cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
KERAGAAN BEBERAPA VARIETAS PADI UNGGUL BARU DAN KELAYAKAN USAHATANI PADI PADA LAHAN SAWAH IRIGASI DI PROVINSI JAMBI Endrizal ;; Jumakir ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n3.2007.p%p

Abstract

The Performance of Several Paddy New Superior Varieties and Feasibility of Paddy Farm Enterprise in Irrigated Rice Field in Jambi Province. The Assessment was conducted at Sri Agung Village, Tungkal Ulu Sub-District, Tanjung Jabung Barat Regency on irrigated land during the 2004/2005 wet season. The assessment involved a farmer group called Sri Maju started with Participatory Rural Appraisal (PRA) study to discover the available farm enterprise potentials and problems. Technology components implemented was the use of new superior varieties through integrated crop managenet (1CM). Paddy varieties used were VUTB Fatmawati, VUB Ciherang VUB, Way Apu Buru, Memberamo and Gilirang. The objectives of the experiment were to observe the performances of some new superior varieties by using integrated plant control method and to analyze financial feasibility on irrigated rice fields. The assessment result showed that the performance of each new variety significantly fluctuates in line with the plant genetic characteristics. The highest production was obtained from Way Apo Buru variety, i.e. (6.5 tons dried husked paddy /ha), followed by Fatmawati (6 tons/ha) and Ciherang (5.8 tons/ha). Meanwhile, the lowest productions were those of Gilirang and Memberamo varieties, i.e. 3.3 and 3.6 tons dried husk paddy/ha respectively .Way Apo Buru and Ciherang varieties are new VUB providing higher benefits and feasibilities compared with Fatmawati ,Memberamo and Gilirang varieties ) with R/C values of 1.66, 2.14 and 2.05. The highest income from Way Apo Buru variety was Rp.6,372,000, followed by Ciherang (Rp.5,832,000), and Fatmawati (Rp.5,119,200), while the incomes from Gilirang and Memberamo were Rp.2,478,000 and Rp.1,890,000 respectively. The farmers' responses to new varieties particularly Way Apo Buru and Ciherang were sufficiently good compared with those for Fatmawati, Gilirang and Memberamo. The two varieties possess sufficiently high yield potency, good-tasting rice, and resistant and quite resistant to Helminthosporium and Blast. Fatmawaty variety is less favored by farmers though it has significantly high yield because it is rather difficult to shed and less resistant to Helminthosporium and Blast. Key words: New superior variety, 1CM, paddy farm enterprise, irrigated land Pengkajian dilaksanakan di Desa Sri Agung Kecamatan Tungkal Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Barat Propinsi Jambi pada lahan sawah irigasi pada musim hujan (MH) 2004/2005. Pengkajian ini melibatkan kelompok tani Sri Maju yang diawali dengan studi PRA (Participatory Rural Appraisal), untuk menggali potensi dan permasalahan kegiatan usahatni yang ada. Komponen teknologi yang diterapkan adalah penggunaan varietas unggul baru dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT). Varietas padi yang digunakan adalah VUTB Fatmawati, VUB Ciherang, Way Apo Buru, Memberamo dan Gilirang. Tujuan pengkajian untuk melihat keragaan beberapa varietas padi unggul baru melalui pengelolaan tanaman terpadu dan analisis kelayakan usahatani pada lahan sawah irigasi. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa keragaan dari masing­masing varietas cukup beragam sesuai dengan sifat genetis varietas. Produksi padi tertinggi diperoleh pada varietas Way Apo Buru yaitu 6,50 t/ha GKP diikuti varietas Fatmawati dan Ciherang yaitu 6,00 t/ha GKP dan 5,8 t/ha. GKP Sedangkan hasil terendah pada varietas Gilirang 3,00 t/ha dan Memberamo 3,50 t/ha GKP.Varietas Way Apo Buru dan Ciherang merupakan VUB yang memberikan keuntungan dan tingkat kelayakan lebih tinggi dibanding varietas Fatmawati, Memberamo dan Gilirang dengan nilai R/C 1,66 , 2,14 dan 2,05. Penerimaan yang tertinggi dari varietas Way Apo Buru yaitu Rp.6.372.000, diikuti varietas Ciherang yaitu Rp 5.832.000 dan varietas Fatmawati yaitu Rp.5.119.200 sedangkan varietas Memberamo dan Gilirang masing­masing Rp.2.478.600 dan Rp.1.890.000. Respon petani cukup balk terutama pada varietas Ciherang dan Way Apo Buru dibandingkan varietas Fatmawati, Memberamo dan Gilirang. Kedua varietas tersebut memliki potensi hasil cukup baik, rasa nasi pulen, tahan dan agak tahan terhadap penyakit Helmintosporium (Ho) dan Blas. Untuk varietas Fatmawati kurang disukai petani walaupun memiliki potensi hasil cukup tinggi, karena perontokannya agak sulit dan kurang tahan terhadap Ho dan Blas Kata kunci : Varietas unggul baru, PTT, usahatani, lahan irigasi.
PENGUJIAN VARIETAS DAN DOSIS PUPUK UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL RATUN-PADI DI SAWAH PASANG SURUT Susilawati .; Bambang S Purwoko
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v15n1.2012.p%p

Abstract

Test of Rice Varieties and Fertilizer Dose for Increasing Yield of Rice Ratoon in Tidal Swamp Land. The main cause of low productivity of rice in the tidal swamp land is a high level of soil acidity and toxicity of pyrite. To improve the productivity of rice per season in tidal swamp land is to establish the ratoon. The experiment was conducted in type B tidal swamp land, Dadahup A-2 village, Kapuas District, Central Kalimantan. The objectives of this study were (a) to determine the effect of doses of fertilizers combined with water-logging after cutting, (b) to obtain technology information to enhance the ratoon yield, and (c) to produce recommendations of the farming system in tidal swamp land. The experiment was arranged in a split plot design with three replications. The main plots were five rice varieties, i.e. IR42, Batanghari, Ciherang, Intani-2, and Batang Samo, while subplots were two levels of doses fertilizers, i e. half doses of the main crops (N1 = 75 kg Urea, 50 kg SP-36 and 50 kg of KCl per hectare) and one quarter doses of the main crops (N2 = 37,5 kg of Urea, 25 kg SP-36 and 25 kg of KCl per ha). The results of the experiment indicated that application of fertilizers with a half dose of the main crops increased the grain per panicle, number of filled grain and yield, that was higher than a quarter doses of the main crops. Batang Samo variety was the most responsive to fertilization with higher doses, while Intani-2 variety was responsive to a lower dose of the fertilizer. Batanghari was superior variety with the highest yield of ratoon both a half doses fertilization and a quarter of the main crops. Based on the farming analysis, the ratooning system is very feasible in the tidal swamp lands because it can increasing productivity ± 2.4 – 2.7 t/ha. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas padi di lahan pasang surut adalah dengan memanfaatkan ratun. Penerapan budidaya padi dengan sistem ratun, dapat memberikan tambahan produksi 40-60% per musim tanam, hemat input, biaya, tenaga dan waktu. Suatu penelitian dilaksanakan di lahan pasang surut tipe B, Dadahup A-2, Kabupaten Kapuas, Kalimatan Tengah, mulai bulan Juni 2007 sampai Januari 2008. Penelitian bertujuan untuk : (a) mengetahui pengaruh dosis pupuk dan penggenangan air setelah panen tanaman utama, (b) mendapatkan informasi teknologi untuk meningkatkan potensi ratun, dan (c) menghasilkan rekomendasi usahatani dengan sistem ratun di lahan pasang surut. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama terdiri atas lima varietas padi, yaitu : IR42, Batanghari, Ciherang, Intani-2, dan Batang Samo. Anak petak terdiri atas dua takaran dosis pemupukan, yaitu : setengah dari dosis tanaman utama (N1 = 75 kg Urea, 50 kg SP-36 dan 50 kg KCl per ha) dan seperempat dari dosis tanaman utama (N2 = 37.5 kg Urea, 25 kg SP-36 dan 25 kg KCl per hektar). Ratun yang dipupuk dengan perlakuan N1 menghasilkan jumlah gabah per malai, jumlah gabah isi dan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan N2. Varietas Batang Samo paling responsif tehadap pemupukan dengan dosis tinggi, sedangkan varietas Intani-2 paling responsif terhadap pemupukan dengan dosis rendah. Varietas Batanghari merupakan varietas terbaik yang mampu memberikan hasil ratun tertinggi, baik pada perlakuan N1 maupun N2. Usahatani dengan sistem ratun layak diusahakan di lahan pasang surut karena mampu memberikan tambahan poduksi  2,4 – 2,7 t/ha.
BEBERAPA TEKNIK ANALISIS DALAM PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN Dewa Ketut Sadra Swastika
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n1.2004.p%p

Abstract

Agricultural commodities should be produced efficiently. Otherwise, our agricultural products will not becompetitive with those of other countries, both in international and domestic markets. Efficient farming is possiblethrough adoption of improved technology. The Assessment Institutes of Agricultural Technology (AIATs) in eachprovince are the regional units of the Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) givena mandate to provide local farmers with an appropriate technology in their respective regions. To meet their mandate,AIATs conduct activities of research and assessments on local specific agricultural technologies based on bio-physicaland socio-economic circumstances of the farmers. Before transferring the technology to the farmers, all technologiesshould be first evaluated in terms of their technical and financial feasibilities using the appropriate tools of analyses.This article offers some techniques of analyses to be used by researchers at the AIATs. Those techniques are PartialBudget analysis, Gains and Losses of technological change, Long Term Investment Analysis, Linear Programming,Regression, and Correlation.Key words : techniques of analyses, efficiency, feasibility, technology Aspek efisiensi usahatani merupakan pertimbangan utama dalam pengembangan suatu komoditas pertanian,karena di era globalisasi hanya produk yang dihasilkan secara efisien yang dapat bersaing di pasar bebas. Usahataniyang efisien hanya dapat dihasilkan melalui penerapan teknologi tepat guna. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian(BPTP) merupakan unit Badan Litbang di daerah yang bertugas menyediakan teknologi tepat guna bagi petani.Sebelum dikembangkan di tingkat petani, semua teknologi yang dikaji harus dievaluasi kelayakan teknis danfinansialnya. Tulisan ini menyajikan beberapa tehnik analisis dari yang sederhana sampai agak kompleks. Tehniktehnikyang disajikan adalah Analisis Anggaran Parsial, Analisis Evaluasi Perubahan Teknologi, Analisis KelayakanInvestasi Jangka Panjang, Analisis Linear Programing (LP), serta Analisis Regresi dan Korelasi. Melalui tulisan ini,diharapkan peneliti di BPTP dapat memanfaatkan tehnik-tehnik analisis ini untuk mengevaluasi kelayakan teknologiyang dikaji, sebelum dikembangkan pada tingkat usahatani yang lebih luas.Kata kunci : teknik analisis, efisiensi, kelayakan, teknologi
UJI APLIKASI ALAT BANTU DAN PENGERING SEDERHANA DALAM INDUSTRI PENGOLAHAN EMPING MELINJO SKALA RUMAH TANGGA Yuniarti ;; Thohir Zubaidi; Pudji Santoso
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n1.2005.p%p

Abstract

Emping melinjo agroindustry is one of the agribusiness activity which can gives big job opportunity for thewomen. Nevertheless, during doing their work, the women don’t care about their body position, so that there is noworking pleasure and they feel quick tired. Increasing their working pleasure can be done by using right supportingtools that can results the right body position. The main problem faced by the female labour in emping melinjoagroindustry during rainy season is lack of sunlight, consequently quality of the produce will drop sharply. The aimsof this assessment were 1) to determine supporting tools which can increase working pleasure of the female labour,and 2) to test the use of simple drier for increasing drying process efficiency in emping melinjo agroindustry duringrainy season. This assessment had been done in Tanggung and Siraman village, Blitar, from January 2001 toDecember 2001. In this assessment, the modified (introduction) supporting tools were tested by the female labour formaking emping melinjo, then the produces were compared to those using old supporting tools. Introductionsupporting tools which tested were wooden and stone hitting layer, suitable wooden chair, stone-hammer and ironhammer.Drier which tested was simple drier using kerosene as fuel source with low electrical energy. The parameterswhich observed were labour productivity, working pleasure and product quality. The result showed, that the rightsupporting tools which recommended to get working pleasure for female labour in emping melinjo agroindustry werestone hitting layer as high as 30 cm, wooden chair as high as 30 cm and wooden hammer with cylindrical iron at theirtip. These supporting tools resulted same productivity and working pleasure with those old supporting tools, althoughthese introduction tools were new for the female labour. The use of simple drier can saved time and place needed fordrying process of emping melinjo compared to those using sunlight. The use of this simple drier was recommended inrainy season because it can assured the continuity of production and increasing the absorption of working labour andincreasing the labour income.Key words : gnetum geremons, agroindustry, female labour, drier, BlttarAgroindustri emping melinjo merupakan salah satu kegiatan agribisnis yang memberi kesempatan kerja yangluas bagi wanita. Namun demikian, dalam melaksanakan pekerjaannya wanita cenderung tidak mempedulikan posisiatau caranya bekerja, sehingga tidak terasa adanya kenyamanan bekerja. Peningkatan kenyamanan bekerja tenagawanita dapat dilakukan dengan penggunaan alat bantu yang tepat sehingga posisi tubuh benar. Masalah utama yangdihadapi perajin emping melinjo pada waktu musim penghujan adalah kurangnya sinar matahari, sehinggapengeringan tidak dapat dilakukan secara optimal. Pengkajian ini dilakukan dengan tujuan 1) menentukan alat bantuyang dapat meningkatkan kenyamanan bekerja tenaga wanita, dan 2) menguji penggunaan alat pengering sederhanauntuk meningkatkan efisiensi proses pengeringan dalam pengolahan emping melinjo selama musim penghujan.Pengkajian dilakukan di Desa Tanggung dan Siraman, Blitar dari bulan Januari 2001 sampai dengan Desember 2001.Dalam pengkajian ini alat bantu yang telah dimodifikasi (alat bantu introduksi) diuji oleh tenaga kerja wanita untukmengolah emping melinjo, kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil dari penggunaan alat bantu semula. Alatbantu introduksi yang akan dicoba adalah alat bantu alas pemipih emping melinjo dari kayu dan batu, alas duduk darikayu serta pemipih emping melinjo dari batu dan palu besi. Alat pengering yang diuji adalah alat pengering sederhanaberbahan bakar minyak tanah dan berdaya listrik rendah. Parameter yang diamati meliputi produktivitas tenaga kerjawanita, kenyamanan bekerja tenaga wanita serta mutu hasil olah. Hasil pengkajian menunjukkan, bahwa alat bantu138Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.1, Maret 2005 : 137-149yang tepat dan dapat dianjurkan untuk mendapatkan kenyamanan bekerja bagi tenaga wanita dalam pengolahanemping melinjo adalah alat bantu berupa alas duduk setinggi 30 cm, pemipih melinjo dari palu kayu berujung besisilinder dan alas pemipih dari batu setinggi 30 cm. Alat pengering sederhana yang digunakan dapat menghemat waktudan tempat dalam pengolahan emping melinjo dibandingkan dengan penggunaan sinar matahari. Penggunaan alatpengering sederhana dianjurkan untuk musim penghujan karena dapat menjamin kontinuitas produksi danmeningkatkan penyerapan tenaga kerja serta keuntungan perajin.Kata kunci: emping melinjo, agroindustri, tenaga kerja wanita, alat pengering, Blitar
TEH INSTAN SEBAGAI ALTERNATIF PRODUK OLAHAN TEH HIJAU Heny Herawati; Agus Nurawan
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n1.2008.p%p

Abstract

Instant Tea as an Alternative Product of Green Tea Processing. Green tea has a number of functional values and one of the supremacies of Indonesian tea is it has sufficiently high catechin content. The high functional value of green tea is an opportunity for further developments. One method to increase the added value of green tea is by producing an alternative product namely instant tea. The research methodology used RAL with processing as the variable factor with two replicates. Based on the research results, it was found out that the instant tea produced from boiled tea leaves has the highest recovery, i.e. 717.60 g with the percentage of smooth particle 59% and rough particle 41%. The highest catechin content was found in boiled green tea amounting 1.30%. The addition of artificial sweetener was conducted in accordance with BPOM and CAC standards and based on the organoleptic test , instant tea with saccharin addition was more preferred by panelists. Key words: alternative, processing, instant tea   Teh hijau memiliki banyak nilai fungsional dan salah satu keunggulan teh Indonesia diantaranya memiliki kandungan katekin yang cukup tinggi. Tingginya nilai fungsional dari teh hijau tersebut, merupakan suatu peluang untuk pengembangan lebih lanjut. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah produk teh hijau, dengan melalui alternatif pembuatan produk lain yaitu teh instan. Metodologi penelitian dilakukan dengan menggunakan RAL dengan faktor peubah perlakuan pengolahan dengan menggunakan dua kali ulangan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil pucuk teh seduh memiliki hasil rendemen lebih tinggi yaitu sebesar 717,60 g dengan percentage butir halus sebesar 59% dan butir kasar sebesar 41%. Kadar katekin terbesar terdapat pada teh kering seduh sebesar 1,30% jika dibandingkan dengan perlakuan lain. Penambahan pemanis buatan dilakukan sesuai standar BPOM dan CAC dan berdasarkan hasil, uji organoleptik, teh instan dengan penambahan sakarin lebih diminati oleh panelis. Kata kunci: alternatif, pengolahan, teh instan
PENGKAJIAN USAHATANI PADI VARIETAS UNGGUL BARU MELALUI PENDEKATAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROVINSI JAMBI Julistia Bobihoe
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 3 (2009): November 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n3.2009.p%p

Abstract

Assessment on Paddy Farm Operations Using New Superior Varieties and ICM Approach in IrrigatedRice Fields in Jambi Province. Paddy is an important food crop commodity in Jambi Province so that thiscommodity becomes the priority in supporting the agriculture program in Tanjung Jabung Barat Regency. Thepaddy harvested area in 2007 was 17,272 ha with the total production of 62,842 tons. However, the productivityis still relatively low ( an average of 3,64 t/ha) compared to the study result executed by Jambi AIAT obtaining6 - 7 t/ha dried shelled rice (DSR) from new superior varieties. One of the causes of the low rice productivityin lowland is the usage of the same variety at a particular region for a long period of time, so that it is unableto produce higher yield as the genetic ability is limited. Therefore, new superior varieties (NSV) are needed toreplace the old superior varieties that have experienced lower productivity. The purpose of this study was to findout the productivity of paddy new superior varieties implementing integrated crop management (ICM) approach inirrigated rice fields in Tanjung Jabung Barat Regency in Jambi Province. The study activities utilizing new superiorpaddy varieties and implementing ICM approach in irrigated rice field were carried out in Sri Agung Village ofTungkal Ulu Sub-district of Tanjung Jabung Barat Regency in Jambi Province during the 2006/2007 plantingseason. The implementations of technology with ICM approach are: the utilizations of improved seeds, youngseed age, legowo planting system, organic materials, Urea fertilization by using Leaf Color Chart (LCC)) and pestmanagement. The study results indicate that Ciherang, Mekongga, and Tukan Balian varieties produced 5.35 t/ha,5.19 t/ha and 4.83 t/ha DSR respectively, while the yields from non ICM approach for Ciherang, Mekongga andTukad Balian varieties were 3.50 t/ha, 3.41 t/ha and 3.25 t/ha DSR respectively. From the analysis results on ricefarming operations implementing ICM approach, Ciherang, Mekongga and Tukad Balian varieties each providedRp.4,770,000 (R/C 1.80), Rp.4,486,000 (R/C 1.76), and Rp.3,832,572 (R/C 1.66) profits, while those from nonICM approach for the same varieties, Ciherang, Mekongga and Tukad Balian, provided Rp.2,790,715 (R/C 1.66),Rp.2,629,286 (R/C 1.63) and Rp.2,342,143 (R/C 1.56) respectively. The study results show that the introduction ofpaddy technology packages with ICM approach in Jambi Province can increase productivity around 1.5 - 2 t/ha DSR.Key words : Paddy, integrated crop management (ICM), Superior Variety, Irrigation RiceABSTRAKTanaman padi merupakan komoditas tanaman pangan penting di Provinsi Jambi sehingga komoditasini menjadi prioritas dalam menunjang program pertanian. Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, luas panen padisawah pada tahun 2007 adalah 17.272 ha dengan total produksi 62.842 t. Namun produktivitas tersebut masihrelatif rendah (rata-rata 3,64 t/ha) dibandingkan dengan hasil pengkajian yang dilaksanakan BPTP Jambi yangmemperoleh produksi padi varietas unggul baru 6 – 7 t/ha (GKP). Salah satu penyebab rendahnya produktivitas padi sawah tersebut adalah adanya penggunaan varietas yang sama pada suatu wilayah dengan kurun waktu yanglama, sehingga tidak mampu lagi berproduksi lebih tinggi karena kemampuan genetiknya terbatas. Oleh karenaitu perlu adanya varietas unggul baru (VUB), sebagai pengganti varietas unggul lama yang sudah mengalamipenurunan produktivitas. Tujuan pengkajian untuk melihat produksi varietas unggul baru (VUB) padi denganpendekatan PTT pada lahan sawah irigasi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. Kegiatanpengkajian usahatani padi varietas unggul baru (VUB) melalui pengembangan pengelolaan tanaman terpadu(PTT) di lahan sawah irigasi dilaksanakan di desa Sri Agung Kecamatan Tungkal Ulu Kabupaten Tanjung JabungBarat Provinsi Jambi pada MH 2006/2007. Penerapan teknologi dengan pendekatan PTT, yaitu: penggunaanbenih unggul, umur bibit muda, sistim tanam jajar legowo, penggunaan bahan organik, pemupukan Urea denganmenggunakan Bagan Warna Daun (BWD) serta pengendalian hama dan penyakit (PHT). Hasil pengkajianmenunjukkan bahwa varietas Ciherang menghasilkan gabah kering 5,35 t/ha, Mekongga 5,19 Tukad Balian4,83 t/ha sedangkan non PTT varietas Ciherang memperoleh hasil 3,50 t/ha GKG, Mekongga 3,41 t/ha danvarietas Tukad Balian 3,25 t/ha GKG. Dari hasil analisis usahatani dengan pendekatan PTT varietas Ciherang,Mekongga dan Tukad Balian masing-masing memperoleh keuntungan sebesar Rp. 4.770.000 (R/C 1,80), Rp.4.486.000 (R/C 1,76), dan Rp. 3.832.572 (R/C 1,66) sedangkan non PTT varietas Ciherang, Mekongga danTukad Balian masing-masing memperoleh keuntungan sebesar Rp. 2.790.715 (R/C 1,66), Rp. 2.629.286 (R/C1,63) dan 2.342.143 (R/C 1,56). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa introduksi paket teknologi padi sawahirigasi dengan pendekatan PTT di Provinsi Jambi dapat meningkatkan produktivitas sekitar 1,5 – 2 t/ha t/ha GKG.Kata kunci : Padi, PTT, Varietas Unggul, Sawah Irigasi  
KERAGAAN DAN ANALISIS FINANSIAL USAHATANI PADI (Kasus Desa Primatani, Kabupaten Karawang, Jawa Barat) Andriati ;; Wayan Sudana
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n2.2007.p%p

Abstract

The Indonesian average growth rate of low land rice harvested area during 2000-2005 was only 0.20% with the production rate about 0.83% per year. This condition was estimated has a correlation to the low growth rate of productivity and quality of innovation technology on rice farming system. Based on the issue, field assessment of low land rice farming system was conducted to analyze the labor and productivity performance and its financial analysis at Parakan and Karangjaya Villages, Tirtamulya Sub District, Karawang District, West Java Province. The assessment was done in two seasons, in wet season of 2004/2005 and in dry season of 2005 by interviewing some 60 randomized selected farmers, using structured questionnaires. The results of the assessment showed that men both for family labor and hired labors dominated the labor allocation on low land rice farming system. On wet season, the contribution of men to a family labor was 57 - 66% and hired labor was 58 - 72%, while on dry season the contribution were 60 - 75% and 58 - 73%. Type of fertilizer as an important variable in determining the ,low land rice productivity both on wet season (R2 = 0.9581) and dry season (R2 = 0.9542). On wet season, the farming system productivity used lfertilizer type yielded 3.5 ton harvesting dry grain/ha with an income about Rp.1.796.270,- (R/C = 1.54) and 4 fertilizers type produced 5.8 ton harvesting dry grain/ha with an income about Rp.3.485.530,- (R/C = 1.70). On dry season, productivity of each fertilizer applied were 3.2 ton harvesting dry grain/ha. with an income about Rp.1.287.177 (R/C = 1.41) and 5.4 dry grain/ha with an income around Rp.2.729.277,- (R/C = 1.58) respectively. Key words: rice farming system, productivity, income Laju perkembangan luas panen padi sawah kurun waktu 2000-2005 di Indonesia rata-rata per tahunnya hanya 0,20% dengan pertumbuhan produksi 0,83%. Melambatnya laju produksi padi ini diduga berkaitan dengan lambatnya laju pertumbuhan produktivitas per satuan luas lahan dan laju peningkatan mutu inovasi teknologi usahatani padi. Berdasarkan hal tersebut, telah dilakukan kajian yang bertujuan untuk menganalisis keragaan tingkat produktivitas dan tenaga kerja serta analisis finansial usahatani padi sawah di Desa Parakan dan Karangjaya, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Pengkajian dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap 60 petani yang dipilih secara acak dengan kuesioner terstruktur pada musim hujan 2004/2005 dan musim kemarau 2005. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa alokasi tenaga kerja pada usahatani padi sawah didominasi laki-laki, baik tenaga kerja dalam keluarga maupun upahan. Pada musim hujan, kontribusi tenaga kerja laki-laki dalam keluarga antara 57 - 66% dan upahan 58 - 72% sedangkan pada musim kemarau antara 60 - 75% dan 58 - 73%. Jenis pupuk merupakan variabel yang sangat menentukan produktivitas padi sawah balk pada musim hujan (R2 = 0,9581) maupun musim kemarau (R2 = 0,9542). Pada musim hujan, produktivitas usahatani padi dengan menggunakan 1 jenis pupuk sebesar 3,5 ton gabah kering panen/ha dengan pendapatan Rp.1.796.270 (R/C = 1,54) dan yang menggunakan 4 jenis pupuk sebesar 5,8 ton gabah kering panen/ha dengan pendapatan Rp.3.485.530 (R/C = 1,70). Pada musim kemarau, produktivitas usahatani padi dengan menggunakan 1 jenis pupuk sebesar 3,2 ton gabah kering panen/ha dengan pendapatan Rp.1.287.177 (R/C=1,41) dan yang menggunakan 4 jenis pupuk sebesar 5,4 ton gabah kering panen/ha dengan pendapatan Rp.2.729.277 (R/C=1,583). Kata kunci: usahatani padi, produktivitas, pendapatan
PENGARUH VARIETAS DAN JARAK TANAM PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH ASAL BIJI (TRUE SHALLOT SEEDS/TSS) DI KABUPATEN BANTAENG Maintang Intang Marzuki; Abdul Wahid Rauf; Asriyanti Ilyas; Sarintang Sarintang; Riswita Syamsuri
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n1.2019.p111-120

Abstract

The Influence of Varieties and Spacing on Shallot Cultivation from Seeds (True Shallot Seeds/TSS) in Bantaeng District.  Plant population density affects the competition between plants to growth factors so that it will have an impact on the yield of shallots from true shallots seed (TSS). This study aimed to determine the appropriate spacing for growth and tuber yield of some shallots varieties from TSS.  The study was carried out on the dry land of Bonto Mate’ne Village, Sinoa District, Bantaeng Regency – South Sulawesi, from October - December 2017. The experiment used a split plot design with three replications. Two spacing (J1 = 10x10 (cm), J2 = 15 x 15 (cm)) were placed as the main plot and three varieties (Trisula (V1), Bima Brebes (V2) and Tuk Tuk (V3)) as subplots. The results showed that the interaction between varieties and spacing did not affect the growth and yield of shallots from TSS. The differences in spacing showed a significant effect on the number of leaves aged 45 HST and the number of tillers aged 30 and 60 HST. The spacing of 10 x 10 (cm) showed a higher average growth with tuber production of 7.38 t/ha. Bima variety showed higher plant growth, number of leaves and number of tillers and significantly different from Tuk-Tuk and Trident and gave higher tuber yield (7.45 t / h) followed by Tuk-Tuk (7.10 t/h) and Trident varieties (7.03 t/h). cultivation of shallots from seeds was more beneficial compared to farming onions from tubers, but the two farms are still worth the effort with R/C > 1.Keywords: shallot, varieties, true shallot seeds, spacing  ABSTRAKKerapatan populasi tanaman mempengaruhi tingkat kompetisi antar tanaman terhadap faktor tumbuh sehingga akan berdampak pada hasil tanaman bawang merah asal true shallots seed (TSS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jarak tanam yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil umbi beberapa varietas bawang merah dari TSS.  Penelitian dilakukan pada lahan kering Desa Bonto Mate’ne, Kecamatan Sinoa, Kabupaten Bantaeng-Sulawesi Selatan, dari Oktober – Desember 2017. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Dua jarak tanam (J1= 10x 10 (cm), J2 = 15 x 15 (cm)) ditempatkan sebagai petak utama dan tiga varietas (Trisula (V1), Bima Brebes (V2) dan Tuk tuk (V3)) sebagai anak petak.  Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara varietas dan jarak tanam tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah asal TSS. Perbedaan jarak tanam menunjukkan pengaruh nyata pada jumlah daun umur 45 HST serta pada jumlah anakan umur 30 dan 60 HST. Jarak tanam 10 x 10 (cm) menunjukkan rerata pertumbuhan yang lebih tinggi dengan produksi umbi 7,38 t/ha. Varietas Bima menunjukkan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah anakan yang lebih tinggi, berbeda nyata dengan Tuk-tuk dan Trisula serta memberikan hasil umbi lebih tinggi (7,45 t/h) disusul oleh varietas Tuk-Tuk (7,10 t/h) dan Trisula (7,03 t/h). Usahatani bawang merah dari biji lebih menguntungkan di bandingkan dengan usahatani bawang merah dari umbi, namun kedua usahatani tersebut masih layak di usahakan dengan Nilai R/C >1.Kata kunci: bawang merah, varietas, true shallot seeds, jarak tanam
PENGARUH JENIS ALAT GILING DAN VARIETAS TERHADAP KUALITAS BERAS DI SULAWESI SELATAN Wanti Dewayani; A Darmawidah; Nasruddin Razak; Djafar Baco
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n2.2009.p%p

Abstract

The Effect Of Mill Types And Variety On Rice Quality In South Sulawesi. The aim of  this research was find out the effect of mill types and variety on rice quality in South Sulawesi. This assessment was conducted on the farmer’s land in Pinrang Regency on August to December 2005. Cultivation Technologies applied were recommended by  Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura South Sulawesi. Experiment was arranged in randomized complete block design with two factors. The first factor was three varieties such as Pepe, Cimelati and Cigeulis. The second factor was three types of mills such as portable, RMU (compact rice mill) and complete big rice mill. The result showed that percentage of total rice, head rice, brokens, and moisture content of head rice was influenced significantly by interaction between type of mill and variety. The highest of head rice rendemen was Cigeulis with portable mill (74,6%) and followed by Cimelati with portable mill (73,17%). Palatability characteristics after cooking was influenced significantly by type of mill only. The best rice eaten was complete big rice mill with rice cooked had characteristics as delicious, softly, white color, bright and aromatic of variety Pepe, Cigeulis and Cimelati.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis alat giling terhadap kualitas beras beberapa varietas padi di Sulawesi Selatan. Pengkajian dilaksanakan di lahan petani Kabupaten Pinrang pada musim tanam Agustus hingga Desember 2005. Teknologi budidaya yang digunakan adalah yang direkomendasikan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan Rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu varietas sebanyak 3 faktor adalah Pepe, Cimelati dan Cigeulis. Sedangkan faktor kedua adalah alat giling sebanyak 3 faktor yaitu portable dengan kapasitas giling 50 g, RMU (Rice milling Unit) kapasitas 100 kg dan gilingan besar milik PT Pertani (sistem kontinyu dengan paddy polisher) kapasitas minimal 250 kg. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa rendemen beras total, beras kepala, beras pecah, dan kadar air beras kepala dipengaruhi secara nyata oleh interaksi antara tipe alat giling dan varietas. Rendemen beras kepala tertinggi adalah varietas Cigeulis dengan gilingan kecil (74,6%)  diikuti varietas Cimelati dengan gilingan kecil (73,17%) dan varietas Cigeulis  dengan gilingan RMU (72,24%). Mutu  citarasa nasi dari semua varietas yang diuji hanya dipengaruhi secara nyata oleh alat giling. Cita rasa nasi yang disukai adalah yang digiling dengan penggilingan besar. Beberapa karakteristiknya adalah agak lembek, rasa enak, warna putih mengkilat, pulen, beraroma dan kelekatan sedang baik varietas Pepe, Cigeulis maupun Cimelati.  
USAHATANI PADI BERBASIS AGRIBISNIS DI SENTRA PRODUKSI KABUPATEN BANGGAI, SULAWESI TENGAH IGP. Sarasutha; Lintje Hutahaean; Rahmat H. Anasiru; Margaretha S.Lalu
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n1.2004.p%p

Abstract

Banggai District is one of rice producing centers in Central Sulawesi pointed toward the agribusiness baserice producing center in the Batui Integrated Economic Development Zone (Kapet). Share of agriculture sector inGRDP of Banggai district was 52.03 percent or higher than that in South Sulawesi GRDP (43.37%). However,agricultural resources in Banggai district have not been exploited optimally. Rice agribusiness system is expected toutilize resources integrally from input provision to marketing. The study is aimed at : (1) to get data and informationof rice farming agribusiness-oriented rice farming, (2) to understand roles of each sub system in agribusiness system,and (3) to assess effectiveness of rice policy on rice farmers’ income in Banggai district. PRA and survey methodswere implemented to collect primary data from farmers and traders, while secondary data were collected from relatedgovernment institutes. Data were analyzed using descriptive method and input-output analysis of farming system. Thestudy showed that (1) rice farming had both comparative and competitive advantages and was possible to become apotential commodity in Batui Kapet, (2) each subsystem of agribusiness system played important role, and (3) ricepolicy was effective as shown by strong price correlation between those of farm gate and traders or the farmers hadstrong bargaining position. To support agribusiness-base rice farming, it needs to enhance total agriculturalmachineries, such as tractors, threshers, and rice milling units (RMUs), managed by private sector through soft credit.Key words : rice, rice farming, agribusiness Kabupaten Banggai adalah salah satu wilayah penghasil padi di Sulawesi Tengah yang diarahkan menjadipusat produksi padi berbasis agribisnis dalam suatu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Batui.Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB kabupaten Banggai (52,03 %) lebih besar dibanding provinsi SulawesiTengah (43,37 %). Namun, potensi sumberdaya pertanian di Kabupaten Banggai belum dimanfaatkan secara optimal.Sistem agribisnis padi diharapkan dapat mengubah pemanfaatan sumberdaya secara parsial menjadi terpadu mulai daripenyiapan sarana produksi sampai dengan pemasaran hasil. Tujuan pengkajian ini adalah untuk: (1) mendapatkandata dan informasi usahatani padi berbasis agribisnis, (2) mengetahui peran setiap subsistem dalam sistem agribisnis,(3) mengetahui efektivitas kebijakan perberasan terhadap pendapatan petani di Kabupaten Banggai. PRA dan Survaidilakukan selama empat tahun untuk mengumpulkan data primer dari petani dan pedagang responden, sedangkan datasekunder diperoleh dari instansi terkait. Analisis data menggunakan cara deskriptif dan analisis input-outputusahatani. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa: (1) usahatani padi memiliki keunggulan komparatif dan kompetitifsehingga dapat menjadi komoditas unggulan di KAPET Batui, (2) peran setiap subsistem dalam sistem agribisniscukup baik, dan (3) kebijakan perberasan cukup efektif untuk meningkatkan pendapatan petani karena korelasi hargadi tingkat petani dengan harga di tingkat pengecer/konsumen dan posisi tawar petani cukup kuat. Implikasi kebijakanyang diperlukan di masa datang pada lokasi ini untuk mendukung usahatani padi berbasis agribisnis adalahmeningkatkan jumlah peralatan dan mesin pertanian untuk usahatani padi seperti traktor, alat perontok (thresher), danpenggilingan gabah atau rice milling unit (RMU) yang dikelola oleh swasta yang mendapat pinjaman atau kreditlunak.Kata kunci: padi, usahatani padi, agribisnis

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue