cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
PEMANFAATAN TANDAN KOSONG SAWIT UNTUK PUPUK ORGANIK PADA INTERCROPPING KELAPA SAWIT DAN JAGUNG Muhammad Hatta; Jafri ;; Dadan Permana
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n1.2014.p%p

Abstract

Utilization of Oil Palm Empty Fruits Bunches for Organic Fertilizer on Intercropping of Oil Palm and Maize. Processing of crude palm oil resulted a waste of empty fruit bunches that have not been optimally utilized by most of oil palm factories in West Kalimantan. Its waste was processed to be compost using bio activator, which made the process faster. This compost consists of high macronutrients (N, P, K, Mg, Ca), thus could be used for organic fertilizer. This organic fertilizer was utilized to optimize the land of oil palm plantation with intercropping pattern of immature oil palm and maize. The purpose of this study was to determine the response of application of compost from oil palm empty fruit bunches towards growth of oil palm and yield of maize on intercropping pattern. The research was conducted by composting of oil palm empty fruit bunches with the commercial bio activator then implemented them to the intercropping pattern of immature oil palm plantation and maize. The experimental design used was a randomized block design with four fertilizer treatment and was repeated five times. Results of the study showed that the use of oil palm empty fruit bunches with a dose of 150 kg per plant for palm and 6 t/ha for maize with intercropping patterns to increase of 20 cm height plant for palm during 10 month and provide maize yields of 6.8 t/ha. Results of the financial analysis of maize crop showed profit of IDR 14.278.000/ha/season. Key words: Waste, oil palm empty fruit bunches, composting, intercropping, maize, added valuePengolahan Crude Palm Oil selalu menghasilkan limbah tandan kosong kelapa sawit dan belum dimanfaatkan secara optimal oleh sebagian besar Pabrik Kelapa Sawit di Kalimantan Barat. Limbah tersebut dapat diproses menjadi kompos dengan menggunakan bioaktivator dalam waktu yang lebih cepat. Kandungan unsur hara makro (N, P, K, Mg, Ca) pada limbah tandan kosong sawit cukup tinggi dan dapat digunakan sebagai pupuk organik. Pupuk organik ini dapat dimanfaatkan untuk optimalisasi lahan perkebunan kelapa sawit dengan pola intercropping antara tanaman kelapa sawit yang masih muda dengan tanaman jagung. Tujuan pengkajian ini adalah untuk mengetahui respon aplikasi kompos tandan kosong sawit hasil dekomposisi bioaktivator  komersial terhadap pertumbuhan tanaman kelapa sawit dan hasil jagung dengan pola tanam intercropping. Pengkajian dilakukan dengan pembuatan kompos tandan kosong sawit menggunakan bioaktivator komersial yang diaplikasikan terhadap pola tanam intercropping tanaman kelapa sawit belum menghasilkan dengan tanaman jagung. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan pemupukan kompos tandan kosong sawit diulang 5 kali. Hasil kajian menunjukkan pemberian kompos tandan kosong sawit  dengan dosis 150 kg/tanaman untuk kelapa sawit dan 6 t/ha untuk tanaman jagung dengan pola intercropping dapat meningkatkan tinggi tanaman kelapa sawit 20 cm selama 10 bulan dan memberikan hasil jagung sebanyak 6,8 t/ ha, menghasilkan keuntungan sebesar Rp14.278.000,-/ha/musim. Kata kunci : Limbah, tandan kosong sawit, kompos, intercropping, jagung, nilai tambah
Analisis Ekonomi Sistem Tanam Padi Sawah di Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara Zainal Abidin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

ABSTRACTEconomic Analysis of Several Models Rice Planting in Konawe Regency Southeast Sulawesi. Indonesian Agency Agricultural Research and Development (IAARD) has introduced some technology to enhance rice productivity, such as direct planting system and legowo model in transplanting system. Research  was conducted to know agro economic performance of several models rice planting at Bendewuta Village Wonggeduku Subdistrict Konawe Regency, using 15 ha low land rice area by comparing three kinds of technology such as: (i) exsisting direct planting model (farmer technology), (ii) direct seeding legowo 2:1 model, and (iii) transplanting legowo 2:1 model. Each model was applied in 5 ha low land rice area at the same location. The result of research showed that the rice yield of legowo model (transplanting system and direct seeding) was higher 20.9% and 20.3% respectively than the rice yield of existing direct seeding planting model. Direct seeding legowo 2:1 model gave highest benefict, around IDR. 8,107,250/ha/season with BCR value 1.75. Changing technology from the existing direct seeding planting model to direct seeding planting legowo 2:1 model gave addition benefict around IDR.1,975,050 with MBCR value 6.96 and from transplanting legowo 2:1 model to direct seeding planting legowo 2:1 model add benefict IDR.425,100 with MBCR value 1.16. Direct seeding planting legowo 2:1 model has been adopted by farmer in several villages and was implemented around 100 ha only 1 season after this model was introduced in first season 2011. In the future, due to increasing planting cost of rice, direct seeding legowo 2:1 model could be can alternative way to decrease planting cost and to increase  rice yield.. Key words: Economic analysis, planting system, rice ABSTRAK Badan Litbang Pertanian telah mengintroduksikan berbagai teknologi untuk meningkatkan produktivitas padi, antara lain sistem tanam benih langsung (Tabela) dan cara tanam legowo. Kajian sistem tanam padi dilakukan di Desa Bendewuta, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe pada luasan 15 ha dengan membandingkan tiga teknologi, yaitu (i) tabela biasa, (ii) tabela legowo 2:1 dan (iii) tapin legowo 2:1, yang masing-masing diaplikasikan pada 5 ha lahan sawah. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penanaman dengan sistem legowo baik dengan menggunakan tapin maupun tabela memberikan produktivitas lebih tinggi masing-masing 20,9% dan 20,3% dibandingkan dengan penggunaan tabela biasa. Sistem tabela legowo 2:1 memberikan keuntungan yang tertinggi yaitu Rp. 8.107.250/ ha dengan nilai BCR sebesar 1,75. Perubahan penerapan teknologi sistem tabela biasa menjadi sistem tabela legowo 2:1 memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp.1.975.050 dengan nilai MBCR 6,96. Perubahan teknologi sistem tapin legowo 2:1 menjadi sistem tabela legowo 2:1 memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp.425.100, dengan nilai MBCR 1,16. Penggunaan teknologi tabela legowo 2:1 telah direspon baik oleh petani di sekitar wilayah pengkajian, dimana pada MT II 2011 telah berkembang sekitar 100 ha yang menggunakan atabela model legowo 2:1. Ke depan, dengan makin meningkatnya biaya tanam, maka penanaman sistem tabela legowo 2:1 dapat menjadi salah satu alternatif bagi petani untuk mengurangi biaya tanam, dan meningkatkan produktivitas padi sawah. Kata kunci: Analisis ekonomi, cara tanam, padi sawah
PENGARUH PUPUK ORGANIK DAN PENJARANGAN BUAH TERHADAP PRODUKTIVITAS SALAK GULA PASIR I Nyoman Adijaya; I Made Rai Yasa
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT The Effects of Organic Fertilizer and Fruit Thinning on the Productivity of Balinese Snake-Fruit. The study aims to determine Knowing the effect of organic fertilizers to increase productivity and fruit thinning to improving the quality (grade) of fruits sugar, analyze farming application of organic fertilizers and fruit thinning, performance Gapoktan and income of rice farming for the recipient PUAP, as well as production problems bark sugar among others, the management of particular plants fertilization and thinning fruit that has not been applied properly, so the productivity is low.Study of fertilizing and fruit thinning was conducted in farmers group “Amerta Pala” in Pajahan village, Pupuan District, Tabanan-Bali. The study used productive plant aged 5-7 years. The reseach used a factorial randomized block design with two factors. The first factor is the dose of manure: PK0: without fertilizing, PK1: 5 kg of manure/plant, PK2: 10 kg of manure/plant and PK3: 15 kg of manure/plant. The second factor is fruit thinning: PB0: no thinning, PB1: thinning 10% in a bunch, PB2: thinning 20% in abunch and PB3: thinning 30% in a bunch. The results showed that there is no interaction between fertilizer and fruit thinning. Increasing doses of manure up to 10 kg/plant increased the productivity. Increasing fruit thinning to 30% in a bunch was followed by decreasing fruit harvested per plant and increasing a weight per fruit at the peak harvest and at the first interval of harvest. Increasing doses of manure up to 10 kg/plant increased farm profits, however, the profit could decline at a dose of 15 kg/plant. Nevertheless, an increase in fruit thinning up to 30% in a bunch would increase the profit. An increase in the dose of organic fertilizer could improve the soil’s chemical properties (organic-C and total-N) but that was not followed by an increase in the physical properties of the soil. Keywords: Cow manure, fruit thinning, productivity, balinese snake-fruit ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui Mengetahui pengaruh pemupukan organik terhadap peningkatan Penelitian bertujuan untuk mengetahui Mengetahui pengaruh pemupukan organik terhadap peningkatan produktivitas dan pengaruh penjarangan buah terhadap peningkatan kualitas (grade) buah salak gula pasir; menganalisis usahatani penerapan pemupukan organik dan penjarangan buah, kinerja Gapoktan, pendapatan usahatani padi bagi penerima PUAP, dan serta permasalahan produksi salak gula pasir antara lain manajemen pengelolaan tanaman khususnya pemupukan dan penjarangan buah yang belum diterapkan secara baik, sehingga produktivitasnya rendah.Kajian pemupukan dan penjarangan buah salak gula pasir ini dilakukan di Kelompok Amerta Pala Desa Pajahan Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Kajian dilakukan pada tanaman salak yang telah berproduksi (umur 5-7 tahun).Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama dosis pupuk kandang sapi yaitu: Pk0: tanpa pemupukan, Pk1: 5 kg pupuk kandang/tanaman, Pk2 : 10 kg pupuk kandang/tanaman dan Pk3: 15 kg pupuk kandang/tanaman. Faktor kedua penjarangan buah yaitu: Pb0: tanpa penjarangan, Pb1: Penjarangan 10% dalam satu tandan, Pb2: Penjarangan 20% dalam satu tandan dan Pb3: Penjarangan 30% dalam satu tandan. Hasil penelitian menunjukan tidak terjadi interaksi antara perlakuan dosis pupuk kadang sapi dan penjarangan buah.Peningkatan dosis pupuk kandang sapi sampai 10 kg/tanaman meningkatkan produktivitas salak gula pasir. Peningkatan penjarangan buah sampai 30% dalam satu tandan tidak menurunkan hasil tanaman. Peningkatan penjarangan buah sampai 30% dalam satu tandan diikuti oleh penurunan jumlah buah panen per tanaman dan peningkatan berat per buah pada panen raya dan sela I. Peningkatan dosis pupuk kandang sapi sampai 10 kg/tanaman meningkatkan keuntungan usahatani, namun terjadi penurunan keuntungan pada dosis 15 kg/tanaman, akan tetapi peningkatan penjarangan buah sampai 30% dalam satu tandan diikuti oleh peningkatan keuntungan usahatani. Terjadi peningkatan sifat kimia tanah (C-organik dan N-total tanah) akibat peningkatan dosis pemupukan organik yang diberikan, namun tidak diikuti oleh peningkatan sifat fisik tanah. Kata kunci: pupuk kandang sapi, penjarangan buah, produktivitas, salak gula pasir
ANALISIS USAHATANI KAKAO RAKYAT DI KABUPATEN SOLOK SUMATERA BARAT Buharman B
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n1.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Analysis of Cocoa Small-Farming in Solok District, West Sumatera Province. Solok District is one of the districts that promote the development of cacao plantation in West Sumatera. The development of cacao plantation is physically conducive, however economically is questionable because the existence of other competitive commodities. The objective of the assessment was to analyze the farming systems feasibility as the basis for further development of cacao plantation in West Sumatera. A survey was conducted with 30 farmer’s respondents by purposive method in Solok District West Sumatra 2012. The data collection consisted of quantity and value of input-output of cacao farming and cost and revenue components. Data was analyzed using the criteria of financially feasible infestation with parameters Benefit Cost Ratio (B/C); Net Present Value (NPV); internal Rate of Return (IRR) and Pay Back Period (PBP). The financial analysis gather in 20 year, at discount factor (DF) 12% indicated the  B/C 1.649; NPV IDR37,889,134;  IRR 30.16%; and PBP at year 5th to 6th. The results from sensitivity analysis, with the cost of production increased by 25%, and the benefit increased by 10% cocoa farming was financially feasible, that shown by the indicator of B/C value for 1.452; NPV IDR32,930,170; IRR 26.10% which was more than the rate  for commercial level. To improve the competitive of cacao in West Sumatera, there is a need the application of good farming practice which includes the use of high yield varieties, integrated pest and disease protection, fertilizer, and topping technologies. In addition, the efforts should be followed by the improvement of skill and knowledge of farmers involved in cacao farming.Keywords: Cacao, cultural practices, financial analysisABSTRAK Kabupaten Solok merupakan salah satu daerah penghasil kakao di Sumatera Barat. Secara fisik perkembangan kakao di Sumatera Barat menunjukkan keragaan yang relatif baik, namun dari sisi ekonomi masih dipertanyakan karena adanya komoditi alternatif yang menjadi pesaing. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial usahatani kakao, sebagai dasar pertimbangan untuk pengembangan lebih lanjut di Sumatera Barat. Survai dilakukan terhadap 30 orang petani kakao yang ditentukan secara sengaja sebagai responden. Pengkajian dilakukan di Kabupaten Solok, Sumatera Barat tahun 2012. Data yang dikumpulkan mencakup komponen budidaya, kuantitas dan nilai masukan-hasil usahatani kakao, serta komponen biaya dan penerimaan. Analisis data menggunakan kriteria kelayakan investasi secara finansial, dengan parameter B/C; NPV; IRR dan PBP. Hasil analisis selama 20 tahun pada tingkat discound factor 12% menunjukkan bahwa investasi dinilai layak secara finansial yang ditunjukkan nilai B/C sebesar 1.649; NPV Rp37.889.133,72; IRR 30,16%; dan PBP jatuh pada tahun ke 5-6. Hasil analisis sensitivitas, dengan kenaikan biaya produksi 25% dan penerimaan naik 10% usahatani kakao secara finansial masih layak, ditunjukkan oleh indikator B/C 1,452; NPV Rp32.930.169,58; IRR 26,10% lebih besar dari suku bunga komersial (12%). Untuk meningkatkan daya saing kakao di Sumatera Barat diperlukan perbaikan teknologi budidaya yang tepat, meliputi penggunaan klon unggul, pengendalian hama terpadu (PHT), pemupukan, dan pemangkasan. Disamping itu, upaya tersebut perlu diikuti dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani sebagai pengelola usahatani kakao.Kata kunci: Kakao, keragaan budidaya, analisis finansial
KAJIAN CARA PERSIAPAN LAHAN DALAM USAHATANI JAGUNG DI LAHAN KERING INCEPTISOL Azwir ,
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n2.2013.p%p

Abstract

ABSTRACTLand Preparation Methods Assessment for Corn Farming System in the Inceptisol Dry Land Area. Scarcity of labor and the physical condition of the soil and the weather are series of problems in the cultivation of corn in Tanah Datar District which is one of the centers of corn production in West Sumatera. Therefore, it is necessary to find alternative ways of tillage which can save energy  and cost and to conserve soil and water on dry land. The assessment has been carried out on dry land of Balimbing village, Tanah Datar District, West Sumatera from June to October 2012. The purpose of the assessment is to get the suitable method of land preparation, both technically and economically for two high yielding corn varieties in the dry lands. The assessment was carried  on in a split plot design with four replications. Two varieties of corn (Bima-3 and N-35), the most prefered by farmers in the study locations serve as the main plots and three tillage methods (no-tillage/NT, minimum tillage/MT and perfect tillage/PT) as sub plots.  Assessment results showed that tillage method affected  the yield of corn varieties where without tillage method (TOT) gave higher yield for both varieties compared to other tillage methods.  The average yield of the TOT method was 7.35 t/ha for Bima-3 variety and 7.13 t/ha for N-35 variety.Key words: Corn, dry land, land preparation, NT, MT, PT                                                             ABSTRAK  Salah satu persoalan yang dihadapi usahatani  jagung di lahan kering adalah permasalahan kondisi fisik tanah dan ketersediaan air yang kurang serta sulitnya tenaga kerja. Pengkajian ini bertujuan  untuk mendapatkan cara persiapan lahan yang tepat baik secara teknis maupun ekonomis untuk varietas jagung yang adaptif untuk lahan kering inceptisol. Pengkajian dilakukan di lahan kering Desa Balimbing Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada  bulan Juni sampai Oktober 2012. Pengkajian dilaksanakan menurut rancangan Petak Terpisah dengan empat ulangan. Dua varietas jagung (Bima-3 dan N-35) dijadikan sebagai petak utama dan tiga sistem persiapan lahan (tanpa olah tanah/TOT, olah tanah minimum/OTM dan olah tanah sempurna/OTS) sebagai anak petak.  Hasil pengkajian menunjukkan bahwa cara persiapan lahan berpengaruh terhadap hasil jagung varietas Bima-3 dan N-35. Cara persiapan lahan dengan tanpa olah tanah (TOT) memberikan hasil relatif lebih tinggi untuk kedua varietas dibanding dengan cara persiapan lahan lain, yaitu untuk varietas Bima-3  7,35 t/ha dan untuk N-35 7,13 t/ha.  Oleh karena itu, kedepan pengembangan jagung di lahan kering Inceptisol dapat digunakan kombinasi varietas  Bima-3 dengan cara persiapan lahan TOT. Kata kunci: Jagung, lahan kering, OTS, OTM, TOT
SISTIM PENGAIRAN DAN PEMUPUKAN UNTUK PENANGGULANGAN KERACUNAN BESI DAN PERBAIKAN PERTUMBUHAN TANAMAN PADI PADA TANAH ULTISOL MOROWALI SULAWESI TENGAH Syafruddin ,; Saidah ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 3 (2013): November 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n3.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT The Irrigation Systems and Fertilization for Preventing Iron Toxicity and Improving the Rice Growth on Ultisol in Morowali, Central Sulawesi. Newly opened lands for lowland rice are commonly less fertile complexed with iron toxicity and decreasing their productivity. The assessment was conducted to findout suitable irrigation system combined with NPK fertilizer in iron toxic condition, in order to improve the growth and yield of the lowland rice. The experiment was carried out in Une Pute Jaya Village Central Bungku District, Morowali Regency, Central Sulawesi, from September 2010 to Januari 2011. The land is acid Ultisol with iron toxicity symptoms. The experiment was designed as factorial randomized block design with two factors. The first factor consisted of tree levels of irrigation system and the second factor was four levels of NPK fertilizer combination. The results showed that site is low fertile soil with very high iron content. Submerged irrigation system beneficially influence and improve plant growth with grain yield up to 48.13 % higher than the yield obtained by the stagnant irrigation system at five cm water depth in the same fertilizer dosage (t3p1><t1p1). Moreover, submerged irrigation system could decrease iron uptake up to 82.06% and iron toxicity up to 91.06% compared to the stagnant irrigation system at five cm water depth. Reduction of fertilizer dosage up to 25% did not reduced the yield compared to the local recommended one.Keywords : Irrigation, iron toxicity , rice, Ultisols  ABSTRAK Lahan sawah bukaan baru pada umumnya mempunyai tingkat kesuburan rendah dan sering ditemukan adanya gejala keracunan besi, sehingga produktivitasnya rendah. Kajian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh sistim pengairan dan pemupukan N, P, K terhadap penurunan keracunan besi, perbaikan pertumbuhan dan hasil padi pada lahan sawah bukaan baru. Kajian dilaksanakan di Desa One Pute Jaya, Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Lahan yang digunakan pada penelitian adalah lahan bukaan baru yang bersifat masam (Ultisol) dan ditemukan adanya gejala keracunan besi. Kajian dilaksanakan dari bulan September 2010 sampai Januari 2011. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok pola faktorial dengan dua faktor yaitu, faktor pertama sistim pengairan yang terdiri dari tiga taraf dan faktor kedua kombinasi pupuk N, P, K terdiri atas taraf taraf. Hasil kajian menunjukkan bahwa tanah lokasi kajian tergolong kurang subur dengan faktor penghambat utama tingginya kadar besi. Sistim pengairan secara macak-macak dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman dengan hasil gabah kering panen (GKP) lebih tinggi sekitar 48,13% dibandingkan dengan sistim pemberian air secara tergenang selama penelitian pada perlakuan pemupukan yang sama (t3p1><t1p1). Disamping itu, dengan sistim pemberian air secara macak-macak dapat menurunkan serapan besi hingga 82,06% dan keracunan besi 91,06% dibandingkan dengan sistim pemberian air secara tergenang. Pengurangan takaran pupuk hingga 25% dari rekomendasi setempat belum berpengaruh nyata terhadap penurunan hasil padi.Kata kunci : Pengairan, keracunan besi, padi,Ultisol
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENANGKARAN BENIH PADI DI KABUPATEN KONAWE SULAWESI TENGGGARA nFN Dahya
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n1.2016.p%p

Abstract

ABSTRACT Feasibility Analysis of Rice Seed Production in Konawe District, South East Sulawesi. The objective was to determine the feasibility and sensitivity of rice seed production towards producing rice for consumption. This assessment was conducted in the Waworoda Jaya village, Tongauna subdistrict, Konawe District in June-September 2015. The study used 20 hectares of arable land involving 10 farmers, where each farmer planted 1 ha for the production of certified seed and 1 ha for the production of grain consumption. The introduced varieties are Inpari 6, Inpari 7, Inpari 15, also used Mekongga as a comparison. The plantation applied “Jajar Legowo” row planting system (2 : 1), while the type and dose of fertilizer used was 150 kg Urea, SP 36 100 kg and 250 kg NPK per hectare. The results showed that rice seed production business was profitable and feasible to be developed by R/C roughly 2.92 and MBCR around 3.66 compared to the production of grain for consumption with R/C about 2.66. To achieve the Provincial Minimum Wage (UMP) in South East Sulawesi in 2015, the minimum cultivation area for business should be 0.33 hectares. Rice seed production was not sensitive to any changes in prices and a decline in production, despite a decline 15% in production and increase 15% in input prices. Hence, the seed production needs to be developed to support self-sufficiency on seed for one village. Keywords: feasibilty, seed production, sensitivity ABSTRAKTujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui kelayakan finansial dan sensitivitas usaha penangkaran benih padi terhadap usaha produksi gabah konsumsi. Pengkajian dilakukan di Desa Waworoda Jaya, Kecamatan Tongauna, Kabupaten Konawe pada bulan Juni-September tahun 2015. Pengkajian menggunakan lahan seluas 20 hektar dengan melibatkan 10 orang petani. Jenis varietas yang diintroduksi adalah Inpari 6, Inpari 7, Inpari 15 dan Mekongga sebagai pembanding. Penanaman dilakukan dengan cara tanam legowo (2:1), sedangkan jenis dan dosis pupuk yang digunakan yaitu Urea 150 kg, SP36 100 kg dan NPK 250 kg per hektar. Hasil kajian menunjukkan bahwa usaha produksi benih padi menguntungkan dan layak untuk dikembangkan dengan nilai R/C 2,92 dan nilai Marginal Benefit Cost Ratio (MBCR) 3,66 jika dibandingkan dengan produksi gabah untuk konsumsi dengan nilai R/C 2,66. Untuk mencapai Upah Minimun Provinsi (UMP) Sulawesi Tenggara tahun 2015, maka usaha penangkaran benih yang harus diusahakan adalah minmal seluas 0,33 hektar. Usaha penangkaran benih padi tidak sensitif terhadap perubahan harga dan penurunan produksi, walaupun terjadi penurunan produksi 15% dan kenaikan harga input 15%, sehingga penangkaran benih perlu dikembangkan untuk mendukung desa mandiri benih. Kata kunci: kelayakan, produksi benih, sensitivitas
PRODUKSI DAN ANALISIS EKONOMI SAPI BALI YANG DIBERI PAKAN PELEPAH SAWIT DI MUSIM KEMARAU, SUMATERA BARAT Yanovi Hendri; Ratna Andam Dewi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n1.2014.p%p

Abstract

Production and Economic Analysis of Bali Cattle Using Feed of Palm Frond During Dry Season, West Sumatera. Problems of cattle feed during dry season could be solved by additional of palm frond without adversely affected the cattle production. The aim of this research was to determine body weight gain and to conduct the economic analysis of Bali cattle which was fed palm frond during dry season. The design of the experiment was Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and three replications in each treatment. The total of 12 Bali cattle on the age of 1,5-2 year old and the average body weight 170kg were used in this study. The treatments were R0 (grass + concentrate), R1 (grass + 3kg palm frond + concentrate), R2 (grass + 4 kg palm frond + concentrate) and R3 (grass + 5 palm frond + concentrate). Grass was given ad-libitum, while concentrate was given 1,5kg/day consisting of 40% rice brand, 14% corn, 30% palm oil meal, 7% soybean meal, 5% fish meal, 3% mineral dan 1% salt. The parameters observed were average daily gain (ADG), return over cost ratio (R/C) and net income value. The results showed that the performance of Bali cattle had significantly different (P<0,05) on average daily gain compared to other Bali cattle that was not fed palm frond. Bali cattle by R2 had average daily gain of 0.54 kg/day higher than others by R0, which had average daily gain of 0.42 kg/day. The economic analysis showed that Bali cattle by R2 had R/C of 1.39 and net income value of 3.6 times higher than those by R0 which had R/C of 1.11. Thus, it can be concluded that palm frond for Bali cattle feed could substitute grass up to 30 percent, increase farmer income and also solve the problems to find grass during dry season. Key words: Bali cattle, dry season, palm oil frond, growth, economic analysis  Masalah pakan sapi di musim kemarau yang sulit diperoleh diharapkan dapat diatasi dengan pemberian pelepah sawit tanpa menyebabkan dampak buruk terhadap produktivitas ternak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertambahan bobot badan dan analisa ekonomi sapi Bali yang diberi pakan pelepah sawit pada musim kemarau. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Sebanyak 12 ekor sapi Bali jantan umur 1,5-2 tahun dengan bobot badan rata-rata 170 kg digunakan dalam penelitian ini. Sapi tersebut dibagi menjadi empat kelompok dan diberikan perlakuan pakan R0 (rumput+konsentrat), R1 (rumput+3kg pelepah sawit+konsentrat), R2 (rumput+4kg pelepah sawit+konsentrat) dan R3 (rumput+5kg pelepah sawit+konsentrat). Rumput diberikan secara ad-libitum, sedangkan konsentrat sebanyak 1,5kg/hari yang merupakan campuran dari 40% dedak halus, 14% jagung halus, 30% bungkil sawit, 7% bungkil kedelai, 5% tepung ikan, 3% ultra mineral dan 1% garam. Parameter yang diukur meliputi pertambahan bobot badan harian (PBBH), return over cost ratio (R/C) dan nilai keuntungan bersih (NKB). Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakan pelepah sawit memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot badan sapi Bali. Pemberian pakan pelepah sawit R2 pada sapi Bali menghasilkan PBBH 0,54 kg/hari lebih tinggi dibanding sapi Bali yang diberikan pakan R0 tanpa pelepah sawit dengan PBBH 0,42 kg/hari. Analisis ekonomi sapi Bali yang diberi pakan pelepah sawit R2 memperlihatkan nilai R/C 1,39 dan nilai keuntungan bersih 3,6 kali lebih tinggi dibandingkan pakan tanpa pelepah sawit R0 dengan nilai R/C 1,11. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian pelepah sawit terhadap sapi Bali mampu menggantikan rumput hingga 30% kebutuhan konsumsi bahan kering dan bisa mengatasi masalah kesulitan memperoleh rumput di musim kemarau. Kata kunci: Sapi Bali, musim kemarau, pelepah sawit, berat badan, analisis ekonomi
FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI ADOPSI TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU PADI SAWAH DI SULAWESI TENGGARA Sri Bananiek; Zainal Abidin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n2.2013.p%p

Abstract

ABSTRACTSocial Economic Factors that Influence the Adoption of Rice Integrated Crop Managemen in Southeast Sulawesi. The implementation program of Integrated Crop Management (ICM) for paddy is a one government effort to enhance production and productivity of paddy to reach a sustainable self sufficient. The research was conducted to know the influencing of adoption factors of ICM technology and impact of ICM technology to enhancing farmer income. The research was conducted in February until May 2011 at Konawe Regency with survey method using 60 farmers that was choosed purposive random sampling based on participating farmer in ICM FFS. The data was analyzed with degree of adoption, linear regression, revenue analysis, losses and gain analysis and descriptive analysis. The result of research showed that the adoption of paddy ICM technology in Konawe District still medium. Several technologies that still low in degree of adoption such as fertilize technology and pest desease management, but new varieties and harvest and post harvest technology have high degree of adoption. The factors that have significant influence for ICM technology adoption are formal education, farmer experience, wide area, number of household labour, farmer income and finance institution support. Changing technology with ICM technology gave positive impact on farmer income that was indicated by MBCR value around 1.162. For the next, increasing ICM technology adoption through FFS should be continuing as a effort to increase the implementation of ICM technology and farmer income. Key words:  ABSTRACT Social Economic Factors that Influence the Adoption of Rice Integrated Crop Managemen in Southeast Sulawesi. The implementation program of Integrated Crop Management (ICM) for paddy is a one government effort to enhance production and productivity of paddy to reach a sustainable self sufficient. The research was conducted to know the influencing of adoption factors of ICM technology and impact of ICM technology to enhancing farmer income. The research was conducted in February until May 2011 at Konawe Regency with survey method using 60 farmers that was choosed purposive random sampling based on participating farmer in ICM FFS. The data was analyzed with degree of adoption, linear regression, revenue analysis, losses and gain analysis and descriptive analysis. The result of research showed that the adoption of paddy ICM technology in Konawe District still medium. Several technologies that still low in degree of adoption such as fertilize technology and pest desease management, but new varieties and harvest and post harvest technology have high degree of adoption. The factors that have significant influence for ICM technology adoption are formal education, farmer experience, wide area, number of household labour, farmer income and finance institution support. Changing technology with ICM technology gave positive impact on farmer income that was indicated by MBCR value around 1.162. For the next, increasing ICM technology adoption through FFS should be continuing as a effort to increase the implementation of ICM technology and farmer income. Key words: Paddy, adoption, ICM  ABSTRAK Implementasi program Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi merupakan upaya pemerintah secara massif untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi sawah menuju swasembada berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi adopsi teknologi PTT padi sawah dan dampaknya terhadap pendapatan petani. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Mei 2011 di Kabupaten Konawe dengan menggunakan metode survey terhadap 60 orang responden yang ditentukan secara purposive random sampling berdasarkan keterlibatannya sebagai pelaksana SL-PTT. Data dianalisis dengan analisis adopsi, regresi linear berganda, pendapatan, losses and gain dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan tingkat adopsi teknologi PTT padi sawah termasuk kategori adopsi sedang. Adopsi teknologi PTT padi sawah yang masih rendah terjadi pada pemupukan dan pengendalian OPT berdasarkan PHT, sementara adopsi yang tinggi terjadi pada penggunaan varietas unggul dan penerapan teknologi panen. Faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh nyata terhadap adopsi teknologi padi sawah adalah pendidikan formal, pengalaman berusahatani, luas lahan garapan, jumlah tenaga kerja keluarga, pendapatan usahatani dan dukungan pembiayaan. Perubahan teknologi melalui pelaksanaan SL-PTT berdampak positif terhadap pendapatan usahatani  yang ditunjukkan dengan nilai MBCR sebesar 1,612. Ke depan peningkatan adopsi teknologi PTT melalui pendekatan SL perlu terus dilaksanakan dalam upaya peningkatan penerapan teknologi PTT padi sawah yang pada akkhirnya akan meningkatkan pendapatan petani. Kata kunci: Padi, adopsi, PTT  ABSTRAKImplementasi program Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi merupakan upaya pemerintah secara massif untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi sawah menuju swasembada berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi adopsi teknologi PTT padi sawah dan dampaknya terhadap pendapatan petani. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Mei 2011 di Kabupaten Konawe dengan menggunakan metode survey terhadap 60 orang responden yang ditentukan secara purposive random sampling berdasarkan keterlibatannya sebagai pelaksana SL-PTT. Data dianalisis dengan analisis adopsi, regresi linear berganda, pendapatan, losses and gain dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan tingkat adopsi teknologi PTT padi sawah termasuk kategori adopsi sedang. Adopsi teknologi PTT padi sawah yang masih rendah terjadi pada pemupukan dan pengendalian OPT berdasarkan PHT, sementara adopsi yang tinggi terjadi pada penggunaan varietas unggul dan penerapan teknologi panen. Faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh nyata terhadap adopsi teknologi padi sawah adalah pendidikan formal, pengalaman berusahatani, luas lahan garapan, jumlah tenaga kerja keluarga, pendapatan usahatani dan dukungan pembiayaan. Perubahan teknologi melalui pelaksanaan SL-PTT berdampak positif terhadap pendapatan usahatani  yang ditunjukkan dengan nilai MBCR sebesar 1,612. Ke depan peningkatan adopsi teknologi PTT melalui pendekatan SL perlu terus dilaksanakan dalam upaya peningkatan penerapan teknologi PTT padi sawah yang pada akkhirnya akan meningkatkan pendapatan petani. Kata kunci: Padi, adopsi, PTT
RESPON PADI GOGO TERHADAP PUPUK HAYATI DI LAHAN KERING KABUPATEN KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA Enung Sri Mulyaningsih; Harmastini Sukiman; Tri Muji Ermayanti; Sylvia Lekatompessy; Sri Indrayani; Abdul Rauf Seri; Eko Binnaryo Mei Adi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

 ABSTRACT Response of Upland Rice towards Biological Fertilizer on the Dry Land in South Konawe District, South East Sulawesi. As the productivity of upland rice is still low, it requires technology improvement such as high yield variety and biological fertilizer. The purpose of this research was to determine the adaptability of upland rice varieties combined with biological fertilizer application. The experiment was conducted in the dry land of South Konawe District, South East Sulawesi using a factorial randomized block design with four replications of two factors. The first factor was three upland rice varieties namely Inpago LIPI Go1, Inpago LIPI Go2 and local varieties Kolono; the second factor was the combination of inorganic fertilizers and biological fertilizers. The experiment was carried out from December 2013 to March 2014. The results showed that the highest productivity was achieved by Inpago LIPI Go2 (4.5 to 5.2 t/ha) combined with the fertilizer combination as follow; Biofertilizer; Biofertilizer + 25% of recommended inorganic fertilizer; and Biofertilizer + 50% of recommended inorganic fertilizer without loosing the yield.   Keywords: Upland rice, biological fertilizer, Mikoriza, Azospirillum, Konawe Selatan   ABSTRAK Produktivitas padi gogo di lahan kering masih tergolong rendah. Untuk meningkatkan produktivitasnya perlu dilakukan perbaikan teknologi yang mencakup varietas dan pemupukan. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui daya adaptasi dua varietas baru padi gogo dikombinasikan dengan aplikasi pupuk hayati. Percobaan dilakukan di lahan kering Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara dengan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dua faktor dengan empat ulangan. Faktor pertama ialah tiga varietas padi gogo yaitu Inpago LIPI Go1, Inpago LIPI Go2 dan varietas lokal Kolono. Faktor ke dua ialah kombinasi pupuk anorganik dan pupuk hayati (PH). Percobaan dilaksanakan pada Desember 2013 sampai dengan Maret 2014.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa hasil gabah tinggi (4,5-5,2 t/ha) diperoleh dari varietas Inpago LIPI Go2 dengan pupuk organik dan anorganik, yaitu PH, PH + pupuk NPK 25% dosis anjuran, dan PH + pupuk NPK 50% dosis anjuran. Penggunaan pupuk hayati (BioVam berisi Mikorisa dan Bioplus berisikan beberapa bakteri termasuk Azospirillum dan Asotobakter) dapat mengurangi pupuk anorganik hingga 50% bahkan tanpa pemupukan. Oleh karena itu varietas Inpago LIPI Go2 dapat diterapkan dengan PH dan mampu mengurangi penggunaan pupuk NPK hingga lebih dari 50% dosis anjuran tanpa mengorbankan hasil. Kata kunci: Padi gogo, pupuk hayati, Mikoriza, Azospirillum, Konawe Selatan

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue