cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
ANALISIS FUNGSI KEUNTUNGAN PADA USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN GROBOGAN, JAWA TENGAH Dewi Sahara Sahara; Reni Oelviani; Ratih Kurnia
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n2.2016.p85-92

Abstract

ABSTRAK abstThe decline of harvested area and production of soybean in Grobogan District in period 2009 – 2013 were 10.48% and 5.12% per year, respectivelly. It was alleged related to the uncompetitive price of soybean at the farm level. This research aimed 1) to reveal the use and price of production input at the farm level and 2) to analyze the inputs price to the profit of soybean farming system. The research was conducted in Pulokulon District (Tuko and Sembungharjo Villages) and Gabus District (Gabus and Tlogo Tirto Villages) with survey method to 40 respondents from March to August 2014. The collected data were input and output of farming system, i.e land area, price of fertilizers, price of pesticides, wage of labor and price of soybean.  The data was analyzed using profit function. The result showing the production inputs that significantly affected the profit were the prices of fertilizers (Urea and Phonska), other costs and plantation areas; therefore, to develop soybean plants and increase the farming profits, it requires price guarantee of fertilizers and soybean and the introduction of soybean farming system technologies. ABSTRAKPenurunan luas panen dan produksi kedelai di Kabupaten Grobogan pada rentang waktu 2009 –2013 adalah 10,48% per tahun dan 5,12% per tahun. Penurunan tersebut diduga terkait dengan harga kedelai di tingkat petani yang kurang kompetitif. Penelitian bertujuan 1) mengungkapkan penggunaan dan harga input produksi di tingkat petani dan 2) menganalisis harga input produksi terhadap keuntungan usahatani kedelai. Penelitian dilakukan di Kecamatan Pulokulon (Desa Tuko dan Sembungharjo) dan Kecamatan Gabus (Desa Gabus dan Tlogo Tirto) Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Pengkajian bersifat survei melibatkan 40 petani responden pada bulan Maret –Agustus 2014. Data yang dikumpulkan mencakup data input dan output usahatani, yaitu luas lahan, harga pupuk, pestisida, upah tenaga kerja, dan harga kedelai. Analisis data menggunakan fungsi keuntungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa harga input produksi yang berpengaruh nyata terhadap keuntungan kedelai adalah harga pupuk Urea, pupuk Phonska, biaya lainnya, dan luas tanam. Dengan demikian, untuk mengembangkan tanaman kedelai danmeningkatkan keuntungan usahatani diperlukan adanya jaminan harga pupuk dan kedelai serta introduksi teknologi usahatani kedelai.Kata kunci: fungsi keuntungan, kedelai, input, output
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI PETANI TERHADAP KEBIJAKAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DI PROVINSI BALI nFN - Suharyanto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n2.2017.p111-124

Abstract

Alih fungsi lahan pertanian terutama lahan sawah beririgasi di Provinsi Bali menunjukkan dinamika perubahan penggunaan lahan pertanian yang cukup intensif seiring dengan berkembangnya perekonomian wilayah. Terbitnya Undang-Undang No.41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B), diharapkan dapat menahan laju konversi lahan sawah khususnya sawah dengan irigasi teknis. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi respon petani terhadap implementasi kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juli - September 2015 melalui wawancara dengan menggunakan kuisioner terhadap 90 petani yang terdistribusi masing-masing 30 petani di Kabupaten Tabanan, Buleleng dan Badung. Untuk menganalisis faktor-faktor yang diduga mempengaruhi persepsi/respon petani terhadap kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan dilakukan melalui regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Hasil analisis menunjukkan bahwa  respon petani terhadap kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan dipengaruhi oleh : budaya bertani, sikap terhadap perubahan, keyakinan kemampuan diri, tingkat keberanian berisiko, tingkat intelegensia, rasionalitas, kerjasama, peran dalam kelompok tani serta intensitas penyuluhan ataupun sosialisasi terkait perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Untuk meningkatkan efektivitas implementasi kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan maka perlu mempertimbangkan perbedaan tingkat persepsi terhadap kebijakan tersebut dengan mengoptimakan peran anggota dalam kelompok tani maupun petani innovator disertai dengan sosialisasi intensif, partisipatif dan komitmen pemerintah dalam implementasinya.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELUANG PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH KEDELAI DI SULAWESI TENGGARA Muh Asaad; Sri Bananiek Sugiman
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n1.2018.p37-48

Abstract

 ABSTRACT Factors Influence The Opportunity of Soybean Seed Production Technology in Southeast Sulawesi. One of the problems to increase soybean productivity is lack of use of quality seeds at the farm level. Therefore, increasing the production of soybean is very important, which can be pursued through the growth of breeding seeds at the farm level. Activities are conducted in March - December 2014 using survey methods and Focus Group Discussion (FGD). This study aims to know (1) the factors influence the business development opportunity of soybean seed production (2) the perception of farmers on soybean seed production technology in Southeast Sulawesi. Factors affecting farmers to adopt seed production technology were analyzed by using logit regression model, while farmer perception was analyzed descriptively. The results showed that: (1) The development of soybean seed production business is influenced by three socio-economic factors namely age, education, and number of family dependents. (2) The opportunity for the development of soybean breeding business in Southeast Sulawesi is very wide open, which is viewed with positive perception of farmers to soybean breeding business. But for the development of soybean seedling business, need to pay attention to market availability factor.opportunities, seed production, soybean, southeast Sulawesi  ABSTRAK Salah satu permasalahan dalam upaya peningkatan produktivitas kedelai adalah rendahnya penggunaan benih bermutu di tingkat petani. Oleh karena itu, peningkatan produksi kedelai melalui penggunaan benih bermutu merupakan suatu keharusan, yang dapat diupayakan melalui adopsi teknologi produksi benih di tingkat petani. Kegiatan dilaksanakan pada Maret - Desember 2014 menggunakan metode survei dan Focus Group Discussion (FGD). Kajian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peluang pengembangan usaha produksi benih kedelai dan (2) persepsi petani terhadap teknologi produksi benih kedelai di Sulawesi Tenggara.  Faktor-faktor yang mempengaruhi petani untuk mengadopsi teknologi produksi benih dianalisis dengan menggunakan model regresi logit, sementara persepsi petani dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:  (1) Pengembangan usaha produksi benih kedelai dipengaruhi oleh tiga  faktor sosial ekonomi yaitu  umur,  pendidikan, dan jumlah tanggungan keluarga. (2)  Peluang pengembangan usaha penangkaran benih kedelai di Sulawesi Tenggara sangat terbuka luas, yang dilihat dengan positifnya persepsi petani terhadap usaha penangkaran benih kedelai. Namun untuk pengembangan usaha penangkaran benih kedelai, perlu memperhatikan faktor ketersediaan pasar. peluang, produksi benih, kedelai, sulawesi tenggara
USAHATANI KAKAO DALAM PERSPEKTIF PENDAPATAN PETANI DI SULAWESI TENGGARA Suharno ,; Baharuddin '; Rusdin '
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n2.2014.p%p

Abstract

Cocoa Farming on Farmers' Income Perspective in Southeast Sulawesi. Southeast Sulawesi cocoafarming became one of the main sources of farmers’income, so the cocoa farmers continued coaching throughvarious approaches. One was conducted by the Institute of Economic Welfare Society (IEWS). This study aims toreveal the cocoa farm performance under the IEWS built, with a focus: (1) Is there a change in the income of cocoafarmers' income after IEWS fostered; (2) What factors are affecting the productivity of cocoa?. Assessment is donethrough a survey of 90 cocoa farmers representing participants and non-participants IEWS spread over ninedistricts the period from March to September 2012. Discussion on the basis of primary data include financingstructures and farm income, enriched with secondary data collected from several agencies relevant related. Thedata were analyzed by descriptive qualitative and quantitative parameters sharpened with finansial profit approachR/C and MBCR to answer the first goal. While to examine the factors that affect the production and income ofcocoa farmers linear regression analysis by incorporating productivity as the dependent variable (Y), and nineindependent variables (X1-X9). The analysis showed: (1) cocoa farming by farmers showed relatively lowperformance, indicated by the use of cocoa clones whose orientation is still of local clones, pest attack andeventually suppress the relatively high productivity of cocoa; (2) Development towards empowering cocoa farmerswho do IEWS proved not give optimal results, it is evident from the analysis that is not real. Performance farmerparticipants IEWS same relative condition with non-participant farmers IEWS; (3) To increase the productivity ofcocoa in the area of assessment, training needs to be focused on the use of superior cocoa clones, and gardenmaintenance to cope with the pest.Keywords: Cocoa farming, productivity, income, IEWSABSTRAKUsahatani kakao di Sulawesi Tenggara menjadi salah satu andalan sumber pendapatan petani, sehinggapembinaan petani kakao terus dilakukan melalui berbagai pendekatan. Salah satunya dilakukan oleh LembagaEkonomi Masyarakat Sejahtera (LEMS). Pengkajian ini bertujuan untuk mengungkap kinerja usahatani kakaoyang berada di bawah binaan LEMS tersebut, dengan fokus: (1) Adakah perubahan pendapatan pendapatan petanikakao setelah dibina LEMS; (2) Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi produktivitas kakao? . Pengkajian dilakukan melalui survey terhadap 90 orang petani kakao yang merepresentasikan peserta LEMS dan bukan pesertaLEMS yang tersebar di sembilan kabupaten periode Maret - September 2012. Pembahasan di dasarkan data primermeliputi struktur pembiayaan dan pendapatan usahatani, diperkaya dengan data sekunder yang dikumpulkan daribeberapa instansi terkait yang relevan. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatifdipertajam dengan parameter keuntungan finalsial menerapkan pendekatan R/C dan MBCR untuk menjawabtujuan pertama. Sementara untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan petani kakaodilakukan analisis regresi linear dengan memasukkan produktivitas sebagai peubah tergantung (Y), dan sembilanpeubah bebas (Xi). Hasil analisis menunjukkan: (1) Usahatani kakao oleh petani di lokasi pengkajian menunjukkankeragaan yang relatif rendah, ditunjukkan oleh penggunaan klon kakao yang orientasinya masih banyak klon lokal,serangan OPT relatif tinggi sehingga akhirnya menekan produktivitas kakao; (2) Pembinaan ke arah pemberdayaanpetani kakao yang dilakukan LEMS belum memberikan hasil optimal, terbukti dari analisis yang tidak nyata.Kinerja petani peserta LEMS kondisinya relatif sama dengan petani bukan peserta LEMS; (3) Untuk meningkatkanproduktivitas kakao di wilayah pengkajian, pembinaan perlu difokuskan pada penggunaan klon kakao unggul, danpemeliharaan kebun untuk mengatasi OPT.Kata kunci: Usahatani kakao, produktivitas pendapatan, LEMS
IDENTIFIKASI VARIETAS UNGGUL BARU DAN PENGARUH PEMUPUKAN SPESIFIK LOKASI TERHADAP HASIL PADI DAN MUTU BERAS DI KABUPATEN GORONTALO Muh. Asaad
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2016): November 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n3.2016.p263-273

Abstract

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani adalah peningkatan produktivitas dan peningkatan mutu hasil beras. Penelitian ini bertujuan untuk (i) mengetahui varietas unggul baru padi yang memiliki tingkat hasil dan mutu beras tinggi dan (ii) menganalisis pengaruh pemupukan terhadap hasil gabah dan mutu beras. Penelitian dilakukan di lahan sawah irigasi Kabupaten Gorontalo mulai Januari 2012 sampai Januari 2013. Penelitian dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk menguji enam varietas (Inpari 3, Inpari 4, Inpari 9, Inpari 10, Inpari 13, dan Mira) dan setiap varietas diulang sebanyak empat kali di lahan petani. Sedangkan tahap kedua menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat perlakuan (Rekomendasi pemupukan PUTS + 500 kg/ha jerami, rekomendasi pemupukan cara petani + 500 kg/ha jerami, rekomendasi pemupukan PUTS, dan rekomendasi pemupukan cara petani) yang diulang empat kali. Setiap varietas ditanam dengan jarak 25 cm x 25 cm dengan cara tanam pindah dari bibit semai yang berumur 21 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Inpari 4, 10 dan Mira memiliki tingkat produktivitas yang cukup tinggi masing-masing 4,21 t/ha; 4,35 t/ha dan 4,46 t/ha GKG serta memiliki mutu beras yang lebih baik. Paket pemupukan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah irigasi di 264 Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Vol. 19, No.3, November 2016: 261-273 Kabupaten Gorontalo. Pemupukan dengan menggunakan PUTS + 500 kg/ha jerami memperlihatkan hasil yang lebih tinggi (6,28 t/ha GKG) dan memiliki mutu beras yang baik.ABSTRACTIdentification of New Varieties and Effect of Specific Fertilization to Yield and Quality of Rice in Gorontalo District. One of the efforts to increase farmer’s income is by increasing yield and improving the quality of rice. The objectives were (i) to obtain new varieties of rice with high yield and quality and (ii) to analyze the effect offertilization to the yield and quality of rice. The research was carried out in Gorontalo district from January 2012 to January 2013. The research was conducted in two steps. The first step used a Randomized Block Design (RBD) to test six varieties (Inpari 3, Inpari 4, Inpari 9, Inpari 10, Inpari 13 and Mira) and it was repeated four times in the farmer’s fields. While the second step used a RBD with four treatments fertilizer recommendation of Paddy Soil Test Kit (PSTK) + 500 kg/ha of straw, existing fertilizer + 500 kg/ha of straw, fertilizer recommendation of PSTK and existingfertilizer and it was repeated four times. Each variety was planted with measurement of 25 cm x 25 cm and transplanted in 21 days old. The results showed that the productivities of Inpari 4, Inpari 10 and Mira were quite high (4.21 t/ha; 4.35 t/ha and 4.46 t/ha of dry grain, respectively) and they had a good quality of rice. Fertilization using PSTK + 500 kg/ha of straw showed the highest yield (6.28 t/ha) and it produced a good quality of rice. 
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PANEN HUJAN DAN ALIRAN PERMUKAAN: ANALISIS USAHATANI PEMANFAATAN SUMBERDAYA AIR Adang Hamdani; Sidik Hadi Talaohu; Nani Heryani
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n2.2016.p153-165

Abstract

ABSTRACTDevelopment of Rainfall and Runoff Harvesting Technology: Farming System Analysis ofWater Resources Utilization. Application of rainfall and runoff harvesting in dry land could be increasing the availability of water resources, extending the growing season, and reducing the risk of loss yield. To create a sustainable water management, farmers participation were needed in its management. The objectives of the researchwere to study the impact of rainfall and runoff harvesting technology applications (channel reservoir) on farming system and to study the farmers perception on the existence of channel reservoir.The study was conducted in Limampoccoe village, Cenranae subdistrict, Maros distrisct, South Sulawesi province, from February to October 2012. The research was conducted by several steps namely: 1) the application of rainfall and runoff harvestingtechnology through channel reservoir, 2) analysis of the farming system and assessment of the farmer perception on the existence of channel reservoir. Result of the research showed that rainfall and runoff harvesting technology have been increasing the cropping intensity by changing the previous cropping pattern from rice-fallow-fallow into ricepeanuts-fallow and rice-watermelon-fallow. There was an increase in farmers' income after channel reservoir built and the farmers will be taken the responsibility to maintain the continuity of the channel reservoirs function.Keywords: rainfall and runoff harvesting, cropping intensity, farmers’ incomeABSTRAKAplikasi teknologi panen hujan dan aliran permukaan di lahan kering dapat meningkatkan ketersediaan air, memperpanjang masa tanam, dan menekan risiko kehilangan hasil. Untuk menciptakan pengelolaan air berkelanjutan harus didukung peran serta masyarakat/petani dalam pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak aplikasi teknologi panen hujan (dam parit) terhadap usahatani dan melihat persepsi masyarakat terhadap keberadaan dam parit. Penelitian dilakukan di Desa Limampoccoe, Kecamatan Cenranae, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, pada bulan Pebruari sampai Oktober 2012. Kegiatan dilaksanakan melalui: 1) aplikasi pembangunan teknologi panen hujan dan aliran permukaan melalui dam parit, 2) analisis usahatani dan penilaianpersepsi masyarakat terhadap keberadaan dam parit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi panen hujan dan aliran permukaan dapat meningkatkan intensitas tanam dari pola tanam padi-bera-bera menjadi padi-kacang tanahbera dan padi-semangka-bera, dengan demikian terdapat peningkatan pendapatan usahatani setelah pembangunan damparit. Petani merasakan manfaat dam parit dan merasa bertanggung jawab dalam menjaga kelangsungan fungsi dam parit.Kata kunci: teknologi panen hujan, aliran permukaan, indeks pertanaman, pendapatan                       usahatani
RESPON PENGRAJIN TEMPE TERHADAP INTRODUKSI VARIETAS UNGGUL KEDELAI UNTUK PRODUKSI TEMPE Dian Adi Anggraeni Elisabeth; Erliana Ginting; Rahmi Yulifianti
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n3.2017.p183-196

Abstract

ABSTRACT Response of Tempe SMEs Into Soybean Improved Varieties Introduction for Tempe Production. Intensive socialization and introduction of improved soybean varieties has been conducted along with the extension of soybean cropping area so that improved soybean varieties will be available abundantly in market. Therefore, socialization to soybean small and medium enterprises (SMEs) involving tempe producers particularly who live outside of soybean production center should be done due to they used to use imported soybean for the tempe processing. Study aimed to depict the introduction of Iletri’s soybean improved varieties for tempe production and to observe the producers’ responses on substitution of imported soybean. Study was conducted on September 2015 involving 122 respondents consisted of 39 tempe producers, 67 tempe chip producers, and 16 other soybean product producers. Primary data was obtained through interview method with semi-opened questionaire involving data of SME’s general characteristics, tempe sensory test result, and response of respondents. Data was equipped with physicochemical analysis of raw tempe made from improved soybean varieties with imported one as a comparison. The result showed that tempe made from Argomulyo, Anjasmoro, and Burangrang varieties had higher protein content than tempe form imported soybean. Tempe from Grobogan variety had no significantly different of weight and volume with imported one. For sensory atributes, the producers gave a positive response with standard of like to very like for tempe made from Anjasmorro variety. Information on physicochemical and sensory atributes of tempe showing that the qualities of tempe from improved soybean varieties were similar even better than imported soybean one depicted to the producers there is an opportunity for substitution of imported soybean. It is expected that the awareness will improve into adoption with the support of stakeholders including related local offices.  improved soybean varieties, imported soybean, substitution, tempe producers ABSTRAK Sosialisasi dan introduksi varietas unggul telah dilakukan secara intensif seiring dengan upaya perluasan areal tanam kedelai sehingga kedelai dari varietas unggul akan banyak tersedia di pasaran. Oleh karena itu, sosialisasi kepada industri pengolahan kedelai, terutama yang berdomisili di luar daerah sentra produksi kedelai termasuk Kota dan Kabupaten Malang perlu dilakukan karena selama ini mereka masih terbiasa menggunakan kedelai impor. Studi bertujuan memberikan gambaran mengenai hasil pembinaan berupa introduksi penggunaan varietas unggul kedelai Balitbangtan untuk produksi tempe dan melihat respon pengrajin. Studi dilaksanakan pada September 2015, melibatkan 122 orang responden, terdiri dari 39 pengrajin tempe, 67 pengrajin keripik tempe, dan 16 pengrajin olahan kedelai lain. Data primer didapatkan melalui metode wawancara dengan kuesioner semi-terbuka, meliputi data karakteristik umum usaha industri kecil menengah (IKM), uji sensoris tempe, dan respon pengrajin. Data dilengkapi dengan analisis fisik dan kimia tempe dari kedelai varietas unggul dan kedelai impor sebagai pembanding. Hasil menunjukkan tempe dari kedelai varietas Argomulyo, Anjasmoro, dan Burangrang memiliki kadar protein yang lebih tinggi dari tempe kedelai impor. Bobot dan volume tempe dari varietas Grobogan tidak berbeda nyata dengan tempe kedelai impor. Dari segi sensoris, pengrajin memberikan respon positif dengan tingkatan suka sampai sangat suka untuk tempe dari varietas Anjasmoro. Informasi mengenai mutu fisik, kimia, dan sensoris tempe yang menunjukkan bahwa mutu tempe yang dibuat dari kedelai varietas unggul tidak kalah bahkan melebihi mutu tempe dari kedelai impor memberikan gambaran pada pengrajin bahwa kedelai impor berpeluang disubstitusi oleh kedelai varietas unggul untuk produksi tempe. Kesadaran ini diharapkan dapat meningkat menjadi adopsi dengan dukungan berbagai pihak (stakeholders). kedelai varietas unggul, kedelai impor, substitusi, pengrajin tempe
TINGKAT ADOPSI KOMPONEN TEKNOLOGI USAHATANI PADI MELALUI SL-PTT DI LAHAN RAWA LEBAK TENGAHAN (Kasus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan) Noorginayuwati ,; Khairil Anwar
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v18n1.2015.p%p

Abstract

ABSTRACT Adoption of Rice Farming Technology through Field School-Integrated Crop Management (FFS-ICM) in Middle Back Swamp (Case study in Hulu Sungai Selatan and Hulu Sungai Utara Regency South Kalimantan). Back swamp has strategic role in the sustainability food self-sufficiency of rice. Since 2009 Farmers Field School of Integrated Crop Management (FFS-ICM) has been implemented to increase national productivity of rice involving 80,000 farmer groups on 2,050 million ha land area. The implementation of rice SL FFS-ICM on back swamp in South Kalimantan involved 325 farmer groups with 8,788 ha total area. The objective of the research was to determine adoption level of ICM technology; relationship between the adoption levels, productivity and implementation of rice FFS-ICM; and identify problems that occurred in the adoption process of technology components. The study was conducted in the two districts (HSS and HSU), four sub-district and six villages consisted of 6 farmer groups participants FFS-ICM and six farmer groups non participants of FFS-ICM. Sample farmers contained 120 respondents with 10 farmers per farmer groups. Data collection was conducted by survey method and interviews to the respondents by using questionnaire. Data analysis was performed using the scoring with 3 scales, Spearman rank correlation, mean and percentage. The results showed that adoption level of component technology ICM by participants of FFS-ICM and non participants FFS-ICM farmers were included the category of being with an average score of 23.98 (FFS-ICM) and 21.15 (non FFS-ICM). There was positive relationship between the adoption levels, productivity and implementation of SL-PTT. By adopting innovative technology components of ICM, the productivity increased 0.91 ton/ha and income raised by Rp2, 037,239. Problems on the adoption of ICM technology component was the lack of knowledge about seeds and miss matching planting systems and fertilizing used. It was because of lack of capital and limited of assessment of needs opportunities as well as evaluation of implementation of FFS-ICM. Keywords: Rice, component technology; adoption, FFS-ICM, middle back swamp ABSTRAKLahan lebak memiliki peran strategis dalam melestarikan swasembada beras. Pada tahun 2009 telah dilaksanakan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) padi untuk meningkatkan produktivitas secara nasional yang melibatkan 80.000 kelompok tani dengan luas lahan 2.050 juta ha. Pelaksanaan SL-PTT padi di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan melibatkan 325 kelompok tani dengan luas lahan 8.788 ha. Tujuan penelitian ialah mengetahui tingkat adopsi teknologi PTT, hubungan tingkat adopsi dengan produktivitas dan pelaksanaan SL-PTT padi serta mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dalam adopsi komponen teknologi. Penelitian dilakukan di dua Kabupaten (Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Utara), empat kecamatan, enam desa yang terdiri atas enam kelompok tani peserta SL-PTT dan enam kelompok tani nonpeserta SL-PTT. Petani sampel ditentukan sebanyak 120 responden dengan 10 petani per kelompok tani. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dan wawancara terhadap responden melalui pengisian kuesioner. Analisis data dilakukan menggunakan skor berjenjang 3, korelasi peringkat Spearman, rataan dan persentase. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat adopsi komponen teknologi PTT petani peserta SL-PTT dan non peserta SL-PTT termasuk kategori sedang dengan rata-rata skor 23,98 (SL-PTT) dan 21,15 (nonSLPTT). Terdapat hubungan yang nyata antara tingkat adopsi komponen teknologi dengan produktivitas dan pelaksanaan SL-PTT. Dengan mengadopsi komponen teknologi PTT, produktivitas meningkat sebesar 0,91 ton/ha dan pendapatan sebesar Rp2.037.239. Adopsi komponen teknologi PTT menghadapi masalah yang disebabkan karena rendahnya pengetahuan tentang benih, tidak sesuainya rekomendasi sistem tanam dan pemupukan akibat kekurangan modal serta tidak didasari kajian kebutuhan dan peluang (KKP) serta belum dilaksanakan evaluasi SL-PTT. Kata kunci: Padi, komponen teknologi, adopsi, SL-PTT, lahan lebak tengahan
KAJIAN PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG LADA DENGAN MODIFIKASI IKLIM MIKRO Agus Salim
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n1.2017.p59-67

Abstract

Study of Pepper Rot Stem Disease Controlling With Micro Climate Modification. Pepper stem rot disease Phytophthora capsici Leon is a major disease on pepper plants in the Southeast Sulawesi areas. The control of this fungus disease is difficult because it goes in the trunk network and it can be known after the plants wilt. The purpose of this study was to determine the microclimate that could hinder the development of the fungus P. capsici.This study was conducted in Konawe South, Southeast Sulawesi from February to November 2015. The study used randomized block design with treatments tested were 1) Control; 2) Solar irradiation between 25-30%; 3) Solar irradiation between 50-55% and 4) Irradiation between 75-80%. Each treatment was repeated 5 times. The parameters observed were soil moisture, the intensity of the irradiation, the percentage of attacks and severity of disease levels and productivity. Research results indicated that the modification of solar radiation affected the air humidity, so that the development of stem rot disease pepper could be controlled. On irradiation of 50-55% can reduce the severity of an attack up to 77.36%.diseases, controlling, climate, pepper ABSTRAKPenyakit busuk pangkal batang lada Phytophthora capsici Leon, merupakan penyakit utama pada tanaman lada di Sulawesi Tenggara. Pengendalian penyakit cendawan ini masih sulit karena masuk dalam jaringan batang dan diketahui setelah tanamannya layu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui iklim mikro yang dapat menghambat perkembangan cendawan P. capsici. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara dari bulan Februari sampai Nopember 2015. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan yang dicobakan adalah: 1) Kontrol; 2) Penyinaran matahari antara 25 – 30%; 3) Penyinaran matahari antara 50 – 55%, dan 4) Penyinaran antara 75 – 80%. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Parameter yang diamati meliputi kelembaban tanah, intensitas penyinaran, persentase serangan dan tingkat keparahan serangan penyakit serta produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi penyinaran matahari mempengarhi kelembaban udara, sehingga perkembangan penyakit busuk pangkal batang lada dapat ditekan. Pada penyinaran 50 – 55% dapat menekan tingkat keparahan serangan sampai 77,36%.penyakit, pengendalian, iklim, lada
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMSI SAYURAN RUMAH TANGGA PADA KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI DI PROVINSI JAWA TIMUR DAN SUMATERA SELATAN Vyta W Hanifah; T Marsetyowati; A. Ulpah Ulpah ,
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n2.2014.p%p

Abstract

Factors Affecting Household’s Vegetables Consumption in the Area of Sustainable Food Reserved Garden (SFRG) Program in East Java and South Sumatera Provinces. Backyard has a potential to feed the family as vegetables cropland or fruit crops. Sustainable Food Reserved Garden Program (SFRG) was designed to increase the potential of backyard to provide sustainable cheap food. This study aimed to analyze the factors affecting household’s vegetables consumption in the area of SFRG program. The research was conducted in South Sumatra and East Java province in 2012, involving 60 respondents who have implemented the program in 2011 and 2012. Respondents were divided into three strata according yard size, which are stratum 1 (narrow), stratum 2 (medium) and stratum 3 (extensive). Data was collected through interviews using a structured questionnaire and focus group discussions with managers of the program. Afterwards, the data were analyzed descriptively and also by regression test to determine the factors affecting vegetable’s consumption in household level. The result showed that the variations of plants types tend to be uniform among the three strata such as pepper, eggplant and cabbage. In terms of the arrangement, narrow stratum was dominated by “vertikultur”, medium stratum by polybag and extensive stratum by seedbeds. SFRG program have contributed to household food expenditure between 2.5 to 8.8%. Multiple regression analysis showed that vegetables consumption has positively associated and significantly with vegetable production and monthly food expenditure. SFRG program is able to save household food expenses, especially for purchasing vegetables.   Key words: Backyard, vegetables consumption, vegetables production, SFRG   ABSTRAK Optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sayuran bagi keluarga. Melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) diharapkan dapat menyediakan pangan murah yang berkelanjutan. Penelitian bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi sayuran rumah tangga di Kawasan Rumah Pangan Lestari. Penelitian dilaksanakan di Provinsi Sumatera Selatan dan Jawa Timur tahun 2012 melibatkan 60 responden pelaksana program KRPL tahun 2011 dan 2012. Responden dibedakan ke dalam tiga strata berdasarkan luas pekarangan, yaitu strata 1 (sempit), strata 2 (sedang) dan strata 3 (luas). Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur dan Focus Group Discussion melibatkan pengelola program KRPL. Data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif. Uji regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi sayuran pada keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi jenis tanaman cenderung seragam antar strata, dengan tanaman dominan cabe, terong dan sawi. Penataan tanaman pada strata satu dominan vertikultur, strata dua menggunakan polibag dan strata tiga dengan bedengan. Kontribusi program KRPL terhadap pengeluaran pangan rumah tangga antara 2,5 - 8,8%. Hasil analisis uji regresi berganda menunjukkan konsumsi sayuran dipengaruhi secara nyata oleh produksi dan pengeluaran pangannya. Program KRPL mampu menghemat pengeluaran pangan rumah tangga terutama untuk pembelian sayuran. Kata kunci: Pekarangan, produksi sayuran, konsumsi sayuran, KRPL

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue