cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 394 Documents
Kearifan Lokal Pemanfaatan Mangrove Untuk Ketahanan Pangan Masyarakat Pesisir Di Desa Jaring Halus, Sumatera Utara Sari, Ratna; Has, Dini Hardiani; Ifanda, Dayun
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.32317

Abstract

ABSTRAKPemanfaatan biodiversitas hutan mangrove dalam upaya menjaga ketahanan pangan masyarakat pesisir sangat penting untuk diketahui. Mengingat pengetahuan tradisional sudah menjadi aset sosial yang penting maka fungsinya dalam masyarakat sekitar hutan harus diidentifikasi dengan jelas. Identifikasi spesies flora dan fauna di ekosistem mangrove dapat diarahkan untuk meningkatkan potensi diversifikasi dalam penggunaannya khususnya bagi masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis flora dan fauna mangrove yang dimanfaatkan masyarakat serta bentuk kearifan lokal dalam menjaga ketahanan pangan di Desa Jaring Halus, Kabupaten Langkat. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan 35 responden dan observasi lapangan terhadap vegetasi dan fauna mangrove. Hasil menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan 14 jenis tumbuhan dan 15 jenis ikan dan udang sebagai sumber pangan dan bahan pengobatan. Kearifan lokal berupa tradisi Jamu Laut berperan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove. Pemanfaatan mangrove lebih dominan untuk bahan bakar dan kayu bangunan dibanding pangan langsung. Pengetahuan lokal ini berpotensi mendukung pengembangan strategi ketahanan pangan berbasis ekosistem pesisir.Kata Kunci: Kearifan lokal, Mangrove, Pangan, Pemanfaatan, PesisirABSTRACTUnderstanding the use of mangrove forest biodiversity in maintaining food security in coastal communities is crucial. Given that traditional knowledge has become a significant social asset, its function within communities surrounding the forest must be clearly identified. Identification of flora and fauna species in the mangrove ecosystem can be directed towards increasing the potential for diversification, particularly for coastal communities living adjacent to mangrove forests. This study aims to identify the types of mangrove flora and fauna utilized by the community and the forms of local wisdom in maintaining food security in Jaring Halus Village, Langkat Regency. Data were obtained through semi-structured interviews with 35 respondents and field observations of mangrove vegetation and fauna. The results indicate that the community utilizes 14 plant species and 15 fish and shrimp species as food sources and medicinal ingredients. Local wisdom, the Jamu Laut tradition, plays a crucial role in maintaining the sustainability of the mangrove ecosystem. Mangroves are predominantly used for fuel and building wood rather than for direct food. This local knowledge has the potential to support the development of coastal ecosystem-based food security strategies.Keywords: Local wisdom, Mangrove, Food, Utilization, Coastal
Karakteristik Gelombang Panas Laut Di Perairan Selatan Jawa Barat Riztiawan, Alfianu Adhi; Firdaus, Hadi; Saptari, Muhammad Khairan; Djamil, Yudha Setiawan; Syamsuddin, Mega Laksmini; Syamsudin, Fadli; Sari, Qurnia Wulan
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.31731

Abstract

ABSTRAKPerairan Selatan Jawa Barat merupakan wilayah dengan dinamika oseanografi yang kompleks, dipengaruhi oleh faktor regional maupun global. Kompleksitas ini membuat area tersebut sangat rentan terhadap peningkatan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim, yang dapat memicu Gelombang Panas Laut (GPL) dan berpotensi mengganggu ekosistem laut. Studi ini menganalisis GPL di wilayah tersebut selama periode 1995-2024 menggunakan data suhu permukaan laut hasil penginderaan satelit. Parameter utama GPL (frekuensi, durasi, dan intensitas maksimum) dievaluasi secara spasial dan temporal. Hasil menunjukkan bahwa wilayah pesisir mengalami frekuensi dan intensitas GPL yang lebih tinggi, menandakan kerentanan perairan dangkal terhadap kejadian suhu ekstrem. GPL paling ekstrem terjadi pada tahun 1998, 2010, dan 2016, dengan tahun 2016 menunjukkan durasi terpanjang (35 hari) dan frekuensi tertinggi (7,28 kejadian). Intensitas maksimum tercatat pada tahun 1998 sebesar 1,89 °C, diikuti oleh tahun 2016 dan 2010. Pola temporal sangat dipengaruhi oleh variabilitas antar-tahunan, kemungkinan didorong oleh mode iklim seperti ENSO, sementara tren jangka panjang yang signifikan tidak terdeteksi. Studi ini berfokus pada parameter utama GPL dan tidak membahas faktor fisik potensial seperti fluks panas udara-laut, sirkulasi arus laut, atau gaya angin lokal. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi upaya konservasi ekosistem pesisir sekaligus mendukung perumusan kebijakan perikanan tangkap yang adaptif terhadap variabilitas iklim di selatan Jawa Barat.Kata Kunci: Gelombang Panas Laut, Satelit, Suhu Permukaan LautABSTRACTThe Western Southern Java Waters are a region with complex oceanographic dynamics influenced by both regional and global factors. This complexity makes the area highly susceptible to increasing sea surface temperatures due to climate change, which can trigger Marine Heatwaves (MHWs) and potentially disrupt marine ecosystems. This study analyzed MHWs in the region over the period 1995-2024 using satellite-derived sea surface temperature data. The primary metrics of MHWs (frequency, duration, and maximum intensity) were evaluated both spatially and temporally. Results show that coastal areas experienced higher MHW frequency and intensity, indicating greater vulnerability of shallow waters to extreme temperature events. The most extreme MHWs occurred in 1998, 2010, and 2016, with 2016 exhibiting the longest duration (35 days) and highest frequency (7.28 events). Maximum intensity peaked in 1998 at 1.89 °C, followed closely by 2016 and 2010. Temporal patterns were strongly influenced by interannual variability, likely driven by climate modes such as ENSO, whereas no significant long-term trends were detected. This study focused on primary MHW metrics and did not explore  potential  physical  drivers such  as air-sea  heat flux,  ocean current circulation, or local wind forcing. These findings provide a scientific basis for coastal ecosystem conservation efforts and support the formulation of climate-adaptive fisheries management policies in southern West Java.Keywords: Marine Heatwaves, Satellite, Sea Surface Temperature
Distribusi Dan Kelimpahan Mikroplastik Di Perairan Muara Belawan, Provinsi Sumatera Utara Simarmata, Monika Advent Novia; Mulya, Miswar Budi; Barus, Ternala Alexander
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.32325

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini untuk menganalisis kelimpahan mikroplastik, mengidentifikasi tipe dan warna mikroplastik pada perairan Belawan, provinsi Sumatera Utara. Pengambilan sampel air permukaan kedalaman ±20 cm (500 mL/ulangan) dilakukan secara sederhana di tiga stasiun pengamatan, disaring menggunakan plankton net. Prosedur analisis di laboratorium meliputi:  1) penyaringan bertingkat menggunakan saringan berukuran 5 mm dan 300 µm, 2) destruksi bahan organik menggunakan H₂O₂ 30%, 3) pemisahan densitas menggunakan larutan NaCl 30%, 4) penyaringan akhir sampel air menggunakan whatman no. 42, dan 5) identifikasi menggunakan mikroskop binokuler dengan perbesaran 10×. Kelimpahan mikroplastik konsentrasi tertinggi ditemukan di stasiun 1 titik koordinat 3°47'26,268″N 98°40'45"E dengan rata-rata kelimpahan 110 ± 16,37 partikel/L, kemudian stasiun 2 titik koordinat 3°47'29,484″N 98°40′57,486"E dengan rata-rata kelimpahan 90,67 ± 14,74 partikel/L, dan rata-rata kelimpahan terendah 55,33 ± 17 partikel/L di stasiun 3 titik koordinat 3°47'16,686″N 98°40'56,682"E. Untuk variasi tipe yang ditemukan, fiber merupakan tipe dominan (33-50%), disusul tipe fragmen (28-48%), film (12-16%) , foam (3-7%) , dan tipe paling sedikit pellet (3-5%). Untuk sebaran warna yang ditemukan paling banyak adalah transparan (15-33%), disusul warna biru (15-28%), merah (13-19%), hitam (9-16%), putih (7-9%), abu-abu (0-6%), hijau (4-7%), orange (0-4%), kuning (2-4%), cokelat (1-6%), dan warna yang paling sedikit ungu (0-1%). Menunjukkan bahwa pencemaran wilayah ini bersumber masukan limbah dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Kota Medan yang terperangkap di muara, pelepasan limbah domestik dan rumah tangga, serta aktivitas maritim langsung ke perairan. Tingginya kontaminasi mikroplastik ini memerlukan intervensi kebijakan pengelolaan sampah yang terpadu dan berkelanjutan dari pemerintah daerah.Kata Kunci: Air, Kelimpahan Mikoroplastik, Perairan Belawan, Tipe Mikroplastik, Warna MikroplastikABSTRACTThis study aims to analyse the abundance of microplastics and identify the types and colours of microplastics in the waters of Belawan, North Sumatra province. Surface water samples at a depth of ±20 cm (500 mL/repetition) were collected simply at three observation stations and filtered using a plankton net. The laboratory analysis procedure included: 1) multi-stage filtration using 5 mm and 300 µm sieves, 2) destruction of organic material using 30% H₂O₂, 3) density separation using 30% NaCl solution, 4) final filtration of water samples using Whatman No. 42, and 5) identification using a binocular microscope with 10× magnification. The highest concentration of microplastics was found at station 1 at coordinates 3°47'26.268″N 98°40'45"E with an average abundance of 110 ± 16.37 particles/L, followed by station 2 at coordinates 3°47'29.484″N 98 °40′57.486″E with an average abundance of 90.67 ± 14.74 particles/L, and the lowest average abundance of 55.33 ± 17 particles/L at station 3 at coordinates 3°47'16.686″N 98°40'56.682″E. Regarding the types found, fibre was the dominant type (33-50%), followed by fragments (28-48%), film (12-16%), foam (3-7%), and the least common type, pellets (3-5%). The most common colour distribution was transparent (15-33%), followed by blue (15-28%), red (13-19%), black (9-16%), white (7-9%), grey (0-6%), green (4-7%), orange (0-4%), yellow (2-4%), brown (1-6%), and the least common colour purple (0-1%). This indicates that pollution in this area originates from waste input from the Medan City Watershed (DAS) trapped at the estuary, domestic and household waste discharge, and maritime activities directly into the water. The high level of microplastic contamination requires integrated and sustainable waste management policy interventions from the local government.Keywords: Water, Microplastic Abundance, Belawan Estuary, Microplastic Types, Microplastic Colors
Analisis Potensi Antioksidan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii dan Sargassum sp.) Sebagai Produk Body Lotion Rosa, Kamelia; Violando, Wiga Alif
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.28551

Abstract

ABSTRAKRumput laut kaya akan senyawa bioaktif, terutama senyawa fenol dan turunannya yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan terhadap lingkungan ekstrim. Senyawa bioaktif ini memiliki aktivitas antioksidan yang ditemukan dalam rumput laut. Antioksidan dalam kosmetik berfungsi untuk mencegah oksidasi yang dapat merusak formulasi kosmetik dan menangkal efek buruk radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan kulit seperti kemerahan, kekeringan, dan pecah-pecah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kandungan antioksidan dalam body lotion berbahan dasar rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dan (Sargassum sp.) menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl), dengan pengukuran yang dilakukan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 517 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa body lotion berbahan dasar rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dan (Sargassum sp.) mengandung antioksidan, yang ditunjukkan oleh perubahan warna dari ungu menjadi kuning pucat setelah didiamkan selama 30 menit. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa nilai IC₅₀ formulasi terbaik (F3) sebesar 36,36 ppm, yang termasuk kategori aktivitas antioksidan sangat kuat. Sebagai pembanding, nilai IC₅₀ F0 sebesar 24.237,50 ppm, F1 sebesar 49,80 ppm, dan F2 sebesar 49,75 ppm yang menunjukkan bahwa body lotion berbahan dasar rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dan (Sargassum sp.) memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Temuan ini memiliki signifikansi praktis bagi industri kosmetik sebagai alternatif bahan antioksidan alami yang ramah lingkungan, sekaligus berpotensi meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat pesisir melalui pemanfaatan rumput laut lokal Kata kunci: Rumput laut, Antioksidan, body lotionABSTRACTSeaweed is rich in bioactive compounds, particularly phenolic compounds and their derivatives, which serve as defense mechanisms against extreme environments. These bioactive compounds possess antioxidant activity found in seaweed. Antioxidants in cosmetics function to prevent oxidation that can damage cosmetic formulations and counteract the adverse effects of free radicals that can cause skin damage such as redness, dryness, and cracking. The aim of this study is to analyze the antioxidant content in seaweed-based body lotion (Kappaphycus alvarezii) and (Sargassum sp.) using the DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) method, with measurements conducted using a spectrophotometer at a wavelength of 517 nm. The research results show that seaweed-based body lotion (Kappaphycus alvarezii) and (Sargassum sp.) contain antioxidants, as indicated by a color change from purple to pale yellow after being allowed to stand for 30 minutes. The antioxidant activity test showed that the IC₅₀ value of the best formulation (F3) was 36.36 ppm, which falls into the category of very strong antioxidant activity. For comparison, the IC₅₀ values of F0, F1, and F2 were 24,237.50 ppm, 49.80 ppm, and 49.75 ppm, respectively, indicating that the seaweed-based body lotion (Kappaphycus alvarezii and Sargassum sp.) possesses very strong antioxidant activity. This finding has practical significance for the cosmetics industry as an eco-friendly alternative source of natural antioxidants, while also offering the potential to enhance the economic value of coastal communities through the utilization of local seaweed. Keywords: Seaweed, Antioxidants, body lotion