cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
ISSN : 20891490     EISSN : 2406825X     DOI : -
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS): This journal should coverage Islam both as a textual tradition with its own historical integrity and as a social reality which was dynamic and constantly changing. The journal also aims at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies; and solving the dichotomy between ‘orthodox’ and ‘heterodox’ Islam. So, the journal invites the intersection of several disciplines and scholars. In other words, its contributors borrowed from a range of disciplines, including the humanities and social sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
Fikih Informasi : Muhammadiyah’s Perspective on Guidance in Using Social Media Niki Alma Febriana Fauzi; Ayub Ayub
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 2 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v9i2.267-293

Abstract

This paper examines a recent product of Muhammadiyah’s collective ijtihad, namely Fikih Informasi (fiqh of information). Fikih Informasi is one of the outcomes of the 30th National Meeting of Majelis Tarjih dan Tajdid (Muhammadiyah’s Council of Religious Affairs). Fikih Informasi represents Muhammadiyah’s attempt to provide guidance for its members and the Muslim community at large, on a usage of social media whch is based on Islamic teachings. The term fikih is an Indonesian word adapted from Arabic word fiqh and Majelis Tarjih’s understanding of the term does not entirely resemble the classical concept of fiqh as understood by majority of Muslim jurists. For this reason, in the first instance this article will explore Majelis Tarjih’s conception of the word fikih then will proceed to examine its application in the context of social media usage. During this process, the paper will argue that Majelis Tarjih employs the term fikih in its literal and Qur’anic meaning rather than using it in its technical sense. As a result, instead of merely referring fikih as the body of legal provisions which it represents, Majelis Tarjih presents fikih as a comprehensive guidance tool, consisting of three level of hierarchically structured norms. As a consquence, Fikih Informasi is not only contains “dos and donts” but also the philosophical principles and sets of values to which users of social media should adhere. In these contexts, this paper critically discusses the limitations of Fikih Informasi, both in its framework and as well as in its content.. Makalah ini membahas produk ijtihad kolektif Muhammadiyah baru-baru ini, yaitu Fikih Informasi. Fikih Informasi adalah salah satu hasil dari Pertemuan Nasional ke-30 Majelis Tarjih dan Tajdid (Dewan Urusan Agama Muhammadiyah) ke-30. Fikih Informasi mewakili upaya Muhammadiyah untuk memberikan panduan bagi para anggotanya dan komunitas Muslim pada umumnya, tentang penggunaan media sosial yang didasarkan pada ajaran Islam. Istilah fikih adalah kata Indonesia yang diadaptasi dari kata Arab fiqh dan pemahaman Majelis Tarjih tentang istilah itu tidak sepenuhnya menyerupai konsep klasik fiqh sebagaimana dipahami oleh mayoritas ahli hukum Islam. Untuk alasan ini, dalam contoh pertama artikel ini akan mengeksplorasi konsepsi Majelis Tarjih tentang kata fikih kemudian akan melanjutkan untuk memeriksa penerapannya dalam konteks penggunaan media sosial. Selama proses ini, makalah ini akan berpendapat bahwa Majelis Tarjih menggunakan istilah fikih dalam arti literalnya dan al-Qur’an daripada menggunakannya dalam pengertian teknis. Akibatnya, alih-alih hanya menyebut fikih sebagai badan ketentuan hukum yang diwakilinya, Majelis Tarjih menghadirkan fikih sebagai alat panduan yang komprehensif, yang terdiri dari tiga tingkat norma terstruktur secara hierarkis. Sebagai konsekuensinya, Fikih Informasi tidak hanya berisi “dos and don’ts” tetapi juga prinsip-prinsip filosofis dan serangkaian nilai yang harus dipatuhi oleh pengguna media sosial. Dalam konteks ini, makalah ini secara kritis membahas keterbatasan Fikih Informasi, baik dalam kerangka kerjanya maupun dalam kontennya.
A survey on the development of Islamic higher education in Indonesia: an epistemological review Sa'adi Sa'adi
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v1i1.151-169

Abstract

Social changes, development and advancement of humans’ culture influence educationas inseparable aspect of human life. In line with Islamic higher educationmany thinkers proposed their ideas of how to formulate its appropriate epistemologicalbackground in different views. There are some notable persons forthis field, such as Iqbal, Fazlur Rahman, Afzalur Rahman, Al-Faruqi which tosome extent parallel or influence Indonesian thinkers’ such as Mukti Ali, HarunNasution, Cak Nur, Amin Abdullah, etc. Some are still at the level of speculativethought, while others have applied their ideas in educational institutions, likeAmin Abdullah and Imam Suprayoga.Perubahan sosial, perkembangan dan kemajuan kebudayaan umat manusiamemengaruhi pendidikan yang merupakan bidang yang tak terpisahkan darikehidupan manusia itu sendiri. Dalam hal pendidikan tinggi Islam, para pemikirmengajukan berbagai gagasan mereka tentang bagaimana merumuskan dasardasarepistemologinya yang paling tepat. Ada beberapa tokoh pemikir pentingyang perlu dicatat (dari luar negeri) dalam hal ini seperti Iqbal, Fazlur Rahman, Afzalur Rahman, al-Faruqi, yang dalam batas tertentu secara paralel ataumemengaruhi para pemikir Indonesia seperti Mukti Ali, Harun Nasution, Cak Nur,Amin Abdullah dan Imam Suprayoga. Sebagian dari pemikir tersebut masih padadataran pemikiran spekulatif, sementara yang lain sudah mengaktualisasikannyadalam implementasi kelembagaan pendidikan tinggi Islam, seperti Amin Abdullahdan Imam Suprayoga.
Managing workforce diversity: an Islamic perspective Dani Muhtada
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v2i1.78-108

Abstract

Workforce diversity is an inevitable phenomenon of the day. Diversity managementis then developed in response to this reality. The discourse has been widelyimplemented in many western countries and some other countries across theworld. Yet, it does not sound loudly in the Muslim countries. The objective of thispaper is to discover Islamic perspective of workforce diversity management. Theresults show that pluralism and multiculturalism values are strongly promoted inIslamic teaching. Although, some conceptual problems regarding conservativeviews on diversity might constrain diversity workforce management, but a strategicsolution to this issue is not impossible. This paper basically favors the idea ofimplementing the Lewin-Schein change model (i.e., unfreezing – change [moving]– refreezing) for managing diversity in the Muslim society context but with amore focus given to the substantive aspects of diversity management (i.e., elaboratingIslamic values on diversity). The role of such qualified Islamic scholars iscrucial in this regard.Keragaman sumber daya manusia di tempat kerja adalah sebuah fenomena yangtidak terhindarkan dewasa ini. Karena itu, mengelola keragaman secara professionaladalah sebuah keniscayaan. Meskipun diskursus tentang pengelolaankeragaman di tempat kerja bukanlah hal yang baru di dunia Barat, namun dinegara-negara berpenduduk mayoritas muslim praktik dan wacana tentang hal tersebut masih kurang mendapatkan perhatian. Paper ini bertujuan untukmenawarkan konsep manajemen keragaman di tempat kerja dalam perspektifIslam. Paper ini menggarisbawahi bahwa multikulturalisme sesungguhnya memilikitempat yang signifikan dala ajaran Islam. Kendati ada ada persoalan konseptualberkaitan pandangan-pandangan konservatif tentang pluralism danmulrikulturalisme, yang nota bene dapat menghambat efektivitas manajemenkeragaman di dunia Islam, namun persoalan ini bukan tidak dapat dipecahkan.Paper ini berpendapat bahwa framework yang ditawarkan oleh Lewin-Scheintentang pengelolaan keragaman dapat diadaptasi dalam konteks dunia Islamdengan mengelaborasi konsep-konsep ajaran Islam tentang keragaman.
Javanese religion, Islam or syncretism: comparing Woodward’s Islam in Java and Beatty’s Varieties of Javanese Religion Agus Salim
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v3i2.223-266

Abstract

It has been proven that the different findings in examining Javanese religious lifeare led by the differences in terms of academic approaches. It includes the wayssome key terms are perceived and elaborated. The term ‘Islam’ is defined in itswide sense by one and its narrow sense by the other. The popular rite of Slametanis also elaborated its different aspects by different authors, one leading to Islamand the other leading to animism. The notion of mysticism and mystical practicesare also employed to refer to something different, one referring to Sufi tradition,and the other referring to authentic Javanese mystical practices.In addition, authors’ perspectives matter. Particular understanding of some no-tions applied from the beginning of the observation has been guided the attentionto particular aspects of religious life. Certain understanding about Islam has madeone author emphasize more on the aspects of Islam, rather than different reli-gious tradition. On the other hand, an empty-assumption-like autor to conductobservation on religious life of Javanese has been easily fallen to the dominantview of previous examination on the field. Those factors may lead to using differ-ent sort of data. If a single religious tradition like Islam is considered, the useful resources are textual, since they tell much about the general development of thetradition. However, while no single religious tradition is considered more impor-tant than others, one may find that ethnographical account is the best way to seewhat kind of religious traditions exist and how the traditions are perceived andpracticed. Lastly, as the leading notion and the subsequent sort of data used aredifferent, the aspects of a religious tradition are emphasized differently, one thegreat and the other the little tradition. Therefore, the awareness -that ‘there issubjective involvement in the process of knowing’ is confirmed in this thesis. Ithas been proven by the fact that different findings of the same field research arecaused by the ways researchers approach the problem. In fact, they have differ-ent approaches.Telah terbukti bahwa perbedaan temuan dilapangan dalam penelitian tentangkeberagamaan masyarakat Jawa dipicu adanya perbedaan pendekatan penelitian.Perbedaan tersebut diantaranya adalah perbedaan cara memaknai beberapakata kunci. Kata ‘Islam’ oleh satu peneliti didefinisikan secara luas, sementaraoleh peneliti yang lain didefinisikan secara sempit. Pembahasan tentang Slametanjuga ditekankan pada aspek-aspek yang berbeda oleh masing-masing penulis.Hasilnya, sementara yang satu menunjukkan bahwa upacara tersebut Islamik,yang lainnya cenderung animistik. Wacana tentang paham dan praktek mistikjuga dikembangkan mengarah pada klaim yang berbeda, yang satu tradisi Sufi,yang lainnya paham kebatinan asli Jawa.Selanjutnya,  beberapa  point  penting  terkait  dengan  perspektif  yangdikembangakan oleh peneliti. Istilah kunci yang dipegang sejak awal menuntun sipeneliti untuk menekankan pada beberapa aspek kehidupan keberagamaan. Is-lam yang menjadi faktor penentu mengarahkan si peneliti untuk lebih banyakmenekankan data dan penafsirannya pada Islam, daripada tradisi keagamaanlain. Disisi lain, karya yang nampak diawalnya tanpa pretensi apapun tentangtradisi keagamaan tertentu, bahkan mudah jatuh pada tuntunan karya-karyasebelumnya. Faktor-faktor tersebut mengarahkan para peneliti untuk memakaiperangkat data yang berbeda. Jika yang banyak diperhitungkan sejak awal adalahsuatu tradisi keagamaan tertentu, misalkan Islam, sumber yang lebih bergunaadalah text, untuk melihat perkembangan umum dalam beberapa tingkat tradisi.Namun jika tidak ada prioritas satu tradisi tertentu, si peneliti menganggap bahwacatatan ethnography akan lebih banyak berguna. Taerakhir, adanya perbedaan-perbedaan yang telah disebutkan tadi akan mengarahkan pada penekanan padaaspek-aspek tradisi yang berbeda.Dengan demikian, keyakinan bahwa ‘ada pengaruh subjective dalam prosesmengetahui’ sebagaimana yang dikembangkan oleh sosiologi pengetahuan telahterbukti dalam. Faktanya adalah pernbedaan temuan lapangan dipengaruhi olehsecara apa masalah penelitian tersebut didekati. Nyatanya, perangkat penelitianyang mereka gunakan memang berbeda.
Pesantren: the miniature of moderate Islam in Indonesia Syamsun Ni'am
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 1 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v5i1.111-134

Abstract

Since reformation movement was trundled by students and people in Indonesiain 1998, all most thought and social movement domain are influenced bythe reformation, primarily those relate to the religious understanding and itspractice. At the time before reformation the people were in the quo statusdetention, who used to agree with all the uniformity of thought and movement—including in religious practice. However, in line with the reformationmovement, the uniformity have been dissolved, so it encourages the emergenceof various new religious thoughts. These have brought the consequencesof emerging issues of islamic liberalism, funadamentalism, moderatism, ect.in Indonesia. The study of moderate Islam Indonesia have found the momentumto be seeked the roots of the devolopment in Pesantren.Sejak gerakan reformasi digulirkan oleh para mahasiswa dan masyarakat Indonesiapada tahun 1998, seluruh pemikiran dan gerakan sosial telah terpengaruholehnya, khususnya terkait dengan pemahaman dan praktek keberagamaan.Pada saat sebelum reformasi digulirkan, masyarakat Indonesia berada dalamtekanan status quo, di mana mereka sudah terbiasa hidup dalam keseragamandalam pemikiran dan gerakan —termasuk di dalamnya adalah praktekkeberagamaan. Akan tetapi, dengan digulirkannya gerakan reformasi tersebut, keseragaman (uniformitas) telah menjadi pudar, dan hal ini telahmemunnculkan berbagai model pemikiran keagamaan yang baru. Hal ini telahmembawa konsekuensi terhadap munculnya isu-isu tentang liberalisme,fundamentalisme, moderatisme, dan sebagainya di Indonesia. Kajian tentangIslam moderat di Indonesia ini telah menemukan momentumnya, untukdicarikan dasar-dasar pengembangannya di pesantren.
Tracing the historical and ideological roots of ISIS: Shi’ite or Sunni? Makrum Makrum
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 2 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v6i2.209-240

Abstract

This article describes a comprehensive study of ISIS (the Islamic States of Iraq and Syiria) by examining both their historical and ideological roots, Shi’ite or Sunni – including their patterns and terror motives and also by mapping their doctrinal understanding that they adopt. The data stem from various studies, books and news that are widely spread in mass media by literature study (library research). This study was inspired by the emergence of ISIS which in recent years has shocked the world for their savagery and ferocity in committing the murder. Moreover, their leader (Abu Bakr al-Baghdadi) has declared himself as the caliph and called on Muslims worldwide to join them. That issue has been a controversy across the Muslim world; many Muslim groups accepted and joined the ISIS, while others rejected its presence. Based on these library research results, it can be inferred that, historically ISIS has existed since 2004 and the origin of ISIS cannot be separated from the existence of Tawhid wa alJihad. In terms of doctrine, the concept of shared leadership of ISIS tends to lead to Sunnis, although al-Baghdadi himself does not meet the criteria to be appointed as caliph. Personally, al-Baghdadi does not posses the leadership capacity required as a caliph, based on one of the caliph’s criteria, that is ‘adalah (justice) that he does not have. Artikel ini, dengan menggunakan pendekatan kualitatif, mengkaji akar sejarah dan ideologi ISIS, Syi’ah atau Sunni –termasuk di dalamnya pola dan motif teror–, kemudian memetakan paham doktrinal yang mereka anut agar diperoleh kajian yang komprehensif tentang ISIS. Data diperoleh dari studi kepustakaan (library research) yang berasal dari berbagai hasil penelitian, buku, dan berita-berita di media massa. Penulisannya terinspirasi oleh kemunculan ISIS yang pada beberapa tahun terakhir telah menghebohkan masyarakat dunia, karena kebiadaban dan keganasannya dalam melakukan pembunuhan. Selain dari itu, Abu Bakar al-Baghdadi sebagai pemimpin ISIS, mengangkat dirinya sebagai khalifah dan menyeru umat Islam di seluruh dunia untuk bergabung ke dalam kelompoknya.Deklarasi yang sepihak itu mendapatkan respons beragam. Sebagian kaum muslimin memilih menjadi anggota ISIS, sedangkan yang lain menolak kehadirannya, karena ISIS dinilai melakukan kekerasan hingga menjurus kepada pembunuhan. Berdasarkan hasil penelitian ini, secara historis ISIS sudah ada sejak tahun 2004 dan asal muasal ISIS tidak terlepas dari keberadaan Tauhid wa al-Jihad. Dilihat dari segi doktrinal, konsep kepemimpinan yang dianut ISIS cenderung mengarah ke Sunni, meskipun al-Baghdadi sendiri tidak memenuhi kriteria untuk diangkat menjadi khalifah. Secara personal, kapasitas al-Baghdadi sebagai pemimpin, belum dapat terpenuhi secara sempurna, karena unsur ‘adalah (adil) yang semestinya ada dalam diri seorang pemimpin, tidak ia miliki.
Re-Islamisation: the conversion of subculture from Abangan into Santri in Surakarta Haedar Nashir; Mutohharun Jinan
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 1 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v8i1.1-28

Abstract

This paper discusses the on-going process of re-Islamisation in Java. In the context of re-Islamisation process, a Muslim is expected to be a pious one, both from the aspect of belief, knowledge, and practice. The process is characterized by the intensification of Islamic ritual practice and the enforcement of Islamic norms in various aspects of life. Additionally, it is accompanied by the deterioration of animism—as represented by amulets, heirlooms and shamanism—which are popular among abangan communities. Amulet is a peculiar feature in the belief and life system of Javanese society, namely the belief in the magical objects used by the owner to gain power, convenience, and magnificence. In Surakarta, the phenomenon of the decline of ‘magical’ amulets is perceived as the conversion process from abangan to santri. Yet it is a dissimilar kind of conversion compared to the previous ones.It reaffirms that in Java, Islamisation is an unending process nuanced by the volatility of socio-political and cultural dynamics. Artikel ini membahas proses reislamisasi di masyarakat Jawa yang saat ini masihterus berlangsung. Reislamisasiadalah proses dimana seorang muslim menjadilebih islami, baik dari aspek keyakinan, pengetahuan, maupun pengamalanajaran agama. Reislamisasi ditandai denganmenguatnya pengamalan ritualIslam dan ditegakkannya norma-norma Islam dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam waktu yang samadiiukutimelemahnya kepercayaan animistik, sepertikepercayaan pada jimat, pusaka dan perdukunan di kalangan masyarakatabangan. Jimat merupakan salah satu ciri penting dalam sistem kepercayaandan kehidupan masyarakat Jawa, yakni kepercayaan kepada benda-bendayang dikeramatkan yang digunakan pemiliknya untuk memperoleh kekuatan,kenyamanan, kemuliaan hidup. Di Surakarta terdapat fenomena komunitasabanganmeninggalkan jimat sebagai bagian dari proses konversi dari abanganmenuju ke santri.Ini merupakan konversi baru yang berbeda dengan konversilama. Hal ini menunjukkan bahwa proses islamisasi di Jawa sebagai prosesyang terus berlangsung mengikuti dinamika sosio-politik dan kultural yangberkembang di Jawa.
Re-formulation zakat system as tax reduction in Indonesia Hary Djatmiko
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 1 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v9i1.135-162

Abstract

Zakat is one of the Islamic financial instruments which is obligatory for every Muslim whose earnings reach the prescribed amount (nishab). On the other hand taxes must still be paid as an obligation of every citizen. Under the law, it is stated that zakat can be a deduction from taxable income. The aim of this research is to offer a more advanced concept, namely zakat can be a deduction from income tax. The technique used in this research is content analysis on the literatures discussing about zakat and tax in Islam. The results of this study suggest that zakat as a deduction from income tax has a greater impact than zakat as merely a deduction from taxable income. Zakat as a deduction from income tax will increase the impact of zakat in a larger economy. Zakat merupakan salah satu instrument keuangan Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap umat muslim yang pendapatannya telah memenuhi jumlah yang ditentukan (nisab). Sedangkan, di sisi lain pajak harus tetap dibayarkan sebagai suatu kewajiban dari setiap warga Negara. Berdasarkan undang-undang, disebutkan bahwa zakat dapat menjadi pengurang penghasilan kena pajak. Tujuan penelitian ini ialah untuk menawarkan suatu suatu konsep yang lebih maju yaitu zakat dapat sebagai pengurang pajak penghasilan. Teknik analisis yang digunakan ialah analisis isi terhadap literatur-literatur terkait zakat dan pajak dalam Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zakat sebagai pengurang pajak penghasilan memiliki dampak lebih besar daripada jika zakat hanya sebagai pengurang penghasilan kena pajak. Zakat sebagai pengurang pajak penghasilan akan meningkatkan dampak zakat di dalam perekonomian yang lebih besar
Muslim diversity: Islam and local tradition in Java and Sulawesi, Indonesia Muhammad Ali
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v1i1.1-35

Abstract

Based on some historical and anthropological accounts, this article examines adynamic interplay between Islam and local tradition in Indonesia with specialreference to Java and Sulawesi. It explains how local Muslims differed in theirinterpretation and application of Islam. It looks at processes of religious changeas a world religion interacts with local forces. The “localization” of Islam was aconstant feature in the expansion of Islam beyond the Arab homeland, includingSoutheast Asia. Based on the framework of ‘practical Islam’, rather than ‘normativeIslam’, and on the framework of both accommodation and conflict betweenshari’ah and adat as a whole system, rather than as separate entities, it providesa greater variety of Islamic beliefs and experiences. Comparatively, Javanesepeople have been more diverse than Sulawesi people in terms of religious spectrum;Muslims in Java have incorporated animism, Hinduism, Buddhism, andIslam into their culture system. Stories about the nine saints show how earlyIslamic preachers sought to accommodate Islam with local traditions. In Sulawesi,Dato ri Bandang and the other teachers, representing the elite aristocracy whoattempted to Islamize the kingdoms and the people alike and Syeikh Yusuf, representinga strict kind of Islam, show diversity but tends to suggest a less diversepicture, when compared to Java. Despite internal diversity in Java as well as inSulawesi, Java has remained more open and tolerant with cultural diversity,whereas Sulawesi has increasingly become more legalistic. Berdasarkan kajian sejarah dan antropologis, artikel ini membahas hubungandinamis antara Islam dan budaya lokal di Indonesia dengan rujukan khusus padaJawa dan Sulawesi. Artikel ini menjelaskan bagaimana orang Islam lokal berbedadalam memahami dan menerapkan Islam. Artikel ini melihat proses-prosesperubahan keagamaan ketika agama dunia bergumul dengan kekuatan-kekuatanlokal. Lokalisasi Islam adalah ciri tetap dalam penyebaran Islam melampaui tanahArab, termasuk Asia Tenggara. Berdasarkan kerangka “Islam sebagaimana yangdipraktekkan” (‘Islam praktikal’), bukan ‘Islam normatif’ dan kerangka akomodasidan konflik antara syari’ah dan adat sebagai sistem yang menyeluruh, bukanrealitas yang terpisah, artikel ini menawarkan kemajemukan kepercayaan danpengalaman Islam. Secara komparatif, orang-orang Jawa lebih majemuk daripadaorang-orang Sulawesi dalam hal spektrum keagamaan. Orang-orang Islam diJawa memasukkan animism, agama Hindu dan Buddha, dan Islam kedalamsistem budaya mereka. Cerita-cerita tentang wali songo menunjukkan bagaimanapenyebar-penyebar Islam awal berusaha mengakomodasi Islam dengan budayabudayalokal. Di Sulawesi, Dato ri Bandang dan guru-guru lainnya, yang mewakilikaum bangsawan yang berusaha melakukan pengislaman kerajaan-kerajaan danorang-orang, dan Syeikh Yusuf yang mewakili kaum yang lebih tegas, menunjukkankeragaman keagamaan, namun tidak semajemuk di Jawa. Meskipun adakemajemukan di Jawa dan di Sulawesi, Jawa tampaknya lebih terbuka dan tolerandengan perbedaan budaya, sedangkan Sulawesi menunjukkan kecenderunganyang legalistik. Namun demikian, keagamaan jangan dipahami bersifat statis,liner, lengkap, dan selesai.
Muslim localizing democracy:a non-pesantren village in Madura as a preliminary study Muhammad Endy Saputro
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v1i2.297-316

Abstract

The political dynamic of village in Indonesian New Order has two faces. On onehand, it is conditioned by the feudalism of village’s leader which is monopolizedfrom one generation to other generations. On the other hand, religion can be analternative to challenge this feudalism. I explore this condition through an examinationof the role of kalebun (the village’s leader) and kiai in a non-pesantrenvillage in Madura, Indonesia. In Madura society, kiai and its pesantren take importantrole in the process of Islamic institutionalization. Yet, in this case, theabsence of pesantren enforces the kiai to be counter-balance of the feudalism ofthe kalebun. And, the kiai claims that this counter-balance is on behalf of democracy.This article concludes with a discussion of the requirement of democracy in “Islamic” local politics as well as in search of good local governance in postIndonesian New Order.Dinamika politik desa pada masa Orde Baru menghadapi dua realitas antagonis.Di satu sisi, pemerintahan desa dimonopoli oleh generasi tertentu yang melahirkanrezim feodal. Seorang Muslim, di lain sisi, berpotensi menjadi elan vital perlawananterhadap feodalisme tersebut. Tulisan ini berupaya menggali dua kenyataantersebut melalui analisis kepemimpinan kalebun (kepala desa) dan kiai di sebuahdesa non-pesantren di Madura, Indonesia. Pada jamaknya, dalam masyarakatMadura, kiai dan pesantren memiliki peranan penting dalam prosesinstitusionalisasi Islam. Namun, dalam studi ini, ketiadaan pesantren, membuatkiai (dengan langgarnya) berusaha membendung arus feudalisme kalebun. Sebuahtemuan menarik bahwa perlawanan sang kiai tidak atas nama Islam, tetapi demitegaknya demokratisasi di desa.

Filter by Year

2011 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 13, No 1 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 12, No 2 (2022): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 12, No 1 (2022): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 11, No 2 (2021): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 11, No 1 (2021): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 2 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 1 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 2 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 1 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 2 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 1 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 2 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 1 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 2 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 1 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 2 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 1 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 2 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies More Issue