cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Sta tus Resistensi Lima Strain Plutella xylostella L. terhadap Formulasi Fipronil, Deltametrin, Profenofos, Abamektin, dan Bacillus thuringiensis Moekasan, Tony Koestony; Sastrosiswojo, Soedarwo -; Rukmana, T. -; Sutanto, H. -; Purnamasri, I. S.; Kurnia, A. -
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n2.2004.p84-90

Abstract

Toksisitas formulasi insektisidafipronil, deltametrin, profenofos, abamektin, Ba cil lus thuringiensis subsp./var.kurstaki strain EG 7841 (crymax WDG) dan B. thuringiensis subsp./var. kurstaki strain HD-7 (dipel WP) diuji dilaboratorium terhadap lima strain lapangan larva Plutella xylostella (L.) yang berasal dari pusat pertanaman kubis diLembang, Pangalengan, Kejajar/Dieng, Batu, dan Berastagi mulai bulan Sep tem ber 2000 sampai dengan Februari2001. Pengujian menggunakan metode pencelupan potongan daun kubis ke dalam tiap larutan insektisida ujikemudian larva P. xylostella instar 2 dan atau 3 diletakkan pada potongan daun kubis tersebut. Penghitungan nilaiLC50 tiap jenis insektisida yang diuji dilakukan menggunakan pro gram komputer analisis probit. Hasil penelitianmenunjukkan, terdapat perbedaan kerentanan P. xylostella, tergantung pada asal (strain) P. xylostella. Berdasarkannilai LC50 insektisida uji, pada umumnya P. xylostella strain Lembang, Pangalengan, Kejajar/Dieng, dan Batu sangatresisten terhadap deltametrin dan profenofos kecuali strain Berastagi tidak diketahui. Semua strain P. xylostella(Lembang, Pangalengan, Kejajar/Dieng, Batu, dan Berastagi) rentan terhadap fipronil dan B. thuringiensis subsp./varkurstaki strain EG 7841. Plutella xylostella strain Lembang, Pangalengan, dan Berastagi sangat resisten terhadap B.thuringiensis subsp./var. kurstaki strain HD-7, sedang P. xylostella strain Kejajar/Dieng dan Batu agak resistenterhadap abamektin. Berdasarkan hasil penelitian ini terbukti, bahwa pemantauan perkembangan resistensi P.xylostella terhadap jenis insektisida yang umum digunakan oleh petani kubis sangat penting dilakukan secara rutin.Hasil penelitian ini juga berguna untuk menyusun data dasar LC50 dan strategi pengelolaan resistensi insektisida.AB STRACT. Moekasan, T.K., S. Sastrosiswojo, T. Rukmana, H. Sutanto, I.S. Purnamasari, and A. Kurnia.2004. Re sis tance study in five strains of Plutella xylostella (L.) to fipronil, delta meth rin, Ba cil lus thuringiensis,profenofos, and abamectin for mu lated prod ucts. The tox ic ity of fipronil, delta meth rin, profenofos, abamectin, Ba -cil lus thuringiensis subsp./var kurstaki strain EG 7841 (crymax WDG), and B. thuringiensis subsp./var. kurstaki strainHD-7 (dipel WP), was as sessed in the lab o ra tory against field strains of di a mond back moth (DBM), Plutellaxylostella (L.) from Lembang, Pangalengan, Kejajar/Dieng, Batu, and Berastagi cab bage grow ing ar eas us ing aleaf-dip bioassay us ing sec ond or third instar lar vae. Re sults in di cated that there were dif fer ences in DBM susceptibilityde pend ing upon their or i gin. In gen eral, Lembang, Pangalengan, Kejajar/Dieng, and Batu DBM strains werehighly re sis tant to delta meth rin and profenofos ex cept for Berastagi DBM strain was un known, based on their LC50val ues. All DBM field strains (Lembang, Pangalengan, Kejajar/Dieng, Batu, and Berastagi) were sus cep ti ble tofipronil and B. thuringiensis subsp./var strain kurstaki EG 7841 (crymax WDG), ex cept for Pangalengan strain in di -cated slightly re sis tant to crymax WDG. Highly re sis tant was shown by DBM strains from Lembang, Pangalengan,and Berastagi to B. thuringiensis subsp./var kurstaki strain HD-7 (dipel WP), and mod er ate re sis tant was shown byDBM strains from Kejajar/Dieng and Batu to abamectin. Re sults from lab o ra tory bioassay sug gest that pop u la tions ofP. xylostella from the cen ters of most veg e ta ble grow ing ar eas have evolved re sis tance to delta meth rin and profenofos,and partly to B. thuringiensis and abamectin. This study also proved that rou tine mon i tor ing on the de vel op ment ofDBM resitance to com monly used of in sec ti cides by cab bage farm ers is very im por tant. Re sult of this study is use ful toes tab lish base line data of LC50 and strategy for insecticide resistance management.
Identifikasi Permasalahan dan Analisis Usahatani Bawang Merah di Dataran Tinggi Pada Musim Hujan di Kabupaten Majalengka Rofik Sinung Basuki
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p266-275

Abstract

Untuk mengurangi impor bawang merah salah satu caranya adalah  dengan meningkatkan produksi bawang merah di dataran tinggi pada musim hujan. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan identifikasi permasalahan dan analisis usahatani bawang merah di musim hujan di dataran tinggi khususnya di Kabupaten Majalengka. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei di Desa Cibunut dan Tejaguna, Majalengka pada bulan Oktober–November 2009. Dari tiap desa dipilih 30 petani responden. Pemilihan lokasi dan petani dilakukan secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara individu. Analisis dilakukan menggunakan metode statistik deskriptif dan analisis biaya usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Desa Cibunut umumnya petani menggunakan varietas Maja dan hasilnya dijual untuk benih, sedangkan di Desa Tejaguna petani menggunakan varietas Bali Karet dan hasilnya terutama dijual untuk konsumsi. Permasalahan utama yang dihadapi petani di kedua desa tersebut kurang lebih sama yaitu serangan hama dan penyakit, rendahnya harga bawang merah karena masuknya bawang merah impor, dan kurangnya modal untuk beli pupuk dan pestisida.  Hama utama adalah ulat Spodoptera exigua, dan penyakit utama adalah Alternaria dan Fusarium. Dibandingkan dengan dosis pupuk rekomendasi, dosis pupuk N dan P2O5 yang digunakan petani di kedua desa penelitian terutama di Cibunut, nampaknya berlebihan, sedangkan penggunaan pupuk K2O masih kurang. Sebagian besar petani masih melakukan penyemprotan secara berjadwal menggunakan pestisida campuran. Usahatani bawang merah di musim hujan bagi petani di Desa Cibunut dan Tejaguna merupakan penghasilan utama yang cukup menguntungkan. Keuntungan yang diperoleh petani di Cibunut adalah sekitar 4,2 juta rupiah per hektar dengan R/C ratio 1,10 dan di Tejaguna sekitar 3,1 juta rupiah per hektar dengan R/C ratio 1,07.
Variabilitas Genetik antara Tanaman Induk Manggis dan Keturunannya Elina Mansyah; Muhamad Jawal Anwaudinsyah; F. Usman; T. Purnama
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n4.2004.p229-237

Abstract

Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Mei 2002 di laboratorium Biologi Molekuler dan Immunologi,Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan-Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variabilitas genetikantara tanaman induk manggis dan keturunannya. Observasi dilakukan menggunakan tiga tanaman induk manggisyang berasal dari Sumatera Barat, yaitu Balai Baru (Kodya Padang), Padang Laweh dan Subarang Sukam (KabupatenSawahlunto/Sijunjung) dengan keturunannya masing-masing. Tanaman keturunan berupa bibit semaian darimasing-masing tanaman induk yang berumur 1 tahun. Analisis variabilitas genetik dilakukan melalui teknik RAPDmenggunakan lima primer terseleksi, yaitu SB-13 (AGTCAGCCAC), SB-19 (CAGCACCCAC), OPH-12(ACGCGCATGT), OPH-13 (CACGCCACAC), dan OPH-18 (GAATCGGCCA). Hasil penelitian menunjukkanbahwa terdapat variasi genetik antara induk manggis dan keturunannnya yang ditunjukkan oleh ketidakmiripan antarapola pita DNA. Variasi genetik rataan dari individu turunan adalah sebesar 56,35%. Hasil penelitian ini memperkuatinformasi tentang variabilitas genetik pada manggis, dan membuka peluang perbaikan varietas melalui seleksiterhadap populasi manggis indijenus.Kata kunci: Garcinia mangostana L.; Variabilitas genetik; Tanaman induk; Turunan; RAPD.AB STRACT. Mansyah, E., M. J. Anwaruddin Syah, F. Usman, and T. Purnama. 2004. Ge netic vari abil itybetween man go steen mother plants and their off springs. The re search was con ducted on Jan u ary un til May 2002 atMo lec u lar Bi ol ogy and Im mu nol ogy Lab o ra tory of Es tate Bio tech nol ogy Ex per i men tal Unit Bogor The ob jec tive ofthis study was to de ter mine the ge netic vari abil ity be tween man go steen mother plants and their off springs. Plant ma te -ri als used were three man go steen mother plants from West Sumatera i.e. Balai Baru (in clud ing in Padang mu nic i pal -ity), Padang Laweh, and Subarang Sukam (both in clud ing in Sawahlunto/Sijunjung re gency) and their off springs. Theoff springs were one year old seed ling which was de rived from each mother plants. Ge netic vari abil ity was ob served byus ing RAPD tech nique and five se lected prim ers i.e.: SB-13 (AGTCAGCCAC), SB-19 (CAGCACCCAC), OPH-12(ACGCGCATGT), OPH-13 (CACGCCACAC), and OPH-18 (GAATCGGCCA). The re sults showed that there werege netic variabilities be tween the mother plants and their off spring as in di cated by dis sim i lar i ties of DNA band ing pat -terns. The av er age of ge netic vari abil ity for the off spring was 56.35%. This re sults would sup port the in for ma tionabout the pres ence of ge netic vari abil ity on man go steen and lead ing to va ri etal im prove ment op por tu nity throughse lec tion of in dig e nous pop u la tion.
Perilaku Memanggil Ngengat Betina dan Evaluasi Respons Ngengat Jantan terhadap Ekstrak Kelenjar Feromon Seks pada Tanaman Cabai Merah Ashol Hasyim; Wiwin Setiawati; Rini Murtiningsih
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n1.2013.p72-79

Abstract

Helicoverpa armigera merupakan hama penggerek buah pada tanaman cabai merah di Indonesia. Kehilangan hasil  akibat serangan H. armigera dapat mencapai 60%. Pengendalian yang umum dilakukan ialah menggunakan insektisida secara intensif, yang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Feromon seks merupakan salah satu alternatif cara yang dapat digunakan untuk memonitor dan mengendalikan H. armigera. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perilaku kawin ngengat betina H. armigera dan untuk mengevaluasi respons ngengat jantan terhadap feromon seks dari kelenjar ngengat betina dara H. armigera  pada tanaman cabai merah. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran dan di lahan petani di Desa Pabedilan Kaler, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon dari Bulan April 2009 sampai dengan Maret 2010. Penelitian dilakukan pada tiga tahap kegiatan yaitu : (1) perilaku memanggil betina dara dilakukan dengan cara memasukkan 20 ekor betina dara ke dalam vial plastik (10 ml) dan diberi makan larutan sukrosa 10%. Perilaku memanggil diamati setiap jam sepanjang malam, dimulai dari saat periode gelap mulai pukul 18.00 – 06.00, perlakuan diulang tiga kali, (2) untuk mengetahui respons ngengat jantan terhadap feromon seks dilakukan menggunakan tabung olfaktometer. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok terdiri atas lima perlakuan dan diulang lima kali, dan (3) evaluasi feromon seks  dilakukan di lahan petani di Kabupaten Cirebon. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku memanggil betina dara H. armigera mulai umur 1 hari mencapai maksimum pada hari ketiga pada periode 7 sampai 8 jam setelah scotophase. Respons ngengat jantan tertinggi terhadap feromon seks diperoleh dari ekstrak kelenjar feromon asal betina dara umur 4 hari sebesar 20,33% dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya kecuali dengan betina dara umur 2 dan 3 hari. Kerusakan buah cabai terendah dan berbeda nyata diperoleh dari perlakuan feromonoid seks + insektisida (9,25%) diikuti  feromon seks + insektisida (16,13%), dan insektisida (13,55%). Kerusakan buah cabai tertinggi (49,29%) diperoleh pada  perlakuan kontrol. Kombinasi antara penggunaan feromon dengan insektisida mampu menekan kehilangan hasil buah cabai merah akibat serangan H. armigera sebesar 61,10 – 62,18 % bila dibandingkan dengan kontrol. Feromon seks merupakan senyawa kimia yang efektif untuk memonitor dan mengendalikan populasi H. armigera pada tanaman cabai di lapangan.
Analisis Konjoin Preferensi Konsumen terhadap Atribut Produk Kentang, Bawang Merah, dan Cabai Merah Witono Adiyoga; Nurmalinda Nurmalinda
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n3.2012.p292-302

Abstract

ABSTRAK. Pemahaman tentang preferensi konsumen sangat penting dalam proses pengambilan keputusan pemangku kepentingan utama, termasuk bagi produsen/petani serta berbagai pihak terkait yang beroperasi di dalam subsektor sayuran. Penelitian ini diarahkan untuk menghimpun informasi menyangkut preferensi konsumen atau optimalisasi utilitas atribut produk untuk komoditas prioritas/unggulan sayuran (kentang, bawang merah, dan cabai merah). Kegiatan penelitian dilaksanakan pada Bulan Juni sampai dengan September 2008 di tiga kota besar konsumen sayuran, yaitu Jakarta (DKI Jaya), Bandung (Jawa Barat), dan Padang (Sumatera Barat). Penelitian survai menggunakan kuesioner terstruktur dilaksanakan untuk mewawancarai 335 responden yang dipilih secara acak di ketiga kota tersebut. Atribut produk yang diamati mencakup atribut eksternal, internal, dan organoleptik. Preferensi konsumen diidentifikasi menggunakan analisis konjoin yaitu salah satu modul dalam program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen mengekspresikan preferensinya terhadap kentang yang berukuran 6­–8 butir/kg, berkulit mulus, dan memiliki jumlah mata sedikit (<10). Konsumen menganggap ukuran umbi kentang merupakan faktor terpenting dalam menilai atau membeli kentang, dan secara berturut-turut diikuti oleh faktor permukaan kulit serta jumlah mata. Sementara itu, bawang merah yang paling disukai konsumen ialah bawang merah dengan diameter umbi 2,5 cm, berwarna kulit merah-ungu tua, dan beraroma tidak menyengat. Urutan kepentingan atribut bawang merah menurut persepsi konsumen secara berturut-turut yaitu warna kulit, ukuran umbi, serta aroma. Sementara itu, konsumen lebih menyukai cabai merah yang besar, kulit berwarna merah terang, dan memiliki kepedasan agak pedas. Dalam konteks atribut produk cabai merah yang digunakan untuk mengukur preferensi, faktor terpenting yang berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan yaitu warna kulit, dan secara berturut-turut diikuti oleh faktor jenis cabai serta tingkat kepedasan.ABSTRACT. Adiyoga, W and Nurmalinda 2012. Conjoint Analysis of Consumer Preferences on Potato, Shallots, and Hot Pepper’s Product Attributes. Understanding consumer preferences is important in the context of decision-making of key stakeholders, including producers themselves, as well as development agencies that operate in the vegetable subsector. This study was aimed at collecting information on consumer preference or optimizing the utility of product attributes of vegetable priority crops (potato, shallots, and hot peppers). It was carried out in June-September 2008 in three big vegetable consuming cities, Jakarta (Capital Special-Region of Jakarta), Bandung (West Java), and Padang (West Sumatera). Survey method by using a structured questionnaire was implemented to interview 335 respondents randomly selected in the three cities. Parameters observed were external, internal, and organoleptic attributes. Consumer preferences were identified by using conjoint analysis – a module in Statistical Program for Social Sciences (SPSS). The results showed that consumers express their preference to potato that has some characteristics, such as medium size of tuber (6-8 tubers/kg), smooth-flawless skin, and few numbers of eyes (<10). Tuber size were perceived as the most important factor affecting purchasing decision, and followed by skin and number of eyes. The most preferred shallots was the one that has a diameter of 2.5 cm in size, dark-violet red skin color, and least strong aroma. The rank of shallot’s attributes importance as perceived by consumers were skin color, tuber size, and aroma, consecutively. Meanwhile, consumers prefer hot peppers that has the characteristics of bright-red skin color, big-hot peppers type, and slightly hot. Within the context of measuring preference, the most important hot peppers attribute that influences consumer decision making were skin color, and then followed by hot peppers type, and hotness.
Pengaruh Larutan Pulsing dalam Pengemasan dan Pengangkutan Bunga Mawar Potong Dwi Amiarsih; Yulianingsih -; Sjaifullah -
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n4.2003.p285-291

Abstract

Penggunaan larutan pulsing bunga sebelum pengemasan dan pengangkutan sangat berguna untuk menggantikan sumber karbohidrat, melindungi tangkai bunga dari serangan mikroorganisme penyebab penyumbatan, menjaga kualitas bunga tetap prima, dan dapat memperpanjang masa kesegaran bunga setelah pengangkutan. Penelitian bertujuan mendapatkan larutan pulsing dalam pengemasan dan pengangkutan bunga mawar potong varietas kiss guna memperpanjang masa kesegaran setelah pengangkutan. Bunga mawar potong kiss dipanen di Sukabumi dengan tingkat kemekaran 0-10%, kemudian direndam dalam larutan pulsing (AgNO3 20 ppm + gula pasir 5% + asam sitrat 320 ppm selama 12 jam). Selanjutnya bunga mawar dikemas dalam wadah (berisi masing-masing larutan holding; akuades dan dikemas kering) dan diletakkan dalam karton berukuran 78 x 20 x 8 cm berkapasitas 20 tangkai bunga mawar potong. Sebagai kontrol bunga tanpa direndam dalam larutan pulsing. Setelah bunga dikemas, kemudian diangkut dengan mobil pendingin (5o-10oC) dan tanpa pendingin (27o-30oC) selama 20 jam. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan pengemasan dengan akuades selama pengangkutan 20 jam merupakan perlakuan yang terbaik dengan masa kesegaran bunga mencapai 9 hari dan persentase kemekaran bunga mencapai 100%. Perlakuan tersebut dapat mempertahankan kualitas bunga tetap prima dan dapat memperpanjang masa kesegaran bunga setelah pengangkutan. Kata kunci: Mawar; Pengemasan; Larutan perendam; Suhu pengangkutan; Mempertahankan mutu ABSTRACT. Dipping the lower portion of flower stems in the solution containing sugar and germicides before packaging and transportation was to supply carbohydrate and prevented the plugging of flower stems by microbial growth. Furthermore, in was prolonged the periode of flowers vaselife and kept flower quality af- ter transportation. The objective of the study was to find out both of proper pulsing solution, packaging and transporta- tion to keep the prime quality of flower cut rose c.v. kiss. The flowers were harvested from the field when the flowers was at 0-10% bud opening stages and then they were pulsed with solution of AgNO3 20 ppm + sugar 5% + citric acid 320 ppm for 12 hours. Each the flower was placed in the vials containing aquadest; holding solution) and put them in the boxes 78 x 20 x 8 cm with capacity 20 inflorescences. All treated cut flowers were transported for 20 hours with carchamber with temperature of 5o-10oC and 27o-30oC. The experiment was arranged on a completely randomized de- sign with three replications. The results indicated that wet packaging with aquadest during 20 hours transportation was the best treament which prolonged vaselife until 9 days and kept the inflorescence up to 100% bud opening. By apply- ing those treatment, the periode of flowers vaselife could be extended and quality after transportation could be main- tained.
Uji Virulensi Isolat Fusarium oxysporum f.sp. cubense Dalam Vegetative Compatibility Group Complex 0124 Pada Tanaman Pisang Catur Hermanto; Jumjunidang Jumjunidang; R P Yanda; Nasril Nasir
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n4.2013.p372-378

Abstract

Patogen Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) ras 1 dilaporkan tidak patogenik terhadap pisang kelompok Cavendish, namun beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ras 1 pada kondisi tertentu juga dapat menyerang pisang kelompok Cavendish. Sedikit laporan tentang variasi virulensi Foc ras 1 dalam VCG complex 0124 terhadap pisang Ambon Kuning (AAA/Gros Michel) dan Ambon Hijau (AAA/Cav.subgroup). Tujuan penelitian ialah mengetahui variasi virulensi isolat Foc dalam VCG complex 0124 terhadap pisang Ambon Kuning dan Ambon Hijau. Penelitian dilakukan di Laboratorium Proteksi dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok, dari Bulan April sampai Oktober 2011. Rancangan yang digunakan ialah acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan setiap perlakuan terdiri atas 10 tanaman. Faktor pertama ialah lima isolat Foc dalam VCG complex 0124: F1=0124/5 (WJP 02), F2=0124/5/8 (WJG 03), F3=0124/5/8 (WJG 09), F4=0124/5 (Indo 119), dan F5=0124/5/20 (02020114B) dan faktor kedua ialah dua varietas pisang yaitu: V1= varietas Ambon Hijau (AAA/Cav.subgroup) dan V2=varietas Ambon Kuning (AAA/Gros Michel). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat Foc dalam VCG complex 0124 yang diuji dapat menyerang pisang Ambon Kuning dan Ambon Hijau dengan persentase serangan yang sangat tinggi yaitu 96,67–98,33%. Perlakuan tunggal jenis isolat terhadap peubah masa inkubasi menunjukkan bahwa isolat 0124/5/8 (WJG 03) masa inkubasinya paling panjang yaitu 26,57 hari dan berbeda nyata dengan isolat lainnya. Masa inkubasi penyakit oleh semua isolat yang diuji pada Ambon Kuning lebih panjang (24,27 hari) dan berbeda nyata dengan Ambon Hijau (16,42 hari). Semua isolat Foc yang diuji sangat virulen pada pisang Ambon Kuning (AAA/Gros Michel) dan Ambon Hijau (AAA/Cav.subgroup) dengan indeks keparahan penyakit pada daun dan bonggol berkisar antara 4,72–5,22 dan 5,03–5,14. Hasil penelitian ini mendorong kajian lebih lanjut tentang biologi dan virulensi patogen dalam rangka memperoleh teknik pengendalian yang tepat.
Pewarnaan Kromosom dan Pemanfaatannya dalam Penentuan Tingkat Ploidi Eksplan Hasil Kultur Anter Anthurium Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n2.2011.p113-123

Abstract

Metode pewarnaan Kromosom yang optimal merupakan prasarat penting dalam penentuan level ploidi tanaman hasil kultur anter, termasuk variasi eksplan hasil kultur anter Anthurium. Aplikasi dan modifikasi metode pewarnaan kromosom pada berbagai eksplan dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Februari sampai dengan Agustus 2009 untuk mengetahui keragaman dan tingkat ploidi regeneran hasil kultur anter Anthurium. Penelitian bertujuan mendapatkan metode pewarnaan kromosom dan modifikasinya, jenis eksplan dan akar yang sesuai untuk mempelajari tingkat ploidi regeneran hasil kultur anter Anthurium. Bahan yang digunakan ialah kalus, pucuk tunas, dan ujung akar udara. Penelitian terdiri atas tiga kegiatan, yaitu (1) modifikasi metode pewarnaan kromosom, (2) seleksi eksplan yang sesuai untuk pewarnaan kromosom, dan (3) optimasi metode pewarnaan kromosom terseleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ujung akar dan akar yang ditumbuhkan pada medium yang mengandung 1% arang aktif merupakan jenis eksplan dan akar yang sesuai untuk mendapatkan hasil pewarnaan kromosom yang baik. Modifikasi metode pewarnaan kromosom dengan pemanasan ujung akar pada 1N HCl : asam asetat glasial 45% (3:1, v/v) selama 10 menit pada suhu 60oC dan perlakuan aseto-orcein selama 15 menit merupakan metode pewarnaan kromosom yang lebih baik dalam menghasilkan obyek kromosom yang mudah dihitung. Penerapan metode pewarnaan kromosom pada kultur anter Anthurium dapat memisahkan tingkat ploidi regeneran. Pada penelitian ini rasio ploidi regeneran kultur anter ialah 33,5% haploid, 62,7% diploid, dan 5,7% triploid. Metode pewarnaan kromosom yang berhasil dikembangkan dalam penelitian ini sangat bermanfaat dalam pengembangan teknologi haploid pada jenis Araceae yang lain.Optimal chromosome staining method is important pre-requisite in determination of plant ploidy level derived from anther culture, involving varied explants regenerated from Anthurium anther culture. Application and modification of chromosome staining methods on different explants were conducted at the Tissue Culture Laboratory of  Indonesian Ornamental Crops Research Institute from February to August 2009 for determination of the ploidy level of regenerants derived from anther culture of Anthurium. The aim of this research was to determine the chromosome staining method and its modifications, type of explant and root suitable to study the ploidy level of explants derived from anther culture of Anthurium. Callus, shoot tips, and root tips were utilized in the experiment. The research was consisted of three experiments, i.e. (1) modification of chromosome staining methods (2) selection of explants suitable for chromosome staining, and (3) improvement of the selected chromosome staining method. Results of the study indicated that root tips and roots cultured on medium containing 1% active carchoal were the most appropriate explants and the root type in obtaining better chromosome staining results. The modification method with root tip boiled in 1N HCl : 45% of acetic acid glacial (3:1, v/v) for 10 minutes in 60ºC and aceto-orcein treatment for 15 minutes gave appropriate chromosome staining results exhibited clearer chromosome pictures and was easy to be counted. The  application of chromosome staining on anther culture of Anthurium was able to distinguish the ploidy level of regenerants. Ploidy ratio of regenerants derived from anther culture was 33.5% of haploid, 62.7% of diploid, and 5.7% of triploid. Chromosome staining method resulted from the study give high benefit in developing haploid technologies on other Araceae plants.
Rekomendasi Pemupukan Berdasarkan Status Kandungan Hara N, P, dan K Daun pada Tanaman Jeruk Pamelo (Citrus maxima (Burm.) Merr.) Thamrin, Muhammad; Ruchjaniningsih, Ruchjaniningsih; Djufry, Fadjry; Yufdy, Muhammad Prama
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n3.2015.p201-207

Abstract

Status kandungan hara N, P, dan K daun pada tanaman jeruk pamelo dapat memberikan gambaran penentuan rekomendasi dosis pupuk N, P, dan K. Penelitian bertujuan untuk membangun rekomendasi pemupukan berdasarkan analisis jaringan daun dan menetapkan kategori tingkat kecukupan hara dan dosis maksimum pada tanaman jeruk pamelo. Penelitian survey dengan pengambilan sampel setelah panen dan menjelang berbunga dengan mengambil daun ke 3–4 pada daun dewasa (trubus akhir) dengan posisi cabang bagian atas. Penelitian optimasi pupuk N, P, dan K dilaksanakan di lahan petani jeruk pamelo Pangkep, Sulawesi Selatan pada bulan Januari 2013 sampai Mei 2014. Perlakuan dosis pupuk N terdiri atas : 0, 100, 200, 300, 400 N; P: 0, 100, 200, 300, 400 P2O5; dan K: 0, 150, 300, 450, 600 K2O/pohon/tahun. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima perlakuan dan setiap perlakuan terdiri atas enam ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap komponen produksi. Data hasil pengamatan diuji dengan analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi hara N, P, dan K daun dengan produksi buah masing-masing adalah rendah (<1,38%; <0,11%; <1,13%), sedang (1,38–2,15%; 0,11–0,20%; 1,02–2,31%), dan tinggi (>2,22%; >0,20%; >2,31%), konsentrasi optimum dengan hasil relatif 85% masing-masing (1,77%; 0,16%; >1,67%). Respons tanaman terhadap pemupukan nitrogen nyata meningkatkan komponen produksi dengan pola kuadratik. Rekomendasi pemupukan N, P, dan K tanaman jeruk pamelo pada status hara rendah, yaitu 475,30 g N, 582,24 g P2O5, dan 495,75 g K2O/pohon/tahun atau setara dengan 1,03 kg Urea, 1,62 kg SP-36, dan 0,83 kg KCl/pohon/tahun, sedangkan pada status hara sedang, yaitu 456,35 g N, 418,87 g P2O5, dan 458,72 g K2O/pohon/tahun atau setara dengan 0,99 kg Urea, 1,16 kg SP-36, dan 0,76 kg KCl/pohon/tahun
Perbaikan Teknologi Produksi Umbi Benih Bawang Merah dengan Ukuran Umbi Benih, Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh, dan Unsur Hara Mikroelemen Ety Sumiati; Nani Sumarni; A Hidayat
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n1.2004.p1-2

Abstract

Bawang merah untuk benih umumnya diperbanyak dengan menggunakan umbi. Penelitian bertujuan untukmemperbaiki cara perbanyakan umbi untuk benih yang berkualitas. Penelitian dilakukan di Desa Tambakan, Cagak,Subang ± 600 m dpl. Rancangan percobaan menggunakan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama ada tiga,yaitu ukuran umbi benih <3 g, 3-5 g, dan >5 g per umbi. Anak petak ada lima buah yaitu zat pengatur tumbuh enzimkarbonil 0,2 ml/l+ppc mikroelemen metalik 1,0 ml/l, enzim karbonil 0,2 ml/l + metalik 1,5 ml/l, triakontanol 0,2 ml/l +metalik 1,0 ml/l, triakontanol 0,2 ml/l + metalik 1,5 ml/l, dan kontrol. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa aplikasiukuran umbi benih >5 g per umbi yang diberi zat pengatur tumbuh triakontanol 0,2 ml/l + ppc mikroelemen metalik 1,5ml/l nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi bobot to tal umbi bawang merah untuk benih.Ame lio ra tion of seed production technology ofshal lot by ap pli ca tion of proper size of mother bulb, plant growth regulators, and microelement nutrient.Shal lot for seed generally are propagated by using the mother bulb. The aim of this experiment was to improve seedproduction technology to find out high quality and quantity of shallot mother bulbs. Research was conducted atTambakan, Cagak, Subang ± 600 m asl. A split plot design with three replication was set up in the field. Main plot wassize of mother bulbs, viz. : <3 g, 3-5 g, and >5 g per bulb, respectively. Subplot was plant growth regulators treatmentin combination with microelement nutrient, viz. : plant growth regulaor en zyme carbonyl 0.2 ml/l + microelementmetalic 1.0 ml/l, en zyme car bonyl 0.2 ml/l + metalic 1.5 ml/l, triakontanol 0.2 ml/l + metalic 1.0 ml/l, triakontanol 0.2ml/l + metalic 1.5 ml/l, and check. Research results revealed that application of size of mother bulb >5 g per bulb incombination with pgr triacontanol 0.2 ml/l + metalic 1.5 ml/l significantly increased growth and total production ofshallot bulbs for seed.

Page 74 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue