cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 261 Documents
LISTRIK SEBAGAI KO-PRODUK POTENSIAL PABRIK GULA Yahya Kurniawan; H. Santoso
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v28n1.2009.p23 - 28

Abstract

Electricity as a potential co-product of sugar factoryGlobal energy crisis not only impact the increase in electricity price but also influence the shortage of electricity supply, so that the development of bioenergy as a potential renewable energy resource needs to be accomplished. Sugar cane is the potential energy resource to produce electricity. Some sugar producing countries have already sold electricity surplus to local company. Electricity production was about 150 kWh/ton of cane by using technology of condensing/extraction turbines (TCE). Moreover, new technology by using biomass integrated gasification to gas turbines (BIG-GT) was able to produce 300 kWh/ton of cane. Production of electricity by using TCE technology is potential to be applied in some sugar factories in Indonesia. The potential of electricity production in the near future is estimated around 379,310 MWH from surplus of bagasse and around 1,029,630 MWH from trash, so that the total potency of electricity production from sugar cane is about 1,408,940 MWH. 
POTENSI BEBERAPA MIKROBA PEMACU PERTUMBUHAN TANAMAN SEBAGAI BAHAN AKTIF PUPUK DAN PESTISIDA HAYATI Hanudin Hanudin; Kurniawan Budiarto; Budi Marwoto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n2.2018.p59-70

Abstract

Consumer demands on safe agricultural products have made the shifting of the production system to be more environmental friendly. An attempt to reduce or totally substitute chemical fertilizers and pesticides on agricultural production process was through the utilization of potential microbes. The purpose of the study was to provide information on potential microbial species that can be used as active ingredients of biofertilizers and biopesticides. The mechanisms of action have been studied, both directly and indirectly, in protecting the plant from pest and disease attacks. Several of these microbes also functioned as decomposer that might improve soil characteristic and nutrient availability for the crops. The Indonesian Agency for Agricultural Research and Development for has released formulated biopesticides and bio fertilizers with the active ingredients isolated from agricultural production centers. The application of these biopesticides and biofertilizers have been effectively controlled important diseases in horticultural crops, i.e. Bio Nutri-V could suppress white rust disease (Puccinia horina Henn) 32.15% in chrysanthemum and increased 25% and 34% harvestable products in chrysanthemum and potato, respectively, compared with synthetic fungicide. The utilization of biopesticides and biofertilizers is expected to improve the competitiveness of national agricultural commodities by utilizing natural resources to support highly competitive and sustainable agricultural industries.Keywords: Microbes, biofertilizer, biopesticide, vegetable, ornamentals, horticulture. AbstrakTuntutan konsumen terhadap keamanan produk pertanian menuntut pula perlunya proses produksi dilakukan secara ramah lingkungan. Salah satu upaya untuk mengurangi atau mensubstitusi penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintetik ialah memanfaatkan mikroba. Makalah ini membahas spesies mikroba yang berpotensi dan dapat dijadikan sebagai bahan aktif pupuk dan pestisida hayati. Berbagai spesies mikroba dari kelompok cendawan dan bakteri telah berhasil diisolasi dan dievaluasi keefektifannya sebagai bahan aktif pupuk dan pestisida hayati yang efektif. Mikroba pemacu pertumbuhan tanaman dengan mekanisme langsung maupun tidak langsung mampu menginduksi pertumbuhan tanaman dan beberapa mikroba juga berfungsi sebagai dekomposer, sehingga membantu penyediaan unsur hara bagi tanaman. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan beberapa formulasi pupuk hayati dan biopestisida dengan bahan aktif mikrobe yang diisolasi dari sentra produksi pertanian. Aplikasi pupuk dan pestisida hayati tersebut efektif mengendalikan penyakit penting tanaman hias, seperti Bio Nutri- V dapat menekan perkembangan penyakit karat putih (Puccinia horina Henn) pada krisan 32,2% dan mempertahankan hasil panen kentang dan krisan masing-masing 25% dan 34% dibandingkan dengan aplikasi fungisida kimia sintetik. Pengembangan pupuk dan pestisida hayati yang dihasilkan diharapkan dapat meningkatkan daya saing komoditas pertanian melalui sistem produksi ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya alam secara optimal guna mendukung industri pertanian berdaya saing dan berkelanjutan.Kata kunci: Mikroba, pupuk hayati, biopestisida, sayuran, tanaman hias, hortikultura.
EPIDEMIOLOGI DAN PENGELOLAAN PENYAKIT LAYU BAKTERI PADA TANAMAN JAGUNG Nurasiah Djaenuddin; Amran Muis
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n2.2018.p41-48

Abstract

Maize is one of the most important worldwide agricultural crops that their seed is considered a valuable international trading item. The seeds are mainly originated from United States, where the world most intensive development of new varieties occurs. Pantoea stewartii is a pathogenic bacteria of maize that occurs primarily in the US. Stewart wilt disease in maize caused by the bacterium Pantoea stewartii is become a new disease of maize in Indonesia. The stewart wilt disease was first reported in West Sumatra with the disease incidence of 1−15%. This paper discusses the epidemiology and control efforts of the bacterial stewart wilt disease in maize. Stewart wilt disease is a seed borne disease and it can transmitted by insect vector Chaetocnema pulicaria. P. stewartii has a wide host range including maize plant. In addition to maize plants, the pathogen also attacks sugarcane, sorghum, wheat, green beans, cucumbers, and several types of grasses. The abundant availability and wide range of its hosts, allows the pathogen to easily find the host to survive and develop. P. stewartii attacks maize in all stages of plant growth. The emergence of this disease on maize plant is mainly due to imported seeds from outside of Indonesia. Seed is the most suitable carrier media for pathogens to spread across its natural boundaries. One of the efforts to prevent the outbreak of the disease in Indonesia is to control its insect vectors. Several efforts that can be done to control the disease are environmental sanitation and by chemical pesticides with active ingredient such as imidacloprid, thiamethoxam, and clothianidin.Keywords: Maize, Pantoea stewartii, host plant, seed treatment AbstrakJagung merupakan salah satu komoditas pangan dan pakan penting dunia dan benihnya diperdagangkan secara internasional. Volume tertinggi perdagangan benih jagung berasal dari Amerika Serikat yang merupakan negara penghasil utama varietas unggul baru jagung di dunia. Pantoea stewartii adalah bakteri patogenik penting pada tanaman jagung, khususnya di Amerika Serikat. Penyakit layu stewart pada tanaman jagung disebabkan oleh bakteri Pantoea stewartii yang merupakan penyakit baru di Indonesia. Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Sumatera Barat dengan insidensi 1−15%. Makalah ini membahas epidemiologi dan upaya pengendalian penyakit layu bakteri stewart pada tanaman jagung. Penyakit layu stewart merupakan penyakit tular benih dan tular serangga melalui vektor Chaetocnema pulicaria. P. stewartii memiliki inang yang luas, termasuk tebu, sorgum, gandum, kacang hijau, mentimun, dan beberapa jenis rumput-rumputan. Melimpahnya ketersediaan inang menjadikan patogen ini mudah dan cepat berkembang. Penyakit layu bakteri stewart pada tanaman jagung dapat berasal dari benih impor. Benih merupakan media pembawa penyakit yang paling efektif dan menyebar luas dengan melintasi batas alaminya. Salah satu upaya untuk mencegah wabah penyakit layu stewart ialah mengendalikan serangga vektor. Sanitasi lingkungan dan penggunaan pestisida berbahan aktif imidacloprid, thiamethoxam, dan clothianidin merupakan alternatif pengendalian.Kata kunci: Jagung, Pantoea stewartii, tanaman inang, perlakuan benih
TEKNOLOGI TEPAT GUNA MENDUKUNG PENGEMBANGAN SAPI LOKAL PESISIR SUMATERA BARAT Rahmi Wahyuni; R. A. Dewi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n2.2018.p49-58

Abstract

The few last decades the growth of Pesisir Cattle has stagnated due to the decline in the genetic quality. The an proper of culturing management was respected as the main problem in the developing Pesisir Cattle, with the result that the demand elasticity was not comparable with growth. The interoduction of approviate management and technology based on the local resource was considered capable to improve the Pesisir Cattle productivity. This research is try to examine the approvible technology based to local resource to support the development of Pesisir Local Cattle at west Sumatera. The several management and technology innovation can be appled to improve the culturing management, namely: (1) reproductive management by applying artificial Insemination marriage system and use the of superior male; (2) Feed technology through the use of derived process technology such as palm leaf silage depend on local resouces and development of leguminous plants cultivation that it rich in protein; (3) Technology innovation of group cage management such as Grati to breeding as well as to fattening of catle; (4) Integrated farming system according to local culture; (5) Applying of sustainable production system, in which farmers are motivated to work on two forms of livestock business namely fattening and breeding as well; (6) Developing a livestock breeding business system to accelerate the changing pattern of maintenance from an extensive system to an intensive system.Keywords: Technology, Pesisir cattle, West Sumatera AbstrakDalam beberapa dekade terakhir, pertumbuhan sapi pesisir di Sumatera Barat mengalami stagnasi akibat menurunnya kualitas genetik ternak. Manajemen pemeliharaan yang kurang baik merupakan masalah utama dalam pengembangan sapi pesisir sehingga elastisitas permintaan tidak sebanding dengan pertumbuhan. Introduksi manajemen dan teknologi tepat guna berbasis sumber daya lokal dinilai mampu meningkatkan produktivitas sapi pesisir. Tulisan ini membahas teknologi tepat guna berbasis sumber daya lokal mendukung pengembangan sapi lokal pesisir Sumatera Barat. Inovasi manajemen dan teknologi yang dapat diterapkan untuk memperbaiki pola pemeliharaan sapi pesisir antara lain: (1) manajemen reproduksi dengan mengaplikasikan teknologi inseminasi buatan (IB) dan penggunaan pejantan unggul; (2) teknologi pakan dengan memanfaatkan limbah tanaman seperti silase pelepah daun sawit, bergantung pada sumber daya lokal dan pengembangan tanaman leguminosa yang kaya protein; (3) inovasi teknologi dan manajemen pengelolaan kandang kelompok seperti “Kandang Kelompok Grati”, baik untuk tujuan pembibitan maupun penggemukan ternak; (4) pertanian terpadu sesuai dengan budaya setempat; (5) sistem produksi berkelanjutan, dalam hal ini peternak dimotivasi untuk mengembangkan dua bentuk usaha ternak sekaligus, yakni penggemukan dan pembibitan; (6) pemeliharaan ternak dengan sistem gaduhan untuk percepatan perubahan pola pemeliharaan dari ekstensif ke intensif.Kata kunci: Teknologi, sapi pesisir, Sumatera Barat.
INOVASI PERLAKUAN BENIH DAN IMPLEMENTASINYA UNTUK MEMPRODUKSI BENIH BERMUTU TANAMAN REMPAH DAN OBAT Supriadi Supriadi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n2.2018.p71-80

Abstract

Plant seeds can be seeds, shoots, cuttings, tendrils, or tubers. Seedtreatment is the earliest, safest, and environmentally friendly strategy in controlling plant pests and pathogens. The seed treatment can be physical, chemical, and biological, such as soaking in hot water (45oC), treatments with chemical and botanical pesticides, as well as biological agents. Chemical pesticides that are specifically recommended for the treatment of spice and medicinal plants (SMPs) seeds are very limited or even not yet in Indonesia, even though the problems in seed productionare very large, especially in the form of cuttings and rhizomes. Thetypes of infectious pests of SMPs are quite numerous and harmful.Several innovations have been pioneered domestically, such as themethod of deeping and coating of seeds, but are still limited to pepper and ginger seeds. The effectiveness of seed treatment for bulky vegetative seeds, such as rhizomes, is hampered due to its limitation in the absorption of active ingredients into the seed tissue so that its effect on pests and pathogens alre ady present in the seed is less successful. Existing methods of seed treatments need to be improved, such as by seed priming, i.e. soaking the seeds in active ingredients until the seeds imbibed so that more active ingredients are absorbed. The seed priming method is suitable for treating seeds with active ingredients in the form of biological agents, such as endophytic microbes. In its development, this method can combine several types of biological agents and carriers, such as fillers, binders, adhesives, and surfactants to improve the stability offormulas during storage and their effectiveness in the field. Keywords: seed treatment, pests, pathogents, medicinal and spice plants.Keywords: seed treatment, pests and pathogents, medicinal and spice crops. AbstrakBenih tanaman dapat berupa biji, pucuk, setek, sulur, atau umbi. Perlakuan benih merupakan strategi dalam pengendalian hama dan patogen (OPT) paling dini, aman, dan ramah lingkungan. Perlakuan benih tanaman rempah dan obat dapat dilakukan secara fisik, kimia, dan biologi, seperti perendaman dalam air panas (45oC), perlakuan pestisida kimia dan nabati, serta agens hayati. Pestisida kimia yang khusus direkomendasikan untuk perlakuan benih tanaman rempah dan obat sangat terbatas atau bahkan belum ada di Indonesia, padahal permasalahan dalam produksi benih sangat besar, terutama berupa setek dan rimpang. Jenis OPT tular benih tanaman rempah dan obat cukup banyak dan merugikan. Beberapa inovasi perlakuan benih tanaman rempah dan obat sudah dirintis di dalam negeri, seperti metode pencelupan dan pelapisan, tetapi masih terbatas pada benih lada dan jahe. Keefektifan perlakuan benih vegetatif yang massanya cukup besar, seperti rimpang-rimpangan, adalah terbatasnya penyerapan bahan aktif ke dalam jaringan benih sehingga pengaruhnya terhadap OPT yang sudah ada dalam benih kurang berhasil. Inovasi yang sudah ada perlu diperbaiki untuk menghasilkan perlindungan yang lebih optimal, antara lain denganmetode “seed priming”, yaitu merendam benih di dalam larutan bahan aktif sampai benih mengembang sehingga bahan aktif akan lebih banyak diserap oleh benih. Metode “seed priming” cocok untuk perlakuan benih dengan bahan aktif berupa agens hayati, seperti mikroba endofit. Dalam pengembangannya, metode ini dapat mengombinasikan beberapa jenis agens hayati dan bahan pembawa, seperti bahan pengisi, pengikat, perekat, dan surfaktan untuk meningkatkan stabilitas formula selama penyimpanan dan keefektifannya di lapangan.Kata kunci: Perlakuan benih, hama, patogen, tanaman rempah danobat.
STATUS CEMARAN DAN UPAYA PENGENDALIAN AFLATOKSIN PADA KOMODITAS SEREALIA DAN ANEKA KACANG Broto, Wisnu
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n2.2018.p81-90

Abstract

Cereals and nuts commodities play a major role in present and future human consumption patterns. Increased production of these commodities that have been achieved will not mean when both are not safe for consumption. Aflatoxin contamination is one of the food safety indicators that determine consumer acceptance. The high prevalence of aflatoxicosis in South and Southeast Asia are 81% and 54% respectively implies high aflatoxin contamination of cereals and nuts consumed in the area. Aflatoxin contamination in Indonesia, especially in corn and peanut is detected more than 20 ppb, so it needs attention for the handling and controlling. The technology for reducing or eliminating aflatoxin contamination in food products up to 97% has been generated from many studies. The application of such technology is commercially constrained by aspects of the procedural complexity and limitations of industrial support devices from upstream to downstream. Aflatoxin contamination in addition to adversely affecting health also causes economic losses of the commodities concerned, but the regulatory limitations vary greatly. Indonesia sets the maximum limit of aflatoxin on cereals and nuts relatively higher (20? 35 ppb) than any other country in the world, so it needs to be re-examined through multidisciplinary research and conprehensive studies to be scientifically tested with economic and political considerations to deal with the increasingly competitive competition in the global market.Keywords: Cereals, various nuts, aflatoxin, food safety AbstrakKomoditas serealia dan aneka kacang memegang peran penting dalam konsumsi pangan pada saat ini dan ke depan. Peningkatan produksi komoditas tersebut tidak berarti manakala tidak aman dikonsumsi. Cemaran aflatoksin merupakan salah satu indikator keamanan pangan yang menentukan penerimaan konsumen. Prevalensi aflatoksikosis yang tinggi di Asia Selatan (81%) dan Asia Tenggara (54%) menyiratkan masih tingginya cemaran aflatoksin pada produk serealia dan aneka kacang yang dikonsumsi. Cemaran aflatoksin di Indonesia, khususnya pada jagung dan kacang tanah, terdeteksi lebih dari 20 ppb, sehingga perlu penanggulangan serius. Teknologi pengurangan atau penghilangan cemaran aflatoksin hingga 97% pada produk pangan telah banyak dihasilkan dari berbagai penelitian. Penerapan teknologi tersebut secara komersial terkendala dari aspek kerumitan prosedural dan keterbatasan perangkat pendukung industrial dari hulu hingga hilir. Cemaran aflatoksin selain berdampak negatif pada kesehatan juga menyebabkan kerugian ekonomi, namun pengaturan batasannya sangat beragam. Indonesia menetapkan batas maksimum aflatoksin pada serealia dan aneka kacang relatif tinggi (20?35 ppb) daripada negara lain, sehingga perlu dicermati kembali melalui penelitian komprehensif multidisiplin agar lebih teruji secara ilmiah dengan pertimbangan ekonomis dan politis untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar global.Kata kunci: Serealia, aneka kacang, aflatoksin, keamanan pangan.
PERAKITAN VARIETAS JERUK TANPA BIJI MELALUI PEMULIAAN KONVENSONAL DAN NONKONVENSIONAL Mia Kosmiatin; Ali Husni
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n2.2018.p91-100

Abstract

Existence of seeds in the citrus fruit, becomes a major problem that it cannot be received by consumer, even though the fruits has a good taste. Citrus breeders have long been conducting research to improvement of seedless cultivars with the diverse approach. Breeding’s strategies to gain seedless character covering conventional and non-conventional techniques. Conventional technique develop through controlled sexual or interploidi crossing. Seedless character transfer by sexual crossing technique have to do trough manipulate of crossing technique to gain seedless progeny. Crossing technique manipulate through environment manipulation, application of plant growth regulators, parent’s selections and embryo rescue. Non-conventional technique to seedless improvement cover to embryo rescue, endosperm culture, in vitro mutagenesis, inter species and inter ploidi somatic hybridization, cybrid production, and develop of GMO. Current breeding to improve seedless citrus done by ploidy manipulation approach with the target is triploid plant which produce seedless. Indonesian Agency for Agricultural Research and Development- IAARD have succeeded registering varieties of seedless citrus, Pamindo Agrihorti (2016) and SoE86 Agrihorti (2017), which resulted from mutation breeding. Furthermore there are also various line of triploid citrus and citrus obtained through protoplast fusion and being adaptation tested at lowland and highland.Keywords: Citrus spp., seedless, plant improvement, conventional, biotechnology AbstrakJeruk dengan biji yang banyak kurang disukai konsumen meskipun rasanya manis. Para pemulia sudah sejak lama melakukan pemuliaan tanaman jeruk untuk mendapatkan kultivar dengan buah tanpa biji (seedless). Strategi pemuliaan yang dilakukan untuk mendapatkan buah jeruk seedless meliputi penerapan teknik konvensional dan nonkonvensional. Teknik konvensional dikembangkan melalui persilangan seksual terkontrol atau persilangan interploidi. Pemindahan karakter seedless dengan teknik persilangan seksual harus dilakukan dengan memanipulasi teknik persilangan untuk mendapatkan progeni yang berkarakter seedless. Manipulasi teknik persilangan dilakukan dengan modifikasi lingkungan, aplikasi ZPT, pemilihan tetua yang tepat dan penyelamatan embrio. Teknik nonkonvensional yang telah dilakukan dalam pemuliaan jeruk seedless meliputi penyelamatan embrio, kultur endosperma, mutagenesis in vitro, hibridisasi somatik interspesifik dan interploidi, produksi sibrid, serta perakitan tanaman transgenik. Saat ini pemuliaan untuk mendapatkan tanaman jeruk dengan karakter seedless banyak dilakukan melalui pendekatan manipulasi ploidi dengan target diperolehnya tanaman triploid yang akan menghasilkan buah seedless. Balitbangtan sudah berhasil mendaftarkan varietas jeruk tanpa biji, Pamindo Agrihorti (2016) dan SoE86 Agrihorti (2017), yang dihasilkan melalui pemuliaan mutasi. Selain itu juga telah diperoleh beberapa galur jeruk triploid dan jeruk hasil fusiprotoplas yang sedang diujiadaptasikan di dataran rendah dan tinggi.Kata kunci: Citrus spp, tanpa biji, perakitan tanaman, konvensional, bioteknologi
TEKNOLOGI PENANGANAN BUAH SEGAR STROBERI UNTUK MEMPERTAHANKAN MUTU / Fresh Handling Techniques for Strawberry to Maintain its Quality Ermi Sukasih; Setyadjit Setyadjit
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v38n1.2019.p47-54

Abstract

Strawberries (Fragaria sp.) are mostly grown in the mountainy areas in Indonesia and need a long transportation to get to the consumers. Long transportation will cause more than 50% damage to strawberries due to decay. Handling procedures need to be good and proper from farmer to the consumer or processor customer so that fruit reach destination in expected condition. Handling was done during pre-harvest and postharvest so that the quality of fresh strawberry fruit can be preserved. The technology for handling strawberry fruits that already exists includes: pre-harvest by spraying with antimicrobial agent, postharvest include for collecting, sorting and grading, washing, dipping with calcium chloride or naphtalene acetic acid, waxing, fumigation with nitric oxide, coating with chitosan or aloe vera gel combined with glycerol, irradiation, packaging, storage and transportation. The recommended storage temperature for strawberries is at 4oC, it can extend the shelf life of strawberries up to 1011 days with the best chemical characteristics. Implementing of SNI to strawberries in Indonesia to increase product competitiveness and increase added value still needs intensive efforts. 1.The classification and quality standards of strawberries can refer to the SNI No. 8026, 2014 and the Commission Implementing Regulation (2011).Keywords: Strawberry, preharvest, postharvest, fresh handling, quality AbstrakDi Indonesia, stroberi (Fragaria sp.) umumnya tumbuh di daerah pegunungan sehingga memiliki risiko tinggi dalam transportasi ke konsumen. Kerusakan stroberi karena perjalanan yang lama dapat mengakibatkan kerusakan buah lebih dari 50% akibat pembusukan. Penanganan yang baik dan benar diperlukan agar buah tetap dalam keadaan segar sampai ke tangan konsumen, sesuai dengan standar yang berlaku. Buah stroberi perlu ditangani dengan baik sejak prapanen hingga pascapanen agar kesegaran buah dapat dipertahankan. Teknologi penanganan stroberi yang telah dihasilkan meliputi: (1) pada saat prapanen adalah penyemprotan menggunakan antimikroba, (2) pada saat pascapanen pengumpulan buah secara hati-hati, sortasi dan grading, pencucian, pencelupan dengan kalsium klorida atau Naphtalene Acetic Acid, pelilinan, fumigasi dengan nitrit oksida, pelapisan dengan kitosan, gel lidah buaya yang dikombinasikan dengan gliserol, iradiasi, pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan. Penyimpanan buah stroberi pada suhu 4oC dapat memperpanjang umur simpan buah hingga 10-11 hari dengan karakteristik kimiawi terbaik. Penerapan SNI buah stroberi di Indonesia masih perlu diupayakan lebih intensif untuk meningkatkan daya saing produk dan meningkatkan nilai tambah. Klasifikasi dan standar mutu buah stroberi dapat mengacu pada SNI No 8026 Tahun 2014 dan Commission Implementing Regulation (2011).Kata kunci: Stroberi, prapanen, pascapanen, penanganan segar, mutu
POTENSI PENGEMBANGAN JAGUNG PULUT MENDUKUNG DIVERSIFIKASI PANGAN / Potency of Waxy Corn Development to Support Food Diversification Suarni Suarni; Muh. Aqil; Herman Subagio
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v38n1.2019.p1-12

Abstract

The success of staple food diversification can contribute to reduce rice consumption and encouraging national food self-sufficiency. Among food crops commodities, corn provide a potential to support local food based diversification. The type of corn that is preferable by consumer is white/waxy corn. Kernel color of waxy corn consists of white, yellow, purple, and black. Waxy corn can be harvest since the mild stage to anticipate food and malnutrition and make it more superior than other cereals. Corn processed into various products by using traditional, semi-traditional, and food industry products with specific superiority. Waxy corn is currently available in the market such as local varieties and newly released varieties such as Pulut URI-1 and Pulut URI-2. The market opportunity of waxy corn-based products in Indonesia has a more competitive advantage than before due to the change of lifestyle and food dietary. Promotion of waxy corn technologies needs to be done quickly to the related stakeholders including farmers, snacks producers, and businessman of waxy corn-based products to enhance the adoption of this commodity to support food diversification.Keywords: Waxy corn, food diversification, development AbstrakKeberhasilan diversifikasi pangan pokok berdampak terhadap pengurangan konsumsi beras sehingga mendorong keberlanjutan swasembada pangan. Salah satu komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk diversifikasi pangan adalah jagung. Di antara beberapa jenis jagung yang berkembang, jagung pulut disukai oleh banyak konsumen. Jagung pulut memiliki warna yang beragam mulai dari putih, kuning, ungu, hingga hitam. Jagung pulut dapat dipanen muda atau lebih awal sehingga dapat mengantisipasi kerawanan pangan dan gizi. Hal ini menjadikan jagung pulut lebih unggul dibanding komoditas serealia lainnya. Berbagai produk olahan pangan dapat dihasilkan dari jagung pulut, mulai dari tradisional, semi tradisional, dan hingga modern, masing-masing memiliki nilai tambah tersendiri. Varietas jagung pulut telah tersedia, baik lokal maupun varietas unggul baru (URI-1 dan URI-2). Peluang pasar pangan berbasis jagung pulut di Indonesia makin terbuka seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan konsumen yang mengarah pada hidup sehat. Dalam upaya pengembangan diversifikasi pangan perlu disosialisasikan paket teknologi budi daya dan pengolahan jagung pulut kepada masyarakat luas, terutama petani, pengrajin makanan, dan pebisnis produk pangan.Kata kunci: Jagung pulut, diversifikasi pangan, pengembangan
ADAPTASI TANAMAN HORTIKULTURA TERHADAP PERUBAHAN IKLIMPADA LAHAN KERING Adaptation of Horticultural Crops to Climate Change in the Upland Yusdar Hilman; Suciantini Suciantini; Rini Rosliani
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v38n1.2019.p55-64

Abstract

Horticultural products (fruits, vegetables and ornamental crops) which have high competitiveness and added value, require supporting appropriate cultivation technology. The objective of this paper was to sort out adaptive technologies that can be implemented for horticultural cultivation, especially on dry land, to minimize yield loss due to climate changes. Horticultural crops in dry lands faced various problems. Characteristics of horticultural crops, among others were easily damage, bulky, sensitive to water stress and the incidence of pests and diseases. Another issue that has begun to happen in the field is the occurrence of extreme climate change, especially El Nino or La Nina that caused crop failures, damage to agricultural land resources, increased in frequency, extent, and intensity of drought, increased moisture, increased in the susceptibility to pests and the disease. Thus the integrated efforts that are needed in strengthening the capability of dry land to face climate change are by the application of adaptative technology, drafting disaster mitigation concepts, observing climate change, policy analysis related to the application of adaptive technology on climate change. The discussed Horticulture Commodities are focused on economically profitable crops, including: vegetables (potatoes, shallots, chili), fruits (bananas, citrus and melons) and ornamental crops (chrysanthemums, orchids, Polycias and Gerbera) scattered in two zoning zones where namely (i) lowland (0-600 meters above sea level); (ii) highlands (> 600 meters above sea level) and (iii) in both elevations of the site which have wet climates and dry climates. Attempsto be made to promote horticultural crops include performing water-efficient irrigation (drip irrigation), mulching, the use of shading on certain crops, proper fertilization, the use of organic fertilizer, planting system and planting distance, and tolerant varieties. Some adaptative technologies that can be adopted for horticultural crops include (1) developing watersaving irrigation technologies (drip and sprinkler irrigation on shallots), (2) applying healthy crop cultivation (good quality seeds, variety tolerant to disease and sub-optimal environment for tomatoes, red or hot chilli shallots and bananas), (3) using environmentally friendly chemical control (concept of threshold control in red or hot chilli), (4) protecting yield and quality of harvest (the use of silver black mulch on shallots and melons, and the use of shade for ornamental plants on dry land).Keywords: Horticulture, climate change, upland, adaptation technology AbstrakSistem produksi hortikultura (buah buahan, sayuran, dan tanaman hias) yang berdaya saing tinggi dan bernilai tambah memerlukan dukungan teknologi. Tulisan ini merangkum teknologi adaptasi komoditas hortikultura pada lahan kering dalam upaya meminimalisasi tingkat kehilangan hasil akibat perubahan iklim. Usaha tani tanaman hortikultura pada lahan kering dihadapkan pada berbagai masalah, di antaranya tanaman mudah dan cepat rusak, sensitif terhadap cekaman lingkungan, dan rentan terhadap hama dan penyakit. Masalah lain yang berdampak negatif terhadap sistem produksi komoditas hortikultura ialah perubahan iklim ekstrem, terutama el-nino dan la-nina. Perubahan iklim tidak hanya menyebabkan kegagalan panen, tetapi juga merusak sumber daya lahan pertanian, meningkatkan luas areal dan intensitas tanaman yang mengalami kekeringan, meningkatkan kelembaban, dan perkembangan hama dan penyakit tanaman. Oleh karena itu diperlukan integrasi pengelolaan lahan dan aplikasi teknologi adaptif perubahan iklim, penyusunan konsep mitigasi bencana, observasi perubahan iklim, dan analisis kebijakan yang terkait dengan aplikasi teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim. Pembahasan difokuskan pada tanaman yang secara ekonomi menguntungkan, antara lain kentang, bawang merah, cabai untuk komoditas sayuran; pisang, jeruk, dan melon untuk komoditas buah-buahan; dan krisan, anggrek, polycias dan gerbera untuk tanaman hias. Komoditas hortikultura tersebut tersebar di dua zonasi ketinggian tempat, yakni dataran rendah (0–600 m dpl) dan dataran tinggi (> 600 m dpl). Beberapa teknologi adaptasi yang dapat diadopsi di antaranya (1) irigasi hemat air (irigasi tetes dan irigasi curah pada bawang merah), (2) budi daya tanaman sehat (benih bermutu, varietas toleran penyakit dan lingkungan suboptimal untuk komoditas kentang, cabai, bawang merah, dan pisang, (3) pengendalian hama dan penyakit ramah lingkungan (konsep ambang pengendalian pada cabai, jeruk), dan (4) perlindungan hasil dan peningkatan kualitas hasil panen (penggunaan mulsa plastik hitam perak pada tanaman bawang merah dan melon, serta penggunaan naungan pada tanaman hias anggrek dan krisan). Kata kunci: hortikultura, perubahan iklim, lahan kering, teknologi adaptasi

Filter by Year

2008 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue