cover
Contact Name
Nur Arifin
Contact Email
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Diskursus Islam
ISSN : 23385537     EISSN : 26227223     DOI : -
Jurnal Diskursus Islam adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang merefleksikan diri sebagai wadah akademik untuk publikasi artikel ilmiah. Jurnal ini menfokuskan pada kajian/studi islam dalam berbagai aspeknya yang diharapkan dapat memberi referensi bagi pembaca dalam pengembangan wawasan akademik dan keilmuan.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2013)" : 11 Documents clear
BUDAYA KEKERASAN DALAM GERAKAN ISLAM : Studi tentang Penegakan Doktrin Amar Makruf Nahi Mungkar pada Ormas Front Pembela Islam (FPI) Kota Makassar Mahmuddin Mahmuddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6584

Abstract

Studi ini dilakukan dalam rangka menjawab sejumlah permasalahan yang berkaitan dengan sepak terjang Front Pembela Islam (FPI). Kajian ini difokuskan pada pemahaman kelompok ini tentang Amar Makruf Nahi Mungkar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif (descriptive research), Penelitian deskriptif memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang gejala-gejala sosial tertentu atau aspek kehidupan tertentu pada masyarakat yang diteliti. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar adalah istilah yang diperkenalkan dari al Qur’an untuk menjelaskan kewajiban seorang muslim melakukan perbuatan baik dan sekaligus mencegah untuk melakukan perbuatan yang jahat. Front Pembela Islam (FPI) merupakan ormas Islam yang dikenal cukup luas di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh tindakan-tindakannya yang mengesankan kekerasan seperti dalam memberantas kemaksiatan atau merasia tempat-tempat hiburan. FPI didirikan sebagai respon terhadap kondisi sosial-politik Indonesia, yang tidak berpihak kepada kepentingan umat Islam. Diterapkannya syariat Islam di Indonesia, baik secara substansial maupun formalistis, merupakan visi yang ingin dicapai FPI. Dari berbagai alternatif cara untuk mewujudkan visi tersebut, maka strategi yang dipilih FPI adalah melalui penegakan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu upaya-upaya sistematis untuk mengajak umat Islam agar menjalankan perintah agamanya secara komprehensif, dan mencegah umat Islam agar tidak terjerumus pada kegiatan-kegiatan yang merusak moral dan akidah Islamnya. Tuntutan FPI untuk memberlakukan syariat Islam mendapat tantangan dari berbagai kalangan. Rizieq menga-takan bahwa penentang syariat Islam terbagi dua. Pertama, mereka yang memang fobi terhadap Islam. Dan kedua, mereka yang menolak karena ketidaktahuannya. Dalam rangka menghindari citra negatif terhadap organisasi Front Pembela Islam (FPI) sebagai gerakan atau kelompok radikal perlu memsosialisasikan faham jihad yang benar dan sesuai dengan ajaran Islam serta melakukan pembacaan terus-menerus terhadap sirah Nabi saw.ABSTRACTThis study aims at answering a series of problems related to the Islamic defenders front (FPI) actions. This paper focuses on group’s understanding of amar makruf nahi mungkar . This is a descriptive research that has goal to giving the deep picture of the particular social phenomenon or the certain aspects of life in the communities studied.  The Amar makruf nahi mungkar is a term that is introduced by al-Qur’an which means the explanation of Muslim’s obligation to conduct good deeds as well as to avoid for doing misconducts. The Islamic defenders front (FPI) is a Muslim community organization which is widely known in Indonesian society. This is due to their impressive acts of violence in combating immorality and sweeping entertainment venues. The establishment of FPI is as a response toward social and political circumstances in Indonesia, which not in line with Muslim’s interests. The implementation of syari’ah in Indonesia, either substantially or even formalistically, is the main goal FPI wants to gain. From various ways in applying the objectives, FPI tends to advocating the amar makruf nahi mungkar way, that is, systematic efforts on asking Muslim in order to obey the religious commends comprehensively, and to prevent Muslim from falling into activities damaging moral and Islamic belief. FPI demands to impose syari’ah has been challenged from many elements in society. Rizieq argues that the challengers of syari’ah may be divided into two typologies. The first is people who is phobia with Islam and secondly, those who reject due to their ignorance of syari’ah. To avoid the negative image, FPI as a radical movement should promote the notion of jihad correctly and in accordance with Islamic thoughts as well as doing the continuous reading of the prophet’s history.
BANGUNAN FILSAFAT POLITIK TENTANG CIVIL SOCIETY DALAM PEMIKIRAN THOMAS HOBBES Muhammad Saleh Tajuddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6590

Abstract

Hobbes shows human as negative aspect, where human instinc tend to conflict, and war. So, sovereignty has to give state leader absolutely in order the state become strong and every state has to coperate with other in commonwealt paradigm. Hobbes discusses the concept of civil society starting with the concept of human being as human nature, particularly the concept of self, individu, and society. Hobbes looks at that human nature is a creature that affected by irrational, anachy, jelious, and hate, so the human become rude, and bad. This situations are called as primitive civil society. Meanwhile, Hobbes depicts modern civil society as a contradiction with human nature and natural law. Hobbes explains that state is created by individu who want create a piece from human nature, so human being has to make a social contract among individu.
ISLAM DAN BUDAYA LOKAL : Adat Perkawinan Bugis Sinjai M. Dahlan
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6580

Abstract

Akulturasi adalah pencampuran antara budaya lokal dengan ajaran Islam karena adanya pengaruh yang saling mempengaruhi. Adaptasi, adalah penyesuaian budaya lokal terhadap ajaran Islam. Integrasi, adalah pembauran antara budaya lokal dengan ajaran Islam sehingga menjadi kesatuan. Adanya hubungan timbal balik antara Islam dan budaya lokal' berdasarkan kaidah bahwa, al-adah muhakkamat (adat itu dihukum-kan) atau lebih lengkapnya adat adalah syariah yang dihukumkan, demikian pula adat atau akhlak dan kebiasaan pada suatu masyarakat adalah sumber hukum dalam Islam, kecuali pada segi akidah, tidak berlaku untuk kaidah tadi, maka kedatangan Islam di suatu tempat selalu mengakibatkan adanya tajdid (pembaruan) pada masyarakat menuju ke arah yang lebih baik, tetapi pada saat yang sama Islam tidak mesti distruptif, yakni bersifat memotong suatu masyarakat dari masa lampaunya semata, melainkan juga dapat ikut melestarikan apa saja yang baik dan benar dari masa lampau itu dan bisa dipertahankan dalam ajaran universal Islam yang disebut 'urf. Asimilasi budaya lokal dalam perkawinan bugis lerhadap ajaran Islam di Sinjai, disebut sebagai asimilasi kultural spiritual karena ditemukannya perpaduan antara budaya lokal dengan budaya yang berkembang sekarang, di dalamnya mongandung nilai-nilai agama yang sakral.ABSTRACTThe acculturation is a mixture of the local wisdom with the teachings of Islam as they both influence each other. The adaptation is an adjustment of the local cultures against Islamic teachings. The integration is a blending of the local cultures with the Islamic tenets so that it becomes unity. The reciprocal relationship between Islam and the local cultures is based on a principle that al-ddah muhakkamat (custom has been stipulated) or in more completely, the custom is a syari’ah convicted as well as moral values and custom in a society is the source of laws in Islam, excluded in the creed (akidah) field in which the principle is not an effect, so that the arrival of Islam in a particular place is quite often led to tajdid (renewal) in the society toward a better condition, while at the same time, Islam does not necessarily disrupt, that is, cutting off a society from their past, but Islam is able to maintain something good and right from the past and also can be kept in the universal Islamic teachings called ‘urf. The assimilation of the local culture in Bugis wedding ceremony with the teachings of Islam in Sinjai for example, can be called as a cultural - spiritual assimilation because it has been found the fusion of the local culture with the current growing culture, containing the sacral religious values.
REKONSTRUKSI TEORI METODOLOGI PENELITIAN IKHTILAF AL-RIWAYAH Syahrir Nuhun
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6585

Abstract

Tulisan ini adalah sebuah studi tentang keragaman periwayatan hadis (ikhtilaf al-riwayah). Pokok permasalahannya adalah bagaimana merekonstruksi suatu teori penyelesaian ikhtilaf al-riwayah dalam metodologi penelitian hadis. Penelitian ini bertujuan untuk meneguhkan posisi ikhtilaf al-riwayah sebagai sub sistem dari penelitian matan hadis. Penelitian ini bersifat eksploratif dengan pendekatan ilmu hadis dan ilmu kebahasaan. Sumber data diperoleh melalui penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode takhrij al-hadis. Untuk pengolahan dan analisis data digunakan metode analisis isi melalui proses identifikasi; klasifikasi dan kategorisasi; serta interpretasi. Selain itu, data dianalisis melalui metode komparasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi ikhtilaf al-riwayah dalam kitab himpunan hadis bersifat menyeluruh; mencakup hadis-hadis yang termasuk dalam kategori mutawatir lafdzi,  hadis garib dan ‘azis, hadis yang bersifat ta’abbudi seperti lafaz do’a dan zikir serta hadis yang kandungannya berupa jawami’ al-kalim. Faktor penyebab munculnya ikhtilaf al-riwayah adalah perbedaan kasus atau peristiwa; periwayatan hadis secara makna; meringkas redaksi hadis; ketidaktelitian periwayat dan pemalsuan hadis. Adapun bentuk-bentuk ikhtilaf al-riwayah yaitu keragaman dari segi keutuhan redaksi; keragaman dari segi susunan redaksi; keragaman yang bersifat kontradiktif; keragaman dari segi bentuk matan dan keragaman dari segi unsur-unsur kebahasaan; fonologi, morfologi dan sintaksis. Keberadaan ikhtilaf al-riwayah berimplikasi terhadap kualitas hadis yaitu menyebabkan tertolaknya beberapa hadis; seperti hadis mudraj, hadis syaz, hadis maqlub, hadis mudtarib dan sebagian hadis yang di dalam matannya terdapat ziyadah. Adapun pengaruhnya terhadap pemahaman hadis adalah terjadinya perbedaan para ulama dalam penetapan status hukum, penetapan tata cara pelaksanaan ibadah dan menguatkan satu di antara berbagai pilihan ibadah. Untuk menyelesaikan ikhtilaf al-riwayah , maka penulis merekonstruksi teori penyelesaian yang terdiri dari; 1) Mengklasifikasi hadis berdasarkan periwayat tertinggi (al-rawi al-a‘la); 2) Mengklasifikasi hadis dari setiap al-rawi al-a’la berdasarkan periwayat yang menyandarkan hadis kepadanya dan common link-nya; 3) Membandingkan seluruh riwayat dari setiap al-rawi al-a’la untuk menentukan riwayat yang paling akurat bagi setiap al-rawi al-a‘la; 4) Membandingkan riwayat yang akurat dari tiap-tiap al-rawi al-a’la untuk menentukan riwayat yang paling akurat yang bisa disandarkan kepada Nabi saw.ABSTRACTThe main problem was how to reconstruct the theory of solving hadith texts variety in hadith research methodology. This research aimed at defining the position of ikhtilaf al-riwayah as a sub system of hadith text methodology. This research used explorative study by using hadith approach and linguistics. The sources of the data were gained by using library research by takhrij hadith method. The analysis of data used content analysis method through identification process, classification, categorization and interpretation. The data were also analyzed by using comparative method. The result of research showed that the existence of hadith texts variety on hadith literature was comprehensive, so it covered mutawatir hadith, garib and ‘aziz and hadith in the patent form like zikir and pray, and hadith whose content is simple but meaningful. The varieties of hadith were caused by case or event differentiation, hadith transmitting the sense rather than the exact wording, summarize hadith text, careless of hadith transmitter and falsification of hadith. The forms of hadith content varieties are varieties of all the text of hadith, varieties of structure of hadith contents, contradictive varieties, varieties in the form of contents and varieties of linguistic aspects; phonology, morphology, and syntax. The existence of hadith text varieties brings implication to quality of hadith that is to cause some hadiths to be rejected, such as infiltrated hadith, queer hadith, and complicated hadith, and hadith in which its contents have addition. The implication toward the interpretation of hadith is the differentiation among Islamic experts on declaration of law status, declaration of the rule of application of worship, and the prioritization of one alternative among others.
POLA PENGASUHAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN DALAM MENGANTISIPASI RADIKALISME : Studi Pada Pesantren Ummul Mukminin dam Pondok Madinah Rakhmawati Rakhmawati
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6581

Abstract

Pesantren pada awal berdirinya merupakan lembaga pendidikan yang telah berjasa bagi pengembangan agama, bangsa, dan negara. Namun, karena dinamika pesantren mengalami siklus naik turun seiring dengan perubahan lokal, nasional, dan global, pesantren pun kini diperhadapkan pada tuduhan-tuduhan miring disebabkan oleh perilaku-perilaku kekerasan oknum atau kelompok tertentu dalam memperjuangkan ideologinya. Pola pengasuhan Pondok Pesantren Ummul Mukminin dan Pesantren Pondok Madinah menerapkan pola pengasuhan yang bersifat demokratis dari aspek pengajaran, otoriter dari aspek pengganjaran dan persuasif dari aspek pembujukan. Gejala radikalisme di pondok pesantren Ummul Mukminin belum ditemukan, karena masih efektifnya pola pengasuhan yang diterapkan masih efektif dan berjalan dengan baik, sehingga keduanya masih steril dari segala radikalisme agama. langkah pengasuhan yang paling efektif bagi kedua pesantren dalam mengantisipasi radikalisme agama dilakukan dengan mengajari tauhid dan akhlak disertai pengawasan yang ketat kepada para santri. Di samping itu menyibukkan santri dengan berbagai macam kegiatan baik kegiatan intra maupun ekstra kurikuler.ABSTRACTIn the early establishment, pesantren is an educational institution which has played a pivotal role in the development of religion, nation, and country. However, due to up and down dynamics of pesantren and in line with local, national, and global change, pesantren is now dealing with skewed accusations because of violent acts by certain groups in struggling their ideology. The pattern of nurture of Ummul Mukminin and Pesantren Pondok Madinah is applying the democratic way in teaching, the authoritarian in punishment system, and the persuasive method in persuasion. The research findings show us that the phenomenon of radicalism in Ummul Mukminin has not been found, since the form of nurture implemented is still effective and running properly. Therefore, both Islamic boarding schools are still sterile from religious radicalism. The most effective efforts of education for both Islamic boarding schools in the anticipation of the religious radicalism are to teach monotheism (tauhid) and morality (akhlak) with tight control for students and also to provide the various activities both intra and extra curriculum.
KRITIK NALAR ARAB : Tinjauan Kritis atas Pemikiran Muhammad ‘Abid al-Jâbirî Abdullah Abdullah
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6586

Abstract

Muhammad ‘Âbid al-Jâbirî mengemukakan gagasan segar dalam rangka proyek besar bagi kebangkitan umat yaitu melalui proyek pemikirannya yang ia sebut dengan Kritik Nalar Arab. Kritik Nalar Arab dilatarbelakangi oleh semangat revivalisme (Kebangkitan Islam) dalam dua gagasan yaitu sebagai refleksi atas kegagalan kebangkitan Islam sekaligus upaya untuk merealisasikan kebangkitan Islam yang tak kunjung datang.Muhammad ‘Âbid al-Jâbirî melalui konsep Kritik Nalar Arab mengkaji pertumbuhan akal orisinal Arab yang disebutnya sebagai akal retoris (al-‘aql al-bayani). Akal ini dipresentasikan oleh ilmu bahasa Arab, ushul fikih dan ilmu kalam. Setelah itu al-Al-Jâbirî memasukkan dua akal yang lain dalam dunia pemikiran Arab yaitu akal gnostis (al-irfani) dan akal demonstratif (al-burhani). Nalar ‘irfani lebih menekankan pada kematangan sosial skill (empati, simpati,) sedangkan nalar burhani yang ditekankan adalah korespondensi ( al-muthabaqah bana al-‘aql wa nizam al-thabi’ah) yakni kesesuaian antara rumus-rumus yang diciptakan oleh akal manusia dengan hukum-hukum alam. Kalau tiga pendekatan keilmuan agama Islam, yaitu bayani, irfani, dan burhani saling terkait, terjaring dan terpatri dalam satu kesatuan yang utuh, maka corak dan model keberagaman Islam jauh lebih komprehensif. ABSTRACTMuhammad Abid al-Jabiri puts forward the fresh idea in the framework of great project for ummah’s resurrection, what he calls as Critique of Arab Reason. The Critique of Arab Reason is driven by the spirit of Islamic revivalism containing two notions, namely as a reflection of the failure of Islamic awakening as well as the efforts for implementing the Islamic revivalism. Muhammad Abid al-Jabiri through his project wants to dig out the original development of Arab reason that is basically as rhetoric reason (aql- al-Bayan). The reason is represented by the science of Arabic language, legal theory (ushul fiqh), theological discourse (ilm kalam). Furthermore, Abid al-Jabiri includes the other reasons in the Arabic thinking world, the Gnostic mind (irfani) and the demonstrative mind (burhani). The first reason is more emphasizing the maturity of social skill such as empathy or sympathy. Meanwhile the latter emphasizes correspondence (al-Muhatabaqah baina al-Aql wa nizam al-tabi’ah), that is, the congruence between the formulas that has been created by human being and the natural laws. If the three Islamic scientific approaches can be tightly interconnected, the models and patterns of Islamic religiosity are much comprehensive.            
KAJIAN KRITIS AKULTURASI ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL Hamzah Junaid
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6582

Abstract

Keuniversalan Islam berarti kehadirannya tidak hanya diperuntukkan pada satu etnis, golongan dan ras tertentu, tetapi diperuntukkan untuk semua manusia, dengan demikian, lslam memiliki daya jangkau dan daya jelajah melampaui batas ruang dan waktu tertentu. Sebagai konsekuensi dari karakteristiknya yang universal tersebut, Islam meniscayakan sebuah kemampuan akulturatif terhadap lokalitas masyarakat di mana ia diterirna. Amat sulit dibayangkan ketika lslam hadir pada suatu komunitas lokal tertentu, kemudian merombak semua tatanan nilai, kebiasaan, budaya, dan tradisi yang mereka anut. Harus ditegaskan bahwa arti akulturasi di sini tidaklah berarti Islam dan budaya lokal dipandang sebagai dua variabel yang benar-benar sejajar, tetapi harus dipandang sebagai hubungan yang dinamis, dalam arti di dalamnya sangat memungkinkan terjadi pengkoreksian. Hal itu dapat terjadi jika bentuk-bentuk kearifan lokal tersebut benar-benar bertentangan dengan nilai-nilai lslam yang paling asasi. Namun demikian, tidak dapat diasumsikan sebaliknya. dalam arti bahwa budaya atau kearifan lokal mengoreksi nilai-nilai Islam.ABSTRACTThe universality of Islam means that its presence is not only for a particular ethnic, group, and race but also for all human beings, so that Islam has a range and cruising beyond the limits of certain space and time. As a result, Islam necessitates an acculturative ability toward a series of local values of society where it has been received.  It is difficult to imagine when Islam existed in a certain local community wants to deconstruct the whole system of values, customs, cultures, and traditions that the group professes. It should be stressed that the meaning of acculturation is not necessarily intended that Islam and local culture are as two variables that are completely aligned, but it should be regarded as dynamic relationship, in the sense the correction possibly occurs within the correlation. It can be taken place if the forms of local wisdom are really contradictive with the essential Islamic values. However, it cannot be assumed vice versa, in the sense that the local wisdom corrects the Islamic values.
AKTIVISME DAN PERILAKU POLITIK ISLAM : Teori, Pemikiran dan Gerakan Syahrir Karim; Samsu Adabi Mamat
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6587

Abstract

Secara umum bahwa pola dasar yang dihadapi politik Islam dalam hubungannya dengan negara adalah adanya kesulitan untuk membangun sintesis yang memungkinkan di antara keduanya. Faktor utama yang menyebabkan kemandegan politik ini adalah keinginan para pemikir dan aktivis politik Islam untuk membangun hubungan Islam dan Negara secara legalistik dan formalistik. Proses politik dan aktivisme Islam dari beberapa gerakan yang ada khususnya pasca reformasi telah memberikan warna tersendiri terhadap perpolitikan di Indonesia.ABSTRACTIslam at most cases is frequently considered more than a religion per se. This is reinforced by the emergence of different schools of jurisprudence, theology, and Islamic philosophy, which indicates the multi-interpretative Islamic teachings. This multi-interpretative character of Islam has served as the basis of Islamic elasticity within its long history. Furthermore, this character also indicates the presence of pluralism in Islamic tradition. This has always been a challenge as well as surging classic debate in Islamic activism and in developing future democratization. Islam as Muslims believe has shaped Islamic movements in their national and democratic life. The core of such a view lies deep inside human consciousness that religion should actually work within the very human life instead of being formally acknowledged to rule the life of human beings as certain nation citizens.
GERAKAN DAKWAH MUHAMMADIYAH DI SULAWESI SELATAN Muh. Alwi
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6583

Abstract

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi besar yang ada di Indonesia telah mengembangkan model pemikiran dalam dua dimensi, yaitu ijtihad dan tajdid, serta kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan telah menjalankan misinya dalam bidang sosial, pendidikan, dakwah dan pelayanan kemanusiaan selama satu abad. Penelitian ini betujuan untuk menggambarkan dan mendeskripsikan dinamika perkembangan tajdid gerakan dakwah Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. Tajdid gerakan dakwah Muhammadiyah di Sulawesi Selatan mengalami perkembangan yang sangat dinamis karena adanya kekuatan infrastruktur dakwah Muhammadiyah yang terdiri atas struktur kepemimpinan horizontal, yakni majelis dan lembaga, serta struktur kepemimpinan vertikal yakni Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting di setiap daerah. Demikian pula Amal Usaha Muhammadiyah dan Organisasi Otonom Muhammadiyah yang senantiasa menjalankan kegiatan tajdid melalui gerakan dakwah. Selain itu, agenda tajdid Muhammadiyah di Sulawesi Selatan sangat komprehensif dan progressif karena merepresentasikan tajdid dalam berbagai dimensi, dan realisasi program tajdid melalui gerakan dakwah yang dilaksanakan. Muhammadiyah di Sulawesi Selatan mampu menjawab kebutuhan dan persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari segi implementasinya pada beberapa rangkaian aktivitas, terutama yang berkaitan dengan peneguhan ideologi tajdid, aktivitas yang berorientasi pada tajdid sosial kemasyarakatan.ABSTRACTMuhammadiyah as one of the largest organizations existed in Indonesia has developed two dimensions of thought models, ijtihad and tajdid as well as the return to al-Qur’an. Muhammadiyah as a reform movement has been carrying out its missions in terms of social field, education, dakwah and the human services for a century. This research aims at depicting and describing the dynamic growth of Muhammadiyah’s dakwah movement of tajdid in South Sulawesi. The movement has experienced the significant and dynamical progress since there has been infrastructure power of Muhammadiyah dakwah encompassing horizontal leadership structure, namely assembly and institution, as well as vertical leadership fabric, videlicet Regional Chairman, Regional Executive, Branch Manager, and Branch Head in each regions. Likewise charitable efforts of Muhammadiyah and Muhammadiyah Autonomy Organisation are always performing tajdid activities through dakwah movement. Besides that, Muhammadiyah’s tajdid agenda in South Sulawesi is more comprehensive and progressive due to representing the tajdid in various dimensions and the realization of the tajdid program by means of the dakwah movement conducted. Muhammadiyah in South Sulawesi is able to meet basic needs and problems figured out by society. It might be seen from the implementation of continuous activities, particularly related to the affirmation of tajdid ideology, and of the efforts oriented to the societal tajdid. 
RELIGIOUS FUNDAMENTALISM AND VIOLENCE: IS THERE ANY DIRECT CORRELATION BETWEEN FUNDAMENTALISM AND VIOLENCE? Mujahiduddin Mujahiduddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6589

Abstract

Tuilsan ini membahas tentang hubungan antara fundamentalisme agama dan kekerasan. Pertanyaan yang ingin diangkat ialah apakah ada hubungan langsung antara fundamentalisme agama dengan kekerasan?. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka tulisan ini akan mengemukakan tiga aspek, yaitu, pertama; mendefinisikan istilah fundamentalism dan menjelaskan kerakteristiknya. Kedua, menjelaskan makna dan kategori kekerasan yang digunakan sebagai kerangka teoritis dalam menganalisa hubungan antara fundamentalisme agama dan kekerasan. Ketiga adalah menganalisa hubungan tersebut dan mencoba melihatnya dari perpektif gerakan radikal Islam. Tulisan ini mengasumsikan bahwa kehadiran gerakan fundamentalisme agama tidak selalu punya kaitan dengan kekerasan. Penggunaan kekerasan oleh gerakan fundamentalis sangat tergantung dengan fakto eksternal seperti respon Negara.ABSTRACTThis essay examines the correlation between religious fundamentalism and violent acts. The prominent question addressed in this paper is about is there any direct correlation between fundamentalism and violence?. To answer this inquiry, this writing is going to elaborate three points. First, it defines the term fundamentalism and describes its shared characteristic features. Secondly, it will describe the meaning and categories of violence used in analyzing correlation between religious fundamentalism movements and the utilization of violent actions such as bombing attacks, assassination, kidnapping etc. Thirdly, this article also tries to analyze the links between fundamentalism and violence and how these links are understood in the study of ‘fundamentalist Islam’ and ‘violent political Islam’. This essay argues that the presence of religious fundamentalism such as radical Islamic group does not always connote to violent.  Whether or not a religious fundamentalism group will be advocating violent means in its movement is more likely depending on some intermediary factors such as state’s response.

Page 1 of 2 | Total Record : 11