cover
Contact Name
Dr. Achmad Amzeri, SP. MP.
Contact Email
-
Phone
+6285231168649
Journal Mail Official
agrovigor@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture University of Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO BOX 2, Kamal - Bangkalan 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi
ISSN : 1979577     EISSN : 24770353     DOI : https://doi.org/10.21107/agrovigor
Core Subject : Agriculture,
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi is a scientific paper in the field of science Agroecotechnology which include: plant science, soil science, plant breeding, pest and plant diseases.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2018): Maret" : 10 Documents clear
Kontribusi Biomassa dari Daun Gugur dalam Penyediaan Hara pada Pertanaman Ubi Kayu Suwarto Sukiman; Ahmad Faris Abrori
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.332 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.3925

Abstract

In the central area of production, cassava is cultivated continuously along the year as monoculture. At harvest time a number of biomass will be transported from the land in the form of cassava roots, stem, and leaves; a number of nutrient transported from the land. However, the cassava is still could be cultivated with not significantly decreasing its productivity. Probable that is related to the leaves fall during the planting season as the biomass return. The study to know the contribution of the leaves fall to nutrient supply of cassava field has been conducted by planting cassava varieties of Adira-1, Gajah and Mangu as monoculture and intercropped with yam bean.  The leaves were starting fall at 8 weeks after planting (WAP).  The contribution of the leaves fall was significantly different among the varieties. The influence of planting system was not significant to the leaves fall.  Up to the harvest time at 34 WAP, the nutrient supply of leaves fall of Adira-1 was estimated could replace all nutrient of N, P, K, Ca and Mg transported in the roots of 15.7 ton ha-1.  The leaves fall of Gajah varieties was estimated could replace all nutrient of N and Ca transported in the roots of 19.6 ton ha-1.  However, the leaves fall of Mangu variety was estimated could not replace all nutrient of N, P, K, Ca and Mg transported in the roots of 30.5 ton ha-1. Additional fertlizers were needed to supply enought nutrient to Gajah and Mangu varieties.
Pertumbuhan Bibit Bud Chips dari Nodus Berbeda pada Tanaman Kolesom (Talinum Triangulare (Jacq.) Willd.) Putri Andini Mandasari; Sinar Suryawati
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.218 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.4030

Abstract

Kolesom merupakan tanaman yang berpotensi sebagai sayur dan obat. Pemanfaatan potensi kolesom membawa konsekuensi pada perluasan lahan penanaman dan perbaikan teknologi budidaya, diantaranya penggunaan bibit bermutu. Bibit kolesom dapat diperbanyak secara generatif dengan biji dan vegetative menggunakan stek. Penggunaan stek dengan beberapa ruas (banyak nodus) mengakibatkan kebutuhan stek semakin banyak. Oleh karena itu, stek satu mata tunas (bud chips) menjadi alternatif. Tujuan penelitian untuk mempelajari pertumbuhan bibit kolesom asal bud chips dari nodus berbeda. Taraf perlakuan mulai dari bud chip nodus nomor 1 dari pangkal batang (BC1), BC2, BC3, BC4, BC5, BC6, BC7, BC8 sampai BC9. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asal bud chips yang berbeda menghasilkan pertumbuhan yang berbeda pula; waktu pecah mata tunas perlakuan bud chip dari nodus nomor 8 dan 9 lebih cepat dibandingkan nodus nomor 1, 2 dan 3 dari pangkal batang; luas daun, berat kering organ daun, akar dan batang serta berat kering total/tanaman paling tinggi dicapai oleh perlakuan bud chip dari nodus nomor 1 dari pangkal batang.
Ekstrak daun Alang-Alang (Imperata cylindrica L.) terhadap Viabilitas dan Pertumbuhan Awal Jagung Varietas Madura 1 dan Madura 3 Gagas Wilda Firmansyah; achmad djunaedy; Kaswan Badami
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.662 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.4303

Abstract

Daun alang-alang (Imperata cylindrica L.) dapat digunakan sebagai mulsa organik yang mendukung pertumbuhan tanaman jagung melalui penghambatan pertumbuhan gulma dan juga menambah bahan organik tanah. Namun alelopati alang-alang dapat beresiko mengnganggu perkecambahan biji jagung. Oleh karena itu evaluasi pengaruh alelopati daun alang-alang perlu dilakukan untuk menghindari efek negatifnya pada tanaman jagung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui effek alelopati daung alang-alang terhadap perkecambahan dan pertumbuhan awal biji jagung. Perlakuan pada penelitian ini yaitu pervedaan konsentrasi ekstrak daun alang-alang dan varietas jagung. Konsentrasinya meliputi 0, 7, 14, 21 g mL-1 dan varietas jagung menggunakan Madura 1 and Madura 3. Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi persentase perkecambahan, laju perkecambahan, panjang tanaman dan panjang akar. Seluruh perlakuan menunjukkan hasil yang significant terhadap semua parameter kecuali laju perkecambahan. Hasil pertumbuhan dan perkecambahan terendah ditunjukkan pada konsentrasi 21 g 250 mL-1 dan varietas Madura 3 menunjukkan hasil yang lebih baik dari Madura 1.
Kajian Perubahan Sifat Fisik dan Kimia Akibat Penyawahan pada Andisol Sukabumi, Jawa Barat Dewo Ringgih; M. Luthfi Rayes; Sri Rahayu Utami
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.039 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.4867

Abstract

Areal persawahan di Indonesia tersebar hampir 42% lahan sawah ada di Pulau Jawa, 27% di Sumatera, sedangkan 13%, 11%, dan 7% berturut-turut ada di Kalimantan, Sulawesi, dan Bali, NTB dan NTT. Lahan sawah menunjukkan adanya indikasi pelandaian produksi padi yang disebabkan oleh degradasi kesuburan tanah dan perubahan sifat fisik akibat reaksi fisiko kimia tanah sawah. Sesuai dengan sifat tanah asalnya, baik dimanfaatkan untuk lahan kering atau lahan sawah, terdapat perbedaan yang mendasar atas kedua tanah tersebut. Perbedaan tersebut nampak pada sifat morfologi, fisika, dan kimia. Penelitian ini difokuskan pada perubahan-perubahan sifat-sifat tanah antara lain sifat morfologi, fisik maupun kimia pada ordo Andisol di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Pada lokasi atau daerah penelitian diamati 6 profil. Masing – masing 3 profil untuk tanah sawah, dan 3 profil untuk tanah bukan sawah (Tegal). Sifat fisik pada ordo Andisol menunjukkan perbedaan yang cukup nyata adalah nilai bobot isi (Bulk Density). Perlakuan pengolahan lahan pada epipedon (kegiatan pembajakan dan pelumpuran) dapat meningkatkan nilai bobot isi tanah.  Bobot isi tanah pada lapisan tapak bajak (pada lahan sawah) lebih tinggi dari lapisan tanah di atas maupun dibawahnya. Penyawahan tidak menyebabkan perubahan pH tanah. Perbedaan kandungan C-organik yang di amati, banyak dipengaruhi oleh sedikit banyaknya masukan bahan organik ke dalam tanah. Nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah dipengaruhi kandungan C-organik dan jenis mineral liat pembentuk tanah tersebut. jadi perbedaan nilai KTK antara lahan tegal dengan lahan sawah banyak dipengaruhi oleh banyaknya masukan bahan organik ke dalam tanah, sehingga semakin tinggi nilai C-organiknya maka semakin tinggi pula nilai KTK nya.
Pemberian PGPR Indigen untuk Pertumbuhan Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Varietas Lokal Tuban pada Media Tanam Bekas Tambang Kapur Hesti Kurniahu; Sriwulan Sriwulan; Riska Andriani
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.4305

Abstract

Kacang tanah (Arachys hypogaea L.) varietas lokal Tuban merupakan salah satu tanaman budidaya yang memiliki potensi ditanam pada lahan marginal bekas tambang kapur karena memiliki adaptasi yang tinggi pada kondisi kering dan alkali. Secara biologi, fisika dan kimia lahan bekas tambang kapur memiliki kesuburan tanah yang rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesuburannya adalah dengan menggunakan pupuk hayati yang adaptif  pada kondisi lahan bekas tambang kapur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi pemanfaatan PGPR dari tanaman pioneer yang tumbuh  di lahan bekas tambang kapur terhadap pertumbuhan vegetatif  kacang tanah (Arachys hypogaea L.) varietas lokal Tuban pada media tanam bekas tambang kapur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan (25%, 50%, 75% dan 100%) dan satu kontrol (0%) masing-masing lima kali ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan uji MANOVA pemberian berbagai konsentrasi PGPR tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi dan jumlah daun tanaman.  Sementara berdasarkan uji statistik korelasi Spearman memiliki korelasi yang signifikan terhadap warna daun. Semakin tinggi konsentrasi PGPR yang diberikan menghasilkan warna daun yang semakin hijau berdasarkan skala Leaf Colour Chart (LCC).
Perbedaan De-astrigency Terhadap Lama Masa Simpan Buah Kesemek Eko Setiawan
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.459 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.4866

Abstract

Kesemek oriental (Diospyros kaki L.) berasal dari dan sebagian besar telah dibudidayakan di Cina, Korea, dan Jepang, dan saat ini dibudidayakan di Indonesia di daerah Batu, Kuningan, dan Brastagi. Keberhasilan dalam menyebarkan kesemek di Indonesia masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan suhu rendah untuk penyimpanan lama buah kesemek. Penyemprotan buah kesemek dengan alkohol 95% dapat menghilangkan sifat astringency lebih cepat, tetapi kualitas buah menjadi lebih buruk karena kerusakan pada dinding sel buah, gangguan daging kulit dan pembusukan. Buah dengan perlakuan semprotan alkohol 95% meningkatkan pembusukan hingga 50% selama dua minggu pascapanen. Untuk menjaga kualitas kesemek, perlu disemprotkan dengan alkohol 70% untuk kualitas yang baik. 
Studi Jenis Media Pembibitan terhadap Pertumbuhan Bibit Mentimun (Cucumis sativus L.) Paramyta Nila Permanasari; Anas Dinurrohman Susila
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.54 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.4376

Abstract

Mentimun adalah salah satu keluarga Cucurbitaceae yang memiliki nilai ekonomi penting. Bibit berkualitas adalah bibit yang kuat, berdaun hijau, sehat dan memiliki perakaran yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi media yang tepat untuk pertumbuhan bibit mentimun. Penelitian ini dilaksanakan di Dramaga Bogor pada tahun 2013. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan empat ulangan dan tujuh perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah vermikompos, arang sekam, pupuk organik granul, vermikompos-arang sekam, vermikompos-pupuk organik granul,arang sekam-pupuk organik granul, vermikompos- arang sekam- pupuk organik granul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua karakter pengamatan (perkecambahan biji, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, volume akar, rasio tajuk akar) berbeda nyata. Bobot basah tajuk  tertinggi diperoleh dari vermikompos-arang sekam (25,16 g), diikuti oleh vermikompos (24,70 g), vermikompos – arang sekam- pupuk organik granul(16,60 g), arang sekam (12,28 g), arang sekam- butiran pupuk organik (7,47 g), vermikompos- pupuk organik granul (2,04 g) dan pupuk organik granul (0 g). Sedangkan bobot basah akar tertinggi diperoleh dari vermikompos-arang sekam-pupuk organik granul(2,72 g), diikuti oleh arang sekam-vermikompos (2,43 g), vermikompos (2,43 g), arang sekam (1,37 g), vermikompos-pupuk organik granul (1,07 g), arang sekam – pupuk organik granul (0,23 g), dan pupuk organik granul (0 g). Secara umum dapat dilihat bahwa media pembibitan mentimun akan memberikan pertumbuhan yang baik jika kita menggunakan vermikompos sebagai komponen utama atau campuran.
Uji Teknis dan Ekonomis Komponen Pengendalian Hama Penyakit Terpadu pada Usaha Tani Tomat Evy Latifah; Hanik Anggraeni Dewi; Putu Bagus Daroini; Abu Z. Zakariya; Arief L. Hakim; Joko Mariyono
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.298 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.3507

Abstract

Tomat merupakan komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya masih rendah. Salah satu penyebab adalah serangan hama dan penyakit. Paket pengendalian hama-penyakit terpadu (PHPT) dalam rangka meningkatkan produksi tomat perlu dikaji. Kajian ini dilaksanakan pada bulan November 2013 - Februari 2014 dengan dua paket pengendalian hama-penyakit terpadu yaitu paket pemanfaatan Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR); paket pemanfaatan mikroorganisme lokal. Sebagai pembanding dipilih kebiasaan petani setempat. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman dan produksi tomat yang menggunakan PGPR paling tinggi. Tingkat serangan beberapa hama dan penyakit pada kedua PHPT relatif lebih rendah dari pada kebiasaan petani. Analisis usahatani juga menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh dengan PHPT lebih tinggi daripada keutungan dengan kebiasaan petani. 
Pemanfaatan Bahan Nabati Lokal Berefek Pestisida untuk Mengendalikan Hama Cylas formicarius pada Tanaman Ubi Jalar Nina Jeni Lapinangga; Yosefus F. da Lopez
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.3822

Abstract

Ubi jalar merupakan salah satu komoditas yang saat ini sedang dikembangkan di Kabupaten Timor Tengah Selatan, namun produktivitasnya jauh lebih rendah dari pada produktivitas nasional. Penyebabnya yaitu serangan hama Cylas formicarius. Penggunaan insektisida kimia yang dilakukan oleh petani saat ini dapat menimbulkan berbagai pengaruh negatif sehingga perlu dicari alternatif lain untuk mengendalikan hama atau dengan mencari substitusi pestisida kimiawi. Salah satu substitusi tersebut adalah dengan menggunakan pestisida nabati yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Alam di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menyediakan banyak bahan yang berpotensi sebagai pestisida nabati. Misalnya mimba (Azadirachta  indica), babadotan (Ageratum conyzoides), sirsak (Annona muricata), anona (Annona  squamosa), kenikir (Tagetes erecta), pepaya (Carica papaya), dan sirih hutan (Piper caducibracteum). Namun, efektivitas bahan-bahan nabati tersebut untuk mengendalikan hama Cylas formicarius belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pestisida nabati terhadap mortalitas hama Cylas formicarius. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pemikiran bagi petani dalam menentukan teknik pengendalian hama Cylas formicarius yang ramah lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas pestisida nabati terhadap mortalitas hama Cylas formicarius tertinggi sampai terendah berturut-turut yaitu : daun mimba sebesar 97,5%; daun sirsak sebesar 92,5%; daun anona 87,5%; daun sirih sebesar 82,5%; daun babadotan sebesar 67,5%; daun kenikir sebesar 47,5%; dan daun pepaya sebesar 45%. Disarankan untuk menggunakan daun mimba, daun sirsak, daun anona, daun sirih, dan daun babadotan untuk mengendalikan hama Cylas formicarius karena mampu menyebabkan mortalitas larva di atas 50% pada kondisi laboratorium.
Keragaan Pertumbuhan Tanaman Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc.) pada Kondisi Cekaman Kekeringan Di Provinsi Banten Sri Lestari; Yati Astuti; Rika Jayanti Malik; Eko Kardiyanto
Agrovigor Vol 11, No 1 (2018): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v11i1.3818

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai keragaan tanaman jahe merah yang dibudidayakan dalam kondisi cekaman kekeringan akibat intensitas curah hujan yang kurang. Penelitian dilaksanakan di kecamatan Maja Kabupaten Lebak Provinsi Banten pada bulan Januari hingga Desember 2015 dengan kondisi curah hujan pertahun 1922 mm. Penelitian menggunakan metode penelitian Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 2 (dua) faktor, yaitu perlakuan pupuk (4 perlakuan) dan perlakuan sistem pertanaman budidaya (2 perlakuan) masing-masing diulang sebanyak 3 kali. Paket teknologi terbaik pada fase vegetatif tanaman jahe umur 4 BST pada kondisi cekaman kekeringan yaitu pada perlakuan P1S2 (perlakuan 150% pupuk kandang pada sistem tanam polibag) untuk parameter tinggi tanaman sebesar 31,29 cm dan diameter batang sebesar 2,09 cm. Perlakuan P1S1 (perlakuan 150% pupuk kandang pada sistem tanam monokultur lahan) menghasilkan bobot rimpang tertinggi (12,33 gram rumpun-1) pada umur panen 6,5 BST. Sistem pertanaman polybag pada kondisi cekaman kekeringan menjadikan kondisi tanaman lebih cepat mengalami kekeringan jika dibandingkan dengan sistem pertanaman di lahan. 

Page 1 of 1 | Total Record : 10