cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018" : 16 Documents clear
Penentuan Pilihan Model Kelembagaan untuk Pengembangan Perbenihan Bawang Merah Melalui True Shallot Seed di Jawa Timur (Choice Determination of Institutional model for Seed Development of Shallot through True Shallot Seed System in East Java) Sembiring, Asma; Muharam, Agus; Rosliani, Rini; Setiani, Rima
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p259-268

Abstract

Penggunaan biji true shallot seed (TSS) telah diperkenalkan sebagai salah satu alternatif penyediaan benih bawang merah yang sehat dan berkualitas tinggi yang tersedia dalam jumlah yang cukup bagi petani sepanjang tahun. Penggunaan TSS diharapkan dapat mengatasi persoalan kuantitas dan kualitas bawang merah konsumsi serta perbenihan bawang merah di Indonesia. Pembentukan kelembagaan yang tepat perlu dibangun sejalan dengan pengembangan TSS. Pembentukan kelembagaan yang baik dan kuat dapat menghasilkan teknologi inovatif yang tepat dan menjamin ketersediaan benih TSS dalam jangka panjang. Tujuan penelitian yaitu mengetahui model pilihan kelembagaan stakeholder (pemangku kepentingan) untuk mendukung pengembangan sistem perbenihan TSS bawang merah di Jawa Timur. Survei dilaksanakan pada bulan Maret hingga Agustus 2016 di Jawa Timur melalui interview kepada 35 responden. Analisis data dilakukan menggunakan konsep Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan program statistik Super Decisions. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opsi kelembagaan yang dipilih oleh responden untuk pengembangan perbenihan bawang merah TSS di Jawa Timur adalah opsi 1. Di opsi 1, Balitsa dan BPTP berperan memproduksi TSS kelas jenis Benih Penjenis (BS) dari umbi varietas bawang merah unggul dan memberikan delegasi legalitas/lisensi kepada BBI/BBU/BBH/SWASTA untuk memproduksi/memperbanyak Benih Umbi kelas benih BS. Berikutnya, Perguruan Tinggi (PT)/BPTP/SWASTA menghasilkan TSS dan umbi benih untuk kelas Benih Dasar (BD). Selanjutnya penangkar terpilih memproduksi TSS dan umbi benih kelas Benih Pokok (BP) dan Benih Sebar (BR). Benih Sebar ditanam oleh petani untuk memproduksi umbi bawang merah konsumsi. Produksi TSS-BP, benih umbi BP, TSS-BR, dan benih umbi BR diawasi dan didampingi oleh BPTP.KeywordsAnalisis hirarkhi proses (AHP); Benih botani bawang merah; Model kelembagaan; Perbenihan bawang merahAbstractThe use of true shallot seed (TSS) has been promoted as an alternative method to obtain healthy and high quality shallot seed that supposed to be adequately available for farmers along the year. The use of TSS is expected to be able of solving quantity and quality problems of shallot table consumption and shallot seed in Indonesia. A functioning institutional setting should be established in line with the development of TSS. The establisment of good and strong institutional could generate innovative appropriate technologies and ensure the availability of TSS in a long term. The objective of this study was to investigate the stakeholders’ choice of some institutional models to support the development of TSS shallot seed system in East Java. A survey was conducted from March to August 2016 to collect data by interviewing 35 respondents. Data were analysed by employing the Analytical Hierarchy Process (AHP) concept and using Super Decisions statistical program. Results indicates that an institutional setting selected by respondents to support the development of TSS shallot seed system in East Java is described in the first option. The first option suggests that Indonesian Vegetables Research Institute (IVEGRI) and Assessment Institute for Agricultural Technology (AIAT) have the role of producing TSS for Breeder Seed class (BS) from high quality shallot bulbs and providing legality delegation or license to BBI/BBU/BBH (Indonesian government seed institutions)/Private in producing/multiplying seed bulbs of BS class. Afterward, the University/AIAT/Private will produce TSS and seed bulbs for Foundation Seed class (FS). Furthermore, selected shallot seed growers will produce TSS and seed bulbs for Stock Seed class (SS) and Extension Seed class (ES). The ES will be used by farmers to produce shallot bulbs for table consumption. Production of FS-TSS, FS-seed bulbs, ES-TSS, and ES-seed bulbs will be monitored and supervised by AIAT.
Respon dan Seleksi Tanaman Kentang Terhadap Kekeringan (Response and Selection of Potato Plants to Drought) Tri Handayani; nFN Kusmana; Helmi Kurniawan
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p163-174

Abstract

Kekeringan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kentang. Persilangan dengan tujuan toleran kekeringan telah dilakukan dan dilanjutkan dengan seleksi terbatas. Tujuan penelitian untuk mempelajari respon tanaman kentang terhadap kekeringan dan melakukan seleksi klon-klon hasil persilangan untuk sifat toleran kekeringan. Materi yang digunakan adalah 78 nomor hasil seleksi progeni kekeringan tahun 2015. Penelitian dilakukan dengan membandingkan antara tanaman pada kondisi kekeringan dan pengairan normal di dalam Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, pada tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman kekeringan berpengaruh terhadap karakter pertumbuhan dan hasil. Pada kondisi kekeringan, vigor tanaman menurun dan menunjukkan gejala layu, menguning, serta daun menggulung ke atas. Kekeringan juga menyebabkan penurunan pada diameter batang (41,4%), jumlah batang (6,63%), tinggi tanaman (22,43%), diameter kanopi (18,76%), luas daun (53,7%), jumlah ubi pertanaman (17,54%), berat ubi pertanaman (70,35%), panjang ubi (44,45%) serta diameter ubi (42,85%). Respon tanaman terhadap kekeringan yang lain ditunjukkan oleh peningkatan kadar prolin daun dan klorofil. Seleksi berdasarkan perubahan karakter morfologi, pertumbuhan vegetatif serta produksi ubi, diperoleh 26 genotipe yang berpotensi memiliki sifat toleran terhadap kekeringan. Genotipe terseleksi tersebut memiliki kisaran jumlah ubi per tanaman 1,67 – 12,25, berat ubi per tanaman 26,45 – 80,775 g, panjang ubi 2,05 – 3,4 cm serta diameter ubi 1,43 – 3,06 cm. Hasil dari seleksi kekeringan ini akan dilanjutkan ke seleksi di lapangan untuk mendapatkan klon unggul kentang toleran terhadap kekeringan. Ketersediaan klon kentang toleran kekeringan dapat menjawab ancaman menurunnya produksi kentang akibat perubahan iklim.KeywordsSolanum tuberosum L.; Produksi ubi; Prolin; Toleran kekeringan   AbstractDrought is very influential towards the growth and production of the potato crop. A crossing to drought-tolerant genotypes was conducted and continued with a progeny selection. The aims of this study were to study the response of the potato plant to drought stress and to select potato clones resulted from conventional crossing for drought tolerant. The genetic materials tested were 78 progenies resulted from drought selection in 2015. The study was conducted by comparing plants in drought and normal irrigation conditions in the Greenhouse of the Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, in 2016. Results showed that drought stress affected potato growth as well as tuber yield. On drought conditions, potato plants tend to be poor of plant vigor, showed wilting symptom, yellowing leaves and roll up of the leaves. Drought stress caused the decline of stem diameter of (41.4%), main stem number (6.63%), plant height (22.43%), canopy diameter  (18.76%), leaf area  (53.7%), per plant tuber number (17.54%), per plant tuber weight (70.35%), tuber length (44.45%) and tuber diameter (42.85%). Another response to drought was the increasing level of proline and chlorophyll in leaf. Based on morphological character changes, vegetative growth and tuber production, 26 genotypes demonstrated potential drought tolerance. The selected genotypes will be used to the next selection in the field to get stable drought-tolerant potato clones. The availability of drought-tolerant potato clones can respond to the threat of reduced potato production due to climate change. 
Back Matter Djatnika, I
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p%p

Abstract

Pengaruh Asam Salisilat dan K2HPO4 Pada Ketahanan Tanaman Kentang Terhadap Penyakit Busuk Daun di Musim Penghujan (The Effect of Salicylic Acid and K2HPO4 on the Resistance of Potato Plant to Late Blight in Rainy Season) Rasiska Tarigan; Susilawati Barus; nFN Kuswandi
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p209-218

Abstract

Kentang merupakan tanaman pangan bernilai ekonomi tinggi yang rentan terhadap serangan busuk daun (Phytophthora infestans) pada musim penghujan. Penggunaan pestisida sintetik hasilnya belum memuaskan sehingga perlu dilakukan induksi ketahanan terhadap serangan penyakit. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh  pemberian asam salisilat dan K2HPO4 dalam meningkatkan ketahanan tanaman kentang pada musim penghujan terhadap penyakit busuk daun. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi pada ketinggian tempat 1.340 m dpl. pada bulan September sampai dengan Desember 2015. Tata letak percobaan disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dua faktor dengan tiga ulangan dan 18 kombinasi perlakuan. Faktor pertama adalah dosis asam salisilat  (a0 = 0, a1 = 0,1g/L, a2 = 0,2 g/L, a3 = 0,3 g/L, a4 = 0,4 g/L, dan a5 = 0,2 g/L propineb). Faktor kedua adalah dosis K­2HPO4 (k0  =  kontrol, k1 = 0,1 g/L, k2 = 0,2 g/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 0,1 g/L asam salisilat dan  0,1 g/L K2HPO4 merupakan perlakuan terbaik menurunkan intensitas penyakit P. infestans dan kerusakan umbi kentang. Intensitas penyakit sampai 9 minggu setelah aplikasi hanya 7,46%, sedangkan kerusakan umbi hanya sebesar 0,35%. Jumlah umbi dan persentase kelas umbi per tanaman hanya dipengaruhi oleh K2HPO4, sedangkan bobot umbi tidak dipengaruhi kedua perlakuan. KeywordsKentang; Asam salisilat; K­2HPO4; Ketahanan; Musim penghujanAbstractPotatoes are high economic value crops that are vulnerable to the attack of late blight (Phytophthora infestans) in the rainy season. The use of synthetic pesticides has not been satisfactory, so that should be induced for the disease resistance. The objective of the research was to determine the giving effect of salicylic acid and K2HPO4 in improving the resilience of the potato crop in the rainy season to late blight. The study was conducted at Berastagi Experimental Garden in altitude 1,340 meters above sea level, from September to December 2015. The layout of the trial is based on two factor randomized complete block design with three replications and 18 combination treatments. The first factor is the dose of salicylic acid (A0 = 0, A1 = 0,1g/L, A2 = 0,2 g/L, A3 = 0,3 g/L, A4 = 0,4 g/L and A5 = 0,2 g/L propineb), the second factor is the dose K 2HPO4 (K0 = control, K1 = 0.1 g/L, K2 = 0.2 g / L). The results showed that the combination treatment of 0.1 g/L of salicylic acid and 0,1 g/L K2HPO4 is the best treatment because it can reduce the intensity of the Phytophthora infestans disease and potato tuber damage. The disease intensity up to 9 weeks after application only 7.46%, while the tuber damage only 0.35%. The number and percentage of class tubers per plant only affected by K2HPO4, while the tuber weight was not influenced both treatments.
Strategi Pengembangan Agribisnis Bawang Merah di Kabupaten Solok (Shallot Agribusiness Development Strategy in Solok Regency) Adhitya Marendra Kiloes; nFN Hardiyanto; Anna Sulsityaningrum; Muhamad Jawal Anwarudin Syah
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p269-280

Abstract

Kabupaten Solok dicanangkan sebagai salah satu sentra produksi bawang merah untuk mengimbangi sentra produksi utama di Pulau Jawa yang produksinya selalu berfluktuasi. Beberapa kelebihan dan kekurangan dimiliki oleh Kabupaten Solok dalam mengembangkan potensinya sebagai sentra bawang merah nasional. Penelitian bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan Kabupaten Solok sebagai sentra bawang merah nasional. Penelitian dilakukan dari bulan Agustus hingga Desember 2017 bertempat di Kabupaten Solok. Data primer berupa atribut-atribut faktor internal kekuatan dan kelemahan serta faktor-faktor eksternal peluang dan ancaman diidentifikasi melalui Focussed Group Discussion (FGD) yang dilakukan dengan peserta para pemangku kepentingan di Kabupaten Solok sekaligus untuk melakukan kuantifikasi dari atribut-atribut yang telah teridentifikasi. Analisis dilakukan dengan pendekatan SWOT, yaitu menggunakan perhitungan IFE, EFE, matriks IE, matriks SPACE, dan matriks SWOT. Terdapat enam atribut kekuatan, delapan atribut kelemahan, enam atribut peluang, dan lima atribut ancaman. Perhitungan IFE dan EFE memperlihatkan bahwa faktor internal merupakan faktor yang paling dominan, dengan faktor kekuatan merupakan faktor yang paling dominan dibandingkan kelemahan. Posisi Kabupaten Solok dalam matriks IE dan matriks SPACE masing-masing berada dalam posisi jaga dan pertahankan serta mendukung strategi agresif. Strategi yang perlu diterapkan adalah strategi memaksimalkan kekuatan untuk menangkap peluang yang tersedia (S-O) di antaranya pengembangan teknologi PTT bawang merah spesifik lokasi, pengembangan teknologi pascapanen bawang merah, membuka pasar baru selain yang sudah ada, dan membina penangkar bawang merah. Beberapa dukungan teknologi dan inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian sebagai peluang yang tersedia juga perlu diterapkan untuk memaksimalkan kekuatan yang dimiliki Kabupaten Solok untuk berkembang sebagai sentra produksi bawang merah nasional.KeywordsKabupaten Solok; Bawang merah; Strategi; SWOTAbstractSolok Regency is planned as one of the production centers of shallot to complement the main production centers on Java Island which production always fluctuating. Some advantages and disadvantages are owned by Solok in developing its potential. This study aims to formulating strategy to develop Solok Regency as a national shallot production center. The research was conducted from August till December 2017 at Solok District. Primary data such as internal factor attributes like strengths and weaknesses as well as external factors like opportunity and threat are identified through Focus Group Discussion (FGD) which conducted with participants of stakeholders in Solok to quantify the attributes that have been identified. The analysis then conducted with the SWOT approaches using IFE, EFE, IE matrix, SPACE matrix, and SWOT matrix. There are six attributes of strength, eight attributes of weakness, six attributes of opportunity, and five attributes of threat. The calculation of IFE and EFE shows that internal factor is the most dominant factor, with strength is the most dominant internal factor. The position of Solok Regency in IE is in a position to guard and defend while in the SPACE matrix the position of Solok Regency is to support an aggressive strategy. The strategies that needs to be implemented is strategy to maximize the power to capture the available opportunities (S-O) such as the development of location-specific shallot integrated crop management technology, the development of shallot post-harvest technology, create new markets other than existing ones, and develop shalot breeder. Some IAARD’s technology and innovation support as available opportunities also need to be applied to maximize the power of Solok to grow as a national production center for shallot.
Elastisitas Penawaran Output dan Permintaan Input Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah (Elasticity of Output Supply and Input Demand of Shallot Farming in Demak District, Central Java) Dewi Sahara; nFN Chanifah
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p281-288

Abstract

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai peran strategis bagi perekonomian Indonesia. Untuk meningkatkan produksi bawang merah, petani menggunakan beberapa input produksi. Perubahan harga bawang merah akan berdampak pada penawaran output dan permintaan input. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan harga output dan harga input terhadap penawaran output dan permintaan input usahatani bawang merah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan di Desa Raji, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak pada bulan September – Desember 2016. Penelitian menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui metode survey terhadap 30 responden. Data dianalisis dalam bentuk pangsa permintaan input dengan metode Seemingly Unrelated Regression (SUR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penawaran bawang merah elastis terhadap perubahan harga bawang merah dan harga umbi benih, namun kurang elastis terhadap perubahan upah tenaga kerja, serta tidak elastis terhadap perubahan harga pupuk. Permintaan input (umbi benih, pupuk, dan tenaga kerja) bersifat elastis terhadap harga masing-masing input tersebut, dan sebagian besar bersifat inelastis terhadap harga input lainnya. Oleh karena itu untuk meningkatkan penawaran bawang merah, pemerintah seyogyanya mampu menjaga stabilisasi harga bawang merah dan mendorong menggunakan biji bawang merah (true seed shallot) sebagai alternatif untuk mengurangi pemakaian benih umbi bawang merah.KeywordsBawang merah; Perubahan harga; Penawaran output; Permintaan inputAbstractShallot is one of the vegetable crops that have a strategic role for the Indonesian economy. To increase the production of shallot, the farmers using several of input production. Changes of shallot would have an impact to output supply and input demand. This study aimed to determine the effect of changes in input and output prices to output supply and input demand of shallot farming. The study was conducted in Raji Village, Demak Subdistrict, Demak District in September - December 2016.  Primary data was collected through survey method by interviewing 30 respondents. The data was analyzed in the form of input demand share by Seemingly Unrelated Regression (SUR) method.  The results showed that supply of shallot is elastic to the price changes of shallot and price of seed bulbs, but less elastic to changes in labor wages and inelastic to changes in fertilizer prices. Demand for production input is elastic to the price of each input, and are largely inelastic with respect to other input prices. Therefore, to increase the shallot supply, the Government should be able to maintain the stabilization of shallot prices and encourage the use of true seed shallot as an alternative to reduce the use of shallot seeds.
Potensi Pemanfaatan Formulasi Pupuk Organik Sumber Daya Lokal untuk Budidaya Kubis (Potential Use Formulation of Fertilizer Local Natural Resources for Cabbage Plantation) Agustina Erlinda Marpaung; Bagus Kukuh Udiarto; Liferdi Lukman; nFN Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p191-200

Abstract

Pemupukan organik banyak memberikan kontribusi pada perlindungan lingkungan dan masa depan kehidupan manusia serta menjamin keberlanjutan bagi agroekosistem dan kehidupan petani sebagai pelaku pertanian. Sumber daya lokal dipergunakan sedemikian rupa sehingga unsur hara sintetis, biomassa, dan energi dapat ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah pencemaran lingkungan. Penelitian bertujuan mendapatkan formulasi pupuk organik sumber daya lokal untuk budidaya sayuran kubis. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl. dan jenis tanah Andisol. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus sampai November 2015. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) terdiri atas enam perlakuan dengan lima ulangan. Perlakuan yang diuji adalah: (A) POC kirinyuh, (B) kotoran kelinci plus (Kotciplus), (C) POC orok-orok, (D) POC kirinyuh + urin kelinci (1 : 1 v/v), (E) POC orok-orok + urin kelinci (1 : 1 v/v), dan (F) kontrol (pupuk kimia sintetis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik Kotciplus dapat memacu pertumbuhan dan hasil kubis lebih baik daripada pupuk kimia sintetis. Penggunaan pupuk organik Kotciplus dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman kubis sebesar 4,42%, lebar daun sebesar 4,78%, diameter krop sebesar 3,26%, bobot krop per tanaman sebesar 7,13%, dan produksi per plot sebesar 2,43% dibanding penggunaan pupuk kimia sintetis. Penggunaan pupuk organik dapat menekan serangan penyakit akar gada sebesar 19,06 – 57,01%, namun meningkatkan serangan hama 12,12 – 27,5% dari kontrol. Implikasi yang diperoleh adalah pupuk organik Kotciplus sangat cocok untuk budidaya kubis.KeywordsBrassica oleracea var. capitata L.; Pupuk organikAbstractOrganic fertilization contributes to the protection of the environment and the future of human life. Organic farming also guarantees the sustainability of the agro-ecosystems and the lives of farmers as agricultural factors. Local resources are used in a way that synthetic nutrients, biomass, and energy can be reduced as low as possible and be able to prevent environmental pollution. The aim of the research is to extract local resources of organic fertilizer for the cultivation of vegetable cabbage. The study was conducted in Berastagi Experimental Garden with less altitude of 1,340 m above sea level and type of soil Andisol. The research was conducted from August to November 2015. The design used was a randomized block design, consist of six treatments with five replications. The treatments tested were: (A) LOF (liquid organic fertilizer) kirinyuh, (B) manure rabbit plus (Kotciplus), (C). LOF sunn hemp, (D) LOF kirinyuh + rabbit urine (1: 1 v/v), (E) LOF sunn hemp + rabbit urine (1: 1 v/v) and (F) control (synthetic chemical fertilizers). The results obtained are : Natural Kotciplus fertilizer can stimulate the growth and yield of cabbage were better than synthetic chemical fertilizers. The use of natural Kotciplus fertilizer can increase the high growth 4.42% cabbage, leaf diameter 4.78%, crop diameter 3.26%, the weight of the crop per plant 7.13% and the production per plot 2, 43% compared to the use of chemical synthetic fertilizers. The use of natural fertilizers can suppress the attack of the clubroot disease by 19.06 % to 57.01%, but increased pest attacks 12.12 - 27.5% of controls. The implication is that natural Kotciplus fertilizer is very suitable for cabbage cultivation.
Aplikasi Ribavirin Pada Shoot Tip Bawang Merah untuk Eliminasi Virus OYDV (Application of Ribavirin on Shoot Tip of Shallot for OYDV Eradication) Aqlima, nFN; Purwoko, Bambang Sapto; Hidayat, Sri Hendrastuti; Dinarti, Diny
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p251-258

Abstract

Kemoterapi merupakan aplikasi senyawa kimia (ribavirin) yang memiliki aktivitas antiviral guna menghambat ataupun menghentikan multiplikasi virus pada jaringan tanaman. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi ribavirin terhadap pertumbuhan shoot tip bawang merah untuk mengeliminasi virus OYDV. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan 3, Departemen AGH IPB dan Laboratorium Virologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman IPB, sejak bulan Oktober 2015 hingga Juni 2016. Rancangan percobaan yang digunakan adalah kelompok lengkap teracak dengan dua faktor dan empat ulangan, setiap ulangan terdiri atas empat tabung kultur yang ditanam satu eksplan. Percobaan dilakukan secara terpisah pada dua kultivar bawang merah, yaitu Bima Brebes dan Tiron. Faktor pertama adalah konsentrasi ribavirin, yaitu 0, 5, 10, 15, dan 20 mg/L. Faktor kedua adalah ukuran eksplan (shoot tip), yaitu 1,1–2,0 mm dan 2,1–3,0 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ribavirin menekan tinggi tunas cv. Bima Brebes, waktu muncul daun, tinggi tunas, dan jumlah daun cv. Tiron. Ukuran shoot tip yang lebih besar (2,1–3,0 mm) dapat meningkatkan persentase tumbuh eksplan dan mempercepat waktu muncul daun pada cv. Bima Brebes dan Tiron. Konsentrasi ribavirin yang diaplikasikan pada dua ukuran shoot tip masih belum dapat mengeliminasi virus OYDV pada kedua kultivar bawang merah.KeywordsBawang merah; In vitro; Ribavirin; Shoot tipAbstractChemotherapy is an apllication of chemistry compound (ribavirin) that has antiviral activity to inhibit virus multiplication in plant tissues. The objective of the experiment was to evaluate the effect of ribavirin concentrations on shoot tip growth of shallot for OYDV eradication. The experiment was cunducted at Tissue Culture Laboratory 3, Agronomy Department and Plant Virology Laboratory, Plant Protection Department of IPB from October 2015 until June 2016. The experiment was arranged in a completely rendomized block design with two factors and four replications. Each experimental unit consisted of four bottles with one explant in it. The first factor was ribavirin concentrations, i.e. 0, 5, 10, 15, and 20 mg/L. Second factor was shoot tip sizes, i.e. 1.1–2.0 mm and 2.1–3.0 mm. The experiment showed that increasing ribavirin concentrations suppressed the shoot length of cv. Bima Brebes, and it also inhibited the time of leaf to emerge, shoot length, and leaf number of cv. Tiron. Increasing shoot tip size (2.1–3.0 mm) influenced percentage of explant growth and speed the time of leaf emergance of cv. Bima Brebes and Tiron. Ribavirin concentrations used in this treatment did not eradicate OYDV in both shoot tipe sizes of the two cultivars.
Deteksi Penyakit Virus Pada Bawang Merah Asal Kabupaten Brebes dan Cirebon dan Daerah Pencarnya Menggunakan Teknik RT-PCR (Detection of Viral Diseases on Shallot from Brebes and Cirebon Districts and their Spread Using the RT-PCR Techniques) Neni Gunaeni; Asih K Karyadi; Witono Adiyoga
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p229-238

Abstract

Bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) merupakan salah satu komoditas penting sayuran. Salah satu masalah yang dihadapi dalam budidaya bawang merah adalah adanya penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil. Penelitian bertujuan mengetahui kelompok virus yang menginfeksi bawang merah dan daerah pencarnya di Kabupaten Brebes dan Cirebon. Kegiatan dilakukan dengan pengambilan sampel tanaman pada bulan September 2013 (musim kemarau) dan April 2014 (musim hujan). Identifikasi virus dilakukan di Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran menggunakan teknik RT-PCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingginya insiden gejala virus bergantung pada pola tanam, penggunaan varietas, umur tanaman, dan kondisi lingkungan di sekitar tanaman, (2) umumnya petani di Kabupaten Brebes dan Cirebon menanam bawang merah varietas Bima Curut, (3) daerah pencar kelompok Potyvirus, Allexivirus, dan Carlavirus cukup luas di Kabupaten Brebes dan Cirebon, (4) terdeteksi dari kelompok sampel Kabupaten Brebes Potyvirus 92,30%, Allexivirus 92,50%, dan Carlavirus 99%, dan (5) terdeteksi dari kelompok sampel asal Kabupaten Cirebon Potyvirus 96,43%, Allexivirus 96,15%, dan Carlavirus 93%. Implikasi dari infeksi ketiga kelompok virus tersebut pada tanaman bawang merah dapat menurunkan produksi 21,57–54,90%.KeywordsAllium cepa var. ascalonicum; Deteksi; Potyvirus; Allexivirus; CarlavirusAbstractShallot (Allium cepa var. ascalonicum) is one of the important vegetable commodity. The problems encountered in the cultivation of shallot is the disease caused by a virus which can reduce the quality and yield quantity. This study aimed to determine the group of viruses that infect shallot and geographycal distribution in Brebes and Cirebon Districts. The activities carried out by plant sampling in September 2013 (dry season) and April 2014 (rainy season). Identification of virus carried in the Virology Laboratory of Indonesian Vegetables Research Institute to perform testing using RT-PCR. The results showed that: (1) the high incidence of viral symptoms depend on cropping patterns, use of improved varieties, plant age, environmental conditions around the plant, (2) generally famers in Brebes and Cirebon Districts planted Bima Curut varieties, (3) geographycal distribution Potyvirus group, Allexivirus, and Carlavirus quite extensive in Brebes and Cirebon regions, (4) detected viruses from samples of Brebes District : Potyvirus group 92.30%, Allexivirus 92.50%, and Carlavirus 99%, and (5) detected viruses from samples of Cirebon District : Potyvirus group 96.43%, Allexivirus 96.15%, and Carlavirus 93%. The implications of the infection of the above three groups of viruses on the plant can decrease the production of shallots 21.57–51.90%.
Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Terhadap Perilaku Kewirausahaan dan Dampaknya Terhadap Kinerja Usaha Petani Anggrek (Effect of Internal and External Factors Towards the Enterpreneurial Behavior of Orchid Growers) nFN Puspitasari; Rita Nurmalina; Anna Fariyanti; Adhitya Marendra Kiloes
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p299-310

Abstract

Perkembangan agribisnis anggrek nasional masih rendah, salah satunya disebabkan kurangnya kompetensi yang dimiliki petani anggrek. Peningkatan perilaku kewirausahaan diharapkan mampu meningkatkan kinerja usaha komoditas anggrek di Indonesia. Penelitian perilaku kewirausahaan petani anggrek dilakukan dengan tujuan menganalisis pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap perilaku kewirausahaan petani anggrek dan menganalisis pengaruh perilaku kewirausahaan terhadap kinerja usaha anggrek. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Gunung Sindur, Parung, dan Serpong, dengan pertimbangan lokasi tersebut merupakan sebagian besar sentra anggrek di Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, dengan jumlah sampel 115 orang. Data terkumpul dianalisis dengan metode SEM menggunakan program Lisrel 8.3. Hasil pengujian dengan SEM menunjukkan faktor internal, yaitu peningkatan skala usaha, intensi berwirausahatani, motivasi berprestasi dan persepsi terhadap usaha yang tinggi, dan dapat meningkatkan perilaku kewirausahaan. Faktor eksternal yang terdiri atas bahan input, penyuluhan, bantuan modal, promosi, regulasi, kekompakan di antara petani anggrek, dan akses informasi secara signifikan berpengaruh negatif. Perilaku kewirausahaan secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja usaha, artinya bahwa ketekunan, ketanggapan terhadap peluang usaha, inovatif, keberanian mengambil risiko dan kemandirian dalam menjalankan usahatani anggrek berperan penting dalam peningkatan kinerja usaha. Dengan demikian, untuk meningkatkan perilaku kewirausahaan petani anggrek, pemerintah perlu memberikan dukungan berupa fasilitas yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh petani, seperti pelatihan untuk perbanyakan dengan kultur jaringan, teknologi untuk mempersingkat masa pemeliharaan, pembangunan pasar untuk memperpendek rantai pasar, dan penyediaan benih berkualitas sesuai dengan preferensi pasar.KeywordsPerilaku kewirausahaan; Kinerja usaha; Petani anggrek; Structural equation models (SEM)AbstractThe performance of Indonesian orchid industry is still low due to the lack of farmers competencies. The improvement of entrepreneurial behavior of orchid farmers could hopely increase the orchid bussiness performance. The study of farmers entrepreneurial behaviour was conducted to analyse the influence of internal and external factors on entrepreneurial behavior, and to analyse the influence of entrepreneurial behavior on bussiness performance. This research used 115 data of orchid farmers. The data were analized by SEM using Lisrel 8.3 programs. The results of testing with SEM showed that internal factors, including increasing the scale of business, entrepreneurial intentions, achievement motivation and high perceptions of business, can enhance entrepreneurial behavior. External factors, which consist of input material, counseling, capital assistance, promotion, regulation, compactness among orchid growers, and access to information have a significant negative effect. Entrepreneurial behavior has a significant and positive effect on business performance, meaning that perseverance, responsiveness to business opportunities, innovation, courage to take risks and independence in running orchid farming play an important role in improving business performance. To improve the entrepreneurial behavior of orchid farmers the government needs to provide support in facilities that are in accordance with farmers need, such as training for propagation by tissue culture, technology to shorten the maintenance period, market development to shorten the marketing chain, and provision of quality seeds according with consumer preferences.

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue