cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
ADAPTASI TANAMAN BAWANG MERAH DAN KACANG TANAH DI LAHAN KERING nFN Syafruddin; Andi Irmadamayanti; nFN Saidah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n1.2018.p25-35

Abstract

ABSTRACTAdaptation of Onion and Peanut to Dry Land. Crop adaptation is one of the efforts to find out the suitability of dry land to obtain maximum yield and efficiency of farming. This research aimed to findout onion and peanut varieties suitable for dry land, with high production, which will in turn could increase farmers income. Onions and peanuts are important food crops for people's lives, because they are not only food sources, but they are the jobs of some farmers. The research was conducted for a year with two series namely: First, variety adaptation of onion consisting of three levels i.e., local palasa, local tinombo and bima varieties. Second, variety adaptation of peanut consisting of four levels i.e., tuban, bison, kelinci dan local varieties Each activity used a randomized block design with treatment repeated 3 times. The results show that: superior varieties of both onion and peanut significantly increase harvest yield in an adequate improved cultivation compared to the yield obtained using local varieties with traditional cultivation approach.Analysis of suitability of the farms show that all the varieties of the onions and peanuts are beneficial to be cropped. In a high rainfall periode (April – July 2016), onion of bima variety could not be harvested, due to highly intensive disease attack.onion, peanuts, dry land, productivity, incomeABSTRAKAdaptasi tanaman merupakan salah satu upaya untuk mengetahui kesesuaian terhadap lahan kering memperoleh hasil maksimal dan efisiensi usahatani. Bawang merah dan kacang tanah merupakan komoditas tanaman pangan penting bagi kehidupan masyarakat, karena tidak hanya sebagai sumber pangan, akan tetapi merupakan lapangan pekerjaan sebagian petani. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan varietas bawang merah dan kacang tanah yang sesuai dengan kondisi lahan kering yang dapat berproduksi tinggi dan meningkatkan pendapatan petani. Penelitian dilakasanakan selama satu tahun dengan dua kegiatan penelitian yang diksanakan secara bersamaaan yaitu: adaptasi varietas bawang merah terdiri atas 3 level (bawang merah lokal palasa, lokal tinombo dan varietas Bima) dan kacang tanah terdiri atas empat varietas antara lain Varietas Tuban, Varietas Bison, Varietas Kelinci dan Varietas Setempat/lokal. Masing masing kegiatan menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Introduksi Varietas unggul kacang tanah dan bawang merah secara nyata meningkatkan hasil panen dibandingkan dengan teknik budidaya ditingkat petani dan varietas eksisten. Analisis kelayakan usahatani, telihat bahwa semua varietas yang di uji baik bawang merah maupun kacang tanah layak untuk diusahakan. Bawang merah varietas Bima tidak dapat berproduksi pada kondisi curah hujan tinggi (periode April – Juli 2016) akibat adanya serangan penyakit sehingga tidak dapat dipanen.bawang merah, kacang tanah, lahan kering, produktivitas, pendapatan
KAJIAN KERAGAAN VARIETAS UNGGUL BARU PADI SAWAH DENGAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI BANTUL, YOGYAKARTA Bambang Sutaryo; Heni Purwaningsih
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n2.2014.p%p

Abstract

The Assessment of Performance of High Yielding Variety Through Integrated Crop Management in Bantul, Yogyakarta. Study on performance for rice high yielding variety using five varieties namely Inpari 3, Inpari 4, Inpari 9, Inpari 10 and Inpari 11 through integrated crop management (ICM) was conducted at Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta during the dry season of  2012. Seedling of 15 days with one seedling per hill was planted using “jajar legowo” 4:1 system, with plant spacing of 25 x 12.5 x 50 cm. Plot size per variety was 2000 m2. Ciherang and Situ Bagendit as populair varieties planted using the same population by farmers were used as control. Data were analyzed using t test. Inpari 10 gave the highest yield (9.5 t/ha) compared to check varieties and the other varieties tested, with yield ranging from 8.8 to 9.9 t/ha. The highest yield on Inpari 10 was contributed by the highest of the main yield components, namely the number of filled grains, total grain number, and the panicle number. All varieties showed early to moderate maturity, except Inpari 9 (125 days). Inpari 10 gave the highest profit compared with the others superior varieties tested and the most preferred by farmers because of more taste, more white color, more shiny, and more fragrant. Keywords: Inpari, Ciherang, Situ Bagendit, "jajar legowo", IPM.ABSTRAKKajian keragaan teknologi varietas unggul baru padi pada pengelolaan tanaman terpadu menggunakan lima varietas unggul baru yaitu Inpari 3, Inpari 4, Inpari 9, Inpari 10 dan Inpari 11 dilaksanakan di Kelompok Tani Ngimbangan, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta selama musim kemarau 2012. Bibit berumur 15 hari dengan satu bibit per lubang ditanam secara Jajar Legowo (Tajarwo) 4:1, jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm, dengan 256.000 populasi tanaman. Luas plot per varietas adalah 2000 m2. Varietas tersebut digunakan sebagai perlakuan. Ciherang dan Situ Bagendit sebagai varietas populer yang ditanam dengan populasi yang sama oleh petani digunakan sebagai pembanding. Data dianalisis dengan uji t. Inpari 10 merupakan varietas dengan hasil tertinggi (9,5 t/ha) dibandingkan dengan varietas pembanding maupun varietas yang diuji lainnya, dengan hasil berkisar (8,8 - 9,9 t/ha). Hasil terbaik pada Inpari 10 tersebut didukung oleh komponen hasil utama yaitu jumlah gabah isi, jumlah gabah total, dan jumlah anakan produktif. Semua varietas yang dikaji berumur genjah sampai sedang, kecuali Inpari 9 dengan umur tanaman 125 hari. Inpari 10 memberikan keuntungan yang paling tinggi dibandingkan dengan varietas  unggul baru lainnya yang diuji dan paling disukai petani karena lebih pulen, lebih putih, lebih berkilap, dan lebih wangi.Kata kunci: Inpari, Ciherang, Situ Bagendit, jajar legowo
RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI TERHADAP PEMUPUKAN HAYATI PADA LAHAN KERING DI PANDEGLANG, BANTEN Resmayeti Purba
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2016): November 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n3.2016.p253-261

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui respon dari pertumbuhan dan produksi kedelai terhadap pemupukan hayati (Agrimeth dan Gliocompost) pada lahan kering dilakukan di Kabupaten Pandeglang Banten, April –Juni 2016. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, dengan enam perlakuan: (A). Tanpa pemupukan (kontrol); (B). Pupuk rekomendasi: 100 kg/ha urea + 100 kg/ha SP-36 + 250kg/ha NPK Phonska; (C) Pupuk Hayati Agrimeth 200 g/ha + 25% pupuk rekomendasi; (D). Pupuk Hayati Agrimeth 200 g/ha + 50% pupuk rekomendasi; (E) Pupuk Hayati Gliocompost 20 kg/ha+ 25% pupuk rekomendasi; dan, (F) Gliocompost 20 kg/ha + 50% pupuk rekomendasi. Parameter yang diamati meliputi: tinggi tanaman (cm), panjang akar (cm) dan jumlah bintil akar pertanaman pada 42 hst, jumlah polong isi pertanaman dan hasil biji kedelai kering (t/ha) saat panen. Analisis data 254 Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Vol. 19, No.3, November 2016: 253-261 menggunakan ANOVA dengan uji lanjutan menggunakan DMRT dengan aplha 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian Agrimeth 200 g/ha + 50% pupuk rekomendasi berbeda sangat nyata dibandingkan lima perlakuan lainnya terhadap tinggi tanaman, panjang akar, bintil akar, polong isi dan hasil biji kedelai. Perlakuan ini memberikan hasil tertinggi untuk semua parameter yang dianalisis. Respon pertumbuhan dan hasil kedelai terhadap pemberian masing-masing pupuk hayati Agrimeth dan Gliocompost pada budidaya kedelai di lahan kering lebih tinggi dibandingkan perlakuan yang hanya menggunakan pupuk anorganik rekomendasi. Penggunaan Agrimeth 200 g/ha mampu mensubtitusi 50% pupuk anorganik rekomendasi. Pada penggunaan 25% pupuk rekomendasi, penambahan pupuk hayati Agrimeth 200 g/ha mampu mensubtitusi penambahan Gliocompost 20 kg/ha.ABSTRACTThe Growth and Production of Soybean towards Organic Fertilization on Dryland in Pandeglang, Banten. The study aimed to investigate the response of the growth and production of soybean towards biofertilizer (Agrimeth and Gliocompost) on dry land, in Pandeglang Banten from April to June 2016. The study was a randomized block design, with six treatments: (A). Without fertilization (control); (B). Recommended Fertilizer consist of 100 kg/ha of urea + 100 kg/ha of SP-36 + 250 kg/ha of NPK Phonska; (C) Agrimeth Biofertilizer 200 g/ha + 25% recommended fertilizer; (D). Agrimeth Biofertilizer 200 g/ha + 50% recommended fertilizer; (E) Gliocompost Biofertilizer 20 kg/ha + 25% recommended fertilizer; and (F) Gliocompost Biofertilizer 20 kg/ha + 50% recommended fertilizer. The observed parameters were plant height (cm) after harvest, root length (cm) and the number of root nodules crop at 42nd days, number of filled pods and seed yield of dried soybean crops (t/ha) at harvest. Data were analyzed using ANOVA with advanced test using DMRT with aplha 5%. The results showed that the application of 200 g/ha of Agrimeth + 50% of recommended fertilizer resulted significant differences comparing to the other treatments on plant height, root length, root nodules, filled pods and seed yield of soybean. This treatment contributed the highest result of all parameters. The response of growth and yield of soybean using Agrimeth and Gliocompost as biofertilizer separately in dry land were higher than those applying the recommended anorganic fertilizer. The use of 200 g/ha of Agrimeth could subtitute 50% of recommended anorganic fertilizer. In the application of 25% of recommended anorganic fertilizer, intake of 200 g/ha of Agrimeth were able to subtitute 20 kg/ha of Gliocompost.
PREFERENSI OLAHAN UBI JALAR UNGU DAN UBIKAYU DI KABUPATEN MADIUN PROVINSI JAWA TIMUR Aniswatul Khamidah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n2.2016.p135-151

Abstract

ABSTRACTPreference of Processed Purple Sweet Potato and Cassava in Madiun District. ThroughSustainable Reserved Food Garden Model (SRFGM), women farmers group "Karya Mulya" was introduced to the technology of purple sweet potato and cassava processing, which have not been utilized optimally. This assessment aimed to determine the farmers’ acceptance of the introduced technologies, to know the most preferred product alongwith chemical and sensory quality and to know the ranking of product preferences with the influencing factors. This assessment was carried out in the Wonorejo village and Assessment Institute of Agricultural Technology (AIAT) East Java, using a randomized block design with 28 replicates. The treatments tested were purple sweet potato flour, purplesweet potato ice cream, purple sweet potato jams, purple sweet potato french fries, modified cassava flour, noodles, stick and brownies from modified cassava flour. Parameters observed were women farmer acceptance and preference of the processed technologies that have been introduced, the ranking of product preferences with the factors that influence and the nutrient composition. The assessment resulted that the farmers’ responses especially on the "easiness of processing" was 3.67-4.90; "easiness of obtaining raw materials" was from 3.38 to 4.95 (easy to very easy). The consumer preference value of the purple sweet potato products was on the range of 3.81 to 4.57 (like to very like). The rank of most preferred products were ice cream, french fries, jam and flour respectively. Ice cream had the highest preference containing of 64.93%; ash 2.15%; fat 2.20%; protein 2.94%; carbohydrate 27.78%; calories 142.70 cal/100 g and anthocyanins 0.23 mg/g. The panelist preference value of cassava products was between 4.05 and 4.524 (like to very like). For cassava product, the rank of the most favored products were brownies, noodles, stick and mocaf.Brownies encompassed the highest value with the water content of 30.11%; ash 1.78%; protein 5.88%; fat 19.20%;carbohydrates 43.02% and calories 368.43 cal/100 g. Factors that affecting adoption of technology are the simplicity of raw material (50%), easiness of process (44.44%), efficiency of labor (5.556%) and the simplicity of tool.Keywords: purple sweet potatoes, cassava, organoleptic testABSTRAKMelalui Kegiatan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL), kelompok wanita tani (KWT) “Karya Mulya” diperkenalkan teknologi olahan ubikayu dan ubi jalar ungu, yang selama ini pemanfaatannya belum optimal.Pengkajian bertujuan mengetahui penerimaan wanita tani terhadap teknologi yang diintroduksikan, mengetahui produk yang paling disukai beserta mutu kimia dan ensorisnya, serta mengetahui peringkat kesukaan produk dan faktor yang mempengaruhinya. Kegiatan dilaksanakan di Desa Wonorejo Kabupaten Madiun dan BPTP Jawa Timur, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), 28 kali ulangan. Perlakuan yang diujikan yaitu tepung ubi jalar ungu, es krim ubi jalar ungu, selai ubi jalar ungu, french fries ubijalar ungu, tepung ubikayu termodifikasi, mie, stick dan brownies dari tepung ubikayu termodifikasi. Parameter yang diamati yaitu penerimaan dan preferensi wanita tani terhadap teknologi yang diintroduksikan, peringkat kesukaan produk dan faktor yang mempengaruhinya, sertakomposisi nutrisi produk terpilih. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penilaian petani mengenai teknologi yang diintroduksikan terutama “kemudahan cara pengolahan”, “kemudahan memperoleh bahan baku” berturut-turut sebesar 3,67-4,90; dan 3,38-4,95 (mudah sampai sangat mudah). Tingkat kesukaan konsumen pada olahan ubi jalar ungusebesar 3,81-4,57 (suka sampai sangat suka). Urutan olahan ubi jalar ungu dari yang paling disukai yaitu es krim, french fries, selai, dan tepung ubi jalar ungu. Es krim menempati nilai kesukaan tertinggi, dengan nilai kadar air 64,93%; abu 2,15%; lemak 2,20%; protein 2,94%; karbohidrat 27,78%; kalori 142,70 kal/100 gr; dan antosianin 0,23mg/g. Tingkat kesukaan panelis terhadap olahan ubikayu sebesar 4,05 sampai 4,524 (suka sampai sangat suka).Peringkat kesukaan olahan ubikayu dari yang paling disukai yaitu brownies, mie, stick dan tepung ubikayu termodifikasi. Brownies menempati nilai kesukaan tertinggi dengan nilai kadar air 30,11%; abu 1,78%; protein 5,88%; lemak 19,20%; karbohidrat 43,02% dan kalori 368,43 kal/100 gr. Faktor yang mempengaruhi adopsi teknologi yaitu kesederhanaan bahan (50%), kemudahan proses (44,44%), efisiensi tenaga kerja (5,556%) dan kesederhanaan alat.Kata kunci: ubijalar ungu, ubikayu, uji organoleptik
EFEKTIVITAS JAMU HERBAL DALAM MEMPERBAIKI PERFORMA PERTUMBUHAN ITIK PEDAGING DAN ANALISIS EKONOMI Surya Yana Nana
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n2.2017.p101-110

Abstract

Permintaan daging itik di Kalimantan Selatan sebagian besar dipenuhidari daging itik betina apkir dan itik jantan yang digemukkan, namun pengadaannya belum memenuhi seluruh permintaan. Oleh karena itu, untuk mengimbangi tingginya permintaan daging itik tersebut, disarankan memelihara itik Serati hasil persilangan antara entok jantan (Cairina moschata) dengan itik Alabio betina (Anas platyrhynchoc Borneo), yang dilakukan dengan teknik insemiansi buatan (IB). Pengkajian bertujuan untuk mengetahui efektivitas dosis ekstrak herbal terhadap keragaan pertumbuhan dan nilai ekonomi itik Serati. Kegiatan ini dilaksanakan di kelompok Pemuda Tani Gantang GumbangDesa Banua Kepayang, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, mulai April sampai dengan Desember 2014. Materi yang digunakan adalah anak itik Serati jantan-betina (unsexed) sebanyak 60 ekor berumur 2 minggu, hasil penetasan sendiri. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, masing-masing 5 ekor itik Serati per ulangan. Perlakuan berupa dosis larutan herbal, yang terdiri dari: LH0= (kontrol, tanpa larutan herbal); LH3=dosis larutan herbal 3 ml/ekor/hari; LH6= dosis larutan herbal 6 ml/ekor/hari, dan LH9=dosis larutan herbal 9 ml/ekor/hari, dengan cara dimasukkan ke dalam mulut. Hasil pengkajian menunjukkan bahwapenggunaan dosis larutan herbal 9 ml/ekor/hari, berpengaruh sangat nyata (P<0,01) pada konsumsi pakan (4891 g/ekor), pertambahan bobot badan (1950g/ekor), bobot karkas (1400 g/ekor), persentase karkas (73,33%), dan kandungan lemak abdominal sebesar 15,15% dengan FCR (feed conversion ratio) yang tidaknyata (P>0,05) sebesar 3,99. Pemberian larutan herbal 9 ml/ekor/hari meningkatkan keuntungan dari pemeliharaan 100 ekor selama 12 minggu, sebesar Rp2.150.000dengan nisbah B/C (benefit/cost)sebesar 1,35.itik Serati, larutan herbal, produktivitas, nilai ekonomi
Halaman Depan Jurnal Agung Susakti
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH APLIKASI ASAM GIBERELIN (GA3) TERHADAP HASIL BENIH PADI HIBRIDA Pepi Nur Susilawati; Memen Surahman; Bambang S. Purwoko; Tatiek K Suharsi; , Satoto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n2.2014.p%p

Abstract

The Effect of Giberelin Acid (GA3) Application to Seed Yield of Hybrid Rice. Seed yield of rice hybrid on three line system has weakness in panicle exertion and outcrossing that cause low yield.  GA3 has been proved to increase the seed set through increasing panicle exertion and improved outcrossing. The purpose of this study was to determine the effect of GA3 application to increase seed yield of hybrid rice (F1). The study was conducted in Singamerta Experimental Farm, Banten Assesment Institute for Agricultural Technology from May to October 2013. The experiment was arranged in a split plot designed with four replications. The main plot were parental lines (cytoplasmic male sterility/CMS and restorer/R) of hybrid i.e. HIPA 8 (A1 and BP51-1), HIPA 6 (A2 and B8094), HIPA Jatim 3 (A6 and PK88) and HIPA 14 SBU (A7 and BH33d-Mr-57-1-2-2). Sub plot were the  frequency of GA3 treatments i.e. control (W0), two (W1), and three (W3) times application of GA3. GA3 dosage was 200 ppm, the best dose from the previous studies. The results showed that the GA3 applications increased plant height, stigma exertion, panicle exertion, duration of floret opening and panicle length. Two times application (W1) of  GA3  gave the best results as indicated by the highest seed yield (1429 kg/ha) that was better than three times application of GA3 that gave seed yield 1215 kg/ha and control with yield of 703 kg/ha.Keywords : GA3, hybrid rice, seed yieldABSTRAKHasil benih padi hibrida sistem tiga galur memiliki kelemahan, yaitu rendahnya eksersi malai dan tingkat penyerbukan silang,sehingga hasilnya rendah. Percobaan terdahulu menunjukkan bahwa aplikasi GA3 dapat meningkatkan hasil melalui peningkatan eksersi malai dan penyerbukan silang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi aplikasi GA3 terhadap peningkatan hasil benih padi hibrida (F1). Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Singamerta, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten pada Mei sampai Oktober 2013. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi dengan empat ulangan. Petak utama yaitu tetua padi hibrida (galur mandul jantan/GMJ dan restorer) yaitu HIPA 8 (A1 dan  BP51-1), HIPA 6 (A2 dan B8094), HIPA Jatim 3 (A6 dan PK88) dan HIPA 14 SBU (A7 dan BH33d-Mr-57-1-2-2). Anak petak ialah tiga taraf frekuensi penyemprotan GA3 terdiri atas : kontrol (W0), dua kali aplikasi (W1) dan tiga kali aplikasi (W2). Dosis GA3 yang digunakan adalah 200 ppm yang merupakan konsentrasi terbaik dari hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi GA3 mampu meningkatkan tinggi tanaman, eksersi malai, eksersi stigma dan durasi bunga membuka dibandingkan kontrol. Hasil yang terbaik dicapai pada perlakuan GA3 dengan dua kali aplikasi (W1). Hasil benih  pada perlakuan W1 mencapai 1429 kg/ha, lebih tinggi dibandingkan dengan aplikasi tiga kali GA3 (1215 kg/ha) dan kontrol (703 kg/ha).Kata kunci : GA3, padi hibrida, hasil benih
Pengaruh Kombinasi Pupuk Organik dan Anorganik terhadap Sifat Kimia Tanah, dan Hasil Tanaman Jagung di Lahan Kering Masam Yoyo Sulaeman; nFN Maswar; Deddy Erfandi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n1.2017.p1-12

Abstract

ABSTRACTEffect of Organic and Inorganic Fertilizers Combination on Soil Productivity and Crop Yield of Maize Farming in Acid Upland Soil. Continous use of inorganic fertilizers on maize farming in acid upland soil causes negative impacts on soil productivity and environment. The research aimed was to study the effect of manure and sludge combined with inorganic fertilizers to the changes in soil chemical properties, growth, production and profit of maize farming in acid upland soil. The research was conducted at Tamanbogo Experimental Farm, East Lampung from March to July 2013 using a randomized block design with four replications. The treatment consisted of 5 t/ha of cattle manure, 5 t/ha of dried sludge (by product of biogas production) and its combination with 50% and 75% of recommended rates of inorganic fertilizers (RRIF). The results showed that application of manure or sludge incombination with 50% RRIF gave the best growth and yield of maize. The plant height was between 177.85-195.75 cm, the dry grain yield was between 4.01-4.45 t/ha and the harvest residues was between 4.62-4.58 t/ha. Most of maize biomass were accumulated at the grain (46.20%) and the rest was almost evenly distributed on the roots, stems, leaves, cob and husk. The biggest ratio of dry grain to the harvest residues was 89.52%, it was achieved by the treatment of sludge with 50% RRIF.organic fertilizers, inorganic fertilizers, maize growth and yieldABSTRAKPenggunaan pupuk anorganik secara terus menerus pada usahatani jagung di lahan kering masam menimbulkan dampak negatif terhadap produktivitas tanah dan lingkungan. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan pupuk kandang dan sludge yang dikombinasikan dengan pupuk buatan/anorganik terhadap perubahan sifat kimia tanah, pertumbuhan, produksi dan keuntungan pada usahatani jagung di lahan kering masam.Penelitian dilakukan di KP Tamanbogo, Lampung Timur pada bulan Maret sampai Juli 2013 menggunakan  Rancangan Acak Kelompok dengan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari 5 t/ha pupuk kandang, 5 t/ha sludge (hasil samping pembuatan biogas) dan kombinasinya dengan 50% dan 75 % dosis pupuk anorganik rekomendasi (DPAR).Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi antara pupuk kandang atau sludge dengan 50% DPAR memberikan pertumbuhan dan hasil jagung terbaik. Tinggi tanaman mencapai 177,85-195,75 cm, hasil biji pipilan kering antara 4,01-4,45 t/ha dan brangkasan sisa  panen antara 4,62-4,58 t/ha. Sebagian besar biomassa jagung terakumulasi padabagian biji (46,20%) dan sisanya tersebar hampir merata pada bagian akar, batang, daun, janggel, dan kelobot. Rasio pipilan kering jagung terhadap brangkasan sisa panen terbesar adalah 89,52% yang dicapai oleh perlakuan sludge disertai pupuk anorganik pada 50% DPAR.pupuk organik, pupuk anorganik, pertumbuhan dan hasil jagung
STRATEGI PEMBANGUNAN PERTANIAN DI KABUPATEN BANTUL DENGAN PENDEKATAN A’WOT Joko Mulyono; Khursatul Munibah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2016): November 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n3.2016.p199-211

Abstract

Konversi lahan pertanian di Kabupaten Bantul tinggi, produktivitas dan luas panen tanaman pangan cenderung mengalami penurunan, sehingga perlu diidentifikasi strategi pembangunannya yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pembangunan pertanian, dan (2) menyusun strategi pembangunan pertanian di Kabupaten Bantul. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Agustus tahun 2015. Faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dianalisis secara deskriptif. Penyusunan strategi pembangunan pertanian menggunakan pendekatan A’WOT. A’WOT merupakan penggabungan Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan metode Strenghts, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT). Hasil penelitianmemperlihatkan bahwa faktor yang menjadi kekuatan utama dalam pembangunan pertanian adalah aksesibilitas dan infrastruktur yang baik, kelemahan utamanya adalah posisi tawar petani rendah, peluang utamanya adalah frekuensi penyuluhan yang tinggi, dan ancaman utamanya adalah harga input produksi meningkat. Prioritas utama strategi pembangunan pertanian di Kabupaten Bantul adalah dengan membudidayakan komoditas unggulan, yaitu padi sawah, jagung, kedelai, kacang tanah dan meningkatkan kapasitas dan frekuensi penyuluhan dengan melibatkan kelompok tani.ABSTRACTAgricultural Development Strategy with A’WOT Approach in Bantul District. Agricultural land conversion in Bantul District is high, while crops productivity and harvested area tend to decrease; therefore it is necessary to identify appropriate development strategies. The purposes of this study were (1) to identify the strengths, weaknesses, opportunities, and threats of agricultural development and (2) to generate agricultural development strategy in Bantul District. The study was conducted in Bantul District from July to August 2015. Factors of strengths,weaknesses, opportunities and threats were analyzed descriptively. The strategy formulation for agricultural development used A'WOT approach. A'WOT is an incorporation between Analytical Hierarchy Process (AHP) and Strenghts, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT). The result revealed that in agricultural development the main factors of strengths were accessibility and good infrastructure whereas the main weakness was low bargaining positionof farmers. Meanwhile the main opportunity was a high frequency of farming extension whilst the main threat was the increasing of inputs price. The main priority of agricultural development strategy in Bantul was by cultivating leading commodities namely wetland paddy, corn, soybean, peanut, and increasing the capacity and frequency of extension by involving farmer groups.
PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN PADA PROSES PRODUKSI GULA MERAH TEBU DI JAWA TENGAH Indrie Ambarsari; S Dewi Anomsari; Budi Hartoyo
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n3.2017.p231-240

Abstract

 ABSTRACT Food Additive Utilization on The Production Process of Cane Brown Sugar in Central Java. Cane brown sugar is a conventional product from sugarcane processing industry that has grown for generations in Indonesia, especially in Java.  Unfortunately, harmful additives are often used in this industry. Therefore, this study aimed to analyze the effect of the use of additives on the quality and safety of cane brown sugar. Based on field observation in district of Rembang - Central Java, the utilization of food additives was divided into three, i.e.: (1) the addition of calcium oxide, (2) the combination of calcium oxide and sugar, and (3) the combination of calcium oxide, sugar, and sodium bicarbonate. The parameters that was observed including chemical characteristics (moisture, protein, fat, reduced sugar, sucrose) as well as physical characteristics (hardness, color and pH), while the safety parameters was observed based on calcium residues and microbial analysis. Statistical analysis was performed using one-way ANOVA. The results showed that combination of calcium oxide with sugar and sodium bicarbonate affects the product quality such as protein content, sucrose, pH, color, and hardness. However, the utilization of food additives can not fixed the quality of brown sugar. In term of food safety, the replenishment of sodium bicarbonate after boiling process showed a significant enhancement on the amount of total microorganism in brown sugar. The addition of sugar and sodium bicarbonate into the formulation also showed an increasing of calcium residues, which is feared could endanger consumer health.   brown sugar, sugarcane, food additive ABSTRAK Gula merah tebu merupakan produk konvensional dari industri pengolahan tebu yang telah berkembang selama beberapa generasi di Indonesia, terutama di daerah Jawa. Sayangnya, penggunaan bahan tambahan yang berbahaya bagi kesehatan seringkali digunakan dalam industri ini. Oleh karena itu, kajian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh penggunaan bahan tambahan terhadap kualitas dan keamanan produk gula merah tebu. Berdasarkan pengamatan di Kabupaten Rembang – Jawa Tengah, terdapat tiga jenis bahan tambahan yang digunakan dalam produksi gula merah tebu yaitu: (1) penggunaan kapur tohor (kalsium oksida), (2) kombinasi penggunaan larutan kalsium oksida dan gula pasir, (3) kombinasi penggunaan kalsium oksida, gula pasir, dan baking soda (sodium bikarbonat). Paramater kualitas produk yang diamati meliputi karakteristik kimia (kadar air, protein, lemak, gula reduksi, sukrosa), dan karakteristik fisik (tingkat kekerasan, warna, dan pH). Sedangkan parameter keamanan pangan dilihat berdasarkan residu kalsium dan kandungan mikroba pada produk akhir. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji one way ANOVA. Hasil studi menunjukkan bahwa kombinasi beberapa jenis bahan tambahan berpengaruh terhadap kualitas gula merah yang dihasilkan, baik dari sifat kimia maupun sifat fisik. Meskipun demikian, penggunaan bahan tambahan pangan tidak menunjukkan adanya perbaikan kualitas pada produk yang dihasilkan. Penambahan sodium bikarbonat pada tahapan akhir proses produksi gula merah justru menyebabkan peningkatan jumlah cemaran mikroorganisme pada produk.  Penggunaan gula dan sodium bikarbonat dalam formulasi produk juga menyebabkan peningkatan residu kalsium, yang dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan konsumen.gula merah, tebu, bahan tambahan pangan

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue