (D. zibethinus), nangka (Artocarpus integra Merr), dan rambutan (C. nitens).
KESESUAIAN JENIS MURBEI DAN BIOFISIK DAERAH KERING SULAWESI SELATAN Budi Santoso; Bintarto Wahyu Wardani; Retno Prayudyaningsih
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.5.533-539

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kesesuaian jenis murbei, curah hujan, dan fisik serta kimia tanah daerah pengembangan persuteraan alam di Sulawesi Selatan pada musim kemarau. Penelitian dilaksanakan di dua lokasi yaitu Lawowoi (Kabupaten Sidrap) dan Sabbangparu (Kabupaten Wajo). Pada setiap lokasi dibagi menjadi tiga blok dan setiap blok terdiri atas sembilan jenis/varietas murbei. Parameter yang diamati adalah produktivitas  daun, curah hujan, sifat fisik dan kimia tanah. Produksi daun tertinggi di Wajo dan Sidrap dihasilkan oleh Morus khunpai K. yaitu 193,67 g/tanaman di Wajo dan 194,00 g/tanaman di Sidrap. Curah hujan di Lawowoi (Sidrap) dan Sabbangparu (Wajo) rendah, sehingga kurang mendukung untuk pertumbuhan tanaman murbei. Tanah di Lawowoi layak digunakan untuk budidaya tanaman murbei, namun harus ditambahkan pupuk nitrogen, kalsium, dan posfor. Sedang tanah di Sabbangparu harus dipupuk dengan nitrogen, kalsium, dan posfor serta diperbaiki tekstur tanahnya. 
DAYA DUKUNG KAWASAN HUTAN BATURRADEN SEBAGAI HABITAT PENANGKARAN RUSA R Garsetiasih
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.5.531-542

Abstract

Penelitian terhadap kawasan hutan Baturraden Petak 6d telah dilakukan dari bulan Juli 2005 sampai November 2006 untuk memperoleh informasi besarnya daya dukung  habitat penangkaran rusa. Pengamatan dilakukan pada aspek-aspek habitat seperti ketersediaan pakan (kualitas dan kuantitas), naungan, ruang, dan ketersediaan air.  Ketersediaan pakan ditentukan oleh  potensi tumbuhan bawahnya, sedangkan naungan ditentukan oleh potensi pohonnya. Potensi tumbuhan bawah diketahui melalui analisis vegetasi dengan menggunakan plot ukuran 1 m x 1 m, sedangkan potensi pohon yang berfungsi sebagai naungan  melalui pengukuran tinggi, diameter, dan jumlah pohon. Penentuan plot pertama dilakukan secara acak, plot selanjutnya secara sistematik, jumlah yang diamati sebanyak 20 plot, jarak antar plot 10 m. Dari hasil pengamatan  ditemukan  12  spesies  tumbuhan  bawah  sebagai  pakan  rusa  di  antaranya  pacing  (Costus speciasus Smith), kaliandra (Calliandra callothyrsus Benth.), dan rumput pait (Axonopus compressus L.) dengan masing-masing produktivitas secara berurutan yaitu 30,50 kg/ha/hari; 20,90kg/ha/hari; dan 13,50 kg/ha/hari. Berdasarkan hasil perhitungan produktivitas tumbuhan pakan, diketahui bahwa Petak 6d kawasan hutan Baturraden dapat menyediakan pakan sebesar   95,50 kg/ha/hari dalam berat segar, atau dapat mendukung  rusa sebanyak 11,14 individu/ha atau untuk keseluruhan Petak 6d (6 ha) dapat menampung 56 individu jenis rusa timor (Cervus timorensis russa Mul. & Schl 1844) atau 111 individu rusa totol (Axis axis Erxleben 1777). 
ZONASI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI BERDASARKAN SENSITIVITAS KAWASAN DAN AKTIVITAS MASYARAKAT Ai Yuniarsih; Djoko Marsono; Satyawan Pudyatmoko; Ronggo Sadono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2014.11.3.239-259

Abstract

Kawasan Gunung Ciremai ditetapkan sebagai taman nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No 424/Kpts-II/Menhut/2004 tanggal 19 Oktober 2004. Penetapannya menimbulkan konflik di antara tujuankonservasi hutan dan biodiversitas dan tujuan kesejahteraan masyarakat, karena dinilai tidak disertai olehpenataan batas dan rencana pengelolaan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang zonasi TNGC secara spasial berdasarkan sensitivitas kawasan dan aktivitas masyarakatMetode penelitian yang digunakan adalah analisis spasial menggunakan tumpangsusun peta berdasarkanperingkat.Sensitivitas kawasan didasarkan pada analisis kondisi biologi dan fisik kawasan, meliputi analisisdaerah bahaya erosi, daerah tangkapan air, dan daerah perlindungan satwa. Aktivitas masyarakat didasarkanpada jenis dan penyebaran aktivitas masyarakat dalam kawasan TNGC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 36,13% kawasan TNGC diperuntukkan untuk zona inti, 9,36% untuk  zona rimba, 47,89% untuk zonarehabilitasi, 2,09% untuk zona pemanfaatan wisata alam, 4,32% untuk zona pemanfaatan air, 0,11% untuk zona religi, budaya dan sejarah, dan 0,097% kawasan TNGC dimana terdapat fasilitas jalan, saranatelekomunikasi dan listrik yang sudah lama ada sebelum kawasan menjadi taman nasional diperuntukkan sebagai zona khusus 
STATUS POPULASI DAN KONSERVASI BEKANTAN (Nasalis larvatus Wurmb. 1787) DI HABITAT RAWA GELAM, KALIMANTAN SELATAN Sofian Iskandar; Hadi S. Alikodra; M. Bismark; Agus P. Kartono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2017.14.2.123-132

Abstract

ABSTRACTA study on population of proboscis monkey (Nasalis larvatus Wurmb.) was conducted in the area of riparian ecosystem of Rawa Gelam, Tapin District, South Kalimantan duringthe period of February-March 2014. The purpose of this study was to determine the condition and the structure of the proboscis monkey population living outside the forest area. Rawa Gelam ecosystem is a cultivation area located on riverbanks of the Puting river. The remaining vegetation at Rawa Gelam contains only a maximum of 200 meters in width, and behind it there were paddy fields and palm oil plantations. The population of proboscis monkeys was counted using Total Count Sampling method. Result of this study showed that the population of proboscis monkeys in Rawa Gelam consisted of nine groups, with the total number of individuals was 192. The population density was 28.34 individuals/km2 with a group density of 1.34 groups/km2. In addition to this species, Rawa Gelam habitat was also inhabited by two other primate species. Seven groups of long-tailed macaques (Macaca fascicularis) and five groups of langurs (Trachyphitecus auratus) were recorded from this area, with the number of individuals of 47 and 76, respectively. The main threat of proboscis monkey's conservation in Rawa Gelam was habitat destruction and change of habitat function. Proboscis monkeys can be saved from the local extinction through habitat restoration needs to be done by applying agroforestry system and developing integrated ecotourism development.Keywords: Conservation, Nasalis larvatus, proboscis monkey, population, Rawa Gelam.ABSTRAKPenelitian populasi bekantan dilakukan di kawasan ekosistem riparian Rawa Gelam, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan pada bulan Februari-Maret 2014. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi populasi dan struktur kelompok bekantan yang hidup di luar kawasan hutan. Kawasan ekosistem Rawa Gelam merupakan lahan budidaya yang terletak di kanan-kiri Sungai Puting. Vegetasi Rawa Gelam yang tersisa hanya selebar maksimal 200 meter dan di belakangnya terdapat persawahan dan kebun kelapa sawit. Penghitungan populasi bekantan dilakukan dengan metode Total Count Sampling. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui populasi bekantan di Rawa Gelam sebanyak sembilan kelompok bekantan, dengan jumlah 192 individu. Kepadatan populasi bekantan di kawasan ekosistem Rawa Gelam adalah 28,34 individu/km2 dengan kepadatan kelompok 1,34 kelompok/km2. Selain bekantan, kawasan Rawa Gelam juga dihuni oleh dua jenis primata lainnya, yaitu Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dan Lutung Hitam (Trachyphitecus auratus). Tercatat ada lima kelompok Lutung Hitam dengan jumlah 47 individu dan tujuh kelompok monyet ekor panjang dengan jumlah 76 individu. Ancaman utama konservasi bekantan di Rawa Gelam adalah perusakan habitat dan perubahan fungsi kawasan. Untuk menyelamatkan bekantan dari kepunahan lokal, perlu dilakukan restorasi habitat dengan menerapkan pola agroforestridan pengembangan ekowisata terpadu.Kata kunci: Konservasi, Nasalis larvatus, bekantan, populasi, Rawa Gelam.
STUDI STRUKTUR POPULASI RUSA TOTOL (Axis axis ERXL) DI TAMAN ISTANA BOGOR Raden Garsetiasih; Nina Herlina
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.1.61-70

Abstract

Tujuan  penelitian   untuk mengetahui   dinamika  dan strulctur populasi  Rusa Toto! di Taman  Istana  Bogor. Penghitungan    jumlah   rusa  menggunakan   metode   konsentrasi,   yaitu  pengamatan   dilakukan   terpusat pada  tempat rusa melakukan   aktivitas  makan  dan istirahat.  Untuk  pengamatan   strulctur umur  dilakukan dengan  penggolongan     rusa  berdasarkan   kematangan  kelamin  dan ukuran  besar  tubuh  ke dalam  kelas dewasa produktif,  dewasa tidak produkktif,  remaja hampir dewasa, rernaja muda, dan anak. Hasil penelitian menunjukkan   populasi  rusa  di Tarnan Istana  Bogor  total  759 individu  (jantan  236 individu,  betina  450 individu,  dan anak  73 individu), kelas  umur dewasa  produktif 351  individu,  dewasa  tidak  produktif 54 individu, remaja hampir  dewasa  172 individu, rernaja muda  109 individu,  dan anak 73 individu. Kepadatan populasi    rusa sebesar  38 individu/ha,  sedangkan  berdasarkan   perhitungan   ketersediaan   pakan  Taman Istana Bogor  hanya  dapat  menampung   13 individu/ha.   Hal  ini menunjukkan bahwa  populasi   rusa yang ada di Taman Istana Bogor  telah melebihi  daya dukung,  sehingga  perlu  dilakukan  manajemen  populasi  di antaranya  dengan   mengeluarkannya    atau  rusa  di  Taman  Istana   Bogor   dapat  dijadikan    stok  untuk pengembangan    Rusa  Toto!  di tempat  yang  lain.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue