cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
KAJIAN KELEMBAGAAN DAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA USAHATANI KAKAO DI KABUPATEN POLEWALI MANDAR SULAWESI BARAT Muh. Taufik Taufik; Muhammad Sjafaruddin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n2.2008.p%p

Abstract

Institutional and Integrated Pest Management Assessment of Cacao Farming System in Polewali Mandar District, West Sulawesi. Up to the present, experts of cacao are still looking for the solution to increase cacao products and cacao farmers' income, among them are the efforts of reinforcing cacao institutes and conducting suggested farming system. For example, the application Integrated Pest Management (IPM), especially to overcome the pest of cacao fruit (PBK), mouse and rotten disease of fruit. The components of IPM consist of (a) covering cacao fruit; (b) increasing harvest frequency; (c) sanitation; (d) fertilization; (e) clipping and (f) developing black ant. The study was executed at countryside in Kurma Village, District of Mapilli, Sub-Province of Polewali Mandar, West-Sulawesi in 2007. The areas used for this study covering a 20 hectares of land involving 25 cacao farmers that were attacked by cacao pest (PBK), mouse, and fruit rotten disease. The study includes three important aspects such as: (1) the institutes of cacao production farming, (2) the evaluation and verification of IPM at production scale, and (3) farmers' responSes. The research study indicated that institute of cacao production farming District of Mapilli, Sub-Province of Polewali Mandar was running towards the expected goal, because the production and maintenance of record data has been done. The production facilities and marketing of the institute needs guidance, because the price differences received by the farmers are still high ranging from 19% to 22%. The application of the IPM components package on farmers' land in technical and economical terms should be done considering that the income level of IPM farmers is higher compared to non-IPM farmers (i.e. Rp.13.376.180 and Rp.9.115.000 respectively). Key words: Institute, integrated pest management, cacao farming system Sampai saat ini, para pakar kakao masih mencari solusi untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani kakao. Upaya penguatan kelembagaan pada usahatani kakao dan menerapkan sistem budidaya yang dianjurkan. Penerapan paket Pengendalian Hama Terpadu (PHT), terutama untuk mengatasi hama Pengerek Buah Kakao (PBK), tikus dan penyakit busuk buah. Komponen PHT yang diterapkan adalah (a) penyarungan buah kakao; (b) panen sering; (c) sanitasi; (d) pemupukan; (e) pemangkasan dan (f) pengembangan semut hitam. Pengkajian dilaksanakan di Desa Kurma, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tahun 2007. Areal yang digunakan adalah pertanaman kakao yang terserang Hama PBK, tikus, dan penyakit busuk buah, dilakukan pada lahan petani dengan luas 20 ha, melibatkan 25 petani. Pengkajian mencakup tiga aspek utama yaitu: (1) Kelembagaan usahatani kakao, (2) Evaluasi dan verifikasi rakitan paket PHT pada skala produksi, dan (3) respon petani. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa kelembagaan produksi usahatani kakao di Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar sudah berjalan sesuai harapan, karena sudah melakukan kegiatan produksi dan pencatatan data hasil produksi. Kelembagaan sarana produksi dan pemasaran masih pembinaan, karena perbedaan harga yang diterima petani masih berkisar 19-22%. Penerapan komponen Paket PHT kakao di Lahan petani layak untuk dilaksanakan, baik secara teknis maupun secara ekonomis, dengan tingkat pendapatn petani pelaksana paket PHT mencapai Rp.13.376.180 jauh lebih besar dibandingkan dengan petani non PHT yaitu Rp.9.115.000. Kata kunci: Kelembagaan, pengendalian hama terpadu, usahatani kakao
PENGARUH PENYULUHAN DAN DUKUNGAN SARANA PRASARANA TERHADAP KINERJA AGRIBISNIS PADI DI JAWA BARAT Trisna Subarna
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n2.2007.p%p

Abstract

The effect of service extension and supporting facilities on the performance of rice agribusiness in West Java Province. The service extension and farming support facilities in agricultural farming play an important role in agribusiness activities. This activity aimed to increase the productivity of integrated rice farming in West Java, reported by these two variables mentioned above have given good contribution to the performance of farmers' group in increasing their productivities. However, both variables have not yet performed optimally in terms of the agribusiness performance. To develop agribusiness in West Java there are three approaches to be chosen includes increasing extension activity, improving supported facilities or both. The aim of this assessment is to investigate the effect of extension service on facilities an infrastructure supported for agricultural farming to the performance of farmers' group in conducting their agribusiness. The assessment was conducted using a survey method in districts of Kuningan, Subang, and Karawang West Java Province from August — October 2006. The parameters that being watched are the performance of agribusiness, extension service activity and facilities support performance, the data were analyzed by path analysis. The results of this study showed:. (1) the activity of farmers guiding through extension service and providing production facilities could improve farmer's productivity, farming efficiency, and their income. (2) the extension service and facilities supports have positive effect on the agribusiness performance. (3) the extension service gave a higher contribution compared to facilities support, this means that farmers guiding plays a better role than the provision of facilities. Key words: agribusiness, exstention service, facilities Penyuluhan dan sarana prasarana usahatani memegang peranan penting dalam pelaksanaan agribisnis padi di Jawa Barat. Pada kegiatan Proyek Peningkatan Produktuvitas Padi Terpadu (P3T) di Jawa Barat dilaporkan kegiatan kedua aspek tersebut dapat meningkatkan produktivitas padi, tetapi belum meningkatkan kinerja kelompok tani dalam agribisnis padi. Untuk pelaksanaan agribisnis di Jawa Barat terdapat tiga pilihan yang perlu ditingkatkan apakah pembinaan petani melalui penyuluhan atau dukungan sarana prasarana kepada petani atau keduanya. Pengkajian ditujukan untuk mengetahui pengaruh penyuluhan dan dukungan sarana dalam pelaksanaan agribisnis. Pengkajian dilaksanakan di kabupaten Kuningan, Subang dan Karawang, pada bulan Agustus sampai Oktober 2006 dengan menggunakan metoda survey. Parameter yang diuji adalah kinerja kelompok tani dalam pelaksanaan agribisnis, aktivitas penyuluhan dan kesesuaian sarana dan prasarana yang diberikan pemerintah bagi petani, analisis data dilakukan dengan analisis jalur (Path Analysis). Hasil pengkajian menunjukkan; (1) Kegiatan penyuluhan dan dukungan sarana prasarana telah meningkatkan produktivitas padi. (2) Penyuluhan dan dukungan sarana prasarana secara bersama-sama berpenganth terhadap kinerja agribisnis. (3) Pengaruh penyuluhan memberikan kontribusi yang lebih besar dibanding dengan dukungan sarana prasarana. Keadaan ini menunjukkan bahwa pembinaan kepada petani lebih berperan dibanding dengan dukungan pemerintah berupa sarana produksi. Kata kunci: agribisnis, penyuluhan, sarana
KELAYAKAN TEKNOLOGI PAKAN FERMENTASI PADA PENGGEMUKKAN DOMBA BATUR Afrizal Malik; Muryanto Muryanto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n2.2019.p156-164

Abstract

Kajian bertujuan untuk mengetahui kelayakan ekonomis dan teknis teknologi pakan yang difermentasi menggunakan Mikro Organisme Lokal (MOL) pada penggemukkan domba batur.  Pengujian dilaksanakan di kelompok tani Manunggal Mandiri Desa Batur, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah pada bulan Mei-September 2016. Kegiatan melibatkan peternak sebagai kooperator menggunakan 21 ekor domba Batur jantan umur 6 bulan dengan bobot awal 25-30 kg,  dikelompokkan menjadi 3 perlakuan masing-masing mendapat pakan lengkap yang mengandung MOL 0,3 %, 0,5 % dan 0,7 %. Sebagai kontrol dilakukan pengamatan terhadap 7 ekor domba yang dipelihara peternak (non kooperator). Pengamatan dilakukan setiap 10 hari dalam kurun waktu penggemukkan 3 bulan (90 hari). Bahan untuk membuat MOL adalah rumen domba batur, daun carica, bekatul padi, tetes tebu dan air.  Data yang dikumpulkan meliputi input produksi ternak yaitu: pakan, tenaga kerja, sewa kandang, obat-obatan, dan data output produksi berupa pertambahan bobot badan, kotoran, bulu domba dan urine.  Data input dan output  dinilai dalam bentuk rupiah. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif (B/C dan MBCR).  Dari hasil kajian  penggunaan pakan lengkap yang difermentasi dengan  MOL 0,7% pada penggemukkan domba batur yang terbaik dengan nilai keuntungan Rp 2.863.640 (B/C 2,16) dan nilai MBCR 5,15, sedangkan pola petani Rp 634.880 (B/C 1,23).  Teknologi pakan difermentasi menggunakan MOL untuk pengemukan domba batur layak dikembangkan. 
ANALISIS RESPON PENAWARAN PETANI KENTANG DI KECAMATAN KAYU ARO KABUPATEN KERINCI Edison .; Mukhlis .
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v15n1.2012.p%p

Abstract

Supply Response Analysis of Potato Farmers in the Kayu Aro Subdistrict, Kerinci Regency. In Otonomi Daerah (OTDA) era, Regional government efforts to look for regional potency in order to increaseRegional Income. Potato in Kerinci Regency has given a significant contribution in Kerinci’s PDRB. Supply response and input demand by potatoes’farmers in Kayu Aro District Kerinci Regency was estimated by using profit function. The objective of this study is to analyze supply response on potatoes’farmers. Research was conducted in Kayu Aro District Kerinci Regency from August to December 2007. About 65 potato farmers were collected by simple random sampling in three villages Kayu Aro District. The result showed that farmers do maximize their profit in short term and response to price changing efficiently. Potato’s supply elasticity with considering its price was closed to one (Sbi = 0,983)Pada masa Otonomi Daerah (OTDA), Pemerintah Daerah berupaya untuk mencari potensi daerah dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kentang di Kabupaten Kerinci telah memberikan kontribusi yang signifikan pada peningkatan PDRB daerah Kerinci. Respon penawaran dan permintaan input oleh petani yang mengusahakan kentang di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci diestimasi menggunakan analisis fungsi keuntungan. Tujuan studi ini untuk menganalisis respon penawaran petani kentang. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2007. Sebanyak 65 petani kentang diambil secara acak di tiga desa Kecamatan Kayu Aro. Hasil memperlihatkan bahwa petani benar-benar memaksimumkan keuntungannya dalam jangka pendek dan respon terhadap perubahan harga secara efisien. Elastisitas penawaran kentang dengan mempertimbangkan harganya sendiri mendekati satu (Sbi = 0,983).
PERSPEKTIF PENGEMBANGAN AGRIBISNIS MARKISA DI KABUPATEN SOLOK, SUMATRA BARAT Buharman B; Yanti Mala; Edial Afdi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n1.2004.p%p

Abstract

Sweet passion fruit (Passiflora liguralis) plants grow well in Solok district highland. Productive area of theplantation is 3,825 ha with total production of 49,577 tons or equal to Rp 81,802 billions. Passion fruit agribusinessdevelopment in the future considers four aspects of (1) production technology, (2) post harvest, (3) financialfeasibility, and (4) land potential for development. First, two high-yielding varieties of Gumanti and Super Solindahave better characteristics of higher yields, size and quality of fruits, shelf life, and higher selling prices compared tothe variety of ordinary violet flower commonly planted by the farmers. Second, the fruits not qualified for fresh fruitsat household scale could be processed into juice and syrup. Both varieties with certain harvested maturity level andpackaging have longer shelf life for long distance transportation. Third, the farm business was financially feasible asshown by NPV of Rp 26,977,900, B/C ratio of 3.46, and IRR of 40 percent with economic plantation period of 10years. Fourth, there are 10,218 ha of land available for expansion of the plantation in the two main producing subdistricts. In addition, the farmers have planted passion fruit plants in some sub districts in the other highland areas. Allof those aspects are promising, but the policy makers have to pay attention to the aspects of competitive advantageand land conservation. Integrating farm practice improvement, product processing, market enhancement, and landexpansion becomes very strategic in passion fruit agribusiness development as part of regional development.Key words: passion fruit, agribusiness development Markisa manis berkembang baik di wilayah dataran tinggi Kabupaten Solok. Secara ekonomis dari luasareal produktif 3.825 ha dengan produksi 49.577 ton, setara Rp 81.802 milyar/tahun. Perspektif peluangpengembangan agribisnis markisa ke depan, dapat ditinjau dari empat aspek, yaitu: (1) teknologi produksi (2) pascapanen, (3) kelayakan finansial, dan (4) potensi lahan untuk pengembangan. Pertama, dua varietas unggul Gumantidan Super Solinda mempunyai keunggulan berupa daya hasil, ukuran dan mutu buah, daya simpan, serta harga juallebih tinggi dibanding varietas bunga ungu biasa yang banyak diusahakan petani. Selain varietas, teknik pembibitan,dan perbaikan budidaya telah dilakukan. Kedua, untuk buah yang tidak memenuhi syarat sebagai buah meja, dalamskala rumah tangga dapat diolah menjadi jus dan sirup, sedangkan untuk transportasi jarak jauh pada tingkatkematangan panen dan kemasan tertentu daya tahan bisa lebih lama. Ketiga, dari aspek usahatani, budidaya yangdilakukan petani layak secara finansial dengan kriteria NVP=Rp 26.977.900; B/C=3,46; dan IRR>40% dengan umurekonomis 10 tahun. Keempat, pada dua kecamatan sentra produksi utama, terdapat potensi lahan untuk pengembanganseluas 10.218 ha. Selain itu, markisa juga telah dikembangkan oleh masyarakat pada beberapa kecamatan wilayahdataran tinggi lainnya. Semua aspek tersebut sangat mendukung, namun demikian tingkat keunggulan kompetitif sertaaspek konservasi lahan untuk pengembangan perlu mendapat perhatian. Keterpaduan dalam perbaikan budidaya,pengolahan produk, perluasan pasar dan areal menjadi sangat strategis untuk pengembangan agribisnis markisasebagai bagian dari pengembangan wilayah.Kata kunci : markisa, pengembangan, agribisnis
PROSPEK PENGEMBANGAN MODEL INDUSTRI PERBENIHAN PADI RAKYAT DARI SISI KELAYAKAN USAHA: KASUS PADA PERBENIHAN PADI DI NUSA TENGGARA BARAT Ade Supriatna; Azmi Dhalimi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n1.2010.p%p

Abstract

Development Prospect of The Farming Feasibility of Rice Seed Industry Model: A Case of RiceSeed in West Nusa Tenggara. This study was conducted in 2008 and took place in NTB. The objectives ofthe study were: (a) to describe the model of Rural Paddy Seed Industry, (b) to describe the seed production andits distribution and (iii) to evaluate the economic feasibility of seed industry. The survey method was used inthe study, where primary data were collected from 5 farmers of seed grower and 25 rice farmers. Secondarydata were collected from the Assessment Institute for Agriculture Technology (AIAT)-NTB, Distric AgricultureOffice, Indonesia Statistics Bureau, and the Institutes of Agricultural Research. Results showed that AIATdeveloped a Model of the Rural Paddy Seed Industry. The first step was to learn farmer’s preference to variousVUB to select some potential varieties to be developed in NTB area. The BS seed was purchased from theIndonesian Center for Rice Research (ICRR) and multiplied through cooperation by seed grower managed byAIAT to produce FS and SS. They merged into a Rural Paddy Seed Institution which spread in the all regencyof NTB. During 2007, AIAT had produced the SS seed of 3 ,900 kg consisted of Cigeulis (43.0%), Mekongga(20.0%), Situ Bagendit ( 2.8%), Cibogo ( 2.2%), Ciherang ( .2%) and IR.66 (0.5%). The seed distributionfrom AIAT to the farmer’s level was channeled mostly through tender to support the National Program forRice Production (P2BN). The seeds industry was feasible economically, gave net benefit of Rp. 4.084.600,-/ha/season with B/C of ,59. Development the model of seed industry have to pay attention to some aspects,which are: construction and control, quality improvement, reffer to consumer demand, and marketing aspect.These aspects are relate each other and have equal importance. Thus they should be conducted simultaneously.Key words: Development, padi seed industry Pengkajian dilaksanakan tahun 2008 di Propinsi NTB dengan tujuan; (a) mengetahui Model IndustriPenangkaran Benih Padi Rakyat, (b) mengetahui perkembangan produksi dan distribusi benih yang dihasilkan,dan (c) mempelajari kelayakan ekonomi usaha penangkaran benih. Pengkajian menggunakan metode survey. Dataprimer dikumpulkan dari 5 petani penangkar benih dan 25 petani padi konsumsi. Data sekunder dikumpulkan dariBPTP, Dinas Pertanian, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), Balai Benih Induk (BBI), Badan PusatStatistik (BPS) dan lembaga Penelitian Pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengembanganindustri perbenihan, BPTP mengembangkan Model Industri Perbenihan Padi Rakyat (MIP2R). Langkah pertamamempelajari preferensi petani terhadap berbagai VUB untuk menyeleksi jenis-jenis varietas yang potensialdikembangkan. Selanjutnya benih BS dibeli dari BB Padi dan diperbanyak melalui kerjasama dengan penangkarbenih binaan untuk menghasilkan benih FS dan kelas SS. Penangkar binaan tersebut tergabung dalam KelembagaanPerbenihan Padi Pedesaan (KP3) yang tersebar di seluruh kabupaten di NTB. Selama tahun 2007, telah diproduksiProspek Pengembangan Model Industri Perbenihan Padi Rakyat dari Sisi Kelayakan Usaha :Kasus pada Perbenihan Padi diNusa Tenggara Barat (Ade Supriatna dan Azmi Dhalimi)30total benih VUB kelas SS sebanyak 3 .900 kg terdiri atas Varietas Cigeulis (43,0%), Mekongga (20,0%), SituBagendit ( 2,8%), Cibogo ( 2,2%), Ciherang ( ,2%), dan IR.66 (0,5%). Distribusi benih sumber dari BPTP sampaike petani disalurkan paling banyak melalui penjualan lewat tender untuk kebutuhan program P2BN dan penjualanlangsung ke petani. Usaha perbenihan termasuk layak secara ekonomi, memperoleh pendapatan bersih Rp. 4.084.600/ha dengan nilai BC Ratio ,59. Pengembangan model industri perbenihan ke depan harus memperhatikan beberapaaspek, yaitu: pembinaan dan pengawalan, peningkatan kualitas, sesuai dengan permintaan pasar, dan aspekpemasaran. Keempat aspek ini saling mengkait dan sama pentingnya, serta sebaiknya dilakukan secara simultan.Kata kunci: Pengembangan, penangkaran benih padi
PENGKAJIAN PENGEMBANGAN MODEL AGRIBISNIS JAGUNG PADA LAHAN KERING DI KABUPATEN CIAMIS Saeful Bachrein
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n1.2008.p%p

Abstract

Study on the Development of Maize Agribusiness Model in Up Land in Ciamis Regency. This study was conducted at Margaharja Village, Sub-district, Ciamis Regency from January to December, 2007. The objectives of the study were: (1) to design the formulation and development of agribusiness model system for village industry by implementing various technological and institutional innovations, and (2) to obtain feedback for the improvement of the model system and agribusiness activities as materials for program perfection. The activities were conducted by using "Before" and "After" approaches, and "Without" and "With" the introduction of technological and institutional innovations. The data observed comprise farm enterprise profile, the local technology performance compared with the technological innovations developed, business efficiency, the adoption of technological innovations, and institutional performance. Among the results of the study were: (1) The improvement of extension intensity and farmer group/ farmer group union dynamism showed by: (a) managing consolidation under the management of k farmer group/ farmer group union; (b) regular farmer group/ farmer group union meetings; (c) Problems in the provision of agricultural product infrastructure and marketing the harvested corn can be solved by the collaboration of farmer group union CV Karya Mulya and PT Petro Kimia, Gresik; (d) the availability of agribusiness clinics with various latest dissemination facilities for agricultural technology innovations and adequate meeting room; and (e) the availability if dissemination materials such as leaflets, technical guidelines, posters, scientific publications, and visual aids; and (2) From the technological exhibition it was obvious that supreme maize varieties , especially Sukmaraga, was demanded by most of farmers, hence they will be implemented widely in the 2007/2008 wet season. However, the planting of Sukmaraga variety cannot be realized by farmers as the seeds were not available when required. Key words: Agribusiness, village industry, technological innovations, and institutional innovations Pengkajian pengembangan model agribisnis jagung di lahan kering telah dilaksanakan di Desa Margaharja, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis pada bulan Januari hingga Desember, 2007. Tujuan dari pengkajian ini adalah: (1) Merancang pembentukan dan pengembangan percontohan/model sistem agribisnis berbasis industri pedesaan melalui penerapan berbagai inovasi teknologi dan kelembagaan, dan (2) Mendapatkan umpan balik perbaikan model percontohan sistem dan usaha agribisnis sebagai bahan penyempurnaan program. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan "Sebelum" dan "Sesudah", serta "Tanpa" dan "Dengan" introduksi inovasi teknologi dan kelembagaan. Data yang diamati meliputi profil usahatani, kinerja teknologi setempat dibandingkan dengan inovasi teknologi yang dikembangkan, efisiensi usaha, adopsi inovasi teknologi, dan kinerja kelembagaan. Basil pengkajian, antara lain: (1) Peningkatan intensitas penyuluhan dan dinamika kelompoktani/gapoktan yang ditunjukkan, antara lain: (a) konsolidasi pengelolaan di bawah manajemen kelompoktani/gapoktan; (b) pertemuan kelompoktani/ gapoktan secara berkala; (c) Permasalahan dalam penyediaan sarana produksi pertanian dan pemasaran hasil panen jagung dapat teratasi melalui kemitraan gapoktan dengan CV Karya Mulya dan PT Petro Kimia, Gresik; (d) ketersediaan klinik agribisnis dengan Pengkajian Pengembangan Model Agribisnis Jagung pada Lahan Kering di Kabupaten Ciamis (Saeful Bachrein)berbagai fasilitas diseminasi inovasi teknologi pertanian terkini dan ruang pertemuan yang memadai; dan (e) ketersediaan materi diseminasi seperti leaflet, petunjuk teknis, poster, publikasi ilmiah, dan bahan peraga; dan (2) Dari basil gelar teknologi ternyata varietas unggul jagung, khususnya varietas Sukmaraga, sangat diminati sebagian besar petani sehingga akan diimplementasikan secara luas pada MH 2007/2008. Namun demikian, penanaman secara luas jagung varietas Sukmaraga tersebut tidak dapat dilaksanakan oleh petani karena benih tidak tersedia pada saat diperlukan. Kata kunci: Agribisnis, industri pedesaan, Inovasi teknologi, dan inovasi kelembagaan
KERAGAAN DAN ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN PERIKANAN UMUM BERDASARKAN ZONA AGROEKOLOGI DI KABUPATEN BUOL, SULAWESI TENGAH T.P. Rumayar; Agustinus N Kairupan; Lintje Hutahaean; Femmi N.F; Syafruddin ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

The purpose of this research is giving data of information potency, biophysic condition, and social economy.To specify the pre-eminent commodity of fishery in Buol regency, Central Sulawesi based on agro ecology zone.Verification arrangement of agro ecology zone derived from expert system concept which is developed by Center ofResearch of Land and Agro Climate. The implementation of agro ecology zone is divided into four activities such as :preparation, data interpretation into expert system, overlay between administrating and land resource map, andverification on farm. The analysis result shows agro ecology zone for fishery development is zone VI (covers 25.083ha or 6,32%) from the total of Buol regency spread out in every subdistrict. The pre-eminent commodity of fishery isshrimp pond located in Momunu sub district.Key words : fisheries development, resource management, ponds, Central Sulawesi Tujuan penelitian ini untuk memberikan data dan informasi tentang potensi, kondisi biofisik dan sosialekonomi serta menetapkan komoditas unggulan perikanan Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkanzona agroekologi. Penyusunan keragaaan zona agroekologi mengacu pada konsep Sistem Pakar (Expert System), yangdikembangkan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Pelaksanaan penyusunan peta zona agroekologi terbagiatas empat tahapan kegiatan yaitu : persiapan, interpretasi data ke dalam sistem pakar, tumpang tepat (overlay) antarpeta administrasi dan peta sumberdaya lahan serta verifikasi lapang. Dari hasil analisis terlihat bahwa zonasiagroekologi yang berpotensi untuk pengembangan komoditas perikanan berada pada zona VI dengan luas wilayah25.083 ha (6,32%) dari total luas seluruh wilayah Kabupaten Buol yang tersebar di tiap kecamatan. Komoditasunggulan perikanan yaitu tambak udang, berada di wilayah Kecamatan Momunu.Kata kunci : pembangunan perikanan, manajemen sumberdaya, tambak, Sulawesi Tengah
KAJIAN TEKNOLOGI ENZYM REVOLUSI AGRO DAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI SULAWESI SELATAN Arafah ;; Sahardi ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n1.2007.p%p

Abstract

Technological study of agro-enzyme revolution and integrated crop management in South Sulawesi was carried out to know the effectiveness and efficiency of Enzyme Revolutionize Agro and PTT as opposed to the increase of paddy products and farmers' earnings. This study was executed in Tabaringan Village, Sub District Galesong Utara, and District Takalar from the plantation date 16 May to the harvest date 11 August 2006. This study was done on farmers' farms with the following treatment formula: (1) Enzyme, (2) PTT and (3) Non Enzyme. The results of the study indicated that the highest production of rice was obtained at the PTT treatment which was equal to 8.800 kg/ha compared to Enzyme treatment and Non Enzyme treatment which produced only 7.040 kg/ha. The highest production cost obtained at Enzyme treatment that was equal to Rp.8.526.224,- followed by PTT treatment that was equal to Rp.5.850.280,- and the lowest at Non-Enzyme treatment which yielded Rp.5.551.224,-. The efficiency of production cost at PTT treatment was 31.38% higher compared to Enzyme treatment. The highest farmers' earnings was obtained at PTT treatment that was equal to Rp.9.989.720,-/ha, while at Enzyme and non Enzyme treatments reached Rp.4.145.776,- and Rp.7.120.776,- /ha respectively. Therefore, the provision of Enzyme it self in form of bio-culture cannot improve the paddy productions and further does not give any benefit for the farmers. Keywords: enzym, 1CM, productivity, farmer income   Kajian teknologi enzym revolusi agro dan pengelolaan tanaman terpadu di Sulawesi Selatan dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas dan efisiensi Enzym Revolusi Agro dan PTT terhadap peningkatan produksi padi dan pendapatan petani. Kajian ini dilaksanakan di Kelurahan Tabaringan, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, tanam tanggal 16 Mei dan panen tanggal 11 Agustus 2006. Kajian ini dilaksanakan di lahan petani dengan susunan perlakuan: (1) Enzym, (2) PTT dan (3) Non Enzym. Hasil kajian menunjukkan bahwa hasil gabah tertinggi diperoleh pada perlakuan PTT yaitu sebesar 8.800 kg/ha, sedangkan pada perlakuan Enzym dan Non Enzym hanya 7.040 kg/ha. Biaya produksi yang paling tinggi terdapat pada perlakuan Enzym yaitu sebesar Rp.8.526.224 disusul perlakuan PTT yaitu sebesar Rp.5.850.280 dan yang paling rendah adalah pada perlakuan Non Enzym yaitu Rp.5.551.224. Pendapatan usahatani tertinggi diperoleh pada perlakuan PTT yaitu sebesar Rp.9.989.720/ha, sedangkan pada perlakuan Enzym dan Non Enzym masing-masing hanya Rp.4.145.776 dan Rp.7.120.776/ha. Dengan demikian pemberian enzym biokultur tidak meningkatkan hasil tanam padi. Kata kunci: enzym, PTT, produktivitas dan pendapatan petani
PENGARUH PANJANG STEK AKAR DAN KONSENTRASI NATRIUM- NITROFENOL TERHADAP PERTUMBUHAN STEK AKAR SUKUN (Artocarpus communis F.) M. Hidayanto; Siti Nurjanah; Yossita F.
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v6n2.2003.p%p

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of cutting length and natrium-nitrofenolconcentration as well as its interaction on growth of the bread fruit cutting. The experiment was conducted fromMay to September 1997 at field garden of Local Assessment Institute for Agricultural Technology Samarinda(LPTP Samarinda). The study was used Randomized Block Design by factorial analysis, with three replications.The first factor was cutting length (P) with consisted of four levels, i.e.: 10 cm (P1), 15 cm (P2), 20 cm (P3) and 25cm cutting length (P4). The second factor was natrium-nitrofenol concentrations (A) with consisted of four levels,i.e.: 0 ml natrium-nitrofenol /l water (A0), 1 ml natrium-nitrofenol / l water (A1), 2 ml natrium-nitrofenol /l water(A2) and 3 ml natrium-nitrofenol /l water (A3). The result of this study showed that the interaction cutting lengthand natrium-nitrofenol concentration was significant on the plant height, and root length at 16 weeks. Cuttinglength (P) was significant on the bud growth, and plant height at 16 weeks. On the other hand, natrium-nitrofenolconcentration treatments (P) were highly significance on the bud growth, plant height at 16 weeks, bud number,root number and root length. Its technique expected can be used to multiplication or supplying of high qualitycutting length of breadfruit.Key words: bread fruit, cutting length, natrium-nitrofenol Untuk mengetahui pengaruh panjang akar sukun dan konsentrasi natrium-nitrofenol dan interaksinya,telah dilakukan penelitian dari bulan Mei sampai September 1997 di kebun percobaan Loka Pengkajian TeknologiPertanian Samarinda (LPTP Samarinda). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan AcakKelompok (RAK) dengan analisis faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah panjang stek (P) yangterdiri dari empat taraf yaitu: panjang stek 10 cm (P1), 15 cm (P2), 20 cm (P3) dan 25 cm (P4). Sebagai faktorkedua adalah konsentrasi natrium-nitrofenol (A) terdiri atas empat taraf yaitu natrium-nitrofenol 0% atau air(A0), natrium-nitrofenol 0,1 persen atau 1 ml natrium-nitrofenol/liter air (A1), natrium-nitrofenol 0,2 persen atau2 ml natrium-nitrofenol/1iter air (A2) dan 0,3% atau 3 ml natrium-nitrofenol/liter air (A3). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa interaksi perlakuan panjang stek dan konsentrasi natrium-nitrofenol berpengaruh terhadaptinggi tanaman umur 16 minggu. Panjang stek (P) berpengaruh terhadap rata-rata saat muncul tunas, jumlah tunasdan jumlah akar dan berpengaruh sangat nyata terhadap rata-rata tinggi tanaman 16 minggu, panjang akar.Perlakuan konsentrasi natrium-nitrofenol (A) berpengaruh sangat nyata terhadap rata-rata saat muncul tunas,tinggi tanaman pada umur 16 minggu, jumlah tunas, jumlah akar dan panjang akar. Teknik pembibitan inidiharapkan dapat berperan dalam perbanyakan atau pengadakan bibit sukun yang bermutu.Kata kunci: sukun, panjang stek , natrium-nitrofenol

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue