cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
KERAGAAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM TANAM LEGOWO-2 PADA PADI SAWAH DI KECAMATAN BANYURESMI, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT Saeful Bachrein
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n1.2005.p%p

Abstract

Sustaining productivity growth because of low efficiency of rice production is crucial issue. The asymmetricwide-space (legowo-2) planting system is an alternative. Research results showed that legowo-2 spacing system usingborder effect significantly and consistently increased (12 - 26,9%) average grain yield compared to traditionalsymmetric planting system (tegel). Wider space among rows facilitates faster weeding and fertilizer application. Suchcondition reduces costs of labor for weeding and fertilization. Increase in yield, and time and labor savings makelegowo-2 planting system both economically and socially attractive. In general, cooperating and non-cooperatingfarmers’ responses to legowo-2 planting system and participation of extension workers and local offices in supportingimplementation of the introduced technology were very good. Survey results indicated that more than 95 percent offarmers deemed legowo-2 planting system as good or acceptable technology. Responses of the farmers applying thelegowo-2 planting system were indicated by high values of acceptability indices (50 and 30 in wet season of2000/2001, and 85 in dry season of 2001). Even though these values were only evaluation of technology acceptabilityof the farmers and not a measure of “acceptance” indicating adoption or impact, but a high value of acceptabilityindex was useful to predict a high rate of adoption. In 2003, legowo-2 planting system was promoted on a larger scaleof planted areas.Key words : planting system, asymmetric wide-space and symmetric, productivity, efficiency, dissemination.Berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan selama beberapa tahun terakhirini menghadapi masalah terutama dengan rendahnya efisiensi usahatani. Untuk itu diperlukan suatu terobosanteknologi yang mampu meningkatkan efisiensi usahatani padi. Salah satu alternatif teknologi adalah melaluipenerapan sistem tanam legowo-2 yang telah dikaji dalam jangka waktu panjang (empat tahun). Hasil pengkajianmenunjukkan bahwa dengan tersedianya ruangan luas yang memanjang ke satu arah, maka legowo-2 dibandingkandengan sistem tegel, memberikan beberapa keuntungan diantaranya: peningkatan produksi secara nyata dan konsistendengan kisaran 12-26,9 dan memudahkan serta mengurangi biaya produksi yang disebabkan karena berkurangnyawaktu dan biaya tenaga kerja untuk penyiangan gulma dan pemupukan. Respons petani (95% dari petani) terhadapsistem tanam legowo dan dukungan penyuluh serta petugas lapang lainnya terhadap penerapannya di tingkat petanisangat positif. Dengan demikian teknologi ini layak baik secara teknis, ekonomi, maupun sosial untuk dikembangkansecara luas. Respons tersebut didukung oleh nilai indeks penerimaan yang tinggi, yaitu 50 dan 30 pada MH 2000/2001dan kemudian meningkat menjadi 85 pada musim berikutnya (MK 2001). Meskipun nilai-nilai tersebut bukanmerupakan suatu ukuran dari adopsi teknologi, tetapi nilai yang sangat tinggi dapat digunakan sebagai indikatorbahwa teknologi tersebut mempunyai peluang yang tinggi untuk diadopsi petani secara luas. Pada tahun 2003, dengandukungan aparat pemerintah daerah, sistem tanam legowo telah dikembangkan baik di wilayah pengkajian maupunkabupaten lainnya.Kata kunci : cara tanam: Legowo-2, tegel, produktivitas, efisiensi, diseminasi
PERTUMBUHAN TERNAK DOMBA JANTAN YANG DIBERI PAKAN MENGANDUNG KULIT UBI SINGKONG DIFERMENTASI S. Prawirodigdo; Tati Herawat; B. Utomo
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 3 (2010): November 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n3.2010.p%p

Abstract

Growth Performance of Rams Fed Diet Containing Fermented Cassava Tuber Peel. There is a largeamount of cassava (Manihot esculenta) tuber peel (CTP) that has not been used intensively for feedstuff inIndonesia yet. It was considered that the present of cyanide prohibits the use of CTP for feed. An experiment wasperformed to evaluate the prospect of fermented CTP inclusion in the diet for growing ram. The study employed18 heads of growing Javanese Thin Tailed male rams of 4 months old having 12.5 + 1.5 kg initial body weight. Theexperimental animals were housed in an elevated barn, penned individually, and randomly allocated into either oneof three experimental diets namely traditional diet containing elephant grass + 300 g air dried CTP/daily ration/head(DCTP), formulated diets contained 200g fermented CTP/daily ration/head (FCTP1), and contained 300g fermentedCTP/daily ration/head (FCTP2).Results showed that, there were significant distinctions (P<0.01) between feedintake of rams fed DCTP (677g/d),FCTP1(697g/h) andFTP2(739g/h) diets. It was determined that weight gainof sheep consumingFCTP1diet (56g/h) higher (P<0.05) than the sheep fed DCTP (47g/h) as wellFCTP2(43g/h)diets. Consistently, feed conversion ratio ofFCTP2diet (12.5) was also better (P<0.05) than that of DCTP (14.4) orFCTP2 (17.2). In conclusion, HCN concentration in the diet seems to influent growth rate of sheep. It was confirmedthat the fermented cassava tuber peel is useful to overcome limited feedstuff for sheep particularly during the dryseason. Among the experimental diets inclusion of 200g fermented CTP in the diet of growing ram was superior.Key words: Cassava tuber peel, diet, ram, growth rateKulit ubi singkong (Manihot esculenta) yang kuantitasnya banyak belum dimanfaatkan secara intensifuntuk bahan pakan ternak. Hambatan pemanfaatan bahan ini adalah terdapatnya substansi sianida yang dapatmembahayakan kesehatan ternak. Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi prospek introduksi kulitubi singkong yang difermentasi ke dalam pakan ternak domba sedang tumbuh. Penelitian menggunakan 18 ekorDomba Jawa Ekor Tipis jantan berumur 4 bulan dengan bobot badan 12,5 + 1,5 kg. Ternak percobaan dikandangkandalam ruangan bersekat individual kemudian masing-masing secara acak diberi salah satu di antara tiga macampakan percobaan: Formula pakan tradisional petani (FPTP) yang mengandung 300g kulit ubi singkong kering, pakanmengandung 200g atau 300g kulit ubi singkong difermentasi (KSF1 atau KSF2).Hasil penelitian menunjukkan bahwakonsumsi bahan kering pakan FPTP (677g/h), KSF1 (697g/h) dan KSF2 (739g/h) berbeda nyata (P<0,01). Ditemukanbahwa pertambahan bobot badan ternak domba yang mengkonsumsi pakanKSF1(56g/h) lebih tinggi (P<0,05) daripada yang diberi pakan FPTP (47g/h) maupunKSF2(43g/h). Secara konsisten, nilai konversi pakanKSF2(12,5)juga lebih baik (P<0,05) dari konversi pakan FPTP (14,4) maupunKSF2(17,2). Kesimpulannya adalah bahwakonsentrasi HCN dalam pakan menentukan penampilan pertumbuhan ternak domba. Dari sisi implementasinya dapat dikonfirmasikan bahwa kulit ubi singkong yang difermentasi dapat digunakan sebagai salah satu solusi untukmembantu mengatasi masalah paceklik pakan ternak domba pada musim kemarau. Dalam penelitian ini porsi terbaikuntuk introduksi kulit ubi singkong yang difermentasi dalam campuran pakan ternak domba adalah 200g/ekor/hari.Kata kunci: Kulit ubi singkong, pakan, domba jantan, pertumbuhan
PENGGUNAAN BIOPESTISIDA PERSADA DAN PESTISIDA NABATI DALAM UJI ADAPTASI PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU PISANG DI PROVINSI BALI I.B.K. Suastika; A.A.N.B. Kamandalu
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

The purpose of this adaptive research was to study the effect of combination treatments of “persada”biopesticide and botanical pesticide (plants extract) to the increase attack of wilt disease and its effect on bananasgrowth and yield. The research was conducted at Delod Berawah and Penyaringan village, Mendoyo sub-district,Jembrana district, Bali on Januari 2000 to December 2001. Randomized block design was applied with fivereplications during research at 2000 and four replications at 2001. Banana “kepok”seed age 2-3 months was plantedwith its planting holed size and distance 50 cm x 50 cm x 50 cm and 2 m x 2 m respectively. In 2000, dosages offertilizer per plant per year were 1,2 kg NPK and 2 kg of casting, followed by treatment of 0,50 kg “persada”biopesticide/plant/year. The treatment of 1 lt/plant of botanical pesticide with 5 percent (w/v) concentration was givenat one and two months after initial planting. In 2001, dosages of fertilizer per plant per year were 1,2 kg ZA, 0,45 kgTSP, 0,50 kg KCl and 2 kg casting, followed by treatment of 0,50 kg “persada”biopesticide/plant/year. The treatmentof 1 lt/plant of botanical pesticide with 5 percen (w/v) concentration was given at the age of 0 month, 2 months, 4months, 6 months and 8 months after initial planting respectively. The result showed that application of 0,50 kg/plantof “persada”biopesticide with or without botanical pesticide was able to control bananas wilt disease developmentabout 26-50 percent. It is suggested that when farmers planted susceptible bananas like “kepok”variety at endemicwilt disease area, they should apply biopesticide such as “persada”biopesticide and botanical pesticide followed byother treatments, i.e. application of good fertilizer, sanitation and good watering. Average net return received byfarmers from “kepok”banana planting at endemic wilt disease area through application of “persada”biopesticide andbotanical pesticide within 0,05 ha was Rp. 1.249.600. The farmer will loss about Rp. 501.280 when planted banana“kepok”at endemic wilt disease area without “persada”biopesticide and botanical pesticide treatment.Key words : plant diseases, “persada” biopesticide, botanical pesticidePenelitian adaptasi bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi perlakuan biopestisida persada danpestisida nabati terhadap perkembangan intensitas serangan penyakit layu serta pengaruhnya terhadap pertumbuhandan hasil tanaman pisang. Penelitian dilaksanakan di Desa Delod Berawah dan Desa Penyaringan, kecamatanMendoyo, kabupaten Jembrana Propinsi Bali dari bulan Januari sampai Desember pada tahun 2000 dan 2001.Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan lima kali ulangan pada pengujian 2000 danempat kali ulangan pada pengujian tahun 2001. Bibit pisang “kepok”berumur 2-3 bulan ditanam dalam lubang tanamberukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm dengan jarak tanam 2 m x 2 m. Pada pengujian 2000, pemupukan dengan dosis 1,2kg NPK dan 2 kg kascing/pohon/ tahun, diikuti dengan pemberian perlakuan biopestisida persada 0,5 kg/pohon/tahun.Perlakuan pestisida nabati 1 lt/pohon dengan konsentrasi 5 persen diberikan pada 1 bulan setelah tanam (BST) dan 2BST. Pada pengujian tahun 2001 pemupukan dengan dosis 1,2 kg ZA, 0,45 TSP, 0,50 KCL dan 2 kgkascing/pohon/tahun, diikuti dengan pemberian perlakuan biopestisida persada 0,5 kg/pohon/tahun. Perlakuanpestisida nabati 1 lt/pohon dengan konsentrasi 5 persen diberikan pada 0 BST, 2 BST, 4 BST, 6 BST, dan 8 BST.Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan biopestisida persada sebanyak 0,50 kg/pohon/tahun dengan atautanpa perlakuan pestisida nabati cukup efektif mengendalikan penyakit layu pisang dengan penekanan penurunanpenyakit hingga 26-50 persen. Bila harus menanam pisang peka seperti kepok di daerah endemis penyakit layu,406Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.3, Nopember 2005 : 405-416penggunaan biopestisida persada dan pestisida nabati dalam usahatani pisang sebaiknya diikuti dengan perlakuanlainnya yaitu budidaya tanaman sehat seperti pemupukan, pengendalian gulma dan pengairan yang baik. Keuntunganbersih yang diperoleh petani dari usahatani pisang kepok di daerah endemis penyakit layu dengan perlakuanbiopestisida persada dan pestisida nabati dalam areal seluas 5 are sebesar Rp 1.249.600,-. Petani akan mengalamikerugian sekitar Rp 501.280,- bila mengusahakan pisang kepok di daerah endemis penyakit layu tanpa perlakuanbiopestisida persada dan pestisida nabati.Kata kunci : penyakit tanaman, biopestisida persada, pestisida nabati
PREDIKSI EROSI TANAH PODSOLIK MERAH KUNING BERDASARKAN METODE USLE DI BERBAGAI SISTEM USAHATANI: Studi Kasus di Kabupaten Barito Utara dan Gunung Mas M. Anang Firmansyah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n1.2007.p%p

Abstract

The USLE (Universal Soil Loss Equation) method is generally used to predict the soil erosion. The aim of this study is to apply this method to predict the erosion rate of soil in RYP (Red Yellow Podzolic or Ultisol) on different of farming systems (FS), i.e., rice up-land cassava, rice-corn-peanut, oil palm, and rubber with low capital. The soil samples used are taken from different precipitation location, i.e., North Barito Regency and Gunung Mas Regency in Central Kalimantan Province. The results indicated that the soil loss in RYP in Barito Utara is higher than that in Gunung Mas. The land use on FS of food crops without soil conservation can decrease the sustainability time of soil from 250 years to 38 years on rice up-land — cassava in North Barito. This indicates that the land use FS of crop estate is in line with the sustainability program. The improvement of soil conservation by building up the bench terrace can support the sustainability of soil in RYP on different FS of food crops. Key words: erosion, USLE, Red Yellow Podzolic Soil, farming system.   Metode USLE (Universal Soil Loss Equation) umum digunakan untuk memprediksi erosi tanah. Tujuan penelitian ini menggunakan persamaan tersebut untuk memprediksi erosi di tanah PMK (Podsolik Merah Kuning atau Ultisol) pada SUT (Sistim Usaha Tani) berbeda yaitu: padi ladang-ubi kayu, padi-jagung-kacang tanah, kelapa sawit, dan karet dengan modal rendah. Contoh tanah diambil di lokasi berbeda kondisi curah hujan, yaitu dari Kabupaten. Barito Utara dan Kabupaten Gunung Mas, Propinsi Kalimantan Tengah. Hasil pendugaan erosi menunjukkan kehilangan tanah di PMK Barito Utara lebih tinggi daripada di Gunung Mas. Pengelolaan SUT tanaman pangan tanpa perbaikan tindakan konservasi menurunkan kelestarian tanah dari 250 tahun menjadi 38 tahun di SUT padi ladang-ubi kayu di Barito Utara. Pengelolaan SUT perkebunan sejalan dengan kelestarian tanah. Perbaikan teknik konservasi tanah dengan membangun teras bangku mampu mendukung kelestarian tanah PMK pada SUT tanaman pangan.Kata kunci: erosi, USLE, Podsolik Merah Kuning, sistim usaha tani.
THE CONTRIBUTION OF RICE FARMING ON NITROGEN ENRICHMENT IN YEH SUNGI WATERSHED, TABANAN BALI I Wayan Alit Artha Wiguna; J. Stephen Lansing; Oka Adnyana
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v6n2.2003.p%p

Abstract

Pelaksanaan program intensifikasi pertanian melalui konsep revolusi hijau membuat meningkatnyaproduksi padi secara dramatis sehingga pada tahun 1984 Indonesia mencapai swa-sembada beras. Uniknya, sebelumtahun 1984 Indonesia dikenal sebagai negara pengimpor beras yang terbesar di dunia. Akan tetapi, disampingprestasi yang spektakular dalam produksi padi, dalam beberapa hal revolusi hijau juga memberi kontribusi dampakyang tidak menguntungkan terhadap ekosistem.Perkembangan pertanian di Bali, khususnya sawah sangat terkaitdengan sistem subak. Subak adalah pengaturan air irigasi tradisional di Bali yang telah dilaksanakan sejak berabadabadyang lalu. Sehubungan dengan masalah di atas, penelitian ini telah dilaksanakan di Daerah Aliran Sungai(DAS) Yeh Sungi di Kabupaten Tabanan, daerah di bagian barat Bali. Daerah penelitian meliputi delapan subakyaitu: Subak Apit Yeh and Subak Uma Poh di daerah hulu tempat tangkapan air; Subak Padangakitan, Jaka, Sungi I,Bena, dan Subak Tangkub di daerah tengah; dan Subak Gde Gadon I di daerah hilir. Penelitian ini dilakukan selama12 bulan, mulai dari bulan April 2001 hingga Maret 2002. Tujuan penelitian adalah: (1) meneliti tingkat pengayaanhara nitrogen di air irigasi yang berkaitan dengan aplikasi intensif pupuk anorganik di berbagai sistem pertaniandalam sistem subak di Bali; (2) meneliti kualitas lingkungan air, berkaitan dengan tingkat pengayaan hara nitrogendi dalam air irigasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengayaan hara pada air irigasi berkaitan dengan sistempertanian pada sistem subak. Tingkat pengayaan hara di daerah hulu lebih tinggi daripada di daerah tengah dan hiliruntuk N-NO3-; untuk memelihara kelangsungan ekosistem Subak, maka aplikasi pupuk N harus mempertimbangkankandungan hara tersebut dalam air irigasinya. Pelaksanaan pertanian telah menyebabkan pengayaan hara nitrogenyang berlebihan di daerah irigasi, khususnya di daerah tengah maupun hilir yang masing-masing didominasi olehpola pertanian padi-padi-padi dan padi-padi-palawija. Untuk memelihara kelangsungan ekosistem subak, makaaplikasi pupuk nitrogen harus mempertimbangkan kandungan hara di air irigasi.Kata kunci: sistem pertanian padi, pengayaan air irigasi, ekosistem subak. The implementation of agricultural intensification program through the green revolution concept has madethe increasing rice production dramatically and in 1984 Indonesia achieved ice self-sufficiency. Uniquely, before1984 Indonesia was known as the biggest rice importing country in the world. However, beside of spectacularachievement in rice production, green revolution to some cases also contributes less favorable impact to theecosystem. The agricultural development in Bali, particularly rice field is closely related to the subak system. Subakis a traditional model of irrigation water treatment in Bali practiced since centuries ago. The related to abovementionedissues, this research has been conducted at Yeh Sungi watershed in Tabanan District, western part ofBali. The research site includes eight subaks: Subak Apit Yeh and Subak Uma Poh at upstream area of catchmentsarea; Subak Padangakitan, Jaka, Sungi I, Bena, and Subak Tangkub at the middle area; and Subak Gde Gadon I atdownstream area. This research was carried out for 12 months between April 2001 and March 2002. The objectionof this research were: (1) to investigate the water enrichment level of N nutrients in the irrigation water related to theintensive application of inorganic fertilizers at various farming systems in subak system in Bali; (2) to investigatethe water environment quality, related to the water enrichment level of N nutrient in the irrigation water. Research96Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 6, No. 2, Juli 2003 : 95-106results showed that nutrient enrichment on irrigation water related to farming system on subak ecosystem. The levelof nutrient enrichment at upstream (hulu) area is higher than the middle (tengah) and downstream (hilir) areas for N-NO3-.To maintain the sustainability of subak ecosystem, therefore the application of N fertilizer should considerthose nutrients content in irrigation water. The agricultural practice has caused excessive enrichment of N nutrientsin irrigated area, especially at the middle as well as downstream areas dominated by rice-rice-rice and rice-ricepalawija(second crop) cropping patterns.Key words: rice farming system, water enrichment, subak ecosystem.
RESPON PETANI TERHADAP TEKNOLOGI TRICHOKOMPOS BERBAHAN DASAR JERAMI PADI DI PROVINSI JAMBI Husni Jamal
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 14, No 3 (2011): November 2011
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v14n3.2011.p%p

Abstract

Farmers’ Response on Trichocompost Technology with Based Material of Rice Straw in Jambi Province. The utilization of rice straw as organic fertilizer with bioactivator Trichoderma sp, well known as Trichocompost, has been introduced to farmers in Jambi Province since the year of 2004. However, till the end of 2009 only 3% of the farmers practiced the technology. Threfore, it was conducted a research aiming to identify problems facing the farmers in practicing the technology. The data was collected on June 2010 through a survey on five regencies which had been introduced by the technology in Jambi Province: Kerinci, Bungo, Sarolangun, Merangin and Tanjung Jabung Barat. The respondents of the survey consisted of 75 farmers who practiced Trichocompost technology and 61 farmers who had not yet practiced or no longer practiced the technology. The result of the research showed that the most difficult technology component practiced by the farmers was “to chop rice straw”. While, the most important difficulty facing the farmers who did not practice the technology was “not enough time and labour” and “lack of socialization on trichocompost technology”. To ensure a long-term application of Trichocompost technology it needs to introduce a more simple method in composting process which is without rice straw chopping, along with integrated and effective socialization activities. Key words: Farmers’ response, Trichocompost, rice straw  Pemanfaatan jerami padi sebagai pupuk organik dengan menggunakan bioaktivator Trichoderma sp. yang dikenal sebagai Trichokompos telah diintroduksikan kepada petani di Provinsi Jambi sejak tahun 2004. Namun, sampai dengan akhir tahun 2009, baru 3% petani padi yang menerapkan teknologi ini. Untuk itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi petani dalam menerapakannya. Pengumpulan data dilakukan melalui survei pada bulan Juni 2010 di lima kabupaten yang telah diintroduksikan teknologi Trichokompos, yaitu Kabupaten Kerinci, Bungo, Sarolangun, Merangin dan Tanjung Jabung Barat. Responden penelitian ini terdiri atas 75 orang petani yang menerapkan dan 61 petani yang belum atau tidak lagi menerapkan teknologi Trichokompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen teknologi yang paling sulit diterapkan petani adalah “mencacah jerami”. Kendala utama yang dihadapi sehingga petani tidak menerapkan teknologi Trichokompos adalah “tidak memiliki cukup waktu dan tenaga kerja” serta “kurangnya sosialisasi penerapan teknologi Trichokompos”. Guna penyebarluasan teknologi Trichokompos selanjutnya, maka perlu diintroduksi metode pembuatan yang lebih sederhana yaitu tanpa pencacahan disertai pelaksanaan sosialisasi yang lebih terarah dan terintegrasi. Kata kunci : Respon petani, Trichokompos, jerami padi
ANALISIS PENDAPATAN DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN USAHATANI TANAMAN PERKEBUNAN BERBASIS KELAPA DI KABUPATEN TABANAN Suharyanto ;; Suprapto ;; Rubiyo ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n2.2004.p%p

Abstract

Objective of this study was to assess income, income contribution, and income distribution of plantingpractices of perennial crops, i.e., coconut + cocoa, coconut + cloves, and coconut + cocoa + cloves in Tabananregency. The study was conducted for three months (July to September 2002) using cross-sectional data of 90 samplefarmers and consisting of 30 sample farmers of each planting practice. LSD (Least Significant Difference) test wasused to compare average farmers’ household income, off-farm income, and income contribution. Income distributionwas analyzed using Gini coefficient and Lorenz curve. The result showed that farming income per hectare and incomecontribution of coconut+cocoa+clove were highest than those of coconut+cocoa and coconut+clove planting practices.Income was most evenly distributed in coconut+cocoa planting practice with Gini coefficient of 0,19. Off-farmincome and total household income were most evenly distributed in coconut+cocoa diversification pattern with Ginicoefficients each of 0,20 and 0,23.Key words : income, coconut, cocoa, clove, income distributionPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan, kontribusi pendapatan dan distribusi pendapatan polausahatani perkebunan berbasis kelapa di kabupaten Tabanan. Cara tanam tumpangsari yang digunakan petani adalahkelapa+kakao, kelapa+cengkeh dan kelapa+kakao+cengkeh. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-September2002 dengan menggunakan data primer sebanyak 90 petani sampel yang terdiri dari 30 petani sampel untuk setiappola diversifikasi. Untuk membandingkan rata-rata pendapatan, pendapatan luar usahatani dan kontribusi pendapatandigunakan uji LSD (Least Significant Difference). Distribusi pendapatan dianalisis menggunakan Koefisien Gini danKurva Lorenz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usahatani per hektar dan kontribusi pendapatanusahatani terhadap pendapatan total rumah tangga tertinggi pada pola diversifikasi kelapa+kakao+cengkeh dengannilai koefisien Gini 0,19. Sedangkan distribusi pendapatan luar usahatani perkebunan yang paling merata adalah poladiversifikasi usahatani kelapa+kakao dengan nilai koefisien Gini 0,20. Secara keseluruhan distribusi pendapatan didaerah ini adalah 0,20 - 0,35.Kata kunci : pendapatan,kelapa,kakao,cengkeh,distribusi pendapatan
EFISIENSI USAHATANI PADI SAWAH MELALUI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI KABUPATEN SERANG PROVINSI BANTEN Dewi Haryani
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n2.2010.p%p

Abstract

The research was aimed at analyzing the technical efficiency, allocative and economic factors and the factorsthat influence the level of technical efficiency in lowland rice farming in Carenang district, Serang Regency, Bantenprovince. The analysis tool used was the method of Maximum Likelihood Estimation (MLE) due to the capabilityto explain the technical efficiency obtained by farmers as well as the factors affecting inefficiency. Allocativeefficiency and economic efficiency gained from the reduction of production cost of dual function. The number ofrespondent used consists of 120 farmes, 60 farmers of ICM program and 60 farmers are not from the ICM program.The results showed that the farmers of ICM program were more technically efficient (87%) than the farmers fromoutside of ICM program (71%). The technical efficiency of farmers in ICM program was affected by age,education, and planting systems, while the technical efficiency of farmers from non ICM program were influencedby education, the ratio of employment and unemployment persons, the participation in farmers’ groups and plantingsystems. The results of the analysis also showed that the allocative and economic farmers of ICM program weremore efficient than the farmers are non ICM program with 70.2 percent and 61 percent, respectively, for allocativeefficiency and economic efficiency and farmers are non ICM program, with 64.8% and 56.2%, respectively.Key words : ICM ,stochastic frontier,efficiency.Penelitian bertujuan menganalisis efisiensi teknis, alokatif dan ekonomis serta faktor faktor yangmempengaruhi tingkat efisiensi teknis pada usahatani padi sawah di Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang,Provinsi Banten tahun 2008. Alat analisis yang digunakan adalah metode Maximum Likelihood Estimation(MLE). Jumlah responden 120 orang, terdiri dari 60 petani program Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dan 60 petani non program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani program PTT lebih efisien secara teknisdibandingkan dengan petani non program dengan rata-rata tingkat efisiensi 87%, sedangkan petani non programhanya 71%. Efisiensi teknis petani program PTT dipengaruhi oleh umur, pendidikan dan sistem tanam sedangkanpetani non program efisiensi teknisnya dipengaruhi oleh pendidikan, ratio yang tidak bekerja dengan yangbekerja, partisipasi dalam kelompok tani dan sistem tanam. Hasil analisis juga menunjukan bahwa secara alokatifdan ekonomi petani program PTT lebih efisien dibandingkan dengan petani non program yaitu masing-masing70,2% dan 61% untuk petani program PTT, sedangkan petani non program masing-masing 64,8% dan 56,2%.Kata kunci : PTT, efisiensi teknis, efisiensi ekonomis
PENGENDALIAN HAMA Spodoptera exigua Hbn. UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS BAWANG MERAH PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN DI JENEPONTO, SULAWESI SELATAN Nurjanani ;; Ramlan ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n2.2008.p%p

Abstract

Control of Spodoptera exigua Hbn. to Raise Shallot Productivity on Rain Fed in Jeneponto District. Spodoptera exigua is one of reason of low productivity of shallot in South Sulawesi. The use of insecticide to control the pest is high, on the other hand, the effective and safe control method of the pest has much been reported. The objective of the research was to find out control technology package of S. exigua that are effective, efficient, save and appropriate with local condition. The research was conducted from June to September 2006 in Bontotangnga Village, Tamalate District, Jeneponto Regency, South Sulawesi. The research was carried out in farmers' land with five cooperator farmers as replications. The study of technology to control S. exigua includes: (a) the use of biological agents Spodoptera exigua Nuclear Polyhedrosis Virus (SeNPV) ; (b) Physical method by using trap light; (c) Mechanical method by collecting eggs package and larvae and by spraying bio-insecticide when pest population was above the economic threshold; and (d) applying traditional farmers' method (using insecticide conventionally). The results of the research showed that using trap light control was effective to reduce the attack of S. exigua on shallot with average intensity was 9.65%, lower than control farmers' method, mechanical method, and SeNPV method with attack intensity were 43.73%; 41.82%; and 48.83% respectively. Based on the results it can be concluded that the control of S. exigua by using trap light method was effective and could reduce the use of insecticide up to 85,30%. The shallot was feasible and beneficial to be planted after rice harvest in rain fed areas with an R/C was 2.07. Key words: Shallot, S. exigua, light trap, SeNPV, mechanical method, productivity, rain fed. Spodoptera exigua merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas bawang merah di Sulsel. Penggunaan insektisida untuk pengendalian hama tersebut cukup tinggi, di lain pihak cara pengendalian yang efektif dan aman sudah banyak dilaporkan. Pengkajian ini bertujuan mendapatkan paket teknologi pengendalian S. exigua yang efektif, efisien dan ramah lingkungan serta sesuai dengan kondisi setempat. Pengkajian telah dilaksanakan pada bulan Juni hingga September 2006 di kelurahan Bontotangnga, Kecamatan Tamalate, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Kajian dilaksanakan di lahan petani melibatkan lima petani kooperator sebagai ulangan. Teknologi yang dikaji adalah teknologi pengendalian hama S. exigua meliputi pengendalian: (a) menggunakan agens hayati Spodoptera exigua Nuclear Polyhedrosis Virus (SeNPV); (b) secara fisik (menggunakan lampu perangkap); (c) secara mekanik dengan mengumpulkan paket telur dan larva dan penyemprotan bioinsektisida apabila populasi hama melampaui ambang ekonomi; dan (d) cara petani (menggunakan insektisida secara konvensional). Hasil kajian menunjukkan bahwa pengendalian dengan menggunakan lampu perangkap efektif menekan serangan S. exigua pada tanaman bawang merah dengan rataan intensitas serangan 9,65%, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pengendalian cara petani, mekanik, dan penggunaan SeNPV dengan intensitas serangan masing-masing 43,73%; 41,82%; dan 48,83%. Dari hasil pengkajian ini dapat disimpulkan bahwa pengendalian S. exigua dengan menggunakan lampu perangkap efektif dan dapat mereduksi penggunaan insektisida sebesar 85,3%. Bawang merah layak dan menguntungkan diusahakan setelah padi di sawah tadah hujan dengan R/C 2,07. Kata kunci: Bawang merah, Spodoptera exigua, SeNPV, cara mekanik, lampu perangkap, produktivitas
PENGKAJIAN BUDIDAYA ULAT SAGU SEBAGAI SUMBER PROTEIN PAKAN TERNAK Isa Nagib Edrus; Sjahrul Bustaman
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n3.2007.p%p

Abstract

Assessment on Sago Larva Cultivation as a Protein Source of Feed. The area of sago crops in Moluccas is 31.360 ha with the number of sago tree ready to be harvested amounted 86 trees per ha. One of the wastes from harvesting sago crop is the tree sprouts which are not utilized and become places for coconut red beetles (Rhynchophorus ferrugenesis) to lay eggs. Larva from these beetles is known as sago larva, usually consumed by Moluccas and Papua societies. When the sago larvas become adults, they will transform into coconut beetles, which are pests for coconut crops. Research on potencies and cultivation techniques was conducted in 2006 with purposes to obtain: 1) natural and artificial cultivation techniques, 2) spawning time and season, and 3) nutrient value and potencies of sago larva. The estimation on potency was obtained from surveys at sago processing centers in South East Moluccas Regency, Central Moluccas Regency, and Western Seram. Cultivation techniques were differentiated between natural and artificial. Laboratory analysis was conducted to obtain the nutrient value and essential amino acid content. Statistical test was conducted on the data resulting from treatment comparisons. The result of the study shows that larva sago potency in Moluccas is estimated to be equal to 935 tons based on sago crop area, with a productivity of 2.52 kg/ m'. Spawning season is all year long with harvesting time of 39-45 days post tree cutting. Natural cultivation is more successful compared to the artificial one. Sago larva contains 13.80% protein, 18.04% fat and essential amino acids. Sago larva is expected to be used as source of proteins to substitute fish meal. Key word: Cultivation, sago larva, Moluccas. Luas areal tanaman sagu di Maluku 31.360 ha dengan jumlah pohon sagu siap panen sebanyak 86 pohon per ha. Salah satu limbah dari hasil panen sagu adalah batang bagian pucuk pohon yang tidak dimanfaatkan, dan tempat bertelurnya kumbang merah kelapa (Rhynchophorus ferrugenesis). Larva dari kumbang ini dikenal dengan ulat sagu, yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat Maluku dan Papua. Apabila ulat sagu menjadi dewasa akan berubah menjadi kumbang kelapa, yang merupakan hama pada tanaman kelapa. Pengkajian besarnya potensi dan teknik budidaya telah dilakukan pada tahun 2006 dengan tujuan: 1) mendapatkan teknik budidaya secara alami dan buatan (artifisial), 2) musim dan waktu pemijahan, 3) besarnya potensi dan nilai gizi ulat sagu. Perkiraan besarnya potensi didapat dari survei di sentra-sentra pengolahan sagu di Maluku pada Kab Maluku Tenggara, Kab Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat. Sedangkan teknik budidaya dibedakan secara alami dan buatan (artifisial). Pengujian laboratorium dilakukan untuk mendapatkan nilai gizi dan kandungan asam amino esensial. Uji statistik dilakukan pada data hasil perbandingan perlakuan. Hasilpengkajian menunjukan berdasarkan ketersediaan luas areal tanaman sagu di Maluku, potensi ulat sagu diperkirakan sebesar 935 t, dengan produktivitas 2,52 kg/m'. Musim pemijahan sepanjang tahun dengan waktu panen 39-45 hari dari pasca tebang pohon. Budidaya secara alami lebih berhasil dibandingkan dengan cara buatan (artifisial). Ulat sagu memiliki kandungan protein 13,80%, lemak 18,04% dan asam amino esensial. Ulat sagu diharapkan dapat dipakai sebagai sumber protein pada pembuatan pakan sebagai pengganti tepung ikan. Kata kunci: Budidaya, ulat sagu, Maluku

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue