cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
PERAN PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN TERHADAP KINERJA GAPOKTAN DAN PENDAPATAN USAHATANI PADI DI KABUPATEN SUBANG Hari Hermawan; Suharno ,; Anna Fariyanti
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n1.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Role of Rural Agribusiness Development Program to Performance Gapoktan and Rice Farming Income in Subang Regency. The study aimed to analyze the performance Gapoktan and rice farming income for recipients PUAP and non PUAP, and analyze the relationship between the performances of the farm income Gapoktan. The study was conducted in District Ciasem and Patok Beusi, Subang regency, West Java, in April-June 2014. Unit analysis in this study was Gapoktan and rice farming. Gapoktan sample was purposively taken as 6 Gapoktan, consisting of 3 Gapoktan PUAP and 3 Gapoktan non PUAP. The unit of analysis of rice farming was taken as the sample of rice farming PUAP managed by farmers PUAP and non PUAP. Farmers sample were selected by purposively, amounted to 30 people, so total farmers sample was 60 people. The assessment of Gapoktan has been analized by four indicators, namely organizational effectiveness, organizational efficiency, organizational relevance, and organizational financial independence achievement. Overall indicators and parameters were analyzed using a scoring system of assessment in Likert scale. Performance farming and Gapoktan were analyzed using analysis of farming income and analysis Pearson product moment (PPM). The results of data analysis showed that the performance Gapoktan PUAP showed superior performance. PUAP farmers earned greater rice farming income (34.97%). Thus it can be said that the performance Gapoktan have a close and significant relationship with the level of farm income rice farmer members. This means that the higher Gapoktan performance, the higher rice farming income of farmer members. Keywords: Farmers group alliences, farmers’ income, rice farming, rural agribusiness development  ABSTRAK Penelitian yang bertujuan menganalisis kinerja Gapoktan dan pendapatan usahatani padi bagi penerima PUAP dan non PUAP, serta menganalisis hubungan kinerja Gapoktan terhadap pendapatan usahatani padi petani, dilakukan di Kecamatan Ciasem dan Patok Beusi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, pada April - Juni 2014. Unit analisis dalam penelitian ini yaitu Gapoktan dan usahatani padi. Gapoktan sampel diambil secara purposive sebanyak 6 Gapoktan, terdiri atas 3 Gapoktan PUAP dan 3 Gapoktan non PUAP. Unit analisis usahatani padi, yang diambil sebagai sampel yaitu usahatani padi yang dikelola oleh petani PUAP dan petani non PUAP, dipilih secara purposive, masing-masing berjumlah 30 orang, sehingga total petani sampel 60 orang. Analisis kinerja Gapoktan menggunakan 4 indikator yaitu efektivitas organisasi, efisiensi organisasi, relevansi organisasi, dan pencapaian kemandirian keuangan organisasi. Keseluruhan indikator dan parameter dianalisis menggunakan sistem pemberian skor penilaian menggunakan skala Likert. Kinerja usahatani padi dan Gapoktan dianalisis menggunakan analisis pendapatan usahatani dan analisis Pearson product moment (PPM). Kinerja Gapoktan PUAP menunjukkan kinerja yang lebih tinggi, sama halnya dengan usahatani padi petani PUAP, memperoleh pendapatan usahatani padi yang lebih tinggi (34,97%). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kinerja Gapoktan memiliki hubungan yang erat dan signifikan dengan tingkat pendapatan usahatani padi petani anggota. Artinya semakin tinggi kinerja Gapoktan, maka semakin tinggi pula pendapatan usahatani padi petani anggota. Kata kunci: Gapoktan, pendapatan petani, usahatani padi, PUAP
PRODUKTIVITAS TANAMAN DAN KELAYAKAN FINANSIAL PADI DI LAHAN SAWAH BUKAAN BARU DENGAN BERBAGAI PEMUPUKAN DI SULAWESI SELATAN Sahardi ,; Herniwati ,; Fadjry Djufry
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 3 (2014): November 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n3.2014.p%p

Abstract

The Study of Productivity and Feasibility of Rice in New Opened Wetland Based on Several Types of Fertilizers. Soil fertility of new wetland field in South Sulawesi is generally low and variated, so that fertilization technology is a must to improve the productivity. This study aims is to determine the effect of fertilization on the growth and yield of rice fields and to obtain a package of rice fertilization technology that can improve the productivity of new wetland field in South Sulawesi. The study was arranged in a randomized block design with four treatment combinations of organic and inorganic fertilizers carried by four farmers in their land asreplications. The results showed that the aplication of combination between organanic and anorganic fertilizer had significant effect on the growth and yield of rice in newly open land. The organic fertilizer package of 5 t/ha + 20 l POC bio urine/ha in combination with inorganic fertilizer 200 kg urea/ha + 300 kg NPK/ha was the best package that could increase rice yield by 26.36% compared to farmers fertilization method and also be financially feaseble to be developed in new wetland field of South Sulawesi.Key words: New opened wetland, fertilization, riceABSTRAKKesuburan tanah pada lahan sawah bukaan baru di Sulawesi Selatan umumnya rendah dan beragam, sehingga teknologi pemupukan merupakan hal yang mutlak dilakukan untuk meningkatkan produktivitas. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah serta mendapatkan paket teknologi pemupukan padi sawah yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah bukaan baru di Sulawesi Selatan. Kajian disusun dalamRancangan Acak Kelompok dengan empat perlakuan kombinasi pemupukan organik dan anorganik dilaksanakan oleh empat orang petani di lahan miliknya sebagai ulangan. Hasil penelitian menunjukkanbahwa pemupukan kombinasi pupuk organik dan anorganik berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Paket pemupukan 5 t pupuk organik/ha + 20 lt POC bio urine/ha yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik 200 kg Urea/ha + 300 kg NPK/ha, merupakan paket terbaik.Paket tersebut dapat meningkatkan hasil 26,36 % dibandingkan cara petani dan secara finansial layak untuk dikembangkan pada lahan bukaan baru di Sulawesi Selatan.Kata kunci: Lahan sawah bukaan baru, pemupukan, padi
DAMPAK SEKOLAH LAPANG PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU TERHADAP ADOPSI TEKNOLOGI, PRODUKTIVITAS DAN PENDAPATAN USAHATANI PADI Herman Supriadi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n2.2013.p%p

Abstract

ABSTRACTImpact  of Farmer Field School - Integrated Crop Management (FFS-ICM) to the Level Adoption, Productivity and Income of Farmers. Impact study of Farmer Field School - Integrated Crop Management (FFS-ICM) to the level adoption, productivity and income of farmers has been done during 2012 in three districts, namely Subang (West Java), Madiun (East Java), and East Ogan Komering Ulu (OKU) in South Sumatra. This study aims to analyze level of PTT technology adoption, and the impact of SL-PTT to the productivity and income of farmers. The method of analysis used is a comparative analysis of two independent samples using T test statistics, partial budget analysis, and farm cost efficiency. The findings showed that SL-PTT activity resulted in increased rice productivity of 0.40 - 0.60 t/ha or (7.1 - 9.4)% for inbred rice and 0.4 - 1.1 t/ha or (8.0 - 15.7)% for hybrid rice. Based on statistical tests, seed inputs support system (BLBU) in the FFS-ICM activity was not statistically significant effect on increasing rice productivity inbred but significantly increased productivity of hybrid rice. Increasing farmers income by FFS-ICM ranges Rp (0.90 to 1.775) million/ha for inbred rice, and Rp2.04 million/ha for hybrid rice. Package of technology alternative has been widely adopted by farmers, but the basic technology package, especially fertilizer as plant needed, optimum population and pest control systems using IPM approach have not been fully implemented by farmers. Opportunity to increase rice production can be reached through development of VUB, hybrid rice, and direct seeded rice. Threat that must be anticipated is centralized policies and poor coordination of relevant agencies, and the limited extension. Indicatif program that needs to be done next are: a) Developing cooperative inputs / capital access assistance, b) Evaluating the feasibility of the technology, c) Increasing the number of trainers and quality education materials, and d).Functioning of local seed producer. Key words: SL-PTT, impact productivity, income and irrigated lowland rice ABSTRAK Kajian dampak Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) terhadap tingkat adopsi, produktivitas dan pendapatan usahatani padi dilakukan tahun 2012 di tiga kabupaten yaitu Subang (Jawa Barat), Madiun (Jawa Timur), dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur di Sumatera Selatan. Kajian bertujuan menganalisis tingkat adopsi teknologi PTT, dan dampak kegiatan SL-PTT terhadap peningkatan produktivitas dan pendapatan petani. Metode analisis yang dipakai adalah analisis komparatif dua sampel bebas menggunakan uji T statistik, analisis biaya dan pendapatan usahatani, dan efisiensi usahatani. Hasil kajian menunjukkan bahwa kegiatan SL-PTT berdampak terhadap peningkatan produktivitas padi sebesar 0,40 – 0,60 t/ha atau (7,1 – 9,4)% untuk padi inbrida dan 0,4 s/d 1,1 t/ha atau (8,0 - 15,7)% untuk padi hibrida. Berdasarkan uji statistik sistem bantuan saprodi dan benih (BLBU) dalam kegiatan SL-PTT tidak nyata terhadap peningkatan produktivitas padi inbrida tetapi nyata meningkatkan produktivitas padi hibrida. Peningkatan pendapatan petani dengan SL-PTT berkisar Rp (0,90 – 1,775) juta/ha untuk padi inbrida, dan Rp2,04 juta/ha untuk padi hibrida. Paket teknologi pilihan sudah banyak diadopsi petani, tetapi paket teknologi dasar terutama pemupukan sesuai kebutuhan, populasi optimum dan pengendalian OPT sistem PHT belum sepenuhnya diterapkan petani. Peluang peningkatan produktivitas padi dapat melalui pengembangan VUB, padi hibrida dan sistem tanam benih langsung. Ancaman yang harus diantisipasi adalah kebijakan sentralistik dan buruknya koordinasi instansi terkait, dan terbatasnya penyuluh pendamping. Program indikatif yang perlu dilakukan kedepan adalah: a) Mengembangkan koperasi saprodi dan akses modal, b) Evaluasi kelayakan teknologi, c) Meningkatkan jumlah penyuluh dan mutu materi penyuluhan, dan d) Memfungsikan penangkar benih lokal. Kata kunci: SL-PTT, dampak adopsi teknologi, produktivitas, pendapatan,.padi sawah irigasi 
SISTEM PERTANIAN LAHAN PEKARAGAN MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DAERAH SEMI-ARID: Kasus Kawasan Rumah Pangan Lestari di Provinsi Nusa Tenggara Timur Yohanis Ngongo; Hendrik H Marawali
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

ABSTRACTAgricultural System of Homegardening to Support Food Security in Semi-Arid Region: A Case Study of Sustainable Food Reserved Garden in East Nusa-Tenggara. The model of Sustainable Food Reserved Garden (SFRG) or m-KRPL has been developed in East Nusa Tenggara (ENT) since 2011 as a tool to empowering household in managing homeyard in order to, both improve household’s nutrition and income. This paper aimed to examine: 1) the diversity and specific characteristics of homeyards in ENT; and 2) the contribution of homeyard gardening to the beneficiaries of m-KRPL. Survey was conducted from October to December 2014. Six m-KRPL sites in three districts were chosen purposively based on main islands (Timor, Sumba, Flores) and agro-ecosystems (AEZ) representative (lowland and highland). The data was collected from Farm Record Keeping (FRK) and in-depth interviews using open-ended and semi-structure questionnaire. The data was analysed descriptively and also used farming analysis. The results showed that there are various types of homegarden practices among communities in the different AEZs. Homegarden practices confirm the similar goals for majority of farmers, that the produce plays role as a source of fresh and healthy food, as well as provides medicines, herbs and spices. Commodities planted in homegarden are more for subsistence; however, farmers who have an access to the market are willing to sell the excess production. Farming in homeyard could save household expenditure up-to Rp400,000/month. Existing plant species in the homegarden in Sikka district was higher than that in Sumba and TTS districts.  Nevertheless, for all districts, the horticultural plants was more diverse in highland than those in lowland.  Some identified constraints were water shortage, pest and diseases, free-range livestock, access to external inputs and market. Beside the technical-agronomic aspect, development of homegardening should consider homeyard as a “living space”, existing commodities, diet and market aspects. The implementation of m-KRPL should be extended to reach poor farmers.  Key words: Farming, homegarden, semi-arid area, subsistence.  ABSTRAKModel Kawasan Rumah Pangan Lestari (m-KRPL) telah dikembangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak tahun 2011 dalam rangka memberdayakan rumah tangga petani dalam mengelola pekarangan baik untuk memperbaiki kebutuhan gizi keluarga maupun untuk meningkatkan pendapatan. Makalah ini bertujuan untuk: 1) mengkaji keanekaragaman dan karakteristik spesifik pekarangan di NTT; dan 2) mengetahui kontribusi usahatani pekarangan terhadap rumah tangga petani peserta m-KRPL. Enam lokasi m-KRPL di tiga Kabupaten dipilih secara sengaja atas dasar keterwakilan pulau besar (Timor, Sumba dan Flores) dan zone-agroecosystem (ZAE dataran tinggi dan rendah). Survey dilaksanakan pada Oktober – Desember 2014. Data diperoleh dari pencatatan usahatani dan survey mendalam berpedoman pada kuesioner. Data dianalisis secara deskriptif dan juga menggunakan analisis usahatani. Hasil studi menunjukkan bahwa praktek pengelolaan pekarangan bervariasi antara berbagai kelompok masyarakat pada berbagai zone-agroecosystem yang berbeda, namun tetap mengkonfirmasi adanya kesamaan tujuan bagi dominan petani yakni sebagai sumber pangan yang sehat dan segar, penyedia obat-obatan herbal dan bumbu dapur. Komoditas yang diusahakan pada lahan pekarangan lebih untuk tujuan subsisten, namun sebagian petani yang mempunyai akses pasar yang baik menjual kelebihan produksi. Usahatani pekarangan dapat menghemat pengeluaran rumah tangga petani perserta program m-KRPL sampai Rp400.000/bulan. Jenis tanaman existing pada lahan pekarangan di Sikka lebih beragam jika dibandingkan dengan di lokasi pengkajian di Sumba Timur dan di TTS.  Untuk semua kabupaten lokasi kajian,  jenis tanaman hortikultura lebih banyak di dataran tinggi daripada di dataran rendah. Beberapa kendala yang dapat diidentifikasi adalah keterbatasan sumber air, hama dan penyakit, gangguan ternak, akses pada input luar dan pasar rendah. Disamping aspek teknis-agronomis, pengembangan usahatani pekarangan perlu memperhatikan pekarangan sebagai ruang hidup, komoditas existing, pola penghidupan, diet dan aspek pasar. Konsep m-KRPL perlu diperluas agar bisa menjangkau petani miskin sumberdaya. Kata kunci: Usahatani, pekarangan, daerah semi-arid, subsisten
PENGARUH SISTEM TANAM DAN PEMANGKASAN TANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA HASIL JAGUNG DAN KEDELAI Z. Arifin; Suwono ;; Darman M Arsyad
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n1.2014.p%p

Abstract

The Influence of Cropping Systems and Plant Trimming on Growth and Yield of Maize and Soybean. This study aimed to determine the effect of monoculture and intercropping systems and plant trimming on growth and yield of maize and soybean as well as farm income. The experiment was conducted in rainfed lowland at Mojosari Experimental Farm, Mojokerto Regency, East Java during the late dry season in 2012. Randomized block design with nine treatments of planting systems and three replications was used in this experiment. The planting system tested were: (1) Monoculture of soybean with planting space of 40 cm x 15 cm, (2) Monoculture of maize with planting space of 75 cm x 20 cm, without trim, (3) Monoculture of maize with planting space of 75 cm x 20 cm, and trimming the leaves and stems above the cob, (4) Intercropping of soybean-maize (90/60 cm x 20 cm, without trimming), (5) Intercropping of soybean-maize (90/60 cm x 20 cm, trimming the leaves and stems above the cob), (6) Intercropping of soybean-maize (150 cm x 20 cm, without trimming), (7) Intercropping of soybean-maize (150 cm x 20 cm, trimming the leaves and stems above the cob), (8) Intercropping of soybean-maize (180/120 cm x 20 cm, without trimming), (9) intercropping of soybeans-maize (180/120 cm x 20 cm, trimming the leaves and stems above the cob). The results showed that the intercropping system affected the growth and yield of soybean and maize compared to monoculture system. The intercropping system increased the plant height, but reduced the number of pod, seed, node, branch and seed yield of soybean compared the monoculture. Plant height, cob length, cob diameter, 100 seed weight, and yield of maize in intercropping decreased compared to those of monoculture system. Based on land equivalent ratio, total yield and net income, the intercropping soybean-maize with plating space of 150 cm x 20 cm with trimming the leaves and stems above the cob would be suggested and prospective to be developed in the farmer’s fields. Key words: Soybean, maize, intercroppingPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem tanam monokultur dan tumpangsari kedelai-jagung dan pemangkasan tanaman jagung terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman serta pendapatan usahatani. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan, KP. Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur pada MK I 2012. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tiga ulangan dan sembilan perlakuan. Perlakuannya adalah sistem tanam, yaitu: (1) monokultur kedelai dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm, (2) monokultur jagung dengan jarak tanam 75 cm x 20 cm, tanpa pangkas, (3) monokultur jagung dengan pangkas daun bawah dan batang diatas tongkol, (4) tumpangsari kedelai-jagung dengan jarak tanam 90/60 cm x 20 cm, tanpa pangkas daun, (5) tumpangsari kedelai-jagung dengan jarak tanam 90/60 cm x 20 cm dengan pangkas daun bawah dan batang diatas tongkol, (6) tumpangsari kedelai-jagung dengan jarak tanam 150 cm x 20 cm, tanpa pangkas daun, (7) tumpangsari kedelai-jagung dengan jarak tanam 150 cm x 20 cm, pangkas daun bawah dan batang diatas tongkol, (8) tumpangsari kedelai-jagung dengan jarak tanam 180/120 cm x 20 cm, tanpa pangkas daun, (9) tumpangsari kedelai-jagung dengan jarak tanam 180/120 cm x 20 cm, pangkas daun bawah dan batang diatas tongkol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tumpangsari kedelai-jagung menyebabkan tanaman kedelai bertambah tinggi, tetapi terjadi penurunan dalam jumlah polong, jumlah biji, jumlah buku, jumlah cabang, dan hasil biji. Sistem tumpangsari juga menyebabkan terjadinya penurunan tinggi tanaman jagung, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot 100 biji, dan hasil biji. Berdasarkan nilai LER (Land Equivalent Ratio), total hasil setara kedelai, dan pendapatan (keuntungan) usahatani, maka sistem tanam tumpangsari kedelai-jagung pada jarak tanam 150 cm x 20 cm dengan pemangkasan daun bawah dan batang di atas tongkol pada umur 80 hari prospektif untuk dikembangkan di lahan petani.   Kata kunci: Kedelai, jagung, tumpangsari
Kajian Sifat Inovasi Komponen Teknologi untuk Menentukan Pola Diseminasi Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah Erythrina ,; Rita Indrasti; Agus Muharam
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT Assessment on Properties of Innovation Technology Component to Determine Dissemination Pattern of Rice Integrated Crop Management (ICM). ICM Field School is one of the strategic programs of the Ministry of Agriculture aimed at accelerating increased production of major food commodities, included rice. This study aims to determine the variability of quantitative trait ICM technology innovation and determine the pattern of technology innovation dissemination of efficient and effective on site-specific conditions based on quantitative and qualitative variability. The data was collected through interviews with 180 farmers in West Java and Central Java. The analysis revealed that six ICM components technology is quite difficult to be adopted are: (1) application of organic matter, (2) legowo crop establishment, (3) fertilization based on crop needs and soil nutrient status, (4) IPM approach to pest control, (5) intermittent irrigation, and (6) weeding with the hedgehog / gasrok. Therefore, dissemination patterns for each category can not follow a linear pattern of the conventional approach, from source technologies - extension – farmer. An understanding of the processes leading to the adoption of new technologies by small-scale farmers has been important to the planning and implementation of successful dissemination and extension programs. Key words: ICM, nature of innovation, dissemination pattern, rice ABSTRAK Sekolah Lapang Pengeloaan Tanaman Terpadu merupakan salah satu program strategis Kementerian Pertanian bertujuan mempercepat peningkatan produksi komoditas pangan utama, termasuk padi. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan sifat inovasi komponen teknologi PTT padi sawah dan menentukan pola diseminasi inovasi teknologi yang efisien dan efektif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap 180 petani di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hasil analisis menunjukkan enam komponen teknologi PTT tergolong sulit diadopsi oleh petani yaitu : (1) pemberian bahan organik, (2) sistem tanam legowo, (3) pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah, (4) pengendalian OPT dengan pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT), (5) irigasi berselang, dan (6) penyiangan dengan landak/gasrok. Oleh karena itu, pola diseminasi untuk setiap kategori tidak bisa mengikuti pola pendekatan konvensional secara linear yaitu dari sumber teknologi ke penyuluh, kemudian ke petani. Pemahaman tentang proses menuju adopsi teknologi baru oleh petani skala kecil di setiap lokasi menjadi penting untuk perencanaan dan pelaksanaan diseminasi dan program penyuluhan inovasi baru spesifik lokasi. Kata kunci: PTT,  sifat inovasi, pola diseminasi, padi sawah
PEMUPUKAN NPK DAN KELAYAKAN USAHATANI JERUK PAMELO DI KABUPATEN PANGKEP SULAWESI SELATAN Muh. Taufik; Ruchjaniningsih ,; Muhammad Thamrin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT The Fertilizing of NPK and the Feasibility of Pummelo’s Farming in Pangkep Regency, South Sulawesi. Pummelo Pangkep has more advantages over other citrus, such as, specific taste, sweet juicy, pink flesh, fair texture flesh, flavorful soft and almost no seeds. The purpose of this study was to (i) know the influence of fertilizers N, P and K in the production of pummelo; (ii) produce pummelo fertilizer recommendations based on the analysis of leaf tissue and define the nutrient adequacy levels and optimal dosage of pummelo; and (iii) analyze the feasibility of pummelo. Research was arranged in a randomized block design (RBD) with five treatments consisting of six replicates for each treatment. Each fertilizer (N, P and K) by 90 productive lifespan of pummelo trees less than 7 years old are selected with a relative uniform and healthy level. The treatment for N fertilizer dosage consists of: N= 0, 100, 200, 300, 400; P= 0, 100, 200, 300, 400 P2O5; K= 0, 150, 300, 450, 600 K2O/tree/year. Each of fertilizer application was conducted in a single study, respectively. The results showed that pummelo recommended fertilizing of N, P and K in low nutrient status, namely: 475.30 g N, 582.24 g P2O5 and 495.75 g K2O/tree/year or equal to 1.03 kg urea, 1.62 kg SP-36 and 0.83 KCl kg/tree/year. Based on the calculation of cost, revenue, and profit with 20% of discount factor, it was obtained B/C value of 3.9, NVP with positive value and IRR value that exceeds the standard of DF. It means that pummelo farming system is profitable and feasible for investment. Keywords: NPK Fertilizer, nutrient status, pummelo farming systemABSTRAK Jeruk pameloPangkep mempunyai kelebihan dibanding jeruk pamelo lain, rasanya spesifik, manis berair, daging buah merah jambu, tekstur daging sedang, beraroma lembut dan hampir tidak berbiji. Tujuan penelitian ialah untuk (i) mengetahui pengaruh dosis pupuk N,P dan K terhadap produksi jeruk pamelo (ii) membangun rekomendasi pemupukan berdasarkan analisis jaringan daun dan menetapkan tingkat kecukupan hara serta dosis pupuk optimum pada tanaman jeruk pamelo, (iii) analisis kelayakan untuk mengetahui keuntungan usahatani tanaman jeruk pamelo. Penelitian diawali dengan observasi, dan lapangan yang disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima perlakuan dan setiap perlakuan terdiri atas enam ulangan. Masing-masing pupuk (N, P dan K) sebanyak 90 pohon tanaman jeruk produktif umur kurang lebih 7 tahun yang dipilih dengan tingkat relatif seragam dan sehat.Perlakuan dosis pupuk N terdiri dari: 0, 100, 200, 300, 400 N; P: 0, 100, 200, 300, 400 P2O5; K: 0, 150, 300, 450, 600 K2O/tanaman/tahun. Aplikasi pupuk N, P dan K masing-masing dilakukan dalam penelitian tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekomendasi pemupukan N, P dan K tanaman jeruk pamelo pada status hara rendah, yaitu: 475.30 g N, 582.24 g P2O5 dan 495.75 g K2O/tanaman/tahun atau setara dengan 1.03 kg Urea, 1.62 kg SP-36 dan 0,83 kg KCl/tanaman/tahun. Berdasarkan perhitungan biaya, penerimaan, dan keuntungan usahatani jeruk pamelo dengan discount factor 20% diperoleh hasil B/C 3,9, NVP positif dan persentase IRR melebihi DF yang berlaku, yang berarti usahatani jeruk pamelo sangat menguntungkan dan memenuhi kelayakan investasi. Kata kunci: Jeruk pamelo, kelayakan usahatani, pemupukan NPK, status hara
KELAYAKAN USAHATANI JAGUNG DI SULAWESI SELATAN Muh. Taufik; Maintang ,; M. Basir Nappu
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n1.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Feasibility Analysis of Maize Farming System in South Sulawesi Province. South Sulawesi is one of the maize central production in Indonesia. The study to investigate the characteristics and economic feasibility of the farmer practices was conducted in May-September 2012 in Jeneponto and Bone District which represent the dry land area and in Sidrap and North Luwu which represent the wetland area. The survey was conducted with the sample of 240 farmers. The data were collected on primary and secondary data. Primary data were collected through interviews and secondary data were collected from the relevant authorities. The data analyze were include of application of technology, productivity, economic analysis, and feasibility of crop farming. The result showed that the formal education of farmers were generally low, and the adoption of technologies of both in dry land and in paddy fields were also low. However, the human resource development through additional informal education will enhance for maize farming development in the areas. Farmers used the hybrid varieties, but amount of seeds was still less, plant spacing varies, and most farmers used the seeds from the previous crop. Fertilization was not balance, time and dose of fertilizer was incorrect, and fertilizer was not right for the land. Therefore, the productivity was still low, an average of 3.8 t/ha. The average net income received by farmers in dry land irrigated land respectively Rp3.3 million/ha and Rp4.7 million/ha or respectively with R/C average of 2.06 and 2.30. Therefore, corn farming can still be considered are feasible on dry land and irrigated land. Keywords: Maize, dry land, wetland, farming feasibility  ABSTRAKSulawesi Selatan merupakan salah satu daerah sentra produksi jagung di Indonesia. Untuk mengetahui kelayakan usahatani jagung di wilayah tersebut, telah dilakukan penelitian pada bulan Mei–September 2012 di Kabupaten Jeneponto dan Bone mewakili lahan kering, Kabupaten Sidrap dan Luwu Utara mewakili lahan sawah. Penelitian menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara random sampling sebanyak 240 sampel petani. Jenis data yang dikumpulkan ialah data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara dan data sekunder dikumpulkan melalui informasi dari instansi terkait. Analisis data meliputi tingkat penerapan teknologi, produktivitas, dan analisis kelayakan usahatani. Hasil kajian menunjukkan bahwa rendahnya pendidikan formal petani mengindikasikan adopsi teknologi baik di lahan kering mapun di lahan sawah belum optimal, dan membutuhkan pengembangan sumberdaya manusia melalui tambahan pendidikan informal untuk melengkapi pengalaman yang telah dimiliki. Walaupun tingkat pendidikan petani yang tergolong rendah, tetapi umur petani yang masih sangat produktif, dan pengalaman berusahatani selama ini, serta adanya upaya peningkatan keterampilan petani akan memberikan bagi peluang pengembangan budidya jagung khususnya di lokasi pengkajian. Budidaya jagung yang dilakukan petani di lahan kering dan lahan sawah irigasi belum optimal. Petani telah menggunakan varietas hibrida, tetapi benih yang digunakan masih kurang, jarak tanam bervariasi, dan sebagian petani masih menggunakan benih dari pertanaman sebelumnya. Pemupukan belum berimbang, waktu, dosis, dan jenis pupuk belum tepat. Sebagai akibat penerapan teknologi budidaya jagung yang belum optimal, produktivitas tergolong rendah, yaitu rata-rata 3,8 t/ha dan 4,5 t/ha masing-masing di lahan kering dan di lahan sawah. Rata-rata pendapatan bersih yang diterima petani pada lahan kering dan lahan sawah irigasi masing-masing Rp3,3 juta/ha dan Rp 4,7 juta/ha atau masing masing dengan R/C rata-rata 2,06 dan 2,30. Oleh karena itu usahatani jagung masih dapat dianggap layak di lahan kering maupun di lahan sawah irigasi. Kata kunci: Jagung, lahan kering, lahan sawah, kelayakan usahatani
ANALISIS FINANSIAL DAN PERSEPSI PETANI TERHADAP PENANGKARAN BENIH KEDELAI DI SULAWESI TENGGARA Zainal Abidin; Didik Harnowo
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 3 (2014): November 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n3.2014.p%p

Abstract

Financial Analysis and Farmers Perception of Soybean Seed Producer in Southeast Sulawesi.Development of soybean is determined by availability of good seeds. The research was conducted to know thefinancial aspect and farmers’perception of soybean seed producer farm in Southeast Sulawesi. Research wasconducted on March –December 2009 in Momundowu Village Konawe Regency with OFCOR methode in 28hectare areas and collaboration with 33 farmers. Data collected comprises data on production, cost and farmers’perception. Data was analyzed using financial analysis through losses and gain approach and farmers’perceptionusing frequency table with percentage parameters. The result of research show that soybean seed producer inSoutheast Sulawesi has good development prospect for finantially generate profit level with MBCR value of 4,65.Currently, farmer not yet develop soybean seed producer in large scale because of social factors indicated by thelow perception of farmers on soybean seed producer. To develop soybean seed in order to support the provision ofsoybean seed in Southeast Sulawesi, it is necessary to improve the technical skills through training mainly relatedaspects of pest and disease control, rouging, sorting and labeling /certification.Key words: Soybean, seed producer, financial, farmer perceptionABSTRAKKeberhasilan pengembangan kedelai ditentukan oleh ketersediaan benih bermutu. Kajiandilakukan untuk mengetahui aspek finansial dan persepsi petani terhadap penangkaran benih kedelai di SulawesiTenggara (Sultra). Kajian dilakukan pada Maret –Desember 2009 di Desa Momundowu Kab. Konawe.Pendekatan pengkajian dilaksanakan dengan metode On Farm Client Oriented Research (OFCOR) pada luasanareal 28 ha dengan melibatkan 33 orang petani. Data yang dikumpulkan meliputi data produksi, biaya usahatanidan persepsi petani. Analisis data dilakukan dengan analisis finansial dengan pendekatan Losses and Gain dananalisis persepsi menggunakan tabel frekuensi dengan parameter persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwapenangkaran benih kedelai di Sultra memiliki prospek pengembangan yang baik karena secara finansialmenghasilkan tingkat keuntungan dengan nilai MBCR sebesar 4,65. Kondisi penangkaran kedelai di Sultra yangbelum berkembang saat ini lebih disebabkan oleh faktor sosial yang ditunjukkan dengan masih rendahnya persepsipetani terhadap usaha penangkaran benih kedelai. Untuk menumbuhkembangkan penangkaran benih kedelai dalamrangka mendukung penyediaan benih kedelai di Sultra, diperlukan adanya peningkatan keterampilan teknispenangkaran benih melalui pelatihan terutama terkait aspek pengendalian hama dan penyakit, rouging, sortasi danpelabelan/sertifikasi.Kata kunci: Kedelai, penangkaran benih, finansial, persepsi petani
KAJIAN KINERJA ALAT TANAM DAN VARIETAS UNGGUL BARU PADI DI LAHAN PASANG SURUT SUMATERA SELATAN Budi Raharjo; Imelda S. Marpaung; Yanter Hutapea
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 3 (2013): November 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n3.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT The Performance Assessment of Planting Tools and Rice Varieties in Tidal Land of South Sumatera. Tidal swamp land has a great potential to support increasing national rice production. However, its utilization is not optimal yet because the limitation of new rice varieties and limitation of manpower and time of farmers for planting activities, and therefore the seeds were broadcasted that need more seeds. The purposes of this study were to evaluate the technical, agronomical and economical performance of planting tools on new high yielding rice varieties in tidal land. The assessment was conducted at Sumber Mulyo Village, Muara Telang Sub district, Banyuasin Regency South Sumatera in 2010/2011 rainy season using randomized complete block design with two factor treatments and three replications. The first factor were rice varieties, namely Inpara 2, Inpara 3 and Inpari 4, whereas the second factor were planting tools or seeder namely IRRI drum seeder and legowo seeder. The results showed that the highest yield was obtained by Inpari 4 with legowo tool (8.75 t/ha) while the lowest was obtained by Inpara 2 with IRRI drum seeder (7.09 t/ha). The average yield by using IRRI drum seeder was 7.66 t/ha, while that of legowo tool was 8.28 t/ha. Net income obtained by  legowo tool and IRRI drum seeder were higher than the direct seeding (farmers practices). The farm efficiency (R/C) of legowo tool, IRRI drum seeder and direct seeding were 3.33; 3.13 and 2.83 respectively.Keywords: Performance, direct seedling, tidal swamp land ABSTRAKLahan suboptimal pasang surut memiliki potensi untuk mendukung peningkatan produksi padi nasional. Namun pemanfaatannya belum optimal karena selain keterbatasan pilihan varietas padi, juga terbatasnya tenaga kerja dan waktu petani untuk penanaman, sehingga petani melakukan penanaman dengan cara tebar langsung, dengan kebutuhan benih yang cukup tinggi. Tujuan pengkajian ini ialah untuk mengevaluasi kinerja teknis, agronomis dan ekonomis cara tanam berbagai varietas padi unggul baru di lahan pasang surut. Pengkajian dilakukan di Desa Sumber Mulyo Kecamatan Muara Telang Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan pada musim hujan 2010/2011 menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara faktorial (RAKF) dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor pertama ialah penggunaan varietas yang terdiri atas tiga macam varietas yaitu: Varietas Inpara 2, Inpara 3 dan Inpari 4, sedangkan faktor kedua yaitu penggunaan alat tanam yang terdiri dari alat tanam benih langsung (Atabela) model  IRRI “drum seeder” dan Atabela legowo. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa produktivitas gabah kering panen tertinggi diperoleh dari varietas Inpari 4 yang menggunakan Atabela legowo (8,75 t/ha), sedangkan terendah ialah varietas Inpara 2 dengan alat tanam IRRI drum seeder (7,09 t/ha). Produktivitas rata-rata dengan menggunakan alat tanam IRRI drum seeder sebesar 7,66 t/ha, sedangkan dengan Atabela legowo sebesar 8,28 t/ha. Pendapatan  bersih yang diperoleh dengan menggunakan Atabela legowo dan alat tanam IRRI drum seeder lebih tinggi dibanding cara tebar langsung yang selama ini biasa dilakukan petani. Nilai efisiensi usaha (R/C) dengan menggunakan Atabela legowo, alat tanam IRRI drum seeder dan benih tebar langsung  berturut-turut sebesar 3,33; 3,13 dan 2,83.Kata kunci: Kinerja, cara tanam benih langsung, lahan pasang surut

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue