cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Keragaman Sebelas Klon Mangga Komersial Indonesia (Variation of Eleven Clones Indonesian Commercial Mango) nFN Tasliah; nFN Karsinah; Joko Prasetiyono
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p31-40

Abstract

Mangga merupakan salah satu buah penting di Indonesia. Tanaman mangga dapat menyerbuk silang sehingga menyebabkan adanya varian-varian mangga dengan nama yang sama. Arumanis dan Gedong Gincu merupakan varietas mangga komersial Indonesia untuk memenuhi pasar dalam negeri maupun internasional. Selain kedua varietas tersebut terdapat mangga Gadung sebagai mangga komersial yang berkarakter mirip dengan Arumanis, oleh karena itu para pakar mangga terdahulu menyatakan bahwa mangga Gadung-21 sinonim dengan mangga Arumanis-143 sehingga mangga Gadung-21 tidak bisa dilepas sebagai varietas unggul baru. Pohon induk varietas tersebut telah dikoleksi di Kebun Percobaan Cukurgondang dan dalam koleksi tersebut terdapat beberapa klon mangga Arumanis, Gedong, dan Gadung. Penelitian ini bertujuan mengetahui keragaman genetik 11 klon mangga komersial Indonesia berdasarkan marka mikrosatelit. Bahan tanaman yang digunakan ialah 11 klon mangga yang meliputi lima klon mangga Arumanis, dua klon mangga Gadung, dan empat klon mangga Gedong yang berasal dari Kebun Percobaan Cukurgondang, Pasuruan, Jawa Timur. Penelitian dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian dari bulan Januari sampai bulan November 2014. Marka yang digunakan ialah 30 marka mikrosatelit. Analisis kesamaan menggunakan koefisien Dice, sedangkan pengelompokan mangga menggunakan metode UPGMA yang ada di dalam program NTSYS 2.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga pasang klon mangga dari 11 yang diuji, yakni Arumanis-143 dengan Arumanis-205, Gadung-21 dengan Arumanis-135, dan Gadung-185 dengan Arumanis-151. Ketiga pasang klon mangga tersebut memiliki tingkat kesamaan lebih dari 90%. Keragaman klon mangga Gedong sangat tinggi, terbukti dari variasi pola pita yang muncul dalam analisis DNA. Mangga Gadung-21 terbukti sinonim dengan mangga Arumanis-135 bukan dengan Arumanis -143.KeywordsMangga (Mangifera indica L.); Keragaman genetik; Marka mikrosatelitAbstractMango is one of the important fruits in Indonesia. Naturally, the plants are cross pollinated, that caused variants in the same name. Arumanis and Gedong Gincu is one of the Indonesian mango varieties that are developed for domestic and international markets and has high economic value. In addition it those varieties, there is other varieties that is Gadung mango known as commercial mango that has character like to Arumanis. The earlier mango experts claimed that Gadung mango was synonymous with Arumanis, so that it could not be released as new superior variety. The mother plant of those varieties were collected at Cukurgondang Experimental Field. At these collection site, there were several clones of mango Arumanis, Gedong, and Gadung. This aims of this study were to determine the genetic diversity among eleven Indonesian commercial mango clones based on microsatellite markers. Plant materials used were eleven clones of mango consisted of five clones of Arumanis, two clones of mango Gadung, and four clones of mango Gedong, derived from Cukurgondang, Experimental Field, Pasuruan, East Java. This study was conducted at the Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development from January to November 2014. Markers used were thirty microsatellite markers. Analysis of similarities were done using Dice coefficient, while the grouping of mango was analyzed using UPGMA method that was included in the program NTSYS 2.1. The results showed there were three pairs of mango, namely Arumanis-143 with Arumanis-205, Gadung-21 with Arumanis-135, and Gadung-185 with Arumanis-151. These three pairs of mango had more similarity level of 90%. All of mango Gedong clones were different, showed that they had high diversity. Mango Gadung-21 proved synonymous with mango Arumanis-135.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Perilaku dan Keputusan Konsumen untuk Membeli Kentang, Bawang Merah, dan Cabai Merah Witono Adiyoga
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n3.2011.p280-294

Abstract

Penelitian ini diarahkan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perilaku dan keputusan konsumen dalam membeli kentang, bawang merah, dan cabai merah. Penelitian survai dilaksanakan di tiga kota besar konsumen utama sayuran, yaitu Jakarta (DKI Jaya), Bandung (Jawa Barat), dan Padang (Sumatera Barat) pada bulan April sampai dengan Juni 2007. Responden konsumen ialah 462 pengambil keputusan pembelian sayuran yang dipilih secara acak. Alat analisis yang digunakan ialah statistika deskriptif, analisis faktor, dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara berturut-turut 93,1 dan 80,7% responden menggunakan bawang merah dan cabai merah hampir setiap hari, sedangkan untuk komoditas kentang, 67,1% responden menyatakan mengonsumsinya 1-2 kali seminggu. Pasar tradisional merupakan pilihan terpopuler tempat pembelian sayuran, kemudian diikuti oleh supermarket, pedagang keliling, dan toko/warung. Komoditas yang menurut responden tren konsumsinya dapat meningkat antara 25-75% dalam 5 tahun ke depan secara berturut-turut ialah: kentang, bawang merah, dan cabai merah. Kentang dikategorikan ke dalam kelompok question marks karena secara relatif memiliki tren pertumbuhan tinggi dan penetrasi pasar rendah. Komoditas ini membutuhkan dukungan kapital tinggi (net cash absorber) untuk mempertahankan posisi pasarnya. Bawang merah dan cabai merah tergolong ke dalam kategori cash cows. Kedua komoditas ini berada di dalam pasar yang cenderung sudah mantap, sehingga dapat dikategorikan sebagai komoditas net cash generator. Keputusan pembelian kentang dipengaruhi oleh faktor-faktor  properti produk 1 (tidak ada tanda busuk, nilai gizi, kesegaran, dan minimal residu pestisida), properti produk 2 (aroma, warna daging, dan harga), sikap konsumen (komponen afektif, kognitif, dan konatif), situasi konsumen (pengetahuan harga, pengetahuan cara pengolahan, dan persepsi kualitas), serta indikator sosial ekonomi (jumlah anggota keluarga dan pengeluaran total per bulan). Keputusan pembelian bawang merah dipengaruhi oleh faktor-faktor properti produk 2 (minimal residu pestisida, tidak ada tanda busuk, kesegaran, dan penampakan visual), situasi konsumen (pengetahuan harga, pengetahuan cara pengolahan, dan persepsi kualitas), serta indikator sosial ekonomi (jumlah anggota keluarga dan pengeluaran total per bulan). Keputusan pembelian cabai merah dipengaruhi oleh faktor-faktor properti produk (warna, tidak ada tanda busuk, harga, minimal residu pestisida, dan kesegaran), sikap konsumen (komponen afektif, kognitif, dan konatif), serta persepsi kualitas produk.This study was aimed to identify factors affecting consumer behavior and purchasing decision on potatoes, shallots, and hot peppers. Consumer surveys were carried out in three big cities in Indonesia (Jakarta-DKI Jaya, Bandung-West Java, and Padang-West Sumatera) from April to June 2007. Respondents of these surveys were 462 vegetable purchasing decision makers who were randomly selected. Descriptive statistics, factor analysis and multiple regression analysis, were used for data elaboration. Results showed that 93.1 and 80.7% of respondents consume shallots and hot peppers almost everyday. Meanwhile, 67.1% of respondents consume potatoes once or twice a week. Traditional market is still the most frequently chosen place to buy vegetables, and then followed by supermarket, small vendor, and small grocery store. Crops perceived by consumers will have 25-75% increasing consumption trend in the next 5 years are consecutively potatoes, shallots, and hot peppers. Potatoes were in the  question marks category given their strong growth trend and relatively low market penetration. Potatoes require large amounts of cash (net cash absorber) to sustain their position in the market and to maintain the momentum of market growth. Shallots and hot peppers were in the cash cow category given their high market shares in low growth markets. These crops were in a mature market that requires lower cash hence they tend to be net cash generators. Factors affecting potato purchase are product property 1 (no blemishes, nutrition value, freshness, and minimum pesticide residue); product property-2 (aroma, flesh color, and price), consumer attitude (affective, cognitive, and conative), consumer situation (price knowledge, processing knowledge, and quality perception), and socio-economic indicators (number of family members and total monthly expenditure). Shallots purchase decision was influenced by some factors, such as product property 2 (minimum pesticide residue, no blemishes, freshness, and visual appearance), consumer situation (price knowledge, processing knowledge, and quality perception), and socio-economic indicators (number of family members and total monthly expenditure). The decision to purchase hot peppers was affected by factors, such as product properties (color, no blemishes, price, minimum pesticide residue, and freshness), consumer attitude (affective, cognitive, and conative), and product quality perception.
Pengelolaan Organisme Pengganggu Tumbuhan Utama Pada Budidaya Cabai Merah di Dataran Tinggi Laksminiwati Prabaningrum; Tonny Koestoni Moekasan
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p179-188

Abstract

Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) masih merupakan salah satu kendala utama pada budidaya cabai merah di dataran tinggi, sejak fase vegetatif hingga generatif. Oleh karena itu pengelolaan OPT selalu diupayakan guna menekan kehilangan hasil panen. Penelitian mengenai pengelolaan OPT utama pada budidaya cabai merah di dataran tinggi telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl.) sejak April hingga Oktober 2011. Tujuannya ialah menguji pengaruh penggunaan rumah kasa dan mulsa plastik pada budidaya tiga varietas cabai merah terhadap serangan OPT, penggunaan pestisida, dan produksi cabai merah. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dan setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Macam perlakuan yang diuji adalah : (A) sistem tanam : di dalam rumah kasa (a1) dan di lahan terbuka (a2); (B) kombinasi varietas dan penggunaan mulsa plastik : Tanjung 2 + mulsa plastik (b1), Wibawa + mulsa plastik (b2), Hot Beauty + mulsa plastik (b3), Tanjung 2 tanpa mulsa plastik (b4), Wibawa tanpa mulsa plastik (b5), dan Hot Beauty tanpa mulsa plastik (b6).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) penggunaan rumah kasa pada budidaya cabai merah mampu menekan serangan OPT dan penggunaan pestisida dengan hasil panen lebih tinggi dibandingkan dengan budidaya di lahan terbuka, (2) kombinasi penggunaan rumah kasa dan mulsa plastik mampu menekan kerusakan tanaman oleh serangan trips, (3) varietas Wibawa yang ditanam di dalam rumah kasa menggunakan mulsa plastik berproduksi tertinggi. Dengan demikian, penggunaan rumah kasa dan mulsa plastik dapat direkomendasikan untuk pengelolaan OPT cabai merah di dataran tinggi.
Peranan Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Peningkatan Serapan Hara Bibit Pepaya Irwan Muas
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n1.2003.p%p

Abstract

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peran lima jenis isolat cendawan mikoriza arbuskula dalam meningkatkan serapan hara dan biomassa dua kultivar bibit pepaya. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, dari bulan Agustus 2001 hingga Januari 2002. Penelitian ini disusun berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis isolat cendawan mikoriza terdiri dari kontrol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata dan Scutellospora heterogama, dan faktor ke dua adalah kultivar pepaya Dampit dan Sari Rona. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat infeksi akar bibit pepaya pada umur dua bulan setelah inokulasi dipengaruhi oleh efek interaksiantara isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Isolat A. tuberculata, G. etunicatum dan Gi. margarita menunjukkan derajat infeksi akar yang sangat tinggi, yaitu lebih  dari 76% untuk kedua kultivar pepaya, sedangkan dua jenis isolat  lainnya menunjukkan tingkat infeksi yang lebih rendah (21,33%-59,67%). Serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus, secara mandiri dipengaruhi oleh jenis isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Acaulospora tuberculata dan G. etunicatum meningkatkan bobot kering total bibit berturut-turut 1.028% dan 1.632% lebih tinggi dibanding kontrol. Kultivar Sari Rona menunjukkan serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus lebih tinggi dibanding kultivar Dampit. Prospek aplikasi cendawan mikoriza untuk tanaman pepaya cukup baik, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan dalam efisiensi penggunaan pupuk. Katakunci:  Carica papaya; Bibit; Mikoriza arbuskula; Serapan hara; Pertumbuhan. ABSTRACT. Muas, I. 2003. Role of arbuscular mycorrhizal fungus on nutrient uptake of papaya seedlings. An experiment was aimed to find out the role of five arbuscular mycorrhizal fungus isolates in increasing nutrient uptake and biomass production on two cultivars of papaya seedling. The research was conducted at a screen house of Agriculture Faculty, Padjadjaran University, from August 2001 until January 2002. This experiment was laid in Randomized Blocks Design in factorial pattern with three replications. The first factor was the kind of mycorrhizaes isolates, control, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata and Scutellospora heterogama, and the second factor was papaya cultivars Dampit and Sari Rona. The results  showed that root infection level of papaya seedlings on two months after inoculation influenced by interactions between mycorrhizaes isolate and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata, G. etunicatum, and Gi. margarita isolates showed very high root infection level which was higher than 76% from both papaya cultivars, whereas two other mycorrhizaes isolate showed the lower infection 21.33-59.67%. Nutrient uptake on N,P,K, and shoot dry weight, in autonomous caused by kinds of mycorrhizaes isolate and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata and G.etunicatum isolates  increased total dry weight 1,028% and 1,632% respectively higher than control. Sari Rona cultivar showed higher nutrient uptake on N, P, K, and shoot dry weight than Dampit cultivar. The mycorrhizaes application for papaya have good prospect, but there needs further studies to know the effectiveness in fertilizer efficiency.
Sifat Inovasi dan Peluang Adopsi Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu Krisan dalam Pengembangan Agribisnis Krisan di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta Hilmi Ridwan
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n1.2012.p85-93

Abstract

Untuk meningkatkan produksi dan mutu bunga krisan di Indonesia, Pusat Peneltian dan Pengembangan Hortikulturatelah melaksanakan program penelitian dan pengkajian penerapan pengelolaan tanaman terpadu krisan di beberapa provinsi sentraproduksi krisan. Pengelolaan tanaman terpadu krisan meliputi (a) penggunaan varietas dan benih bermutu; (b) pembuatan rumahlindung dan sarananya; dan (c) proses budidaya. Tujuan penelitian ialah mengetahui nilai sifat inovasi teknologi pengelolaantanaman terpadu krisan serta kemudahan penerapan dan peluang adopsinya oleh petani. Penelitian dilaksanakan di KabupatenSleman Daerah Istimewa Yogyakarta, dari bulan April hingga Desember 2009, menggunakan metode survei. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa teknologi pengelolaan tanaman terpadu krisan di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta memilikisifat inovasi yang berkategori nilai tinggi sampai dengan sangat tinggi, sehingga mudah diterapkan dan berpeluang tinggi sampaidengan sangat tinggi untuk diadopsi petani di lapangan.ABSTRACTTo increase production and quality of chrysanthemum flowerin Indonesia, the Indonesian Center for Horticulture Research and Development has conducted research and assessment programimplementation of integrated crop management in several provinces. Integrated crop management for chrysanthemum consistedof (a) the use of varieties and qualified-seedlings; (b) the use of shading house; and (c) agricultural process. The objective of thisresearch was to evaluate characteristics of integrated crop management of innovation technology that affect the adoption of theinnovation by the farmers. The research conducted in Sleman District, Special Province of Yogyakarta from April to December2009 using survey method. The results showed that integrated crop management technology of chrysanthemum have high until veryhigh value category of innovation technology, so it is easy to be implemented with high until very high opportunity the technologyto be adopted by farmers in the field.
Perbanyakan Bibit Jeruk Citromelo dan JC Secara In Vi tro R. Triatminingih; - Karsinah
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n4.2004.p238-245

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok, Sumatera Barat, pada Februari sampai denganDesember 2002. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan me dia perbanyakan dan protokol teknikperbanyakan tanaman jeruk citromelo dan Japanche citroen secara in vi tro. Penelitian menggunakan rancangan acaklengkap dengan sembilan ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas mempunyai respons yangberbeda-beda terhadap me dia perlakuan, namun secara keseluruhan biaya produksi bibit batang bawah jeruk dapatditekan dari penggantian sukrosa dengan gula pasir. Komposisi me dia untuk regenerasi tu nas citromelo yang cocokadalah MT + 0,5 mg/l BAP + 0,02 mg/l NAA + 40 mg/l adenin sulfat + 30 g/l gula pasir dengan kecepatan multiplikasitu nas citromelo mencapai 6,25 tu nas per eksplan. Komposisi me dia pengakaran yang cocok untuk citromelo adalahMS + 1 mg/l NAA + 30 g/l gula pasir. Me dia untuk regenerasi tu nas JC adalah MT+0,5 Mg/l BAP+0,02 mg/l NAA+30g/l gula pasir. Protokol dalam proses produksi bibit batang bawah jeruk JC dan citromelo dimulai dari inisiasi kaluspada me dia B5 yang diperkaya dengan BAP+2,4-D kemudian kalus disubkulturkan ke me dia 0,1-0,5 mg/l BAP+0,02mg/l NAA. Setelah terbentuk tu nas dengan tinggi 2-3 cm dipindahkan ke me dia pengakaran, dan 3-4 minggukemudian plantlet siap diaklimatisasi atau ditransplan ke me dia campuran tanah dalam polibek.Kata kunci: Jeruk; Citromelo; Japanche citroen; Perbanyakan; Me dia; In vi troAB STRACT. Triatminingsih, R. and Karsinah. 2004. In vi tro prop a ga tion of citromelo and JC. This re searchwas con ducted at In do ne sian Fruit Re search In sti tute, Solok, West Sumatera, from Feb ru ary un til De cem ber 2002.The ob jec tive of the re search was to find out tech nol ogy in vi tro re gen er a tion of citromelo and JC. The treat ments werear ranged in RCBD with nine rep li ca tions. Re sults showed that the va ri ety tested have in di cated the same re sponse tothe me dia used and the cost was sig nif i cantly re duced through the re place ment of su crose with sug ar cane. Com po si -tion of me dia for citromelo re gen er a tion is MT + 0,5 mg/l BAP + 0,02 mg/l NAA + 40 mg/l ad e nine sul phate + 30 g/lsugarcane with rate of sprouts pro duc tion at 6.25 plantlets each explant, while for root ing me dia was MS + 1 mg/lNAA + 30 g/l sugar cane. Me dia for JC sprout re gen er a tion was MT+0,5 mg/l BAP+0,02 mg/l NAA+30 mg/lsugarcane. Pro to col for understam seed ling pro duc tion of citromelo and JC was ini ti ated by us ing B5 me dia en richwith BAP+2,4-D for cal lus ini ti a tion and then subcultured to me dia of 0,1-0.5 mg/l BAP+0.02 mg/l NAA. Af ter thesprout reached 2-3 cm height then transfered to root ing me dia. Af ter 3-4 weeks, the plantlets were ac cli ma tized andtransplanted to mix ture soil me dia in a polybag.
Pemanfaatan Tomat dan Sirsak sebagai Bahan Dasar Pembuatan Produk Suplemen Kesehatan K Iswari
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n4.2015.p367-376

Abstract

Pengolahan tomat dan sirsak menjadi serbuk instan merupakan salah satu cara untuk memperpanjang masa simpan, memperluas jangkauan distribusi, dan meningkatkan nilai guna. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat pada bulan Maret sampai dengan Desember 2012. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan varietas tomat yang cocok dan formula terbaik dari campuran tomat dan sirsak untuk pembuatan serbuk instan yang dapat berfungsi sebagai produk suplemen kesehatan. Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak lengkap dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor I adalah varietas tomat, yaitu Martha dan Maya, faktor ke II adalah perbandingan tomat dengan sirsak. Hasil penelitian menunjukkan bahwavarietas tomat yang cocok untuk diolah menjadi serbuk instan adalah varietas Martha yang dicampur sirsak dengan perbandingan 60% : 40%. Berdasarkan uji organoleptik serbuk instan pada perlakuan tersebut sangat disukai panelis baik dari warna, rasa, aroma maupun tekstur. Berdasarkan angka kecukupan gizi per hari (AKG) terbukti serbuk instan yang dihasilkan dapat digunakan sebagai produk suplemen. Umur simpan produk 8 bulan pada suhu ruang, dengan laju penurunan kadar vitamin C sebesar 5.1831 mg/100 g/ bulan berdasarkan persamaan y = -  5.1831x+99.028. Implikasi dari penelitian ini adalah dapat memberikan manfaat bagi para petani  dan kelompok industri pengolahan terutama yang bergerak pada pengolahan komoditas sayuran dan buah-buahan guna menunjang pengembangan agroindustri di pedesaan.
Perbanyakan Lisianthus [Eustoma grandiflorum (Raf.)] Shinn Secara In Vitro Menggunakan Kuncup Bunga sebagai Sumber Eksplan (Micropropagation of Lisianthus [Eustoma grandiflorum (Raf.)] Shinn Using Flower Bud as Explant Source) Herni Shintiavira; Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p41-48

Abstract

Lisianthus [Eustoma grandiflorum (Raf.)] Shinn merupakan tanaman hias bernilai ekonomi tinggi. Pengembangan jenis tanaman ini terkendala oleh keterbatasan benih bermutu. Penyediaan benih bermutu melalui pemanfaatan kuncup bunga pada kultur in vitro lisianthus dilakukan dalam penelitian. Penelitian bertujuan mendapatkan teknologi perbanyakan lisianthus menggunakan kuncup bunga. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung pada Januari hingga Desember 2013. Penelitian ini menggunakan E. grandiflorum klon 05 NK-70 dengan sumber eksplan kelopak bunga, mahkota, kepala sari, ovarium, dan penyangga bunga. Penelitian terdiri atas empat percobaan, yaitu Percobaan 1, eksplan diinisiasi pada media Murashige & Skoog (MS), MS +0,2 mg/l benzylaminopurin (BAP) + 0,02 mg/l asam naftalen asetat (NAA), MS+0,5 mg/l BAP + 1,5 mg/l thidiazuron (TDZ) dan MS+0,25 mg/l BAP. Percobaan 2, tunas hasil inisiasi diperbanyak pada media MS dan MS + 0,2 mg/ l BAP +0,02 mg/l NAA. Percobaan 3, pencegahan roset pada planlet dengan aplikasi media MS + 0,1–10 mg/l asam giberelin (GA3). Percobaan 4, induksi perakaran menggunakan media MS + 0,1–0,5 mg/l asam asetat-3-indol (IAA) tanpa atau ditambah 1 g/l arang aktif. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 3–4 ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyangga bunga merupakan eksplan paling responsif dalam inisiasi tunas dan perbanyakan tunas pada media MS + 0,2 mg/l BAP + 0,02 mg/l NAA. Sementara media MS +7 mg/l GA3 sesuai untuk mencegah roset dan media MS +0,5 mg/l IAA + 1 g/l arang aktif sesuai untuk pengakaran tunas. Planlet diaklimatisasi menggunakan campuran arang sekam dan cocopeat dengan tingkat keberhasilan mencapai 80–100%.KeywordsLisianthus [Eustoma grandiflorum (Raf.)] Shinn; Benih bermutu; Kuncup bunga; In vitro; PerbanyakanAbstractLisianthus [Eustoma grandiflorum (Raf.)] Shinn is an high economic value ornamental plant. However development of the plant was restricted by the limited of qualified plant propagating. Preparing the qualified plant propagation via in vitro culture using flower buds was studied in this research. Objective of the research was to obtain technology of mass propagation of lisianthus explants of flower buds.The experiment was conducted at Tissue Culture Laboratory, Indonesian Ornamental Crops Research Institute from January to December 2013. Eustoma grandiflorum 05 NK-70 clone was used as donor plant in the study. Explant type tested in experiment were sepal, petal, anther, ovary, and receptacle. This experiment consisted of four activities. Activitiy 1, shoot initiation at Murashige & Skoog (MS) medium, MS +0.2 mg/l BAP+ 0.02 mg/l NAA, MS+0.5 mg/l BAP + 1.5 mg/l TDZ and MS+ 0.25 mg/l BAP. Activitiy 2, shoot propagation at medium of MS and MS + 0.2 mg/ l BAP +0.02 mg/l NAA. Activitiy 3, application of GA3 in concentration of 0.1–10.0 mg/l added in MS medium was carried out to prevent rosette problem. Activitiy 4, root initiation on MS medium augmented with 0.1–0.5 mg/l IAA with or without 1 g/l activated-charcoal. The experiments were arranged in a complete randomized design (CRD) with 3–4 replications. Results of the study indicated that flower receptacle is most responsif explant of flower bud fragment in shoots initiation and shoots propagation cultured on MS media containing 0.2 mg/l BAP + 0.02 mg/l NAA. MS medium augmented with 7.0 mg/l GA3 was optimum medium for preventing rosette explant. MS medium containing 0.5 mg/l IAA and 1 g/l activated-charcoal was suitable rooting medium. Plantlets were easily acclimatized in burned-rice husk and cocopeat mixture medium with 80-100% survivability.
Pengaruh Varietas dan Ukuran Umbi terhadap Produktivitas Bawang Merah Azmi, C; Hidayat, Iteu Margaret; Wiguna, Gugun
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n3.2011.p206-213

Abstract

Peningkatan areal pertanaman bawang merah mendorong peningkatan pemanfaatan varietas unggul dan ketersediaan umbi berkualitas sebagai sumber benih. Studi varietas dan ukuran umbi bawang merah terhadap produktivitas hasil telah dilakukan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari bulan Agustus sampai November 2009. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh varietas dan ukuran umbi terhadap produktivitas bawang merah. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok pola factorial dengan enam ulangan. Tiga varietas yaitu: Bima, Maja, dan Sumenep dan ukuran umbi, yaitu: kecil (1,04 - 1,29 cm), sedang (1,47-1,67 cm), dan besar (1,93-2,05 cm) diuji dalam penelitian ini. Parameter yang diamati ialah jumlah umbi, diameter umbi, bobot basah, dan bobot kering umbi per rumpun dan per umbi serta per plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas bawang merah menggunakan umbi ukuran sedang tidak berbeda nyata dengan umbi ukuran besar. Penggunaan umbi ukuran sedang dalam sistem produksi bawang merah dapat mengurangi biaya produksi sebesar 33-40% tanpa mengurangi tingkat produktivitasnya. Increasing of shallots cultivation area stimulates improving utility of superior varieties and availability of qualified-bulb as seed source. Study on the effect of variety and bulb size on the shallots productivity was conducted at Margahayu Experimental Garden of Indonesian Vegetable Research Institute from August till November 2009. The objective of this study was to determine the effect of variety and bulb size on the shallots productivity. Factorial experiment was arranged in a randomized complete block design with six replications. Three varieties i.e. Allium ascalonicum Bima, Maja, and Sumenep and bulb sizes of small (1.04-1.29 cm), medium (1.47-1.67 cm), and large (1.93-2.05 cm). Parameters observed in the experiment were number of bulb, bulb diameter, fresh and dry bulb weight per bulb, plant, and plot. The research results indicated that shallots productivity derived from medium bulbs was not significantly different compared to the large size of bulbs. Medium bulb size was appropriate applied in shallots cultivation due to reduce the production cost down to 33-40%.
Pengaruh Durasi Pemaparan Etilen dan Suhu Degreening untuk Membentuk Warna Jingga Jeruk Siam Banyuwangi Nurfitri Ramadhani; Y A Purwanto; Roedhy Poerwanto
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n3.2015.p277-286

Abstract

Jeruk siam pada umumnya berwarna hijau. Teknologi degreening yang tepat dapat memperbaiki warna kulit jeruk tropika menjadi jingga secara seragam. Degreening merupakan proses perombakan pigmen hijau (klorofil) pada kulit jeruk secara kimiawi dan membentuk warna kuning atau jingga (karotenoid) tanpa memengaruhi kualitas internal buah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh durasi pemaparan etilen dan suhu degreening untuk memunculkan warna jingga pada jeruk siam Banyuwangi. Etilen 200 ppm diinjeksikan ke dalam box degreening yang berisi jeruk sebanyak 2,8 kg dan dipaparkan pada cooling chamber dengan suhu 15, 20 dan 25oC selama 0, 24, 48, dan 72 jam. Pemaparan etilen dilakukan dengan metode multiple shot. Setelah pemaparan, jeruk kemudian disimpan pada suhu ruang. Pengamatan dilakukan setiap 2 hari, yaitu (a) pengamatan non-destruktif dilakukan dengan menggunakan color reader dan metode citrus color chart (CCC) untuk mengetahui perubahan warna dan (b) pengamatan destruktif dilakukan dengan mengukur kandungan klorofil dan karotenoid serta mengukur kekerasan, TPT, TAT, dan vitamin C untuk mengetahui perubahan fisikokimia jeruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi terbaik adalah durasi pemaparan etilen selama 48 jam dengan suhu 20oC yang dapat mengubah warna jeruk menjadi jingga cerah dan tidak memberikan pengaruh negatif terhadap kualitas internal buah.

Page 73 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue