cover
Contact Name
Hijrana
Contact Email
hijrana@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jkesehatan@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Kesehatan
ISSN : 20862555     EISSN : 26227363     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan is an academic journal that publishes medical and health scientific articles. We regularly publish the issues in June and December. The journal accepts research-based papers, literature/health research regarding of pharmacy, nursing public science and midwifery. This journal published by Medical and Health Science Faculty, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 12 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN" : 7 Documents clear
HUBUNGAN KARAKTERISTIK ORANG TUA DENGAN PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL INFANT Livana PH; Hermanto Hermanto; Pranita Pranita
Jurnal Kesehatan Vol 12 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v12i1.6669

Abstract

Masa infant  (0-18 bulan) merupakan merupakan bagian dari pertumbuhan  perkembangan yang sangat penting karena merupakan fase golden Age. Pada masa ini terdapat infant yang mengalami keterlambatan psikososial di karenakan karena keterlibatan langsung atau stimulus orang tua. penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik orangtua( usia,jenis kelamin,pendikikan, pekerjaan,pendapatan dan tipe keluarga)  dengan perkembangan psikososial infant. Penelitian menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian berjumlah 55 responden dengan teknik pengambilan total sampling. Alat ukur berupa kuesioner berjumlah dua yaitukuesioner karakteristik orang tua dan kuesioner perkembangan psikososial infant (0-18 bulan). Analisa data menggunakan ujiChi Square (Fisher Exact Test). Penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara karakterisitk orang tua (usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan) dengan perkembangan psikososial infant. Diharapkan orang tua  untuk melakukan evaluasi diri dalam mengenal dan merawat serta memberikan stimulasi kepada anak usia infant agar mencapai perkembangan psikososial yang optimal.ABSTRACTInfanthood (0-18 months) is part of a very important developmental growth because it is a golden age phase. At this time there were infant who experienced psychosocial delays due to direct involvement or stimulus of parents. this study was to find out a description of parental characteristics (age, sex, education, occupation, income and family type) and infant psychosocial development. The study used descriptive exploratory design. The sample in the study amounted to 55 respondents with a total sampling technique. Measuring instruments in the form of questionnaires totaling two, namely the characteristic parents questionnaire and infant psychosocial development questionnaire (0-18 months). Data analysis uses frequency distribution. Research shows that the majority of parents aged> 25-40 years, female sex, junior high school education, work as workers, average income <UMR, and all respondents included in the nuclear family. While the majority of infant psychosocial development is in the normal stage. Parents are expected to conduct self-evaluations in recognizing and caring for and providing stimulation to infant-aged children to achieve optimal psychosocial development.
ANALISIS PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DALAM PENANGANAN SAMPAH MEDIS PADA PETUGAS CLEANING SERVICE DI RSUD KABUPATEN BEKASI TAHUN 2016 Farsida Farsida; Mirzan Zulyanda
Jurnal Kesehatan Vol 12 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v12i1.5736

Abstract

Alat Pelindung Diri  (APD) merupakan seperangkat alat keselamatan yang digunakan oleh pekerja untuk melindungi seluruh atau seabagian tubuhnya dari kemungkinan adanya pemaparan potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Petugas cleaning service mempunyai risiko untuk terpajan bahan biologi berbahaya (biohazard). Kontak dengan alat medis sekali pakai (disposable equipment) seperti jarum suntik bekas maupun selang infus bekas, serta membersihkan seluruh ruangan di rumah sakit dapat meningkatkan risiko untuk terkena penyakit infeksi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi penggunaan Alat pelindung Diri dalam Penaganan Sampah Medis pada Petugas Cleaning Service di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan menggunakan desain studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh petugas cleaning service  di RSUD Kab. Bekasi yang berjumlah 50 orang dengan analisis bivariat menggunaka uji chi-square. Penelitian menunjukkan bahwa 33 orang (66%) responden menggunakan APD dengan lengkap, hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan penggunaan APD dengan variabel pengetahuan (pvalue 0.04 dan OR=9,846), sikap (pvalue 0,002 dan OR=7,750),  umur (pvalue 0,352 dan OR 1,225), Pendidikan (pvalue 0,767 dan OR 0,498), dan masa kerja (pvalue 0,557 dan OR 0,656). Terdapat hubungan bnermakna penggunaan APD dengan pengetahuan dan sikap dimana pvalue <0,05 dan tidak terdapat hubungan bermakna antara pengunaan APD dengan umur, Pendidikan dan masa kerja dimana pvalue>0,005. Saran : diharapkan kepada pihak Rumah Sakit untuk dapat terus meningkatkan  pengetahuan dan sikap  cleaning service dalam penggunaan APD, adapun untuk umur, Pendidikan dan Masa kerja perlu menjadi masukan rumah sakit dalam dengan memberikan edukasi dan pelatihan mengenai pentingnya menggunakan APD dengan baik.ABSTRACTPersonal Protective Equipment (PPE)  is a set of safety equipment used by workers to protect all or part of the body from the possibility of exposure to potential workplace hazards to occupational accidents and diseases. Cleaning service at risk for exposure to hazardous biological substances (biohazard). Contact with disposable medical instruments (disposable equipment) such as used syringes or IV lines used, as well as clean the whole room in a hospital can increase the risk of infectious diseases. Risk of occupational accidents and occupational diseases can occur against officers. This study aims to determine the factors that affect the use of Personal Protective Equipment in Medical Waste Treatment at Cleaning Service Officer at General Hospital Bekasi District In 2016. This study is a quantitative analytical observation that used cross sectional design. The sample in this study is all of cleaning service officer in General Hospital Bekasi District in 2016.  This study used univariate analysis to describe of the use Personal protective equipment and the factors that affected it. The result study shows that 33 (66,0%) respondent were used Personal protective equipment complete. The result analysis shows that there were significant relation between knowledge and  attitude with the use of personal protective equipment. The variable of age, education, and work period were not significant relation with the use of personal protective equipment. This is may be conclused that respondent who have good knowledge and positive attitude were used personal protective equipment complete than respondent who have bad knowledge and negative attitude. Hopefully to the hospital To give education that the us of personal protective equipment is important and there is impact can be happen if not using personal protective equipment at work.
KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA BALITA 0-59 BULAN DI DESA PRIORITAS STUNTING Nina Fentiana; Daniel Ginting; Zuhairiah Zuhairiah
Jurnal Kesehatan Vol 12 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v12i1.7847

Abstract

Data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir mencatat bahwa prevalensi stunting mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017. Prevalensi stunting di Sumatera Utara tahun 2017 (Data PSG) adalah 28,4%. Artinya Sumatera Utara masih dalam kondisi bermasalah kesehatan masyarakat. Prevalensi stunting tertinggi di Sumatera Utara tersebar di 4 Kabupaten/Kota yaitu Langkat, Padang Lawas, Nias Utara dan Gunung Sitoli. Langkat adalah kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi yaitu 54.961 jiwa pada tahun 2013 atau sekitar 55,48% dibandingkan dengan Padang Lawas yang prevalensi stuntingnya 54,86%, Nias Utara 54,83% dan Gunung Sitoli 52,32% . Guna menurunkan prevalensi stunting dibawah 25%, pemerintah telah menetapkan 160 Kabupaten/kota prioritas dengan masing-masing 10 desa untuk penanganan stunting. Banyak faktor yang menyebabkan stunting pada balita, namun karena balita sangat tergantung pada ibu/keluarga maka kondisi keluarga dan lingkungan yang mempengaruhi keluarga akan berdampak pada status gizinya. Oleh karena itu perlu untuk mengkaji bagaimana ketahanan pangan rumah tangga Balita 0-59 bulan di desa Secanggang sebagai desa priorotas stunting. Penelitian menggunakan pendekatan cross sectional yang dilakukan di Desa Secanggang Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat dengan jumlah balita 0-59 bulan adalah 134 orang. Besaran sampel dihitung menggunakan rumus Slovin dan jumlah sampel yang diperoleh adalah 45 orang. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui wawancara dan pengukuran langsung. Data stunting diperoleh menggunakan indikator TB/U dan ketahanan pangan diukur menggunakan USHFSS. Analisis data dilakukan bertahap meliputi analisis univariat dan bivariat (chi square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian dari rumah tangga (RT) responden telah mengalami tidak aman pangan (55,6%). Sebanyak 15 balita stunting (60,0%) ditemukan pada rumah tangga dengan kategori ketahanan pangan yang tidak aman pangan. Penelitian menyimpulkan bahwa ketahanan pangan rumah tangga memiliki hubungan yang signifikans dengan kejadian stunting pada balita 0-59 bulan.ABSTRACTNutritional Status Monitoring Data (PSG) over the past three years noted that the prevalence of stunting has increased from 2016 at 27.5% to 29.6% in 2017. The stunting prevalence in North Sumatra in 2017 (PSG Data) is 28.4% . This means that North Sumatra is still in a state of public health problems. The highest stunting prevalence in North Sumatra is spread in 4 districts / cities, namely Langkat, Padang Lawas, North Nias and Gunung Sitoli. Langkat is the district with the highest prevalence of stunting, which was 54,961 people in 2013 or around 55.48% compared to Padang Lawas, where the prevalence of stunting was 54.86%, North Nias 54.83% and Gunung Sitoli 52.32%. In order to reduce stunting prevalence below 25%, the government has set 160 priority districts / cities with 10 villages each for stunting treatment. Many factors cause stunting in infants, but because toddlers are very dependent on mother / family, family and environmental conditions that affect the family will have an impact on their nutritional status. Therefore it is necessary to examine how food security for under-five households in 0-59 months in the village of Secanggang as a priority village of stunting. The study used a cross sectional approach carried out in the village of Secanggang, Secanggang Subdistrict, Langkat District with 134 people under the age of 0-59 months. The sample size is calculated using the Slovin formula and the number of samples obtained is 45 people. The data used are primary data obtained through interviews and direct measurements. Stunting data were obtained using the TB / U indicator and food security was measured using USHFSS. Data analysis was carried out in stages including univariate and bivariate analysis (chi square). The results showed that some of the respondents (RT) had experienced food insecurity (55.6%). A total of 15 stunting toddlers (60.0%) were found in households in the category of food insecurity. The study concluded that household food security has a significant relationship with the incidence of stunting in infants 0-59 months.
ANEMIA DEFISIENSI BESI DAN INDEKS MASSA TUBUH TERHADAP SIKLUS MENSTRUASI REMAJA PUTRI Ika Mustika; Sri Hidayati L.; Estri Kusumawati; Nova Lusiana
Jurnal Kesehatan Vol 12 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v12i1.7157

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh anemia dan Indeks Massa Tubuh (IMT) Terhadap siklus menstruasi remaja putri. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan penelitian kohort. Penelitian ini menggunakan data primer.  Pengumpulan data awal meliputi pengukuran berat badan dan tinggi badan, pengambilan sampel darah dan  kuesioner. Untuk penentuan anemia dilakukan dengan pemeriksaan sampel darah dengan Hb Sahli. Penentuan siklus menstruasi dengan pengisian kuesioner tentang menstruasi selama 3 bulan. Analisis data menggunakan program komputer dengan derajat kepercayaan 95%. Analisis bivariat menggunakan chi square dengan α 0,05. Regresi logistik ganda digunakan untuk melakukan analisis multivariat. Hasil Penelitian menunjukan 15 % remaja putri mengalami anemia,48,3% indeks massa tubuh tidak normal dan 46,7 % siklus menstruasi tidak normal. Tidak terdapat pengaruh anemia dan indeks massa tubuh terhadap menstruasi remaja putri. Berdasarkan hasil penelitian maka remaja putri perlu melakukan pemeriksaan kadar Hb secar rutin untuk mencegah anemia secara dini dan mengkonsumsi makanan bergizi yang sangat dibutuhkan pada saat menstruasi.ABSTRACTThe prevalence of anemia in the world is 46% according to WHO and 68% of women based on Riskesdas experience irregular menstruation. Menstrual cycle disorders have an increased risk of cancer and cardiovascular disease. Anemia and nutritional status is one of the factors that can affect menstruation. The study was to determine the effect of anemia and Body Mass Index (BMI) on the menstrual cycle of young women. This type of research is observational analytic with a cohort study design. This study uses primary data. Initial data collection included measurements of body weight and height, blood sampling and questionnaires. The determination of anemia was carried out by examining blood samples with Hb Sahli. Determination of the menstrual cycle by filling out a questionnaire about menstruation for 3 months. Data analysis using a computer program with a 95% confidence level. Bivariate analysis using chi square with α 0.05. Multiple logistic regression is used to conduct multivariate analysis. The results showed 15% of female adolescents had anemia, 48.3% of body mass index was abnormal and 46.7% of menstrual cycle was abnormal. There is no influence of anemia and body mass index on menstruation for young women. Based on the results of the study, young women need to check Hb levels regularly to prevent anemia early and consume nutritious foods that are needed during menstruation.
UJI FARMAKOLOGI SEDIAAN PLESTER PATCH DARI LIMBAH KULIT PISANG KEPOK (MUSA ACUMINATA) UNTUK PENYEMBUHAN LUKA BAKAR Syamsuri Syakri
Jurnal Kesehatan Vol 12 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v12i1.7395

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai Uji Farmakologi Sediaan Patch Dari Limbah Kulit Pisang Kepok Untuk Penyembuhan Luka Bakar. Tujuan penelitain ini untuk melakukan uji efektivitas dengan menggunakan hewan coba kelinci, serta pembuatan plester patch untuk memberikan suatu kenyamanan dan kemudahan kepada konsumen dalam mengobati luka. Peneltian ini menggunakan metode kuantitatif dengan cara metode eksperimental laboratorium, cara kerjanya berupa pengambilan sampel, ektraksi kulit buah pisang kepok, membuat plester patch dari 3 macam formula kemudian membandingkan dengan kontrol positif dan negatif, evaluasi plester patch¸dan setelah pengujian daya sembuh luka pada hewan kelinci. Dari hasil penelitian didapatkan Formula III yang memiliki efektifitas paling baik dalam menyembuhkan luka yaitu konsentrasi 30% kulit buah pisang kepok. ABSTRACTResearch has been conducted on the Pharmacological Test of Patches Preparation from Kepok Banana Skin Waste to Heal Burns. The use of immature kepok banana peels to help speed up the duration of wound healing has already been done, but in previous studies, kepok banana peel was extracted, but made in gel form, whereas in patch plaster preparations had never been studied before. The purpose of this research is to make patch plaster preparations that have the best effectiveness in healing wounds, as well as making patch plasters to provide comfort and convenience to consumers in treating wounds. This research uses a quantitative method by means of laboratory experimental methods, how it works in the form of sampling, extraction of kepok banana peel, making patch plaster using active ingredients kepok banana peel extract (Musa acuminate), and other additives in the form of glycerin, chitosan, HPMC, Tween 80, then formulated into 3 types of formulas, then compared with positive and negative controls, evaluation of patch patches and after testing the healing power of wounds in rabbit animals. From the results of the study it was found that Formula III had the best effectiveness in healing wounds, namely the concentration of 30% kepok banana peels.
PERILAKU IBU NIFAS DALAM MENGKONSUMSI KAPSUL VITAMIN A DI KECAMATAN KOTA PINANG KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN Putra Apriadi Siregar
Jurnal Kesehatan Vol 12 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v12i1.7934

Abstract

Tindakan ibu nifas dalam mengkonsumsi kapsul vitamin A sangatlah penting.Periode masa nifas pada seorang ibu membuat ibu nifas harus memenuhi kebutuhan vitamin A untuk ibu nifas dan anaknya.Kekurangan vitamin A pada ibu nifas akan dapat mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh baik pada ibu nifas maupun kepada bayi. Kabupaten Labuhanbatu Selatan memiliki cakupan vitamin A sangat rendah jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian menggunakan jenis deskriptif dengan design crossectional. Populasi penelitian ini sebanyak 355 orang ibu nifas di Kecamatan Kotapinang dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 57 orang ibu nifas. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner berstruktur yang sudah dipersiapkan. Peneltian ini disajikan data distribusi dalam bentuk tabel frekuensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kategori tindakan sedang yaitu sebanyak 52 orang (91,2%), sedangkan selebihnya berada pada kategori tindakan buruk yaitu sebanyak 5 orang (8,8%). Seluruh responden atau sebanyak 57 orang (100% ) responden memiliki sikap dengan kategori sedang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kategori pengetahuan sedang yaitu sebanyak 38 orang (66,7%) dan kategori pengetahuan baik yaitu sebanyak 19 orang (33,3%). Diharapkan agar petugas kesehatan Puskesmas di Kecamatan Kotapinang dan pemuka masyarakat turut berpartisipasi dalam memberikan informasi mengenai konsumsi kapsul Vitamin A kepada ibu nifas. Diharapkan kepada ibu nifas untuk mengkonsumsi kapsul Vitamin A segera setelah diberikan oleh petugas kesehatan (bidan) setelah melakukan kunjungan nifas.ABSTRACTThe behavior of postpartum mothers in consuming vitamin A capsules is very important, the postpartum period is a very important period for postpartum mothers and their babies. During the puerperium period a mother must have sufficient vitamin A to meet the needs of vitamin A for postpartum mothers and infants. The purpose of this study was to determine the behavior of postpartum mothers in consuming vitamin A capsules in the Kotapinang District of Labuhan Batu Selatan District. This type of research is cross-sectional research with purposive sampling technique. The study population was 355 people in post-partum mothers in the Kotapinang Subdistrict working area and 57 people in the study sample. Presentation of data using frequency distribution tables. The results showed that the predisposing factors for postpartum mothers included moderate knowledge categories as many as 24 people (42.1%), good attitude categories as many as 23 people (40.4%), for enabling factors for most health centers / health worker practices (midwives, doctor) too far from home that is as many as 43 respondents (75.4%). Reinforsing factors, namely health workers never explained / provided counseling about vitamin A capsules as many as 31 respondents (54.4%), families did not provide an explanation of taking vitamin A capsules as much as 46 respondents (80.7%). The act of postpartum mothers in consuming vitamin A capusl was at a low level of 24 people (42.1%). From the results of the study it was suggested that health workers participate in providing information about the consumption of vitamin A capsules for pregnant women and niifas mothers. The Labuhan Batu Selatan District Health Office is expected to supervise the distribution of vitamin A capsules as an effort to prevent less vitamin A for mothers and ba
LESBIAN, GAY, BISEKSUAL DAN TRANSGENDER (LGBT) VERSUS KESEHATA: STUDI ETNOGRAFI Hasnah Hasnah; Sattu Alang
Jurnal Kesehatan Vol 12 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v12i1.9219

Abstract

Negara terbesar kelima penyumbang LGBT adalah Indonesia menjadi setelah negara China, India, Eropa, dan Amerika. Indonesia memiliki populasi 3% LGBT. Dengan kata lain, dari 250 juta penduduk Indonesia, sekitar 7,5 juta adalah LGBT. Berarti dari 100 orang yang berkumpul di suatu tempat, 3 di antaranya memungkinkan mereka adalah LGBT(Onhit;2016) . Tujuan penelitian ini adalah: menelaah secara kritis LGBT ditinjau dari aspek kesehatan.  Penelitian ini merupakan Penelitian Etnografi. Sampel sebanyak 9 responden yang terdiri dari  5 (lima) gay dan 4 (empat) lesbian. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan yaitu Juni sampai dengan November 2018. Pengumpulan data dengan observasi dan indept interview (wawancara mendalam), lokasi penelitian di wilayah Kota Madya Makassar pada jalan urip Sumoharjo dan Puskesmas Jumpandang Baru. Analisis data dengan cara mereduksi, membuat etik dan preposisi hasil wawancara dengan responden. Hasil penelitian menggambarkan spek kesehatan: LGBT dari  aspek  dampak, penyebab penyakit yang kemungkinan muncul dari hubungan sejenis, cara melakukan hubungan seksual aman. Pada penelitian lanjutan perlu dilakukan pendampingan kepada para LGBT oleh tenaga kesehatan, masyarakat dan tokoh agama.ABSTRACTThe fifth largest country contributing LGBT is Indonesia after China, India, Europe and America. Indonesia has a population of 3% LGBT. In other words, of the 250 million inhabitants of Indonesia, around 7.5 million are LGBT. Means of 100 people gathered in one place, 3 of which allow them to be LGBT. The purpose of this study is: critically examine LGBT in terms of health aspects. This research is Ethnographic Research. A sample of 9 respondents consisting of 5 (five) gays and 4 (four) lesbians. This research was conducted for 6 months, namely June to November 2018. Collecting data by observation and indept interviews (in-depth interviews), research locations in the Makassar City area on urip sumoharjo road and Jumpandang Baru Puskesmas. Data analysis by reducing, making ethics and prepositions results of interviews with respondents. The results of the study describe the health specs: LGBT from the aspect of impact, the cause of the disease that might arise from similar relationships, how to have safe sexual relations. In further research it is necessary to provide assistance to LGBT people by health workers, the community and religious leaders.

Page 1 of 1 | Total Record : 7