cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Articles 427 Documents
UJI PENANAMAN ASAL KEBUN BENIH PARUNG PANJANG DI BEBERAPA LOKASI DI JAWA BARAT Kurniawati Purwaka Putri; Dede J. Sudradjat
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2011.8.2.111-123

Abstract

Sumber benih akan menentukan kualitas genetik benih dan saran kemana benih tersebut harus disebarkan (seed zone). Untuk mengetahui hal tersebut cara yang paling tepat adalah melalui uji penanaman. Tujuan dari  penelitian  ini  adalah  untuk  menguji  penampilan tanaman A. mangium dari  kebun benih Parung panjang, dan untuk mengetahui produktivitas tegakan  pada beberapa jarak tanam di 4 lokasi di Jawa Barat yaitu di BKPH Tenjo, BKPH Maribaya, BKPH Gunung Kencana Selatan, dan BKPH Cibenda. Penelitian ini dibangun dengan menggunakan rancangan acak lengkap berblok dengan menggunakan jarak tanam sebagai perlakuan. Lokasi BKPH Tenjo menggunakan 2 jarak tanam (3 m x 3 m, 4 m x 4 m) yang diulang 2 kali. Lokasi BKPH Maribaya menggunakan 3 jarak tanam (2 m x 3 m, 3 m x 3 m, 4 m x 4 m) yang diulang sebanyak 2 kali. Lokasi BKPH Cibenda digunakan jarak tanam 3 m x 3 m, 3 m x 4 m, 3 m x 5 m yang diulang sebanyak 3 kali. Khusus di lokasi BKPH Gunung Kencana digunakan rancangan petak terbagi dengan 2 jarak tanam (3 m x 3 m, 4 m x 4 m) yang ditanam pada 3 blok dan menggunakan 2 asal sumber benih (lokal dan kebun benih Parung panjang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas tanaman A. mangium asal kebun benih Parungpanjang di empat lokasi yang diujikan bervariasi yang dipengaruhi oleh kondisi tapak dan iklim setempat. Namun bila dibandingkan dengan benih lokal, benih asal kebun benih tersebut relatif lebih unggul. Produktivitas tegakan A. mangium asal kebun benih Parungpanjang terbesar ditunjukkan di lokasi BKPH Gunung Kencana (15,8 m untuk tinggi; 17 cm untuk diameter), dengan riap optimal dapat mencapai 54 m3/ha/tahun (28,6% lebih baik dari tegakan asal benih lokal). Dengan demikian benih dari kebun benih tersebut dapat menjadi sumber materi penanaman di wilayah Jawa Barat yang memiliki kondisi tapak hampir sama. Untuk meningkatkan pertumbuhan khususnya diameter, jarak dapat yang lebih lebar dapat dipertimbangkan.
PENETAPAN POLA REHABILITASI PEMULIHAN FUNGSI EKOSISTEM HUTAN LINDUNG GAMBUT SUNGAI BRAM ITAM DI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT, PROVINSI JAMBI (Determining Rehabilitation Patterns for Recovery of Sungai Bram Itam Peatland Protected Forest Ecosystem Functions Tanjung Jabung Barat District, Jambi Province) Dhany Yuniati; Dodik Ridho Nurrochmat; Syaiful Anwar; Darwo Darwo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.69 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2018.15.2.67-85

Abstract

ABSTRACTAn area of 5,000 hectares in the Bram Itam River peatland protected forest had been converted into agricultural land and plantations dominated by oil palm, pinang and liberica coffee plantations. This land conversion has led to destruction of its function as a protected forest, thus recovery action must be performed. The study aimed to establish a pattern of vegetation rehabilitation on peatlands with damaged protected functions by prioritizing native peatland species and considering land suitability, environmental aspect, and socio-economic conditions. The aspects that were analyzed including the socio-economic conditions of the community, the status and function of the area, the consequences of rehabilitation activities, the characteristics of peatland, and the type of preference for rehabilitation. Data was collected through a survey method of forest farmer groups that manage the land area around Sungai Bram Itam protected area. The results indicated that community around the study area are in need of farm lands. Its status as protected forest with various land characteristics requires management zoning to facilitate the community's need for land. Social forestry program with a partnership scheme can be applied to areas adjacent to community land with peat depth less than 2 m. The planting method that should be applied is mixed cropping pattern of native species and plantation crops, which considers the protection function. Area with peat depth more than 2 m should be managed by KPHL Sungai Bram Itam to maintain and improve the protection function by planting native peatland species.Key words: Peatland conversion, palm oil, areca nut, liberica coffee, revegetation ABSTRAKSeluas 5.000 hektare areal hutan lindung gambut Sungai Bram Itam telah mengalami alih fungsi menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang didominasi oleh perkebunan sawit, pinang, dan kopi liberika. Alih fungsi menyebabkan kerusakan fungsi lindung sehingga harus dilakukan pemulihan. Penelitian bertujuan untuk menetapkan pola rehabilitasi vegetasi pada lahan gambut dengan fungsi lindung yang telah mengalami kerusakan. Pemulihan fungsi lindung dilakukan dengan rehabilitasi vegetasi menggunakan jenis asli gambut dan mempertimbangkan kesesuaian lahan, aspek lingkungan, sosial-ekonomi. Aspek-aspek yang dianalisis adalah kondisi sosial ekonomi masyarakat, status dan fungsi kawasan, konsekuensi terhadap kegiatan rehabilitasi, karakteristik lahan gambut, dan preferensi jenis untuk rehabilitasi. Data dikumpulkan melalui metode survei terhadap kelompok tani hutan yang melakukan pengelolaan lahan di areal HLG Sungai Bram Itam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di sekitar HLG Sungai Bram Itam membutuhkan lahan garapan. Status HLG Sungai Bram Itam sebagai kawasan dengan fungsi lindung dan memiliki karakteristik lahan yang beragam memerlukan penataan zonasi pengelolaan untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat terhadap lahan. Pada kawasan dengan kedalaman gambut ˂ 2 m yang berbatasan dengan lahan masyarakat bisa dilakukan program perhutanan sosial dengan skema kemitraan. Pola tanam yang diterapkan berupa pola tanam campuran antara jenis tanaman hutan asli gambut dengan tanaman perkebunan (kopi liberika, pinang, dan MPTS) yang tetap memperhatikan fungsi lindung. Lahan gambut dengan kedalaman > 2 m dikelola oleh pihak KPHL Sungai Bram Itam untuk mempertahankan dan memperbaiki fungsi lindung melalui penanaman jenis tanaman asli gambut.Kata kunci: Alih fungsi lahan gambut, pinang, kopi liberika, revegetasi
TEKNIK PENYIMPANAN SEMAI CEMPAKA WASIAN (Elmerrilia ovalis (Miq.) Dandy) MENGGUNAKAN ZAT PENGHAMBAT TUMBUH DAN PERLAKUAN MEDIA TANAM (The Techniques of Storing Cempaka Wasian (Magnolia tsiampaca (Miq.) Dandy) using Growth Inhibitor and Planting Media Treatment) Arif Irawan; Jafred Elsjoni Halawane; Hanif Nurul Hidayah
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.098 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2018.15.2.87-96

Abstract

ABSTRACTCempaka wasian (Magnolia tsiampaca (Miq) Dandy) is a forest tree species that has recalcitrant seed character. Recalcitrant seeds are difficult to be stored for a long period, thus storing the seedlings can be considered as an option. This research aims to determine the effect of growth inhibitors and planting media on seedling growth during storage. The inhibitors used were paclobutrazol 250 ppm, NaCl 0,5% and aquadest (as control treatment). The media used consisted of top soil+cocopeat (1:1), top soil+sand(1:1) and top soil+husk charcoal (1:1). The research design used was a complete randomized factorial pattern design. The results showed that the inhibitors had a significant effect on the growth os seedling height. Provision of 250 ppm paclobutrazol was able to inhibit the growth of seedling height. Planting media also had a significant effect on the growth of height and diameter of the seedlings, also on seed quality index of cempaka wasian. The soil+cocopeat and soil+sand planting media are effective to reduce the growth rate in both height and diameter of cempaka wasian seedlings during storage. Key words: Cempaka, growth inhibitors, planting media, seedling ABSTRAKCempaka wasian (Magnolia tsiampaca (Miq) Dandy) adalah salah satu jenis pohon hutan yang memiliki karakter benih rekalsitran yang sulit disimpan dalam jangka waktu lama, sehingga perlu dilakukan penyimpanan dalam bentuk semai dengan menggunakan bahan semai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan penghambat pertumbuhan dan media tanam terhadap pertumbuhan semai cempaka wasian selama masa penyimpanan. Bahan penghambat pertumbuhan yang digunakan adalah paklobutrazol 250 ppm, NaCl 0,5%, dan akuades sebagai kontrol. Media tanam terdiri dari tanah+cocopeat (1:1), tanah+pasir (1:1), dan tanah+arang sekam (1:1). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. Hasil penelitian menunjukkan faktor zat penghambat tumbuh memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tinggi bibit. Pemberian paklubutrazol 250 ppm mampu menghambat pertumbuhan tinggi bibit. Faktor media tanam memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi, diameter, dan indeks mutu bibit cempaka wasian. Media tanam tanah+sabut kelapa dan tanah+pasir merupakan media yang efektif mengurangi kecepatan pertumbuhan tinggi dan diameter semai cempaka wasian selama penyimpanan.Kata kunci: Cempaka, bahan penghambat pertumbuhan, media tanam, semai  
POTENSI TUMBUHAN BAWAH PADA TEGAKAN HUTAN TANAMAN Acacia crassicarpa A. Cunn. ex Benth SEBAGAI PAKAN GAJAH DAN PENYIMPAN KARBON DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR (The Potential of Understorey in Acacia crassicarpa A. Cunn. ex Benth Plantation for Elephant Feed and Carbon Storage in Ogan Komering Ilir Regency) R Garsetiasih; Anita Rianti; Nur Muhammad Heriyanto
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.199 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2018.15.2.97-111

Abstract

ABSTRACT Understorey in a forest area can be utilized as herbivorous animal feed, as well as carbon storage. In Ogan Komering Ilir (OKI) Regency, the understorey is utilized by elephant as feed habitat. The study aimed to determine the diversity, productivity and potential for carbon content of understorey in A. Crassicarpa plantation in OKI Regency. The method used for collection of understorey data was square plot method with 1x1m size, where the first plot was determined randomly and followed by the subsequent plots systematically. The results found out 8 types of understorey species with important index values in sequence were Nephrolepis biserrata (Sw) Schott. 66.90%; Melastoma malabathricum L. 44.14% and Stenochlaena palustris (Burm. F.) Bedd. 36.18%. The species of feed that most eaten by the elephants were Nephrolepis biserrata (Sw.) Schott., Cyperus kyllinga Endl. and Stenochlaena palustris (Burm. f.) Bedd. The domination of understorey in the stand of Germplasm Conservation Area (KPPN) (0,1611) was greater compared to those in block A (0,1124) and block E (0,1512). The total biomass of the understorey in Block A (3 year old A. Crassicarpa stand), E Block (3,3 year old A. Crassicarpa stand), and KPPN were 561,8 kg/ha; 371,48 kg/ha; and 383,84 kg/ha, respectively. Carrying capacity of the understorey as feed for elephants during the dry season in block A was for 10,54 elephants; block E was for 2,10 elephants and KPPN was for 79,37 elephants. Therefore, in order to meet the requirement of elephant feed and minimize elephant interference to plantation, the quality of KPPN needs to be improved. Key word : Acacia crassicarpa, carbon, diversity, productivity, undergrowth  ABSTRAK Tumbuhan bawah hutan selain berfungsi sebagai pakan satwa herbivora juga dapat menyimpan karbon. Tumbuhan bawah pada tegakan Acacia crassicarpa di Kabupaten Ogan Komering Ilir juga dimanfaatkan oleh gajah sebagai habitat pakan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keanekaragaman dan produktivitas tumbuhan bawah serta potensi kandungan karbonnya. Pengumpulan data tumbuhan bawah menggunakan metode plot bujur sangkar berukuran 1 m x 1 m, penentuan plot pertama dilakukan secara acak dan selanjutnya secara sistematik. Hasil penelitian dijumpai delapan jenis tumbuhan bawah dengan nilai indeks penting secara berurutan yaitu paku harupat (Nephrolepis biserrata) sebesar 66,90%, harendong (Melastoma malabathricum) 44,14% dan jenis paku udang (Stenochlaena palustris) 36,18%. Penguasaan jenis tumbuhan bawah pada tegakan Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN) lebih besar (0,1611) dibandingkan pada tegakan di blok A dan blok E (0,1124 dan 0,1512). Biomassa tumbuhan bawah di blok A (tegakan A. crassicarpa 3 tahun), blok E (tegakan A. crassicarpa 3,3 tahun) dan Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN) berturut-turut adalah 561,8 kg/ha; 371,48 kg/ha; dan 383,84 kg/ha. Daya dukung tumbuhan bawah sebagai pakan gajah pada saat musim kemarau di blok A adalah 10,54 gajah; blok E sebesar 2,10 ekor gajah dan areal KPPN sebesar 79,37 gajah. Untuk memenuhi kebutuhan pakan gajah serta meminimalisir gangguan gajah terhadap hutan tanaman perlu peningkatan kualitas KPPN.Kata kunci : Acacia crassicarpa, karbon, keanekaragaman, produktivitas, tumbuhan bawah
FENOLOGI PEMBUNGAAN Rhizophora mucronata Lamk. DI HUTAN MANGROVE PASURUAN, JAWA TIMUR (Flowering Fenology of Rhizophora mucronata Lamk. at Mangrove Forest Pasuruan, East Java) Liliana Baskorowati; Subagya Subagya; Mohammad Mahmud; Mudji Susanto
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (900.52 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2018.15.2.113-123

Abstract

ABSTRACT Rhizophora mucronata Lamk. is a mangrove species developed for rehabilitation program along the north coast of Java Island. Increasing demand of propagules lead to the importance of gaining information regarding the flowers, fruits and propagules production within the area designated as seed source. Therefore, this research aimed to identify the flowers and propagules of R. mucronata production in the seed source area of Pesisir, Pasuruan, East Java. Flowering and fruiting phenology were observed by taking samples of trees to identify the development of the flowers and the propagules. Propagule production was observed by making a plot of 5 x 5 m, with the distance between plots measuring 100 m. Parameters of diameter, total height, and seed production were carried out on all trees in the plot. The results showed that R. mucronata bloomed throughout the observation period (January-April), with flowering that was not simultaneously in one tree. Reproductive cycle of this species took 15-16 months from bud commencement to propagule maturations; peak of flowering occurs from March to April and propagule production occurs on August. Propagules reach maturity and are ready for harvesting on December-January. Key word: Mangrove, Rhizophora mucronata, flowering, propagula  ABSTRAK Rhizophora mucronata Lamk. merupakan jenis tanaman mangrove yang dikembangkan untuk program rehabilitasi areal pantai utara Pulau Jawa. Informasi mengenai produksi propagula R. mucronata menjadi penting agar kebutuhan buah tercukupi. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui fenologi pembungaan dan pembuahan R. mucronata di areal sumber benih teridentifikasi Dusun Pesisir, Pasuruan, Jawa Timur. Fenologi pembungaan, pembuahan, dan produksi propagula diamati pada tiga sampel pohon per petak ukur. Produksi propagula diamati dengan membuat petak ukur 5 x 5 m, dengan jarak antar petak ukur 100 m; yang dibedakan antara petak ukur di tepi pantai dan di tepi daratan. Total petak ukur yang diamati ada sebanyak sepuluh petak ukur. Pengambilan data diameter, tinggi total dan produksi propagula dilakukan untuk semua pohon dalam petak ukur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa R. mucronata berbunga selama pengamatan (Januari-April), dengan pembungaan yang tidak serempak dalam satu pohon. Siklus reproduksi memerlukan waktu 15-16 bulan mulai dari terbentuknya tunas sampai masaknya propagula; dengan puncak pembungaan terjadi pada bulan Maret-April dan musim berbuah pada bulan Agustus. Propagula mencapai tingkat masak siap dipanen pada bulan Desember-Januari.Kata kunci : Mangrove, Rhizophora mucronata, pembungaan, propagula
POTENSI PENGEMBANGAN MASOYI (Cryptocarya massoy (Oken) Kosterm) DI WILAYAH UPTD KPH UNIT V BOALEMO BERDASARKAN KESIAPAN MASYARAKAT DAN TINGKAT KESESUAIAN LAHAN (Potency of masoyi plantations in the area of UPTD KPH Boalemo Gorontalo Unit V based on community readinness and land suitability) Irma Yeny; Budi Hadi Narendra; Hani Siti Nuroniah
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1172.538 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2018.15.2.125-145

Abstract

 ABSTRACT Plantations development in KPH UPTD Boalemo Unit V area should be supported by community readiness and land suitability. This study analyzed the potential of masoyi plantations in the UPTD KPH Boalemo Gorontalo Unit V based on community readiness and land suitability. The level of community readiness was measured through in-depth interviews with key informants. Land suitability analysis was carried out using species matching method on the plant growth requirements of masoyi. Land characteristics were obtained from secondary data, direct field measurements, and soil analysis. The results showed: 1) community readiness is at level seven to nine; Ayuhulalo Village, Bendungan Village, Botumoito Village, and Rumbia Village have the highest community readiness, 2) land suitability is divided into: suitable 15.93%, moderately suitable 53.82%, and 24% unsuitable, 3) an area of 22,644 ha have the potential for development of masoyi plantation because it has a high level of community readiness and land suitabiliy level at moderately suitable, 4) an area of 7,041 ha is a priority area for the development of masoyi because it has a high level of community readiness and land suitability class at suitable, 5) Bendungan Village and Butomoito Village have the best community readiness and land suitability, 6) production forest area is dominated by marginally suitable land; land improvement/ manipulation is needed towards the limiting factors to support successful planting. Key words: Masoyi, land suitability, growing requirements, plantations  ABSTRAK Upaya pengembangan hutan tanaman di wilayah UPTD KPH Unit V Boalemo perlu didukung kesiapan masyarakat dan kesesuaian lahan. Penelitian ini menganalisis potensi pengembangan masoyi di wilayah UPTD KPH Unit V Boalemo Gorontalo berdasarkan kesiapan masyarakat dan kesesuaian lahannya. Tingkat kesiapan masyarakat diukur melalui wawancara mendalam terhadap tokoh-tokoh kunci. Analisis kesesuaian lahan dilakukan menggunakan metode pencocokan (species matching) terhadap persyaratan tumbuh tanaman masoyi. Karakteristik lahan diperoleh melalui pengumpulan data sekunder, pengukuran langsung di lapangan, dan analisis tanah di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan: 1) kesiapan masyarakat berada pada level tujuh sampai dengan sembilan; empat desa yaitu Desa Ayuhulalo, Desa Bendungan, Desa Botumoito, dan Desa Rumbia memiliki kesiapan lahan level sembilan (rasa memiliki di tingkat masyarakat tinggi), 2) kesesuaian lahan terdiri atas 15,93% sesuai, 53,82% agak sesuai, dan 30,24% tidak sesuai, 3) wilayah dengan luas 22.644 ha berpeluang bagi pengembangan masoyi karena memiliki tingkat kesiapan masyarakat yang tinggi (level 7 sampai 9) dan memiliki kelas kesesuaian agak sesuai, 4) wilayah dengan luas 7.041 ha merupakan lahan prioritas bagi pengembangan masoyi karena memiliki tingkat kesiapan masyarakat tinggi (level 7 sampai 9) dan memiliki kelas kesesuaian lahan sesuai, 5) desa dengan tingkat kesiapan masyarakat terbaik dan kesesuaian lahan pada kriteria sesuai adalah Desa Bendungan dan Desa Butomoito, 6) kawasan hutan produksi didominasi tingkat kesesuaian lahan agak sesuai sehingga perlu adanya perbaikan/manipulasi lahan terhadap faktor pembatas guna mendukung keberhasilan penanaman.Kata kunci: Masoyi, kesesuaian lahan, persyaratan tumbuh, hutan tanaman
FENOLOGI DAUN Dicksonia blumei (Kunze) Moore DI KEBUN RAYA “EKA KARYA” BALI, INDONESIA (Leaf phenology of Dicksonia blumei (Kunze) Moore at “Eka Karya” Bali Botanic Garden, Indonesia) Siti Fatimah Hanum
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.506 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2019.16.1.1-8

Abstract

SariABSTRACTDicksonia blumei (Kunze) Moore is one type of tree ferns that can be utilized as medicinal and ornamental  plant. However, literature on phenology research of this species, is very limited even to date. The purpose of this research is to understand the phenology phase of D. blumei and to analyze the correlation of each phenology phase to climate factor, particularly temperature and rainfall. This information is expected to support D. blumei's reintroduction activities. The phenology of D. blumei in Eka Karya Bali Botanical Garden was observed from May 2015 to May 2016 using 30 plant samples. Several samples produced sterile and fertile leaves during observation. Phenological phases include frond emergence, leaf development, leaf maturation (characterized by spore), leaf senescence and mature spore formation until spore release. The number of developed leaves was less than the number emerged frond, while the number of whitered leaves was less than the number of matured leaves. The average number of days needed from frond to withered phase was 254.3l ± 6.8 days. Leaf development phase was negatively correlated with temperature, while leaf senescence phasewas positively correlated with rainfall. Fertility and leaf production were not correlated with climate factors or seasonal variations. These results show that phenological rhythms of D. blumei were not influenced byclimate variations. ABSTRAKDicksonia blumei (Kunze) Moore merupakan jenis paku pohon yang memiliki kegunaan sebagai tanaman obat dan hias. Namun demikian, sampai saat ini belum banyak literatur yang membahas fenologi jenis paku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fase fenologi D. blumei dan menganalisa hubungan setiap fase fenologi dengan faktor iklim (suhu dan curah hujan). Informasi ini diharapkan dapat mendukung kegiatan reintroduksi D. blumei.  Fenologi D. blumei diamat i selama satu tahun (Mei 2015 sampai Mei 2016) menggunakan 30 sampel tanaman di Kebun Raya “Eka Karya”Bali. Beberapa sampel menghasilkan daun sterildan fertil selama pengamatan.  Fase fenologi meliputi munculnya daun, perkembangan daun, daun dewasa yang ditandai adanya spora, daun layu dan terbentuknya spora matang hingga lepasnya spora. Jumlah daun yang berkembang lebih sedikit dibanding jumlah daun yang muncul, dan jumlah daun yang layu lebih sedikit  dibandingkan dengan jumlah daun yang sudah dewasa. Total jumlah hari yang dibutuhkan dari fase daun muncul hingga fase layu adalah 254,31 ± 6,8. Fase perkembangan daun berkorelasi negat if dengan suhu, sementara fase daun layu berkorelasi posit if dengan curah hujan. Namun, produksi daun dan pembentukan spora tidak dipengaruhi oleh faktor iklim atau variasi musiman. Hal ini memperlihatkan bahwa fenologi D. blumei tidak dipengaruhi oleh variasi musiman. 
PENERAPAN TEKNIK MULSA VERTIKAL PADA LAHAN TERDEGRADASI DICARITA, PROVINSI JAWA BARAT (Application of Vertical Mulch Technique on Degraded Land at Carita, West Java Province) Pratiwi Pratiwi; Nina Mindawati; Darwo Darwo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.463 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2019.16.1.9-20

Abstract

SariABSTRACTDegraded land in the Carita Research Forest, West Java is commonly found in slopes. As a result, erosion, runoff and nutrient loss often occur in this area. To address these problems, the application of soil and waterconservation techniques with a vertical mulch technique is required. The aim of the study was to determine the effect of vertical mulch treatment on the amount of runoff, erosion, nutrient loss and also its impact on thegrowth of S. johorensis, G. gnemon, and P. speciosa. The results showed that soil and water conservation techniques with vertical mulch are very effective in reducing runoff, erosion and nutrient losses (N, P, K, Ca and Mg). The vertical mulch of mixed planting pattern between S. johorensis and G. gnemon could decrease the surface run off and erosion by 61.74% and 57.14%, respectively, while the mixture of S. johorensis and P. speciosa decreased the runoff and erosion rate equal to 81.39% and 17.64%, respectively. In addition, the use of vertical mulch could also increase the growth of the tree species until the age of 3 years in the field compared to those without treatment.ABSTRAKLahan terdegradasi banyak dijumpai di Hutan Penelit ian Carita, Jawa Barat, khususnya di lahan-lahan berlereng. Akibatnya seringkali terjadi erosi, aliran permukaan dan hilangnya unsur hara. Untuk mengatasi haltersebut perlu dilakukan penerapan teknik konservasi tanah dan air dengan teknik mulsa vert ikal. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh perlakuan mulsa vert ikal terhadap besarnya aliran permukaan, erosi dan kehilangan unsur hara serta dampaknya terhadap pertumbuhan tanaman S. johorensis, G. gnemon, dan P. speciosa. Hasil penelit ian menunjukkan bahwa teknik konservasi tanah dan air dengan mulsa vertikal sangat efektif dalam mengurangi laju aliran permukaan, erosi dan kehilangan unsur hara (N, P, K, Ca dan Mg). Mulsa vertikal pada pola tanam campuran jenis S. johorensis dan G. gnemon, dapat menurunkan aliran permukaan dan erosi masing-masing 61,74% dan 57,14%; sedangkan campuran S. johorensis dan P. speciosa, menurunkan laju aliran permukaan dan erosi sebesar masing-masing 81,39% dan 17,64%. Selain itu, penggunaan mulsa vertikal juga dapat meningkatkan pertumbuhan ketiga jenis tanaman yang diusahakan sampai umur 3 tahun di lapangan dibanding tanpa penggunaan mulsa vertikal.  
MODEL INTERAKSI PELAKU HUTAN RAKYAT DALAM PERDAGANGAN KAYU: PENDEKATAN SIMULASI MODEL BERBASIS AGEN (The Interaction Model of Community Forest Behavior in Wood Trade: Agent Based Modelling Approach) Lutfy Abdullah
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.52 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2019.16.1.21-34

Abstract

SariABSTRACTThe sustainability of private forest depended on market mechanisms and the role of policy act. It is a result of  interaction among agents. The aim of this study is to find the best strategy in strengthening the position of wood products in trade and its implication for existence of private forest using agent based modeling. The modeling is made using open sources software i.e. Netlogo. The result showed that if there is no competitor's market share, then forest cover tends to be stable. Conversely, if there are competitors, then the community will tend to convert their forest land to other land uses. In this situation, government must take a position by issuing wood trade policies. There are two strategies might be taken, i.e. setting based price for wood products or facilitating trade cartel. First strategy will provide impact like reducing deforestation but only temporary. While, the second strategy will induce the productivity of private forest farmers and maintain forest sustainability by delaying forest conversion and improving land cover with forest. This model needs to be developed by adding  variables production capacity and others. ABSTRAKKelestarian hutan rakyat sangat bergantung pada mekanisme pasar dan peran kebijakan pembangunan kehutanan yang merupakan interaksi perilaku pemangku kepentingan dalam rantai pemasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mencari strategi terbaik dalam memperkuat posisi kayu dalam perdagangan kayu konstruksi dan implikasinya kepada keberadaan hutan rakyat dengan menggunakan pendekatan pemodelan berbasis aktor (agent based modelling). Pemodelan menggunakan perangkat lunak yang digratiskan seperti Netlogo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika pangsa pasar kayu tidak ada pesaing, maka tutupan hutan cenderung stabil. Sebaliknya jika ada pesaing, maka masyarakat akan cenderung mengonversi lahan hutannya untuk peruntukan lahan lainnya. Pada kondisi ini, pemerintah harus mengambil posisi dalam bentuk mengeluarkan kebijakan perdagangan kayu. Ada dua strategi yang ditawarkan yakni: penetapan harga dasar kayu dan fasilitasi kartel perdagangan kayu. Hasil simulasi menunjukkan bahwa harga dasar kayu yang bersifat statis akan menjadi jawaban untuk menahan konversi hutan, namun tidak untuk jangka panjang. Sementara strategi kartel perdagangan dengan kelembagaan yang solid akan membantu meningkatkan produktivitas petani hutan rakyat dan mempertahankan kelestarian hutan dengan menghambat konversi hutan dan meningkatkan tutupan lahan oleh hutan. Model yang sudah tersedia perlu dikembangkan dengan menambahkan variabel kapasitas produksi dan lain-lain. 
PENGARUH PENYIMPANAN DAN WAKTU PENETASAN TELUR TERHADAP KUALITAS BIBIT ULAT SUTRA DAN KUALITAS KOKON BOMBYX MORI L. (The Effect of Egg Preservation and Hatching Schedule on Seed Quality and Cocoon Quality of Silkworm Bombyx Mori L.) Lincah Andadari; Kuntadi Kuntadi
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.563 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2019.16.1.35-45

Abstract

SariABSTRACTSilkworm eggs are a key factor in sericulture industry. Good quality of silkworm eggs cannot be produced any  times. Therefore eggs preservation techniques becoming the most important aspect to be handled. Storage trial of Bombyx mori L. silkworm eggs through one cooling stage at 5 C was carried out to obtain appropriate  preservation techniques for longterm period. A factorial experiment based on randomized block design was performed to study the egg preservation and hatching techniques of 2 silkworm races. The results showed that cold storage duration affected incubation period and hatching uniformity. High hatching percentage  (>90%) was produced by eggs preservation at 25 °C  for 1 day followed by cold storage (5 °C  ) for 69 days, then  treated with HCl of 1.094 specific gravity at 48 C  for 7 minutes. The duration of cold storage affected the hatching percentage, but did not affect the quality of caterpillars and cocoon productions. Silkworm hybrid produced higher quality cocoon compare to pure strain. Eggs preservation at room temperature (25° C) for 10 days followed by refrigeration at 5° C for 60 days produced better quality of eggs and cocoons.ABSTRAKBibit telur ulat sutra merupakan faktor kunci di dalam industri persutraan alam. Bibit ulat sutra bermutu baik  tidak dapat diproduksi setiap saat sepanjang waktu. Oleh sebab itu teknik penyimpanan telur menjadi aspek penting yang harus dikuasai agar mampu menyediakan bibit berkualitas sepanjang waktu sesuai kebutuhan. Uji coba penyimpanan telur ulat sutra Bombyx mori L. melalui satu tahap pendinginan pada suhu 5°C telah dilakukan dengan tujuan mendapatkan teknik penyimpanan yang sesuai untuk tetap menjaga kualitas dan produktivitas bibit dalam jangka panjang. Percobaan faktorial dalam rancangan acak kelompok digunakan untuk menguji mutu bibit ulat sutra melalui teknik penyimpanan dan penetasan telur dari dua galur ulat sutra. Hasil penelitian menunjukkan lama penyimpanan dingin berpengaruh terhadap lama waktu inkubasi dan keserempakan penetasan. Persentase penetasan yang tinggi (>90%) dihasilkan oleh telur yang telah melalui penyimpanan pada suhu 25°C selama 1 hari dan penyimpanan dingin (5°C) selama 69 hari, kemudian diberi  perlakuan asam HCl dengan berat jenis 1,094 pada temperatur 48C selama 7 menit. Lama penyimpanan dingin hanya memengaruhi persentase penetasan, tetapi tidak berpengaruh terhadap mutu ulat dan kokon. Ulat sutra galur hibrid menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan galur murni. Penyimpanan pada 25°C selama 10 hari dan dilanjutkan pada suhu 5°C selama 60 hari menghasilkan  kualitas telur dan kokon yang lebih bagus.    

Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2023): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 17, No 1 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 2 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 1 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 1 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 1 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 1 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 3 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2014): JPHT Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 3 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 5 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 4 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 3 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 2 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 1 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 5 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 4 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 3 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 2 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 3 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 2 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 1 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 2 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 1 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 3 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 2 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 1 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 3 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 2 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 1 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2004): JPHT More Issue