cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011" : 20 Documents clear
Produksi Benih Sumber (G0) Beberapa Varietas Kentang dari Umbi Mikro Hidayat, Iteu Margaret
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan kawasan dan industri benih kentang yang terus meningkat dan tersebar di seluruh wilayah kepulauan di Indonesia harus didukung oleh sistem distribusi dan produksi benih yang efisien. Penggunaan umbi mikro merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan distribusi dan produksi benih sumber. Penelitian tentang penggunaan umbi mikro dalam produksi benih sumber (Go) kentang telah dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kasa bebas serangga Balai Penelitian Tanaman Sayuran dari bulan Juni 2010 sampai dengan April 2011. Tujuan penelitian ialah untuk mendapatkan informasi nisbah perbanyakan umbi mikro varietas Amudra, Atlantik M, Cipanas, Granola L, Manohara, Merbabu, dan Ping dalam menghasilkan umbi yang memenuhi kriteria sebagai benih sumber. Umbi mikro yang diperoleh dari kultur in vitro planlet bebas patogen tujuh varietas kentang, yaitu Amudra, Atlantik M, Cipanas, Granola L, Manohara, Merbabu, dan Ping yang telah melampaui masa dormansi ditanam pada media yang terdiri atas campuran pupuk kandang dan arang sekam (1:1. v/v) yang telah disterilkan dengan pengukusan selama 4 jam. Jarak tanam 10 x 10 cm dengan jeluk penanaman 1 cm. Setiap ulangan terdiri atas 20 umbi. Penanaman umbi mikro mengikuti rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Pemupukan dilakukan dengan memberikan NPK 16:16:16 dosis 5g/l, 3 l pupuk/bak beroda diberikan pada interval 1 minggu sampai tanaman mencapai 10 minggu setelah tanam (MST). Penambahan media tanam dilakukan pada 4 dan 8 MST, dan panen dilakukan pada 12 MST. Hasil panen menunjukkan bobot umbi/tan, jumlah umbi/tan, proporsi umbi dengan diameter 0,7-1, 1,1-2, dan 2,1-3 cm berbeda sangat nyata di antara varietas yang diuji. Umbi mikro var. Amudra dan Merbabu menunjukkan bobot umbi/tanaman tertinggi masing masing 35 dan 34 g/tanaman, dengan proporsi umbi diameter 0,7-1, 1,1-2, dan 2,1-3 cm masing-masing 34,80, 50,52, 15,55%, dan 50,15, 33,93, dan 18,12%. Varietas yang menghasilkan jumlah umbi/ tanaman >10 ialah Granola L, Manohara, Merbabu, dan Ping. The increasing and developing of potato production area as well as potato seed industry which is spread through out the country must be supported by an efficient seed production and distribution system. The use of microtuber is one alternative to overcome seed production and distribution problems in Indonesia. Study on the use of microtuber in potato basic seed (Go) production was conducted in the Tissue Culture Laboratory and aphid proof Screenhouse, the Indonesian Vegetable Research Institute from June 2010 to April 2011. The study aimed to obtain information on multiplication rate of microtubers var. Amudra, Atlantik M, Cipanas, Granola L, Manohara, Merbabu, and Ping to produce tuber that meets basic seed criteria. Microtubers derived from in vitro culture of virus free plantlet of seven potato varieties viz Amudra, Atlantik M, Cipanas, Granola L, Manohara, Merbabu, and Ping with which their dormancy had broken were planted in the media composed of stable manure and burnt rice husk (1:1 v/v) sterilized by steaming for 4 hours. Planting distance was 10 x 10 cm, 1 cm depth. Each replication consisted of 20 tuber seed. Completely randomized design with three replications was used in the study.  NPK 16:16:16 at 5g/l, 3 l/roller bench was applied at 1 week interval up to weeks after planting (WAP). Medium was added for hilling up at 4 and 8 WAP, and tuber was harvested at 12 WAP. The results indicated that tuber weight/plant, tuber number/plant, tuber proportion with diameter 0.7-1, 1.1-2, and 2.1-3 cm were highly significant different among tested varieties. Plants derived from microtubers var. Amudra and Merbabu performed the highest tuber weight/plant at each 35 and 34 g/plant, with tuber diameter proportion 0.7-1, 1.1-2, and 2.1-3 cm were 34.80, 50.52, 15.55%, and 50.15, 33.93, and 18.12% respectively. Varieties that gave number of tuber/plant >10 were Granola L, Manohara, Merbabu, and Ping.
Pengaruh Varietas dan Ukuran Umbi terhadap Produktivitas Bawang Merah Azmi, C; Hidayat, Iteu Margaret; Wiguna, Gugun
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan areal pertanaman bawang merah mendorong peningkatan pemanfaatan varietas unggul dan ketersediaan umbi berkualitas sebagai sumber benih. Studi varietas dan ukuran umbi bawang merah terhadap produktivitas hasil telah dilakukan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari bulan Agustus sampai November 2009. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh varietas dan ukuran umbi terhadap produktivitas bawang merah. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok pola factorial dengan enam ulangan. Tiga varietas yaitu: Bima, Maja, dan Sumenep dan ukuran umbi, yaitu: kecil (1,04 - 1,29 cm), sedang (1,47-1,67 cm), dan besar (1,93-2,05 cm) diuji dalam penelitian ini. Parameter yang diamati ialah jumlah umbi, diameter umbi, bobot basah, dan bobot kering umbi per rumpun dan per umbi serta per plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas bawang merah menggunakan umbi ukuran sedang tidak berbeda nyata dengan umbi ukuran besar. Penggunaan umbi ukuran sedang dalam sistem produksi bawang merah dapat mengurangi biaya produksi sebesar 33-40% tanpa mengurangi tingkat produktivitasnya. Increasing of shallots cultivation area stimulates improving utility of superior varieties and availability of qualified-bulb as seed source. Study on the effect of variety and bulb size on the shallots productivity was conducted at Margahayu Experimental Garden of Indonesian Vegetable Research Institute from August till November 2009. The objective of this study was to determine the effect of variety and bulb size on the shallots productivity. Factorial experiment was arranged in a randomized complete block design with six replications. Three varieties i.e. Allium ascalonicum Bima, Maja, and Sumenep and bulb sizes of small (1.04-1.29 cm), medium (1.47-1.67 cm), and large (1.93-2.05 cm). Parameters observed in the experiment were number of bulb, bulb diameter, fresh and dry bulb weight per bulb, plant, and plot. The research results indicated that shallots productivity derived from medium bulbs was not significantly different compared to the large size of bulbs. Medium bulb size was appropriate applied in shallots cultivation due to reduce the production cost down to 33-40%.
Daya Tumbuh Tanaman Jeruk Kalamondin Hasil Perbanyakan Via Somatik Embriogenesis In Vitro pada Batang Bawah JC Devy, Nirmala Frianti; Sugiyanto, Arri; Yulianti, Farida
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbanyakan tanaman buah dengan metode sambung pada produk in vitro telah banyak dilakukan. Pada tanaman jeruk, batang bawah merupakan hal penting karena sistem perakaran yang lebih baik dan ketahanan terhadap penyakit akar dibandingkan batang atas komersial.  Penelitian penyambungan in vitro dan ex vitro jeruk Kalamondin hasil perbanyakan somatik embriogenesis (SE) pada batang bawah JC dilakukan di Laboratorium Somatik Embriogensis dan Rumah Pembibitan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), pada Januari – Desember 2010. Penyambungan dilakukan pada dua kondisi, yaitu (1) kondisi in vitro, yaitu embrio dan planlet Kalamondin disambungkan pada planlet JC dan (2) ex vitro atau kondisi lapangan, yaitu batang atas jenis embrio dan planlet disambungkan pada batang bawah JC dengan perlakuan tiga macam, yaitu planlet JC hasil perbanyakan  SE berumur 4 dan 8 bulan setelah aklimatisasi, serta semaian biji umur 8 bulan.  Masing-masing kegiatan disusun secara rancangan acak kelompok dan rancangan acak lengkap faktorial dengan tiga ulangan dengan unit percobaan masing-masing empat tanaman.  Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa daya tumbuh tanaman jeruk hasil sambungan antara Kalamondin (Citrus mitis Blanco) hasil perbanyakan SE pada batang bawah JC secara ex vitro lebih baik dibanding in vitro. Pada kegiatan in vitro,  sampai dengan umur 10 bulan setelah penyambungan, persentase sambungan yang tidak jadi (mati) dipengaruhi oleh jenis batang atas yang digunakan, di mana penggunaan planlet sebagai batang atas menyebabkan persentase kematian lebih tinggi dibandingkan penggunaan embrio.  Pada penyambungan ex vitro, tidak ada interaksi antara perlakuan batang bawah dengan batang atas pada semua parameter pengamatan, dengan tinggi tanaman hasil sambung pada umur 10 bulan rerata mencapai 53,7 cm. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa hasil perbanyakan jeruk melalui SE, baik berupa embrio kotiledonari maupun planlet dapat difungsikan sebagai batang atas dan tumbuh dengan memuaskan bila disambungkan dengan batang bawah jeruk secara ex vitro.The fruit plant propagation by grafting method of product in vitro has been documented already.  The using of a rootstock is a very important thing in citrus propagation industry.  Besides of its better root system, it has an important role on preventing root diseases attack where scion part relatively more susceptible.  The research of the Calamondin derived from somatic embryogenesis (SE) propagation that grafted in vitro and ex vitro on JC rootstock grafting was conducted in Somatic Embryogenesis Laboratory and Nursery House of Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute (ICISFRI) from January to December 2010.  This research using both embryos and plantlets of citrus cv. Calamondin derived from SE propagation in vitro as stocks and JC as rootstock, respectively. The grafting was done on the two conditions, (1) in vitro i.e. the stock was grafted on the JC plantlet and (2) field condition i.e. the stock plant was grafted on to three treatments rootstock ( 4 and 8 months acclimated SE plant and 8 months age-seedling of JC).  The activities were arranged as randomized block design and factorial rondomized complete design respectively, with three replications with four plants for each experimental unit.  The results showed that the growth of citrus cv. Calamondin (Citrus mitis Blanco) derived from SE propagation on JC rootstock at ex vitro activity better than in vitro activity.  At in vitro activity, up to 10 months after grafting, percentage of death grafting influenced by type of stock, where the used of plantlets as stock causing more death grafting than embryo.  At another activity, there was no interaction between treatment effect with the combination rootstock and stock treatment for all parameters, with plants height average reached 53.7 cm. From this research, we could make a conclusion that the product of propagation via somatic embryogenesis technique, both cotyledonary embryos and plantlets, could be used as a stock that would growth satisfactory if they grafted on the citrus rootstock ex vitro.
arakter Morfologis dan Genetik Jamur Tiram (Pleurotus spp.) Achmad, -; Herliyana, E N; Siregar, I Z; Permana, O
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan tropis Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati di dunia, yang salah satu di antaranya ialah jamur tiram (Pleurotus spp.). Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik morfologi dan genetik delapan isolat Pleurotus spp.. Penelitian dilakukan pada bulan September 2005 sampai April 2006 di Laboratorium Patologi Hutan dan Lab. Silvikultur, serta Lab. Bioteknologi Kehutanan dan Mikrobiologi Molekuler, Pusat Studi Hayati, Institut Pertanian Bogor. Tubuh buah delapan isolat jamur digunakan sebagai bahan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh buah delapan isolat jamur memiliki warna putih, coklat, atau merah jambu, dengan atau tanpa tangkai, bentuk tudung berupa lingkaran penuh atau setengah lingkaran. Amplifikasi dengan primer RAPD OPO11 menghasilkan 12 pita, satu pita bersifat monomorfik dan 11 pita lainnya bersifat polimorfik yang menunjukkan keragaman pada delapan isolat jamur tiram yang dipelajari. Pengelompokan berdasarkan pola pita amplifikasi primer RAPD tersebut menghasilkan tiga kelompok isolat. Kelompok I terdiri atas isolat Pleurotus sp.17, Pleurotus sp.16, Pleurotus sp.21, Pleurotus sp.27, dan Pleurotus sp.9, kelompok II terdiri atas isolat Pleurotus sp.4 dan Pleurotus sp.5, serta kelompok III yang hanya berisi satu isolat yaitu Pleurotus sp.24. Pengelompokan berdasarkan marka RAPD tersebut sejalan dengan karakteristik morfologinya. Informasi mengenai karakter morfologis dan genetik jamur tiram diharapkan akan bermanfaat untuk pengembangannya sebagai komoditas jamur komersial.Indonesian rainforest is one of the world’s centers of biodiversity, which one of them is the oyster mushroom (Pleurotus spp.). This research was aimed to determine the morphological and genetic characteristics of eight isolates of Pleurotus spp.. The research was conducted from September 2005 to April 2006 at  Forestry Pathology Laboratirum and Silvyculture Lab., and Forestry Biotechnology Lab. and Molecular Microbiology, Center of Biology Study, Agricultural Bogor Institute. The mushroom fruit body of the eight isolates was used as the material for observation of morphological and genetic characters. The results showed that the fruit body of eight isolates exhibited white, brown, or pink in color, with or without stalk, and full or half circle of cap shape. Amplification with RAPD primers OPO11 produced 12 bands, which one band was monomorphic while the others were polymorphic that showed the variability of the eight oyster mushroom isolates. Clustering based on banding patterns of amplification primers resulted in three groups. Group I consisted of Pleurotus sp.17, Pleurotus sp.16, Pleurotus sp.21, Pleurotus sp.27, and Pleurotus sp.9 isolates. Group II included Pleurotus sp.4 and Pleurotus sp.5 isolates, while the third group contained only one isolate i.e. Pleurotus sp.24. The molecular grouping was in line with the morphological characters. Information of morphological and genetic characteristics will hopefully give benefit for the development of the oyster mushroom as one of the commercial commodities.
Fenologi Rhododendron spp. (Subgenus Vireya) Koleksi Kebun Raya Eka Karya Bali Putri, Dyan Meiningsasi
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hingga saat ini belum banyak data hasil penelitian tentang fenologi Rhododendron spp. Penelitian fenologi Rhododendron spp. sangat dibutuhkan untuk upaya pengembangan pemanfaatan koleksi. Studi fenologi Rhododendron spp. (Subgenus Vireya) telah dilakukan di pembibitan Kebun Raya Eka Karya Bali dari bulan Januari 2008 sampai dengan Desember 2010. Penelitian bertujuan untuk mengetahui fenologi Rhododendron spp. (Subgenus Vireya). Metode yang digunakan ialah model kelas/grading. Dari hasil pengamatan masa berbunga dan berbuah 14 jenis Rhododendron spp. yang dipelajari diketahui bahwa Rhododendron dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: (1). Rhododendron yang berbunga pada bulan–bulan tertentu saja, (2)  Rhododendron yang berbunga sepanjang tahun, dan (3). Rhododendron yang belum atau tidak berbunga. Faktor lingkungan seperti suhu dan kelembaban udara juga mempengaruhi jumlah jenis Rhododendron  yang dapat berbunga dan berbuah. Bulan Mei merupakan bulan di mana paling banyak jenis Rhododendron yang berbunga, sedangkan untuk masa buah siap panen bervariasi tiap tahunnya. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan jumlah koleksi Rhododendron spp. koleksi Kebun Raya Eka Karya Bali, dasar untuk penelitian kawin silang (breeding), dan pengoleksian biji (seed bank).Until now there are a lot of data resulted from phenology researches on of Rhododendron spp. Phenology research of Rhododendron spp. is needed to develop utility of their collection. The phenology study of Rhododendron spp. (subgenus vireya) was conducted at Bali Botanical Garden from January 2008 to Desember 2010. This study aimed to determine the phenology of Rhododendron spp. (subgenus vireya). The method used was the classroom/grading model. From the observation it was known period of flowering and fruiting 14 species of Rhododendron and grouped into three categories, namely: (1) Rhododendron which blooming in certain month only, (2) Rhododendron which blooming throughout the year, and (3) Rhododendron which not or not yet flowering. Environmental factors such as temperature and humidity also affected the amount of Rhododendron species that can flower and bear fruit. May was the appropriate month for flowering of the Rhododendron where most species flowered, while for the fruit ready for harvest varied each year. The results of this study could be used to increase the number of Rhododendron spp. collections in Bali Botanical Gardens, the basis for intercross research (breeding), and collecting of seeds (seed banks).
Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu untuk Mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan Utama pada Budidaya Paprika Prabaningrum, Laksminiwati; Moekasan, Tonny Koestani
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organisme penganggu yang paling merugikan dalam budidaya paprika ialah hama trips dan penyakit embun tepung. Upaya pengendalian hama tersebut oleh petani bertumpu pada penggunaan pestisida, tetapi sampai saat ini hasilnya kurang memuaskan. Oleh karena itu perlu dicari alternatif untuk mengatasi masalah tersebut dan salah satu di antaranya ialah dengan menerapkan teknologi pengendalian hama terpadu (PHT). Penelitian mengenai penerapan teknologi PHT pada budidaya paprika dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat (± 1.250 m dpl) dari bulan Januari sampai dengan Desember 2007. Tujuan penelitian ialah mengetahui kelayakan  komponen teknologi PHT untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada budidaya paprika. Pada penelitian ini digunakan metode petak berpasangan untuk membandingkan teknologi PHT dan teknologi konvensional. Komponen teknologi PHT yang dirakit terdiri atas pelepasan predator Menochilus sexmaculatus (1 ekor/ tanaman, 1 kali/ minggu), penyemprotan Verticilium lecanii (3 x 108 spora/ml, 1 kali /minggu), dan penggunaan pestisida selektif berdasarkan ambang pengendalian. Teknologi konvensional ialah teknologi budidaya yang umum digunakan oleh petani paprika di Kabupaten Bandung Barat berdasarkan hasil wawancara dengan 20 orang petani. Tiap perlakuan terdiri atas 200 tanaman paprika yang dibudidayakan secara hidroponik di dalam rumah kasa dan tiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi PHT dapat mengurangi penggunaan pestisida sebesar 84,60%. Kandungan residu pestisida pada buah paprika dapat ditekan hingga di bawah batas maksimum residu (BMR) yang telah ditetapkan, sedang pada perlakuan konvensional residu insektisida Imidakloprid dan fungisida Fenarimol melampaui nilai BMR. Rakitan teknologi PHT ini layak direkomendasikan kepada petani.Main pests of sweet peppers are thrips and powdery mildew that can reduce the yield. Farmers generally use pesticide for controlling the pests but the result was not satisfy. Therefore it is important to determine alternative methods, and one of them is implementing integrated pests management (IPM). Study of IPM implementation to control main pests on sweet peppers cultivation was conducted in Indonesian Vegetables Research Institute at Lembang (1,250 m asl), West Bandung District, West Java from January until December 2007. The aim of the experiment was to study IPM technology feasibilities to control main pests on sweet peppers. The experimental design used the study was a paired-comparison method to compare IPM technology and conventional technology. The IPM technology tested consisted of the releasing of predator Menochilus sexmaculatus (1 adult/ plant, once a week), spraying of Verticilium lecanii (3 x 108  spores/ ml, once a week), the use of control threshold and selective pesticides. Conventional technology tested was the technology used by farmers in West Bandung District according to the interview with 20 farmers. Each treatment consisted of 200 sweet peppers plants cultivated in hydroponics system in a screenhouse, and each treatment was repeated four times. The results of the study showed that implementation of IPM technology  reduced the use of pesticides (84.60%), and reduced the pesticides residue content in the sweet pepper fruit under the maximum residue level (MRL) in the other hand, in the conventional treatment, the residue of Imidacloprid and Fenarimol was above MRL. The yield in both treatments was equal. Integrated Pests Management technology can be recommended to the farmers.
Inventarisasi dan Identifikasi Patogen Tular-tanah pada Pertanaman Kentang di Kabupaten Purbalingga Soesanto, Lukassus; Mugiastuti, E; Rahayuniati, R F
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

atogen tular-tanah di lahan kentang merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap pertumbuhan, produksi, dan kualitas hasil tanaman. Inventarisasi dan identifikasi patogen tular-tanah di lahan kentang dengan metode purposive sampling telah dilakukan di Kabupaten Purbalingga, yang meliputi Dusun Gunung Malang di Desa Serang dan Dusun Bambangan dan Kutabawa di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja dari bulan November 2008 sampai Januari 2009. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis dan virulensi patogen tular-tanah di lahan kentang di lokasi tersebut. Isolasi dan uji virulensi dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Peubah yang diamati yaitu karakter morfologi mikrobe patogen, kepadatan di dalam tanah, dan reaksi hipersensitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh spesies patogen ditemukan di lahan kentang, yaitu Fusarium oxysporum, F. solani, Ralstonia solanacearum, Curvularia sp., Phytophthora infestans, Helminthosporium purpureum, dan Pseudomonas kelompok berpendar. Populasi mikrobe di lahan kentang yang paling dominan ialah R. solanacearum, yaitu 71,6%, disusul oleh F. oxysporum sebesar 16,87%. Sebaran mikrobe di masing-masing lahan kentang berbeda. Semua lahan kentang di Kabupaten Purbalingga sudah terkontaminasi patogen tular-tanah penting sehingga perlu disehatkan kembali secara hayati.Soilborne plant pathogens in potato land are one of important factors influencing plant growth, production and yield quality. Inventarization and identification of soilborne diseases using purposive sampling method  were conducted at potato land in Purbalingga Regency consisted of Guning Malang location at Serang Village and Bambangan and Kutabawa locations at Kutabawa Village, Karangreja District from November 2008 to January 2009.  The study aimed to determine type and virulence of soilborne pathogens at the locations.  Isolation and virulence test were carried out at the Laboratory of Microbiology, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. Variable observed in the research was morphological characteristics of pathogenic microbes, their density in soils, and response of hypersensitive test. Result of the research showed that seven pathogenic species were found at the land, i.e., Fusarium oxysporum, F. solani, Ralstonia solanacearum, Curvularia sp., Phytophthora infestans, Helminthosporium purpureum, and fluorescent Pseudomonad. The dominant microbe population in potato land was R. solanacearum with 71.6% followed by F. oxysporum with 16.87%. The microbes were spread differently in every potato land. All potato lands in Purbalingga Regency have been contaminated by the important potato pathogens so that soil bioremediation is needed.
Uji Efektivitas Bioinsektisida Berbahan Aktif Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin terhadap Kutudaun Macrosiphoniela sanborni pada Krisan Yusuf, Evi Silfia; Sihombing, Donald; Handayati, Wahyu; Nuryani, Waqiah; Saepuloh, -
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kutudaun Macrosiphoniela sanborni merupakan salah satu hama penting yang menimbulkan kerugian yang cukup serius pada budidaya krisan. Untuk mengendalikannya petani biasa menggunakan pestisida kimia sintetis. Selain itu pengendalian hayati berpotensi dapat menekan hama. Beauveria bassiana merupakan agens pengendali hayati  yang memiliki potensi besar untuk mengendalikan beberapa hama penting tanaman hias. Biorama 1, 2, dan 3 merupakan bioinsektisida berbahan aktif  B. bassiana dengan kepadatan1010 konidia per g bahan pembawa dengan bahan pembawa yang berbeda (tepung jagung, sekam, dan talk) yang dibuat di Laboratorium Biokontrol, Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi). Bioinsektisida tersebut terbukti efektif mengendalikan trips pada tanaman krisan. Penelitian bertujuan mengetahui efektivitas bioinsektisida Biorama 1, 2, dan 3 dalam mengendalikan kutudaun krisan. Penelitian dilaksanakan di Rumah Plastik Balithi Segunung sejak bulan Juli hingga November 2008. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah Dendranthema grandiflora kultivar Sakuntala. Perlakuan yang diuji yaitu Biorama 1 (1010 konidia/g tepung jagung), Biorama 2 (1010 konidia/g arang sekam), dan  Biorama 3 (1010 konidia/g talk) masing-masing dengan konsentrasi aplikasi 5 g/l, suspensi B. bassiana dengan kepadatan 1010 konidia/ml, Natural BVR adalah bioinsektisida komersial berbahan aktif B. bassiana (1010 konidia/g bahan pembawa) dengan konsentrasi aplikasi 5 g/l sebagai kontrol positif dan air sebagai kontrol negatif. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok terdiri atas enam perlakuan dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioinsektisida Biorama 1, 2, dan 3  efektif mengendalikan kutudaun M. sanborni dan efektivitasnya tidak berbeda nyata dibandingkan dengan Natural BVR dan suspensi  Beauveria. Perlakuan tersebut mampu menekan serangan M. sanborni, masing-masing dengan 68,58,  60,59, dan  54,37 % secara berurutan. Bioinsektisida memberikan pengaruh nyata terhadap mortalitas kutudaun. Biorama 1 dan 2 menunjukkan keefektifan yang paling tinggi  (22,30 dan 24,20%) dalam menekan kerusakan bunga  dibandingkan dengan perlakuan lain dan kontrol. Implikasi dari penelitian ini ialah Biorama memiliki potensi yang besar diaplikasikan sebagai pestisida hayati ramah lingkungan pada budidaya krisan.Macrosiphoniela sanborni is one of the important pests causing serious losses on Chrysanthemum. Beauveria bassiana is a biological control agents, which has great potential to control several important pests on ornamental plants. Biorama 1, 2, and 3 are bioinsecticides containing B. bassiana as an active ingredient and made in Biological Control Laboratory of Indonesian Ornamental Crops Research Institute (IOCRI). The bioinsecticides were successfully tested and gave significant effect on controlling Chrysanthemum thrips. The study was aimed to determine the effectiveness of Biorama 1, 2, and 3 on controlling Chrysanthemum aphids. The experiment was conducted at the Plastichouse of  IOCRI from July to November 2008. Plant material used in this study was Dendranthema grandiflora cv. Sakuntala. The treatments tested were Biorama 1 (1010 conidia/g corn powder), Biorama 2 (1010 conidia/g activated-carchoal), and  Biorama 3 (1010 conidia/g talk) respectively with a concentration of 5 g/l, B. bassiana suspension with a density of 1010 conidia/ml, Natural BVR is a bioinsecticide with active ingredient B. bassiana, which has been commercialized as positive control in concentration 5 g/l and water as negative control. The experiment was arranged by a randomized complete block design consisted of  six treatments and five replications. The results showed that Biorama 1, 2, and 3 were effective to control  M. sanborni and the results did not give significant difference compared to  Natural BVR and Beauveria suspension. They reduced Chrysanthemum aphids up to 68.58, 60.59, and 54,37% respectively. Bioinsecticide provide real impact on the mortality of aphids. The Biorama 1 and 2 indicated the highest effectiveness (22.3 and 24.2% respectively) on lowering to flower damage compared to other treatments and control. This results indicated that Biorama have high potential applied as an environmental friendly biopesticide on Chrysanthemum cultivation.
Pengawet untuk Menjaga Kualitas Bunga Potong Mawar Selama Penyimpanan Amiarsi, Dwi; Tejasarwana, Rahayu
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bunga mawar yang dikenal saat ini merupakan hibrida yang berasal dari hasil pemuliaan tanaman selama puluhan tahun. Bunga mawar yang beredar di floris dewasa ini mempunyai variasi bentuk dan warna bunga yang menakjubkan seolah-olah tidak ada habis-habisnya kebaruannya. Varietas mawar Pergiwati dan Pergiwa merupakan salah satu produk nasional yang mempunyai warna menawan, namun sebagai bunga potong daya tahan kesegarannya masih terbatas dan perlu upaya untuk meningkatkan kesegarannya, khususnya dengan penggunaan pengawet. Keuntungan dari larutan pengawet ialah dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang kesegaran bunga potong. Penelitian dilakukan pada bulan September 2006 sampai dengan Januari 2007 di Laboratorium Fisiologi Hasil Balai Penelitian Tanaman Hias Pasarminggu. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan pengawet yang tepat dalam upaya mempertahankan masa kesegaran bunga mawar potong varietas baru yaitu Pergiwati dan Pergiwa. Penelitian menggunakan dua jenis larutan pengawet, yaitu 2,5% sukrose dengan dan tanpa 100 ppm asam benzoat. Suhu penyimpanan yaitu suhu ruang (27-31oC), 20-23oC, dan 5-10oC. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan larutan 2,5% sucrose + 100 ppm asam benzoat pada bunga mawar Pergiwati mempunyai masa kesegaran bunga 28 hari bila disimpan pada suhu 5-10oC dengan persentase bunga mekar mencapai 100%. Implementasi hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk mengatur suplai bunga potong ke pasar.Rose flower that known this time are origin hybrids of more than 10 years of breeding process. Rose flower available on this time has attractive fine form and color as well as never ending its novelty. Rose varieties such us Pergiwati and Pergiwa generally showed short freshness as a cut flower, therefore to prolong the vaselife, a special treatment should be addressed and application of preservative has potential for this purpose. The advantages of applying preservatives are not only can keep the freshness, but also can maintain flower quality. The research was conducted at Laboratory of Physiological Product of Indonesian Ornamental Crop Research Institute from September 2006 to January 2007. The research objective was to find out the proper preservative combinations to lengthen the freshness of rose cut flower of new varieties i.e. Pergiwati and Pergiwa. Two types of preservative used in the study were 2,5% sucrose with or without 100 ppm benzoic acid. Temperature ranges of flower storage tested in the experiment were 27-31oC, 20-23oC, and 5-10oC. The factorial experiment was arranged in a completely randomized design with five replications. The results showed that using the preservative solution containing 2.5% sucrose + 100 ppm benzoic acid for Pergiwati rose cut flower could prolong the flower freshness up to 28 days at 5-10oC storage with 100% opened-buds. The result implied that the supply of rose cut flower can be regulated through application of the preservative composition.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Perilaku dan Keputusan Konsumen untuk Membeli Kentang, Bawang Merah, dan Cabai Merah Adiyoga, Witono
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini diarahkan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perilaku dan keputusan konsumen dalam membeli kentang, bawang merah, dan cabai merah. Penelitian survai dilaksanakan di tiga kota besar konsumen utama sayuran, yaitu Jakarta (DKI Jaya), Bandung (Jawa Barat), dan Padang (Sumatera Barat) pada bulan April sampai dengan Juni 2007. Responden konsumen ialah 462 pengambil keputusan pembelian sayuran yang dipilih secara acak. Alat analisis yang digunakan ialah statistika deskriptif, analisis faktor, dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara berturut-turut 93,1 dan 80,7% responden menggunakan bawang merah dan cabai merah hampir setiap hari, sedangkan untuk komoditas kentang, 67,1% responden menyatakan mengonsumsinya 1-2 kali seminggu. Pasar tradisional merupakan pilihan terpopuler tempat pembelian sayuran, kemudian diikuti oleh supermarket, pedagang keliling, dan toko/warung. Komoditas yang menurut responden tren konsumsinya dapat meningkat antara 25-75% dalam 5 tahun ke depan secara berturut-turut ialah: kentang, bawang merah, dan cabai merah. Kentang dikategorikan ke dalam kelompok question marks karena secara relatif memiliki tren pertumbuhan tinggi dan penetrasi pasar rendah. Komoditas ini membutuhkan dukungan kapital tinggi (net cash absorber) untuk mempertahankan posisi pasarnya. Bawang merah dan cabai merah tergolong ke dalam kategori cash cows. Kedua komoditas ini berada di dalam pasar yang cenderung sudah mantap, sehingga dapat dikategorikan sebagai komoditas net cash generator. Keputusan pembelian kentang dipengaruhi oleh faktor-faktor  properti produk 1 (tidak ada tanda busuk, nilai gizi, kesegaran, dan minimal residu pestisida), properti produk 2 (aroma, warna daging, dan harga), sikap konsumen (komponen afektif, kognitif, dan konatif), situasi konsumen (pengetahuan harga, pengetahuan cara pengolahan, dan persepsi kualitas), serta indikator sosial ekonomi (jumlah anggota keluarga dan pengeluaran total per bulan). Keputusan pembelian bawang merah dipengaruhi oleh faktor-faktor properti produk 2 (minimal residu pestisida, tidak ada tanda busuk, kesegaran, dan penampakan visual), situasi konsumen (pengetahuan harga, pengetahuan cara pengolahan, dan persepsi kualitas), serta indikator sosial ekonomi (jumlah anggota keluarga dan pengeluaran total per bulan). Keputusan pembelian cabai merah dipengaruhi oleh faktor-faktor properti produk (warna, tidak ada tanda busuk, harga, minimal residu pestisida, dan kesegaran), sikap konsumen (komponen afektif, kognitif, dan konatif), serta persepsi kualitas produk.This study was aimed to identify factors affecting consumer behavior and purchasing decision on potatoes, shallots, and hot peppers. Consumer surveys were carried out in three big cities in Indonesia (Jakarta-DKI Jaya, Bandung-West Java, and Padang-West Sumatera) from April to June 2007. Respondents of these surveys were 462 vegetable purchasing decision makers who were randomly selected. Descriptive statistics, factor analysis and multiple regression analysis, were used for data elaboration. Results showed that 93.1 and 80.7% of respondents consume shallots and hot peppers almost everyday. Meanwhile, 67.1% of respondents consume potatoes once or twice a week. Traditional market is still the most frequently chosen place to buy vegetables, and then followed by supermarket, small vendor, and small grocery store. Crops perceived by consumers will have 25-75% increasing consumption trend in the next 5 years are consecutively potatoes, shallots, and hot peppers. Potatoes were in the  question marks category given their strong growth trend and relatively low market penetration. Potatoes require large amounts of cash (net cash absorber) to sustain their position in the market and to maintain the momentum of market growth. Shallots and hot peppers were in the cash cow category given their high market shares in low growth markets. These crops were in a mature market that requires lower cash hence they tend to be net cash generators. Factors affecting potato purchase are product property 1 (no blemishes, nutrition value, freshness, and minimum pesticide residue); product property-2 (aroma, flesh color, and price), consumer attitude (affective, cognitive, and conative), consumer situation (price knowledge, processing knowledge, and quality perception), and socio-economic indicators (number of family members and total monthly expenditure). Shallots purchase decision was influenced by some factors, such as product property 2 (minimum pesticide residue, no blemishes, freshness, and visual appearance), consumer situation (price knowledge, processing knowledge, and quality perception), and socio-economic indicators (number of family members and total monthly expenditure). The decision to purchase hot peppers was affected by factors, such as product properties (color, no blemishes, price, minimum pesticide residue, and freshness), consumer attitude (affective, cognitive, and conative), and product quality perception. 

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue