cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
ANALISIS FINANSIAL DAN TITIK IMPAS USAHATANI PADI MELALUI PENDEKATAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI SULAWESI TENGGARA Rusdin .; M. A Mustaha; Hilman .
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v15n1.2012.p%p

Abstract

Financial Analysis and Breakeven Point of Rice Farming System Through Integrated Crop Management (ICM) Approach in South East Sulawesi. Rice intensification has been implemented since three decades ago. It had been able initially to improve the rice productivity, but since the last decade, rice productivity in some locations tend to slope and even downhill. One of the efforts to increase rice productivity is by using of integrated crop management (ICM), on participative approach that considers the physical environment, bio-physic, climate, and social economic condition of local farmers. The study was aimed to analysis and to determine the income and breakeven point of ICM application. The study was conducted on Mei – December 2007 in Wawo Oru village, Subdistrict Palangga, South Konawe Regency, South East Sulawesi Province at second time of planting. The result showed that ICM approach was able to increase productivity 80.30% and gave income Rp 2.47 million/second season/ha by R C ratio 1.79. The implication of the research was that ICM of rice was very potential to be developed by taking in to account the Intensifikasi padi yang dicanangkan sejak sekitar dasawarsa yang lalu, pada awalnya telah mampu meningkatkan produktivitas padi secara nyata, tetapi sejak satu dasawarsa terakhir, produktivitas padi di beberapa lokasi cenderung melandai bahkan ada yang menurun. Salah satu upaya untuk mengatasi kondisi tersebut adalah dengan menerapkan budidaya padi pendekatan pengelolaan tananam terpadu (PTT). Pendekatan tersebut tersebut mempertimbangkan lingkungan fisik, biofisik, iklim, dan kondisi sosial ekonomi petani setempat dan bersifat partisipatif. Tujuan kajian ini adalah menganalisis dan mengetahui besarnya keuntungan usahatani dan titik impas dari penerapan PTT. Kajian dilakukan di lokasi wilayah agroekosistem sawah semi intensif yaitu Desa Wawouru, Kecamatan Palangga, Kab. Konawe Selatan pada MT II yaitu bulan Mei – Desember 2007. Hasil analisis menunjukan bahwa penerapan pendekatan PTT mampu meningkatkan produksitivitas sebesar 80,30% dan keuntungan bersih sebesar Rp. 2,47 juta/MT/ha dengan nilai R C ratio 1,79. Implikasinya, budidaya padi dengan pendekatan PTT dinilai layak untuk dikembangkan dengan memperhatikan kesesuaian agroekosistemnya.
DAMPAK KEBIJAKAN PENGHAPUSAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KINERJA USAHATANI DAN EFEKTIVITAS KEBIJAKAN HARGA DASAR GABAH DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR RR. Retno Widowati; Emilya ';; Hamsudin ;; Dewa K.S. Swastika
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n2.2004.p%p

Abstract

Although share of agricultural sector in GRDP of East Kalimantan province is relatively small, but this sectoremploys significant labor. On the other hand, agricultural land resources are less utilized optimally. Results of thestudy showed that 89 percent of sample farmers reduced the dosage of fertilizers due to too expensive. The farmers(55%) did not difficulty in purchasing, but the price was unaffordable. Most of the farmers (96%) deemed that riceprice at farm level was too low. Negative impact of high price of fertilizers led farmers to use less SP-36 and resulted in lower average yields by 0.1 ton/ha. Real income of farmers from rice farming was relatively low due ineffective implementation of floor price policy to compensate increased price of fertilizers. It is essential to maintainfloor price of rice officially established by the government. For example, the government purchases farmers’ ricethrough Dolog. The local government could also intervene through credit program for input purchase at low interestrate.Key words: fertilizer subsidy, rice farming, floor priceWalaupun peran sektor pertanian dalam PDRB di Kalimantan Timur relatif kecil, tetapi cukup banyakmenyerap tenaga kerja. Dipihak lain, sumberdaya lahan masih relatif sedikit dimanfaatkan secara optimal. tercatatcukup luas, yaitu 856.195 ha lahan sawah potensial, sementara yang baru termanfaatkan baru Hasil penelitianmenunjukkan bahwa harga pupuk relatif mahal bagi 89 persen petani sampel sehingga mengurangi aplikasi pupuk danmenurunkan produktivitas. Sekitar 55 persen petani tidak kesulitan memperoleh pupuk di kios sarana produksi,namun harga pupuk terlalu tinggi. Sebanyak 96 persen petani menyatakan bahwa harga gabah antara Rp 900 sampaiRp 1.100 per kg tidak sebanding dengan biaya produksi. Sebagian besar (57%) tidak lagi mengandalkan lahanpertaniannya sebagai mata pencaharian utama. Untuk meningkatkan kemampuan petani membeli sarana produksi,maka pemerintah harus berupaya menyediakan fasilitas kredit murah dengan prosedur administrasi yang mudah.Pencabutan subsidi pupuk secara umum tidak berdampak negatif terhadap tingkat penerapan teknologi, kecualiberkurangnya penggunaan SP36 yang berakibat penurunan produktivitas padi sekitar 1 ku/ha. Dampak negatif yangcukup signifikan dari penghapusan subsidi ini adalah menurunnya pendapatan riil usahatani padi yang terutamadisebabkan oleh tidak efektifnya implementasi kebijakan harga dasar gabah. Untuk melindungi petani dari kerugianakibat kebijakan penghapusan subsidi, maka perlu ada upaya pengamanan kebijakan harga dasar gabah, berupapembelian gabah petani oleh Dolog melalui KUD atau melalui Tim Khusus Dolog. Alternatif lain adalah bantuansubsidi pupuk oleh pemerintah daerah kepada petani di Kalimantan Timur.Kata kunci : subsidi pupuk, usahatani padi, harga dasar gabah 
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PELAYANAN JASA ALSINTAN DI SULAWESI TENGAH Lintje Hutahaean; Rahmat H. Anasiru; IGP Sarasutha
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n1.2005.p%p

Abstract

Contribution of agriculture machineries in term of increasing for productivity and resources effectivitycontaint a role and strategically potency. On the other hand, also tend of quality through processing and productdiversication that has added value, need to be supported used to agribussinese development. Based on this case, thegoverment should be done focusly to “Usaha Pelayanan Jasa Alsintan” (UPJA) program. This program aimed toincreasing probability of accessbility of agriculture machinery through UPJA program. This research aimed tofeasibility at the UPJA program with technically, economic, and institutional evaluation. This assesment conductedthrough questionnare and survey that continued to financial analysis. Such as NPV, Net B/C, and IRR. This resultshowed that in the UPJA implementation found that technically, social-culture, economy and policy problem. Thefinancial analysis result showed that capacity of hand tractor for soil preparation phase was 15 ha/seasion indicatedthat is not feasible. Mean while, the result of thresher machine financial, has 15-20 ha/seasion optimal capacity that itfeasibel. On the other hand, the optimal capacity was difficult to gain, caused to this machine must to fight withharvest labour. The alternative solution could be priored to price substitution for hand tractor and neecessary to spreadwide that usefull of the thresherKey words : institution, hand tractor, power thresher, feasibility, Sulawesi TengahAlsintan mempunyai peran dan potensi sangat strategis karena kontribusinya dalam meningkatkanproduktivitas dan efisiensi sumberdaya, di samping peningkatan kualitas produk melalui prosesing dan diversifikasiproduk yang menghasilkan nilai tambah dalam mendukung program pengembangan agribisnis. Oleh karena itu,pemerintah perlu melakukan intervensi dalam pengembangan alsintan. Salah satu bentuk intervensi pemerintah adalahdengan mengembangkan alsintan melalui pola usaha pelayanan jasa alsintan (UPJA) agar petani mampu mengakses,menggunakan alsintan tanpa membeli atau memiliki sendiri. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis denganmengevaluasi kelayakan UPJA di Sulawesi Tengah yang ditinjau secara teknis, ekonomis, dan kelembagaan.Pengkajian dilakukan pada tahun 2000 dengan cara survai menggunakan kuesioner berstruktur. Metode untukmengetahui kelayakan usaha jasa alsintan secara ekonomi dengan analisis finansial berupa kriteria NPV, Net B/C, danIRR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan UPJA dengan bantuan SPL-OECF menghadapipermasalahan teknis, sosial budaya, ekonomi, dan kebijakan. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa dengankapasitas olah traktor tangan optimal 15 ha/MT, maka usaha jasa tersebut belum layak. Usaha ini akan layak bilamencapai kapasitas optimal 15-20 ha/MT. Tetapi target kapasitas optimal sulit dicapai karena mesin perontok harusbersaing dengan buruh panen. Alternatif pemecahan masalah yang menjadi prioritas adalah dengan memberi subsidiharga traktor tangan disertai sosialisasi tentang manfaat mesin perontok.Kata kunci : kelembagaan, traktor tangan, mesin perontok, kelayakan, Sulawesi Tengah
KINERJA USAHATANI KOMODITAS WORTEL (Daucus carrota L) (Studi kasus di Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat) Ade Supriatna
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n1.2008.p%p

Abstract

The Performance of Carrot (Daucus carrota L) Farming (a case study in Cianjur Regency, West Java Province). Approaching the era of globalization, the government is demanded to improve the performance of vegetable farming to be more competitive in both domestic and international markets. This study was conducted in 2005 in West Java. The objectives of the study were: (a) to identify the characteristics of carrot farmers, (b) to identify cultivation practices, (c) to analyze the economic feasibility of carrot farm, and (d) to describe the marketing channels, margin and price share received by farmers. The results show that the farmer's characteristics were sufficiently good in the aspects of age, education and participation in trainings, but some aspects were still weak such as small farm size (0.44 ha/farmer) and 22.2 % of farmers of hired status. Vegetable farm required a cost of Rp.28.8 million, a gross income of Rp.53.4 million and a net income of Rp.25.4 million/ha/year. It was suitable economically with B/C ratio of 1.89. The main problem in the production was selling price uncertainty, so that the farmers were unsure to implement the recommended technologies, especially the application of fertilizers. There were three channels in marketing carrots from farmers to consumers, i.e. (1) farmer, collector trader, whole trader, central market, traditional market, consumer; (2) farmer, collector trader, Sub terminal agribusiness (STA), central market, traditional market, consumer and (3) farmer, collector trader, supplier, super market, consumer. The farmers sold the carrot product through the first channel (76.6%), the second channel (13.3%) and the third channel (10.1%). The first and the second channels gave farmer's share of 49.3%, marketing cost of Rp.172 and a marketing profit of Rp.370/kg. While the third cannel gave farmer's share of 20.9%, marketing cost of Rp.300 and marketing profit of Rp.553/kg. The central market was the referee market, the price offered by the central market would be used as the standard to determine the purchasing price by the preceding market institutions until the farmers. Up till now, the selling prices of vegetables are very fluctuated and unpredictable causing the farmers to be doubtful to implement the technologies advised by the government to maintain the balance of supply and demand in the central market so the farmers can obtain selling price certainty. Key words: carrot, farm performance, West Java. Dalam menyongsong era globalisasi, pemerintah dituntut meningkatkan kinerja usahatani sayuran agar lebih kompetitif baik di tingkat pasar domestik maupun pasar intemasional. Penelitian ini dilaksanakan tahun 2005 di Propinsi Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah; (a) mengidentifikasi karakteristik petani, (b) praktek budidaya, (c) menganalis kelayakan ekonomi usahatani dan (c) menggambarkan saluran pemasaran, margin dan bagian harga yang diterima petani. Hasil menunjukan bahwa karakteristik petani cukup baik dalam aspek umur, pendidikan dan keikutsertaan pelatihan tetapi beberapa aspek masih lemah yaitu rataan penguasaan lahan masih rendah (0,44 ha/petani) dan masih ditemukan petani berstatus sewa sebanyak 22,2%. Usahatani sayuran membutuhkan biaya Rp.28,8 juta, penerimaan kotor Rp.53,4 juta dan penerimaan bersih 25,4 juta /ha/tahun. Usahatani sayuran termasuk layak secara ekonomi dengan nilai B/C 1,89. Masalah utama dalam produksi adalah ketidakpastian harga jual sayuran sehingga petani masih ragu untuk menerapkan budidaya sesuai rekomendasi,terutama penggunaan pupuk. Ditemukan tiga saluran pemasaran wortel dari petani sampai ke konsumen, yaitu; (1) petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, pasar induk, pasar tradisional, konsumen; (2) petani, pedagang pengumpul, Sub terminal agribisnis (STA), pasar induk, pasar tradisional, konsumen dan (3). Petani, pedagang pengumpul, suplayer, super market, konsumen. Petani menjual wortel melalui saluran pertama (76,6%), saluran kedua (13,3%) dan saluran ketiga (10,1%). Farmer's share saluran pertama dan kedua adalah 49,3%, biaya pemasaran Rp.172,- dan keuntungan pemasaran Rp.370,-/kg. Sedangkan farmer's share saluran ketiga adalah 20,9%, biaya pemasaran Rp.300,- dan keuntungan pemasaran Rp.553,-/kg. Pasar induk merupakan pasar acuan (referee market), harga beli wortel yang ditetapkan pasar tersebut dijadikan acuan untuk menetapkan harga bell oleh pelaku pasar sebelumnya sampai di tingkat petani. Selama ini, harga jual sayuran sangat fluktuatif dan sulit diperkirakan menyebabkan petani ragu-ragu untuk menerapkan teknologi sesuai anjuran Pemerintah harus mengatur keseimbangan suplai dan deman produk sayuran di pasar induk agar supaya petani memperoleh kepastian harga jual. Kata kunci: wortel, kinerja usahatani, Jawa Barat.
ANALISIS KEUNTUNGAN DAN SENSITIVITAS USAHA BENIH PADI DI PROVINSI BANTEN Andy Saryoko; Benny Rachman
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 3 (2009): November 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n3.2009.p%p

Abstract

Profitability and Sensitivity Analyses of Paddy Seed Farming in Banten Province. Paddy seed industries in Banten Province is still categorized as low, characterized by (i) most farmers produce and use their own seeds, (ii) the available seeds have not fulfilled the needs, (iii) farmers have various perceptions on the use of labeled seeds, and (iv) local seed breeders have not yet developed. The objectives of this assessment are to analyze the feasibility and sensitivity of paddy seed breeding against price and production changes. The study was conducted in Serang Regency, Banten Province from March to August 2007. The approaches used were tabularized descriptive analysis, feasibility analysis, break even point, and sensitivity analysis. The study results show that: (1) paddy seed breeding was profitable (B/C =1.71), (2) the minimum production and price that must be achieved in order to remain profitable were 1.587 kg/ha and Rp.1, 477/kg, respectively, and (3) seed breeding was relatively insensitive to price and production changes. Therefore, local seed breeders need to be developed in order to increase the availability of labeled seeds.Key words : Labeled seed, feasibility, sensitivity, local seed producerABSTRAKIndustri perbenihan padi di Provinsi Banten masih dikategorikan rendah yang dicirikan oleh (i) sebagian besar petani menggunakan dan memproduksi sendiri benih, (ii) benih yang tersedia belum memenuhi kebutuhan (iii) beragamnya persepsi petani terhadap penggunaan benih berlabel dan (iv) belum berkembangnya penangkar benih di daerah. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha dan sensitivitas usaha perbanyakan benih padi terhadap perubahan harga dan produksi. Kajian dilakukan di kabupaten Serang, Provinsi Banten sejak bulan Maret sampai Agustus 2007. Pendekatan yang digunakan adalah analisis deskriptif tabulatif, analisis kelayakan usaha, titik impas harga dan produksi serta analisis sensitivitas. Hasil kajian menunjukkan : (1) usaha perbanyakan benih padi menguntungkan dan layak untuk dikembangkan (B/C=1.71), (2) produksi dan harga minimun yang harus dicapai agar usaha perbanyakan benih tetap menguntungkan adalah 1.587 kg/ha dan Rp.1.477/kg; dan (3) usaha perbanyakan benih padi relatif tidak sensitif terhadap perubahan harga dan penurunan produksi. Untuk itu, penangkar benih lokal perlu dikembangkan dalam rangka meningkatkan ketersediaan benih padi berlabel.Kata kunci : Benih berlabel, kelayakan, sensitivitas, penangkar benih lokal
ANALISIS TITIK IMPAS DAN SENSITIVITAS TERHADAP KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI PADI SAWAH Dewi Sahara; Nur Alam; Idris ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n2.2007.p%p

Abstract

The research had been conducted in Langgomea Village, Konawe District, from June to December 2005. This research used a survey method and aimed to know the technology performance, expense structures and farming system income of upland rice farming system. The data, technology application, productivity, and farming system income were collected from filled questionnaires from 35 respondents. The results showed that the variety of technology application had been close to recommended technology as shown by a production of 4.68 ton/ha. On the basis of yield price Rp.1.350,-/kg, the farmers income can reached Rp.3.519.000,- with RCR 2.28 which means that the farming system was financially feasible. However, rice farming system is not sensitive to the change of production input price and decreasing price of paddy up to 15% though the farmers' profitability obtained by farmers declines. Key words: upland rice, break event point, sensitivity, irrigation land   Penelitian bertujuan untuk melihat keragaan teknologi, struktur biaya dan penerimaan usahatani padi sawah di lahan irigasi telah dilakukan di Desa Langgomea, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, dari bulan Juni sampai Desember 2005 dengan menggunakan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan panduan kuisioner terhadap 35 responden yang meliputi penerapan teknologi, produktivitas dan pendapatan usahatani. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaan penerapan teknologi di tingkat petani sudah mendekati teknologi yang dianjurkan sehingga produksi diperoleh sebanyak 4,68 ton/ha. Proporsi biaya tertinggi pada tenaga kerja luar keluarga yang mencapai 54,10% dari total biaya. Dengan harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp.1.350/kg maka pendapatan yang diterima petani sebesar Rp.3.519.000 dengan RCR 2,28 sehingga usahatani layak secara finansial. Usahatani padi sawah tidak peka terhadap perubahan kenaikan harga sarana produksi dan penurunan harga gabah hingga 15%, namun tingkat keuntungan yang diperoleh semakin menurun.Kata kunci: padi sawah, titik impas, sensitivitas, lahan irigasi
KAJIAN PEMUPUKAN N, P, DAN K TERHADAP JAGUNG (Zea mays Linn) PADA LAHAN KERING TANAH TYPIC USTROPEPTS Peter Tandisau; Muhammad Thamrin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n2.2009.p%p

Abstract

Kajian Pemupukan  N, P, Dan K  Terhadap Jagung (Zea mays Linn) Pada Lahan Kering Tanah Typic Ustropepts. Assessment of N, P, and K fertilizer to upland maize on Typic Ustropepts.   Assessment was conducted in Jeneponto South Sulawesi, started on October 2004 until March 2005. The objective was to know respon of maize (hybrid and non hybrid variety) to N, P, K fertilizer on upland and to compare farmer’s practice and complete NPK application. A split plot design with five replications was used. Maize variety was used as main plot, and omission plot (fertilizer application) as sub plot. Result showed as follows : 1) Maize respond to N, P, K fertilizer: 2) Un complete fertilizers application caused growth and field quality of maize become lower (10-30%). Complete fertilizers application (N,P,K:200:35:100) indicated much more higher yield (5,5 t/ha) than farmer’s practice (<150 N) with yield of 3,8 t/ha. Hybrid variety of BISI-2 give higher yield (5,67 t/ha) than non hybrid variety of Lamuru (3,3 t/ha). On dry land of typic Ustropepts, under dry climate, nutrient deficiency of N, P, K (low nutrient status), in Jeneponto, N, P, K fertilizer application suggested were 200:35:100 kg/ha or equally to 440 kg Urea, 223 kg SP-36, 191 kg KCl/ha, plus 500 kg organic metter/ha, with dibbling application, plant spacing of 75 x 20 cm2, one plant/hill.  Kajian dilaksanakan di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan pada bulan Oktober 2004 sampai Maret 2005. Tujuan kajian mengetahui tanggap tanaman jagung hibrida dan non hibrida terhadap pupuk N, P, dan K pada tanah Typic Ustropepts di lahan kering dan membandingkan aplikasi pemupukan cara petani dan lengkap NPK. Kajian dilakukan melalui pendekatan petak omisi dengan Rancangan Percobaan Petak Terpisah dengan lima ulangan, dimana varietas merupakan petak utama, sementara petak omisi (pemupukan) sebagai anak petak. Hasil kajian menunjukkan sebagai berikut: 1) Tanaman jagung tanggap terhadap pupuk N, P, dan K: 2) Pemberian pupuk yang tidak lengkap menyebabkan pertumbuhan dan hasil berkurang  (10-30%). Aplikasi pupuk lengkap N, P, dan K (200:35:100) menunjukkan hasil lebih tinggi (5,5 t/ha) dibanding cara petani (<150 N) yang hanya mencapai 3,8 t/ha. Jagung hibrida BISI-2 hasilnya lebih tinggi dari pada jagung non hibrida varietas Lamuru  (3,34 t/ha). Pada lahan kering Typic Ustropepts, iklim kering, kekurangan hara N, P, dan K (status hara rendah) di Jeneponto, anjuran aplikasi pupuk untuk jagung adalah 200:35:100 kg/ha atau setara dengan 440 kg Urea, 223 kg SP-36, 191 kg KCl/ha, disertai dengan 500 kg pupuk organik/ha. Aplikasi pupuk disarankan secara tugal, jarak tanam 75x20 cm2, satu tanaman/lubang.  
SKALA USAHATANI PADI DI BEBERAPA LOKASI LUMBUNG PANGAN DI SUMATRA SELATAN Yanter Hutapea; Abdullah Bamualim
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n1.2004.p%p

Abstract

The study aimed to determine break even points and minimum scales of economy of rice farming in severalrice producing centers in South Sumatra. Survey was conducted from August to October 2002 through interviewingfarmers’ households in Sido Makmur village, Belitang Subdistrict, Ogan Komering Ulu (OKU) District; Sirah PulauPadang Village, Sirah Pulau Padang Subdistrict, Ogan Komering Ilir (OKI) District; and Telang Jaya Village,Pembantu Muara Telang Subdistrict, Musi Banyuasin (MUBA) District. Respondents sampling was carried out usinga stratified random method on rice barn and non rice barn groups. Each group of each village consisted of 20 farmers.Thus, total respondents were 120 farmers. Results of the study revealed that break even points were 635 kg, 804 kg,and 724 kg of rice production in OKU, OKI, and MUBA Districts, respectively. Minimum scales of economy of ricefarming in OKU, OKI, and MUBA districts were 0.25 ha, 0.37 ha, and 0.33 ha, respectively. The farmers did notinterest with existence of food barns by delaying rice sale due to insignificant price difference between storage andsale.Key words: rice farming, minimum scale of economy, rice barn Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan impas dan skala minimum usahatani padi di beberapalokasi yang ada lumbung pangan di Sumatra Selatan. Survei dilakukan pada Bulan Agustus-Oktober 2002 denganmewawancarai rumah tangga petani di Desa Sido Makmur, Kecamatan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu(OKU); Desa Sirah Pulau Padang, Kecamatan Sirah Pulau Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan DesaTelang Jaya, Kecamatan Pembantu Muara Telang, Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA). Pengambilan sampeldilakukan secara acak berlapis yaitu pada kelompok lumbung pangan dan bukan lumbung pangan masing-masingsebanyak 20 petani sehingga secara keseluruhan dibutuhkan sampel sebanyak 120 petani. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa Secara agregat titik impas tercapai pada produksi beras sebesar 635 kg di Kabupaten OKU, dan804 kg di Kabupaten OKI serta 724 kg di Kabupaten MUBA. Skala minimum usahatani padi di Kabupaten OKUseluas 0,25 ha, di Kabupaten OKI seluas 0,37 dan di Kabupaten MUBA seluas 0,33 ha. Pada keberadaan lumbungpangan, harga belum merupakan suatu hal yang menarik bagi petani untuk melakukan kegiatan tunda jual karena tidakada perbedaan harga yang menyolok pada saat menyimpan dengan saat menjual.Kata kunci : usahatani padi, skala minimum, lumbung pangan
KAJIAN TEKNOLOGI USAHATANI JAGUNG DI LAHAN KERING KALIMANTAN TENGAH Amik Krismawati; M. A. Firmansyah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n1.2005.p%p

Abstract

Corn as a second food crop after rice was very important due to its utilization as feed and raw material forindustries. Central Kalimantan has potency for increasing national corn production with its 14.63 million hectares ofdryland. AIAT Palangkaraya conducted corn-based farming system assessment during rainy season of 1998/1999 indryland area of Batuah Village, Dusun Tengah District, Barito Selatan Regency. The assessment consisted of 2.5 haarea and 10 cooperating farmers. This study aimed to increase corn and seed yields, and farmers’ income. The studyconsisted of two activities, namely super-imposed study covering 0,45 hectare of dry land area and the second was theimplementation of technology package of Bisma variety. Split Plot Design was used for super imposed study with themain plot consisiting of five corn varieties, namely V1 = Bisma, V2 = Lagaligo, V3 = Semar 2, V4 = CP-1, and V5 =white corn. Treatments for each the main plot consisted of five levels of fertilizers application, namely P1 = 300 kgUrea/ha + 175 kg SP-36/ha + 125 kg KCl/ha, P2 = 275 kg Urea/ha + 150 kg SP-36/ha + 100 kg KCl/ha, P3 = 250kg Urea/ha + 125 kg SP-36/ha + 75 kg KCl/ha, P4 = 225 kg Urea/ha + 100 kg SP-36/ha + 50 kg KCl/ha dan P5 = 200kg Urea/ha + 75 kg SP-36/ha + 25 kg KCl/ha. The results showed that Bisma variety using fertilizer dosage P3 hadthe yield of 5.61 tons /ha and R/C ratio of 2.92 in the super imposed, and Bisma variety planted using fertilizerdosage P3 had the yield of 4.07 tons/ha and R/C ratio of 2.35 in the package technology. Corn farming in that regionwas profitable due to its R/C ratio of more than one. However, the government needs to guarantee supply of inputsand the farm gate price to sustain corn production in this region.Key words : zea mays, corn farming system, dry land, Central KalimantanJagung merupakan komoditas pangan yang penting kedua setelah padi, karena berfungsi sebagai makananpokok dan pakan ternak serta bahan baku industri. Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi yangberpeluang besar dalam upaya peningkatan produksi jagung nasional, karena masih memiliki lahan kering seluas14,63 juta hektar. Salah satu upaya yang ditempuh oleh BPTP Palangkaraya dalam peningkatan produksi jagungadalah melaksanakan Pengkajian Teknologi Usahatani Berbasis Jagung di Lahan Kering dengan tujuan dapatmeningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Pengkajian dilaksanakan pada musim hujan dengan luashamparan 2,5 hektar yang melibatkan 10 petani kooperator. Pengkajian dilaksanakan di Desa Batuah, KecamatanDusun Tengah, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah pada MH 1998/1999. Pengkajian dilaksanakan terdiridari Pengkajian Utama dan Pengkajian Super Imposed yang merupakan inti pengkajian seluas 0,45 hektar. PengkajianUtama ditanam jagung varietas Bisma dengan menerapkan dosis pemupukan sesuai anjuran dari Dinas TanamanPangan. Pengkajian Super Imposed menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan Varietas sebagai petak utamadan dosis pupuk sebagai anak petak. Varietas terdiri dari lima level yaitu Bisma, Lagaligo, Semar-2, CP-1 dan jagungputih. Dosis pupuk terdiri dari lima level yaitu P1 = 300 kg Urea/ha + 175 kg SP-36/ha + 125 kg KCl/ha, P2 =275 kg Urea/ha + 150 kg SP-36/ha + 100 kg KCl/ha, P3 = 250 kg Urea/ha + 125 kg SP-36/ha + 75 kg KCl/ha, P4 =225 kg Urea/ha + 100 kg SP-36/ha + 50 kg KCl/ha dan P5 = 200 kg Urea/ha + 75 kg SP-36/ha + 25 kg KCl/ha. Hasilpengkajian Utama menunjukkan produktivitas jagung 4,07 ton/ha dan R/C-ratio sebesar 2,35. Pada Pengkajian SuperImposed menunjukkan bahwa dosis pupuk P3 dan varietas Bisma memberikan hasil tertinggi dengan produktivitas5,61 ton/ha dengan R/C rasio sebesar 2,92. Teknologi usahatani tersebut secara ekonomis menguntungkan petani40Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.1, Maret 2005 : 39-54karena menunjukkan R/C rasio lebih besar dari satu. Hal ini dapat berkelanjutan apabila sarana produksi tersedia danada kestabilan harga serta jaminan pasar yang jelas dengan didukung oleh pemerintah, swasta atau KUD.Kata kunci : jagung,sistem usahatani, lahan kering, Kalimantan Tengah
KAJIAN PAKET TEKNOLOGI BAWANG MERAH DI HARANGGAOL SUMATERA UTARA Loso Winarto; M. Prama Yufdy; Lermansius Haloho
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n1.2009.p%p

Abstract

The Package Technology of Red Onion in Haranggaol, North Sumatera. The cultivation of red onion around Toba Lake has not been developed well due to pest and disease problems, improper cultivation practices adopted by farmers as characterized by the planting local varieties. A study was conducted in Haranggaol, North Sumatra in an effort to introduce suitable technology needed for increasing production. Two high yield varieties `Tiron' and Thilipina' were planted using two recommended technology packages which were then compared to local practices. Research results indicated that Tiron produced the highest number of tiller i.e. 17.30/cluster, while Philipina yielded the highest production (20.51 t/ha) with larger size of bulb (141 bulb/kg). In comparison, Tiron produced 7.88 t/ha with higher number of bulb at 237 bulb/kg while local variety produced 7.43 t/ha with 221 bulb/kg. The highest reduction of bulb weight after 60 days stored was Philipina reached 20.40%, Tiron 19.20% and local variety 18.80%. The control of Spodoptera exiqua by using feromon­exi showed that 1,059 heads of imago could be trapped. If one pair of imago can produced 500-600 eggs, it can be estimated that this treatment could kill 635,400 larvas of Spodopthera exigua. Results also indicated that the package technology 2 with Philipina showed R/C at 2.8, followed by package technology 1 with Tiron variety at 1.7 and local practice at 1.2 Key words: Red onion, technology package, varietyPertanaman bawang merah di sekitar kawasan Danau Toba tidak berkembang bahkan cenderung menurun akibat serangan hama dan penyakit, budidaya yang masih tradisional dan belum digunakannya varietas unggul. Berkaitan dengan hal tersebut, telah dilakukan suatu pengkajian perbaikan budidaya dan varietas unggul bawang merah di Desa Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Teknologi yang diterapkan adalah bawang merah varietas Tiron dan Philipina yang ditanam dengan dua paket teknologi anjuran dibandingkan dengan teknologi petani. Hasil kajian menunjukkan bahwa jumlah anakan tertinggi diperoleh pada varietas Tiron (17,30/ rumpun). Produksi yang tertinggi didapat pada varietas Philipina yaitu 20,51 t/ha dan umbi lebih besar (141 umbi/kg); Tiron 7,88 t/ha dengan jumlah umbi 237/kg sedangkan varietas lokal hanya mencapai 7,43 t/ha dengan jumlah umbi 221/kg. Penyusutan setelah 60 hari dalam penyimpanan tertinggi terdapat pada varietas Philipina mencapai 20,40%, Tiron 19,20% dan Samosir 18,80%. Pengendalian hama spodoptera exigua dengan pemasangan Feromon-exi dapat ditangkap imago jantan sebanyak 1.059 ekor. Jika sepasang imago mampu bertelur 500 — 600 butir maka diperkirakan dapat membunuh larva keturunannya mencapai 635.400 ekor larva Spodoptera exigua. Hasil perhitungan menggunakan R/C secara berturut-turut Teknologi-1 (Bawang Tiron) sebesar 1,7; Teknologi-2 (bawang Philipina) sekitar 2,8 dan Teknologi Petani (Bawang Samosir/Lokal) sebesar 1,2. Kata kunci: Bawang merah, paket teknologi, varietas

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue