cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. purworejo,
Jawa tengah
INDONESIA
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
ISSN : 23030631     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ADITYA adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai media publikasi hasil karya ilmiah. Terbit dua kali setahun tiap bulan November dan Mei. Redaksi menerima artikel dari kalangan mahasiswa, budayawan, ahli sastra maupun praktisi pendidikan.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2014): ADITYA" : 14 Documents clear
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN ANIMASI AKSARA JAWA TERHADAP KETERAMPILAN MEMBACA PARAGRAF BERHURUF JAWA PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII SMP NEGERI 32 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Panjang Afra
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.131 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perbedaan keterampilan membaca paragraf berhuruf Jawa antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol dan keterampilan membaca paragraf berhuruf Jawa dengan menggunakan media pembelajaran animasi aksara Jawa dalam proses pembelajaran kelompok eksperimen pada kelas VIII SMP Negeri 32 Purworejo tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuasi. Sampel penelitian, yaitu kelas VIIIF sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIIIB sebagai kelompok kontrol. Teknik sampling menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan tes yang berupa soal pilihan ganda dan telah memenuhi kriteria valid dan reliabel. Analisis data menggunakan statistik inferensial. Hasil analisis deskriptif menunjukkan rata-rata nilai pretes kelompok eksperimen sebesar 66,87 dan rata-rata nilai pretes kelompok kontrol sebesar 66,62. Rata-rata nilai postes kelompok eksperimen sebesar 81,25 dan rata-rata nilai postes kelompok kontrol sebesar 79,5. Berdasarkan perhitungan uji-t dua pihak menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan membaca paragraf berhuruf Jawa kelompok eksperimen dengan keterampilan membaca paragraf berhuruf Jawa kelompok kontrol (thitung= 9,975; dk= 62; α= 5%). Sementara itu, hasil perhitungan uji-t pihak kanan menunjukkan keterampilan membaca paragraf berhuruf Jawa kelompok eksperimen lebih baik daripada keterampilan membaca paragraf berhuruf Jawa kelompok kontrol (thitung= 2,3059; dk= 62; α= 5%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara umum penggunaan media pembelajaran animasi aksara Jawa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keterampilan membaca paragraf berhuruf Jawa pada peserta didik kelas VIII SMP Negeri 32 Purworejo tahun pelajaran 2013/2014.   Kata kunci: media pembelajaran, animasi, keterampilan membaca
BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI PERTUNJUKAN KUDA LUMPING TURONGGO TRI BUDOYO DI DESA KALIGONO KECAMATAN KALIGESING KABUPATEN PURWOREJO Dewi Kartikasari
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.821 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mendeskripsikan permasalahan (1) Bentuk Penyajian tari Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo di Desa Kaligono, (2) Makna simbolik sesaji yang digunakan dalam pertunjukan tari Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo di Desa Kaligono, (3) Fungsi pertunjukan tari Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo di Desa Kaligono. Penelitian Bentuk, Makna, dan Fungsi Pertunjukan Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo di Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah informan antara lain ketua grup kesenian Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo, sesepuh grup kesenian Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo, penari Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo. Sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui dokumentasi, studi kepustakaan dari buku-buku, internet, serta hasil penelitian yang terkait. Data primer dalam penelitian ini berupa informasi dari para informan yang diperoleh dari hasil wawancara. Video, foto, dan rekaman tarian Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo merupakan data sekunder dalam penelitian ini. Tempat penelitian berada di Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis isi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Selanjutnya teknik keabsahan data menggunakan triangulasi. Hasil dari penelitian bentuk penyajian tari Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo di Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, (1) Pra pertunjukan, meliputi: (a) membuat perencanaan acara, (b) membersihkan lapangan untuk pertunjukan kuda lumping, (c) menyiapkan sesaji, (d) nyekar ke pepundhen, (e) obong menyan, (2) bentuk pertunjukan Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo, meliputi: tari kreasi,  tari jaipong, tari gobyok, tari mataraman, tari jaranan versi Bali, kesurupan atau ndadi, dan (3) Pasca pertunjukan ditutup dengan tarian yang ditarikan oleh sesepuh grup kesenian Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo. Makna simbolik sesaji, meliputi: (a) degan ijo, (b) bonang- baning, (c) kopi pahit, kopi manis, teh pahit, teh manis, (d) kembang setaman, (e) air putih dicampur daun dhadhap serep. Fungsi tari Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo di Desa Kaligono meliputi: (a) sebagai sarana upacara, (b) sebagai sarana hiburan, (c) sebagai media pendidikan, (d) sebagai seni pertunjukan.   Kata kunci: Bentuk, makna, fungsi, kuda lumping
ANALISIS KESALAHAN ORTOGRAFI DALAM KARANGAN NARASI BERBAHASA JAWA SISWA KELAS XI DI SMA N 6 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Nur Muslimah
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.985 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kesalahan ortografi penggunaan tanda baca hubung, (2) kesalahan ortografi penggunaan huruf kapital; (3) kesalahan ortografi penulisan prefiks sa-; (4) kesalahan ortografi penulisan fonem bahasa Jawa dalam karangan narasi berbahasa Jawa pada siswa kelas XI di SMA N 6 Purworejo tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini berupa karangan narasi berbahasa Jawa siswa kelas XI IPA 1 SMA N 6 Purworejo tahun pelajaran 2012/2013. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik pustaka dan teknik catat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah penulis sendiri sebagai instrumen utama dibantu catatan berupa lembar karangan narasi siswa dan kartu pencatat data. Teknik analisis data yang digunakan adalah metode agih. Dalam penyajian hasil analisis digunakan teknik informal dan formal. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa (1) kesalahan ortografi penggunaan tanda baca hubung sebanyak 46 kesalahan, (2) kesalahan ortografi penggunaan huruf kapital sebanyak 134 kesalahan, (3) kesalahan ortografi penulisan prefiks sa- juga sebanyak 46 kesalahan, (4) kesalahan ortografi penulisan fonem bahasa Jawa sebanyak 504 kesalahan. Kesalahan terbanyak yaitu terdapat pada kesalahan ortografi penulisan fonem dan paling sedikit mengalami kesalahan yaitu kesalahan ortografi penggunaan tanda baca hubung dan penulisan prefiks sa-. Banyaknya kesalahan yang terjadi disebabkan karena beberapa faktor yaitu: (1) siswa tidak teliti dalam menuliskan karangannya, (2) banyak siswa yang belum memahami EYD bahasa Jawa secara menyeluruh, (3) persepsi bahwa setiap kata dituliskan sesuai dengan apa yang diucapkan, (4) pengaruh dialek setempat, dan (5) pengaruh kebiasaan mengetik SMS.   Kata kunci: analisis kesalahan, ortografi, karangan narasi
ANALISIS CAMPUR KODE BAHASA JAWA RAGAM KRAMA TOKOH HANDOKO DALAM NOVEL KUNARPA TAN BISA KANDHA KARYA SUPARTO BRATA DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN BERBICARA KELAS XII DI SMA Wahyu Sriastuti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) campur kode bahasa Jawa ragam krama tokoh Handoko dalam novel Kunarpa Tan Bisa Kandha karya Suparto Bra-ta; (2) relevansi campur kode bahasa Jawa ragam krama tokoh Handoko dalam novel Ku-narpa Tan Bisa Kandha karya Suparto Brata dengan pembelajaran berbicara kelas XII di SMA. Subjek penelitian ini adalah ucapan tokoh Handoko dalam novel Kunarpa Tan Bisa Kandha karya Suparto Brata. Objek penelitian ini adalah campur kode bahasa Jawa ra-gam krama tokoh Handoko dalam novel Kunarpa Tan Bisa Kandha karya Suparto Brata dan relevansinya dengan pembelajaran berbicara kelas XII di SMA. Sumber data yang di-gunakan adalah novel Kunarpa Tan Bisa Kandha karya Suparto Brata yang diterbitkan oleh Narasi Yogyakarta tahun 2009. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan tek-nik pustaka. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai sumber penelitian di-bantu dengan alat pencatat data dan dokumen. Analisis data menggunakan kualitatif. Hasil analisis menunjukkan (1) campur kode bahasa Jawa ragam krama tokoh Handoko dalam novel Kunarpa Tan Bisa Kandha karya Suparto Broto berjumlah 169 ucapan terdiri dari (a) penyisipan unsur berwujud kata berjumlah 134 ucapan (b) penyisipan unsur berwujud frasa berjumlah 7 ucapan (c) penyisipan unsur berwujud baster berjumlah 1 ucapan (d) penyisipan unsur berwujud pengulangan kata berjumlah 13 ucapan (e) pe-nyisipan unsur berwujud ungkapan atau idiom berjumlah 3 ucapan (f) penyisipan unsur berwujud klausa berjumlah 11 ucapan; (2) campur kode bahasa Jawa ragam krama tokoh Handoko dalam novel Kunarpa Tan Bisa Kandha karya Suparto Brata dapat dijadikan sebagai bahan ajar pembelajaran bahasa Jawa SMA kelas XII semester 2 dimasukkan dalam kompetensi dasar mendiskusikan isi drama atau sandiwara.   Kata kunci: campur kode, ragam krama, novel
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP UPACARA MERTI DESA DI DESA CANGKREP LOR KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO Wahyu Duhito Sari
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.999 KB)

Abstract

Abstrak: Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu, (1) Prosesi upacara Merti Desa yang dilaksanakan di desa Cangkrep Lor, (2) Makna simbolis sesaji yang digunakan dalam upacara Merti Desa di desa Cangkrep Lor, dan (3) Pandangan masyarakat dari segi Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan terhadap upacara Merti Desa di desa Cangkrep Lor. Tempat dan waktu penelitian dilaksanakan di desa Cangkrep Lor, waktu penelitian dimulai dari bulan Maret sampai Desember 2013. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Sumber data yang diperoleh dengan wawancara mendalam dan teknik catat terhadap para informan yang telah mengetahui upacara tradisi Merti Desa. Pengumpulan data dilakukan melalui metode pustaka, observasi, dan wawancara mendalam dengan narasumber yang aktif pelaksanaan upacara tradisi Merti Desa. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan handphone untuk merekam dan kamera untuk mengambil gambar serta merekam. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, (a) Prosesi tradisi Merti Desa yaitu persiapan dan pelaksanaan tradisi Merti Desa, (b) Sesaji dan makna simbolis dalam upacara tradisi Merti Desa: Bunga Setaman, bunga setaman dimasukkan kedalam satu tempat yang terbuat dari daun pisang atau samir. Artinya, manusia harus menjaga keharuman namanya agar tidak tercemar karena hal-hal negatif. Bubur Putih dan Bubur Abang. Bubur abang memiliki makna sebagai penghormatan dan permohonan kepada orang tua agar diberi doa dan restu sehingga selalu mendapatkan keselamatan. Bubur putih memiliki makna sebagai penghormatan dan harapan dari seseorang yang ditujukan kepada orang tua atau leluhurnya agar senantiasa diberi keselamatan. Ingkung, mempunyai makna sebagai kekuatan yang diikat. Pisang Raja, melambangkan kemuliaan seorang Raja. Nasi Tumpeng, melambangkan semangat bersatunya antara penguasa dan rakyatnya. Tukon pasar, merupakan simbol agar manusia selalu bersyukur atas rejeki yang diterima, karena tercukupi kebutuhannya. Tenong, adalah sebuah wadah atau tempat yang terbuat dari anyaman bambu, dan(c) Pandangan masyarakat dalam pelaksanaan upacara tradisi Merti Desa, secara umum mereka berpandangan bahwa upacara ini sebagai media sosial. Maksudnya adalah tradisi tersebut dipakai sebagai sarana mengutarakan pikiran dan kepentingan yang menjadi hajat hidup orang banyak. Biasanya upacara tersebut digunakan untuk mengingat apa yang telah dilakukan leluhurnya pada masa lalu sampai masa sekarang. Selain itu upacara tradisional seperti ini juga menjadi media untuk melakukan kontak sosial di antara warga. Diantara contoh dari kontak sosial tersebut adalah pada saat membuat peralatan dan perlengkapan upacara yang dilakukan secara bersama-sama, memberikan sumbangan demi kelancaran acara tersebut dan melakukan ritual secara bersama-sama.   Kata Kunci: Pandangan Masyarakat, Tradisi Merti Desa.
KAJIAN NILAI MORALITAS PADA CERITA BERSAMBUNG DEWI KUNTULWILANTEN DALAM MAJALAH DJAKA LODANG EDISI 30-41 TAHUN 2012/2013 Dani Intan Rianti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.595 KB)

Abstract

Abstrak: Kajian Nilai Moralitas Pada Cerita Bersambung“Dewi Kuntulwilanten” dalam Majalah Djaka Lodang Edisi 30-41 Tahun 2012/2013. Skripsi. Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Purworejo. 2014. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan struktur pembangun yang meliputi tema, alur, tokoh dan penokohan, dan latar yang terdapat dalam cerita bersambung Dewi Kuntulwilanten dalam Majalah Djaka Lodang Edisi 30-41 Tahun 2012/2013 dan, 2) mendeskripsikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita bersambung Dewi Kuntulwilanten dalam Majalah Djaka Lodang Edisi 30-41 Tahun 2012/2013. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak catat dan pustaka. Instrumen utama adalah peneliti serta instrumen penunjang lainnya bolpoin dan kartu data. Teknik analisis data menggunakan metode content analysis. Selanjutnya teknik penyajian hasil analisis data menggunakan teknik informal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) unsur instrinsik meliputi: tema cerbung Dewi Kuntulwilanten ialah Kurawa dan Pandawa yang mendapat wangsit dari dewa jika ingin memenangkan perang Bharatayuda harus mempersunting putri  Slagahima yang bernama Dewi Kuntulwilanten. Alur cerita bersambung Dewi Kuntulwilanten tersebut adalah alur maju yakni berawal dari para pihak Pandhawa dan Kurawa yang menerima wangsit dari dewa jika ingin memenangkan perang Bharatayuda harus memperistri Dewi Kuntulwilanten dan pada akhirnya Prabu Puntadewa dari pihak Pandhawa yang mempunyai kepribadian baik yang dipilih oleh Dewi Kuntulwilanten . Tokoh utama terdiri dari: Prabu Jumanten, Dewi Kuntulwilanten, Prabu Duryudana, dan Raden Arya Sena. Latar terdapat di kerajaan Astinapura, negara Sokalima, negara Giripanataran, dan negara Ngamarta. (2) nilai moralitas pada cerita bersambung Dewi Kuntulwilanten terdiri; a) hubungan manusia dengan diri sendiri; (b) hubungan manusia dengan manusia lain; c) hubungan manusia dengan Tuhan.   Kata Kunci: Nilai Moral, Cerbung Dewi Kuntulwilanten
FUNGSI TRADISI SRAKALAN TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT PADA TAHUN 1980 DAN TAHUN 2013 DI DESA PIYONO KECAMATAN NGOMBOL KABUPATEN PURWOREJO (KAJIAN PERUBAHAN BUDAYA) Ratna Lestari
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.572 KB)

Abstract

Abstrak: Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu, (1) Prosesi tradisi srakalan yang dilaksanakan di desa Piyono, (2) Makna simbolis ubarampe yang digunakan dalam tradisi srakalan di desa Piyono, dan (3) perubahan fungsi tradisi srakalan terhadap kehidupan social masyarakat pada tahun 1980 dan tahun 2013 di desa Piyono Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo. Tempat dan waktu penelitian dilaksanakan di desa Piyono, waktu penelitian dimulai dari bulan Maret 2013 sampai Maret 2014. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Sumber data yang diperoleh dengan wawancara semi terstruktur dan teknik catat terhadap para informan yang telah mengetahui tradisi srakalan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode pustaka, observasi, dan wawancara mendalam dengan narasumber yang aktif pelaksanaan tradisi srakalan. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan handphone untuk merekam dan kamera untuk mengambil gambar serta merekam. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, (a) Prosesi tradisi srakalan yaitu persiapan dan pelaksanaan tradisi srakalan, (b) ubarampe dan makna simbolis dalam tradisi srakalan:payung. Maknanya untuk pelindung, ketika bayi menjadi seorang pemimpin diharapkan bias mengayomi. Godhongtowo, maknanya untuk penyejuk. Beras kuning yang dicampur dengan uang receh, maknanya untuk kemakmuran dan saling menolong dengan harta yang dimiliki, jenang abang putih, melambangkan ayah dan ibu, sebagai anak harus patuh pada orang tua, bunga tujuh rupa, melambangkan dengan keanekaragaman dan kemajemukan masyarakat, manusia di tuntut untuk lebih sabar dalam berusaha dan beribadah kepada Allah Swt, dan(c) Perubahan fungsi tradisi srakalan pada tahun 1980 dan tahun 2013 secara umum membawa perubahan terhadap kehidupan masyarakat, yakni membantu dalam pembentukan karakter masyarakat yang berada di desa Piyono kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo, srakalan juga menunjukkan membawa fungsi perubahan pada tingkat kesadaran masyarakat untuk menjadi masyarakat yang lebih baik dalam beragama dan meciptakan kebaikan bagi diri sendiri dan juga masyarakat, yang salah satunya kebaikan tersebut diwujudkan dengan memanjatkan kalimat toyibah melalui budaya srakalan.   Kata Kunci: Prosesi srakalan, makna ubarampe, perubahan fungsi.  
ANALISIS KOHESI GRAMATIKAL DAN LEKSIKAL DALAM NOVEL KIRTI NJUNJUNG DRAJAT KARYA R. Tg. JASAWIDAGDA Anggit Hajar Maha Putra
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.704 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) wujud penanda kohesi gramatikal antarkalimat yang terdapat dalam novel Kirti Njunjung Drajat Karya R. Tg. Jasawidagda; (2) wujud penanda kohesi leksikal antarkalimat yang terdapat dalam novel Kirti Njunjung Drajat Karya R. Tg. Jasawidagda. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah novel yang berjudul Kirti Njunjung Drajat Karya R. Tg. Jasawidagda, terdiri dari sebelas bab yang diterbitkan oleh KIBLAT (Anggota IKAPI), Bandung pada tahun 2012. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah buku-buku wacana dan nota pencatat data. Teknik pengumpulan data digunakan teknik simak, teknik pustaka dan teknik catat. Teknik analisis data digunakan teknik lesap, teknik ganti dan teknik BUL (bagi unsur langsung). Teknik penyajian analisis data menggunakan metode penyajian formal dan informal. Hasil penelitian ini yaitu: (1) wujud penanda kohesi aspek gramatikal meliputi: reference (pengacuan) yang didominasi pengacuan persona I tunggal bebas yaitu kula “saya, subtitution (penyulihan), ellipsis (pelesapan), dan conjungtion (perangkaian) yang terdiri dari konjungsi koordinatif lan ‘dan’, mbokmenawa ‘kalau’ dan konjungsi adversatif nanging ‘tetapi’; (2) wujud penanda kohesi aspek leksikal meliputi: sinonim (persamaan kata), antonim (lawan kata), hiponimi, repetisi (pengulangan) yang ditemukan yaitu repetisi epizeukis, dan repetisi tautotes, kolokasi (sanding kata), dan ekuivalensi.   Kata kunci: kohesi gramatikal, leksikal dan novel
BENTUK DAN MAKNA VERBA DENOMINAL BAHASA JAWA DALAM SARIWARTA PADA PANJEBAR SEMANGAT EDISI TAHUN 2011 Dwi Cahyaningsih
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.926 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan proses perubahan bentuk verba denominal bahasa Jawa dalam Sariwarta pada Panjebar Semangat, (2) mendeskripsikan proses perubahan makna kata verba denominal bahasa Jawa dalam Sariwarta pada Panjebar Semangat. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sumber data  penelitian ini adalah majalah Panjebar Semangat  tahun 2011 dalam rubik Sariwarta sebanyak 53 edisi. Penelitian difokuskan pada proses pembentukan kata dan perubahan makna kata.  Data diperoleh dengan teknik membaca dan mencatat. Data dianalisis dengan menggunakan metode agih. Hasil analisis diperoleh dengan teknik gabungan  yaitu teknik formal dan informal. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) perubahan bentuk kata verba denominal bahasa Jawa terdapat tiga perubahan,  yaitu:  (a) perubahan kata jadian yang diturunkan dari kata dasarnya yaitu dengan proses afiksasi atau imbuhan yang berupa prefiks, sufiks, infiks, konfiks dan afiks gabung. Misalnya kata nyapu ‘menyapu’ diturunkan dari kata sapu ‘sapu’. Proses morfologisnya sebagai berikut: nyapu (ny- + sapu). (b) perubahan bentuk kata ulang yang diturunkan dari bentuk dasarnya. Dalam penelitian ini ditemukan dwipurwa, misalnya agegaman ‘bersenjata’ yang diturunkan dari kata benda yaitu gaman ‘alat sejenis sabit’ . Ulang afiks, misalnya kata bal-balan ‘bermain bola’ yang diturukan dari kata benda bal ‘bola’. (c) perubahan kata majemuk yaitu pada kata mbuntut ula. (2) perubahan makna verba denominal bahasa Jawa, ditemukan 21 macam perubahan makna verba denominal pada Panjebar Semangat tahun 2011.   Kata kunci: Bentuk, Verba Denominal
MITOS PESAREAN MBAH DAMARWULAN DALAM TRADISI SELAMETAN SURAN DI DESA SUTOGATEN KECAMATAN PITURUH KABUPATEN PURWOREJO Siti Nurfaridah
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.94 KB)

Abstract

Abstrak: Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu (1) proses tradisi selametan suran di Desa Sutogaten. (2) makna simbolis sesaji yang terkandung dalam ubarampe yang digunakan dalam tradisi selametan suran di Desa Sutogaten. (3) persepsi masyarakat terhadap eksistensi mitos Mbah Damarwulan dalam tradisi selametan suran di Desa Sutogaten. Setting penelitian berupa tempat dan waktu yang dilakukan di Desa Sutogaten Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo, waktu penelitian mulai bulan September 2013 sampai Maret 2014. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif. Sumber data penelitian ini berupa informasi dan dokumentasi yang diperoleh dari nara sumber yaitu perangkat desa, masyarakat Desa Sutogaten dan buku-buku yang berhubungan dengan mitos dan tradisi selametan suran. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi, dalam penelitian ini peneliti melakukan observasi partisipan yaitu ikut terlibat baik pasif maupun aktif. Instrumen dalam penelitian ini yaitu handphone untuk merekam wawancara dan kamera digital untuk mengambil gambar dan merekam. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan budaya berupa etnografi yaitu penelitian untuk mendiskripsikan kebudayaan sebagai mana adanya. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa, di dalam tradisi selametan suran di mana peneliti memfokuskan pada (1) proses tradisi selametan suran di Desa Sutogaten, adapun yang dianalisis meliputi  proses tradisi selametan suran berlangsung yaitu dari tahap pra pelaksanaan, pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan. (2) makna simbolis sesaji yang terkandung dalam ubarampe yang digunakan dalam tradisi selametan suran meliputi 9 sesaji macam yang memiliki makna secara harfiah. (3) persepsi masyarakat terhadap eksistensi Mitos Damarwulan dalam tradisi selametan suran, persepsi dari masyarakat Desa Sutogaten sendiri di pandang menjadi tiga yakni dari segi keagamaan, segi kebudayaan, dan segi kemasyarakatan.   Kata kunci: selametan, makna sesaji, persepsi, mitos

Page 1 of 2 | Total Record : 14