cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Articles 427 Documents
PENGARUH PUPUK NITROGEN TERHADAP PRODUKSI TUNAS DAN KUALITAS STEK PUCUK MERAWAN Ari Fiani; Hidayat Moko
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 3, No 1 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2436.835 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2006.3.1.45-52

Abstract

Ketersediaan benih untuk bibit Merawan yang tidak teratur dan sifat  rekalsitran dari benih, menuntut dilakukannya perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan stek pucuk. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk nitrogen terhadap produksi tunas dan kualitas stek pucuk, telah dilakukan di areal kebun pangkas di Kaliurang Yogyakarta sejak bulan Juli sampai Oktober 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menguji 5 macam dosis pupuk N, yaitu 7,5 g/N  (50 g NPK), 1 g /N (100 g NPK), 23 g/N (50 g urea), 46 g N/tanaman (100  g urea)  dan  kontrol (tanpa pupuk). Perlakuan pupuk diberikan kepada 10 baris tanaman sebagai ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 tanaman. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah dan panjang tunas di kebun pangkas serta kualitas stek pucuk pada akhir percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan 50 g urea/tanaman menghasilkan jumlah dan panjang tunas yang lebih baik di kebun pangkas, sedangkan perlakuan pupuk 100 g NPK/tanaman menghasilkan kualitas stek pucuk yang lebih baik dibandingkan kontrol.
TEKNIK PEMBIBITAN EBONI DARI ANAKAN HASIL PERMUDAAN ALAM Hendromono Hendromono
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 4, No 2 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2007.4.2.91-98

Abstract

Pengumpulan benih eboni dalam jumlah banyak tidak mudah karena tegakan eboni di tempat tumbuh alaminya sudah jarang dan tidak semua pohon eboni berbuah serta musim berbuahnya berbeda antara tempat satu dengan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara pembibitan eboni dari anakan permudaan alam yang dapat menghasilkan bibit yang berdaya hidup dan bermutu tinggi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Berkelompok dalam Percobaan Faktorial 2 x 3. Perlakuan berupa ukuran bibit (A0 = anakan kecil; A1 = anakan besar) dan lama dalam sungkup (B0 = 1,5 bulan, B1 = 2 bulan, B2 = 2,5 bulan). Tiap kombinasi perlakuan terdiri dari 25 anakan dan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anakan yang berukuran besar (tinggi 12,6 cm, diameter 1,8 mm) lebih baik untuk bahan pembibitan daripada anakan berukuran kecil (tinggi 8, 4 cm, diameter 1,3 mm). Sebelum dipelihara dibawah naungan, anakan dimasukkan dalam sungkup plastik di bawah naungan selama dua bulan. Pengerasan bibit sebelum ditanam di lapang sebaiknya dilakukan dengan mengurangi intensitas naungan dan frekuensi penyiraman.
TEKNIK PENINGKATAN DAYA DAN KECEPATAN BERKECAMBAH BENIH PILANG Eliya Suita; Sofwan Bustomi
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.636 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2014.11.1.45-52

Abstract

Pilang (A. leucophloea) merupakan salah jenis potensial untuk kayu energi dan cocok ditanam pada lahan ter- degradasi, karena mempunyai sistem perkaran yang kompak. Tujuan penelitian untuk mendapatkan metode uji perkecambahan yang dapat meningkatkan viabilitas benih. Metode uji meliputi pengujian perlakuan pendahuluan: kontrol (tanpa perlakuan), benih direndam dalam air kelapa selama 30 dan 60 menit, dengan H2SO4  selama 20 dan 40 menit, dalam air panas (suhu 100 OC) selama 10 dan 20 detik kemudian masukkan air ke dalam air biasa selama 24 jam. Setelah perlakuan pendahuluan benih di tabur dengan metode : UDK (Uji Di atas Kertas), UAK (Uji Antar Kertas), UKDdp (Uji Kertas Digulung dengan posisi didirikan), media pasir tanah (1:1), media pasir tanah (1:1) ditutup plastik selama 1 minggu pertama. Perlakuan pendahuluan dan metode uji perkecambahan terbaik adalah benih direndam dengan H2SO4 selama 20 menit dengan metode uji UDK.
PENGENDALIAN Cylindrocladium sp. PENYEBAB PENYAKIT LODOH PADA BIBIT Acacia mangium Wild. DENGAN FUNGI ANTAGONIS Trichoderma sp. DAN Gliocladium sp. Illa Anggraeni; Ari Wibowo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 6, No 4 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3061.599 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2009.6.4.241-249

Abstract

Keberhasilan pembangunan hutan tanaman dimulai dari penyediaan bibit yang baik yang dihasilkan dari persemaian. Salah satu gangguan yang muncul di persemaian adalah serangan penyakit, termasuk penyakit lodoh (damping-off) yang banyak menyerang bibit termasuk Acacia mangium Wild. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian fungi antagonis Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. terhadap fungi Cylindrocladium sp. penyebab penyakit lodoh pada bibit A. mangium. Penelitian dilakukan melalui tahap observasi lapangan dan di laboratorium/rumah kaca. Perlakuan terdiri dari 10 tingkat, dengan 4 periode waktu pengamatan dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. mampu berperan sebagai antagonis dan pelindung hayati terhadap Cylindrocladium sp. penyebab penyakit lodoh/busuk akar pada bibit A. mangium secara in-vivo. Hal ini ditunjukkan oleh respon yang signifikan terhadap tinggi tanaman dan persentase tumbuh bibit A. mangium.
MODEL PRODUKSI DAUN PADA HUTAN TANAMAN KAYU PUTIH (Melaleuca cajuputi Subsp cajupti. POWELL) SISTEM PEMANENAN PANGKAS TUNAS Pudja Mardi utomo; Endang Suhendang; Wasrin Syafii; Bintang C H Simangunsong
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.865 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2012.9.4.195-208

Abstract

Kayu putih merupakan salah satu hasil hutan non kayu yang penting di Indonesia. Hutan tanaman kayu putih di Jawa cukup besar, diperkirakan Perum Perhutani mengelola sekitar 24.000 ha areal produktif jenis ini dan memiliki 10 Pabrik Pengolahan Minyak Kayu Putih (PMKP). Namun Pengelolaannya belum optimal karena sampai saat ini produksi daun kayu putih masih jauh dari kapasitas terpasang pabrik, yaitu sebesar 53.760 ton daun kayu putih per tahun. Tujuan penelitian adalah: (1) mengetahui model produksi daun tanaman kayu putih dalam satu periode pemangkasan dan (2) mengetahui model produktivitas daun tanaman kayu putih dalam satu daur biologis. Hasil model yang diperoleh digunakan untuk menentukan saat daun dipanen dan saat tanaman kayu putih diganti dengan tanaman baru. Metode pengambilan data dilakukan dengan survey, pengamatan langsung di lapangan dengan pengukuran plot-plot ukur sementara (PUS). Plot ukur untuk pembuatan model dalam satu daur panen dibuat sebanyak 36 PUS dan 24 PUS untuk pembuatan model dalam satu daur biologis. Model produksi daun kayu putih terbaik dalam satu daur panen adalah Morgan Mercer Flodin model (MMF) dan pemangkasan optimum adalah pada umur tunas 7 bulan, dimana kurva laju pertumbuhan rata-rata bulanan maksimum berpotongan dengan kurva pertumbuhan bulan berjalan. Model produktivitas dalam satu daur silvikulktur adalah model polinomial. Daur biologis atau saat tanaman diganti dengan tanaman baru diperkirakan pada umur 25 tahun (kelas umur V), dimana produktivitas setelah umur ini menurun.
GROWTH AND MORPHOLOGICAL CHANGES AS AN EARLY INDICATION OF IN VITRO PLOIDIZATION OF TEAK (Tectona grandis L.f) Yusuf Sigit Ahmad Fauzan; Supriyanto Supriyanto; Teuku Tajuddin
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1799.029 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2017.14.2.127-138

Abstract

ABSTRACTPloidization level estimation can be conducted in several methods, through morphological, growth response, anatomy, cytology, and molecular markers. The simplest and easiest methods are morphological marker and growth response. The study aimed to develop early detection method of polyploidy occurrence in in vitro Tectona grandis after treated by antimitotic agent colchicine. Nodal segments were immersed at 0, 15, and 30 μM colchicines for 5 days, then cultured for 8 weeks. Observations on plantlet height, number of leaves and morphology were performed at 2, 4, and 6 weeks after planting. Colchicine had high significant effect on the height and significant effect on leaves number. High concentration colchicine inhibited shoot elongation and leaves growth, however it increased morphological changes. The planlets height of 0, 15, and 30 μM of colchicine treatment was 4.14; 3.82; 3.12 cm; while the number of leaves as much as 8.72; 8.4, and 7.5. Colchicine led to increase in morphological changes at the levels 0, 15, 30 μM were 26,60%; 46.66%; and 93.33%. Changes caused by polyploidy differ from media. Changes in polyploidy decreased the height, number of leaves, and induced morphological changes, whereas planting media resulted in vitrification. Response to colchicines in culture of T. grandis plantlet allows the growth and morphology to be a marker for early detection of polyploidization.Key words: Colchicine, polyploidy detection, tectona grandisABSTRAKPendugaan tingkat ploidi dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain: penanda morfologi, respon pertumbuhan, anatomi, sitologi, dan molekuler. Metode yang paling sederhana dan mudah dilakukan, terutama untuk deteksi dini yaitu dengan penanda morfologi dan respon pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati deteksi dini terjadinya poliploidisasi Tectona grandis akibat pemberian kolkisin pada kultur in vitro. Ruas nodus eksplan jati direndam dalam 3 konsentrasi kolsikin (0, 15, dan 30 μM) selama 5 hari, untuk selanjutnya dilakukan kultur in vitro selama 8 minggu. Pengamatan terhadap tinggi daun, jumlah daun dan morfologi daun dilakukan pada minggu ke-2, ke-4, dan ke-6 setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kolsikin berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi dan berpengaruh nyata terhadap jumlah daun. Pertumbuhan tinggi daun dan jumlah daun mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya konsentrasi kolkisin. Tinggi planlet akibat perlakuan perendaman 0, 15, dan 30 μM kolkisin adalah 4,14; 3,82; dan 3,12 cm; sedangkan jumlah daun sebanyak 8,72; 8,4; dan 7,5. Peningkatan konsentrasi kolkisin menyebabkan peningkatan perubahan morfologi. Perubahan morfologi perlakuan kontrol, 15 dan 30 μM kolkisin sebesar 26,60%, 46,66%, dan 93,33%. Perubahan karena poliploidi berbeda dengan perubahan karena media. Perubahan akibat poliploidi menyebabkan perubahan pada tinggi planlet, jumlah daun, serta morfologi; sedangkan perubahan media tanam menyebabkan vitrifikasi. Adanya respon pemberian kolkisin pada kultur in vitro T. grandis memungkinkan pertumbuhan dan morfologi sebagai penanda untuk deteksi dini terjadinya poliploidi.Kata kunci: Deteksi poliploidi, kolkisin, Tectona grandis  
MODEL PENDUGA VOLUME POHON PULAI GADING DI KABUPATEN MUSI RAWAS - SUMATERA SELATAN Agus Sumadi; Agung Wahyu Nugroho; Teten Rahman
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 7, No 2 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.859 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2010.7.2.107-112

Abstract

Pendugaan volume tegakan pulai yang cepat, akurat, dan teliti sangat tergantung dari ketepatan model penduga volume pohon. Model penduga volume pohon dapat menjadi dasar dalam penyusunan tabel volume pohon. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan penyusunan model penduga volume pohon yang memiliki ketelitian tinggi untuk jenis pulai gading di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Persamaan regresi penyusun model terdiri dari 6 persamaan berdasarkan peubah bebas diameter setinggi dada dan tinggi pohon. Pemilihan model terbaik berdasarkan nilai koefisien determinasi maksimum (R 2), bias minimum dan root mean square error terkecil (RMSE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model terbaik untuk menduga volume pohon jenis pulai adalah V = 0,000077 D2,304 H 0,241 dengan nilai R 2 = 0,967%, bias 0,007% dan RMSE = 0,044%.
PENURUNAN SIMPANAN KARBON ORGANIK TANAH PADA HUTAN TANAMAN Shorea leprosula Miq. MUDA DI NGASUH, KABUPATEN BOGOR Harris Herman Siringoringo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.814 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2014.11.2.105-121

Abstract

Penelitian ini menyajikan informasi pengaruh hutan tanaman jenis pohon tumbuh lambat Shorea leprosula Miq muda terhadap perubahan simpanan karbon organik tanah (SOC) pada tipe tanah sangat terlapuk Ferralsols. Vegetasi awal berupa hutan sekunder. Pengukuran dilakukan dua kali, di dalam periode waktu empat tahun setelah penyiapan lahan dan penanaman, dengan menggunakan pendekatan massa tanah setara. Penelitian dilaksanakan di Resort Polisi Hutan (RPH) Ngasuh, Kabupaten Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simpanan SOC kumulatif mengalami penurunan yang signifikan pada kedalaman 0–20 cm (p < 0,05) dan berkontribusi sebagai sumber emisi, sebesar 3,35 ton C/ha dari 55,23 ke 51,88 ton C/ha, dengan laju kehilangan sebesar 0,87 ton C/ha/tahun (1,58% per tahun), atau setara dengan emisi karbon dioksida (CO2) ke atmosfer sebesar 3,19 ton CO2/ha/tahun. Hasil ini menyimpulkan bahwa simpanan SOC di Ngasuh menurun dengan penurunan pasokan serasah dari hutan tanaman Shorea leprosula ke dalam mineral tanah dan laju dekomposisi serasah yang tinggi.  
POTENSI CENDAWAN Beauveria bassiana (BALSAMO) VUILLEMIN ISOLAT BOGOR TERHADAP MORTALITAS LARVA PENGGEREK BATANG SENGON (Xystrocera festiva) PASCOE DI LABORATORIUM Wida Darwiati; Suhaeriyah Suhaeriyah
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 6, No 3 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.573 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2009.6.3.187-199

Abstract

Hama yang  potensial menyerang tegakan sengon (Paraserianthes falcataria L.Fosberg) adalah hama penggerek batang Xystrocera festiva Pascoe (Coleoptera : Cerambicydae), dan salah satu  teknik pengendalian hama yang ramah lingkungan adalah dengan menggunakan cendawan entomopatogen Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin. Penelitian bertujuan untuk menentukan  tingkat kerapatan spora cendawan entomopatogen B. bassiana isolat Bogor yang dapat menyebabkan mortalitas tinggi terhadap larva X. festiva. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2006 di Laboratorium Fitopatologi dan Entomologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Jawa Barat. Penelitian ini memakai Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari enam perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap perlakuan spora cendawan B. bassiana mampu mengendalikan larva X. festiva. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa antar perlakuan tidak berbeda nyata. Kerapatan spora 108 spora/ml merupakan perlakuan yang menyebabkan mortalitas larva X. festiva terendah sebesar 84,93% sedangkan perlakuan kerapatan spora 1011 spora/ml menyebabkan mortalitas tertinggi sebesar 100% pada hari ke tujuh
PENGARUH TEMPERATUR DAN KELEMBABAN TERHADAP TINGKAT KERUSAKAN DAUN JABON (Anthocephalus cadamba) OLEH Arthrochista hilaralis Avry Pribadi; Illa Anggraeni
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2011.8.1.1-7

Abstract

Arthrochista hilaralis merupakan hama defoliator yang menyebabkan tingkat kerusakan sampai 97,88% pada tanaman jabon di Hutan Tanaman Industri (HTI) sektor Baserah dan 67,80% di Hutan Rakyat (HR) Pantai Cermin. Perbedaan tingkat kerusakan ini di duga berkaitan dengan pengaruh kelembaban dan temperatur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kerusakan daun akibat serangan dengan temperatur dan kelembaban. Penelitian dilakukan di dua lokasi, yaitu areal HTI sektor Baserah, Kabupaten Kuansing dan areal HR Pantai Cermin, Kabupaten Kampar, Riau. Pada masing-masing lokasi dibangun 5 plot pengamatan, masing-masing plot terdiri atas 100 pohon. Plot ditempatkan secara sistematik mengikuti metode kudratik. Parameter yang diukur adalah tingkat kerusakan daun oleh temperatur dan kelembaban lingkungan di sekitar pohon. Hasil menunjukkan bahwa di HTI sektor Baserah temperatur berkorelasi negatif (-0,288**) dan kelembaban berkorelasi positif (0,303**) terhadap tingkat kerusakan. Pada HR Pantai Cermin, temperatur berkorelasi positif (0,169**) dan kelembaban berkorelasi negatif (-0,187**) terhadap tingkat kerusakan daun akibat Persamaan linear regresi antara tingkat kerusakan dengan temperatur serta kelembaban untuk lokasi HTI sektor Baserah adalah Y= 4,418 0,015X1 + 0,014X2 (R= 0,305) dan pada HR Pantai Cermin adalah Y= 4,961 0,029X1 0,004X2 (R=0,187).

Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2023): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 17, No 1 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 2 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 1 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 1 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 1 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2014): JPHT Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 3 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 5 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 4 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 3 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 2 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 1 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 5 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 4 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 3 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 2 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 3 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 2 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 1 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 2 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 1 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 3 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 2 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 1 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 3 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 2 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 1 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2004): JPHT More Issue