cover
Contact Name
Fauziah Astrid
Contact Email
fauziah.astrid@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtabligh@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Dakwah Tabligh
ISSN : 14127172     EISSN : 2549662X     DOI : -
Tabligh Journal is a scientific publication for research topics and studies on communication and da'wah. The form of publiation that we receive will be reviewed by reviewers who have a concentration in the field of Communication, specifically Da'wah and Communication.We publish this journal twice a year, in June and December. The Tabligh Journal first appeared in the printed version in 2011. This journal is managed by the Tabligh journal team under the Da'wah and Communication Faculty of Alauddin Islamic University in Makassar.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 15 No 2 (2014)" : 10 Documents clear
KONFLIK SOSIAL DALAM HUBUNGAN ANTAR UMAT BERAGAMA St. Aisyah BM
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.348

Abstract

Abstract; Konflik, terutama yang mengambil bentuk kekerasan telah menjadi kajian banyak psikolog terutama dalam kaitannya dengan aspek-aspek internal manusia. Sigmund Freud misalnya memandang konflik atau kekerasan sebagai wujud frustasi dari suatu dorongan libidinal yang bersifat dasariyah. Dalam perspektif negatif, konflik antara umat beragama dan antara agama orang di Indonesia tampaknya terus menjadi ancaman. Tampaknya, hidup harmoni atau salam ke arah kehidupan masih sulit untuk membuat. Mengapa manusia Indonesia yang agamanya, berpancasila, yang terus membangun jiwa, dan tubuh masih rentan untuk menyakiti satu sama lain, tidak hanya secara fisik tetapi juga fsikis. Mengapa agak sulit untuk membangun hubungan sosial yang sopan, toleran, egaliter? Apakah karena konstruksi sosial bangsa ini tidak benar? Apakah pandangan keagamaan juga berperan dalam memicu konflik-konflik ini? Atau jangan biarkan manusia yang secara naluriah membawa potensi konflik? Ketidakmampuan untuk menerjemahkan pesan wahyu, yang mengakibatkan hilangnya orientasi atau ketidakpastian dan bahkan putus asa. Ini adalah salah satu masalah agama, yaitu masalah makna. Masalah ini menjadi salah satu yang bisa menjadi salah satu alasan bagi keselarasan hidup sulit untuk membuat dalam bentuk sebenarnya. Banyak upaya telah dilakukan untuk mengurai dan mencari sebab agresifitas masyarakat Indonesia yang dahulu dianggap sebagai bangsa yang beragama, santun dan lain-lain. Penyebab konflik dapat berupa faktor politik, kesenjangan ekonomi, kesenjangan budaya, sentimen etnis dan agama. Hanya saja, faktor ekonomi dan politik sering ditunjuk berperan paling dominan dibanding dua faktor yang disebut terakhir. Kata Kunci: Konflik, Hubungan Sosial Conflict, particularly those taking the form of violence has been the study of many psychologists, especially in relation to the internal aspects of human. Sigmund Freud for example looking at violence as a form of conflict or frustration of a libidinal impulse that is dasariyah. In a negative perspective, the conflict between religious communities and between religions in Indonesia seems to continue to be a threat. Apparently, living in harmony or greeting towards life is still difficult to make. Why Indonesian man whose religion, berpancasila, which continues to build up the soul, and the body is still vulnerable to hurt each other, not only physically but also fsikis. Why is rather difficult to establish social relationships polite, tolerant, egalitarian? Is it because of the social construction of race is not true? Is religious views also play a role in triggering these conflicts? Or do not let the man who instinctively bring potential conflict? Inability to translate the message of revelation, which resulted in the loss of orientation or uncertainty and even despair. It is one of the religious problem, namely the problem of meaning. This issue is one that could be one reason for the harmony of life is difficult to make in its true form. Many attempts have been made to break down and look for the Indonesian people because aggressiveness formerly regarded as a religious nation, polite and others. The cause of the conflict may be political, economic disparities, gaps cultural, ethnic and religious sentiments. However, economic and political factors are often assigned the role of the most dominant than the latter two factors. Keywords: Conflict, Social Relations
PERAN WARTAWAN MUSLIM DALAM KEGIATAN DAKWAH Abdul Wahid
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.353

Abstract

Abstract; Dunia dakwah mengalami tantangan yang semakin berat terutama sejak berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta semakin kompleksnya masalah kemasyarakatan yang dihadapi oleh manusia. Di sisi lain, perkembangan media komunikasi yang semakin modern tampaknya akan sangat membantu aktivitas dakwah Islam. Peluang dakwah Islam akan semakin terbuka lebar ketika para da’i mampu memanfaatkan media massa dengan meminimalisir dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif dari media yang ada. Eksistensi jurnalis dalam konteks pemberi informasi kepada masyarakat melalui media yang digelutinya sangat urgen dalam ikut membangun opini publik (public opinion) termasuk umat Islam. Dalam bahasa dakwah maka wartawan dapat disepadankan dengan da’i (mubalig), dengan alasan bahwa da’i bertugas memberikan informasi kebenaran dalam masalah keislaman dalam arti seluas-luasnya dan dalam bingkai amar ma’ruf nahi munkar, sementara wartawan bertugas memberikan informasi yang positif terkait dengan berbagai masalah baik politik, sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya. Dewasa ini, ketika masyarakat semakin pandai dengan adanya perkembangan teknologi dan komunikasi, seharusnya para da’i (juru dakwah) lebih pandai dalam memanfaatkan media yang ada. Media massa baik cetak maupun elektronik menjadi sarana yang dinilai efektif dalam penyampaian pesan dakwah. Sifat pesan dari media massa terutama media-media modern seperti internet adalah lebih luas serta tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Sehingga para mad’u dapat dengan mudah memperoleh materi-materi dakwah kapan saja. Umat Islam sangat mendambakan ada sosok seorang wartawan muslim dalam tataran realitas bukan hanya pada tataran wacana, masih adakah sosok wartawan muslim saat ini di Indonesia khususnya Kata Kunci: Peran, Jurnalis, Aktivitas World da’wa experiencing increasing challenges, especially since the development of science and technology and the increasing complexity of the social problems faced by humans. On the other hand, the development of modern communication media increasingly seems to be very helpful Islamic missionary activity. Islamic missionary opportunities will be open when the preacher is able to utilize the media to minimize the negative impacts and maximize the positive impact of the media. Existence of journalists in the context of a conduit of information to the public through the media that they do very urgent in participating public opinion (public opinion), including Muslims. In the language of da’wa, the reporter can be matched with the preacher, on the grounds that the preacher in charge of providing information of truth in Islamic affairs in the broadest sense and in the frame of commanding the good and forbidding the evil, while the journalist in charge of providing information that is positive associated with various problems either political, social, cultural, economic, and so forth. Today, when the public is getting smarter with the development of technology and communication, should the preacher (preacher) more proficient in using the media. Mass media both print and electronic means, is effective in the delivery of propaganda messages. The nature of the message of the mass media, especially modern media such as the internet is broader and is not limited by space and time. So the mad'u can easily obtain propaganda materials anytime. Muslims are eager there is the figure of a Muslim journalist in levels of reality not only at the level of discourse, there still figure Muslim reporters today in Indonesia, especially Keywords: Role, Journalist, Activity
REGULASI MEDIA DI INDONESIA (Tinjauan UU Pers dan UU Penyiaran) Muhammad Anshar Akil
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.344

Abstract

Abstract; Media merupakan salah satu lembaga penting bangsa. Untuk melaksanakan peran dan fungsi media yang benar, media harus menerapkan peraturan secara profesional. Perilaku media tidak dapat dilepaskan dari kepentingan pihak-pihak yang terkait dengan sistem media. Secara umum, pers adalah seluruh industri media yang ada, baik cetak maupun elektronik. Namun secara khusus, pengertian pers adalah media cetak (printed media). Dengan demikian, Undang-Undang Pers berlaku secara general untuk seluruh industri media, dan secara khusus untuk media cetak. Peraturan dapat menjadi hukum yang ditetapkan oleh pemerintah (seperti UU Pers); atau kode etik yang ditetapkan oleh wartawan atau organisasi profesi (seperti Kode Etik Jurnalistik). Peraturan pers di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Untuk mendukung pelaksanaan UU Pers, Dewan Pers menetapkan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Sedangkan peraturan media penyiaran yang ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Sebagai penjabaran dari UU Penyiaran, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menetapkan Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) sebagai proses batas pembuatan program siaran; dan Penyiaran Standar Program (SPS) sebagai batas program siaran dalam pengiriman. besarnya harapan masyarakat terhadap peran media untuk ikut serta dalam mengatasi masalah-masalah bangsa. Perwujudan fungsi normatif media sangat ditentukan oleh profesionalisme media; sedangkan profesionalisme media dapat diketahui dari sejauh mana perilaku media menjunjung tinggi peraturan maupun kode etik media yang berlaku di Indonesia. Kata Kunci: Regulasi Media, Pers, Broadcasting, Profesionalisme Media is one of the important institutions of the nation. To carry out the role and functions of the correct media, the media must apply the rules in a professional manner. The behavior of the media can not be separated from the interests of the parties related to the media system. In general, the press is all over the media industry, both print and electronic. But in particular, the notion of the press is the print media (printed media). Thus, the Press Law applies in general to the entire media industry, and in particular for the print media. Rule of law can be set by the government (such as the Press Law); or code of conduct established by the journalist or professional organizations (such as the Code of Ethics of Journalism). Regulation of the press in Indonesia is regulated by Law No. 40 of 1999 on the Press. To support the implementation of the Law on the Press, Press Council set Journalistic Code of Ethics (KEJ). While the broadcast media regulations established by Act No. 32 of 2002 on Broadcasting. As an elaboration of the Broadcasting Act, the Indonesian Broadcasting Commission (KPI) set Broadcasting Code of Conduct (P3) as the limit of making the broadcast program; and the Broadcasting Standards Program (SPS) as the limit in the broadcast program delivery. the magnitude of society's expectations of the role of the media to participate in solving the problems of the nation. Embodiments of the normative function of media is largely determined by the professionalism of the media; while the media professionalism can be seen from the extent to which the behavior of the media uphold the rules and codes of conduct applicable in Indonesian media. Keywords: Media Regulation, Press, Broadcasting, Professionalism
PENDEKATAN DAKWAH KULTURAL DALAM MASYARAKAT PLURAL Sakareeya Bungo
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.349

Abstract

Abstract; Dakwah kultural di satu sisi mempunyai prinsip dengan lebih menekankan pendekatan Islam kultural, yakni salah satu pendekatan yang berusaha meninjau kembali kaitan doktrinal formal antara Islam dan politik atau Islam dan negara. Dakwah kultural mempertanyakan validitas; apakah benar bahwa dakwah umat Islam yang berada di luar kekuasaan adalah dakwah yang tidak lengkap dan sempuma. Hakekat dakwah pada dasamya adalah upaya mengajak dan mengembalikan manusia pada eksistensi secara integral, serta merupakan upaya penjabaran nilai-nilai Ilahi menjadi amal saleh dalam kehidupan nyata. Antara pemikiran tentang dakwah yang berkembang sekarang dengan realitas, ada suatu kesenjangan yang perlu dijembatani. Pertama, kesenjangan yang berasal dari cara memberikan pengertian dakwah yang mempengaruhi tradisi dakwah selama ini. Kedua, kesenjangan yang disebabkan tidak adanya kerangka keilmuan tentang dakwah yang mampu memberikan penjelasan tentang dakwah Islam, yang merupakan kesenjangan antara teori dan praktek. Dakwah kultural di satu sisi mempunyai prinsip dengan lebih menekankan pendekatan Islam kultural, yakni salah satu pendekatan yang berusaha meninjau kembali kaitan doktrinal formal antara Islam dan politik atau Islam dan negara. Tegasnya gerakan dakwah kultural itu cenderung mempertanyakankebenaran statemen yang mengatakan bahwa gerakan dakwah dipandang belum sungguh-sungguh memperjuangkan Islam Hubungan antara Islam dan politik atau Islam dan negara termasuk wilayah pemikiran ijtihadiyah, yang tidak menjadi persoalan bagi umat Islam ketika sistem kekhalifahan masih bertahan di dunia Islam. Kata Kunci: Dakwah, Kultural, Struktural, Plural Cultural Da'wa on one side with a greater emphasis has principles of Islam cultural approach, which is one approach that seeks to review the formal doctrinal connection between Islam and politics or Islam and the state. Da'wa cultural question the validity; is it true that proselytizing Muslims is beyond the power of propaganda that is incomplete and imperfect. The essence of da’wa essentially a bid to entice and restore integral human existence, as well as the values of the translation effort Divine become good works in real life. Between the idea of propaganda is developing now with reality, there is a gap that needs to be bridged. First, the gap is derived from understanding how to give da'wah affecting propaganda tradition over the years. Second, the gap caused by the absence of scientific framework of propaganda that is able to explain the propagation of Islam, which is the gap between theory and practice. Cultural Da'wa on one side with a greater emphasis has principles of Islam cultural approach, which is one approach that seeks to review the formal doctrinal connection between Islam and politics or Islam and the state. Strictly speaking cultural missionary movement that tends mempertanyakankebenaran statement saying that the missionary movement was seen not truly fight for Islam The relationship between Islam and politics or Islam and the country including the ijtihadiyah thinking, which is not a problem for Muslims when the system Caliphate remained in the Islamic world. Keywords: Da'wah, Cultural, Structural, Plural
WARTAWAN SEBAGAI DA’I Erwin Jusuf Thaib
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.345

Abstract

Abstract; Peradaban saat ini sering disebut sebagai peradaban informasi. Informasi telah menjadi komoditas bahkan sumber utama kekuasaan. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk membentuk opini publik yang mempengaruhi dan mengendalikan pikiran, sikap, dan perilaku manusia. Khotbah adalah pekerjaan yang disamakan dengan garam kehidupan manusia dengan nilai-nilai keimanan, Islam dan kesalehan, demi sekarang dan masa depan kebahagiaan. Namun, di sisi lain sebagian besar perubahan sosial mencerminkan dinamika masyarakat yang tidak lagi ingin memberikan terlalu besar peran agama karena realitas sosial-ekonomi sering kebutuhan untuk lebih dominan. Pandangan Al-Qur'an dan Hadis pada kebebasan pers cenderung diresmikan oleh sistem pers yang berlaku, serta semua teori lain tentang kebebasan pers, sehingga semua teori akan diserap ke dalam sistem. Sebenarnya sistem Pancasila tidak bertentangan dengan pandangan teologis tentang kebebasan pers dan pembatasan. Berarti, tanggung jawab untuk kebebasan pers atau kebebasan informasi, menurut Islam, tidak berbeda dengan apa yang ada dalam hukum pidana atau hukum pidana media komunikasi dan etika jurnalisme massa. Dari perspektif ini penulis melihat potensi dakwah di dunia jurnalistik. Tuntutan untuk berdiri di atas kebenaran dalam menjalankan tugas jurnalistik merupakan tuntutan Islam. Dari sini dapat dikatakan bahwa seorang wartawan yang jujur dan benar adalah penyampai kebenaran, dan karena itu dapat diklasifikasikan sebagai khatib. Kata Kunci: Jurnalis, Dai Civilization is now often referred to as civilization information. Information has become a commodity even the main source of power. Such information can be used as a tool to shape public opinion to influence and control the thoughts, attitudes, and human behavior. The sermon is equated with salt work of human life by the values of faith, Islam and piety, for the sake of present and future happiness. However, on the other hand most of the social changes reflect the dynamics of the community who no longer want to give too large a role religion because of the socio-economic realities often needs to be dominant. View of the Quran and Hadith on press freedom tends to be unveiled by the press system in force, as well as all other theories about the freedom of the press, so that all the theories will be absorbed into the system. Actually Pancasila system does not conflict with theological views about freedom of the press and restrictions. Means, the responsibility for the freedom of the press or freedom of information, according to Islam, is no different from what is in the criminal law or criminal law media mass communication and journalism ethics. From this perspective the authors look at the potential of propaganda in journalism. Demands to stand on the truth of the job as a journalist is a requirement of Islam. From this it can be said that an honest and true journalist is conveyer truth, and therefore can be classified as a preacher. Keywords: Journalists, Da’i
URGENSI ETOS KERJA DALAM MENGELOLA LEMBAGA DAKWAH Nuzha Nuzha
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.350

Abstract

Abtsract; Ajaran Islam adalah konsepsi yang sempurna dan komprehensif, karena ia meliputi segala aspek kehidupan manusia, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Islam secara teologis, merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahian dan transden. Sedangkan dari aspek sosiologis, Berkaitan dengan lembaga dakwah, stakeholder potensial dapat dilihat dari status ekonomi, kondisi demografi penduduk suatu wilayah, jenis aliran yang dianut oleh masyarakat Islam, dan lain-lain. Misalnya sebuah lembaga dakwah menawarkan layanan pendidikan yang menggunakan berbagai sarana canggih, dengan mubaligh dan mubalighah yang memiliki komptensi yang tinggi, maka untuk mengoperasionalkan seluruh kegiatan lembaga dakwah tersebut dibutuhkan dana yang besar sehingga lembaga dakwah menentukan stakeholder potensialnya adalah masyarakat Islam dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Demikian pula dengan penentuan stakeholder melalui sudut tinjauan yang lain. untuk mewujudkan suatu etos kerja yang berkualitas harus mengimplementasikan delapan (8) etos kerja yaitu: kerja adalah rahmat, bekerja tulus penuh syukur, kerja adalah amanah, bekerja benar penuh tanggung jawab, kerja adalah pangagilan, bekerja tuntas penuh integritas, kerja adalah aktualisasi dan bekerja keras penuh semangat. Jika delapan hal ini dilakukan oleh setiap orang maka akan terwujud suatu kehidupan yang sangat baik. Kedua, lembaga dakwah dalam melaksanakan aktivitasnya harus tetap eksis dan konsisten di tengah terpaan virus globalisasi dunia yang semakin memprihatinkan semua kalangan. Kata Kunci: Etos Kerja, Mengelola, Institusi The teachings of Islam is perfect and comprehensive conception, because it covers all aspects of human life, both temporal and hereafter. Islam theologically, is a system of values and teachings that are divinity and transden. While the sociological aspects, connection with the propaganda agencies, potential stakeholders can be seen from the economic status, demographic conditions of the population of an area, the type of flow that is embraced by the Islamic community, and others. For example, a propaganda agency offering educational services using a variety of sophisticated means, with preachers and mubalighah which has a high competency, then to operationalize the entire activities of the da’wa agency requires substantial funds so that the da’wa agencies determine potential stakeholders is an Islamic society with middle to upper-level economics . Similarly, the determination of the stakeholders through the corner from the other side. to create a quality work ethic must implement the eight (8) work ethic, namely: the work is mercy, work sincerely grateful, work is trustworthy, works really full responsibility, work is pangagilan, completing work with integrity, work is the actualization and work hard vigorously. If eight this is done by each person will realize a very good life. Second, da’waa agencies in carrying out their activities must exist and be consistent in the middle of the exposure to the virus which has become increasingly serious globalized world all circles. Keywords: Work ethic, Managing, Institutions
PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA DAN AGAMA Nursinita Killian
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.346

Abstract

Abstract; Perkembangan teknologi informasi telah menunjukkan kemajauan sangat cepat. Kemajuan itu telah menyebabkan manusia lebih mudah untuk berhubungan satu sama lain. Informasi dan peristiwa yang terjadi berbagai belahan dunia dengan cepat dapat diketahui oleh manusia di benua lain. Dalam wacana keagamaan kontemporer menjelaskan bahwa agama mernpunyai banyak dimensi dan tidak lagi seperti dahulu memahami bahwa hanya masalah ketuhanan. kepercayaan, iman, dan sebagainya, tetapi lebih dari itu semua. Dimulai pada isu-isu ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, sejarah, perdamaian dan sebagainya. Gejala umum yang dapat dirasakan atau dilihat hari ini, terutama dalam kaitannya dengan kehidupan beragama adalah jumlah ilmuwan yang tinggal di kota-kota besar sangat menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat menyelesaikan semua masalah kehidupan manusia. Karena ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat memberikan ketenangan pikiran bagi mereka merasa ada sesuatu yang "kurang pas" atau "hilang" dari diri mereka sendiri. Mereka mencoba untuk menemukan "hilang" dalam beberapa cara, antara lain dengan melihat ajaran spiritual agama. Splendor kehidupan beragama di kota-kota besar setelah memudar sebelumnya dihuni oleh lapisan atas dari segi ekonomi dan pengetahuan merupakan salah satu indikator bagaimana besarnya kehilangan kesadaran. Suatu informasi atau pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan akan komunikatif apabila terjadi proses psikologis yang sama antara insan-insan yang terlibat dalam proses tersebut. Dengan perkataan lain, informasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan adalah situasi komunikatif seperti itu akan terjadi bila terdapat etos pada diri komunikator. Kata Kunci: Peran, Teknologi Informasi, Budaya The development of information technology has shown very rapid progress. It has led to human progress is easier to relate to one another. Information and events happening around the world quickly it can be seen by humans on other continents. In contemporary religious discourse to explain that religion mernpunyai many dimensions and no longer as it used to understand that the only theological matters. trust, faith, and so on, but most of all. Beginning on economic issues, politics, science and technology, environment, history, peace and so on. Common symptoms that can be felt or seen today, especially in relation to religious life is the number of scientists who live in big cities are well aware that science and technology can not solve all the problems of human life. Because science and technology can not give peace of mind to those felt something was "not fit" or "missing" from themselves. They try to find "lost" in some way, such as by seeing the spiritual teachings of religion. Splendor of religious life in large cities after fading previously inhabited by the upper layers of the economic and knowledge is one indicator of how the magnitude of loss of consciousness. An information or message conveyed communicator to the communicant to be communicative event of the same psychological process between beings who are involved in the process. In other words, the information conveyed communicator to the communicant is a communicative situation like that would happen if there is a communicator yourself ethos. Keywords: Role, Information Technology, Culture
PROFESIONALITAS DAKWAH KONTEMPORER Nur Aisyah
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.351

Abstract

Abstract; Pekerja yang profesional senantiasa memperhatikan hal-hal yang baru agar dapat mengikuti arus globalisasi, dan juga dapat mengikuti persaingan yang semakin ketat karena kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif. Penampilan yang profesional senantiasa mengalami perubahan dari tahun ke tahun dengan kriteria-kriteria penampilan yang sesuai dengan sikap, kepribadian, dan penampilan ini sangat dipengaruhi oleh tempat dan lingkungan dimana seseorang melaksanakan profesi. Dakwah semestinya mampu mengasah intelektualitas objek dakwahnya. Dengan tantangan zaman sekarang ini langkah yang harus ditempuh seorang juru dakwah atau lembaga dakwah agar bisa berdakwah secara efektif. Seorang profesional yang sukses dalam mencapai tujuannya ia harus memprioritaskan tanggung jawab menyelesaikan tugas dengan lengkap, dan menciptakan jadwal serta berusaha memenuhi jadwal tersebut dengan memanaje waktu. Profesional dalam perkerjaan adalah merupakan suatu sikap yang benar-benar menunjukkan dengan menguasai, sungguh-sungguh/serius profesinya, melakukan analisis, memahami pekerjaannya dan juga percaya diri serta memiliki keterampilan di dalam berhubungan dengan orang lain serta senantiasa melakukan pengembangan diri secara terus menerus agar tidak ditinggalkan atau ketinggalan. Seorang yang memiliki sikap profesional, hanya mereka yang benar-benar memiliki keteguhan hati dan iman, dan hanya kepada Allah jualah mereka bersandar. Di samping mereka sungguh-sungguh, tidak mudah putus asa, juga serius dalam menekuni pekerjannya, berani mengahapi tantangan zaman, mengamalkan apa yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan senantiasa mengikuti as-sunnah. Kata Kunci: Profesionalisme, Dakwah, Kontemporer Professional worker observes the new things in order to follow the flow of globalization, and also can follow the increasing competition due to the progress of science and the development of more advanced age and competitive. Professional appearance constantly changing from year to year with the criteria of performance in accordance with the attitude, personality, and appearance is strongly influenced by the place and the environment where the person carrying out the profession. Da'wa should be able to sharpen the intellect object message. With today's challenges steps to be taken in a preacher or propaganda agencies in order to preach effectively. A professional who is successful in achieving his goal he must prioritize the responsibility to complete the task complete, and create schedules and working to meet the schedule to manage time. Professionals in the job is an attitude that really shows the master, earnestly / serious profession, perform analysis, understand the work and also the confidence and skills in relating to others and to always perform continuous self-development so as not to abandoned or left behind. A person who has a professional attitude, only those who really have the courage and faith, and God only step that they lean. In addition they are earnest, not easily discouraged, also seriously pursue live, dare mengahapi challenges of the times, practice what is taught by Allah in the Qur'an and as-Sunnah always followed. Keywords: Professionalism, Da'wah, Contemporary
KEPEMIMPINAN DAKWAH Mahmuddin Mahmuddin
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.347

Abstract

Abstract Dalam dunia modern, masalah administrasi makin mendapat posisi penting dalam pelaksanaan segala usaha, termasuk kehidupan organisasional. Pimpinan memainkan peranan yang sangat penting, bahkan dikatakan amat menentukan dalam usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Seorang pimpinan harus benar-benar mengetahui metode atau cara pengambilan keputusan serta teknik-teknik lainnya guna menghindari kesalahan yang fatal dan dapat merugikan dirinya dan organisasinya. Manusia sebagai pemimpin akan menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan memimpin manusia. Dalam konteks ini makna keadilan yang pertama adalah keadilan yang benar-benar menempatkan manusia pada harkat kemanusiaannya. Untuk menjalankan fungsi keadilan, seorang pemimpin dituntut memiliki sifat-sifat kepemimpinan penunjang lainnya seperti pengetahuan, kearifan, kesabaran, kesederhanaan dan sifat terpuji lainnya, sehingga pada dirinya memang terdapat suatu otoritas yang memungkinkan ia menjalankan kepemimpinann yang adil tersebut. Setiap pemimpin sekurang-kurangnya memiliki tiga ciri yaitu persepsi sosial, kemampuan berpikir abstrak dan keseimbangan emosional. Kepemimpinan dakwah merupakan suatu kemampuan khusus yang dimiliki oleh pelaksana dakwah untuk mempengaruhi perilaku orang lain sesuai yang diinginkan oleh pelaksana dakwah. Tugas seorang pemimpin dalam arti kepemimpinan dakwah betul-betul merupakan tugas yang sangat besar dan mulia, dan tugas ini tidak dapat dipikul oleh semua orang, karena selain tugasnya yang berat, juga tanggung jawab menggerakkan dan memengaruhi orang lain secara suka rela. Tanggung jawab dunia dan akhirat. Itulah salah satu masalah yang tidak semua orang mampu melakukannya. Keywords; Kepemimpinan, Dakwah In the modern world, more and more administrative problems got an important position in the implementation of all the efforts, including organizational life. Leadership plays a very important role, even said to be very decisive in the effort to achieve goals that have been set previously. A leader must really know the method or manner of decision making as well as other techniques in order to avoid a fatal error and can harm himself and his organization. Humans as a leader will perform the function of leadership to lead people. In this context the meaning of the first justice is justice really put a man on the dignity of humanity. To perform the function of justice, a leader is required to have leadership qualities and other supporting such knowledge, wisdom, patience, modesty and good character of the other, so that in itself is there an authority that allows it to run the fair kepemimpinann. Every leader has at least three characteristics, namely the social perception, the ability to think abstractly and emotional balance. Leadership propaganda is a special ability possessed by implementing propaganda to influence the behavior of others as desired by implementing propaganda. The task of a leader in the sense of propaganda leadership really is an enormous task and noble, and this task can not be borne by everyone, because in addition to the heavy duty, also the responsibility to mobilize and influence others voluntarily. Responsibilities of the world and the hereafter. That is one problem that not everyone is able to do so. Keywords; Leadership, Da’wa
PERAN DAKWAH DALAM MENGATASI KONFLIK-KONFLIK SOSIAL MASA KINI Sitti Muthmainnah
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.352

Abstract

Abstract; Dalam sejarah penciptaan manusia, sejak awal para malaikat telah "protes" Tuhan. Malaikat menilai penciptaan manusia, yang akan dilakukan oleh Khalifah Allah, hanya akan membuat pertumpahan darah di bumi. Namun malaikat itu kemudian ditolak oleh Allah dengan pernyataan bahwa ia (Allah) tahu apa yang tidak diketahui oleh para malaikat. Konflik sosial di karenakan sifat yang dimiliki oleh ego manusia. Sifat ego yang mendorong orang untuk mengendalikan orang lain atau kelompok orang di berbagai bidang yang disebutkan di atas adalah bukti bahwa keinginan setiap kelompok menjadi untukn manusia tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan biologis (makanan, minuman dan pakaian) , tapi pada saat yang sama untuk menyalurkan sifat ego-nya. ia unsur yang dapat menjadi penyebab konflik sosial adalah perempuan, harta (ekonomi), politik, sosial dan budaya. Untuk yang disebut, wanita pertama adalah faktor, lebih penyebab konflik individu, walaupun biasanya dapat dirasakan dalam kehidupan. Dalam kehidupan sosial yang lebih luas Anda melihat perkembangan saat ini, konflik sosial yang terjadi, disebabkan oleh faktor-faktor politik, ekonomi, sosial dan budaya. Naluri manusia yang kemudian menjadi kelompok naluri untuk mencapai posisi dan peran tertentu dalam masyarakat, menjadi pemicu konflik. Untuk mengantisipasi konflik sosial, Quran berangkat dari konsep persaudaraan. Konsep persaudaraan ini dapat dipahami sebagai kunci untuk pencegahan konflik sosial. Oleh karena itu, orang-orang percaya saudara-saudara, maka sebaiknya tidak timbul kontradiksi antara mereka. Untuk orang percaya yang adalah saudara dari orang-orang percaya lainnya. jika konflik tersebut tidak bisa dihindari maka petunjuk Al-Quran adalah berdamai keduanya. Mulai dari konsep ini juga, Al-Qur'an itu kemudian menegaskan bahwa tidak ada seorangpun di antara meremehkan satu sama lain, apalagi memalukan. Hal ini dapat dilihat dalam surat al-Hujurat: 11. Kata Kunci: Peran, Konflik, Sosial In the history of the creation of man, since the beginning of the angels had "protested" God. Angel of assessing the creation of man, which will be made by the Caliph of Allah, will only make the bloodshed on earth. But the angel was later denied by God with a statement that he (God) knows what is not known by the angels. Social conflicts in because of the nature of which is owned by the human ego. The nature of the ego that encourages people to take control of other people or groups of people in various fields mentioned above this is proof that the desire of every human being untukn groups are not solely to meet the biological needs (food, drink and clothing), but at the same time to channel properties of its ego. he elements that can be the cause of social conflict are women, treasure (economics), political, social and cultural. For the so-called, first lady is factor, more cause conflicts individuals, although usually can be felt in the wider social life.When you look at today's development, social conflicts occurring, is caused by political factors, economic, social and cultural. Human instinct which later became instinct group to achieve a certain position and role in society, be a trigger of conflict. In anticipation of social conflict, Koran departed from the concept of brotherhood. This brotherhood concept can be understood as the key to prevention of social conflict. Therefore, the believers brothers, then should not arise contradictions between them. For the believer who is the brother of the other believers. if such a conflict is inevitable then the instructions of the Qur’an is make peace both. Starting from this concept as well, the Qur'an was later confirmed that no man among belittle each other, much less humiliating. It can be seen in surah al-Hujurat: 11 Keywords: Role, Conflict, Social

Page 1 of 1 | Total Record : 10