cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
EFISIENSI FAKTOR PRODUKSI LADA PADA POLA USAHATANI INTEGRASI DAN POLA TRADISIONAL DI SULAWESI TENGGARA Dewi Sahara; Sahardi ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n2.2005.p%p

Abstract

The study conducted on November to December 2003 was aimed at analyzing production factor efficiency ofpepper farmers in Southeast Sulawesi. Survey was carried out to collect data from 14 participating farmers whointegrated goats into pepper farms for three years and 16 traditional pepper farmers. The data were analyzed usingseparate linear regressions for both samples. Land area, nitrogen fertilizer, and organic fertilizer positively affectedpepper production of both groups of farmers. However, fungicide had negative effect on production. SP-36 fertilizeralso had negative effect on production of traditional farmers. Both groups of farmers were not efficient in allocatingproduction factors. Nitrogen fertilizer and fungicide were not efficiently applied by the participating farmers.Nitrogen, SP-36, and organic fertilizers, fungicide, and labor were not efficiently applied by the traditional farmers. Itis necessary to use production factors efficiently to achieve optimal pepper production.Key words: efficiency, production factors, integrated farming system, traditional farming system, pepper.Penelitian efisiensi penggunaan faktor produksi pada pola usahatani lada di Sulawesi Tenggara telahdilakukan pada bulan November hingga Desember 2003. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi perilaku petanidalam menggunakan input produksi sehingga diperoleh gambaran tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi.Penelitian menggunakan metode survai dan pengamatan partisipatif terhadap 14 petani yang telah mengintegrasikanternak kambing ke dalam usahatani lada selama tiga tahun dan 16 petani lada tradisional. Data dianalisismenggunakan regresi linear berganda untuk mengestimasi fungsi produksi. Analisis dilakukan secara terpisah antarapola usahatani integrasi tanaman lada dengan ternak kambing dan pola usahatani secara tradisional. Hasil analisisregresi fungsi produksi pada kedua pola usahatani tersebut menunjukkan bahwa luas lahan, pupuk anorganik N, danpupuk organik berpengaruh positif, sedangkan fungisida berpengaruh negatif terhadap produksi. Selain fungisida,pupuk SP-36 pada pola tradisional juga berpengaruh negatif. Dilihat dari tes efisiensi alokatif maka kedua polausahatani lada belum efisien secara ekonomis. Hal ini ditunjukkan oleh belum efisiennya penggunaan pupukanorganik N, dan berlebihnya fungisida pada pola integrasi, sedangkan pada pola tradisional faktor produksi yangbelum efisien adalah pupuk urea dan pupuk kandang, sedangkan pupuk SP-36, fungisida dan tenaga kerja sudah tidakefisien lagi penggunaannya. Oleh karena itu untuk mencapai produksi optimal dan keuntungan maksimal maka perludilakukan penambahan input produksi yang belum efisien dan menguranginya apabila sudah berlebih.Kata kunci : efisiensi, faktor produksi, pola integrasi, pola tradisional, lada
PENGENDALIAN TERPADU VEKTOR CVPD DAN HAMA PENYEBAB BUAH BURIK PADA JERUK SIEM DI KABUPATEN LUWU UTARA Warda ;; Muh. Asaad
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n2.2008.p%p

Abstract

Integrated Control of CVPD Vectors and Pests of Citrus Cv. Siem in North Luwu District. The production of citrus plants in South Sulawesi in 2004 decreased sharply (10.60 t/ha) due to the infection of CVPD disease. In the field, the spread of CVPD is faster due to the high population of the vector (D. citri). In addition to the low production, citrus fruit quality in that areas is also very low due to the plague of some pests especially thrips (S. citri). The objective of the assessment is to compare yield of citrus between farmers who implemented the integrated control of D. citri and S. citri and farmers who did not implement the integrated pest control. The Assessment was conducted at Pengkajoang Village, Luwu Utara Regency from January to December 2006 using a pair comparison design consisting of two treatments i.e. (1) Integrated Pest Management (IPM) and (2) Non-IPM. The results of the assessment indicated that the number of the fruit per tree was 72.09 fruits on IPM and 55.80 fruits on non-IPM. The vector population per flush per tree and predator population of Coccinelidae on IPM were 2.95 individuals and 2.10 individuals, whereas those on non-IPM were 3.55 and 0.90 respectively. The number of the fruit infected by thrips, S. citri per tree and the intensity of damage per fruit on IPM were 10.40 fruits and 5.95%, whereas those on non-IPM were 12.25 fruits and 7.88%. Farmers' income on IPM was higher (R/C 1,9) than that on non-IPM (1,5). Key words : Citrus cv. Siem, vector pest, integrated control Produksi jeruk siem di Sulawesi Selatan pada tahun 2004 menurun tajam (10,60 t/ha) disebabakan oleh penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration). Di lapang, serangan CVPD lebih cepat disebabkan oleh tingginya populasi vektor (Diaphorina citri). Selain produksi, mutu buah jeruk juga sangat rendah karena serangan hama penyebab buah burik khususnya thrips (Scirtothrips citri). Tujuan kajian ini adalah untuk membandingkan produkivitas jeruk siem antara petani yang menerapkan pengendalian terpadu vektor CVPD dan hama buah burik dengan petani yang tidak menerapkan pengendalian hama terpadu. Kajian dilakukan di desa Pengkajoang, Kabupaten Luwu Utara pada bulan Januari hingga Desember 2006, menggunakan rancangan petak berpasangan, dengan dua perlakuan yaitu (1) Pengendalian hama secara terpadu (PHT) dan (2) Pengendalian cara petani (non-PHT). Hasil kajian menunjukkan jumlah buah yang terbentuk adalah 72,09 buah pada perlakuan PHT dan 55,80 buah per pohon pada non-PHT. Populasi D. citri per kumpulan tunas per pohon dan populasi predator dari famili coccinelidae pada perlakuan PHT masing-masing 2,95 ekor dan 2,10 ekor, sementara pada perlakuan non-PHT masing-masing 3,55 ekor dan 0,90 ekor. Jumlah buah terserang hama trips, S. citri per pohon dan intensitas serangan per buah pada perlakuan PHT masing-masing 10,40 buah dan 5,95%, sementara pada perlakuan non-PHT masing-masing 12,25 buah dan 7,88%. Penerimaan petani yang menerapkan PHT lebila tinggi (R/C 1,9) dibanding yang tidak menerapkan PHT (R/C 1,5). Kata kunci : Jeruk Siem, vektor CVPD, hama burik, pengendalian terpadu
KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG BERSARI BEBAS DI LAHAN MASAM, LAMPUNG Dewi Rumbaina Mustikawati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n3.2007.p%p

Abstract

Growth and Yield Performance of Open-pollinated Maize Varieties in Dry Land Acid Soil, Lampung. To evaluate the supremacies and weaknesses of several maize open-pollinated varieties in acid soil, an experiment was conducted at Budi Lestari Village, Tanjung Bintang Sub- district, South Lampung from October 2005 to February 2006. The experiment was designed using a randomized block design with five treatments and five replications. The treatments were open-pollinated maize varieties namely Lamuru, Sukmaraga, Srikandi Kuning (QPM), Srikandi Putih (QPM) and a local variety as the standard. The plot size was 3 x 3 m. The plant space was 75 x 25 cm. Plants were fertilized with 300 kg Urea + 100 kg SP36 + 150 kg KC1 + 5 tons manure /ha. The performance observed were germination, plant height, yield and pest/disease incidences. Results showed that the best growth and yield performance produced by Sukmaraga variety, followed by the local and Lamuru varieties. The yield of Sukmaraga variety was 5.6 tons/ha, Local 5.02 tons/ha, Lamuru 4.73 tons/ha, Srikandi Putih 4.41 tons/ha and Srikandi Kuning 3.4 tons/ha. Srikandi Putih and Srikandi Kuning varieties were susceptible to downy mildew. The financial analysis showed that maize growing presented a B/C of 0.74 using Sukmaraga variety Key words: Maize, open-pollinated, performance, acid soil   Untuk mengevaluasi keunggulan dan kelemahan beberapa varietas jagung bersari bebas di lahan masam, dilakukan percobaan di Desa Budi Lestari Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan dari bulan Oktober 2005-Februari 2006. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan adalah jagung bersari bebas varietas Lamuru, Sukmaraga, Srikandi kuning (QPM), Srikandi putih (QPM) dan varietas lokal sebagai pembanding. Ukuran petak 3 x 3 m. Jarak tanam 75 x 25 cm. Tanaman dipupuk dengan 300 kg Urea + 100 kg SP36 + 150 kg KCl + 5 t pupuk kandang /ha. Keragaan yang diamati adalah daya tumbuh, tinggi tanaman, hasil dan serangan hama/penyakit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa keragaan pertumbuhan dan hash jagung yang terbaik adalah varietas Sukmaraga, diikuti oleh varietas lokal dan Lamuru. Hasil jagung varietas Sukmaraga 5,6 t/ha, Lokal 5,02 t/ha, Lamuru 4,73 t/ha, Srikandi putih 4,41 t/ha dan Srikandi kuning 3,4 t/ha. Varietas Srikandi putih dan Srikandi Kuning rentan terhadap penyakit bulai. Analisis finansial budidaya jagung memberikan nilai R/C 0,74. dengan menggunakan varietas Sukmaraga Kata kunci: Jagung, bersari bebas, keragaan, lahan masam.
KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMIS ALAT TANAM BIBIT PADI MANUAL (TRANSPLANTER) MODIFIKASI BALAI BESAR PENGEMBANGAN MEKANISASI PERTANIAN DI KABUPATEN SIJUNJUNG, SUMATERA BARAT Harnel .
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v15n1.2012.p%p

Abstract

Study of Technical and Economics for Manually Rice-Planting Modified by Indonesian Centre for Agricultural Engineering in Sijunjung District, West Sumatera. Planting activities of  rice seedlings usually need plenty of labor. On the other hand, the availability of  labor in rural areas is limited, because it began to shift out of agriculture. Therefore we need the rice seedling transplanter that can reduce the labor cost. This study aims to determine the performance of rice seedling transplanter, such as planting capacity and efficiency of investment and its economic analysis. The experiment was conducted in rice field of Nagari Muaro Bodi, Kecamatan IV Nagari, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, start from September 2011 to January 2012.  The transplanter modified by Research Institute of Agricultural Mechanization was tested in this experiment. The results showed that the average speed of the planting work was 0.1164 m/sec, the theoretical working capacity was 0.0419 ha/hour, effective working capacity of 0.0364 ha/hour, efficiency of 86.79%, the time lost of 4,2%, 4.04% of crop lodged. Transplanter basic costs was Rp 325.057/ha, while the basic costs of planting by the manual was Rp. 653.343/ha and the break-even point of transplanter of 13,46 ha/year.Kegiatan tanam dalam usahatani padi di lahan sawah membutuhkan cukup banyak tenaga kerja. Di sisi lain, ketersediaan tenaga kerja pertanian di pedesaan mulai terbatas karena bergeser ke luar sektor pertanian. Oleh karena itu diperlukan alat tanam padi yang dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan efisiensi biaya. Pengkajian ini dilaksanakan di lahan sawah sawah tadah hujan di Nagari Muaro Bodi, Kecamatan IV Nagari, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, mulai bulan September 2011 sampai Januari 2012. Pengkajian ini bertujuan mengetahui kinerja teknis dan ekonomis alat tanam bibit padi (transplanter) modifikasi Balai Besar Pengembangan Mekanisasi  dibandingkan dengan cara tanam petani. Pengamatan yang dilakukan meliputi kecepatan kerja penanaman, kapasitas kerja teoritis, kapasitas kerja efektif, efisiensi kerja alat tanam, waktu hilang pada saat penanaman dan persentase tanaman rebah serta melakukan analisis ekonomi alat yang meliputi biaya pokok penanaman dengan alat tanam bibit (transplanter) dan titik impas. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa rata - rata kecepatan kerja penanaman adalah 0,1164 m/detik, kapasitas kerja teoritis 0,0419 ha/jam, kapasitas kerja efektif 0,0364 ha/jam,efisiensi 86,79 %, waktu hilang 4,2 %, persentase tanaman rebah 4,04 %. Biaya pokok transplanter Rp 325.057/ha, sedangkan biaya pokok penanaman dengan cara manual adalah Rp 653.343/ha dan titik impas alat tanam bibit padi adalah 13,46 ha/tahun.  
PENGKAJIAN SISTEM USAHATANI DI LAHAN KERING DI KECAMATAN GEROKGAK KABUPATEN BULELENG, BALI Suprapto ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n1.2004.p%p

Abstract

This assessment was conducted in dry land of Patas village, Gerokgak Sub District, Buleleng District, from1999 to 2001. It began with Participatory Rural Appraisal approach, water reservoir demonstration and adaptiveresearch on reservoir water use for some corn varieties, and integrated farming system. The PRA approach showedthat farmers faced many constraints, such as lack of capital, lack of information on new technology, water shortageespecially in dry season, and unknown new corn varieties including easily-fallen stalks of Arjuna variety prior toharvest period. The results of adaptive research on reservoir water use on some corn varieties showed that Bismavariety produced high yield between 4.8 to 5 tons/ha of dried grain. Bisma variety also showed highest yield inadaptive research on integrated farming system with its yield of 4.650 kg/ha, profit of Rp 3,899,500, and B/C ratio of2.04. This farming system assessment was able to improve average farmers’ incomes from Rp 2,012,422/ha in 1999(before the assessment was carried out) to Rp 5,717,635/ha or an average increase of 184 percent. Bisma corn varietyhas been adopted by the farmers in almost all districts in Bali. The farmers in Bali Province also began adoptingtechnology water reservoir and its utilization for farming system on dry land.Key words : dry land, water reservoir, corn farming income Pengkajian dilaksanakan di lahan kering Desa Patas Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng dari tahun1999 sampai dengan 2001. Pengkajian dimulai dengan mengadakan study PRA (Participatory Rural Apraisal),pembuatan percontohan embung (water reservoir), Uji Adaptasi pemanfaatan air embung terhadap beberapa varietasJagung, pola tanam dan sistem usahatani terpadu. Hasil yang diperoleh dari PRA, banyak kendala-kendala yangdihadapi petani antara lain kurangnya permodalan,kurangnya informasi teknologi yang diterima petani, kekuranganair terutama pada musim kemarau dan kurang dikenalnya varietas- varietas baru termasuk kendala tanaman jagungvarietas Arjuna yang roboh (pada saat tanaman belum masak). Uji adaptasi pemanfaatan air embung terhadapbeberapa varietas jagung , Bisma memberikan hasil yang cukup tinggi berkisar 4,8 ton sampai dengan 5 ton / hapipilan kering. Pada uji adaptasi pola tanam jagung, pola introduksi dengan menggunakan varietas Bisma pada lahanpetani memberikan hasil dan keuntungan paling tinggi dibandingkan pola yang lain dengan hasil 4,650 kg/hakeuntungan Rp 3.899.500,- B/C rasio 2,04. Pengkajian sistem usahatani terpadu dapat meningkatkan pendapatanpetani dari pendapatan tahun 1999 (sebelum pengkajiaan dilakukan) Rp 2.012.422 menjadi Rp 5.717.635 ataumeningkat 184 persen. Pola tanam jagung Bisma telah diadopsi hampir di semua kabupaten di Bali. Pemanfaatan danpembuatan embung dan Sistem usahatani di lahan kering sudah mulai diadopsi oleh masyarakat di lahan kering diProvinsi Bali.Kata kunci : lahan kering, embung, pendapatan usahatani
KAJIAN PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN PADI SAWAH DI PINRANG SULAWESI SELATAN Arafah .
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v14n1.2011.p%p

Abstract

Study on Utilization of Organic Fertilizer in Paddy Rice Field Plant in Pinrang South Sulawesi. Study concerned in exploiting of organic fertilizer at rice crop to know organic fertilizer affectivity and efficiency at lowland rice in Marannu Village, Mattirobulu District, Pinrang South Sulawesi. Study started in May to September 2005 had executed at irrigation rice field farm property of farmer with treatment formation: (1) Manure, (2) Straw compost and (3) Treatment of farmer. The study showed that the highest grain yield was obtained at higher straw compost treatment of 800 kg/ha (11.11%) compared with the pattern of the farmers, and 640 kg/ha (8.69%) compared with manure treatment. Level of benefits obtained in the treatment of hay is higher IDR 580,600,- (7.42%) compared with the treatment of farmers and IDR 1,582,480,- (23.19%) compared with manure treatment.Telah dilakukan kajian tentang pemanfaatan kompos pupuk organik pada tanaman padi sawah dengan tujuan untuk mengetahui efisiensi dan efektivitas pupuk organik pada tanaman padi sawah di Desa Marannu, Kecamatan Mattirobulu, Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan dimulai pada bulan Mei sampai dengan September 2005. Kajian dilaksanakan pada lahan sawah irigasi milik petani dengan susunan perlakuan: (1) pupuk kandang, (2) kompos jerami, dan (3) pola petani. Hasil kajian menunjukkan bahwa hasil gabah tertinggi diperoleh pada perlakuan kompos jerami lebih tinggi 800 kg/ha (11,11%) dibanding dengan pola petani dan 640 kg/ha (8,69%) bila dibanding dengan perlakuan pupuk kandang. Tingkat keuntungan yang diperoleh pada perlakuan jerami lebih tinggi Rp.580.600 (7,42%) dibanding dengan perlakuan petani dan Rp.1.582.480 (23,19%) dibanding dengan perlakuan pupuk kandang.
KAJIAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL YANG BERPENGARUH TERHADAP ADOPSI INOVASI USAHA PERIKANAN LAUT DI DESA PANTAI SELATAN KABUPATEN BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Subagiyo ;; Rusidi ;; R. Sekarningsih
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n2.2005.p%p

Abstract

The study, conducted on August to November 2002, was intended to identify social factors affectingadoption of fisheries business innovation in the three coastal villages in Bantul Regency. Respondents of the studywere 20 boat-owners and 50 workers. The study applied survey method. Data was analyzed using descriptive statisticsand path analysis. Internal factors (individual characteristics, motivation, organizational involvement, impersonalcommunication, mass media exposures, cosmopolitan level), external factors (government policy, social system, andsocial norms), and fishermen’s perception on innovation (comparative advantage, compatibility, complexity, trialing,and observation) positively affected adoption of fisheries business innovation. Adoption was carried through agents ofchange. The social impact found was new business opportunity employing productive labor force which in turn it willimprove fishermen’s income.Key words: social factors, adoption, innovation, marine fisheries, BantulPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor sosial yang mempengaruhi adopsi inovasi usahaperikanan di desa pantai selatan Kabupaten Bantul, proses adopsi inovasi usaha perikanan serta dampak sosialnyaterhadap nelayan di desa kawasan pantai selatan Kabupaten Bantul. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustussampai dengan Nopember 2002 di tiga desa pantai selatan Kabupaten Bantul. Jumlah sampel sebanyak 70 respondenyang terdiri dari 20 responden nelayan pemilik dan 50 responden nelayan tekong/anak buah kapal. Penelitian inidilakukan dengan menggunakan survai. Untuk menganalisis data yang diperoleh digunakan analisis statistik deskriptifdan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal (karakteristik individu,motivasi, keterlibatan dalam organisasi, komunikasi impersonal, terpaan media massa, tingkat kosmopolitan), faktoreksternal (kebijakan pemerintah, sistem sosial dan norma-norma sosial), dan persepsi nelayan terhadap sifat-sifatinovasi (keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, triabilitas, dan observabilitas) berpengaruh positif terhadapadopsi inovasi usaha perikanan. Proses adopsi inovasi usaha perikanan pada masyarakat desa pantai selatanKabupaten Bantul mengikuti pola umum dalam proses adopsi inovasi yaitu melalui agen-agen perubahan (nelayanyang sudah terlebih dahulu mengadopsi usaha perikanan). Dampak sosial yang terjadi adalah terbukanya peluangusaha baru sehingga terserapnya tenaga kerja usia produktif yang pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatanpara petani/nelayan.Kata kunci : faktor-faktor sosial, adopsi inovasi, perikanan laut, Bantul
KAMAN EFEKTIVITAS PUPUK NPK (15-15-6-4) PADA PADI DI LAHAN SAWAH IRIGASI KABUPATEN MALANG M. Saeri, Suwono dan Amik Krismawati Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur JL Raya Karangploso Km 4 Malang, Jawa Timur M. Saeri; Suwono ;; Amik Krismawati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n3.2008.p%p

Abstract

The Effective Assessment of NPK Fertilizer for Irrigated rice in Malang District. The suboptimal rice production on irrigated rice in Malang was due to the low fertilization efficiency. The objective of the single fertilizer and compound fertilizer application study on irrigated rice was to understand the fertilization efficiencies on irrigated rice. The on-farm experiment was conducted at Sekarpuro Village, Pakis District, Malang Regency in the first dry season (April — July 2007) and the types of soil was Regosol with sand loam texture. The design of the experiment was a Randomized Completely Block Design (RCBD), with 13 treatments and 3 replications. Treatments to be tested were : T1 = without fertilizer, T2 = 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T3 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha, T4 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T5 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 200 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T6 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T7 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha, T8 = 200 kg Urea/ha + 100 kg SP-36/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha; T9 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T10 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T11 = 300 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 100 SP-36/ha + 75 kg KC1/ha, T12 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 200 kg NPK Phonska/ha. The data were analyzed using ANOVA and BNT. The results of combining macro inorganic fertilizers and alternative fertilizers showed that treatment (a) where 200 kg Urea combined with 100 kg ZA and 300 kg NPK (15-15-6-4) provided Cibogo dried grains yield with 6.28 t/ha with RC 3.17, thus increasing farmer's income to Rp.14,130,000, giving a profit of Rp.9,677,050, with treatment (b) where 200 kg of Urea combined with 100 kg ZA and 200 kg NPK Phonska provided Cibogo dried grains yield with as much as 6,05 t/ha with R/C 3.22 thus increasing farmer's income to Rp.13,612,500, giving a profit of Rp.9,380,700. From economical point of view by combining fertilizers gave the economic advantage with higher revenue cost ratio and profit compared to single fertilization system Key words alternative fettilizer, macro anorganic fertilizer, rice, rainfed rice Belum optimalnya produktivitas padi di lahan sawah, antara lain disebabkan oleh rendahnya efisiensi pemupukan. Kajian pemupukan alternatif pada padi sawah dilaksanakan di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang di Musim Kemarau I (April - Juli) tahun 2007, termasuk jenis tanah Regosol dengan tekstur tanah lempung berpasir. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dikaji adalah (1). Tanpa pemupukan, T1 = tanpa pupuk, T2 = 300 kg NPK(15-15-6-4)/ha, T3 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha, T4 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T5 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 200 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T6 = 100 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T7 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha, T8 = 200 kg Urea/ha + 100 kg SP-36/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha; T9 = 200 kg Urea.ha + 100 kg ZA/ha + 100 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T10 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, T11 = 300 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 100 SP-36/ha + 75 kg KC1/ha, T12 = 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 200 kg NPK Phonska/ha. Analisis data menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan uji BNT.Hasil pengkajian penggunaan pupuk makro anorganik yang dikombinasikan dengan pupuk alternatif menunjukkan bahwa (a). 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 300 kg NPK (15-15-6-4)/ha, memberikan hasil gabah kering giling (GKG) varietas Cibogo sebesar 6,28 t/ha dengan R/C 3,17 dan memberikan penerimaan usahatani sebesar Rp.14.130.000,- keuntungan sebesar Rp.9.677.050,- dan (b). 200 kg Urea/ha + 100 kg ZA/ha + 200 kg NPK Phonska/ha memberikan hasil gabah kering giling (GKG) varietas Cibogo sebesar 6,05 t/ha dengan R/C 3,22 dan memberikan penerimaan sebesar Rp.13.612.500,- serta keuntungan sebesar Rp. 9.380.700,-. Kata kunci : pupuk altematif, pupuk makro anorganik, padi, lahan sawah irigasi
PENGKAJIAN PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK KERING BUAH PALA (Stigmina myristicae (Stein.) Mand.-Sum. et Rifai) DI TIDORE KEPULAUAN Fredy Lala; M. Assagaf; Made J. Mejaya
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n3.2007.p%p

Abstract

Assessment on the Control of Dry Blight Nutmeg Fruit (Stigmina myristicae (Stein.) Mand.-Sum. et Rifai) in Tidore Island. North Maluku is one of the nutmeg central areas with its productivity of 0.25 t per hektar. Low productivity is due to the high invation of dry blight desease on nutmeg fruit of appoximately 50 percent. The assesment was aimed to optain the production technology to control effectively dry blight desease, increase production, and enhance farmer's income. The assessment was conducted at Jaya village, Tidore Kepulauan city, North Maluku Province from March to November 2006 by applying before and after application approach. The number of cooperator farmers were twelve people, each farmer have ten nutmeg tree which were productive and more than 15 years old trees. Introduction technology package were mechanism technis + cultural + chemical and were comparised to farmer's technology. The observation parameter is fresh fruits number, infected fruits number, desease intencity, nutmeg fruit production and farmer's response to technology. Technically and financially technology properness were measured using R/C, B/C and MBCR indicators. The result of the assessment was the introduction technology package to control effective dry blight desease of until 28.7 percent, increased nutmeg fruit production 76.1 percent and increased income 76.1 percent. Introduction technology package is proper at R/C = 7.75 and B/C = 6.75, and acceptanced and recommended proper at MBCR = 5.29 Farmer's response was positive and it gave a satisfying value on the introduction of technology package. Key words: Nutmeg fruit, control, dry blight Maluku Utara adalah salah satu daerah sentra tanaman pala dengan tingkat produktifitas 0,25 t/ha. Rendahnya produktifitas salah satunya disebabkan tingginya tingkat serangan penyakit busuk kering pada buah pala yaitu hingga 50%. Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan teknologi produksi yang efektif mengendalikan penyakit busuk kering, meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Kajian dilakukan di Kelurahan Jaya, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, dari bulan Maret sampai November 2006 dengan menggunakan pendekatan sebelum dan sesudah perlakuan. Jumlah petani kooperator 12 orang dan masing-masing memiliki 10 pohon pala yang produktif dan berumur diatas 15 tahun. Paket teknologi introduksi yaitu teknik mekanis + kultural + kimia dan sebagai pembanding yaitu teknologi petani. Parameter pengamatan adalah jumlah buah sehat, buah terserang penyakit, intensitas serangan penyakit, produksi buah pala dan respon petani terhadap teknologi. Kelayakan teknologi secara teknis dan finansial diukur dengan indikator R/C, B/C dan MBCR. Hasil pengkajian diperoleh paket teknologi introduksi yang efektif mengendalikan penyakit busuk kering buah pala hingga 28,7%, meningkatkan produksi buah pala sehat sebesar 76,1% dan menambah pendapatan petani sekitar 76,1%. Nilai R/C : 7,75 dan B/C : 6,75 menunjukkan bahwa introduksi paket teknologi layak untuk dilakukan sedangkan MBCR = 5,29 menunjukkan bahwa introduksi paket teknologi dapat diterima oleh petani dan layak direkomendasikan. Respon petani positif dan memberikan nilai yang memuaskan terhadap introduksi paket teknologi.Kata kunci : Pala, pengendalian, busuk kering
PENGARUH PUPUK HAYATI DAN PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN JAGUNG PADA LAHAN BEKAS TAMBANG BOUKSIT Azri Azri
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n2.2019.p238-248

Abstract

Penambangan merupakan salah satu sumber daya alam potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan daerah. Berbagai jenis tambang yaitu emas, timbel, besi, mangan, seng, bauksit yang tersebar di berbagai kabupaten di Kalimantan Barat. Untuk penambangan bauksit tersebar di Pontianak, Bengkayang, Sanggau, Landak, Ketapang, Sekadau, Kubu Raya dan Kayong Utara. Potensi penambangan bauksit di Kalimantan Barat mencapai 4.376.384,034 ton. Secara umum kegiatan penambangan adalah pembukaan hutan, erosi lapisan tanah, pengerukan dan penimbunan. Keberadaan penambangan bauksit berkontribusi besar terhadap laju degradasi lahan. Lahan bekas tambang dibiarkan sendiri dan menjadi lahan kritis dan kritis dalam bentuk lahan bekas tambang yang tidak dapat berfungsi dengan baik dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Penelitian ini dilakukan pada lahan reklamasi tambang bauksit dengan menggunakan pupuk hayati dan pupuk organik yang ramah lingkungan. Perlakuan diuji: 1), pupuk hayati : (M0 tanpa pupuk hayati, M1 (pupuk hayati), 2), bahan organik (B) terdiri dari B1 : 5 ton / ha pupuk kandang, B2 : 10 ton pupuk kandang) dan 3 ), bio urine (U) yaitu : tanpa bio urine (U0) dan U1: bio urine). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesuburan tanah di lokasi penelitian memiliki pH tanah dengan kandungan C-org, N, P, K, Ca dan Mg yang sangat rendah hingga sedang. Sedangkan kandungan logam berat (Pb, Cu, Cd, Hg, Karena, Mn, Fe dan Co) rendah kecuali Zn. Pupuk hayati, pupuk kandang dan bio urine secara signifikan meningkatkan pertumbuhan dan produksi jagung. Pupuk organik menghasilkan 3,16 ton / ha jagung dan pupuk hayati (2,92 / ton / ha).

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue