cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
KEUNTUNGAN PEMBESARAN SAPI PERANAKAN SIMMENTAL MELALUI PERBAIKAN PAKAN DI KABUPATEN SEMARANG Dewi Sahara; Muryanto ,; Subiharta ,
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Profit of Fattening on Simmental-Crossed Breed Cattles through to Feed’s Improvement in Semarang Regency, Central Java. Most of cattle management in Central Java is traditional farms with low meat production. One of the efforts to increase meat production is improvement of feed formulation for calves. This study aimed to determine the average daily gains (ADG) and profitability of cattle rearing with the improvement of feed formulation compared to the traditional one by farmers. The study was conducted in the Polosiri village, Bawen sub-district, Semarang regency from October to December 2012. A total of sixteen heads of Simmental-crossed breed of 6-8 months old were divided into two groups: one group was given feed improvement (elephant grass, fermented rice straw and concentrates) and another with farmer's feed formulation (elephant grass, rice straw, cassava and rice bran). ADG was calculated by subtracting the initial weight from the final weight divided by the period of rearing. The profit was calculated by financial feasibility using Benefit and Cost Ratio (BCR) formula, meanwhile, the difference of profit between two group was calculated by Marginal Benefit and Cost Ratio (MBCR). The results showed that ADG from feed improvement model was 0.66 + 0.17 kg/head/day which is higher than the farmer's feed models that accounted for 0.43 + 0.39 kg/head/day. The BCR analyses for feed improvement model and farmer’s model were 0.13 and 0.09, respectively, with the profit of Rp7.733.500 and Rp4.999.650, respectively. Different feeding model yielded MBCR value of 1.40. It can be concluded that fattening on Simmental-crossed breed cattle with feed improvement model in the form of elephant grass, fermented rice straw, and concentrates is able to improve ADG. Keywords: fattening, feed improvement, gain, profit  ABSTRAK Usaha peternakan sapi di Jawa Tengah merupakan usaha ternak sapi rakyat dengan sistem pemeliharaan tradisional sehingga produktivitas daging rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi daging sapi ialah membesarkan pedet melalui perbaikan pakan. Pengkajian dilaksanakan dengan tujuan mengetahui Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) dan keuntungan usaha pembesaran sapi yang mendapatkan perbaikan pakan dibandingkan pakan model peternak. Pengkajian dilakukan di Desa Polosiri, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, dari bulan Oktober–Desember 2012, menggunakan 16 ekor sapi peranakan Simmental umur 6–8 bulan yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapatkan perbaikan pakan (rumput gajah, jerami fermentasi dan konsentrat dengan jumlah sesuai dengan bobot badan) dan kelompok model peternak (rumput gajah, jerami, ubi kayu dan bekatul.  PBBH dihitung dengan mengurangi bobot badan akhir dan bobot badan awal dibagi waktu pembesaran. Keuntungan didekati dengan kelayakan finansial usaha dianalisis dengan membandingkan keuntungan dan biaya (BCR) dan rasio perubahan keuntungan dan biaya (MBCR). Hasil kajian menunjukkan bahwa PBBH pada pembesaran anak sapi yang mendapat perlakuan perbaikan pakan sebesar 0,66 + 0,17 kg/ekor/hari lebih tinggi dibandingkan model peternak 0,43 + 0,39 kg/ekor/hari. Hasil analisis BCR memperoleh nilai 0,13 dan 0,09 untuk pemberian pakan  perbaikan dan pakan peternak dengan keuntungan masing-masing Rp7.733.550 dan Rp4.999.950. Perbedaan pemberian pakan menghasilkan nilai MBCR = 1,40. Dapat disimpulkan bahwa pembesaran sapi peranakan Simmental dengan pemberian pakan perbaikan berupa rumput gajah, jerami fermentasi dan konsentrat mampu meningkatkan PBBH. Kata kunci: Pembesaran pedet, pakan perbaikan, bobot badan, keuntungan 
EFISIENSI TEKNIS DAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI PETANI YANG MEMPENGARUHI INEFISIENSI TEKNIS USAHATANI PADI SAWAH DI PROVINSI BALI Suharyanto ,; Jemmy Rinaldi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 3 (2014): November 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n3.2014.p%p

Abstract

Technical Efficiency and Effect of Farmer Socio-Economic Factors to Technical Inefficiency in BaliProvince. Efficiency in farm management, including the management of agricultural technology is closely relatedto managerial capacity and capability of farmers, farm characteristics and production inputs. The study aimed toanalyze the level of technical efficiency of rice farming and socioeconomic factors that influence inefficiency ofrice farming in Bali. The study was conducted at three district of rice production centers in Bali province i.e.Tabanan, Buleleng and Gianyar. Data were collected through interviews with 94 respondents using a structuredquestionnaire during wet and dry seasons 2012. The collected data we analyzed using stochastic frontierproduction function with Maximum Likelihood Estimation (MLE) method. The result showed that riceproductionin Bali was affected by land area, N fertilizer, pesticides, labor and age of seeds. Rice production in thedry season was higher than that in wet season. Technically lowland rice farming in Bali has been efficient, asshown by the average of technical efficiency index, which was more than 0.70. Socioeconomic characteristicsfactors that affected the technical inefficiency of lowland rice farming such as age, formal education, farmingexperience and number of percils. Technical efficiency of lowland rice farming on their own land was higher thanthat of the land.Key words: Socioeconomic, technical inefficiency, lowland rice, BaliABSTRAKEfisiensi pengelolaan usahatani termasuk pengelolaan teknologi pertanian berkaitan erat dengan kapasitasdan kapabilitas managerial petani, karakteristik usahatani dan penggunaan input produksi. Penelitian ini bertujuanuntuk menganalisis tingkat efisiensi teknis usahatani padi sawah dan faktor-faktor sosial ekonomi yangmempengaruhi ineffisiensinya. Penelitian dilakukan di tiga kabupaten sentra produksi padi sawah di Provinsi Baliyakni: Tabanan, Buleleng dan Gianyar. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan kuisionerterstruktur selama MK 2011 dan MH 2011/2012 dengan melibatkan 94 responden. Data yang dikumpulkandianalisis menggunakan fungsi produksi stokhastik frontier dengan metode Maximum Likelihood Estimation(MLE). Hasil analisis menunjukkan bahwa produksi padi sawah dipengaruhi oleh luas lahan, pupuk N, pestisida,umur bibit dan tenaga kerja. Produksi padi sawah pada musim kemarau lebih tinggi dibandingkan pada musimhujan. Secara teknis usahatani padi sawah di Provinsi Bali telah efisien, dengan rata-rata indeks efisiensi teknislebih besar dari 0,70. Adapun karakteristik sosial ekonomi yang mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani padisawah antara lain umur petani, pendidikan formal, pengalaman usahatani dan jumlah persil. Efisiensi teknisusahatani padi sawah lebih tinggi pada lahan milik sendiri dibandingkan lahan bukan milik.Kata kunci: Sosial ekonomi, inefisiensi teknis, padi sawah, Bali
RESPON VARIETAS JAGUNG TERHADAP PUPUK NITROGEN DI LAHAN SAWAH DAN LAHAN KERING Ruchjaniningsih ;; Muh. Thamrin; Muh. Taufik
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 3 (2013): November 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n3.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT Responses of Maize Variety towards Nitrogen in Irrigated Lowland and Upland. Nitrogen is a very important nutrient for growth and yield of maize, while its availability in the soil is not sufficient for the crops.  The experiment to evaluate the response of maize cultivars to nitrogen was carried out in lowland irrigated and upland soil in Bantaeng District, South Sulawesi, from May to December 2009. Experiments were arranged in factorial randomized block design with two factors and three replications. Factor I were nine maize ciltivars, and factor II were two levels of nitrogen fertilizer. The results showed that cob yields, 1000-seed weights, and height of cob were affected significantly by site x variety x nitrogen fertilizer interaction. Therefore, to obtain the optimum performance of the characters, the specific combination of treatments was needed. The response pattern of maize cultivars to nitrogen was not similar in lowland irrigated compared to upland soil. Cultivar “Local B Kuning” and “X01904” showed the higher positive response in lowland irrigated, while cultivar “X02804” had the smallest negative response in upland soil. Based on cob yield, cultivar Bima-1 and “X01904” could be suggested to develop in lowland irrigated, while Bima 1,  X02904, and X03604 were better for upland soil conditions. Keywords: Maize, nitrogen, lowland irrigated, uplandABSTRAK Hara nitrogen merupakan hara makro yang penting bagi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung, sementara itu ketersediaan di dalam tanah tidak cukup bagi tanaman.  Kajian untuk mengetahui respon sembilan varietas jagung terhadap peningkatan dosis pupuk nitrogen telah dilakukan di lahan sawah dan lahan kering Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan pada bulan Mei-Desember 2009. Percobaan ditata dalam rancangan acak kelompok pola faktorial dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor I adalah sembilan varietas jagung dan faktor II dua dosis pupuk Nitrogen (200 dan 400 kg N/ha). Ukuran petak 3 m x 5 m, jarak tanam 75 cm x 20 cm, 2 biji/lubang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot tongkol, bobot 1000 biji dan tinggi letak tongkol jagung dipengaruhi oleh interaksi tiga faktor (lokasi x varietas x pupuk), sehingga untuk mendapatkan keragaan yang optimal untuk karakter tersebut membutuhkan kombinasi perlakuan lokasi, varietas dan pupuk N tertentu (spesifik lokasi). Pola respon varietas jagung terhadap pupuk N di lahan sawah berbeda dengan pola respon varietas terhadap pupuk N di lahan kering, di mana respon positif varietas terhadap pupuk N ditemukan di lahan sawah, tetapi respon negatif terdapat di lahan kering. Respon positif terbaik terhadap pupuk N di lahan sawah terdapat pada varietas Lokal B kuning dan X01904, sementara respon negative terkecil di lahan kering terdapat pada varietas X02804.  Berdasarkan bobot tongkol, varietas Bima 1 dan X01904 layak dikembangkan di lahan sawah Kabupaten Bantaeng, dan varietas Bima 1,  X02904, dan X03604 cukup prospektif untuk lahan kering Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Kata kunci: Jagung, pupuk nitrogen, lahan sawah, lahan kering
ANALISIS DAMPAK KINERJA KELOMPOKTANI TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI DI KABUPATEN MANOKWARI SELATAN PROVINSI PAPUA BARAT Entis Sutisna; Hiasinta F.J. Motulo
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n1.2016.p%p

Abstract

 ABSTRACT Impac Analysis of Farmer Groups Performance towards Farmers' Income of Rice Farming System in South Manokwari District, West Papua Province. The existence of farmers' groups has a strategic role to improve the productivity and income of farmers in West Papua; therefore, it is required to enhance their performances through several approaches including monitoring. This study aims to analyze the performance of farmer groups and to assess the income of rice farmers. The research was conducted in Oransbari District, South Manokwari Regency, West Papua Province, around June 2014. Data collection was done through interviews with a semi-structured questionnaire involving 40 farmers, which were selected using simple random sampling method. Data collected was analyzed with a quantitative descriptive analysis and a non-parametric statistical analysis. The study illustrated that the performance of farmers’ respondents are in the category of good. They are also close to the ideal organizational nature and supportive of local government. The result also showed that farmer organizations have a strong legality. Farmer cooperators provide a greater absolute income than non-cooperators where the difference is very significant according to statistical tests. However, the relationship between organizational performance farmers group and revenue is still weak. The reason could occur due to weakness of the implementation of technical and institutional innovations as well as the lack of monitoring system. It is suggested that the assistance program can be improved both in term of intensity and quality including the synergy of technical innovation and institutional. Keywords: farmer groups, organizational performance, rice farming, income ABSTRAK Keberadaan kelompok tani (poktan) memiliki peran strategis dalam upaya peningkatan produktivitas dan pendapatan petani di Papua Barat. Oleh karena itu perlu ditingkatkan kinerjanya melalui berbagai cara termasuk pendampingan. Pengkajian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja kelompok tani dan menganalisis pendapatan usahatani padi petani yang dilakukan di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat, pada Juni 2014. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan bantuan kuesioner semi terstruktur terhadap 40 orang petani yang terpilih secara acak sederhana. Data yang terkumpul di analisis secara deskriptif kuantitatif dan dipertajam dengan analisis statistik non parametrik. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa kinerja poktan binaan termasuk dalam kategori baik, memiliki karakteristik yang mendekati sifat organisasi ideal, mendapat dukungan dari pemerintah setempat, serta memiliki legalitas yang kuat. Secara statistik usahatani padi petani kooperator berbeda nyata dengan usahatani petani padi non kooperator. Pendapatan absolut usahatani petani kooperator lebih tinggi dari non kooperator, sehingga layak untuk dikembangkan. Namun demikian, hubungan antara kinerja organisasi kelompoktani dengan pendapatan masih lemah, kontribusinya relatif rendah. Hal ini dapat disebabkan karena kurang sinergisnya sistem pendampingan pada saat implementasi inovasi teknis dan kelembagaan. Untuk itu disarankan agar program pendampingan perlu terus ditingkatkan, baik intensitas maupun kualitasnya, termasuk sinergitas implementasi inovasi teknis dan kelembagaan.Kata kunci: kelompok tani, kinerja organisasi, usahatani padi, pendapatan
ANALISIS PENGELOLAAN AIR DALAM USAHATANI PADI PADA LAHAN SAWAH IRIGASI DI SULAWESI SELATAN Muh. Taufik; Arafah ;; Basir Nappu; Fadjry Djufry
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n1.2014.p%p

Abstract

The Water Management Analysis of Rice Farming on Irrigated Land in South Sulawesi. Efficient use of water is an important aspect to increase production and economic value of rice farming in integrated land. A study was conducted at irrigated land in the Mario village, Tanasitolo District of Wajo Regency from March to December 2012. The study used a Randomized Block Design (RBD) involving three farmer cooperators as replications. Every farmers applied water management treatments that were: (1) AWD (Alternate Wetting and Drying) wet or dry irrigation, (2) intermittent irrigation, and (3) continues irrigation (flooded). Seedlings were planted on 17 days using 2 : 1 of “legowo” cropping systems. Fertilizer application was based on soil analysis using PUTS (Phonska 200 kg + 130 kg Urea/ha). Pest and disease controlling with IPM method was also applied in this study. The results showed that the water management methods AWD produced higher growth, yield and profits than other methods. The rice productivity level was achieved by the method of AWD that was 8.3 t/ha, while intermittent and continuous irrigation methods reached only 7.8 t/ha and 7.6 t/ha, respectively. Profits earned in rice farming with AWD method was Rp16.1 million that was higher than others, which was Rp14.1 million and Rp13.4 million, respectively. The R/C of three methods of water management was more than two, meaning that all water management methods applied was feasible to be applied.Key words : Water management, rice farming,  irrigated field  Efisiensi penggunaan air merupakan aspek penting terkait dengan peningkatan produksi dan nilai ekonomi  usahatani padi di lahan sawah irigasi. Pengkajian dilaksanakan di lahan sawah irigasi Desa Mario, Kec. Tanasitolo, Kab. Wajo Sulawesi Selatan  pada bulan Maret- Desember 2012. Kajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)  dengan melibatkan 3 orang petani  kooperator  sebagai ulangan. Setiap petani menerapkan perlakuan pengelolaan air: (1) AWD (Alternate Wetting and Drying) atau pengairan basah kering, (2) intermitten atau pengairan berselang, dan (3) pengairan terus menerus (tergenang). Bibit ditanam umur 17 hari dengan sistem tanam legowo 2:1, pemupukan didasarkan pada analisis tanah dengan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) 200 kg phonska + 130 kg Urea/ha. Pengendalian hama/penyakit dilakukan dengan metode Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan air dengan metode AWD menghasilkan pertumbuhan, produksi dan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian air secara intermitten dan terus menerus (tergenang). Tingkat produktivitas padi yang dicapai dengan  metode AWD adalah  8,3 t/ha, sedangkan pengairan intermitten dan terus menerus  menghasilkan masing-masing 7,8 t/ha dan 7,6 t/ha. Keuntungan yang diperoleh dalam usahatani padi  dengan metode AWD mencapai Rp16,1 juta/ha, sedang pengelolaan air dengan metode intermitten dan pengairan tergenang masing-masing menghasilkan Rp14,1/ha juta dan Rp13,4 juta/ha. R/C  ketiga metode pengelolaan air masing-masing > 2,0 yang  berarti metode tersebut layak diterapkan.   Kata kunci : Pengelolaan air, usahatani padi, sawah irigasi      
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG DI PROVINSI GORONTALO Fadwiwati, Andi Yulyani; Tahir, Abdul Gaffar
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n2.2013.p%p

Abstract

ABSTRACTAnalysis of Factors Affecting Maize Production and Farm Income in Gorontalo Province. Maize is one of the commodities as the main  source  of carbohydrates and protein after rice , which is likely to be developed  in Gorontalo. Problems in the development of maize farming in the province of Gorontalo is the degradation of crop area, production and productivity. This study aims to determine the factors affecting maize production and farm income and knowing in Gorontalo Province. This discussion based on primer data that collected by interview to 355 farmers whom elected to be respondents. Methods of analysis to examine the factors that influence the production using Cobb Douglas production function model and to use the income of farm income analysis. The results showed that farm income new maize varieties is relatively larger than the old varieties of maize farming in the value of R/C respectively 2.68 and 1.98 for new varieties and old varieties. Factors that influence the production of new varieties is land, seeds, urea fertilizer, pesticides and labor. While the effect on the old varieties are land, labor and fertilizer urea has an influence on the old varieties. In the varieties combined with dummy indicate that new varieties have a significant effect on maize. Results of this study have implications for the optimal utilization of dry land for corn planting new varieties using site-specific fertilizer. Support input seed varieties and fertilizers become crucial. Key words: Maize, variety, specific location ABSTRAK Jagung (Zea mays) merupakan salah satu komoditas sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras berpeluang dikembangkan di Gorontalo. Permasalahan pengembangan usahatani jagung di Provinsi Gorontalo dihadapkan pada penurunan luas areal panen, dan produktivitas, sehingga berdampak pada capaian produksi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani jagung di Provinsi Gorontalo. Pembahasan didasarkan pada data primer yang dikumpulkan melalui wawancara terhadap 355 orang petani yang terpilih menjadi responden. Metode analisis untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi produksi menggunakan model fungsi produksi Cobb Douglas dan untuk pendapatan menggunakan analisis pendapatan usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usahatani jagung varietas unggul baru relatif lebih besar dibandingkan dengan usahatani jagung varietas unggul lama dengan nilai R/C masing-masing 2,68 dan 1,98 untuk varietas unggul baru dan varietas unggul lama. Faktor produksi yang berpengaruh terhadap varietas unggul baru adalah lahan, benih, pupuk Urea, pestisida dan tenaga kerja. Sedangkan yang berpengaruh terhadap varietas unggul lama adalah lahan, pupuk Urea dan tenaga kerja mempunyai pengaruh terhadap varietas unggul lama. Pada gabungan dengan dummy varietas  menunjukkan bahwa varietas unggul baru berpengaruh signifikan terhadap produksi jagung. Hasil penelitian ini berimplikasi pada pemanfaatan lahan kering yang optimal untuk pertanaman jagung varietas unggul baru dengan menggunakan pupuk yang spesifik lokasi. Dukungan input benih varietas unggul dan pupuk menjadi krusial. Kata kunci: Jagung, varietas, spesifik lokasi
SOSIAL EKONOMI PEKARANGAN BERBASIS KAWASAN DI PERDESAAN DAN PERKOTAAN TIGA PROVINSI DI INDONESIA Harmi Andrianyta; Maesti Mardiharini
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 3 (2015): November 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n3.2015.p%p

Abstract

 ABSTRACTSocial Economic of Homeyard Based on Rural and Urban Areas in Three Provinces of Indonesia. Homeyard in urban and rural areas is a pivotal source of food, family nutrition and household economics. This study aims to discuss the existence of homeyard in urban and rural areas from the socio-economic perspective. The research was conducted  in three provinces: South Kalimantan, Central Java and South Sumatra during September and October 2012. The research used cluster-based involving 50 respondents that represent people in urban and rural areas. Data were collected through interviews including: the respondents’ characteristics, the choice of plants, the plant arrangement, the type of work and tenure. The data were analyzed using descriptive analysis (cross tabulations), a comparative analysis of median values (t test), χ2 analysis (chi-square) and correlation analysis. The results showed that there are differences in the characteristics of the homeyard management aspects of demographic, social, cultural, economic and natural resources in both areas. It can be concluded that, the existence of the management of the homeyard in urban and rural areas plays a strategic role as a source of household economy, even though in a different management, especially in the diversity of cultivated plants and pattern of arable land. As an implication, homeyards need to be considered as a potential economic and productive resource in agricultural development policy. Keywords: Homeyard, social economic, rural areas, urban areas ABSTRAK          Pekarangan di perkotaan dan perdesaan berpotensi sebagai penyedia sumber bahan pangan, gizi keluarga dan ekonomi rumah tangga. Pengkajian bertujuan untuk membahas eksistensi pekarangan di perkotaan dan perdesaan dalam perspektif sosial ekonomi. Pengkajian dilakukan di Provinsi Kalimantan Selatan, Jawa Tengah dan Sumatera Selatan pada bulan September dan Oktober 2012. Rancangan pengkajian disusun berdasarkan pengelompokkan kawasan perkotaan dan perdesaan melibatkan 50 orang responden mewakili daerah perkotaan dan perdesaan. Data dikumpulkan melalui wawancara meliputi: karakteristik responden, pemilihan jenis tanaman, penataan tanaman, jenis pekerjaan dan penguasaan lahan. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif (tabulasi silang), analisis perbandingan nilai tengah (uji t), analisis χ2 (chi square) dan korelasi. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik pengelolaan pekarangan dari aspek demografi, sosial budaya, sumber daya alam dan ekonomi di kedua kawasan. Kesimpulan eksistensi pengelolaan pekarangan di perdesaan dan perkotaan memiliki peran strategis sebagai sumber ekonomi rumah tangga, meskipun dalam pengelolaannya berbeda terutama dalam keragaman jenis tanaman yang diusahakan dan pola penataannya. Sebagai implikasinya, dalam kebijakan pembangunan pertanian keberadaan lahan pekarangan perlu dipertimbangkan sebagai sumberdaya ekonomi produktif yang potensial. Kata kunci: Pekarangan, sosial ekonomi, perdesaan dan perkotaan.
ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP DEGRADASI LAHAN DAN PENDAPATAN PETANI DI DAS WANGGU SULAWESI TENGGARA La Ode Alwi; Sitti Marwah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n2.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Impact Analysis on The Change of Land Utilization toward Land Degradation and Farmers’ Income in Wanggu Watershed of South East Sulawesi. Objectives of the study were: (1) to assess the impact of the changes of land use in Wanggu watershed toward erosion, land degradation, ratio discharge (Qmax / Qmin), and farmer incomes; (2) to analyze land utilization and agro-technological model to improve soil infiltration capacity and water availability as well as to reduce the ratio discharge (Qmax / Qmin), the rate of erosion and land degradation; and (3) to formulate land-use and agrotechnological planning in sustainable watershed management. The research was conducted in July 2013-December 2013. The assessment on land degradation and watershed hydrological conditions of Wanggu was based on the data of land use changes, soil physical, erosion, run off coefficient, and river discharge. This study used survey methods and experimental plots to collect the data. Data on biophysical land including: climate, topography, soil type and land use derived from the results of the previous studies. The farmer’s income was calculated based on total production, total revenue and total cost. The results showed that the changes of land use caused land degradation, which might occur on: (i) upland agriculture, bushes, human settlements with the erosion > ETol with 36.3>21.0; 21.4>14.9 and 19.5>18 t/ha/yr and its slopes >8%, (ii) the ratio of river discharge (Qmax/Qmin> 30), land productivity and farmers' income (around IDR11.500.000/ha/th in upland, while in agroforestry about IDR21.500.000/ha/year < the standard of living allowance IDR22.000.000/year/hh). The land use and agrotechnological model from the scenario 5 could prevent land degradation, reduce the ratio of discharge (Qmax / Qmin <30), enhance soil productivity and increase income of farmers reaching for about IDR22.340.000–IDR25.730.000 ≥ IDR27.200.000/ha/year/hh. Those would meet the minimum requirement of living standard in South East Sulawesi.   Keywords: Land use, Wanggu Wathersed, impact, erosion, farming system ABSTRAKTujuan penelitan adalah (1) menganalisis dampak perubahan penggunaan lahan di DAS Wanggu Ds terhadap erosi, run off dan fluktuasi debit air, (2) mengkaji model penggunaan lahan dan agroteknologi yang mampu meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah, menurunkan run off, fluktuasi debit air sungai dan laju erosi serta pendapatan petani, dan (3) merumuskan model perencanaan penggunaan lahan dan agrotekonologi yang tepat dalam pengelolaan DAS Wanggu berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2013–Desember 2013. Degradasi lahan dan kondisi hidrologi DAS Wanggu dinilai berdasarkan terhadap perubahan penggunaan lahan, fisik tanah, erosi dan koefisien aliran permukaan serta debit sungai dengan menggunakan metode survei dan percobaan plot. Data biofisik lahan mencakup: data iklim, topografi, jenis tanah dan penggunaan lahan yang diperoleh dari hasil-hasil berbagai penelitian. Pendapatan petani dihitung berdasarkan pada produksi total, pendapatan dan biaya total yang dkeluarkan petani. Hasil studi menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuan lahannya telah menyebabkan degradasi lahan umumnya pada: (i) pertanian lahan kering, semak-belukar, pemukiman dengan erosi > ETol secara berurutan 36,3 > 21,0; 21,4 >14,9 dan 19,5 >18 t/ha/th) pada kemiringan lereng > 8%, (ii) peningkatan Qmax/Qmin 36,8  > 30), (iii) produktivitas lahan dan pendatan petani adalah rendah (pertanian lahan kering Rp11.500.000/ha/th, dan kebun campuran/agroforestry Rp21.500.000/ha/th < standar kebutuhan hidup layak (KHL) Rp22.000.000/th/KK. Model penggunaan lahan dan agroteknologi Skenario 5 dapat mencegah degradasi lahan, menurunkan Qmax/Qmin 15,2 < 30), erosi < ETol (3,5–14,5 t/ha/th < 10,6–20,0 t/ha/th), meningkatkan produktivitas tanah dan pendapatan petani yang mencapai Rp22.340.000 – Rp25.730.000 ≥ Rp22.000.000/ha/th/KK yang memenuhi standar kebutuhan hidup layak di Sulawesi Tenggara. Kata kunci: Penggunaan lahan, DAS Wanggu, dampak, erosi, sistem pertanian
Efek Jenis Kemasan terhadap Kualitas Gabah dan Beras Varietas Cigeulis Wanti Dewayani; Arafah ;; Nasruddin Razak; Andi Darmawidah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT An Assessment on Packaging Types Effect toward Unhulled Rice and Rice Quality of Cigeulis Variety. Rough rice and rice production all this time encounter problems due to deterioration inadequate storage.  The objective of research was to asses packaging effect on rough rice and rice quality var. Cigeulis during storage period. The assesment was done from June 2006 to December 2007 in Batang ase, Maros, South Sulawesi. The research employed Randomized Blok Design factorial pattern with 10 farmers as replication. Each farmer has 10 hermetic bags and 10 prophylene bags and it stored until 12 months. Every 3 month, the rough rice  was milled for quality analysis. The research results indicated that hermetic storage could be blocked of moisture content (10.76%), to high of head rice (84%), decreased broken rice (24.45%), rough rice damage (1.67%) and pest (2.4%). Rice cooked of hermetic was better than that of plastic bag packages in term of texture, taste, colour and flavor.  In addition, rice viability was effected by packaging i.e.  99% in hermetic bag at 9 and 12 months and 11% in prophylene bag at 9 months and 0% in prophylene bag at 12 months). Key words: Hermetic, packing, quality, rice cv. Cigeulis, rough rice, rendement ABSTRAK Produksi gabah dan beras selama ini menghadapi masalah penurunan mutu akibat penyimpanan yang kurang memadai. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk  mengkaji efek jenis kemasan terhadap kualitas gabah dan beras varietas Cigeulis selama penyimpanan.  Penelitian dilakukan di Batang Ase, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang dimulai pada bulan Juni 2006 hingga Desember 2007. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok pola faktorial dengan faktor pertama adalah kemasan (kemasan karung plastik dan  kemasan hermetik) dan faktor kedua adalah lama simpan (0,3,6,9 dan 12 bulan). Percobaan dilakukan terhadap 10 petani sebagai ulangan yang masing-masing 10 karung gabah yang dikemas hermetik dan 10 karung gabah yang dikemas karung plastik. Tiap karung diisi 50 kg gabah yang disimpan di gudang milik masing-masing petani hingga 12 bulan. Tiap 3 bulan gabahnya digiling untuk mendapatkan beras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kemasan hermetik dapat menghambat kenaikan kadar air gabah varietas Cigeulis selama dalam penyimpanan (10,76%), mempertahankan persentase beras kepala (84%), menekan butir patah (24,45%), kerusakan gabah (1,67%) dan tingkat hama rendah (2,4%) saat penyimpanan 12 bulan. Hasil organoleptik menunjukkan bahwa nasi dari gabah kemasan hermetik tetap baik dan enak dari awal penyimpanan hingga 12 bulan penyimpanan baik kelekatan, rasa, warna, kepulenan dan aroma, sedangkan nasi dari gabah kemasan karung plastik mengalami  perubahan yaitu nasi makin kurang melekat, warna  putih kusam dan aroma berkurang.  Daya tumbuh gabah memperlihatkan perbedaan yang nyata antara yang disimpan dengan kemasan hermetik (99% penyimpanan 9 dan 12 bulan) dan kemasan karung plastik (11% penyimpanan 9 bulan dan 0% pada penyimpanan 12 bulan). Kata kunci: Hermetik, kemasan, kualitas, beras Cigeulis, gabah, rendemen
PENGUATAN ASPEK KELEMBAGAAN MENDUKUNG PERCEPATAN PERKEMBANGAN USAHA TERNAK SAPI POTONG - KELAPA SAWIT DI KECAMATAN HULU KUANTAN KABUPATEN KUANSING PROVINSI RIAU Andriati Zaenun; Titim Rahmawati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n1.2018.p11-23

Abstract

ABSTRACT             Inline with an advance of  palm oil waste management into feed, it is a high possibility to integrate cattle farming into smallholder palm oil plantation. The activity will involv several stakeholders including government and also non government institutions with specific role facing a complex institution interaction. This condition indicated the need of field assessment to measure contibution weight of each stakeholder to a chieve harmony interaction among involved institutions to support developement of cattle farming. For this reason, field assessment on strengthening of instituion aspects has been done in Hulu Kuantan sub districts of Kuansing regency following an analytical hierarchy process approach in 2014. Primery data were collected while conducting focus group discussion (FGD) to 20 respondens (representing of farmers, head of farmers group, head of association of of farmers groups, researchers, and extentionist of Riau Assessment Institute for Agriculture Technolgy, Local animal husbandry services, local animal husbandry and health extentionists of Kuansing Regency), following purposive sampling method. Secondary data including management aspects of cattle farming were collected from the related institutions. The collected data were analyzed using Criterium Decission Plus (CDP) soft ware. The assessment showed that at factor level, working capital had the important role with contribution weight of 34.50%, while at actor level farmer group became important role with contribution weight of 25.50%. Increasing of farmer’s income became main goal with contribution weight of 38.60%. Based the interaction among level from actor-goal, the best management of cattle farming was conducted by farmer group with contribution weight of 38.00%.AHP, CDP ABSTRAK             Seiring dengan kemajuan teknologi pengelolaan limbah kelapa sawit menjadi pakan ternak,terbuka peluang yang besar untuk mengintegrasikan usaha ternak sapi potong ke dalam perkebunan kelapa sawit plasma. Usaha tersebut melibatkan banyak pihak baik dari lembaga pemerintah maupun non pemerintah dengan peran yang spesifik sehingga menimbulkan interaksi kelembagaan yang komplek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi bobot masing-masing pihak untuk mencapai interaksi kelembagaan yang harmonis mendukung perkembangan usaha ternak sapi potong. Kajian dilakukan di Kecamatan Hulu Kuantan Kabupaten Kuansing selama tahun 2014 dengan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP). Data primer diperoleh melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan 20 responden yang dipilih secara sengaja (purposive random sampling) mewakili petani, ketua Kelompok Tani, ketua Gabungan Kelompok Tani, peneliti dan pengkaji BPTP Provinsi Riau, UPTD peternakan Kabupaten Kuansing, Penyuluh Peternakan Lapang, dan petugas kesehatan hewan. Data sekunder meliputi aspek pengelolaan budidaya ternak sapi potong diperoleh dari instansi terkait, kelompok tani, dan instansi terkait lainnya. Data dianalisis dengan perangkat lunak Criterium Decission Plus (CDP). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada level faktor, modal kerja memegang peranan dominan dengan bobot sebesar 34,50% dan Kelompok Tani (Poktan) memegang peranan paling penting pada level aktor dengan bobot sebesar 25,50%. Peningkatan pendapatan petani menjadi tujuan utama dalam pengembangan usaha ternak sapi potong dengan bobot sebesar 38,60%. Berdasarkan interaksi dari level faktor sampai tujuan, pengelolaan usaha ternak sapi potong yang paling berpeluang untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan adalah pengelolaan oleh petani dengan membentuk Kelompok Tani dengan bobot sebesar 38,00%. sapi potong, AHP, CDP

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue