cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
ISSN : 20891490     EISSN : 2406825X     DOI : -
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS): This journal should coverage Islam both as a textual tradition with its own historical integrity and as a social reality which was dynamic and constantly changing. The journal also aims at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies; and solving the dichotomy between ‘orthodox’ and ‘heterodox’ Islam. So, the journal invites the intersection of several disciplines and scholars. In other words, its contributors borrowed from a range of disciplines, including the humanities and social sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
Religious practices in trauma coping Khairil Razali
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v3i1.97-120

Abstract

Disasters happen in Indonesia current days bring the country into a very disaster-prone country in the Ring of Fire cataclysm. Mega event devastating 2004 tsu-nami in Aceh Province and Nias have serious consequences for vulnerable groupsof parents and children. This paper examines the presence of children in anycatastrophic events, especially related to the psychological impact as well asadequate treatments to reduce and eliminate the prolonged psychological trauma.The 2004 tsunami in Aceh and a number of other natural catastrophic disastershave strengthened the effects of traumatic for children in Aceh and elsewhere inIndonesia. A series of earthquakes has built a-sustainable traumatic attitudeswithin children. This qualitative study learned from children from children cen-ters in Aceh towards their coping strategies and roles of religious practices. Inconclusion that it should be a concern to establish social support systems forchildren to lessen the impact in the future.Bencana yang terjadi di Indonesia dewasa ini menjadikan negara yang sangatrawan bencana dalam Ring of Fire bencana alam. Peristiwa mega dahsyat Tsu-nami 2004 di Provinsi Aceh dan Nias telah berdampak serius bagi kelompok rentanyaitu orang tua dan anak-anak. Tulisan ini mengkaji tentang keberadaan anak-anak dalam setiap peristiwa bencana terutama terkait dengan dampak psikologisbagi  mereka  serta  penanganan  yang  memadai  untuk  mengurangi  danmenghilangkan trauma psikis yang berkepanjangan.Bencana  tsunami  2004  dan  sejumlah  peristiwa  bencana  alam  lainnya  telahmemperkuat dampak-dampak traumatis bagi anak-anak di Aceh dan tempat-tempat lain di Indonesia. Serangkaian gempa bumi telah membangun sikaptraumatis yang berkesinambungan dalam diri anak-anak. Hal ini perlu menjadiperhatian dari sistim dukungan social sekitar anak-anak untuk mengurangi dampaktersebut di masa yang akan datang.
Islamic religious education and radicalism in Indonesia: strategy of de-radicalization through strengthening the living values education Syamsul Arifin
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 1 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v6i1.93-126

Abstract

In Indonesian national system of education, Islamic religious education is compulsory for all levels of formal education. Taking into account such a position, Islamic religious education is potentially strategic in responding to some of the main issues in religious life. One issue examined in this paper is radicalism that continues to overshadow the dynamics of religious life in In- donesia. Although numerous attempts (mainly security approach) to eradi- cate radicalism have been taken, radicalism is still a prominent problem in Indonesia. This paper argues that Islamic religious education should be em- powered in order to reduce the spread of radicalism. In order to bring these ideas into reality, this paper further offers Living Values E education (LVE) as a theoretical framework to develop Islamic religious education which is com- patible with this goal. Pendidikan agama Islam dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia merupakan salah satu materi yang wajib diajarkan dalam institusi pendidikan formal mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai ke jenjang pendidikan tinggi. Dengan mempertimbangkan posisinya yang demikian, pendidikan agama Is- lam memiliki potensi strategis untuk merespons beberapa persoalan utamanya dalam kehidupan agama. Salah satu persoalan yang hendak dikaji dalam tulisan ini adalah radikalisme yang terus membayangi kehidupan umat beragama di Indonesia. Meskipun telah dirancang berbagai upaya untuk membendung radikalisme terutama dengan menggunakan pendekatan keamanan, radikalisme ternyata masih eksis di Indonesia. Tulisan ini menawarkan pendidikan agama Islam sebagai salah satu institusi pendidikan yang perlu diberdayakan untuk membendung arus radikalisme. Untuk mewujudkan pemikiran tersebut, tulisan ini selanjutnya menawarkan living values education (LVE) sebagai suatu kerangka teoritik untuk mengembangkan pendidikan agama Islam.
Morocco protest movements in the post-constitutional reform Ibnu Burdah
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 2 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v7i2.201-219

Abstract

dth: 0px; " The research describes and explains the wave of protest movement in theKingdom of Morocco, one of the Muslim countries in the Western Arab, in the post-2011 constitutional referendum. The constitutional reform was carried out as a response to the large and massive people protest. Unlike the cases in other neighboring states where “Arab Spring” took place, the Moroccan movement receded without neither the fall of the regime nor massive casualties. However, intense protest kept taking place, especially in Muhammad V Street leading to the Parliament Building. Some interesting questions arise, including what the nature of the current protest is and why people still protest after the vast popular agreement toward the constitutional referendum. Based on library research and intense observation for forty days, and interviews, this study found that, to some extent, the Morocco protest has the same nature as that of the Arab Spring. The protest has “hidden agendas” although there are evidences that they dissembled in “smaller and partial issues because of some reasons”. The author holds that Morocco is an important lesson for political reform in the current turbulent Arab world and, to abroader context, in the Muslim world. 0px; " Penelitian ini mendeskripsikan dan menjelaskan gerakan protest di KerajaanMaroko, salah satu negara Muslim di Arab Barat, paska referendum konstitusitahun 2011. Reformasi konstitusional di Maroko telah dilaksanakan sebagai respon terhadap protes rakyat dalam skala luas dan massif. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara “Musim Semi Arab” yang lain, gerakan protes itu surut tanpa disertai jatuhnya rezim dan jatuhnya korban dalam jumlah yang besar. Namun, Maroko masih diwarnai gerakan protes yang cukup intensif hampir setiap hari (kendati skalanya lebih kecil) khususnya di Jalan Muhammad V sampai depan gedung parlemen. Pertanyaannya adalah apa sesungguhnya karakter dari protes-protes yang masih berlangsung bahkan hingga saat ini? Mengapa mereka masih melakukan protes pasca persetujuan secara luas rakyat Maroko terhadap reformasi konstitusi? Penelitian yang dilakukan dengan cara studi kepustakaan yang didukung oleh observasi di lapangan sekitar 40 hari, berkesimpulan bahwa karakter protes itu adalah “Arab Springs” (mengarah pada penjatuhan rezim) kendati itu tak dinyatakan secara terbuka. Mereka memiliki agenda terselubung itu dan tidak mengemukakannya dengan berbagai alasan. Penulis berpendapat, Maroko adalah pelajaran penting bagi reformasi politik di dunia Arab yang sedang bergolak saat ini, bahkan mungkin pula untuk dunia Islam.
Aksi Bela Islam: islamic clicktivism and the new authority of religious propaganda in the millennial age in Indonesia Muzayyin Ahyar; Alfitri Alfitri
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 1 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v9i1.1-29

Abstract

The great Islamic mass rally which well known as “Aksi Bela Islam (Defending Islam action) 212” in Indonesia has always been claimed as the triumph of Islamic activism. This action continue to be voiced through social media such as Facebook, Twitter, Instagram, and so forth with the jargon “ 212 spirit “. The voluminous actions of “Aksi Bela Islam 212” sound like an authoritative propaganda jargon which are exhaled to spread the Islamic identity through the internet. Along with the proliferation of online Islamic activism, some major questions emerge about: (1) whether online religious discourse is an authoritative source that gives Muslim society an authority in religious propaganda; (2) to what extent the proliferation of online Islamic activism has shaped the new Islamic propaganda authority? The objective of this article is to examine the discourse of Islamic activism in the online public sphere which makes the internet and online social media as a new vehicle in the transformation of traditional-modern Islamic propaganda authority for technologically literate generation. The article highlights some transformations of traditional religious propaganda authority to the new one which appropriated with the technological advancement. Using political sociology approach, this article will maps an Islamic online activism, which is termed as Islamic clicktivism, and its relation to the religious propaganda authority. The finding of this article reveals that Islamic clicktivism can be an authoritative method in shaping religious and political discourses. Finally, this article argues that Islamic social movement in the millennial age – especially in the post 212 movement – has consistency to play a role in political contestation through the Islamic clicktivism. Gerakan aksi masal Islam yang dikenal dengan Aksi Bela Islam di Indonesia selalu diklaim sebagai kemenangan aktivisme Islam. Menyusul Aksi Bela Islam dalam ranah gerakan sosial, wacana serupa juga disuarakan melalui gerakan aktivisme secara daring yang disebarkan melalui berbagai media social seperti Facebook, Twitter dan Istagram dengan jargo “spirit 212”. Aksi berjilid-jilid dari Aksi Bela Islam ini terdengan seakan menjadi jargon propaganda otoritatif yang dihembuskan untuk menyebarkan identitas Islam melalui internet. Seiring dengan fenomena proliferasi gerakan-gerakan Islam daring tersebut, beberapa pertanyaan muncul: pertama, apakah diskursus keagamaan daring menjadi sumber otoritatif yang memberikan otoritas kepada masyarkat Muslim dalam hal propaganda agama? Kedua, sejauh mana proliferasi aktivisme Islam daring membentuk otoritas propaganda keagamaan baru? Sasaran dari artikel ini adalah menguji wacana aktivisme Islam di ruang public daring yang menjadikan internet dan media social daring sebagai kendaraan baru dalam transformasi otoritas propaganda keagamaan dari tradisional ke modern bagi kalangan melek milenial yang melek teknologi. Artikel ini menyoroti beberapa trasnformasi propaganda keagamaan tradisional menuju modern yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi-politik, artikel ini memetakan aktivisme Islam daring, yang diistilahkan dengan Islamic clicktivism, dan hubungannnya dengan otoritas propaganda keagamaan. Temuan artikel ini menunjukkan bahwa kliktifisme Islam dapat menjadi metode otoritatif dalam membentuk wacana keagamaan dan politik sekaligus. Pada akhirnya artikel ini menegaskan bahwa gerakan social Islam di era milenial – khususnya pasca gerakan 212 –secara konsisten mengambil peran dalam kontestasi politik identitas dengan menggunakan kliktifisme Islam.
Violence in online media and its implication to Islamic education of Indonesia Abdullah Aly; Muhammad Thoyibi
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 1 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v10i1.177-198

Abstract

This article focused on two aspects. In aspect one we focused on the respond of online media to the issues of violence in Indonesia, especially Suara Muhammadiyah Online and Nahdhatul Ulama Online. In aspect two we recommend that the results of this study be the basis for developing Islamic education in Indonesia. Data collection was conducted by document study to texts of Suara Muhammadiyah Online as well as Nahdhatul Ulama Online, especially the issues of violence in Indonesia. The data were analyzed with discourse analysis used social semiotics model of Halliday, M.A.K. The study found that Muhammadiyah and NU had the same response to the issues of violence in Indonesia as social problems which should be denied. Both reject any form of violence, although they differ in detail the types of violence and the reasons for the rejection of violent cases in Indonesia. Furthermore, the results of the study recommended selecting both teaching materials and learning methods. Both were the opinions of Ibn Miskawayh and Naquib al-Attas and were further offered as a strategy to reduce the cases of violence that have occurred in Indonesia.Artikel ini fokus pada dua aspek: fokus pertama pada tanggapan media online terhadap isu-isu kekerasan di Indonesia, terutama Suara Muhammadiyah Online dan Nahdhatul Ulama Online; fokus kedua adalah pada rekomendasi bahwa hasil penelitian ini menjadi dasar untuk mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen teks-teks Suara Muhammadiyah Online serta Nahdhatul Ulama Online, terutama yang terkait dengan masalah kekerasan di Indonesia. Data dianalisis dengan analisis wacana yang menggunakan model semiotika sosial Halliday, M.A.K. Studi ini menemukan bahwa Muhammadiyah dan NU memiliki respons yang sama terhadap masalah kekerasan di Indonesia sebagai masalah sosial yang harus ditolak. Keduanya menolak segala bentuk kekerasan, meskipun mereka berbeda secara rinci mengenai jenis kekerasan dan alasan penolakan terhadap kasus kekerasan di Indonesia. Selanjutnya, hasil penelitian merekomendasikan memilih bahan ajar dan metode pembelajaran yang dikemukakan oleh Ibn Miskawayh dan Naquib al-Attas dan selanjutnya ditawarkan sebagai strategi untuk mengurangi kasus-kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia.
The demise of moderate Islam: new media, contestation, and reclaiming religious authorities Wahyudi Akmaliah
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 1 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v10i1.1-24

Abstract

The landscape of the Indonesian public sphere amidst the rise of new media has opened both opportunities and threats dealing with Islamic teaching. This condition shapes a danger for the two largest of moderate Muslim Organisations (Muhammadiyah and Nahdatul Ulama/NU), in which they do not engage a lot of this development of the digital platform. Consequently, dealing with religious issues, their voices become voiceless. By employing desk research through some relevant references and collecting information from social media, specifically Instagram and Youtube, this article examines the role of the Islamic organization of moderate Islam in the rapid of the digital platform as the new of the public sphere. The article finds that they have difference respond to dealing with the presence of the new religious authorities. In comparison, while Muhammadiyah is more accepting of them calmly, NU is more reactively in responding.Lanskap ruang publik Indonesia di tengah muncunya media sosial membuka kesempatan sekaligus ancaman terkait dengan dakwah Islam. Hal itu merupakan ancaman bagi dua organisasi besar Moderat Islam di Indonesia (Muhammadiyah dan NU), di mana mereka menjadi kelompok minoritas dalam aktivitas dakwah online. Akibatnya, berkaitan dengan issu-isu keagamaan, suara mereka menjadi tidak terdengar/didengarkan. Dengan melakukan riset studi literatur yang relevan dan informasi yang didapatkan dari akun media sosial, khususnya Instagram dan Youtube, artikel ini menjelaskan peranan organisasi Islam moderat di tengah cepatnya platform digital di ruang publik. Artikel ini menemukan bahwa Muhammadiyah dan NU memiliki respon yang berbeda terkait dengan kehadiran otoritas keagamaan baru. Sebagai perbandingan, penerimaan Muhammadiyah terhadap kehadiran mereka terlebih lebih biasa ketimbang dengan NU yang reaktif.
Misinterpretation of patience: an analytical study of nerimo concept within Indonesian Muslim society Adang Kuswaya; Sukron Ma'mun
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 1 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v10i1.153-176

Abstract

This research aims to deeply explore the nerimo concept in Javanese Muslim society. Nerimo as the philosophy of Javanese culture is often associated with the concept of patience in Islamic doctrine. This research shows that there are a misconception understanding and practice among the Javanese Muslims regarding the concept of nerimo and patience. They tend to express nerimo and patience as a practice of passivity, static, and blind submission to all problems of life. This causes the values contained those concepts to be reduced and lose the spirit of liberation for the life of mankind. By employing a liberation hermeneutic approach and sociological analysis, this research concludes that the nerimo concept in Javanese Muslim could be reconstructed into a Javanese idea that implies human endurance in every period of life. The concepts of nerimo and patience alternately are a form of psychological, spiritual, and intellectual awareness that every life has a periodic motion where every person will surely experience life fluctuations. Then the principle of patience and nerimo become a catalyst for the position of life to turn it back into motion. Patience and nerimo, therefore, are not placed as results but are situated as the power of a continuity life process which can drive people surpassing one stage of their lives.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep nerimo dalam masyarakat Muslim Jawa. Nerimo sebagai filosofi budaya Jawa sering dikaitkan dengan konsep kesabaran dalam doktrin Islam. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada pemahaman dan praktik miskonsepsi di kalangan Muslim Jawa tentang konsep nerimo dan kesabaran. Mereka cenderung mengekspresikan nerimo dan kesabaran sebagai praktik kepasifan, statis, dan kepatuhan buta terhadap semua masalah kehidupan. Ini menyebabkan nilai-nilai yang terkandung dalam konsep-konsep tersebut menjadi berkurang dan kehilangan semangat pembebasan bagi kehidupan umat manusia. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutika pembebasan dan analisis sosiologis, penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep nerimo dalam Muslim Jawa sebenarnya dapat direkonstruksi menjadi gagasan Jawa yang menyiratkan ketahanan manusia dalam setiap periode kehidupan. Konsep nerimo dan kesabaran secara bergantian adalah bentuk kesadaran psikologis, spiritual, dan intelektual bahwa setiap kehidupan memiliki gerakan periodik di mana setiap orang pasti akan mengalami fluktuasi kehidupan. Maka prinsip kesabaran dan nerimo menjadi katalisator bagi posisi hidup untuk mengubahnya kembali menjadi gerak. Kesabaran dan nerimo, oleh karena itu, tidak ditempatkan sebagai hasil tetapi ditempatkan sebagai kekuatan dari proses kehidupan berkelanjutan yang mampu mendorong orang melampaui satu tahap kehidupan mereka.
Anti-Shia mass mobilization in Indonesia’s democracy: godly alliance, militant groups and the politics of exclusion M Khusna Amal
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 1 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v10i1.25-48

Abstract

This article examines violence against religious minorities, especially Shia groups in the democracy of Indonesia, focusing particularly on the case of the 2016 anti-Milad Fatimah (Fatimah Birth Commemoration) mass mobilization performed by IJABI (The all-Indonesia Assembly of Ahlul Bait Associations) in Bondowoso, East Java, Indonesia. This article finds that the anti-Milad Fatimah mass mobilization involved alliances and conspiracy between Godly Muslim groups with a varied agenda. Sunni militant groups from the Nahdlatul Ulama (NU), FPI (Islamic Defenders Front), Wahabi/Salafi, and Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) groups, which merged into FOKUS (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Communication Forum), were the main protagonists who played a key role in driving mass mobilization. Unlike previous studies that understood the anti-Shia movement merely as a form of affirming Islamic orthodoxy, this study finds evidence that there were wider agendas than the theological ones. Excluding the Shia from capturing Islamic public space, and challenging religious authority and local power which was dominated by moderate Muslim groups, were the socio-political agendas which contributed to the anti-Milad Fatimah mass mobilization. The involvement of radical Islamist groups such as the activists of the Tarbiyah and HTI is a sign that there is a strong political agenda behind mass mobilization. However, the ultimate goal of applying Islamic Sharia will never fade from the religious movements of Islamist groups.Studi ini mengkaji kekerasan terhadap minoritas agama khususnya kelompok Shia di Indonesia era demokrasi. Tulisan memilih kasus aksi mobilisasi massa anti-Milad Fatimah yang dilaksanakan oleh IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia), Bondowoso, Jawa Timur pada 2016. Tulisan ini memeroleh temuan yang menarik bahwa aksi mobilisasi massa anti-Milad Fatimah, melibatkan aliansi longgar di antara kelompok-kelompok Godly Muslim dengan agendanya yang tidak tunggal. Kelompok-kelompok militant Sunni dari kalangan NU, FPI, Wahabi/Salafi dan HTI, yang menggabungkan diri ke dalam FOKUS (Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jama’ah), merupakan aktor-aktor utama yang berperan penting dalam memobilisir aksi massa tersebut. Berbeda dari kajiankajian yang umumnya memahami gerakan anti-Shi’ah sebagai bentuk peneguhan ortodoksi Islam atupun homogenisasi Islam Indonesia, studi ini mendapati temuan yang jauh lebih besar dan kompleks dari sekedar agenda teologis itu. Mengekslusi Shi’ah dari ruang public Islam dan menantang otoritas keagamaan dan kekuasaan local yang didominasi oleh kelompok-kelompok Muslim moderat merupakan sejumlah agenda sosio-politik yang turut mewarnai aksi massa itu. Keterlibatan kelompok-kelompok Islamisme radikal seperti aktivis Gerakan Tarbiyah dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), menjadi sinyalemen cukup kuat adanya agenda politis di balik aksi massa. Bagaimanapun, imaginasi dan citacita penerapan syari’at Islam tidak akan pernah pudar dari gerakan keagamaan kelompok-kelompok Islamis.
Inter-subjectivity of khalwat (suluk) members in the tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Ponorogo S Maryam Yusuf
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 1 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v10i1.103-126

Abstract

Naqshbandiyah is one of the names of tarekat that still exist in the Islamic world for 8 centuries (12-20 AD) because it has successfully carried out Islamization using cultural approach. Khalwat dar anjuman or ‘seclusion from the crowd’ is the main method of training and spiritual discipline to defend Islamic beliefs and values from the various crises of modern human life, which leads to spiritual emptiness.Assumption on khalwat causing someone to behave exclusively towards his/her environment is very interesting to study. Phenomenological research using Max Weber’s sociology of religion approach is used to find motives and symbolic meanings of student behavior (salik) that follow khalwat (suluk) in Tarekat Naqshbandiyah of Durisawo Ponorogo. The results of research show that, first,belief in kharisma murshid of Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah is a gift from Allah SWT that is able to assist students in enhancing their spiritual experience (religious motives) and overcoming various problem that interfere both physical and psychological states, making them be more socially and morally intelligent in their lives (individual motives). Second, khalwat (suluk) has a subjective meaning for a student during his way to reach maqamat (station) until he is given the highest spiritual experience in the degree of ma’rifatullah by doing dhikr, muraqabah, kwayani, tawajuh, uzlah. Khalwat (suluk) also means intersubjective for salik during the interaction with murshid teacher through rabithah murshid, talqin, bai'at, sungkem tradition, and pilgrimage of murshid teacher’s grave. Third, the implication of students’ behavior after attending khalwat is they have calm and happy heart to be involved in social life in their environment according to their respective professions manifested in the form of social care in overcoming poverty and giving attention to orphans through daily social charity activities and donation. Khalwat participants have become intersubjective humans because they have been able to find their qualities in understanding reality.Naqsyabandiyah sebagai salah satu nama tarekat yang terbukti tetap eksis di dunia Islam selama 8 abad (12-20 M) karena berhasil melakukan Islamisasi dengan pendekatan kultural. Khalwat dar anjuman atau ‘menyepi di tengah keramaian’ sebagai metode utama pelatihan dan disiplin spiritual untuk mempertahankan keyakinan dan nilai-nilai Islam dari berbagai krisis kehidupan manusia modern yang menyebabkan kehampaan spiritual. Anggapan bahwa khalwat menyebabkan sesorang berikap ekskusif terhadap lingkungannya sangat menarik untuk diteliti.  Penelitian fenomenologis dengan pendekatan sosiologi agama Max Weber ini untuk menemukan motif dan makna simbolik dari perilaku murid (salik) yang mengikuti khalwat  (suluk) dalam tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Durisawo Ponorogo. Hasil penelitian menemukan: pertama, kepercayaan pada kharisma mursyid tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah sebagai anugerah Allah SWT yang mampu membantu murid dalam meningkatkan pengalaman spiritualnya (motif agama) dan menyelesaikan beragam ujian, cobaan fisik dan psikis agar semakin cerdas secara social dan moral dalam kehidupannya (motif individu). Kedua, khalwat (suluk) memiliki makna subyektif bagi seorang murid dalam usahanya mencapai maqamat (station) hingga diberikan pengalaman ruhaniah tertinggi derajat ma’rifatullah dengan memperbanyak dzikir, muraqabah, kwajikan, tawajuh, uzlah,; dan khalwat (suluk) juga bermakna intersubyektif bagi salik melalui interaksinya dengan guru mursyid melalui rabithah mursyid, talqin, bai’at, tradisi sungkem, ziarah kubur guru mursyid. Ketiga, Implikasi perilaku murid setelah mengikuti khalwat adalah dengan hati yang tenang dan bahagia bisa terlibat dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di lingkungannya sesuai profesi masing-masing diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial dalam mengentaskan kemiskinan dan perhatiannya kepada anak yatim melalui kegiatan amal sosial harian dan santunan. Peserta khalwat telah menjadi manusia yang intersubyektif, karena telah mampu mencari kualitas dirinya dalam memahami realitas.
Islamism and nationalism among niqabis women in Egypt and Indonesia Siti Ruhaini Dzuhayatin
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 1 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v10i1.49-77

Abstract

The phenomenon of the increasing number of niqabis in Indonesia and Egypt has become concern to the government, academics and also civil society. This is due to the involvement of the niqabis or women with the niqab in terrorist networks. The piece of clothing covering the face is not merely a manifestation of faith but it apparently entails a certain ideological doctrine of the so-called Islam kaffah (ultimate Islam) through the establishemnt of Islamic khilafah (Islamic caliphate) as opposed to democracy and modern state. This study aims at observing the extent to which the niqabis negotiate Islam and their nationalism in their respective countries in Indonesia and Egypt where Muslims constitute the majority of the population. This study employed a mix of methods, qualitative and quantitative, involving 205 Niqabis from Indonesia and 87 niqabis from Egypt. The quantitative data were obtained from 292 respondents, while the qualitiative data were collected from 27 niqabis using in-depth interviews through life story technique—6 Egyptians and 21 Indonesians. A number of 12 prominent figures in Egypt and Indonesia were interviewed and two focus group discussions were conducted in both countries involving women activists, academics, government employees, and religious leaders. The framework of this study is the contestation between Islamism and nationalism. This study indicated that there is a significant difference between the niqabis of Indonesia and Egypt in terms of their perception of national pride. Around 30 percent of Indonesian niqabis are not proud of being Indonesian citizens while in Egypt only about 3 percent. Bank interest is used to measure their Islamic refinement through which Niqabis in both countries share a similar view, where almost 90% of them believe that the practice is not Islamic. Moreover, more than 50% support the Caliphate system, which means that one in four niqabis considers that the existing government is thoghut (non Islamic) and nearly 15% agree to defend Islam by means of violence.Fenomena berkembangnya niqabis di Indonesia dan Mesir menjadi perhatian seksama pemerintah, akademisi dan juga masyarakat sipil. Hal ini disebabkan keterlibatan perempuan dalam jaringan teroris yang umumnya menggunakan niqab, sehingga diduga bahwa selembar kain penutup wajah ini tidak semata simbul ketaqwaan tetapi ada bagian dari doktrin ideologi yang melawan sistem yang ada. Pada umumnya, ideologi ini bermaksud mendirikan sistem caliphate yang dilawankan dengan demokrasi dan bentuk negara republik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana tingkat Islamisme dan nasionalisme para niqabis di Indonesia dan Mesir, sebagai negara dengan mayoritas Muslim. Penelitian ini menggunakan mix-methode, kualitatif dan kuantitatif yang melibatkan 205 Niqabis dari Indonesia dan 87 niqabis dari Mesir. Data kuantitatif diperoleh dari 209 responden melalui kuesioner sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan teknis kisah hidup sebanyak 27, 6 Niqabis Mesir dan 21 Niqabis Indonesia. Disamping itu, dilakukan wawancara dengan 12 tokoh dan dilaksanakan dua diskusi terfokus dengan politisi, aktivis perempuan, akademisi, pegawai pemerintah, dan pemimpin agama. Penelitian ini menggunakan kerangka kerja kontestasi Islamisme dan nasionalisme yang menunjukan hasil sebagai berikut: ada perbedaan signifikan antara niqabis kedua negara pada aspek kebanggaan sebagai warga negara. Hampir 30 persen niqabis Indonesia tidak bangga menjadi WNI sedangkan di Mesir hanya sekitar 3 persen. Jasa Bank digunakan untuk mengukur kehidupan Islami yang menunjukkan kecenderungan sama, meski dengan prosentase yang sedikit berbeda, yaitu lebih dari 90% tidak setuju dengan bunga bank. Terkait dengan politik, lebih dari 50% setuju dengan sistem caliphate dan 1 dari 4 niqabis setuju bahwa pemerintah saat ini thoghut dan sekitar 15 orang setuju menggunakan kekerasan dalam membela negara.

Filter by Year

2011 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 13, No 1 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 12, No 2 (2022): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 12, No 1 (2022): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 11, No 2 (2021): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 11, No 1 (2021): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 2 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 1 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 2 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 9, No 1 (2019): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 2 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 8, No 1 (2018): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 2 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 1 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 2 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 6, No 1 (2016): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 2 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 5, No 1 (2015): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 2 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 4, No 1 (2014): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 2 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2013): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2012): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2011): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies More Issue