cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 404 Documents
Kearifan Lokal Pemanfaatan Mangrove Untuk Ketahanan Pangan Masyarakat Pesisir Di Desa Jaring Halus, Sumatera Utara Ratna Sari; Dini Hardiani Has; Dayun Ifanda
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.32317

Abstract

ABSTRAKPemanfaatan biodiversitas hutan mangrove dalam upaya menjaga ketahanan pangan masyarakat pesisir sangat penting untuk diketahui. Mengingat pengetahuan tradisional sudah menjadi aset sosial yang penting maka fungsinya dalam masyarakat sekitar hutan harus diidentifikasi dengan jelas. Identifikasi spesies flora dan fauna di ekosistem mangrove dapat diarahkan untuk meningkatkan potensi diversifikasi dalam penggunaannya khususnya bagi masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis flora dan fauna mangrove yang dimanfaatkan masyarakat serta bentuk kearifan lokal dalam menjaga ketahanan pangan di Desa Jaring Halus, Kabupaten Langkat. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan 35 responden dan observasi lapangan terhadap vegetasi dan fauna mangrove. Hasil menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan 14 jenis tumbuhan dan 15 jenis ikan dan udang sebagai sumber pangan dan bahan pengobatan. Kearifan lokal berupa tradisi Jamu Laut berperan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove. Pemanfaatan mangrove lebih dominan untuk bahan bakar dan kayu bangunan dibanding pangan langsung. Pengetahuan lokal ini berpotensi mendukung pengembangan strategi ketahanan pangan berbasis ekosistem pesisir.Kata Kunci: Kearifan lokal, Mangrove, Pangan, Pemanfaatan, PesisirABSTRACTUnderstanding the use of mangrove forest biodiversity in maintaining food security in coastal communities is crucial. Given that traditional knowledge has become a significant social asset, its function within communities surrounding the forest must be clearly identified. Identification of flora and fauna species in the mangrove ecosystem can be directed towards increasing the potential for diversification, particularly for coastal communities living adjacent to mangrove forests. This study aims to identify the types of mangrove flora and fauna utilized by the community and the forms of local wisdom in maintaining food security in Jaring Halus Village, Langkat Regency. Data were obtained through semi-structured interviews with 35 respondents and field observations of mangrove vegetation and fauna. The results indicate that the community utilizes 14 plant species and 15 fish and shrimp species as food sources and medicinal ingredients. Local wisdom, the Jamu Laut tradition, plays a crucial role in maintaining the sustainability of the mangrove ecosystem. Mangroves are predominantly used for fuel and building wood rather than for direct food. This local knowledge has the potential to support the development of coastal ecosystem-based food security strategies.Keywords: Local wisdom, Mangrove, Food, Utilization, Coastal
Karakteristik Gelombang Panas Laut Di Perairan Selatan Jawa Barat Alfianu Adhi Riztiawan; Hadi Firdaus; Muhammad Khairan Saptari; Yudha Setiawan Djamil; Mega Laksmini Syamsuddin; Fadli Syamsudin; Qurnia Wulan Sari
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.31731

Abstract

ABSTRAKPerairan Selatan Jawa Barat merupakan wilayah dengan dinamika oseanografi yang kompleks, dipengaruhi oleh faktor regional maupun global. Kompleksitas ini membuat area tersebut sangat rentan terhadap peningkatan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim, yang dapat memicu Gelombang Panas Laut (GPL) dan berpotensi mengganggu ekosistem laut. Studi ini menganalisis GPL di wilayah tersebut selama periode 1995-2024 menggunakan data suhu permukaan laut hasil penginderaan satelit. Parameter utama GPL (frekuensi, durasi, dan intensitas maksimum) dievaluasi secara spasial dan temporal. Hasil menunjukkan bahwa wilayah pesisir mengalami frekuensi dan intensitas GPL yang lebih tinggi, menandakan kerentanan perairan dangkal terhadap kejadian suhu ekstrem. GPL paling ekstrem terjadi pada tahun 1998, 2010, dan 2016, dengan tahun 2016 menunjukkan durasi terpanjang (35 hari) dan frekuensi tertinggi (7,28 kejadian). Intensitas maksimum tercatat pada tahun 1998 sebesar 1,89 °C, diikuti oleh tahun 2016 dan 2010. Pola temporal sangat dipengaruhi oleh variabilitas antar-tahunan, kemungkinan didorong oleh mode iklim seperti ENSO, sementara tren jangka panjang yang signifikan tidak terdeteksi. Studi ini berfokus pada parameter utama GPL dan tidak membahas faktor fisik potensial seperti fluks panas udara-laut, sirkulasi arus laut, atau gaya angin lokal. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi upaya konservasi ekosistem pesisir sekaligus mendukung perumusan kebijakan perikanan tangkap yang adaptif terhadap variabilitas iklim di selatan Jawa Barat.Kata Kunci: Gelombang Panas Laut, Satelit, Suhu Permukaan LautABSTRACTThe Western Southern Java Waters are a region with complex oceanographic dynamics influenced by both regional and global factors. This complexity makes the area highly susceptible to increasing sea surface temperatures due to climate change, which can trigger Marine Heatwaves (MHWs) and potentially disrupt marine ecosystems. This study analyzed MHWs in the region over the period 1995-2024 using satellite-derived sea surface temperature data. The primary metrics of MHWs (frequency, duration, and maximum intensity) were evaluated both spatially and temporally. Results show that coastal areas experienced higher MHW frequency and intensity, indicating greater vulnerability of shallow waters to extreme temperature events. The most extreme MHWs occurred in 1998, 2010, and 2016, with 2016 exhibiting the longest duration (35 days) and highest frequency (7.28 events). Maximum intensity peaked in 1998 at 1.89 °C, followed closely by 2016 and 2010. Temporal patterns were strongly influenced by interannual variability, likely driven by climate modes such as ENSO, whereas no significant long-term trends were detected. This study focused on primary MHW metrics and did not explore  potential  physical  drivers such  as air-sea  heat flux,  ocean current circulation, or local wind forcing. These findings provide a scientific basis for coastal ecosystem conservation efforts and support the formulation of climate-adaptive fisheries management policies in southern West Java.Keywords: Marine Heatwaves, Satellite, Sea Surface Temperature
Distribusi Dan Kelimpahan Mikroplastik Di Perairan Muara Belawan, Provinsi Sumatera Utara Monika Advent Novia Simarmata; Miswar Budi Mulya; Ternala Alexander Barus
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.32325

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini untuk menganalisis kelimpahan mikroplastik, mengidentifikasi tipe dan warna mikroplastik pada perairan Belawan, provinsi Sumatera Utara. Pengambilan sampel air permukaan kedalaman ±20 cm (500 mL/ulangan) dilakukan secara sederhana di tiga stasiun pengamatan, disaring menggunakan plankton net. Prosedur analisis di laboratorium meliputi:  1) penyaringan bertingkat menggunakan saringan berukuran 5 mm dan 300 µm, 2) destruksi bahan organik menggunakan H₂O₂ 30%, 3) pemisahan densitas menggunakan larutan NaCl 30%, 4) penyaringan akhir sampel air menggunakan whatman no. 42, dan 5) identifikasi menggunakan mikroskop binokuler dengan perbesaran 10×. Kelimpahan mikroplastik konsentrasi tertinggi ditemukan di stasiun 1 titik koordinat 3°47'26,268″N 98°40'45"E dengan rata-rata kelimpahan 110 ± 16,37 partikel/L, kemudian stasiun 2 titik koordinat 3°47'29,484″N 98°40′57,486"E dengan rata-rata kelimpahan 90,67 ± 14,74 partikel/L, dan rata-rata kelimpahan terendah 55,33 ± 17 partikel/L di stasiun 3 titik koordinat 3°47'16,686″N 98°40'56,682"E. Untuk variasi tipe yang ditemukan, fiber merupakan tipe dominan (33-50%), disusul tipe fragmen (28-48%), film (12-16%) , foam (3-7%) , dan tipe paling sedikit pellet (3-5%). Untuk sebaran warna yang ditemukan paling banyak adalah transparan (15-33%), disusul warna biru (15-28%), merah (13-19%), hitam (9-16%), putih (7-9%), abu-abu (0-6%), hijau (4-7%), orange (0-4%), kuning (2-4%), cokelat (1-6%), dan warna yang paling sedikit ungu (0-1%). Menunjukkan bahwa pencemaran wilayah ini bersumber masukan limbah dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Kota Medan yang terperangkap di muara, pelepasan limbah domestik dan rumah tangga, serta aktivitas maritim langsung ke perairan. Tingginya kontaminasi mikroplastik ini memerlukan intervensi kebijakan pengelolaan sampah yang terpadu dan berkelanjutan dari pemerintah daerah.Kata Kunci: Air, Kelimpahan Mikoroplastik, Perairan Belawan, Tipe Mikroplastik, Warna MikroplastikABSTRACTThis study aims to analyse the abundance of microplastics and identify the types and colours of microplastics in the waters of Belawan, North Sumatra province. Surface water samples at a depth of ±20 cm (500 mL/repetition) were collected simply at three observation stations and filtered using a plankton net. The laboratory analysis procedure included: 1) multi-stage filtration using 5 mm and 300 µm sieves, 2) destruction of organic material using 30% H₂O₂, 3) density separation using 30% NaCl solution, 4) final filtration of water samples using Whatman No. 42, and 5) identification using a binocular microscope with 10× magnification. The highest concentration of microplastics was found at station 1 at coordinates 3°47'26.268″N 98°40'45"E with an average abundance of 110 ± 16.37 particles/L, followed by station 2 at coordinates 3°47'29.484″N 98 °40′57.486″E with an average abundance of 90.67 ± 14.74 particles/L, and the lowest average abundance of 55.33 ± 17 particles/L at station 3 at coordinates 3°47'16.686″N 98°40'56.682″E. Regarding the types found, fibre was the dominant type (33-50%), followed by fragments (28-48%), film (12-16%), foam (3-7%), and the least common type, pellets (3-5%). The most common colour distribution was transparent (15-33%), followed by blue (15-28%), red (13-19%), black (9-16%), white (7-9%), grey (0-6%), green (4-7%), orange (0-4%), yellow (2-4%), brown (1-6%), and the least common colour purple (0-1%). This indicates that pollution in this area originates from waste input from the Medan City Watershed (DAS) trapped at the estuary, domestic and household waste discharge, and maritime activities directly into the water. The high level of microplastic contamination requires integrated and sustainable waste management policy interventions from the local government.Keywords: Water, Microplastic Abundance, Belawan Estuary, Microplastic Types, Microplastic Colors
Analisis Potensi Antioksidan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii dan Sargassum sp.) Sebagai Produk Body Lotion Kamelia Rosa; Wiga Alif Violando
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.28551

Abstract

ABSTRAKRumput laut kaya akan senyawa bioaktif, terutama senyawa fenol dan turunannya yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan terhadap lingkungan ekstrim. Senyawa bioaktif ini memiliki aktivitas antioksidan yang ditemukan dalam rumput laut. Antioksidan dalam kosmetik berfungsi untuk mencegah oksidasi yang dapat merusak formulasi kosmetik dan menangkal efek buruk radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan kulit seperti kemerahan, kekeringan, dan pecah-pecah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kandungan antioksidan dalam body lotion berbahan dasar rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dan (Sargassum sp.) menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl), dengan pengukuran yang dilakukan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 517 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa body lotion berbahan dasar rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dan (Sargassum sp.) mengandung antioksidan, yang ditunjukkan oleh perubahan warna dari ungu menjadi kuning pucat setelah didiamkan selama 30 menit. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa nilai IC₅₀ formulasi terbaik (F3) sebesar 36,36 ppm, yang termasuk kategori aktivitas antioksidan sangat kuat. Sebagai pembanding, nilai IC₅₀ F0 sebesar 24.237,50 ppm, F1 sebesar 49,80 ppm, dan F2 sebesar 49,75 ppm yang menunjukkan bahwa body lotion berbahan dasar rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dan (Sargassum sp.) memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Temuan ini memiliki signifikansi praktis bagi industri kosmetik sebagai alternatif bahan antioksidan alami yang ramah lingkungan, sekaligus berpotensi meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat pesisir melalui pemanfaatan rumput laut lokal Kata kunci: Rumput laut, Antioksidan, body lotionABSTRACTSeaweed is rich in bioactive compounds, particularly phenolic compounds and their derivatives, which serve as defense mechanisms against extreme environments. These bioactive compounds possess antioxidant activity found in seaweed. Antioxidants in cosmetics function to prevent oxidation that can damage cosmetic formulations and counteract the adverse effects of free radicals that can cause skin damage such as redness, dryness, and cracking. The aim of this study is to analyze the antioxidant content in seaweed-based body lotion (Kappaphycus alvarezii) and (Sargassum sp.) using the DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) method, with measurements conducted using a spectrophotometer at a wavelength of 517 nm. The research results show that seaweed-based body lotion (Kappaphycus alvarezii) and (Sargassum sp.) contain antioxidants, as indicated by a color change from purple to pale yellow after being allowed to stand for 30 minutes. The antioxidant activity test showed that the IC₅₀ value of the best formulation (F3) was 36.36 ppm, which falls into the category of very strong antioxidant activity. For comparison, the IC₅₀ values of F0, F1, and F2 were 24,237.50 ppm, 49.80 ppm, and 49.75 ppm, respectively, indicating that the seaweed-based body lotion (Kappaphycus alvarezii and Sargassum sp.) possesses very strong antioxidant activity. This finding has practical significance for the cosmetics industry as an eco-friendly alternative source of natural antioxidants, while also offering the potential to enhance the economic value of coastal communities through the utilization of local seaweed. Keywords: Seaweed, Antioxidants, body lotion
Pemanfaatan Citra Sentinel-2 Untuk Pemetaan Sebaran Total Suspended Solids (TSS) di Muara Sungai Porong Sidoarjo Muzdalifah Muzdalifah; Zainul Hidayah; Dwi Budi Wiyanto
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.32000

Abstract

ABSTRAKMuatan padatan yang terlarut dalam air (Total Suspended Solids) merupakan salah satu fenomena yang dapat mempengaruhi sifat optik perairan laut dan dapat diobservasi melalui teknik penginderaan jauh. Tingginya konsentrasi TSS dalam suatu badan perairan dapat menghambat laju fotosintesis, sehingga mengurangi kandungan oksigen terlarut dan berdampak negatif terhadap metabolisme biota akuatik. Penelitian dilakukan di perairan muara Sungai Porong Kabupaten Sidoarjo. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui perubahan multi-temporal konsentrasi TSS yang diduga disebabkan oleh tingginya sedimentasi di muara sungai dan (2) menguji hasil pengukuran TSS berdasarkan hasil penginderaan jauh dan data lapang. Citra satelit yang digunakan pada penelitian ini adalah Citra Sentinel-2 akuisisi tahun 2020 sampai dengan 2023. Algoritma yang digunakan untuk estimasi nilai TSS adalah algoritma Liu, Parwati, Laili dan Syarif. Sebanyak 25 titik sampling digunakan untuk perbandingan dan validasi data TSS hasil pengolahan citra dengan pengukuran lapang.Uji akurasi dilakukan mengugunakan 3 parameter yaitu RMSE, MAE dan MAPE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran nilai TSS in-situ berada pada kisaran 48-366 mg/L. Sementara itu, kisaran rata-rata nilai TSS yang diperoleh dari 4 algoritma antara 50 – 250 mg/L. Uji akurasi hasil pengukuran TSS in-situ dibandingkan dengan hasil pengolahan citra satelit mendapatkan nilai MAPE yang bervariasi antara 14.8% - 50.3%. Algoritma Liu menunjukkan hasil nilai TSS yang cukup mewakili pengukuran lapang (R2=0.75). Penelitian ini menunjukkan bahwa citra satelit dapat digunakan untuk mengestimasi konsentrasi TSS di perairan dengan akurasi yang sedang. Modifikasi algoritma atau pre-processing pada tahap awal pengolahan citra dapat dilakukan untuk meningkatkan akurasi pengukuran. Kata kunci: muatan padat terlarut; algoritma; citra Sentinel-2; multi temporal; ABSTRACTTotal Suspended Solids (TSS) is a phenomenon that can affect the optical properties of marine waters and can be observed through remote sensing techniques. High concentrations of TSS in a body of water can inhibit photosynthesis, which reduces the dissolved oxygen content and negatively impacts the metabolism of aquatic biota. This study was conducted in the estuarine waters of the Porong River in Sidoarjo Regency. The objectives were (1) to determine multi-temporal changes in TSS concentrations believed to be caused by high sedimentation in the estuary and (2) to evaluate TSS measurements derived from remote sensing against field data. The satellite imagery utilized in this study consisted of Sentinel-2 images acquired from 2020 to 2023. The algorithm employed to estimate TSS values was the Liu, Parwati, Laili, and Syarif algorithm. A total of 25 sampling points were established for comparison and validation of TSS data from image processing and field measurements. Accuracy tests were conducted using three parameters: RMSE, MAE, and MAPE. The study's results indicated that in situ TSS values ranged from 48 to 366 mg/L. In contrast, the average TSS values derived from the four algorithms ranged from 50 to 250 mg/L. The accuracy test comparing in situ TSS measurements with satellite image processing results yielded MAPE values between 14.8% and 50.3%. The Liu algorithm produced TSS values that were fairly representative of field measurements (R² = 0.75). This study demonstrates that satellite imagery can be used to estimate TSS concentrations in water bodies with moderate accuracy. Improvements to the algorithm or preprocessing during the initial stages of image processing may enhance measurement accuracy.Keywords: total suspended solids, algorithm, Sentinel-2 images; multi-temporal
Ekstraksi Dan Karakterisasi Kolagen Ubur-Ubur (Aurelia aurita) Dengan Metode Asam Dari Perairan Temajuk Sambas Kalimantan Barat Nora Idiawati
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.32026

Abstract

ABSTRAKUbur-ubur kaya dengan protein dengan kolangen sebagai penyusun utamanya. Kolagen memiliki potensi dibidang farmasi. Pangan dan kosmetik. Dibidang kosmetik kolagen memiliki potensi sebagai antioksidan, pelembab kulit, dan anti-aging. Dimana kandungan kolagen dalam kulit berkurang seiring bertambahnya usia, menjadikan alasan banyak industri kosmetik bersaing untuk mengembangkan penggunaan kolagen baik secara topikal maupun oral. Produk sampingan ikan menghasilkan kolagen halal penganti kolagen daging babi. Telah dilakukan ekstraksi kolagen dari ubur-ubur (Aurelia aurita) asal dari pulau Temajuk. Proses ekstraksi dilakukan dengan perendaman ubur-ubur menggunakan NaOH 0,1 N selama 24 jam selajutnya dengan menggunakan asam klorida 0,25 M, 0,50 M, dan 0,75 M dan asam asetat 0,25 M, 0,50 M, dan 0,75 M selama 48 jam. Rendemen kolagen ubur-ubur terbaik yang dihasilkan sebesar 5,7% dengan menggunakan asam asetat 0,75 M dengan pH 6,9 kadar air 8,18%, kadar abu 8,9%. Metode identifikasi gugus fungsi kolagen ubur-ubur (Aurelia aurita) digunakan adalah FTIR. Gugus fungsi FTIR ubur-ubur (Aurelia aurita) memiliki puncak serapan amida A, amida B, amida I, amida II, dan amida III pada bilangan gelombang berturut-turut 3446,79 cm-1, 2926,01 cm-1, 1641,42 cm-1, 1566,2 cm-1, dan 1257,59 cm-1. Hasil ekstraksi kolagen yang diekstrak dengan metode asam aseat 0,75 M sudah sesuai dengan standar kolagen oleh Badan Standarisasi National BSN.Kata kunci: kolagen, ekstraksi, ubur-ubur (Aurelia aurita), FTIRABSTRACTJellyfish are rich in protein with collagen as its main component. Collagen has potential in the pharmaceutical, food, and cosmetic fields. In the cosmetic field, collagen has potential as an antioxidant, skin moisturizer, and anti-aging. Where collagen content in the skin decreases with age, it is the reason why many cosmetic industries are competing to develop the use of collagen both topically and orally. Fish byproducts produce halal collagen as a substitute for pork collagen. Collagen extraction has been carried out from jellyfish (Aurelia aurita) from Temajuk Island. The extraction process is carried out by soaking the jellyfish in 0.1 N NaOH for 24 hours, then using 0.25 M, 0.50 M, and 0.75 M hydrochloric acid and 0.25 M, 0.50 M, and 0.75 M acetic acid for 48 hours. The best jellyfish collagen yield produced was 5.7% using 0.75 M acetic acid with pH 6.9, water content 8.18%, ash content 8.9%. The identification method of jellyfish (Aurelia aurita) collagen functional groups used was FTIR. The jellyfish (Aurelia aurita) FTIR functional groups have absorption peaks of amide A, amide B, amide I, amide II, and amide III at wave numbers of 3446.79 cm-1, 2926.01 cm-1, 1641.42 cm-1, 1566.2 cm-1, and 1257.59 cm-1, respectively. The results of collagen extraction extracted using the 0.75 M acetic acid method are in accordance with the collagen standards by the National Standardization Agency BSN.Keywords: collagen, extraction, jellyfish (Aurelia aurita), FTIR
Aktivitas Antioksidan Dan Stabilitas Fisik Lip Balm Yang Diperkaya Dengan Ekstrak Daun Acanthus ilicifolius Vidya Rizka Amalina; Rifki Prayoga Aditia; Devi Faustine Elvina Nuryadin
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.33803

Abstract

ABSTRAKBibir merupakan bagian kulit yang sensitif dan rentan terhadap pengaruh lingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan seperti pembengkakan, perubahan warna bibir dan luka. Lip balm umumnya mengandung antioksidan untuk melindungi dari radikal bebas. Salah satu sumber antioksidan alami adalah daun jeruju. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antioksidan dan stabilitas fisik lip balm serta menentukan konsentrasi terbaik ekstrak daun jeruju dalam formulasi lip balm. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025 hingga April 2026 di Laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Perairan, Program Studi Ilmu Perikanan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan (ekstrak daun jeruju 0%; 15%; 20% dan 25%) dengan 3 kali ulangan. Data daya lekat dan daya sebar dianalisis menggunakan ANOVA dan lanjut menggunakan DMRT sedangkan data hedonik dan kelembapan menggunakan Kruskal Wallis dan diuji lanjut menggunakan Mann Whitney. Hasil menunjukkan rendemen ekstrak sebesar 52,04±6,54% dengan kandungan alkaloid dan tanin. Perlakuan terbaik terdapat pada konsentrasi ekstrak 25% (F3) dengan nilai IC50 36,72±14,74 ppm (antioksidan sangat kuat), pH 5, homogen, 22,96±8,25 detik, daya sebar 3,07±0,22 cm, meningkatkan kelembapan dan tidak mengiritasi. Uji hedonik dengan 30 panelis menunjukkan perbedaan nyata namun, panelis cenderung kurang menyukai warna dan tekstur sedangkan pada aroma panelis memberikan penilaian netral. Kata Kunci: daun jeruju, formulasi, lip balmABSTRACTLips are sensitive skin and susceptible to environmental influences that can cause damage such as swelling, lip discoloration and wounds. Lip balms generally contain antioxidants to protect against free radicals. One source of natural antioxidants is jeruju leaves. The purpose of this study was to determine the antioxidant activity and physical stability of lip balm and to determine the best concentration of jeruju leaf extract in lip balm formulation. This study was conducted from December 2025 to April 2026 at the Aquatic Product Processing Technology Laboratory, Fisheries Science Study Program, Sultan Ageng Tirtayasa University. The design used was a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments (jeruju leaf extract 0%; 15%; 20% and 25%) with 3 replications. Data on adhesiveness and spreadability were analyzed using ANOVA and further using DMRT while hedonic and moisture data were analyzed using Kruskal Wallis and further tested using Mann Whitney. The best treatment was at 25% extract concentration (F3) with IC50 value of 36.72±14.74 ppm (very strong antioxidant), pH 5, homogeneous, 22.96±8.25 seconds, spreadability of 3.07±0.22 cm, increased humidity and did not irritate. Hedonic test with 30 panelists showed a significant difference, however, panelists tended to dislike the color and texture while the panelists gave a neutral assessment of the aroma.Keyword: jeruju leaves, formulation, lip balm
Analisis Kelimpahan Dan Keanekaragaman Moluska Di Perairan Segara Anakan Bagian Barat, Cilacap Elsa Deliana Putri; Tjahjo Winanto; Florensius Eko Dwi Haryono; Dyahruri Sanjayasari
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.27035

Abstract

ABSTRAK Segara Anakan bagian barat merupakan habitat penting bagi berbagai jenis moluska yang berperan dalam ekosistem perairan. Namun, adanya tekanan lingkungan dan aktivitas manusia dapat memengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman spesies tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman moluska, serta mengetahui pengaruh parameter fisika kimia air terhadap kelimpahan dan keanekaragaman moluska di Perairan Segara Anakan bagian barat. Metode yang digunakan adalah survei, sampel diambil dengan menggunakan Ekman grab. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman moluska. Untuk mengetahui pengaruh parameter fisika kimia terhadap kelimpahan dan keanekaragaman menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moluska  yang  ditemukan meliputi Corbula faba, Limatium sp., Melanoides tuberculata, Meretrix meretrix, Nassarius coronolus, Nassarius stolatus, Saccostrea cucullata, dan Tellina radiata. Kelimpahan moluska 1–5 ind/m2.  Indeks keanekaragaman termasuk dalam kategori rendah (H’ = 0) sampai sedang (H’ = 1,39). Parameter fisika kimia berpengaruh terhadap kelimpahan dan keanekaragaman moluska di Perairan Segara Anakan bagian barat.Kata Kunci : Moluska; Kelimpahan; Keanekaragaman; Perairan Segara Anakan bagian barat.ABSTRACTWestern Segara Anakan is an important habitat for various mollusc species that play a vital role in the aquatic ecosystem. However, environmental pressures and human activities may affect the abundance and diversity of these species. This study aimed to determine the abundance and diversity of molluscs, as well as to analyze the influence of physicochemical water parameters on their abundance and diversity in the western waters of Segara Anakan. The research employed a survey method, with samples collected using an Ekman grab. Data were analyzed descriptively to determine mollusc abundance and diversity, while multiple regression analysis was used to assess the influence of physicochemical parameters. The results showed that the identified mollusc species included Corbula faba, Limatium sp., Melanoides tuberculata, Meretrix meretrix, Nassarius coronolus, Nassarius stolatus, Saccostrea cucullata, and Tellina radiata. Mollusc abundance ranged from 1 to 5 ind/m². The diversity index was categorized as low (H' = 0) to moderate (H' = 1.39). Physicochemical parameters were found to influence the abundance and diversity of molluscs in the western waters of Segara Anakan.Keywords : Macrozoobenthos; Abundance; Diversity; Western Waters of Segara Anakan
Analisis Pengaruh Parameter Oseanografi Terhadap Nilai Produktivitas Primer Bersih Di Perairan Selat Makassar Dan Perairan Laut Arafura Arjuno Yo Indarto; Dyah Ayu Sulistyorini
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.31514

Abstract

ABSTRACTThe The Makassar Strait and Arafura Sea are strategic waters because these waters are passed by the Indonesian Throughflow which not only carries water masses but also allows nutrient transport and primary productivity. Capture fisheries yields depend on the net Primary Productivity Value resulting from phytoplankton or chlorophyll-a activity in a body of water. Primary productivity value can be influenced by oceanographic parameters, nutrients, light, and Photosynthetically Available Radiation (PAR). The purpose of this study is to determine and analyze the differences in Primary Productivity Values in the waters of the Makassar Strait and Arafura Sea by utilizing Aqua-MODIS satellite imagery using the Vertically Generalized Production Model (VGPM) method in the 2022-2024 study period. The results showed that the Makassar Strait and Arafura Sea have different oceanographic characteristics, with oceanographic parameters having a major influence on Primary Productivity Values in the Makassar Strait and Arafura Sea. NPP variability is influenced by changes in oceanographic parameters and ENSO climate change, where in the Makassar Strait the highest NPP is obtained during La-Nina conditions while in the Arafura Sea the highest NPP conditions are obtained during Normal conditions.Keywords: Net Primary Productivity; Oceanographic Parameters; ENSO; Makassar Strait; Arafura SeaABSTRAKPerairan Selat Makassar dan Laut Arafura merupakan perairan yang strategis karena perairan ini dilewati oleh Arus Lintas Indonesia yang tidak hanya membawa massa air tetapi juga memungkinkan adanya transport nutrient dan produktivitas primer. Hasil perikanan tangkap bergantung dengan Nilai Produktivitas Primer bersih hasil dari aktivitas fitoplankton atau klorofil-a pada suatu perairan. Nilai Produktivitas Primer dapat dipengaruhi oleh parameter oseanografi, unsur hara, cahaya, dan Photosynthetically Available Radiation (PAR). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan Nilai Produktivitas Primer pada perairan Selat Makassar dan Laut Arafura dengan memanfaatkan citra satelit Aqua-MODIS menggunakan metode Vertically Generalized Production Model (VGPM) pada rentang waktu kajian tahun 2022-2024. Hasil penelitian menunjukan antara Selat Makassar dan Laut Arafura memiliki karakteristik oseanografi yang berbeda, dengan parameter oseanografi memiliki pengaruh yang besar terhadap Nilai Produktivitas Primer di Selat Makassar maupun Laut Arafuara. Variabilitas NPP dipengaruhi oleh perubahan parameter oseanografi dan perubahan iklim ENSO, dimana pada Selat Makassar NPP tertinggi didapatkan pada saat kondisi La-Nina sedang pada Laut Arafura mendapatkan kondisi NPP tertinggi pada saat kondisi Normal.Kata kunci: Nilai Produktivitas Primer; Parameter Oseanografi; ENSO; Selat Makassar; Laut Arafura
Pemetaan Indeks Bahaya Gelombang Ekstrem dan Abrasi Pantai Berbasis Fuzzy Overlay di Wilayah Pesisir Kabupaten Bengkulu Tengah Eko Nofridiansyah; Akbar Abdurrahman Mahfudz; Ana Ariasari; Yasser Wahyuddin
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.33882

Abstract

ABSTRAKWilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Tengah rentan terhadap bahaya gelombang ekstrim dan abrasi pantai karena berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Penelitian ini bertujuan memetakan distribusi spasial indeks bahaya gelombang ekstrim dan abrasi pantai serta mengidentifikasi area prioritas mitigasi di wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Tengah. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan fuzzy overlay dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan mengintegrasikan lima parameter, yaitu tinggi gelombang, arus laut, tipologi pantai, bentuk garis pantai, dan tutupan vegetasi. Setiap parameter dinormalisasi ke dalam fungsi keanggotaan fuzzy, kemudian dioverlay untuk menghasilkan indeks bahaya yang diklasifikasikan menjadi kelas rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area bahaya terkonsentrasi pada wilayah pesisir Kecamatan Pondok Kelapa yang meliputi Desa Harapan, Padang Betuah, Pasar Pedati, Pekik Nyaring, dan Pondok Kelapa. Tidak terdapat kelas bahaya rendah pada seluruh area analisis, sehingga seluruh desa pesisir berada minimal pada kelas bahaya sedang. Kelas bahaya tinggi paling dominan teridentifikasi di Desa Pondok Kelapa dengan luas 75.2 ha. Berdasarkan hasil tersebut, Desa Pondok Kelapa ditetapkan sebagai prioritas utama mitigasi, diikuti oleh Padang Betuah dan Pekik Nyaring. Pendekatan fuzzy overlay efektif menggambarkan gradasi bahaya pesisir dan mendukung penetapan prioritas mitigasi berbasis spasial.Kata Kunci: abrasi pantai; fuzzy overlay; gelombang ekstrem; indeks bahaya; pesisir Kabupaten Bengkulu TengahABSTRACTThe coastal area of Central Bengkulu Regency is highly exposed to extreme waves and coastal abrasion due to its direct interaction with the Indian Ocean. This study aimed to map the spatial distribution of the extreme wave and coastal abrasion hazard index and to identify mitigation priority areas along the coast of Central Bengkulu. A fuzzy overlay approach within a Geographic Information System (GIS) was applied by integrating five key parameters: wave height, sea current, coastal typology, shoreline shape, and vegetation cover. Each parameter was normalized using fuzzy membership functions and combined to generate a hazard index classified into low, moderate, and high categories. The results show that hazard areas are concentrated along the coastal zone of Pondok Kelapa District, covering Harapan, Padang Betuah, Pasar Pedati, Pekik Nyaring, and Pondok Kelapa villages. No low-hazard areas were identified, indicating that all analyzed coastal villages fall at least within the moderate hazard category. The highest hazard was concentrated in Pondok Kelapa Village, covering 75.2 ha. Based on these findings, Pondok Kelapa was identified as the top mitigation priority, followed by Padang Betuah and Pekik Nyaring. The study demonstrates that fuzzy overlay effectively captures the spatial gradation of coastal hazards and provides a practical basis for setting mitigation priorities.Keywords: coastal abrasion; coastal area Central Bengkulu Regency; extreme waves; fuzzy overlay; hazard index