cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
PERSEPSI PETANI TERHADAP KINERJA DAN PROFITABILITAS USAHATANI JAGUNG HIBRIDA BIMA 2 BANTIMURUNG DI KABUPATEN GROBOGAN, PROVINSI JAWA TENGAH Miyike Triana; Istriningsih ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n1.2016.p%p

Abstract

ABSTRACT Farmer Perception towards Bima 2 Bantimurung Hybrid Corn Performance and its Farming Profitability in Grobogan District, Central Java Province. Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) committed to generate superior technologies easily adopted by users. One of the technologies is hybrid maize Bima 2 Bantimurung which has been released in 2007 and has been licensed by a company, namely PT Saprotan Benih Utama (PT SBU) in the same year. The variety has been produced, marketed and adopted by farmers. In order to evaluate the impact of adoption of IAARD innovation in the field, a study was conducted to analyze the farmers’ perception on the performance and profitability of hibrid maize Bima 2 Bantimurung. The study was conducted on May 2013 in Central Java Province by interviewing PT SBU, 60 farmers of respondents, and it was supported by secondary data that are relevant to the purpose of the study. Data were analyzed using descriptive method and farming system analysis.  The results showed that the hybrid maize Bima 2 Bantimurung that has been marketed under the trademark of Pak Tani-2 was distributed in several provinces, but in terms of productivity it was less competitive than the product of competitors, namely hybrid maize P21 (R/C: 1.35 vs. 2.21). However, Bima 2 Bantimurung has been well adapted on marginal land and the forage can be used to feed animal. The adoption of Bima 2 Bantimurung by farmers was related to the marketing approach applied by the company, such as stock availability, ease of access to innovation, facilitation by the Technical Service of PT SBU, the bonus for the purchase of seeds and crops purchase guarantee. Based on feedback from users, the technology produced by IAARD should be continuously improved to increase its competitiveness and adoption by users. Keywords: hybrid maize, innovation, adoption, impactABSTRAKBadan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) berkomitmen tinggi untuk menghasilkan teknologi-teknologi unggul yang mudah diadopsi pengguna. Salah satunya adalah jagung hibrida Bima 2 Bantimurung yang dilepas tahun 2007, dan telah dilisensikan kepada perusahaan pengganda yaitu PT. Saprotan Benih Utama (PT. SBU) pada tahun yang sama. Varietas tersebut telah diproduksi, dipasarkan dan diadopsi oleh petani. Dalam rangka mengevaluasi dampak dari adopsi inovasi Balitbangtan di lapangan, dilakukan kajian yang bertujuan untuk menganalisis persepsi petani terhadap kinerja dan profitabilitas usahatani jagung hibrida Bima 2 Bantimurung. Kajian dilakukan pada bulan Mei tahun 2013 di Provinsi Jawa Tengah dengan mewawancarai PT. SBU, 60 petani responden, serta ditunjang oleh data sekunder yang relevan dengan tujuan kajian. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif dan analisis usahatani. Hasil kajian menunjukkan bahwa jagung hibrida Bima 2 Bantimurung yang telah dipasarkan dengan merek dagang Pak Tani-2 telah tersebar di beberapa provinsi, namun masih kalah bersaing dengan produk kompetitor yaitu jagung P21 dari sisi produktivitas (R/C = 1,3 vs 2,2). Namun demikian, Bima 2 Bantimurung mampu beradaptasi di lahan marginal dan hijauannya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Adopsi Bima 2 Bantimurung oleh petani dipengaruhi oleh pola pemasaran yang diterapkan perusahaan, seperti jaminan stok, kemudahan akses terhadap inovasi, pendampingan oleh Technical Service dari PT SBU, bonus untuk pembelian benih serta jaminan pembelian hasil panen. Berdasarkan umpan balik dari pengguna, teknologi yang dihasilkan oleh Balitbangtan tersebut perlu selalu diperbaiki dan disempurnakan untuk meningkatkan dayasaing dan adopsinya oleh pengguna. Kata kunci: jagung hibrida, inovasi, adopsi, dampak
LAJU KONVERSI LAHAN SAWAH MENJADI PERKEBUNAN SAWIT DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PRODUKSI PADI DI KABUPATEN KAMPAR, RIAU Anis Fahri; Lala M. Kolopaking; Dedi Budiman.Hakim
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n1.2014.p%p

Abstract

Conversion Rate of Rice Field to Palm Oil Plantation, the Affected Factors and Its Impact to Rice Production in Kampar District, Riau. Kampar district is a center of rice production area in Riau Province and since ten years ago had been being conversed to palm oil plantation. This study aimed: (1) to identify the rate of land conversion, (2) to analyze factors that influence the conversion of paddy fields at the farm level, (3) to identify impact of paddy field conversion on rice production. The study was conducted in Kampar district from April to December 2013 using survey design and involving 60 farmers as respondent that consisted of 30 paddy farmers in Kampar Sub District and 30 farmers in Tambang Sub District who undertook paddy field conversion to palm oil plantations. Analyzing the data used multiple linear regressions. The results of landsat analysis from 2002 to 2010 showed a decreased occurred paddy field area by 1955.79 ha (21.77%) (from 8,984 ha to 7028.21 acres). The factors which significantly influenced paddy field conversion were: (1) reduction in paddy farming income, (2) an increase in palm oil farming income, (3) irrigation constraints, and (4) the lack of knowledge regarding the regulation of paddy field. Paddy field conversion during the period of 2002-2010 was estimated on causing the loss of 9,192 t of grain, which was, equivalent to 5,767 t of rice per years.   Key words: Land conversion, palm oil, paddy field, Kampar District Kabupaten Kampar merupakan sentra produksi beras di Provinsi Riau yang dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir terjadi konversi lahan sawah. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi laju konversi lahan sawah, (2) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah di tingkat petani, (3) mengidentifikasi dampak konversi lahan sawah terhadap ketahanan pangan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Kampar Provinsi Riau dari bulan April hingga Desember 2013 menggunakan rancangan survey yang melibatkan 60 petani responden, terdiri dari 30 petani padi di Kecamatan Kampar dan 30 petani yang melakukan konversi lahan sawah ke perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tambang. Analisis data mengggunakan regresi linear berganda. Hasil interpretasi data citra landsat 2002-2010 menunjukkan terjadi penyusutan lahan sawah seluas 1.955,79 ha (21,77%) dari 8.984 ha menjadi 7.028,21 ha. Faktor-faktor yang diduga secara signifikan mempengaruhi konversi lahan sawah di tingkat petani adalah: (1) penurunan pendapatan usahatani padi, (2) peningkatan pendapatan usahatani kelapa sawit, (3) kendala irigasi dan (4) kurangnya pengetahuan tentang kebijakan larangan konversi lahan sawah. Konversi lahan sawah selama periode 2002 - 2010 diperkirakan telah menyebabkan hilangnya 9.192 t gabah kering giling atau setara dengan 5.767 t beras/tahun.   Kata kunci: Konversi lahan, kelapa sawit, padi sawah, Kabupaten Kampar
KEUNGGULAN KOMPETITIF PADI SAWAH VARIETAS LOKAL DI SUMATERA BARAT Nurnayetti ,; Atman ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n2.2013.p%p

Abstract

ABSTRACTThe Strength Competitiveness of  Local Lowland Rice Variety in West Sumatera. The assessment needs to be done to determine the causes of farmers preference in choosing local varieties. The purpose of the assessment is to examine the strength competitiveness of local varieties than national varieties from social economic aspects, to be used as a development strategy of national superior variety. Research done on 2012 in the Pesisir Selatan, Padang Pariaman and Agam Districts. The information obtained with surveys ways to 60 respondents each location. Data was analyzed as descriptive and cross tabulation ways. The assessment results concluded that competitiveness of lokal varieties is higher than superior varieties, seen from the higher location distribution of local varieties (62.2%) than superior varieties (37.8%), utilization of local varieties (76%) is higher than superior varieties (24%), and more than 50% farmers tend to use local varieties. The reason people still survive using local varieties primarily because of "taste/flavor". VUB that suitable for development in West Sumatera is the rice that “pera” taste, then the local varieties of rice of West Sumatera who have high yield and spread wide, should be proposed in order to enrich the varieties of rice varieties in Indonesia by using the "local name", and a local variety of rice that is low power, but the result is still in demand and its grows distribution still widespread, then it should be fixed so that its productivity and incomes can be increased. Key words: Competitiveness, lowland rice, lokal varieties, national varieties, pera (non-glutinous) ABSTRAK Pengkajian dilakukan untuk mengetahui penyebab petani yang sampai saat ini masih menyukai varietas lokal.  Tujuan pengkajian adalah untuk mengkaji kekuatan daya saing varietas lokal terhadap varietas unggul nasional dari aspek sosial maupun ekonomi, agar bisa dipakai sebagai strategi dalam pengembangan  varietas unggul nasional. Kajian dilaksanakan pada tahun 2012 di Kabupaten Pesisir Selatan, Padang Pariaman, dan Agam. Metode menghimpun informasi dengan cara survey terhadap 60 responden dari tiap kabupaten. Data dianalisis secara deskriptif dan tabulasi silang. Hasil kajian menyimpulkan bahwa daya saing varietas lokal lebih tinggi dari varietas unggul, terlihat dari tingginya sebaran lokasi varietas lokal (62,2%) dari varietas unggul (37,8%), penggunaan varietas lokal (76%) lebih tinggi dari varietas unggul (24%), dan lebih 50% persepsi petani cenderung menggunakan varietas lokal. Alasan masyarakat masih bertahan menggunakan varietas lokal terutama sekali karena alasan “selera/rasa”.  Disarankan VUB yang sesuai untuk dikembangkan di Sumatera Barat adalah mempunyai rasa nasi pera, kemudian varietas lokal yang berdaya hasil tinggi dan penyebarannya luas, sebaiknya diusulkan untuk menjadi varietas unggul dalam rangka memperkaya varietas padi sawah di Indonesia dengan menggunakan “nama lokal”, dan padi varietas lokal yang sudah rendah daya hasilnya tetapi masih diminati dan sebaran pertanamannya masih luas, maka sebaiknya diperbaiki sifatnya agar produktifitas dan pendapatan masyarakat bisa meningkat. Kata kunci: Daya saing, padi sawah, varietas lokal, varietas unggul nasional, pera
FORMULASI TEPUNG KOMPOSIT KELADI DAN UBI JALAR SEBAGAI BAHAN BAKU MI KERING PENGGANTI SEBAGIAN TERIGU Fawzan Sigma Aurum; Dian Adi Anggraeni Elisabeth
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

ABSTRACTFormulation of Taro and Sweet Potato Composite Flours as Partly Substitution of Wheat Flour in Dried Noodle Making. Taro and sweet potatoes may address food diversification to reduce dependency on wheat flour. This research aimed to determine the best proportion of taro (Colocasia esculenta (L.) Schott) and sweet potato (Ipomoea batatas L.) composite flours as partly substitution of wheat flour in dried noodle making based on sensory, physical, and chemical characteristics. The research was conducted in July 2013 in the Postharvest Laboratory of Bali AIAT. In the making of dried noodle, 30% composite flours was replacing wheat flour. Research used Completely Randomized Design (CRD) with 7 treatments of flours proportion and 3 replications per each treatment. Data was analysed using Anova followed by DMRT at 5%. Dried noodle’s characteristics observed included organoleptic properties (color, aroma, flavor, texture, firmness, stickiness), chemical properties (water, ash, protein, fat, carbohydrate) and physical properties (rehydration time, water absorption, solid loss due to cooking). The results showed that composite flours of taro and sweet potato could substitute 30% wheat flour in the making of dried noodle. The best proportion of composite flours for 30% wheat flour substitution consisted of 80% taro flour and 20% sweet potato. The chemical content of the best dried noodle was, respectively, water 7.30%, ash 1.66%, protein 7.10%, fat 0.32%, and carbohydrate 83.64%; with the physical properties as follow: optimum rehydration time at 3 minutes, water absorption at 318.15% and solid loss due to cooking at 4.31%. Keywords: Taro, sweet potato, flour, physical properties, chemical propertiesABSTRAKTepung keladi dan ubi jalar berpotensi untuk mengganti sebagian kebutuhan tepung terigu yang hingga kini masih bergantung pada impor. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan proporsi tepung komposit keladi (Colocasia esculenta (L.) Schott) dan ubi jalar (Ipomoea batatas L.) yang terbaik sebagai pengganti sebagian terigu untuk bahan baku mi kering berdasarkan karakteristik sifat sensoris dan fisiko-kimianya. Penelitian dilakukan pada Juli 2013 di Laboratorium Pascapanen BPTP Bali. Proses pembuatan mi kering, 30% terigu disubtitusi dengan tepung komposit keladi dan ubi jalar. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan formulasi tepung komposit keladi dan ubi jalar dan 3 ulangan. Data dianalisis dengan ANOVA dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. Karakterisasi yang diamati meliputi sifat organoleptik (warna, aroma, rasa, tekstur, kekenyalan, kelengketan), sifat kimia (air, abu, protein, lemak, karbohidrat) dan sifat fisika (waktu rehidrasi, daya serap air, kehilangan padatan akibat pemasakan (KPAP). Hasil penelitian menunjukan bahwa tepung komposit keladi dan ubi jalar dapat mensubtitusi 30% terigu dalam pembuatan produk mi kering, dimana proporsi terbaik tepung komposit adalah 80% tepung keladi dan 20% tepung ubi jalar. Mi kering terbaik tersebut memiliki kadar air 7,30%, kadar abu 1,66%, kadar protein 7,10%, kadar lemak 0,32%, dan kadar karbohidrat 83,64%; dengan waktu optimum pemasakan adalah 3,0 menit, DSA 318,15% dan KPAP 4,31%. Kata kunci: Keladi, ubi jalar, tepung, sifat fisika, sifat kimia
ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN TANAMAN PADI PRODUK REKAYASA GENETIK DI JAWA BARAT DAN JAWA TIMUR Puspita Deswina; Rizal Syarief; Latief M Rachman; M Herman
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Sustainability Analysis of Genetically Engineered Rice Management in West Java and East Java Province. Bt rice genetically engineered plants (GEPs) having endurance to stem borer insect was developed by the Research Center for Biotechnology LIPI. Compared to conventional plants, the GEP has to obtain a certificate of biosafety and food safety before being released and used by public. It is necessary to study the sustainability of GEP based on indications of sustainable development. The research objective was to determine the sustainability of Bt rice plant based on attributes that construct the dimensions of ecological, economic, social, technological and institutional law. Analysis of the data used Multi Dimensional Scaling (MDS), and the results were expressed in the index form of sustainable management of GEP. Results of the study showed that the sustainability of multidimensional GEP Bt rice corresponds to the criteria of fair with the value 58.99%, except for the technological dimension with the value of 46.71%, which was classified as less sustainable. In addition, lists of value for other dimensions are: 73.02% for environmental dimension, 69.3% for economic dimension, 51.22% for social dimension, 54.74% for institution and law dimension, and 46.71% for technology dimension that was on less sustainable value. The results also showed ten leverage factors that might affect the increasing the sustainability index of all dimensions. These factors are: environmental dimensions (possibility of crossing genetic materials from GE crops to non-GE crops), economic dimensions (farmers dependency to GE crops, affordable price of GEP seed), social dimensions (informations of GEP, public perception and acception, public participation in decision making), technology dimensions (number of GE plants from internal R&D, capacity building in research and assessment of GEP), institutions and law dimensions (implementation of regulations, GEP labelling). Keywords: Genetically Engineered Plants (GEPs), biosafety, sustainability, Bt Rice  ABSTRAK Tanaman padi Bt Produk Rekayasa Genetik (PRG) memiliki sifat ketahanan terhadap hama penggerek batang kuning, hasil pengembangan Puslit Bioteknologi LIPI. Berbeda dengan tanaman konvensional, tanaman PRG harus memperoleh sertifikat keamanan hayati dan keamanan pangan sebelum dilepas dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Kajian keberlanjutan PRG berdasarkan indikasi pembangunan berkelanjutan telah dilakukan menggunakan metode expert survey dan pemilihan responden dari kalangan pakar di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Tujuan penelitian adalah mengetahui keberlanjutan tanaman Padi Bt PRG berdasarkan atribut-atribut yang menyusun dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi serta hukum kelembagaan. Analisis data yang digunakan adalah Multi Dimensional Scaling (MDS) yang hasilnya dinyatakan dalam bentuk indeks keberlanjutan terhadap setiap dimensi yang dikaji. Hasil kajian terhadap multidimensi keberlanjutan tergolong pada kriteria cukup berkelanjutan dengan nilai 58,99%, kecuali untuk dimensi teknologi dengan nilai 46,71% yang tergolong kurang berkelanjutan. Nilai keberlanjutan untuk dimensi lingkungan 73,02%, dimensi ekonomi 69,30%, dimensi sosial 51,22% dan dimensi hukum kelembagaan 54,74%. Diperoleh sepuluh faktor pengungkit (leverage factor) yang dapat mempengaruhi peningkatan indeks keberlanjutan yaitu dari dimensi ekologi (Kemungkinan terjadinya perpindahan (crossing) material genetik dari tanaman PRG ke tanaman non-PRG), dimensi ekonomi (Ketergantungan petani pada tanaman PRG, Harga beli benih PRG yang terjangkau), dimensi sosial (persepsi dan penerimaan masyarakat, keterlibatan publik dalam pengambilan keputusan), dimensi teknologi (jumlah tanaman PRG hasil litbang sendiri, kemampuan SDM melakukan riset dan pengujian tanaman PRG) serta dimensi hukum kelembagaan (implementasi peraturan dan undang-undang, labeling terhadap PRG).Kata kunci: Produk Rekayasa Genetik (PRG), keamanan hayati, keberlanjutan (sustainability), padi Bt
Uji Adaptasi Teknologi Budidaya Bawang Merah di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan Muh Asaad; Warda Halil; Nurjanani ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

ABSTRACTApplication of Shallot Cultivation Technology in Enrekang, South Sulawesi.  Shallot is one of the important vegetable crops in South Sulawesi, but the level of productivity is still low at 6 t / ha. This is caused partly by the lack of specific location technology. The purpose of the assessment is to to get a package of shallot cultivation technology appropriate and in accordance with local conditions. Assessments conducted at  Tominawa Village, Baraka Sub-district, Enrekang District from March to December 2008, using a paired plot design, with two treatments: (1) The application of cultivation technology and (2) Cultivation of  farmer ways. The assessment indicated that the application of cultivation technology as recommended giving shallot growth better than the way farmers plant growth. In this treatment of tuber fresh weight per 10 groves of shallots, tubers and higher tuber diameter of each 937 g, 3.86 cm and 4.20 cm. Furthermore, the number of tubers per hill and tuber dry weight per 10 clusters each tuber and 810 g. 7.28 While the yield obtained on the recommendation technology is 2772 kg/ha, equivalent 0.35 7.92 t/ha. Acceptance of farmers on the application of technology recommended treatment is USD. 30,492,000  as of 0.35 ha with RC ratio of 2.45.Key words: Shallot, dry bulb, technology, cultivationABSTRAK Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran penting di Sulawesi Selatan, namun tingkat produktivitasnya masih rendah yaitu 6 t/ha. Hal ini disebabkan antara lain kurang tersedianya teknologi spesifik lokasi. Tujuan pengkajian adalah untuk mendapatkan paket teknologi budidaya tanaman bawang merah yang tepat dan sesuai dengan kondisi setempat. Pengkajian dilakukan di Kelurahan Kelurahan Tominawa, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang dari bulan Maret sampai Desember 2008, menggunakan rancangan petak berpasangan, dengan dua perlakuan yaitu (1)  Penerapan teknologi budidaya dan (2) Budidaya berdasarkan cara petani. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penerapan teknologi budidaya sesuai anjuran memberikan pertumbuhan bawang merah yang lebih baik dibanding dengan pertumbuhan tanaman pada cara petani. Pada perlakuan ini berat basah umbi bawang merah per 10 rumpun, diameter umbi dan tinggi umbi masing-masing 937 g; 3,86 cm dan 4,20 cm. Selanjutnya jumlah umbi per rumpun dan berat kering umbi per 10 rumpun masing-masing 7,28 umbi dan 810 g. Sementara hasil umbi yang diperoleh pada teknologi anjuran adalah 2.772 kg per 0,35 ha atau setara 7,92 t/ha. Penerimaan petani pada perlakuan penerapan teknologi anjuran adalah Rp.30.492.000 per 0,35 ha dengan RC ratio 2,45.Kata kunci: Bawang merah, umbi kering, teknologi, budidaya
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI DI PULAU SUMATERA Enti Sirnawati; Astrina Yulianti; Amalia Ulpah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n1.2015.p%p

Abstract

 ABSTRACT The Influencing Factors for success on Sustainable Food Reserve Garden in Sumatera. Addressing the needs of food and nutrition can be improved with utilization of home garden. A total of 8,320 units of households in Sumatera have done this approach through development program of Sustainable Food Reserve Garden (SFRG). There are three sub-components to assess the performance of its utilization: seed management, garden management, and institutional aspect. This research was done in 340 villages implementing the SRFG in 10 provinces in Sumatera by using a qualitative method. Unit analysis was area which implementing SRFG in Sumatera. Sampling was done through census in all unit of SRFG, 340 samples. Data was collected through mail survey. Data was analyzed by using a binary logistic model. Result shows that 10 of 36 variables have 5% significant level of positive influence on the improvement of implementation of SRFG in Sumatera, namely source of seeds, seed availability, number of members, crop rotation, crop-livestock integration, conservation of local food, the use of crops, administration, officials were involved, and market. The result also implies that in order to keep the sustainability of SFRG, it is important to regard the following aspects: seedling, crop rotation and its’ integration, the use of crops including market and stakeholder participation. Keywords: Home yard economics, sustainable food reserve gardens (SFRG), food securityABSTRAKUpaya pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi dapat ditingkatkan diantaranya melalui pemanfaatan lahan pekarangan rumah tangga. Sebanyak 8.320 unit rumah tangga di Pulau Sumatera telah melakukan pendekatan ini melalui program pengembangan model Kawasan Rumah Pangan Lestari (m-KRPL). Pengkajian dilakukan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi performa pelaksanaan KRPL ditinjau dari aspek perbenihan, pengelolaan kawasan, dan kelembagaan. Penelitian dilakukan di 340 desa dari 10 provinsi di Pulau Sumatera dengan menggunakan metode kualitatif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah kawasan yang dijadikan model implementasi KRPL (m-KRPL) di Sumatera. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus yaitu seluruh unit m-KRPL sebanyak 340 sampel. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan mail survey. Hasil analisis yang diuji lanjut pada taraf kepercayaan 5% menunjukkan bahwa terdapat 10 variabel dari 36 variabel yang berpengaruh secara positif terhadap peningkatan keberhasilan pelaksanaan KRPL di Pulau Sumatera, yaitu sumber benih, ketersediaan bibit, jumlah Rumah Pangan Lestari (RPL), rotasi tanaman, integrasi tanaman-ternak, konservasi pangan lokal, pemanfaatan hasil panen, administrasi, keterlibatan aparat, serta pasar. Implikasinya adalah upaya untuk keberlanjutan KRPL harus memperhatikan aspek benih/bibit, rotasi tanaman dan integrasinya, pemanfaatan hasil termasuk pasar dan keterlibatan stakeholder. Kata kunci: Ekonomi pekarangan, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), ketahanan pangan 
PRODUKTIVITAS JAGUNG KOMPOSIT BERPENGAIRAN SPRINKLER SEBAGAI PANGAN DAN PAKAN DI LAHAN KERING IKLIM KERING NUSA TENGGARA BARAT Ahmad Suriadi; Baiq Tri Ratna Erawati; Moh. Nazam
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 3 (2014): November 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n3.2014.p%p

Abstract

The Productivity of Composite Maize with Sprinkle Irigation for Food and Feed in Dry Land of West Nusa Tenggara. The potential of dry land in West Nusa Tenggara is about 1.8 million ha and about 30 % of them had been utilized. Maize is a plant that is quite adaptive to cultivate in dry land but that its productivity was low du to limited rainfall. Productivity of composite maize with sprinkler irrigation has been tested to obtain carrying capacity for feed and food in the village Jeringo Suela, East Lombok district during July-October 2011.The study was conducted in farmers' fields and was laid out with a randomized block design using 6 varieties of maize and was repeated three times (Srikandi Putih, Srikandi Kuning, Lagaligo, Lamuru, Anoman and Arjuna).Agronomic parameters were observed includes biomass, plant height, plant moisture content and yield (ton/ha).The data were analyzed using analysis of variance (ANOVA). Results showed that the variety effect plant height, cob height and yield, while the number of plants harvested, number of cob harvested and seed yield were not influenced by varieties. Lamuru variety has the highest yield by 8.266 t/ha, followed by Arjuna with 7.540 t/ha, while the lowest yield was found at Lagaligo with 6.117 t/ha. Carrying capacity of the biomass of maize to feed cattle in the location were exceeds the amount of cattle that are own by farmers (2 cattle/household). The highest carrying capacity was found at Lagaligo (without cobs) but low yield followed by Srikandi Kuning, Lamuru and Anoman varieties and the lowest was found at Srikandi Putih and Arjuna. Development of composite maize on dry season in dry land of semi-arid climate using sprinkler seem to be promoted technology that government may develop the irrigation sprinklers in other upland locations. Based on these results, it may suggest that the compositemaize may be planted on dry land and semi arid using sprinkler irrigation is Lamuru or Srikandi Kuning.Keywords: Composite maize, biomass, carrying capacity, fodder, dry land, sprinklerABSTRAKNusa Tenggara Barat memiliki lahan kering sekitar 1,8 juta ha, tetapi yang baru dimanfaatkan sebesar 30%. Jagung merupakan tanaman yang cukup adaptif dikembangkan di lahan kering namun produktivitasnya masih rendah karena curah hujan yang rendah. Tujuan penelitian untuk mengetahui produktivitas beberapa varietas jagung komposit berpengairan sprinkler sebagai pakan dan pangan yang ditanam pada musim kemarau. Penelitian dilakukan di lahan petani yang ditata dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok menggunakan enam varietas jagung (Srikandi Putih, Srikandi Kuning, Lagaligo, Lamuru, Anoman dan Arjuna) yang diulang tiga kali. Parameter agronomi yang diamati selanjutnya dianalisis menggunakan analisis keragaman (ANOVA) dan analisis ekonomi. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, tinggi letak tongkol dan hasil biji, sedangkan jumlah tanaman panen, jumlah tongkol panen dan rendemen biji tidak dipengaruhi secara nyata oleh varietas. Varietas lamuru memiliki hasil tertinggi yaitu 8,266 t/ha, kemudian diikuti oleh varietas Arjuna sebesar 7,540 t/ha, sedangkan terendah dihasilkan oleh varietas Lagaligo sebesar 6,117 t/ha. Daya dukung biomas jagung terhadap pakan ternak sapi Bali di lokasi pengkajian melebihi dari jumlah sapi yang dipelihara petani saat ini (2 ekor). Daya dukung biomasjagung yang tertinggi di peroleh pada varietas jagung Lagaligo (tanpa tongkol) namun hasilnya rendah dengan diikuti oleh varietas Srikandi Kuning, Lamuru dan Anoman dan yang paling rendah adalahvarietas Srikandi Putih dan Arjuna. Berdasarkan hasil penelitian ini, varietas yang anjurkan untuk ditanam pada lahan kering iklim kering berpengairan sprinkler adalah Lamuru atau Srikandi Kuning.Kata kunci: Jagung komposit, biomas, daya dukung, pakan ternak, lahan kering, sprinkler
PENGARUH PENGOLAHAN TANAH SAWAH BEKAS PADI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI Z Arifin; I R Dewi; D Setyorini; Darman M Arsyad
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 3 (2013): November 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n3.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT The Influence of the Former Paddy Soil Cultivation on the Growth and Yield of Soybean. The study aimed to determine the effect of soil tillage on growth and yield of soybean after rice in rainfed lowland. The experiment was conducted in rainfed soil after harvesting of rice in Mojosari Experimental Farm, East Java during late dry season 2012. The soil type is Regosol with 87 m above sea level. The factorial randomized experimental design with two factors and three replications was used. The first factor consists of four varieties, namely: (1) Anjasmoro, (2) Argomulyo, (3) Burangrang, and (4) Kaba. The second factor consisted of three soil preparation (tillage), namely: (1) No tillage, (2) Soil tillage in row of the plant, (3) Soil tillage properly. Plot size was 5 m x 3 m with plant spacing of 40 cm between rows and 15 cm within row with two plant per hill. The fertilizer of Ponska (300 kg/ha) were applied along the rows at the planting time.  The analysis of variances showed that most of the soybean characters were not affected by soil tillage system x cultivar interaction, except number of branches at 30 and 72 days after planting and number of seed per plant. Since all characters observed were not affected by soil tillage system, the zero tillage system for growing soybean after rice could be suggested. Seven of eleven characters observed were affected by cultivars, including yield and seed weight. Since both cultivars, namely Anjasmoro and Kaba gave the higher yield (2.6 t/ha) compared to the others, therefore, those cultivars were suggested to the farmers in the areas. Keywords: Soybeans varieties, tillage, rainfed lowlandABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengolahan tanah pada beberapa varietas kedelai terhadap populasi gulma, pertumbuhan dan hasil kedelai. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan di Kebun Percobaan Mojosari, Jawa Timur pada MK II 2012. Jenis tanah Regosol dengan ketinggian tempat 87 m diatas permukaan laut. Rancangan percobaan acak kelompok faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor I  terdiri dari 4 varietas, yaitu : (1) Anjasmoro, (2) Argomulyo, (3) Burangrang, dan (4) Kaba. Faktor II terdiri dari 3 olah tanah, yaitu : (1) Tanpa Olah Tanah (TOT), (2) Olah Tanah Baris (OTB), (3) Olah Tanah Sempurna (OTS). Ukuran plot 5 m x 3 m dengan jarak tanam 40 cm antar baris dan 15 cm dalam baris dengan dua tanaman per lubang. Pupuk Ponska (300 kg/ha) diberikan sepanjang baris tanam. Analisis varian menunjukkan bahwa hampir semua peubah tidak dipengaruhi oleh interaksi varietas x sistim oleh tanah, kecuali jumlah cabang pada umur 30 dan 72 hari, dan jumlah biji per tanaman. Oleh karena semua peubah tidak dipengaruhi oleh sistim olah tanah, maka penanaman kedelai setelah padi sawah dapat dilakukan tanpa olah tanah terlebih dahulu. Tujuh dari 11 peubah yang diamati dipengaruhi oleh varietas, termasuk hasil dan bobot 100 biji. Varietas Anjasmoro dan Kaba memberikan hasil tertinggi (2,6 t/ha), sehingga kedua varietas tersebut dapat dianjurkan untuk wilayah/agroekologi yang serupa dengan lokasi penelitian. Kata kunci: Varietas kedelai, olah tanah, gulma, sawah tadah hujan
KANDUNGAN UNSUR HARA DAN BAKTERI PATOGENIK DALAM SUBSTRAT DAN LUMPUR BUANGAN BIOGAS FESES SAPI BALI Luh Gde Sri Astiti; Yohanes Geli Bulu
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n1.2016.p1-20

Abstract

ABSTRACT Nutrients Content and Pathogenic Bacteria in Subtrates and Bio Gas-Sludge of Bali Cattle’s Feces. The biogas processing is one approach to overcome this issue. Bali cattle’s feces produce serious impacts on pollution and could be a source of infectious disease when treating worst. The objective of current research was to evaluate the nutrient content and pathogenic bacteria within biogas sludge from Bali cattle feces. The research was conducted from January to September 2014. The samples used were substrate and biogas sludge of Bali cattle feces taken from 10 biogas installations owned by farmers in Setanggor village Central Lombok District. The content of nutrient within the biogas sludge was analyzed from the samples using Atomic Absorption Spectrophotometer. Counting the number of colony method (Plate Count) in Nutrient Agar media was used to examine the total of bacteria colony and the Most Probable Number (MPN) in Mc. Conkey Agar media was used for counting the total of Coliform bacteria. The result showed that biogas sludge of Bali cattle feces contained nutrients such as N, P, K, Na, Ca, Mg, Fe, Mn, Cu, Zn and organic C. The organic C nutrient was the highest (42.64%). It also proves that the biogas digester process can reduce the total bacteria up to 1.49% (P>0.05) and decrease the total of Coliform bacteria up to 38.2% (P>0.05). High nutrient content and drop in number of total pathogenic bacteria and Coliform bacteria could create the biogas sludge from Bali cattle feces that was environmentally safe and directly used as an organic fertilizer to substitute chemical fertilizers.  Keywords: nutrient, pathogenic bacteria, biogas sludge, Bali cattle  ABSTRAK Pengolahan feses menjadi biogas merupakan salah satu cara untuk mengurangi permasalahan limbah sapi. Feses sapi Bali apabila tidak dimanfaatkan akan menyebabkan pencemaran lingkungan dan meningkatkan resiko penularan penyakit. Penelitian ini bertujuan mengetahui kandungan unsur hara dan kandungan bakteri patogenik dalam lumpur buangan biogas feses sapi Bali. Penelitian dilakukan pada Januari sampai September 2014. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu substrat dan lumpur buangan biogas feses sapi Bali dari 10 instalasi biogas milik peternak di Desa Setanggor Kabupaten Lombok Tengah. Kandungan unsur hara dalam lumpur buangan biogas dianalisis dari contoh (sampel) menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom. Metode penghitungan jumlah koloni (Plate Count) pada media Nutrien Agar digunakan untuk mengetahui total koloni bakteri dan metode Most Probable Number (MPN) pada media Mc. Conkey Agar digunakan untuk mengetahui total bakteri Coliform. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lumpur buangan biogas feses sapi Bali mengandung unsur hara N,P,K, Na, Ca, Mg, Fe, Mn, Cu, Zn dan C organik. Kandungan C-organik tertinggi daripada unsur lainnya yaitu 42,64%. Penelitian ini juga membuktikan bahwa proses digester biogas dapat menurunkan total bakteri patogenik sebesar 1,49% (P>0,05) dan total bakteri Coliform sebesar 38,2% (P>0,05). Dengan kandungan unsur hara dan turunnya kandungan bakteri patogenik dan bakteri Coliform, maka lumpur hasil pengolahan biogas feses sapi Bali aman untuk lingkungan dan dapat digunakan sebagai pupuk organik pengganti pupuk kimia.Kata kunci: Unsur hara, bakteri patogenik, lumpur biogas, sapi Bali

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue