cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 261 Documents
PERSPEKTIF PENINGKATAN DAYA SAING CENGKEH MALUKU DENGAN INDEKS KEBERLANJUTAN SISTEM AGRIBISNIS / Perspective of Increasing Maluku Clove’s Competitiveness with Sustainable Index of Agribusiness System Agung Budi Santoso
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v38n2.2019.p114-122

Abstract

Clove is one of the main commodity which known since the 16th century and it was the main reason why imperialist found Maluku as clove resources. In Maluku, clove change society as from era of sultanate, colonialism, and independence era. This paper reviews the clove competitiveness compared to other clove producing provinces in Indonesia after severalepoch, especially reform era. Agribusiness system approach was used to enumerate the competitiveness index in the ten largest clove producing province in Indonesia. Sustainability index was calculated with multidimensional scaling. Clove Maluku occupies high-middle group, means Maluku is one of largest clove producing with sustainability index is middle. The others province in the same group are North Sulawesi, Central Sulawesi, East Java, and West Java. South Sulawesi is the only one which occupies high-high group. Furthermore, the high-low group consist of Banten, Southeast Sulawesi, North Maluku, and Central Java. Clove competitiveness can increase with enlarging productive plant area and immature plant area, increase productivity and fertilizer distribution, and reduce damaged plant area.Keywords: Cloves, competitiveness, agribusiness system, sustainability index, multidimensional scaling  AbstrakCengkeh merupakan salah satu komoditas unggulan yang telah dikenal sejak abad 16 dan menjadi alasan utama mengapa kolonial menemukan Maluku sebagai asal tanaman tersebut. Cengkeh di Maluku mampu mengubah kondisi masyarakat sejak zaman kesultanan, era kolonial, dan era kemerdekaan. Tulisan ini mereview kembali posisi daya saing cengkeh di Maluku dibandingkan provinsi penghasil cengkeh lainnya di Indonesia setelah mengalami beberapa zaman khususnya era reformasi. Pendekatan sistem agribisnis digunakan untuk memberi nilai terhadap daya saing cengkeh di sepuluh provinsi penghasil cengkeh terbesar di Indonesia. Cengkeh di Maluku menempati kelompok tinggi–menengah, yakni kelompok produsen cengkeh tinggi dengan tingkat keberlanjutan sedang. Provinsi lainnya yang berada di kelompok yang sama adalah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Sulawesi Selatan sebagai satu-satunya provinsi yang berada di kelompok tinggi-tinggi. Sedangkan kelompok tinggi-rendah ditempati oleh Banten, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Jawa Tengah. Peningkatan daya saing cengkeh dapat dilakukan dengan cara meningkatkan luas tanaman menghasilkan, luas tanaman belum menghasilkan, meningkatkan produktivitas, peningkatan penyaluran pupuk, dan menekan luas tanaman rusak. Kata kunci: Cengkeh, daya saing, sistem agribisnis, indeks keberlanjutan, multidimensional scaling 
SPICES PLANT AS BIOINSECTICIDES FOR CONTROLLING MAIZE WEEVIL SITOPHILUS ZEAMAIS (MOSTCH) Pemanfaatan Tanaman Rempah sebagai Pestisida Nabati untuk Penanggulangan Hama Kumbang Bubuk Jagung Sitophilus zeamais (Mostch) Arrahman, Ayyub; Saenong, Muhammad Sudjak
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p1-10

Abstract

Indonesia has numerous and varied natural resources of spices plant which grow at almost all theregions. These plants can grow and adapt to the slightly diverse agroecological conditions and agroecosystems, from dry to wet. In general, the utilization of these plants by the community is still limited as ingredients and spices for culinary and flavoring instead of the potential of bioactive compounds contained therein. These resourcesare very useful and effective utilized asbioinsecticides to eradicate plant pests and diseases, as well as medicine for human. This paper discussed the benefits and efficacy of several spiceplants, namely lemongrass, shallots, garlic, sweet and chili peppers, clove, sand ginger (kencur), and pepper as herbicides at various levels of dosage and treatments. This manuscript also discussed the constraints and development strategies, and aimed to provide information on the science and technology in controlling the Sitophilus zeamais (Motsch) pests in corn kernels during the storage period. It is expected that this paper would be useful for the policy makers, academicians, researchers and practitioners who have the competence to deal with beetle pest problems.Keywords: Spices, bioinsecticides, Sitophilus zeamais (Motsch), controlling AbstrakTanaman rempah yang tumbuh di hampir seluruh wilayah Indonesia sangat beragam. Tanaman ini beradaptasi pada berbagai agroekologi dan agroekosistem, mulai dari wilayah beriklim kering sampai beriklim basah. Pemanfaatan tanaman ini oleh masyarakat umumnya masih terbatas sebagai bahan rempah dan bumbu kuliner, penyedap masakan dan cita rasa, padahal senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya potensial sebagai pestisida nabati untuk membasmi hama penyakit tanaman dan bahan obat kesehatan manusia. Tulisan ini membahas manfaat dan kemanjuran dari beberapa tanaman rempah, yakni tanaman sereh, bawang merah, bawang putih, lombok merah, cengkeh, kencur, dan lada sebagai pestsisida nabati dalam berbagai dosis dan ragam perlakuan. Kendala dan strategi pengembangan pestisida nabati bagi penggulangan hama kumbang bubuk perlu mendapat perhatian yang tidak saja untuk kepentingan masyarakat luas, namun diperlukan sebagai informasi ilmu dan teknologi penanganan hama secara terpadu.Kata kunci: tanaman rempah, bioinsektisida, hama kumbang bubuk, pengendalian
PEMANFAATAN PIRAMIDA GEN KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI DALAM MENDUKUNG PERAKITAN VARIETAS UNGGUL PADI Application of Gene Pyramiding For Resistance to Bacterial Leaf Blight to Develop New Rice Variety Fatimah Fatimah; Joko Prasetiyono
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p11-20

Abstract

Bacterial leaf blight (BLB) caused by Xanthomonas oryzae pv oryzae (Xoo) is an important bacterial disease and very destructive to rice plant. BLB decreased rice production from 20%-30% up to 80%. Host-plant resistance is a cost-effective and environmentally safe approach to reduce yield loss. However the development of new rice variety by conventional selection would take several years. The genetic improvement in rice production considered as a vital program in order to ensure national food security. The availability of corresponding molecular marker makes it more precision and efficient by reducing the time required for selection. This present article highlights the molecular approach in breeding for BLB disease resistant rice varieties. In detail, it will be discussed the application of molecular marker assisted backcrossing and pyramiding gene resistance offered breeders to accelerate the rice breeding program for resistance to BLB. The pyramiding of three resistance BLB genes (xa5, Xa7, and Xa21and one gene (Xa4) as a background into two elite indica rice varieties, Ciherang and Inpari 13, was introduced successfully. The combining of conventional breeding, marker assisted backcrossing, disease evaluation, agronomic performance and yield has led the significant resistance of pyramid lines to Xoo Race III, IV and VIII in vegetative and generative phase while their yield potential was maintained (6-7 ton/ha). The current status of Ciherang-HDB and Inpari 13-HDB pyramid lines is the production of nucleoseeds and breeder seeds. This broad spectrum and durable resistance characteristic may help in controlling BLB disease in different region of Indonesia and it will facilitate the rice self-sustainability program.Keywords: Rice, gene pyramiding, plant breeding, molecular marker. AbstrakPenyakit hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv oryzae (Xoo) merupakan penyakit penting pada tanaman padi karena dapat menurunkan produksi padi rata-rata 20-30% bahkan dapat mencapai 80%. Penggunaan varietas tahan merupakan cara pengendalian yang paling efektif, ramah lingkungan, dan mudah dilakukan. Namun pengembangan varietas unggul baru melalui seleksi konvensional memerlukan waktu lebih lama. Perbaikan varietas padi perlu terus dikembangkan dalam mendukung ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional. Tersedianya marka molekuler membantu proses pemuliaan tanaman menjadi lebih presisi dan lebih efisien sehingga mengurangi waktu seleksi pada tanaman progeni. Tulisan ini memfokuskan pendekatan molekuler dalam pemuliaan varietas tahan penyakit HDB melalui piramida gen ketahanan untuk mempercepat progam pemuliaan padi tahan penyakit HDB. Kegiatan menggabungkan tiga gen ketahanan (xa5, Xa7, dan Xa21) dan satu gen (Xa4) sebagai background ke dalam padi varietas Ciherang dan Inpari-13 telah berhasil dilakukan. Melalui penggabungan beberapa pendekatan yaitu pemuliaan konvensional dan silang balik berbantu marka, evaluasi penyakit dan keragaan agronomi serta komponen hasil telah menunjukkan peningkatan ketahanan yang nyata pada galur-galur piramida Ciherang HDB dan Inpari-13 HDB pada tiga ras Xoo (Ras III, IV, dan VIII), baik pada fase vegetatif maupun generatif dengan potensi hasil tidak berbeda nyata dengan tetuanya (6-7 t/ha). Saat ini sudah diproduksi benih inti (NS) dan benih penjenis (BS) galur-galur piramida Ciherang HDB dan Inpari-13 HDB. Dengan demikian, galur-galur piramida memiliki spektrum yang luas dan mampu bertahan dalam jangka waktu lama sehingga dapat mengontrol penyakit HDB di berbagai wilayah Indonesia dan mendukung target pemerintah untuk mempertahankan swasembada beras secara berkelanjutan.Kata kunci: Padi, piramida gen, pemuliaan tanaman, marka molekuler. 
TANAH VULKANIK DI LAHAN KERING BERLERENG DAN POTENSINYA UNTUK PERTANIAN DI INDONESIA / Volcanic Soils in Sloping Dry Land and Its Potential for Agriculture in Indonesia Sukarman Sukarman; Ai Dariah; Suratman Suratman
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p21-34

Abstract

Volcanic soil is soil developed from pyroclastic materials released during the volcanic eruption. Althought the soil is fertile, it is mostly occurred in steep sloping highland that is critical to landslide and volcanic eruption. This paper discussed the characteristics and distribution of volcanic soils in sloping dry land, completed with the potential and constraints of their use for agricultural development. This information supports the zonation program of agricultural commodities in Indonesia. Volcanic soils distributed on the islands of Sumatra, Java, Bali, Nusa Tenggara, North Sulawesi and North Maluku. Mostly characterized by black or brownish A horizon and yellowish B horizon, crumb soil structure, crumbly consistency, high organic matter content, and low bulk density. The primary mineral composed by hyperstein, amphibole, augite, andesine, volcanic glass, plagioclase, labradorite, olivine, sanidin, apatite and biotite. The secondary minerals are d allophane, imogolit, ferrihydrite, halloysite, kaolinite and gibsite. Soil reaction vary from very acid to neutral with medium nitrogen content (on average). The potential P is low except in volcanic soils in Java. The P retention is high. The Cation exchange capacity varies from moderate to very high. The morphological, chemical and physical properties are good for supporting plant growth, except for those with high P retention. The land suitability classes are very suitable (S1) to marginally suitable (S3) for highland horticultural crops (vegetables and fruits) and estate crop plantations (tea, arabica coffee, and quinine). The limiting factors are relief/slope/erosion hazard and low soil fertility. These limiting factors can be eliminated by applying good agricultural and conservation practices that balance between land sustainability and productivity aspects.Keywords: Volcanic soils, pyroclastic, characteristics, potential  AbstrakTanah vulkanik terbentuk dari bahan piroklastika hasil erupsi gunung berapi dan sebagian besar berada di dataran tinggi lahan kering berlereng sehingga rawan longsor. Makalah ini membahas karakteristik dan penyebaran tanah vulkanik pada lahan kering berlereng, serta potensi dan kendala pemanfaatannya untuk pengembangan pertanian. Informasi ini dapat digunakan untuk mendukung program pewilayahan komoditas pertanian di Indonesia. Tanah vulkanik menyebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara, sebagian mempunyai horison A berwarna hitam atau kecokelatan dan horison B berwarna kekuningan, struktur tanah remah, konsistensi gembur, kandungan bahan organik tinggi, dan berat isi rendah. Mineral primernya terdiri atas hiperstein, amfibol, augit, gelas vulkanik, plagioklas, olivin, sanidin, apatit dan biotit. Mineral sekunder tanah terdiri atas alofan, imogolit, ferihidrit, haloisit, kaolinit dan gibsit. Reaksi tanah bervariasi dari masam sampai netral, kandungan nitrogen tergolong sedang, kandungan P potensial rendah kecuali tanah vulkanik di sekitar kawasan gunung berapi di Jawa yang mengandung P dan retensi P tinggi. Kapasitas tukar kation tanah vulkanik tergolong sedang sampai sangat tinggi. Sifat morfologi, kimia, dan fisik tanah tersebut menunjang pertumbuhan tanaman, kecuali retensi P-nya tinggi. Tingkat kesesuaian lahan sangat sesuai (S1) sampai sesuai marjinal (S3) untuk usaha tani komoditas hortikultura dataran tinggi (sayuran dan buah-buahan) dan tanaman perkebunan (teh, kopi arabika dan kina) dengan faktor pembatas kondisi wilayah berlereng yang berpotensi erosi. Berdasarkan faktor pembatas tersebut maka komoditas dan teknologi yang diterapkan pada tanah vulkanik perlu mengacu pada tingkat kesesuaian lahan dan diikuti oleh usaha konservasi sejak awal agar tanah dapat digunakan untuk pertanian secara berkesinambungan.Kata kunci: Tanah vulkanik, piroklastika, karakteristik, potensi 
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DAN STRATEGI ADAPTASI TANAMAN BUAH DAN SAYURAN DI DAERAH TROPIS / CLIMATE CHANGE IMPACT AND ADAPTATION SRATEGY FOR VEGETABLE AND FRUIT CROPS IN THE TROPIC REGION Sarvina, Yeli
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v38n2.2019.p65-76

Abstract

Climate change has significant negative impact on agriculture in tropical region. Inrecent years, research on climate change has focused mainly on food crops while horticultural crops have received little attention. This paper is an overview of Indonesian future climate projection for precipitation, temperature and extreme climate, climate change impact and adaptation strategies on vegetable and fruit crops and future challenge for horticultural development under climate change. The climate change will decrease crop productivity and quality, increase the incidence of new pest and disease, and the outbreaks on vegetable and fruit crops. Further climate change will disrupt water availability, alter climate-crop suitability and cause crop failure due to extreme climate. Several adaptation measures have been developed in farming system, among other adjustment of planting time, using resistant varieties to environmental strees, adopting irrigation technology for efficient water use, using green house and increasing farmers and extention service capacity through climate field school. For future research it is necessary to assess climate projections with several scenarios and Global Circular Models (GCMs) and their impact on future vegetable and fruits crops by developing crop modeling which should be given a priority of in agriculture. This information crucially needed for adaptation strategy and a long term agricultural planning in the future.Keywords: Vegetable, fruit, climate change, global circular model, adaptation  AbstrakPerubahan iklim berdampak negatif terhadap pertanian di daerah tropis. Selama ini penelitian dampak perubahan iklim terhadap pertanian lebih banyak dilakukan pada tanaman pangan, sementara pada tanaman hortikultura, khususnya sayuran dan buah-buahan masih terbatas. Tulisan ini merupakan tinjauan tentang proyeksi dampak perubahan iklim di Indonesia yang meliputi curah hujan, suhu udara, dan iklim ekstrim terhadap produksi tanaman buah dan sayuran, di samping berbagai upaya adaptasi yang telah dilakukan dan tantangan pembangunan hortikultura ke depan. Perubahan iklim pada tanaman sayuran dan buah-buahan terbukti menurunkan kuantitas dan kualitas produksi, munculnya hama penyakit baru, meningkatnya serangan hama dan penyakit, gagal panen, penurunan kapasitas air irigasi, perubahan kesesuian lahan dan tanaman. Beberapa langkah adaptasi yang sudah dilakukan yaitu penyesuaian sistem usaha tani yang meliputi penggunaan varietas toleran cekaman lingkungan, penyesuian waktu tanam, penggunaan teknik irigasi hemat air, pengembangan teknologi pencarian sumber daya air baru, penggunaan rumah kasa/rumah plastik, peningkatan kemampuan petani dan penyuluh dalam memahami perubahan iklim melalui sekolah lapang. Ke depan masih perlu dilakukan kajian proyeksi iklim dengan berbagai skenario dan berbagai Global circular model (GCM) serta kajian dampak perubahan iklim terhadap tanaman sayur dan buah unggulan melalui pengembangan pemodelan sistem usaha tani. Informasi proyeksi dampak perubahan iklim diperlukan sebagai upaya adaptasi dan perencanaan pembangunan pertanian yang dikaitkan dengan perubahan iklim.Kata kunci: Buah-buahan, sayuran, perubahan iklim, global circular model, adaptasi 
POTENSI DAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN KOMODITAS AREN SEBAGAI PRODUK PANGAN DAN NONPANGAN / Potential and Technology Processing of Palm Sugar Commodity As Food and Non-Food Products Rindengan Barlina; Suzanne Liwu; Engelbert Manaroinsong
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p35-47

Abstract

The area of palm sugar plantations in Indonesia is estimated at 61,924 ha, which is spread over 26 provinces. The area of palm sugar plants increased by an average of 2.0% per year with a production growth rate of 1.9% per year. Generally, the main product expected is the neera (which is tapped from spadix). In its development, other parts of the sugar palm plant began to be glimpsed, because it has an impact on increasing the added value of commodities. This paper aims to express the potential of palm sugar as a source of raw materials for processing various products, especially food products. Like just a coconut plant, the sugar palm plant can also be dubbed the tree of life because all parts can be utilized. Neera as the main product, whose production can reach 8-22 liters/tree/day is the raw material for processing sugar. Besides that it can be processed into palm wine and soft drinks. Palm stems (pith parts) can be processed into starch and production can reach 60-70 kg / tree. Sugar palm starch can substitute flour in the processing of biscuits, MP-ASI, noodles and as raw material for edible films. Whereas the fruit can be processed into the kolang kaling and can be further processed into various products. Food product processing technology from palm sugar is available, so it is expected to increase the variety of food products, while improving consumer health and farmers’ incomes.Keywords: Sugar palm, potential, processing, product AbstrakLuas areal tanaman aren di Indonesia diperkirakan 61.924 ha yang tersebar pada 26 propinsi. Areal tanaman aren bertambah rata-rata 2,0% dengan laju pertumbuhan produksi 1,9% per tahun. Produk utama yang diharapkan dari aren adalah nira yang disadap dari mayang. Dalam perkembangannya, bagian-bagian lain dari tanaman aren mulai dilirik, karena juga memiliki nilai tambah. Naskah ini mengemukakan potensi tanaman aren sebagai sumber bahan baku berbagai produk, terutama pangan. Seperti halnya kelapa, tanaman aren juga dapat dijuluki sebagai tanaman serbaguna karena semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan. Nira sebagai produk utama aren memiliki produktivitas antara 8-22 liter/pohon/hari dan merupakan bahan baku gula cetak, gula cair, dan gula semut. Selain itu, nira aren dapat diolah menjadi palm wine dan minuman ringan. Batang aren (bagian empulur) dapat diolah menjadi pati dengan produktivitas 60-70 kg/pohon. Pati aren dapat mensubstitusi tepung terigu dalam pembuatan biskuit, makanan pelengkap air susu ibu, mie, dan bahan baku edible film. Buah aren umumnya diolah menjadi kolang kaling dan dapat diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk. Teknologi pengolahan produk pangan dari aren telah tersedia, yang diharapkan dapat menambah keragaman produk pangan, sekaligus meningkatkan kesehatan konsumen dan pendapatan petani.Kata kunci: Aren, potensi, pengolahan, produk
PERKEMBANGAN PEMANFAATAN, REGULASI, DAN METODE DETEKSI PRODUK REKAYASA GENETIKA PERTANIAN DI INDONESIA / Development of Utilization, Regulation, and Detection Methods of Agricultural Genetically Modified Products in Indonesia Bahagiawati Bahagiawati; Toto Hadiarto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p61-71

Abstract

Genetically modified crops (GM crops) have developed very fast globally, although to date controversies over the GM crop uses are still occurring. GM crops have been planted on over 191.7 million hectare area and cultivated in 26 countries in five continents. Biosafety of GM crops both globally and domestically are guaranteed through regulations made at the level of law, government regulations, related ministrial regulation including the guidelines. In general, those regulations have been implemented, thus the biosafety of GM crop utilization is guaranteed in Indonesia. Unfortunately, although Indonesia gave a certification for released permit for drought tolerant sugarcane, it only grown in a limited areas belongs to state-owned agricultural company (PTPN XI). The country has certified 27, 7, and 16 GM events for food, feed, and seeds for environment safety, respectively. The implementation of these regulations needs a monitoring system that is equipped with facilities of GMO detection laboratory with adequate capacity. Indonesia has several such laboratories. The methods of GMO detections have developed from very basic techniques, i.e. qualitative screening to the determination of specific events that define the type of trait of GMO, even quantitative detection, both single and multiplex. Each method has its own advantages. The capacities of GMO detection laboratory in Indonesia still need to be upgraded to master the fast-developing technology. The purpose of this review is to provide information on the development of global GM crops utilization including in Indonesia and the development of regulations and detection methods with their prospects and challenges.Keywords: Genetics, modification, regulation, detection methods AbstrakPemanfaatan tanaman produk rekayasa genetik (PRG) telah berkembang cepat dan mendunia walaupun sampai saat ini masih terjadi kontroversi. Luas penanamannya telah mencapai 191,7 juta ha dan ditanam oleh 26 negara di lima benua. Keamanan hayati PRG secara global maupun domestik telah dijamin oleh peraturan pada tingkat undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan kementerian terkait, dan pedoman pelaksanaannya. Secara umum peraturan peraturan tersebut telah dijalankan sehingga keamanan hayati dari pemanfaatan PRG terjamin di Indonesia. Sayangnya di Indonesia PRG yang sudah diberi izin edar hanya ditanam secara terbatas seperti tebu toleran kekeringan di beberapa kebun milik PTPN. Indonesia juga telah memberikan sertifikat aman hayati pada beberapa varietas PRG diantaranya 27 PRG pangan, tujuh PRG pakan, dan 16 PRG benih (lingkungan). Implementasi peraturan yang telah ada memerlukan sistem pengawasan yang dilengkapi dengan fasilitas laboratorium deteksi PRG dengan kapasitas yang memadai. Indonesia telah mempunyai beberapa laboratorium tersebut. Metode deteksi PRG telah berkembang dari teknik yang sangat mendasar yaitu deteksi untuk skrining kualitatif PRG sampai teknik penentuan spesifik event yang menetapkan jenis/sifat PRG, bahkan teknik deteksi secara kuantitatif yang bersifat tunggal maupun multiplex. Metode-metode deteksi tersebut memiliki keunggulan masing-masing. Laboratorium penguji PRG di Indonesia masih perlu ditingkatkan kemampuannya dengan penguasaan teknologi yang berkembang dengan pesat. Makalah ini memberikan informasi perkembangan pemanfaatan PRG global termasuk di Indonesia dan perkembangan regulasi dan metode deteksi serta prospek dan tantangan.Kata kunci: Genetika, rekayasa, regulasi, metode deteksi
PROSES DAN PENDEKATAN REGENERASI PETANI MELALUI MULTISTRATEGI DI INDONESIA / Process and Approach to Farmer Regeneration Through Multi-strategy in Indonesia Oeng Anwarudin; Sumardjo Sumardjo; Arif Satria; Anna Fatchiya
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p73-85

Abstract

The low share of young farmers in Indonesia must be a serious concern of the government in the future agricultural development program. The results of the agricultural census in 2013 showed that the portion of young farmers (<35 years) was 12.87%, far lower than the middle age (35-54 years) 54.37%, and the elderly (> 54 years) 32.76%. This situation encourages the importance of finding solutions to realize farmers’ regeneration. This paper describes the regeneration of farmers (processes, approaches, and strategies) through increasing the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. Regeneration has the same terms as the succession and inheritance of agricultural business, which is the process of presenting new actors in agricultural business. Farmer regeneration can be in the family environment which means that the management of agricultural businesses is inherited from parents to their children, and non-family regeneration, namely inheritance of agricultural businesses, is shifted to newcomers who have no family relations. The regeneration process can be planned that is driven by outsiders and without a plan that is driven by the community itself. Approaches and strategies for farmers’ regeneration processes can be through strengthening the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. The role of the family can be increased through the cultivation of respect, socialization, and inheritance of agricultural businesses. The role of agricultural extension workers as facilitators, communicators, motivators, consultants, and institutional development of young farmers can be strengthened. The role of the community through outreach, information transfer, and consultation can be intensified. Modernization of agriculture can be through the application of agricultural mechanization technology and smart farming or digital farming. Farmer corporations can be developed to attract the interest of the younger generation because they open opportunities for the availability of economically viable land, based on the specialization of expertise, the use of agricultural machinery, and improving the bargaining position of farmers.Keywords: Farmers, regeneration, corporation, agriculture, modernization AbstrakPorsi petani muda yang rendah di Indonesia harus menjadi perhatian serius pemerintah dalam program pembangunan pertanian ke depan. Hasil sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan porsi petani muda (<35 tahun) 12,87%, jauh lebih rendah dibanding usia menengah (35-54 tahun) 54,37% dan usia lanjut (>54 tahun) 32,76%. Keadaan ini mendorong pentingnya mencari solusi mewujudkan regenersi petani. Tulisan ini memaparkan regenerasi petani (proses, pendekatan dan strategi) melalui peningkatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Regenerasi memiliki istilah yang sama dengan suksesi dan pewarisan usaha pertanian, yaitu proses menghadirkan pelaku baru dalam usaha pertanian. Regenerasi petani dapat di lingkungan keluarga yang berarti pengelolaan usaha pertanian diwariskan dari orang tua kepada anaknya, dan regenerasi nonkeluarga yaitu pewarisan usaha pertanian beralih kepada pendatang baru yang tidak memiliki hubungan keluarga. Proses regenerasi dapat terencana yang digerakkan pihak luar dan tanpa rencana yang digerakkan masyarakat sendiri. Pendekatan dan strategi proses regenerasi petani dapat melalui penguatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Peranan keluarga dapat ditingkatkan melalui penanaman sikap respek, sosialisasi, dan pewarisan usaha pertanian. Peranan penyuluh pertanian sebagai fasilitator, komunikator, motivator, konsultan, dan penumbuhkembangan kelembagaan petani muda dapat dikuatkan. Peranan komunitas melalui sosialisasi, transfer informasi, dan konsultasi dapat diintensifkan. Modernisasi pertanian dapat melalui penerapan teknologi mekanisasi pertanian dan smart farming atau digital farming. Korporasi petani dapat dikembangkan sebagai penarik minat generasi muda karena membuka peluang tersedianya lahan yang layak secara ekonomi, berbasis spesialisasi keahlian, penggunaan alat-mesin pertanian dan meningkatkan posisi tawar petani.Kata kunci: Petani, regenerasi, korporasi, pertanian, modernisasi 
STRATEGI MEMPERTAHANKAN INDONESIA SEBAGAI PRODUSEN UTAMA PALA DUNIA / The Strategy to Maintain Indonesia as a Main Nutmeg Producer in the World Bariot Hafif
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 1 (2021): June, 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n1.2021.p58-70

Abstract

Indonesia is currently still the world’s prime exporter of nutmeg. Meanwhile, the quality requirements demanded by the world market continue to increase that needs Indonesian intention seriously. This article reveals the performance of Indonesian and global nutmeg production, competitiveness and potential, challenges and opportunities of Indonesia to survive as the major world’s producer and supplier of nutmeg. In 2019, Indonesia produced 37 thousand tons and exported 20 thousand tons to fill 52 thousand tons of the nutmeg world market, with India (12 thousand tons), Sri Lanka (3 thousand tons), and other countries. Unfortunately, Indonesian nutmeg price is lower than Grenada and India, even European Union (EU), the USA, and Japan rejected Indonesian nutmeg 54 times from 2014 to 2016. Indonesia’s potential as a major producer of nutmeg is still good because this commodity is an indigenous plant of Indonesia, the land and climate are suitable for the nutmeg development, and the cultivation method is in line with GAP (Good Agricultural Practices). The challenge is that the quality standard of nutmeg products is getting higher, so be necessary to develop the farmers to meet the standard. The strategy to maintain Indonesia as the world’s main nutmeg producer and supplier is; 1) increasing the intensity of assistance to improve farmers knowledge regarding quality, health, food safety, and sustainable production as well as post-harvest technology, 2) improving professionalism, skill, and adequacy of assistant officers, 3) continuing to encourage nutmeg cultivation following GAP, and 4) lessons learned from the country of Grenada in policy intervention to improve quality, product diversification, and product safety of nutmeg.Keywords: Myristica fragrans, production, export, quality AbstrakIndonesia saat ini masih berstatus sebagai eksportir utama pala dunia. Sementara itu, persyaratan mutu pala di pasar dunia terus meningkat yang perlu mendapat perhatian serius agar Indonesia tetap menjadi produsen utama pala. Artikel ini mengungkapkan tren produksi pala Indonesia dan dunia, daya saing, potensi, tantangan, dan peluang untuk bertahan sebagai produsen dan pemasok utama pala dunia. Pada tahun 2019 Indonesia menghasilkan 37 ribu ton pala dan mengekspor 20 ribu ton untuk mengisi 52 ribu ton pasar pala dunia, bersama India (12 ribu ton), Srilangka (3 ribu ton), dan beberapa negara lainnya. Sayangnya, harga pala Indonesia lebih rendah dari pala Grenada dan India, bahkan pada tahun 2014-2016 terjadi 54 kasus penolakan ekspor pala Indonesia ke Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Potensi Indonesia sebagai produsen utama pala masih baik karena komoditas ini merupakan tanaman asli Indonesia, lahan dan iklim sesuai untuk pengembangan pala, dan cara budi daya sejalan dengan GAP (Good Agricultural Practices). Tantangan yang dihadapi adalah semakin tingginya standar mutu produk pala di pasar dunia sehingga perlu pembinaan petani untuk memenuhi standar tersebut. Strategi untuk mempertahankan Indonesia sebagai penghasil dan pemasok utama pala dunia adalah sebagai berikut: 1) meningkatkan intensitas pendampingan agar petani lebih paham terhadap aspek mutu, kesehatan, keamanan pangan, keberlanjutan produksi, dan pengelolaan pascapanen untuk memperbaiki mutu pala; 2) memperbaiki profesionalitas, kecakapan, dan kecukupan petugas pendamping; 3) mendorong petani untuk mengikuti budi daya pala sesuai GAP; dan 4) mengambil pembelajaran dari Grenada dalam mengintervensi kebijakan untuk meningkatkan produksi, mutu, diversifikasi, dan keamanan produk pala.Kata kunci: Pala, produksi, ekspor, mutu
PENERAPAN TEKNIK INVIGORASI DALAM MENINGKATKAN VIGOR BENIH PADI / Application of Invigoration Technique in Order to Improve Seed Mira Landep Widiastuti; Sri Wahyuni
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p96-104

Abstract

Seed is a component of production that contributes to increasing the national rice production. The use of low-quality seeds compared with production costs, non-uniform plant growth, yield reduction, and yield quality. One effort to improve the quality of seed vigor is through invigoration treatment. Invigoration technique among other hydration, thermal treatment, and coating. The hydration method is a water absorption system in seeds. Uncontrolled absorption (hydro-priming), by soaking and drying the seeds, hardening, on-farm priming, soaking for a certain period. The controlled system (osmo-priming) by immersing in osmotic solution, osmo-hardening (integration of hardening and osmo-priming), matri-priming with moist solid media, humidifications (with high humidity), and hormonal priming (with hormones. The second method is by temperature treatment, including by cooling and heating. The third technique is the coating treatment, namely coating the seeds. Hydration system hydro-priming for 30 hours can break seed dormancy with normal germination capacity of 91.3-99.3% in Memberamo, Cipunagara, and Maros varieties. The hardening technique is effective in increasing the germination of hybrid rice seeds for 12 hours with 2 cycles and for 24 hours with one cycle. The osmo-priming technique of soaking seeds in a 10 ppm GA3 solution or a mixture of 10 ppm GA3 + 15 ppm kinetin was effective in increasing the vigor of hybrid rice seeds. The matri-priming technique with rubbing ash as a medium plus the addition of 50 µ m GA3 was effective in breaking dormancy of the Membramo, Cipunagara, and Maros varieties of rice. It is can be applied, especially by small farmers.Keywords: Rice, seed, invigoration, quality AbstrakBenih merupakan komponen budi daya yang berkontribusi dalam meningkatkan produksi padi nasional. Penggunaan benih bermutu rendah berpengaruh terhadap penambahan biaya produksi, pertumbuhan tanaman tidak seragam, dan penurunan hasil dan mutu hasil. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu benih dari aspek vigor yang rendah adalah melalui perlakuan invigorasi. Teknik invigorasi dibagi menjadi tiga metode, yaitu hidrasi, perlakuan suhu, dan pelapisan (coating). Metode hidrasi merupakan sistem penyerapan air yang dapat terjadi pada benih. Penyerapan tidak terkontrol (hydro-priming) yaitu dengan merendam dan mengeringkan benih, pengerasan (hardening), on-farm priming yaitu merendam dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan terkontrol (osmo-priming) dengan merendam pada larutan osmotik, osmo-hardening (integrasi hardening dan osmo-priming), matripriming dengan media padat lembab, humidifications (dengan kelembaban tinggi), dan hormonal priming (dengan hormon). Metode kedua adalah dengan perlakuan suhu, diantaranya dengan pendinginan dan pemanasan. Teknik ketiga adalah dengan perlakuan coating yaitu melapisi benih. Sistem hidrasi hydropriming selama 30 jam dapat mematahkan dormansi benih dengan daya kecambah normal 91,3-99,3% pada varietas Memberamo, Cipunagara, dan Maros. Teknik hardening efektif meningkatkan daya berkecambah benih padi hibrida selama 12 jam dengan dua siklus dan selama 24 jam dengan satu siklus. Teknik osmo-priming perendaman benih dalam larutan GA3 10 ppm atau larutan campuran GA3 10 ppm + kinetin 15 ppm efektif meningkatkan vigor benih padi hibrida. Teknik matri-priming dengan abu gosok sebagai media plus penambahan GA3 50 µm efektif mematahkan dormansi padi varietas Membramo, Cipunagara, dan Maros. Teknik invigorasi tersebut dapat diterapkan, khususnya oleh petani dengan skala produksi kecil.Kata kunci: Padi, benih, invigorasi, mutu

Filter by Year

2008 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue