cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 86 Documents
Search results for , issue " Tahun 2013" : 86 Documents clear
HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN UMUR IBU DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POST PARTUM DI RS. PANTI WILASA “Dr. CIPTO” YAKKUM CABANG SEMARANG TAHUN 2008 Sulistiyani, Cicilia Ninik
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang terjadi setelah bayi lahir dimana perdarahan tersebut adalah perdarahan yang lebih dari normal yang mana telah menyebabkan perubahan tanda vital (sistolik < 90 mmHg, nadi > 100 per menit, kadar Hb < 8 gr%, muka terlihat pucat) faktor predisposisi terjadinya perdarahan postpartum adalah paritas, umur, gemeli, dan hidramnion. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan antara paritas dan umur ibu dengan kejadian perdarahan postpartum di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi responden berdasarkan paritas dan umur ibu, mengetahui distribusi responden yang mengalami kejadian perdarahan postpartum, untuk mengetahui hubungan antara paritas dan umur ibu dengan kejadian perdarahan postpartum. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan retrospektif, metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh, yaitu semua ibu nifas yang mengalami perdarahan postpartum di RS Panti Wilasa Dr Cipto Semarang selama kurun waktu tahun 2008. Instrumen penelitian menggunakan check list. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji statistik hubungan antara paritas dan umur ibu didapatkan X² Hitung sebesar 7,322 yang lebih besar dari X² Tabel dan nilai p value 0,026 yang lebih kecil dari α, sehingga ada hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan postpartum. Sedangkan pada uji statistik pada hubungan umur ibu dengan kejadian perdarahan postpartum diperoleh X² Hitung 0,000 yang lebih kecil dari X² Tabel dan nilai p value 1,000 yang lebih besar dari α, sehingga artinya tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian perdarahan postpartum. Kata kunci : Perdarahan postpartum, paritas, umur
PENGALAMAN KEROKAN SEBAGAI TERAPI KOMPLEMENTER Suryani, Maria; Sianturi, Medina
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terapi komplementer adalah suatu terapi pengganti atau pelengkap dari terapi medis yang digunakan.  Saat ini terapi komplementer banyak dikembangkan dalam dunia keperawatan. Salah satu jenis terapi komplementer adalah kerokan. Kerokan bagi masyarakat khususnya pada masyarakat suku Jawa dipercaya dapat mengobati beberapa penyakit, Seringnya masyarakat Jawa menggunakan terapi ini, membuat masyarkat pada umumnya menganggap bahwa kerokan merupakan suatu budaya yang melekat pada suku Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan bagaimana pengalaman seseorang yang menggunakan kerokan sebagai terapi komplementer. Desain penelitian ini adalah kualitatif etnografi, Sample dalam penelitian ini berjumlah 4 orang yang bersuku Jawa dan sering melakukan kerokan. Metode pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam dengan bantuan panduan wawancara mendalam dan tape recorder. Hasil dari penelitian ini ditemukan 2 tema tentang kerokan. Tema yang pertama yaitu kerokan merupakan budaya yang turun temurun. Hal ini dibuktikan dengan kerokan dilakukan dari anggota keluarga. Tema yang kedua yaitu kerokan dipercaya sebagai terapi. Dari tema ini didapat 3 sub tema, yaitu (1) kerokan sebagai terapi yang mudah, murah dan manjur, (2) kerokan sebagai terapi alternative dan pelengkap dari terapi konvensional, (3) kerokan merupakan terapi yang mengakibatkan kecanduan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar menjadikan kerokan sebagai terapi komplementer dalam dunia keperawatan.   Kata kunci: kerokan, terapi komplementer
PENGARUH PEMBERIAN ASAM LEMAK TRANS TERHADAP PENYAKIT PERLEMAKAN HATI NON ALKOHOL TIKUS SPRAGUE DAWLEY Sianturi, Medina
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsumsi asam lemak trans (ALT) dosis tinggi telah diketahui dapat menyebabkan penyakit perlemakan hati non alkohol. Kerusakan hati akibat ALT dosis  5 % dan 10 %   pada tikus Sprague Dawley belum pernah diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pemberian ALT dosis 5 % dan 10 % terhadap penyakit perlemakan hati non  alkohol tikus Sprague Dawley. Desain penelitian adalah eksperimen dengan sampel 18 ekor tikus jantan Sprague Dawley dibagi secara random menjadi 3 kelompok: K (pakan standar),  P1 ( asam lemak trans 5 %) dan P2 (asam lemak trans 10 %) selama 8 minggu. Jaringan diwarnai dengan HE dan diperiksa steatosis hepatosit, inflamasi lobuler dan degenerasi ballooning menggunakan skoring metode NAFLD activity score (NAS), analisis statistik dengan uji nonparametrik Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan perlemakan hati terjadi pada kelompok P1dan P2.Terdapat perbedaan bermakna steatosis , inflamasi dan degenerasi ballooning kedua kelompok yang diberi asam lemak trans (P1,P2) dibandingkan dengan kelompok kontrol ( p < 0,001) . Kelompok asam lemak trans 10 %  mengalami steatosis dan inflamasi derajat sedang ke berat dan jumlah degenerasi balonning yang sedikit, sedangkan kelompok asam lemak trans 5 % mengalami steatosis dan inflamasi ringan ke sedang dan tidak ada degenerasi ballooning. Simpulan penelitian adalah pemberian asam lemak trans dosis 5 % dan 10 % dapat menyebabkan penyakit perlemakan hati non alkohol. Kata kunci: Penyakit perlemakan hati non alkohol, asam lemak trans, steatosis, inflamasi lobuler dan degenerasi ballooning
PEMAHAMAN DAN PERILAKU PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN PERAN ADVOKAT PASIEN DI RUMAH SAKIT Suryani, Maria
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu peran perawat adalah peran advokat. Dalam melaksanakan peran ini perawat perlu memposisikan dirinya sebagai pasien. Tujuan penelitian ini adalah memberikan pemahaman dan perilaku perawat dalam melaksnaakan advokasi klien di rumah sakit. Desain penelitian ini adalah kualitatif etnografi. Sample penelitian dari penelitian ini adalah 2 orang kepala ruangan dan 18 perawat pelaksana di suatu rumah sakit di Jakarta. Metode pengumpulan datanya adalah wawancara mendalam, observasi partisipan, dan diskusi kelompok terfokus dengan menggunakan catatan lapangan, video dan radio untuk merekam. Hasil penelitian ini ditemukan lima tema, dimana setiap tema memiliki dua sampai tiga sub tema. Tema pertama dan ketiga adalah pemahaman perawat kepala ruangan dan perawat pelaksana tentang advokasi. Mereka memahami bahwa mereka seharusnya melindungi dan berbicara atas nama pasien. Tema kedua dan ke empat tentang perilaku perawat kepala ruangan dan perawat pelaksana tentang advokasi. Mereka mempersepsikan bahwa mereka telah melaksanakan peran advokasi. Bagaimanapun sebagian besar dari mereka masih menggunakan bentuk komunikasi otoriter yang terlihat dari hasil observasi. Hanya sedikit dari mereka yang menggunakan bentuk komunikasi advokasi. Tema ke lima tentang pemahaman kepala ruangan terhadap perilaku perawat pelaksana dalam advokasi. Dari hasil diskusi disimpulkan bahwa evaluasi pelaksanaan advokasi di ruangan oleh kepala ruangan sudah cukup baik. Mereka percaya bahwa perilaku perawat pelaksana dipengaruhi oleh karakteristik individu. Supervisi oleh kepala ruangan yang adekuat merupakan issue lain yang dikemukakan oleh partisipan dalam penelitian ini yang harus lebih diintensifkan dalam melaksanakan peran advokasi. Saran dari penelitian ini adalah perlu adanya pengenalan peran advokasi ini pada profesi lain, khususnya profesi kedokteran sebagai mitra perawat dalam bekerja. Rekomendasi juga diberikan kepada komite keperawatan untuk melaksanakn peran mereka secara aktif dengan membuat standar pelaksanakan advokasi pasien.   Kata kunci : pemahaman, perilaku, perawat, peran advokat
HUBUNGAN KARAKTERISTIK PERAWAT DENGAN PENGGUNAAN SARUNG TANGAN PADA TINDAKAN IVASIF DI RUANG RAWAT INAP RSUD Dr. H. SOEWONDO KENDAL Wibowo, Aditya Sekti; Suryani, Maria; Sayono, -
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tenaga kesehatan di rumah sakit memiliki resiko tinggi terkena / terpajan penyakit infeksi dari pasien. Perawat dapat menghindarkan penyebaran infeksi dengan cara mempraktikan teknik pencegahan dan pengendalian infeksi. Pencegahan infeksi di rumah sakit dilakukan dengan mengaplikasikan universal precaution, salah satunya penggunaan sarung tangan pada tindakan invasif.Penggunaan sarung tangan, merupakan komponen kunci dalam meminimalkan penularan penyakit serta mempertahankan lingkungan bebas infeksi.Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional, jumlah sampel 55 responden dengan teknik total sampling. Hasil analisa univariat menunjukkan karakteristik perawat di RSUD Dr. H. Soewondo Kendal paling banyak meliputi jenis kelamin perempuan 43 orang (78,2%), berpendidikan D3 sebanyak 33 orang  (60%),usia perawat 29 tahun sebanyak 10 orang (18,2%),  lama kerja perawat  3 tahun sebanyak 12 orang (21,8%).Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan antara umur (p=0,121), tingkat pendidikan (p=0,23), dan jenis kelamin (p=0,136) denganpenggunaan sarung tangan pada tindakan invasif, terdapat hubungan yang signifikan antara lama kerja (p=0,000) dengan penggunaan sarung tangan pada tindakan invasif. RSUD Dr. H. Soewondo Kendal perlu adanya tindak lanjut dari manajemen rumah sakit Dr. H. Soewondo Kendal untuk memberikan sanksi tegas kepada perawat yang tidak melakukan prosedur pencegahan infeksi nosokomial khususnya dalam penggunaan sarung tangan dalam menangani pasien serta penambahan fasilitas jumlah sarung tangan pada setiap perawat dan menyediakan berbagai jenis dan fungsi sarung tangan.   Kata Kunci : Sarung tangan, perawat, tindakan invasif
PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ORIENTASI REALITAS SESI I-III TERHADAP KEMAMPUAN MENGONTROL HALUSINASI PADA KLIEN HALUSINASI DI RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Qodir, Aksi Muhammad; Surtiningrum, Anjas; Nurullita, Ulfa
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diperkirakan lebih dari 90% klien yang menderita gangguan jiwa mengalami halusinasi. Halusinasi merupakan hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Pada penelitiaan ini yang termasuk variabel bebas adalah terapi aktivitas kelompok orientasi realitas sesi I-III, sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan mengontrol halusinasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi aktivitas kelompok (TAK) orientasi realitas sesi I-III terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada klien halusinasi di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Desain penelitian ini adalah eksperimen dengan menggunakan pendekatan one group pre and post test. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 55 responden, dengan tehnik pengambilan sampel simple random sampling. Pada penelitian ini klien yang mampu mengontrol halusinasi sebelum TAK sebanyak 11 (20.0%) responden, sedangkan klien yang mampu mengontrol halusinasi setelah TAK mengalami peningkatan menjadi 36 (65.5%) responden. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh terapi aktivitas kelompok (TAK) orientasi realitas sesi I-III terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada klien halusinasi di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Terlihat dari nilai p value sebesar 0,000 (p kurang dari 0,05).   Kata kunci   :     Halusinasi, Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Orientasi Realitas sesi I-III, dan Kemampuan Mengontrol Halusinasi
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN KETEPATAN IMUNISASI POLIO DI POSYANDU RW 10 KAMPUNG BANTENG KOTA SEMARANG Dyah S, Anissa Dyah; Saraswati, Sri Haryani; Meikawati, Wulandari
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit polio masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, mengingat masih adanya kasus dan wabah polio di beberapa daerah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan ketepatan imunisasi polio di Posyandu RW 10 Kampung Banteng Kota Semarang. Variabel bebas penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap ibu, sedangkan variabel terikat adalah ketepatan imunisasi polio. Desain penelitian ini adalah deskriptif korelatif , jumlah sampel 40 responden dengan teknik simple random sampling. Instrument yang digunakan adalah kuesioner dan lembar observasi. Penelitian ini menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan ketepatan imunisasi polio. Terlihat dari hasil variabel pengetahuan cukup sebesar 19 ibu (47,5%), sedangkan variabel sikap mendukung sebesar 24 ibu (60%), sedangkan pada variabel ketepatan imunisasi polio yang tidak tepat sebesar 23 (57,5%). Pada karakteristik ibu dengan umur terbanyak adalah 20-40 (85%), pendidikan ibu tertinggi adalah SMA 23 (57,5%), sedangkan ibu yang menjadi ibu rumah tangga sebanyak 26 (65%), sedangkan pada karakteristik anak terbanyak pada umur 12 bulan adalah 15 anak (37,5%) dan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan 23 anak (57,5%). Pada tingkat pengetahuan ibu yang paling banyak berpengetahuan cukup dan tidak tepat sebanyak 10 ibu (52,6%) dengan p-value 0,057, sikap ibu yang paling banyak adalah sikap  mendukung dan tepat sebanyak 14 ibu (58,3%) dengan p-value 0,031. Rekomendasi hasil penelitian ini adalah agar meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu terhadap ketepatan dalam pemberian imunisasi polio.   Kata kunci : pengetahuan, sikap dan ketepatan imunisasi polio
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DENGAN LAMA PERSALINAN KALA I-KALA II PADA IBU PRIMIGRAVIDA DI RUMAH BERSALIN MARDI RAHAYU SEMARANG Sunarno, Rita Dewi; Putu Ariastuti, Ni Luh; Marettina, Nita
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya ibu dalam menjalani proses persalinan mengalami kecemasan akibat dari berbagai stressor yang timbul selama proses persalinan berlangsung. Di Indonesia pada tahun 2008 terdapat ibu yang mengalami kecemasan dalam menghadapi proses persalinan sebanyak 107.000.000 (28,7%) orang dari 373.000.000 orang ibu yang melahirkan. Kecemasan selama proses persalinan relatif lebih tinggi terjadi pada ibu primigravida dibandingkan ibu multigravida, karena ibu primigravida baru pertama kali melahirkan dan belum pernah merasakan hamil dengan segala kesulitannya. Keadaan psikis (cemas) pada ibu melahirkan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi lama persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh hubungan antara tingkat kecemasan dengan lama persalinan kala I – kala II pada ibu primigravida. Jenis penelitian ini adalah Analitik (Observasional) dengan pendekatan Cross Sectional. Metode sampling yang digunakan yaitu total sampling, dengan jumlah sampel 32 responden dari jumlah populasi sebayak 55. Pengambilan data diperoleh dengan menggunakan kuesioner, data dianalisa dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian ini didapatkan, sebanyak 59.4 % responden mengalami kecemasan dan 56.2 % responden mengalami persalinan lama pada kala I-kala II. Pada analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan lama persalinan kala I – kala II pada ibu primigravida dengan (p-value 0.006). Dilihat dari nilai OR (Odd Ratio) = 12.500 sehingga dapat disimpulkan hahwa ibu dalam menjalani proses persalinan yang mengalami kecemasan mempunyai peluang 12.5 kali untuk terjadi persalinan lama dibandingkan dengan ibu yang tidak mengalami kecemasan. Kata Kunci : Ibu primigravida, Lama Persalinan Kala I - Kala II, Tingkat kecemasan
PERBEDAAN EFEKTIVITAS KOMPRES HANGAT DAN KOMPRES ALKOHOL TERHADAP PENURUNAN NYERI PLEBITIS PADA PEMASANGAN INFUS DI RSUD TUGUREJO SEMARANG Jayanti, Aprilia Eka Suci; Kristiyawati, Sri Puguh; Purnomo, S. Eko Ch.
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian terapi infus dapat menimbulkan komplikasi, salah satunya yaitu plebitis. Plebitis dapat terjadi akibat prosedur pemasangan yang kurang tepat, posisi yang salah, serta kegagalan menembus vena, dan dapat juga menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien salah satunya menimbulkan nyeri plebitis. Nyeri plebitis dapat ditangani dengan cara pemberian kompres hangat dan kompres alkohol. Penelitian ini bertujuan. Untuk mengetahui perbedaan efektivitas antara kompres hangat dan kompres alkohol terhadap penurunan nyeri plebitis pada pemasangan infus di RSUD Tugurejo Semarang. Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah quasi experiment dengan metode pendekatan Pretest – Post Test Design, menggunakan teknik sampling purposive sampling, dengan jumlah sempel adalah 50 responden, 25 responden kompres hangat dan 25 responden kompres alkohol. Pengambilan data dengan menggunakan lembar observasi dan melakukan intervensi kompres hangat dan kompres alkohol, kemudian diuji kenormalan data dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk diperoleh (0,000) yang artinya data berdistribusi tidak normal sehingga menggunakan uji alternatif non parametrik Mann Whitney U-Test.Hasil penelitian menunjukkan nilai Z sebasar 2,236 dengan p value sebesar 0,025 terdapat adanya perbedaan antara kompres hangat dan kompres alkohol terhadap penurunan nyeri plebitis pada pemasangan infus. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kompres air hangat dan kompres alkohol dapat menurunkan nyeri plebitis sehingga didapatkan kompres air hangat lebih efektif dibandingkan dengan kompres alkohol dengan hasil selisih mean sebelum dan sesudah sebesar 2,88 sedangkan pada kompres alkohol terdapat selisih antara sebelum dan sesudah sebesar 2,16. diharapkan perawat untuk mengurangi kejadian plebitis pada saat memberikan terapi intravena dengan bekerja sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur).Kata kunci :Kompres Hangat, Kompres alkohol,Nyeri plebitis, Pemasangan Infus.
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK BALITA DI RSUD TUGUREJO SEMARANG TAHUN 2013 Ati, Choirunnisa Adhi; Alfiyanti, Dera; Solekhan, Achmad
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan motorik kasar anak usia balita dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah status gizi. Perubahan status gizi dan status kesehatan anak akan berpengaruh terhadap perkembangan motorik kasar anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara status gizi dengan perkembangan motorik kasar balita di RSUD Tugurejo Semarang. Desain penelitian ini adalah Descriptive correlation, jumlah sampel 50 responden dengan tekhnik cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan perkembangan motorik kasar anak (p value: 0,000 ; ɑ= 0,05). Penelitian selanjutnya diharapkan ditambahkan pengadaan sarana bermain untuk merangsang perkembangan motorik dan psikologis anak serta perlu meningkatkan penyuluhan masalah kesehatan bagi masyarakat tentang kebutuhan gizi pada balita sehingga status gizi buruk balita dapat dicegah dan kurang gizi pada balita dapat teratasi dengan baik serta perkembangan motorik anak di RSUD Tugurejo Semarang dapat ditingkatkan.Kata kunci : Status gizi, perkembangan motorik kasar, anak balita