cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Modifikasi Media Tanam In Vitro untuk Perbanyakan Benih Gerbera (Gerbera jamesonii Bolus.) [In Vitro Media Modification to Mass Propagation of Gerbera through(Gerbera jamesonii Bolus.)] Eka fibrianty; Ridho kurniati; Budi marwoto; Kurnia yuniarto
Jurnal Hortikultura Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v31n2.2021.p105-112

Abstract

Produksi gerbera umumnya dilakukan melalui pemuliaan konvensional sehingga memerlukan waktu relatif lama dan tunas/anakan yang dihasilkan jumlahnya terbatas. Tujuan penelitian adalah mengoptimalkan metode perbanyakan massal gerbera secara in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Kebun Percobaan Tanaman Hias Cipanas dari bulan Januari 2019 – Februari 2020. Bahan tanaman yang digunakan adalah gerbera varietas Chandramaya Agrihorti, Zsofia Agrihorti, Nirwasita Agrihorti, Awandini Agrihorti, dan Arkadewi Agrihorti. Eksplan berupa capitulum bunga. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 40 kombinasi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi media MS + BAP 0,5 mg/l + TDZ 0,3 mg/l + Sukrosa 20 g/l + Gelrite 2 g/l merupakan media yang paling baik untuk menginduksi pembentukan kalus dan tunas lima varietas gerbera (varietas Nirwasita, Chandramaya, Arkadewi, Zsopia, dan Awandini).KeywordsGerbera; Kultur in vitro; TDZ; Produksi benihAbstractGerbera is usually produced through conventional breeding, which is time consuming and produce limited number shoots and explants. The objectives of the research was to optimize mass propagation method of gerbera in vitro. The research was conducted in Indonesian Ornamental Crops Research Institute, January 2019 until February 2020. Gerbera’s capitulum of Chandramaya Agrihorti, Zsopia Agrihorti, Nirwasita Agrihorti, Awandini Agrihorti and Arkadewi Agrihorti cultivars were used as explants. Design of the research was a completely randomized design, with eight treatment combinations. MS + BAP 0.5 mg/l + TDZ 0.3 mg/l + Sucrose 20 g/l + Gelrite 2 g/l was best media for callus induction and shoot formation in five gerbera cultivars (Nirwasita, Chandramaya, Arkadewi, Zsopia and Awandini cultivars).
Karakteristik Lahan untuk Kesesuaian Tanaman Apel (Malus sylvestris Mill.) di Kecamatan Sindang Dataran, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu nFN Nurmegawati; Yudi sastro; nFN yahumri; Jhon Firison; Lina Ivanti; darkam musaddad
Jurnal Hortikultura Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v31n1.2021.p41-50

Abstract

[Land Characteristics for Suitability of Apples (Malus sylvestris Mill.) in Sindang Dataran District, Rejang Lebong Regency, Bengkulu]Penilaian kesesuaian lahan merupakan tahap pertama dan penting dalam usaha pengembangan suatu komoditas pertanian. Kecamatan Sindang Dataran, Kabupaten Rejang Lebong merupakan salah satu lokasi yang direncanakan menjadi daerah pengembangan apel dengan temperatur udara mencapai 23oC dan ketinggian tempat bervariasi antara 785 – 1.129 lebih m dpl. dengan kondisi tanah yang cukup subur. Penelitian bertujuan untuk menentukan kelas kesesuaian lahan untuk tanaman apel. Penelitian dilakukan dengan metode survey dan observasi. Parameter yang diamati meliputi karakteristik lahan dan syarat tumbuh tanaman apel. Evaluasi kesesuaian lahan yang digunakan ialah kesesuaian lahan kualitatif, yaitu yang hanya didasarkan kondisi fisik lahan. Metode evaluasi kesesuaian lahan dilakukan dengan mengikuti prosedur dari FAO (1976), yaitu evaluasi kesesuaian lahan ini dilakukan dengan cara mencocokkan (matching) data antara karakteristik lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman apel dan hasilnya didasarkan pada nilai terkecil (hukum minimum) sebagai keputusan kesesuaian lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian lahan tanaman apel yang berada di Kecamatan Sindang Dataran, Kabupaten Rejang Lebong, dari faktor iklim termasuk S2 (cukup sesuai), sementara dari faktor ketersediaan hara termasuk S3 (sesuai marjinal). Hal yang menjadi faktor pembatas adalah rendahnya P tersedia, tetapi dapat diatasi dengan pemupukan sehingga dapat naik kelas menjadi S2. Melalui usaha pemupukan P maka Kecamatan Sindang Dataran memiliki potensi sebagai daerah pengembangan tanaman apel yang cukup sesuai.KeywordsKarakteristik lahan; Kesesuaian lahan untuk tanaman apel; Malus sylvertris MillAbstractLand suitability assessment is the first and important stage in the development of an agricultural commodity. Sindang Dataran District, Rejang Lebong Regency is one of the locations that is planned to be an apple development area with air temperatures reaching 23oC and altitude varying between 785–1,129 meters above sea level with fairly fertile soil conditions. The aim of the study was to determine the land suitability class for apple plants. The research was conducted using survey and observation methods. Parameters observed included land characteristics and growing conditions for apple plants. Land suitability evaluation used qualitative land suitability, which is only based on the physical condition of the land. The land suitability evaluation method is carried out by following the procedure from FAO (1976), namely the evaluation of land suitability is carried out by matching data between land characteristics and the requirements for growing apples and the results are based on the smallest value (minimum law) as a land suitability decision. The results showed that the suitability of the land for apple crops in Sindang Dataran District, Rejang Lebong Regency, from climatic factors including S2 (quite suitable), while from nutrient availability factors including S3 (marginal according to). The limiting factor is the low available P, but it can be overcome by fertilization so that it can be promoted to S2. Through P fertilization efforts, Sindang Dataran District has the potential as a suitable apple crop development area.
Parasitoid E. argenteopilosus sebagai Agens Pengendali Hayati Hama H. armigera, S. litura, dan C. pavonana pada Tumpangsari Tomat dan Brokoli Wiwin Setiawati; Tinni S Uhan; A Somantri
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n4.2005.p%p

Abstract

Kehilangan hasil tomat akibat serangan H. armigera dapat mencapai 52%. Usaha pengendalian hingga saat ini masih mengandalkan pada penggunaan insektisida, namun masih belum mampu menekan serangan hama tersebut. Penggunaan parasitoid E. argenteopilosus dikombinasikan dengan insektisida diharapkan dapat menekan populasi H. armigera. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan/efikasi parasitoid E. argenteopilosus dalam menekan perkembangan populasi dan serangan hama H. armigera, S. litura, dan C. pavonana pada sistem tumpangsari tomat dan brokoli. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang sejak bulan Juni sampai dengan November 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah dengan 4 ulangan. Sebagai petak utama adalah pelepasan parasitoid yang terdiri atas tanpa pelepasan dan dengan pelepasan. Sebagai anak petak adalah penggunaan insektisida terdiri atas tanpa insektisida, Spinosad, dan Deltametrin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelepasan parasitoid E. argenteopilosus mampu menekan serangan C. pavonana dan S. litura pada tanaman brokoli masing–masing sebesar 24,71 dan 97,24% serta H. armigera pada tanaman tomat sebesar 18,45%. Penggunaan insektisida Spinosad 120 SC efektif untuk mengendalikan C. pavonana dan S. litura pada tanaman brokoli masing-masing sebesar 95,41 dan 100% serta H. armigera pada tanaman tomat sebesar 94,83%. Tingkat parasitasi E. argenteopilosus tertinggi terjadi pada H. armigera sebesar 38,96%, C. pavonana 25,83%, dan S. litura sebesar 24,44%. Pelepasan parasitoid E. argenteopilosus dan penggunaan insektisida mampu mempertahankan hasil panen brokoli dan tomat dengan hasil panen cukup tinggi. Penggunaan insektisida dapat mengurangi populasi E. argenteopilosus sebesar 3,27% untuk insektisida Spinosad dan 50,42% untuk insektisida Deltamethrin 25 EC. Perpaduan antara penggunaan parasitoid dan insektisida selektif diharapkan dapat menghasilkan teknologi ramah lingkungan dan hasil panennya aman dikonsumsi.Eriborus argenteopilosus as a bio–control of H. armigera, S. litura, and C. pavonana on tomato and broccoli cropping system. Yield loss due to H. armigera up to 52%. Chemical pesticide has been intensively used in pest control, but did not totally control the pests. Integration of parasitoid with insecticide can reduce population of pests. The purpose of this experiment was to know the efficacy of E. argenteopilosus against H. armigera, S. litura, and C. pavonana on tomato and broccoli cropping system. The experiment was conducted in the field of Indonesian Vegetables Research Institute from June to November 2002. Split plot design was used in this experiment with 4 replications. Released of parasitoid was used as main plot, consisted of released and without released of parasitoid. Insecticide was used as subplot, without insecticide, Deltamethrin and Spinosad insecticide. The results of this experiment indicated that augmentation released of E. argenteopilosus parasitoid can reduce population of C. pavonana and S. litura on broccoli ca. 24.71 and 97.24% respectively and H. armigera on tomatoes up to 18.45%. The use of Spinosad can reduce population of C. pavonana and S. litura on broccoli ca. 95.41 and 100% respectively and H. armigera on tomatoes up to 94.83%. The highest parasitism was found on H. armigera ca. 38.96%, C. pavonana ca. 25.83% and S. litura ca. 24.44%. Augmentation released of parasitoid and the use of insecticide gave the highest yield compare to control. The use of insecticide can reduce population of parasitoid up to 3.27% for Spinosad and 50.42% for Deltamethrin. Pest control using integration of parasitoid with selective insecticide could promote environmental and food safety.
Penggunaan Pupuk TSP dan SP-36 pada tanaan Bawang Putih di Dataran Tinggi Yusdar Hilman; - Suwandi; Rini Rosliani
Jurnal Hortikultura Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v9n1.1999.p%p

Abstract

Abstrak. Efisiensi penggunaan pupuk fosfat pada bawang putih tergolong rendah. Salah satu alternatif untuk meningkakan efisiens penggunaan pupuk fofat adalah penggunaan pupuk SP-36 (Superfosfat 36). Penelitian ini dilaksanakan di lahan petani bawang putih di dataran tinggi iidey Kabupaten Bandung (1.400 d.p.l) dengantipe tanah andosol. Tujuan peneltian ini adalah untuk mendapatkan sumber da dosis fosfat yang paling efisien dan untuk mempelajari seberapa jauh pupuk SP-36 dapat mempertahankan hasil umbi serta perubahan ciri kimia tanah pada budidaya bawang putih. Perlakuan terdiri dari dua jenis pupuk fosfat yakni TSP dan SP-36 yang dikombinasikan dengan empat taraf dosis pemupukan fosfat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak kelompok dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pupuk SP-36 dan TSP pada berbagai dosis tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering, dan berat basah tanaman bawang putih dan tidak juga menigkatkan serapan nitrogen, fosfor, dan kalium total. Hasil umi total bawang putih tertinggi terjadi pada sumber fosfat yang berasal dari TSP dengan dosis 250 kg/ha, tetapi tidak berbeda nyata dengan pupuk fosfat yang berasal dari SP-36. Dengan demikian, pupuk fosfat yang berasal SP-36 dengan dosis 150 kg/ha merupakan penggunaan pupuk fosfat yang paling efisien. Peningkatan dosis TSP sedikit meningkatkan pH tanah, sebaiknya peningkatan dosis SP-36 cenderung memasamkan tanah. Makin tinggi dosis TSP dan SP-36 yang digunakan makin tinggi pula P ersedia di dalam tanah. Abstract.Utilization of triple superphniplaite (TSP). and superphosphate (SP)-36 fertilizers on garlic in highland of Ciwiday, The efficiency of using P fertilizer on garlic is low. One of the alternatives to increase the efficiency is by the utilization of SP-36 fertilizer,  Experiment was conducted at farmer's field at Ciwidey, West Jawa. The altitude was 1400 m a.s.l. with Andosol suit type. The objectives of this research were to find out the most efficient rate of phosphate fertilizer and to study how far SP-36 fertilizer could increase bulb yield as well as the change of soil chemical properties in the cultural practises of garlic. The treatments  consisted of 4 dosage levels each of TSP and SP-36. Result of the experiment showed that SP-36 and TSP fertilizers al all rates tested did not influence plant height, leaf number, dry weight and fresh weight of garlic plant nor increase the total N, P, and K uptakes. The highest increase in total yield occured al the rate of 250 kg/ha TSP. However, the most rieiefficient was 150 kg/ha SP-36. Utilization of TSP slightly increased soil pH, but SP-36 tended to decrease soil pH. Soil P availability can he improved by increasing TSP and SP-36 dosage.
Efektivitas Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) [(The Effect of Liquid Organic Fertilizer on Growth and Production of Shallot (Allium ascalonicum L.)] Mathias Prathama; Agnofi Merdeka Efendi; nFN Harmanto
Jurnal Hortikultura Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v32n1.2022.p%p

Abstract

Konsumsi bawang merah yang tinggi dan terus meningkat menyebabkan petani kesulitan untuk memenuhi permintaan bawang merah nasional. Usaha peningkatan produksi bawang merah dengan pemupukan yang intensif dan cenderung berlebihan mengakibatkan rusaknya lingkungan. Penggunaan pupuk organik cair (POC) dapat menjadi solusi untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan serta diharapkan mampu meningkatkan produksi bawang merah. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian POC asal urine sapi dan kelinci terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah dan untuk mengetahui potensi POC asal urine sapi maupun kelinci dalam mereduksi penggunaan pupuk NPK. Penelitian dilakukan di IP2TP Margahayu, Lembang, terdiri atas dua percobaan, enam perlakuan dengan lima ulangan di tiap percobaan. Perlakuan percobaan terdiri atas kontrol (tanpa pupuk), pupuk NPK dosis standar (500 kg/ha), POC urine sapi + setengah dosis standar NPK, POC urine kelinci + setengah dosis standar NPK, POC urine sapi, dan POC urine kelinci. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktor tunggal, di mana percobaan pertama menggunakan varietas Sembrani, dan percobaan kedua menggunakan varietas Trisula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi POC dengan setengah dosis pupuk NPK mampu mengimbangi perlakuan pemupukan NPK dengan dosis rekomendasi. Perlakuan pemupukan dengan POC tanpa penambahan pupuk anorganik tidak mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah.KeywordsBawang merah; Pupuk organik cair; Pertumbuhan; Produksi; UrineAbstractHigh and increasing shallot consumption resulting problem for farmers to meet the national shallot demand. The efforts to increase the shallot production with intensive fertilization cause more environmental damage. Liquid organic fertilizer (LOF) usage might be a solution to reduce environmental damage impact and is expected to increase the shallot production. This study purpose was to determine the effect of LOF from cow and rabbit urine on shallot’s growth and production, also to determine the potential of LOF from cow and rabbit urine in reducing the use of NPK fertilizer.  The study was conducted in IP2TP Margahayu. Lembang, consisting of two experiments, six treatments with five replications in each experiment. The experimental treatments consisted of control (without fertilizer), standard dose of NPK fertilizer (500 kg/ha), cow urine LOF + half standard dose of NPK, rabbit urine LOF + half standard dose of NPK, cow urine LOF, and rabbit urine LOF. The study used a single factor randomized block design (RBD), where the Sembrani variety was used in experiment one, and the Trisula variety was used in experiment two. The results showed that the combination of LOF with half NPK dosage was able to balance the treatment of NPK recommended dosage. While the treatment of only LOF was not able to increase shallot’s growth and production.
Penekanan Penularan Bean Common Mosaic Virus oleh Efek Penghambat Makan Kitosan Terhadap Aphis craccivora Koch. (Bean Common Mosaic Virus Transmission Inhibition by Antifeedant Chitosan Against Aphis craccivora Koch.) Dita Megasari; Tri Asmira Damayanti; Sugeng Santoso
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n2.2019.p209-218

Abstract

Bean common mosaic virus (BCMV) merupakan virus penting pada kacang panjang di Indonesia. Salah satu cara untuk mengendalikan BCMV adalah dengan penggunaan kitosan. Pada penelitian sebelumnya, kitosan komersial dengan konsentrasi 0,9% dilaporkan mampu menekan infeksi BCMV yang ditularkan oleh Aphis craccivora dengan mekanisme yang belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mekanisme kitosan dalam menekan transmisi BCMV yang ditularkan oleh A. craccivora. Kitosan yang diuji yaitu kitosan murni dengan konsentrasi 0,1%–1,1% dan kitosan komersial konsentrasi 0,9% sebagai pembanding. Kitosan diaplikasikan dengan cara penyemprotan daun dengan volume 3 ml/tanaman pada hari sebelum penularan BCMV menggunakan tiga ekor kutudaun yang mengandung virus. Peubah yang diamati, yaitu periode inkubasi, insidensi penyakit, keparahan penyakit, akumulasi virus pada tanaman dan kutudaun, serta deteksi gen CP BCMV, PR1, dan PR3 dengan RT-PCR. Secara umum perlakuan kitosan mampu menekan transmisi BCMV oleh A. craccivora. Periode inkubasi tanaman perlakuan berkisar antara 7–9 hari. Perlakuan kitosan murni menekan insidensi dan keparahan penyakit antara 40%–80% dan 35,71%–78,57% tergantung konsentrasi kitosan. Kitosan komersial menghambat insidensi dan keparahan penyakit sampai 100%. Perlakuan kitosan pada konsentrasi 0,9% baik kitosan murni maupun komersial menunjukkan akumulasi BCMV yang lebih rendah dibandingkan kontrol tanpa perlakuan, yaitu pada kitosan komersial 0,9% memiliki nilai absorbansi ELISA (NAE) sebesar 0,26 ± 0,29 dan pada kitosan murni 0,9% memiliki NAE sebesar 1,15 ± 1,69, sedangkan kontrol tanpa perlakuan memiliki NAE sebesar 3,13 ± 0,17. BCMV positif terdeteksi pada kutudaun menunjukkan bahwa kutudaun tidak makan inokulasi pada tanaman perlakuan. Amplifikasi gen CP BCMV dengan RT-PCR menunjukkan positif teramplifikasi pada semua perlakuan kitosan kecuali perlakuan kitosan komersial. Gen PR1 tidak teramplifikasi, sedangkan gen PR3 teramplifikasi pada semua perlakuan. Akumulasi PR3 tertinggi terdapat pada perlakuan 0,5% dan 0,7% dibandingkan dengan perlakuan lain dan kontrol. Berdasarkan hasil tersebut, perlakuan kitosan lebih berperan sebagai penghambat makan kutudaun daripada sebagai penginduksi ketahanan tanaman.KeywordsBCMV; Kutu daun; Pathogenesis-related protein; PCR; Vigna sinensis L.AbstractBean common mosaic virus (BCMV) is an important virus on beans in Indonesia. One of methods to control BCMV is by chitosan. The previous report showed that commercial chitosan was able to suppress BCMV infection transmitted by Aphis craccivora with an unknown mechanism. This study aimed to examine the mechanism of chitosan in suppressing the transmission of BCMV by A. craccivora. Chitosan used in this research is a pure chitosan with a concentration of 0.1%–1.1% and 0.9% of commercial chitosan as a comparison. Chitosan is applied by spraying the leaves at one day before the transmission of BCMV. BCMV transmitted by using three viruliferous aphids. The incubation period of virus, disease incidence, and severity, virus accumulation in plants and aphids by ELISA were observed, BCMV CP, PR1, and PR3 genes was detected by RT-PCR. In general, chitosan treatments suppressed the transmission of BCMV by A. craccivora. The incubation period ranges from 7–9 days. The pure chitosan treatments suppressed the disease incidence and severity ranged from 40%–80% and 35.71%–78.57%, respectively depends on concentration of chitosan. The commercial chitosan inhibited disease incidence and severity up to 100%. The treated plants at concentration 0.9% either pure or commercial chitosan showed accumulation of BCMV significantly lower in compared with untreated control plants, i.e. 0.9% in commercial chitosan had ELISA absorbance value (NAE) of 0.26 ± 0.29 and pure chitosan 0.9% had NAE of 1.15 ± 1.69 while the untreated control had an NAE of 3.13 ± 0.17. Further, BCMV were detected aphids which feed on treated plants during inoculation feeding period, indicating virus left over on aphids. Amplification of BCMV CP gene by RT-PCR showed positively amplified by all treatments except commercial chitosan treatment. PR1 gene are not amplified, whereas PR3 gene amplified in all the treatments, but the accumulation higher on treated plants at concentration 0.5% and 0.7% in compare with other treatments. Based on those results, chitosan treatment suppress the BCMV transmission by aphids due to the role of chitosan as anti-feedant which hampered aphids transmit the virus during inoculation feeding period rather than as resistance inducer.

Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue