cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
PENGARUH PENGGANTIAN SEBAGIAN PAKAN KOMERSIAL AYAM BROILER DENGAN BAHAN PAKAN LAIN TERHADAP PERTUMBUHAN AYAM KAMPUNG DAN PENDAPATAN PETERNAK Erna Winarti; Endang Wisnu Wiranti
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 3 (2013): November 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n3.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT The  Effect of Partial Replacement of  Broiler Commercial Feed with Other Feed Ingridients to Native Chicken Growth and Farmers' Income. The assessment aims to determine the effect of substitution of commercial broiler feed with other feed ingredients for local chicken growth. Five hundred free-range chickens aged four weeks were divided into four treatments of feed, each treatment was repeated five times. Treatment R60 was substitution feed up to 60% and commercial broiler feed of 40%; treatment R50 was to substitution feed up to 50% and commercial broiler feed of 50%; treatment R40 was to substitution feed up to 40 % and commercial broiler feed of 60%; (R0) commercial broiler feed 100%. Observations were carried out for five weeks on feed intake and body weight gain. The results showed that the substitution of 40% commercial broiler feed with corn and local chicken feed did not affect body weight gain and feed conversion ratio significantly (P <0.05), however with 50% and 60% substitution, decreased the body weight gain and feed conversion significantly. Substitution of 40% commercial broiler feed with corn and local chicken gave the highest income compared to the other feed formula. Keywords : Local chicken, feed formula,income, efficiencyABSTRAK Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan komposisi ransum yang optimum bagi ayam kampung melalui penggantian sebagian pakan komersial ayam broiler dengan bahan pakan lokal terhadap pertumbuhan ayam kampung. Lima ratus ekor ayam kampung umur empat minggu dibagi kedalam empat perlakuan pakan, masing-masing perlakuan diulang lima kali, masing-masing ulangan 25 ekor. Perlakuan R60 adalah pakan pengganti 60% dan  pakan broiler komersial 40%; perlakuan R50 adalah pakan pengganti 50% dan pakan broiler komersial 50%; perlakuan R40 adalah pakan pengganti 40% dan pakan broiler komersial 60%; perlakuan R0 adalah 100% pakan broiler komersial. Pengamatan dilakukan selama lima minggu terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penggantian 40% pakan komersial broiler tidak berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kenaikan bobot badan dan konversi pakan, tetapi penggantian sebesar 50% dan 60% menurunkan kenaikan bobot badan dan konversi pakan. Penggantian pakan komersial broiler 40% (R40) memberikan pendapatan tertinggi dibandingkan dengan perlakuan  lainnya.. Kata kunci : Ayam kampung, formula pakan, pendapatan, efisiensi
KAJIAN PEMUPUKAN FOSFOR PADA TIGA TINGKAT STATUS FOSFOR TANAH TERHADAP TANAMAN PADI SAWAH DI KABUPATEN DHARMASRAYA SUMATERA BARAT Ismon L
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n1.2016.p%p

Abstract

ABSTRACT Study of P Fertilization on Three Levels of Soil P Status Towards Lowland Paddy Field in the Dharmasraya District, West Sumatra Province. Based on phosphorus (P) status map (1: 250,000), from the total area of paddy soils in West Sumatra (225,165 ha), about 37,389 ha (16.6%) shows low level of P status, while 95,983 ha (42.6%) and 91,793 ha (40.8%) show medium and high P status, repectively. To obtain the specific fertilization rate based on the type of soil, it is necessary to study the effect of P fertilization and its residual effect on the high P status of lowland paddy soil. The research objective was to determine the optimum rate of P fertilizer on the three level of P status of paddy soils (low, medium, high) towards lowland paddy field in the production center area located in Dharmasraya district, which has Typic Hapludults soil type. Research had been done at three locations (low, medium, and high P status). The first planting season tested five levels of P fertilizer rates. The rates were 18, 36, 72, and 114 kg P2O5 per ha in three P status (low, medium, high) using a Randomized Completely Block Design with four replications. Based on the sufficiency and balance of P in the soil, the optimum rates of P fertilizer for each P status (low, medium and high) were 88.58 kg P2O5/ha; 74.86 kg P2O5/ha; and 0 kg P2O5/ha, repectively. Keywords: fertilizer, paddy, phosphorusABSTRAKBerdasarkan peta status fosfor (P) tanah sawah skala 1:250.000, luas lahan sawah di Sumatera Barat yaitu 225.165 ha dengan tingkat kandungan hara fosfor (P) tergolong rendah seluas 37.389 ha (16,6%); sedang seluas 95.983 ha (42,6%); dan tinggi seluas 91.793 ha (40,8%). Untuk mendapatkan dosis pemupukan spesifik lokasi berdasarkan jenis tanah perlu dilakukan penelitian pemupukan P. Tujuan penelitian untuk menentukan dosis optimum pemupukan P pada berbagai status P tanah sawah di kawasan sentra produksi padi sawah Kabupaten Dharmasraya dengan jenis tanah Typic Hapludults. Penelitian dilaksanakan pada tiga lokasi (status P-rendah, P-sedang, dan P-tinggi), menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan yang diuji pada setiap kelas status hara P adalah lima tingkat takaran pupuk P, yaitu 0, 18, 36, 72, dan 114 kg P2O5/ha dengan 4 ulangan. Hasil maksimum yang dapat dicapai dengan pemberin pupuk P untuk ketiga status P rendah 4.128 kg GKG/ha, P sedang 4.010 kg GKG/ha, P tinggi 4.196 kg GKG/ha. Berdasarkan kecukupan dan keseimbangan hara P dalam tanah, takaran optimum pupuk P untuk masing-masing status P (rendah, sedang dan tinggi) 88,58 kg P2O5/ha; 74,86 kg P2O5/ha; dan 0 kg P2O5/ha. Kata kunci: padi sawah, pemupukan, fosfat
ANALISIS STABILITAS DAYA HASIL VARIETAS KEDELAI DI LAHAN SAWAH KABUPATEN MADIUN, JAWA TIMUR Amik Krismawati; Darman Moudar Arsyad
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 3 (2014): November 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n3.2014.p%p

Abstract

The Stability of Soybean Yield Analysis in Wetland of Madiun District, East Java. Adaptive highyielding varieties are the most important component technology to increase the productivity of the crop. The fieldassessment to find out the yield stability was conducted in six locations (Sub-districts: Saradan, Pilangkenceng,Madiun, Balerejo, Mejayan, and Sawahan) in Madiun District of East Java, during the late dry season 2012. Thefour soybean varieties - Argomulyo, Anjasmoro, Kaba, Burangrang - were tested using a randomized block designwith three replications in each locations. The analysis result for the yield stability, using a method by AMMI(Additive Main Effects and Multiplicative Interaction), showed that the Anjasmoro was recognized as a stable andwide adaptation variety. The other analysis result showed that Argomulyo was adapted in Sawahan andPilangkenceng Subdistrict. Also, Burangrang was adapted in Balerejo and Mejayan Subdistrict. In contrast, Kabawas less adapted in all tested locations.Key words: Soybean, stability, higher yield, AMMIABSTRAKVarietas unggul yang adaptif merupakan salah satu komponen teknologi yang memegang peranan pentingdalam meningkatkan produktivitas tanaman. Pengujian stabilitas daya hasil telah dilaksanakan di enam lokasi(kecamatan: Saradan, Pilangkenceng, Madiun, Balerejo, Mejayan, dan Sawahan) Kabupaten Madiun ProvinsiJawa Timur pada MK II 2012. Empat varietas unggul kedelai (Argomulyo, Anjasmoro, Burangrang, danKaba)telah diujicoba dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan di setiaplokasi. Hasil analisis stabilitas daya hasil dengan metode AMMI (Additive Main Effects and MultiplicativeInteraction) menunjukkan bahwa varietas Anjasmoro tergolong stabil (beradaptasi luas) pada cakupan wilayahKabupaten Madiun, Jawa Timur, dengan rata-rata hasil di atas rata-rata umum. Varietas Argomulyo beradaptasispesifik di wilayah Sawahan, dan Pilangkenceng, dan varietas Burangrang beradaptasi spesifik di wilayah Balerejodan Mejayan. Varietas Kaba nampak kurang adaptif di semua lokasi pengujian.Kata kunci: Kedelai, stabilitas, daya hasil, AMMI
ANALISIS EFISIENSI TEKNIS USAHATANI PADI SAWAH IRIGASI DI KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Ismatul Hidayah; Edwen D. Waas; Andriko Noto Susanto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n2.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT The Analyzes of Technical Efficiency on Rice Farming in West Seram District. The study has been done on technical irrigated land in the district of West Seram (SBB), Maluku Province. This study aims to analyze the factors affecting rice production and the level of technical efficiency and the factors affecting technical efficiency on irrigated land. Method of Maximum Likelihood Estimation (MLE) is used to estimate the parameters of the stochastic frontier production function in the form of Cobb-Douglash and linear regression with OLS method to estimate the determinants of technical efficiency. The results showed that there are three independent variables that significantly positive affect the output are Urea, NPK pelangi, and labor. Average level of technical efficiency 0.869 (range 0.684 to 0.967), by applying appropriate skills and cultivation techniques in the most efficient farmers average farmer will be able to save the cost of 10.16%. Factors area and transplanting system has positive significant effect on the level of technical efficiency of rice farming. Key words: Rice, stochastic frontier,technical efficiency ABSTRAK Penelitian dilakukan pada lahan sawah irigasi teknis di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi teknis usahatani padi sawah di lahan sawah irigasi dan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) digunakan untuk mengestimasi parameter pada fungsi produksi frontir stokastik dalam bentuk fungsi Cobb-Douglash dan regresi linier dengan metode OLS untuk mengestimasi faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh nyata positip terhadap produksi padi yaitu Urea, NPK pelangi, dan tenaga kerja. Rata rata tingkat efisiensi teknis sebesar 0,869 (kisaran 0,684 – 0,967), yang berarti petani masih dapat meningkatkan produktivitas. Dengan menerapkan keterampilan dan teknik budidaya sesuai petani yang paling efisien, maka petani akan dapat menghemat biaya sebesar 10,16%. Faktor luas lahan dan sistem tanam pindah berpengaruh nyata dan positip terhadap tingkat efisiensi teknis usahatani padi sawah.. Kata kunci: Padi  sawah, frontir stokastik, efisien teknis
PERBAIKAN POLA TANAM PALAWIJA PADA LAHAN KERING DI KABUPATEN PARIGI MOUTONG SULAWESI TENGAH Syafruddin ,; Irwan Suluk Padang; Saidah ,
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Improving Crop Rotation in Dryland at Parigi Moutong, Central Sulawesi. Dryland is a fragile natural resource and becomes a challenge in gaining food self-sufficiency, especially in maize, soybean and peanut. Crop rotation provides opportunities to increase crops and land’s productivity. This research aimed to find out the new varieties which are adaptable to dryland, and to examine the best crop rotation of three main crops as well as the feasibilty of farming system di dryland.  The research had been conducted for two years (2013-2014) in a three hectares area, devided into two experimental stages. In the first year, the experiment was conducted to find out the adaptable varieties. The experimental design for the first experiment was splite plot design putting the crops as the main plot (maize, peanut and soybean). The splite plot consisted of three varieties from each crop, as follow: Tuban, Bison and existing varieties for peanut; Lamuru, Srikandi Kuning, and existing varities for maize; Argomulyo, Grobongan and existing varieties for soybean. In the second year, the experiment was to improve crops rotation, analysed by BC ratio for four different rotations, which were: 1) Maize-peanut; 2) Peanut-soybean; 3) Maize-soybean; 4) Common crops rotation practiced by local farmers using the existing varieties. The results showed that Tuban variety for peanut, Srikandi Kuning variety for maize and Grobongan variety for soybean were more adaptable compared to other varieties.  Crops rotation that produced the highest production and the best income were peanut-maize with B/C 2.04 and 11, respectively, with MBCR 4.95; followed by peanut-peanut with B/C 2.04 and 1.59, respectively,  with MBCR 6.71 and the increase in farmers’ income at about 66.50% and 21.0%  higher compared to existing farming system. Keywords: Dryland, superior variety,crop rottion and incameABSTRAKLahan kering merupakan sumberdaya alam yang tergolong fragil dan menjadi tantangan dalam pengembangannya untuk pencapaian swasembada pangan, khususnya jagung, kedelai dan kacang tanah. Pola tanam merupakan salah satu alternatif dalam meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola tanam yang optimal dan kelayakan usahatani pada lahan kering. Penelitian dilaksanakan selama 2 (dua) tahun yaitu 2013-2014 dengan luasan 3 (tiga) ha. Tahun pertama bertujuan untuk mengetahui tingkat adaptasi varietas unggul baru tiga macam tanaman pangan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak terpisah dengan 3 (tiga) ulangan. Sebagai petak utama adalah tiga jenis palawija: (jagung, kacang tanah dan kedelai). Anak petak terdiri dari tiga varietas dari masing-masing jenis palawija yaitu: 1) kacang tanah meliputi varietas Tuban, Bison dan eksisting, 2) Jagung: Lamuru, Srikandi Kuning dan eksisiting dan 3). Kedelai: argomulyo, grobongan dan eksiting. Pada tahun ke dua perlakuan yang diuji adalah perbaikan pola tanam terdiri atas: 1) Pola tanam jagung - kacang tanah, 2) Kacang tanah – kacang tanah 3) Pola tanam jagung - kedelai dan 4) Pola tanam petani di analisis menggunakan B/C dan MBCR pada masing-masing pola tanam. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kacang tanah varietas Tuban, jagung varietas Srikandi Kuning dan kedelai varietas Grobongan lebih adaptif pada lahan kering Kabupaten Parigi Moutong.  Pola tanam yang memberikan hasil dan pendapatan terbaik adalah: kacang tanah - jagung dengan nilai B/C 2,04 dan 1,91 dengan MBCR 4,95 disusul pola tanam kacang tanah - kacang tanah dengan B/C 2,04 dan 1,59 dengan MBCR 6,71 dan meningkatkan pendapatan masing-masing sebesar 66,50% dan 21,0% dibandingkan dengan pola petani.   Kata kunci: Lahan kering, varietas unggul, pola tanam, produktivitas dan pendapatan 
Kajian Cara Tanam Padi di Lahan Sawah Irigasi Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi Jumakir ,; Julistia Bobihoe
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

 ABSTRACT The Assessment of  Rice Planting Methods in Irrigated Land in Tanjung Jabung Barat Districts, Jambi Province. One of the problems of irrigated  rice farmers  in the Jambi Province is a late planting, because labor is limited due to the absorption in the private oil palm plantations. There  is the necessary to find the planting system which  not require a lot of labor. The purpose of this study was to compare the way of planting rice that is  transplanting system, direct seeding drill method (tiles seeded) and direct seeding spread method (spread seeded) on the productivity of rice and income of  farmers' in Sri Agung Village, West Tanjung Jabung District, Jambi Province. The assessment was conducted in the irrigated land on the dry season in 2010. The research design  was a randomized block design (RBD) with three treatments and four replications and each replication consisted of 0.25 ha. The result showed that the rice yield  of transplanting system (7.2 t/ha) did not  significantly  difference  compared to  the tiles seeded (6.9 t/ha), however there was difference compared to the spread seeded  (5.4 t/ha). The results of the economic analysis showed that the farm income of transplanting system was  Rp 9.193.000/ha, while the ways seeded tiles was Rp 9.004.000/ha. It could be concluded that the prospect of wet seeded tiles have to be developed in the areas of labor shortage. Key words: Rice, irrigated land and planting system ABSTRAK Salah satu masalah petani padi di lahan sawah irigasi di Provinsi Jambi adalah terlambat tanam, karena tenaga kerja terbatas akibat terserap di kebun kelapa sawit swasta. Untuk itu perlu dicari upaya cara tanam yang tidak membutuhkan tenaga kerja banyak. Tujuan kajian ini adalah untuk membandingkan cara tanam padi sistem tanam pindah (tapin), tanam benih langsung cara tugal (tabela tegel) dan tanam benih langsung cara sebar (tabela sebar) terhadap produktivitas padi dan pendapatan petani desa Sri Agung Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. Pengkajian ini dilaksanakan di lahan sawah irigasi pada musim kemarau (MK) 2010. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan. Perlakuannya adalah tanam pindah (tapin), tanam benih langsung (tabela) tegel dan tanam benih langsung (tabela) sebar. Pengkajian dilaksanakan di lahan petani seluas tiga ha dengan melibatkan empat  petani sebagai ulangan dan setiap petani melaksanakan tiga perlakuan dengan luas setiap perlakuan 0,25 ha. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa hasil gabah kering panen (GKP) padi cara tapin (7,2 t/ha) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan cara tabela tegel (6,9 t/ha), namun ada perbedaan dengan cara tabela sebar (5,4 t/ha). Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa pendapatan usahatani cara tapin sebesar Rp 9.193.000/ha, sedangkan cara tabela tegel sebesar Rp 9.004.000/ha. Dapat disimpulkan bahwa sistem tabela tegel memiliki prospek untuk dikembangkan di wilayah yang kekurangan tenaga kerja. Kata kunci: Padi, sawah irigasi dan cara tanam 
KELAYAKAN USAHATANI TEBU DENGAN SISTEM TANAM JURING GANDA DI JAWA TIMUR DAN JAWA TENGAH Lintje Hutahaean; Q Dadang Ernawanto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT                The Feasibility of Sugar Cane Farming with Double Row Cropping System in East Java and Central Java. Technology innovation of double rows cropping system in sugar cane farming, as the so called “Juring Ganda” is a breaktrough by IAARD to improve the productivity aimed to support sugarcane self-sufficiency as well as to increase farmers’ income. This assessment aimed to analyze the financial feasibility of the double rows cropping system and to compare the differences of income between double and single cropping system. The research has been conducted in Central Java Province (Pati, Karang Anyar, Pekalongan, Klaten, Tegal Regency) and East Java Province (Pamekasan Regency) in 2013. Data were collected using survey to 15 farmers for each cropping system who were selected randomly. The types of data collected were: sugar cane farming characteristics (variety, cultivation, production, rendemen taxation, sugarcane prediction yield, etc); financing structures (cost for seedling, fertilizer, labours, sugar’s price), and structure of farmer’s income per hectare. Data were analyzed using losses and gains approach reflected by the marginal benefit cost ratio (MBCR), and using t test (t-student) for incomes differences. The results showed that: (a) the double row cropping system of sugar cane farming in the assessment locations was feasible, (b) additional costs of Rp 2.61 million per hectare in double rows cropping system led to additional revenue of Rp 4.67 million per hectare with MBCR value of 1.79, and (c) statistically, farmer’s income from double row system was significantly different from single row. Thus, it can be implied that double rows cropping system of sugarcane farming is an alterantive to be developed. Keywords: Sugarcane, double rows cropping, feasibility ABSTRAKTeknologi budidaya juring ganda pada tebu merupakan salah satu terobosan inovasi Balitbangtan untuk meningkatkan produktivitas tebu rakyat dalam upaya mendukung produksi gula nasional, sekaligus meningkatkan pendapatan petani tebu. Pengkajian yang bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial usahatani tebu sistem tanam juring ganda (JG) dan menguji perbedaan pendapatannya dibandingkan dengan sistem tanam juring tunggal (JT). Pengkajian telah dilakukan di Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Pati, Karang Anyar, Pekalongan, Klaten, Tegal) dan Provinsi Jawa Timur (Pamekasan) pada tahun 2013. Pengumpulan data dilakukan melalui survey menggunakan daftar pertanyaan terhadap 15 orang petani tebu sistem JG dan 15 orang petani tebu dengan sistem JT yang terpilih sebagai responden secara acak sederhana. Jenis data yang dikumpulkan utamanya meliputi karakteristik usahatani tebu (penggunaan varietas tebu, penggunaan pupuk, produksi, taksiran rendemen gula dan produksi gula per hektar), struktur pembiayaan (pembelian bibit, pupuk, upah kerja, harga gula), dan pendapatan usahatani tebu per hektar. Kelayakan usahatani tebu sistem tanam juring ganda dianalisis menggunakan “losses and gains” yang direfleksikan dalam marginal benefit cost ratio (MBCR), dan untuk menguji perbedaan pendapatan JG dengan JT digunakan uji beda dengan Uji t (t student). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa: (a) Penerapan sistem tanam juring ganda pada usahatani tebu layak secara finansial, (b) Penambahan biaya sebesar Rp2,61 juta per hektar dapat menghasilkan tambahan pendapatan sebesar Rp4,67 juta per hektar, dengan nilai MBCR 1,79, dan (c) Pendapatan usahatani tebu sistem tanam juring tunggal tersebut terbukti berbeda nyata dibandingkan pendapatan petani tebu juring tunggal. Implikasinya, usahatani tebu sistem juring ganda dapat menjadi pilihan untuk dikembangkan. Kata kunci: Tebu, juring ganda, kelayakan 
KARAKTERISTIK WERENG HIJAU DAN EPIDEMI TUNGRO DI KABUPATEN GARUT, PROVINSI JAWA BARAT Dini Yuliani; I Nyoman Widiarta; Dede Kusdiaman
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n1.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Characteristics of Green Leaf Hoppers and Tungro Epidemic in Garut District, West Java Province. Tungro disease is one of the biotic constraints that may reduce crop yield potential of rice. The disease is caused by tungro virus that is spread by green leafhopper (GLH) Nephotettix virescens. GLH N. virescens is the most efficient vector of tungro virus among the others GLH. GLH was found in lowland to highland. The experiment was conducted in Garut district in the dry season 2012 and wet season 2012/2013. This study aims to determine the characteristics of GLH and Tungro epidemic in Garut District, West Java Province. Observations in the field include tungro disease intensity, GLH population density, and natural enemies populations, and the abiotic environment. Activities in the green house including adaptation test of GLH colonies from field to differential varieties resistant against GLH and virulence test of tungro virus to differential varieties resistant against tungro. The results in the fields showed that the GLH population density in the highlands Garut was relatively low. Likewise with tungro disease intensity at Garut in two cropping seasons had low intensity. Tungro attack depends on the effectiveness of GLH to transmit the virus. Although the GLH population was low but could transmit tungro virus effectively in the field. Natural enemies were most commonly founds in the highlands Garut was long jawed spiders Tetragnatha sp. The test results to the differential varieties resistant against GLH in green house suggested that adaptation of GLH colony from Garut was low and have not been able to break the resistance of GLH resistant varieties. While the test results to the differential varieties resistant against tungro showed that tungro virus from Garut was variants 071. That variant was highly virulent because it can break tungro resistant differential varieties except Tukad Petanu. Keywords: Characteristics, Nephotettix virescens, epidemic of  tungro, GarutABSTRAK Penyakit tungro merupakan salah satu kendala biotik yang dapat menurunkan potensi hasil tanaman padi. Penyakit ini disebabkan oleh virus tungro yang menyebar dengan bantuan wereng hijau Nephotettix virescens. Wereng hijau, N. virescens merupakan vektor virus yang paling efisien diantara wereng hijau lainnya. Wereng hijau dapat dijumpai pada dataran rendah hingga dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat pada musim kemarau (MK) 2012 dan musim hujan (MH) 2012/2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik wereng hijau dan epidemi penyakit tungro di Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat. Pengamatan di lapangan meliputi intensitas penyakit tungro, kepadatan populasi wereng hijau, dan populasi serangga musuh alami, dan lingkungan abiotik. Kegiatan di rumah kaca meliputi uji adaptasi koloni wereng hijau lapangan terhadap varietas differensial tahan wereng hijau dan uji virulensi virus tungro terhadap varietas differensial tahan tungro. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kepadatan populasi wereng hijau di dataran tinggi Garut relatif rendah. Begitupun dengan intensitas penyakit tungro di Garut pada dua musim tanam tergolong rendah. Serangan tungro tergantung efektivitas wereng hijau menularkan virus. Walaupun populasi wereng hijau rendah namun efektif menularkan virus tungro di lapangan. Musuh alami yang paling banyak ditemukan di dataran tinggi Garut adalah laba-laba berahang panjang Tetragnatha sp. Hasil pengujian terhadap varietas differensial tahan wereng hijau di rumah kaca menunjukkan adaptasi koloni wereng hijau asal Garut tergolong rendah dan belum mampu mematahkan ketahanan varietas tahan wereng hijau. Sedangkan hasil pengujian terhadap varietas differensial tahan tungro menunjukkan bahwa virus tungro asal Garut adalah varian 071. Varian tersebut sangat virulen karena mampu mematahkan varietas differensial tahan tungro kecuali Tukad Petanu. Kata kunci: Karakteristik, wereng hijau, epidemi tungro, Garut
KAJIAN MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI DI KOTA BOGOR Yati Haryati; Sukmaya ,; Susi Mindarti
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 3 (2014): November 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n3.2014.p%p

Abstract

Assessment of Cropping Medium Related to The Growth and The Harvest of Mustard Greens in Bogor. Planting media generally use a mixture of soil organic fertilizer and in which the important factors for the growth of plants as the source of nutrients, water, and air are available. The objectives of assessmnet were (1) to determine the effect of two growing media on the growth and yield of mustard, and (2) to select the best alternative planting media from agronomic and socio-economic aspects. The assessment was conducted at a of Sustainable Food Home area of Sempur Village, Bogor during in September 2013. The treatments were the planting media, namely A = goat manure + soil + husks and chaff and B = organic waste husks replicated 16 times. Tosakan mustard variety was used as the crop indicator. The result showed that both planting media gave that differenteffect on the crop growth and yield of mustard. The higher of plant height and more leaves number, the fresh weight of plant will also be higher.Keywords: Planting medium, mustard, goat manureABSTRAKMedia tanam umumnya menggunakan campuran tanah dan pupuk organik yang di dalamnya tersedia faktor-faktor utama untuk pertumbuhan tanaman seperti unsur hara, air, dan udara. Tujuan pengkajian untuk: (1) mengetahui pengaruh dua media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil sawi, (2) memilih alternatif media tanamterbaik dari aspek agronomis dan sosial ekonomi. Pengkajian dilakukan di lokasi kegiatan model Kawasan Rumah Pangan Lestari di Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor pada September 2013. Kajian dilakukan dengan menguji media tanam, yang terdiri dari dua media tanam yaitu A = Pupuk kandang kambing + tanah + sekam dan B = limbah sampah organik + sekam yang diulang 16 kali. Bibit sawi yang digunakan adalah varietas Tosakan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa media tanam dengan menggunakan campuran pupuk kandang kambing dan tanah dan sekam memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan bobot segar sawi dibandingkan dengan media limbah sampah organik dan sekam. Semakin tinggi tanaman dan semakin banyak jumlah daun, maka semakin tinggi bobot segar tanaman.Kata kunci: Media tanam, sawi, kotoran kambing
DISAIN TEKNOLOGI PANEN HUJAN UNTUK KEBUTUHAN RUMAHTANGGA: Studi Kasus di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Nusa Tenggara Barat Nani Heryani; Kurmen Sudarman; Sidiq H Talaohu; Sawiyo ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 3 (2013): November 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n3.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT The Design of Rain Harvesting Technologies for Household Use: a Case Study in Yogyakarta Special Regionn and West Nusa Tenggara. Many parts of the world, including Indonesia, has been facing water shortage problems while water demand continues to grow. Rainfall harvesting could change the utilization pattern of rainfall by spatially and temporally, which would supply humankind with steady water sources. Characterized by simple operation, rainwater-harvesting techniques for domestics purposes have a great potential to be used also for irrigations. Rainfall harvesting could be conserved of water use from other water resources, while water use efficiency could be increased. The experiments were conducted at Selopamioro Village (Special Region of Yogyakarta ) and Banyu Urip Village (West Nusa Tenggara) in 2009 and 2011, respectively. The aims of the experiments were to develop rainfall harvesting technology and to design the criteria of techniques of rainfall harvesting the houshold purposes. The experiments   were conducted through several steps as follow: (i) characterization of the area of experiments through rainfall and climate data collections during the last 10 years, the number of family members of the water users, water consumption/person/day, (ii) the installation of water storage tanks and distribution of pipes, and, (iii) data analysis of the potential of rainwater that could be harvested and the determination of the storage tank capacity. Results of the experiments showed that the potential of water that could be harvested at two sample houses in Selopamioro were 5.,8 and 78.5 m3/year respectively, while in three sample houses in Lombok were 74.2; 25.4 and 41.6 m3/year  respectively. To meet the needs of water during the dry season, the maximum capacity of the reservoir should be made at two sample houses in Selopamioro were 19.5 and 28.4 m3 respectively, while those at three sample houses in Lombok were 37.06; 8.40 and 20.08 m3 respectively. Keywords : Design criteria, rainfall harvesting, household, droughtABSTRAK Sejak beberapa dekade terakhir di beberapa negara, termasuk Indonesia, sering terjadi kekeringan. Sementara kebutuhan air cenderung semakin meningkat. Panen hujan dapat mengubah pola pemanfaatan curah hujan secara spasial maupun temporal untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan sumber air relatif tetap. Dengan metode sederhana, teknik panen hujan disamping untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, juga dapat digunakan untuk irigasi. Penelitian dilaksanakan di Desa Selopamioro (Daerah Istimewa Yogyakarta) dan Desa Banyu Urip (Nusa Tenggara Barat) berturut-turut pada tahun 2009 dan 2011. Tujuan penelitian untuk mengembangkan teknologi panen hujan dan merancang  kriteria panen hujan untuk kebutuhan rumahtangga. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu (i)  karakterisasi wilayah penelitian melalui pengumpulan data curah hujan dan iklim 10 tahun terakhir, jumlah anggota keluarga pengguna air, konsumsi air untuk kebutuhan rumah tangga/orang/hari, (ii) instalasi/pembuatan bangunan panen hujan berupa tangki penampung air dan pipa pendistribusiannya, dan (iii) analisis data meliputi potensi air hujan yang dapat dipanen dan penentuan kapasitas penampung air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi air yang dapat dipanen di dua rumah contoh di Selopamioro berturut-turut 53,8 dan 78,5 m3/tahun, sedangkan di tiga rumah contoh di Lombok berturut-turut 74,2; 25,4 dan 41,6 m3/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan air selama musim kemarau, kapasitas maksimum tampungan yang harus dibuat di dua rumah contoh di Selopamioro berturut-turut 19,5 dan 28,4 m3, sedangkan di tiga rumah contoh di Lombok berturut-turut 37,06; 8,40 dan 20,08 m3. Kata kunci : Rancang bangun, panen hujan, rumah tangga, kekeringan

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue