cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
KAJIAN SOSIAL EKONOMI DAN PERSEPSI MASYARAKAT LOKAL TERHADAP REINTRODUKSI BADAK JAWA Hendra Gunawan; Widodo S. Ramono; Andy Gillison; Waladi Isnan
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.4.395-407

Abstract

Program  reintroduksi  menjadi  pilihan  terakhir  upaya  penyelamatan badak jawa  (Rhinoceros  sondaicus Desmarest, 1822) dari kepunahan dengan menciptakan suatu meta populasi di habitat-habitat alternatif yang pernah menjadi daerah sebarannya.  Selain perlu studi kesesuaian dan kelayakan habitat, juga perlu kajian faktor-faktor eksternal non teknis yang dapat mempengaruhi keberhasilan program reintroduksi antara lain kondisi sosial-ekonomi, persepsi, dan dukungan masyarakat di sekitar calon habitat kedua.   Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kondisi sosial-ekonomi, persepsi, dan sikap masyarakat di sekitar calon habitat serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini dilaksanakan di Gunung Honje (Taman Nasional Ujung Kulon) dan Gunung Halimun (Taman Nasional Gunung Halimun-Salak).   Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum masyarakat sekitar calon habitat kedua badak jawa di Gunung Honje dan Gunung Halimun adalah petani dengan tingkat kesejahteraan rendah dan ketergantungan terhadap sumberdaya hutan yang tinggi. Dukungan terhadap program reintroduksi badak oleh  responden sekitar Gunung Honje hanya 46%, dan dari responden sekitar Gunung Halimun 23%.  Sementara  penolakan dari responden sekitar Gunung Honje 24% dan penolakan dari responden sekitar Gunung Halimun mencapai 54%.  Sikap, dukungan atau penolakan terhadap reintroduksi badak dari responden sekitar Gunung Honje secara sangat signifikan dipengaruhi oleh status mereka (perambah/bukan perambah), citra taman nasional di mata masyarakat dan persepsi terhadap hutan, taman nasional, dan badak. Sementara di sekitar Gunung Halimun dipengaruhi secara signifikan oleh citra taman nasional dan sangat signifikan oleh persepsi masyarakat terhadap hutan, taman nasional, dan badak.
KERAGAMAN KUPU-KUPU DI RESORT SELABINTANA TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO, JAWA BARAT Benyamin Dendang
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2009.6.1.25-36

Abstract

Penelitian keragaman kupu-kupu dilaksanakan di Resort Selabintana, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang keragaman jenis kupu- kupu di Resort Selabintana sebagai salah satu indikator perubahan ekologi dan meningkatkan pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dalam pemanfaatan sumberdaya alam khususnya bagi kegiatan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman kupu-kupu cukup tinggi dengan ditemukannya 17 jenis kupu-kupu dari enam famili. Famili yang dominan ditemukan adalah Nymphalidae yang banyak terdapat di daerah penyangga.
KAJIAN TENTANG PENERAPAN METODE INVENTARISASI SAGU (Metroxylon sp.) DI KELOMPOK HUTAN KAPAU - PROVINSI RIAU Bambang Edy Siswanto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2004.1.1.26-33

Abstract

Penelitian Metode inventerisasi sagu (Metroxylon sp.) dilaksanakan dengan membuat petak seluas 200 hektar (2000 m x 1000 m) di Kelompok Hutan Kapau (Pulau Tebing Tinggi), Kwsatuan Pemangkuan Hutan Sekat Panjang, Riau. Pengumpulan data (standing stock) dilakukan dengan memngunakan teknik sampling dengan membuat jalur selebar 20 meter, jarak antara jalur 100 meter denguan ukuran petak pengamat 20 m x 20 m per jalur. Data yang dikumpulkan adalah jumlah rumpun, jumlah batang, diameter dan tinggi pohon serta jumlah anakan, Tiga teknik sampling yang diuji adalah metode jalur tidak terputus dengan lebar jalur 20 meter, metode petak dalam jalur dan metode petak dala sistematik dengan ukuran petak contoh 20 m x 50 m atau bentuk lingkaran dengan R = 17,8meter (luas0,1 ha). Intensitas sampling yang digunakan masing - masing sebesar 10%, 5%, 4%, dan 2%. Hasil penelitian adalah:1) Metode jalur tidak terputus dengan lebar jalur 20 meret intensitas sampling 10% dapat digunakan  untuk inventarisasi sagu alam dengan ketelitian hasil taksiran cukup memadai , dan 2) Metode petak contoh sistematik dengan luas plot 0,1 hektar (ukuran 20 m x 50 m atau lingkaran dengan R = 17,8 meter) dapat digunakan untuk inventerisasi anakan sagu dengan ketelitian hasil taksiran cukup memadai.
MODEL DINAMIKA STRUKTUR TEGAKAN UNTUK PENDUGAAN HASIL DI PT. INTRACAWOOD MANUFACTURING, KALIMANTAN TIMUR Djoko Wahjono; Rinaldi Imanuddin
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.4.419-428

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model dinamika struktur tegakan yang dapat digunakan dalam memproyeksi pendugaan hasil di hutan alam bekas tebangan, sehingga diharapkan dapat membantu perencanaan produksi terutama dalam pengaturan hasil. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pengukuran ulang petak-petak ukur permanen (PUP) yang terdapat di kawasan konsesi HPH PT. Intracawood Manufacturing (Unit Sesayap), Kalimantan Timur. PUP tersebut sudah diukur ulang sebanyak tujuh kali pengukuran dalam waktu 10 tahun. Tegakan yang dijadikan obyek penelitian menggambarkan sebaran pohon berdasarkan kelas diameter dan kelompok jenis, meliputi komersial, non komersial, dan semua jenis. Dalam penelitian ini, dicoba untuk mendapatkan model dinamika struktur tegakan dengan memodifikasi persamaan eksponensial hubungan N dan D dengan menambahkan parameter jumlah pohon pada pengukuran awal, jumlah pohon tahun sebelumnya serta waktu. Model dinamika struktur tegakan yang dihasilkan, antara lain :- Komersial: Ndit = (0,34305+Ndit-1 ) e(0,01225 Ln Ndit-1 - 0 ,00261 N0di / t - 0,00101 Di)- Non-Komersial: Ndit = (0,16391+Ndit-1 ) e(0,02388 Ln Ndit-1 - 0 ,01177 N0di / t - 0,00204 Di)- Semua Jenis: Ndit = (0,41258+Ndit-1 ) e(0,01205 Ln Ndit-1 - 0 ,00209 N0di / t - 0,00110 Di)dimana, Ndit adalah jumlah pohon pada kelas diameter i pada waktu t; Ndit-1 adalah jumlah pohon pada kelas diameter i pada waktu t-1; Di adalah kelas diameter ke i; N0 di adalah jumlah pohon pada kelas diameter i pada awal pengukuran; t adalah tahun pengukuran. Model dinamika struktur tegakan tersebut mempunyai tingkat ketelitian yang tinggi dengan nilai koefisien determinasi (R2) lebih dari 0,998 untuk masing-masing model. Hasil proyeksi volume tegakan menunjukkan rata-rata riap volume tegakan pada diameter 50 cm ke atas adalah 2,080 m3/ha/tahun untuk jenis komersial; 0,308 m3/ha/tahun untuk jenis non-komersial; dan 2,372 m3/ha/tahun untuk semua jenis.
KESESUAIAN JENIS POHON PADA LAHAN KRITIS DI SUB DAS LESTI, JAWA TIMUR Pratiwi Pratiwi; Manjela Eko Hartoyo; Budi Hadi Narendra; I Wayan Susi D
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2014.11.2.183-204

Abstract

Keberhasilan penanaman pohon khususnya di lahan-lahan kritis, sangat ditentukan oleh berbagai faktor,seperti pemilihan jenis-jenis yang sesuai dengan kondisi biofisik daerah yang bersangkutan, tujuan usaha, cara penyiapan lahan dan sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh data dan informasi tentang jenis-jenis pohon yang sesuai untuk lahan-lahan kritis di Sub DAS Lesti, Jawa Timur. Informasi ini dituangkan dalam peta kesesuaian tempat tumbuh jenis pohon yang diperoleh dengan mencocokkaninformasi persyaratan tempat tumbuh suatu jenis pohon terhadap peta kondisi tanah, topografi, iklim (curah hujan) dan peta tingkat kekritisan lahannya. Peta kesesuaian ini diharapkan dapat dipakai sebagai landasanuntuk menyusun perencanaan rehabilitasi lahan di Sub DAS Lesti berdasarkan prioritas tingkat kekritisannya.
APLIKASI ENDOMIKORIZA, PUPUK KOMPOS, DAN ASAM HUMAT DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN Khaya anthoteca Dx. PADA LAIIAN PASCA PENAMBANGAN BATU GAMPING DI CILEUNGSI-BOGOR Darwo Darwo; Yadi Setiadi; Erdy Santoso
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.2.195-207

Abstract

Aktivitas  reklarnasi  pada lahan  pasca penambangan batu garnpmg seperti  di  PT. Semen  Cibinong, Cileungsi. Kabupaten  Bogor sebagai bahan baku semen  menunjukkan  hasil yang tidak baik, hal ini, dikarenakan kurang rnemperhatikan karakteristik bekas  penambangan,  teknik  revegetasi, dan penggunaan mikroorganisme tanah Penelitian  ini bertujuan  untuk  mendapatkan  informasi  tentang  respon pertumbuhan  Khaya  anthotcca Dx. yang diinokulasi  cendawan Glomus aggregatum Schenk & Smith terhadap pemberian pupuk kompos dan asam humat pada lahan bekas penambangan batu gamping serta tingkat infeksi cendawan endomikoriza pada tanaman tersebut, Rancangan penelitian menggunakan faktorial  dalam Rancangan Acak Lengkap. Hasilnya menunjukkan bahwa kandungan unsur hara (P, K, dan Mg), kapasitas tukar kation, dan kejenuhan basa ada dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman, tetapi yang menjadi  faktor pembatas adalah reaksi tanah agak alkalis dengan nilai tukar kation Ca sangat tinggi dan kadar salinitas tinggi serta kandungan C-organik dan nitrogen sangat rendah. Dengan pernberian pupuk  kompos  2 kg dan atau 500 ml asam humat 1.500  ppm  belum cukup memenuhi kebutuhan hara tanaman  (kadar C-organik dan nitrogen masih termasuk rendah) dan ditunjukkan  tanaman  kekurangan nitrogen. Pertumbuhan tanaman  yang  terbaik, jika bibit  telah diinokulasi cendawan Glomus  aggregatum  Schenk & Smith yang ditanam pada lahan yang diberi 500  ml asam humat 1.500 ppm.  Asam humat mampu  meningkatkan pertumbuhan.  daya  hidup, dan persen infeksi akar bermikonza yang lebih baik,  lntroduks, cendawan Glomus aggregatum  Schenk &  Smith berkorelasi positif  dengan asam humat dan keberadaan cendawan endomikonza  dan asam humat bersifat smergis terhadap pertumbuhan Khaya anthoteca  Dx.
MANAJEMEN PENANGKARAN EMPAT JENIS KURA-KURA PELIHARAAN DAN KONSUMSI DI INDONESIA Purwantono Purwantono; Mirza Dikari Kusrini; Burhanuddin Masy’ud
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2016.13.2.119-135

Abstract

ABSTRACTFour species of turtles are bred in Indonesia comprising chinese softshell turtle (Pelodiscus sinensis Wiegmann, 1835), common softshell turtle (Amyda cartilaginea Boddaert, 1770), brazilian turtle (Trachemys scripta elegans Wied-Neuwied, 1839) and Rote turtle (Chelodina mccordi Rhodin, 1994). Chinese and common softshell turtles are usually for consumption, while brazilian and Rote turtles are for pet. This study aims to identify the technical aspects of the management of captive bred turtles in Indonesia. The study revealed that the technical aspects of the management of captive bred turtles includes : 1) procurement of hatchlings, 2) adaptation and acclimatization, 3) housing, 4) feeding and water management, 5) diseases and health care, 6) breeding/reproduction and egg hatching techniques, 7) maintenance, 8) harvesting and utilization, and 9) other support. All aspects are mutually supportive and related one another, forming a major factor and an important condition in ensuring business continuity and sustainability of production to achieve company goals. In addition, the study showed that the captive breeding of four species of turtles has been running well and fulfill the technical requirements. The turtles adapted to its environment, got adequate feed, met habitat suitability, and maintained good health so that they can breed and reproduce with an increasing population leading to an economically profitable business.Key words : Captive breeding, consumption, Indonesia, pet, turtlesABSTRAKEmpat jenis kura-kura yang ditangkarkan di Indonesia saat ini adalah labi-labi Cina (Pelodiscus sinensis Wiegmann, 1835), labi-labi (Amyda cartilaginea Boddaert, 1770), kura-kura Brazil (Trachemys scripta elegans (Thunberg, 1792) (Schoepff, 1792)) dan kura-kura Rote (Chelodina mccordi Rhodin, 1994). Labilabi Cina dan labi-labi umumnya untuk konsumsi, sedangkan kura-kura Brazil dan kura-kura Rote untuk hewan peliharaan (pet). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi aspek-aspek teknis manajemen penangkaran kura-kura di Indonesia. Hasil identifikasi aspek-aspek teknis manajemen penangkaran kura-kura yang dijalankan meliputi : 1) pengadaan bibit, 2) adaptasi dan aklimatisasi, 3) perkandangan, 4) pakan dan air, 5) penyakit dan perawatan kesehatan, 6) perkembangbiakan/reproduksi dan teknik penetasan telur, 7) pemeliharaan, 8) pemanenan dan pemanfaatan dan 9) penunjang lainnya. Kesemuanya itu saling mendukung dan berkaitan sebagai faktor utama dan syarat penting dalam menjamin keberlangsungan usaha dan kesinambungan hasil untuk mencapai tujuan perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penangkaran keempat jenis kura-kura secara umum telah berjalan dengan memperhatikan dan memenuhi aspek-aspek teknis manajemen penangkaran dalam menjalankan usahanya. Kura-kura yang ditangkarkan sudah mampu beradaptasi dengan lingkungannya, tercukupi kebutuhan pakannya, terpenuhi kesesuaian habitatnya dan terjaga kesehatannya, sehingga dapat bereproduksi dengan baik dan meningkat populasinya, sehingga secara ekonomis menguntungkan.Kata kunci : Indonesia, konsumsi, kura-kura, peliharaan, penangkaran
DINAMIKA KEANEKARAGAMAN JENIS POHON PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR Ismayadi Samsoedin
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2009.6.1.69-78

Abstract

Sesudah lebih dari 30 tahun kegiatan eksploitasi hutan di Indonesia, relatif masih sedikit penelitian tentang komposisi jenis pohon yang dilakukan pada petak ukur permanen, khususnya di Kalimantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika keragaman jenis pohon pada hutan produksi bekas tebangan berumur 5, 15, dan 30 tahun, dan membandingkannya dengan petak hutan primer sebagai kontrol. Data dikumpulkan dari 16 petak ukur permanen berukuran masing-masing 1 ha, terdiri dari 4 petak untuk tiap perlakuan 5, 10, dan 30 tahun setelah penebangan dan 4 petak kontrol pada hutan primer. Hasil penelitian menemukan 914 jenis pohon, terdiri dari 223 genus dan 65 suku. Suku yang paling dominan untuk seluruh petak adalah Dipterocarpaceae. Eksploitasi hutan tidak berpengaruh nyata terhadap keragaman jenis pohon hutan, kecuali untuk jenis Dipterocarpacea pada LOA-5 dan 10.  Dari indeks keragaman Shannon-Wiener dan indeks keseragaman jenis juga terlihat bahwa ekploitasi hutan tidak secara signifikan mengakibatkan penurunan keragaman jenis kecuali pada LOA-10 yang memiliki keragaman jenis pohon paling rendah dibandingkan petak yang lain. Walaupun keragaman jenis pada LOA-30 tidak berbeda nyata dengan hutan primer, tebangan rotasi kedua tidak disarankan untuk dilakukan karena akan membahayakan keberadaan sumberdaya genetik yang belum diketahui potensinya.
PENGARUH PEMBERIAN SERBUK ARANG TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT Acacia mangium Willd. DI PERSEMAIAN N. M. Heriyanto; Chairil Anwar Siregar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2004.1.1.78-88

Abstract

Penelitian pengaruh pemberian serbuk arang terhadap pertumbuhuhan bibit Acacia mangium Willd di lakukan dipesemaian yang berlokasi di Pusat Penelitian Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam ( P3H&KA ), Jl. Gunung Batu Bogor. Penelitian dilakukan selama 6 bulan yaitu tanggal 10 juni sampai 4 desember 2003. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak berkelompok dengan 4 perlakuan media bibit dan empat ulangan, satu unit percobaan terdiri dari lima bibit yang masing-masing ditanam dalam kantong plastik yang berukuran lima liter media. Contoh Tanah Podsolik Merah Kuning/Orthic Acrisol (sangat lembut, semiaktif, isohipertermik, tipe Paleudeult) diambil dari sub soil yang digunakan sebagai campuran media tumbuh. Perlakuan pemberian serbuk arang yaitu 0% (Kontrol), 10%, 15%, dan 20% (v/v). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa serbuk arang yang diberikan berpengaruh nyata pada pertumbuhan bibit A.mangium. Perlakuan tanah Orthic Acrisol + 20% serbuk arang (T3) memberikan respon pertumbuhan tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Tetapi pemberian serbuk arang 10% sudah cukup memberikan pertumbuhan yang baik pada tanaman. Kualitas morfologi yang terbaik dihasilkan oleh perlakuan T1 (tanah Orthic Acrisol + 10% serbuk arang), tetapi secara statistik tidak berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan yang lain
PENGELOLAAN DAN ZONASI DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI, KABUPATEN KUNINGAN, JAWA BARAT M. Bismark; Reny Sawitri; Eman Eman
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.5.467-483

Abstract

Pengelolaan daerah penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai ditujukan untuk mendapatkan suatu model yang didasarkan pada penataan lahan dalam bentuk zonasi daerah penyangga. Metode kajian ini adalah  mengamati bentuk pengelolaan lahan yang dibagi ke dalam tiga zona (jalur) yaitu jalur hijau berjarak 0,5-2 km dari kawasan, jalur interaksi berjarak 3-5 km dari kawasan, dan jalur budidaya berjarak lebih dari 5-10 km dari kawasan taman nasional disertai wawancara dan pengisian kuesioner. Penelitian di lapang menunjukkan bahwa setiap jalur zonasi tersebut mempunyai potensi flora, fauna, ekologi, dan jasa lingkungan serta ekonomi yang berbeda. Jalur hijau dan interaksi yang berjarak 0,5-5 km dari kawasan taman nasional ternyata merupakan penyangga kawasan yang sangat potensial sebagai pengembangan kawasan wanatani dan mempunyai nilai konservasi keragaman flora dan fauna serta konservasi lahan yang mendukung perekonomian masyarakat. Pengelolaan daerah penyangga diarahkan pada pengelolaan dan pemanfaatan lahan dengan pola hutan kemasyarakatan, hutan rakyat, budidaya hortikultur, tanaman pangan, kebun buah-buahan, wisata alam, kebun raya maupun wanatani dengan mengembangkan 33 jenis budidaya tanaman kayu, buah-buahan, dan industri.  Peremajaan dan pengayaan  jenis tanaman buah-buahan dan industri perlu dilakukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue