cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 261 Documents
PERAN TEKNOLOGI BUDI DAYA DAN POLA TANAM PILIHAN PETANI DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KARET RAKYAT / Role of Cultivation Technology and Planting Patterns of Farmer Choice for Improving Smallholding Rubber Productivity Junaidi Junaidi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p86-95

Abstract

Smallholding rubber productivity in Indonesia is still relatively low due to low cultivation technology adoption. The characteristics of smallholder plantations, with limited land tenure and capital, require a specific approach compared to large plantations. This article is aimed to inform rubber cultivation innovations to improve smallholder rubber productivity. Land conservation can increase the opportunity for developing rubber in sub-optimal environments such as peatlands, tides and high-elevated areas. Plant breeding activities in Indonesia have resulted IRR superior clones series with high yield potential (more than 1,500 kg/ha/yr), vigorous growth, and resistance to main diseases. Modification of planting space can increase land productivity and alternative income for farmers during immature period. To obtain the high yield, the clonal typology harvesting system supported by latex diagnosis can optimize the potential of clones and prevent tapping panel dryness (TPD). To increase technology adoption at the farm level, the role of extension workers, farmer groups, and support from the government is required.Keywords: Rubber, farmers, technology, productivity AbstrakProduktivitas tanaman karet rakyat di Indonesia masih tergolong rendah, terutama disebabkan oleh adopsi teknologi budi daya belum optimal. Karakteristik perkebunan karet rakyat, terutama penguasaan lahan dan modal yang terbatas, memerlukan pendekatan spesifik dibanding perkebunan besar. Tulisan ini menginformasikan inovasi teknologi budidaya karet yang dapat meningkatkan produktivitas karet rakyat. Konservasi lahan dapat meningkatkan potensi pengembangan tanaman karet di lahan suboptimal seperti lahan gambut, pasang surut, dan daerah berelevasi tinggi. Pemuliaan tanaman di Indonesia telah menghasilkan klonklon unggul seri IRR dengan potensi hasil tinggi (rata-rata di atas 1.500 kg/ha/th), pertumbuhan jagur, dan tahan terhadap penyakit. Modifikasi pola tanam dapat meningkatkan produktivitas lahan dan sumber pendapatan petani selama tanaman belum menghasilkan (TBM). Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dan berkelanjutan, sistem pemanenan lateks tipologi klon yang didukung oleh diagnosis lateks dapat mengoptimalkan potensi klon dan mencegah kering alur sadap (KAS). Untuk meningkatkan adopsi teknologi di tingkat petani diperlukan dukungan penyuluh, kelompok tani, dan pemerintah.Kata kunci: Karet, petani, teknologi, produktivitas.
PENGOLAHAN DAN PELUANG PENGEMBANGAN PRODUK PANGAN BERBASIS MINYAK SAWIT DI INDONESIA / Processing and Palm Oil-Based Food Product Development Opportunities In Indonesia Hasrul Abdi Hasibuan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n2.2021.p111-124

Abstract

Palm oil is produced from the mesocarp part of the oil palm fruit (Elaeis guineensis Jacq.), contains balanced saturated fatty acids (47.8-55.2%) and unsaturated fatty acids (43.1-53.8%), and is semi-solid at room temperature with a melting point of 33.0-39.0 °C. About 80%, palm oil is applied to food products. In food products, palm oil needs to be purified through a refining process to remove free fatty acids, water, and impurities. Palm oil can be fractionated based on differences in melting points to produce palm olein fraction and palm stearin fraction with yields of about 70- 80% and 20-30%, respectively. Food products produced from palm oil and its fractions include cooking oil, vanaspati, shortening, margarine, cocoa butter equivalent, and human milk fat substitute. These food products are produced by modifying the physicochemical characteristics of palm oil and its fractions through blending, hydrogenation, and interesterification processes. The challenge for the palm oil industry in the future is to produce products that are low in contaminants such as 3- monochloropropane-1,2-diol and glycidyl esters, trans-fat free, and products that have high functional and nutritional value, such as structured lipids. Improving the quality and developing diversification of palm oil-based food products will encourage the sustainability of the palm oil industry in Indonesia.Keywords: Palm oil, processing, palm oil, food product AbstrakMinyak sawit dihasilkan dari bagian mesokarp buah tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), mengandung asam lemak jenuh (47,8-55,2%) dan asam lemak tak jenuh (43.1-53,8%) seimbang, dan berbentuk semi padat pada suhu ruang dengan titik leleh sebesar 33,0-39,0°C. Sekitar 80%, minyak sawit diaplikasikan untuk produk pangan. Pada produk pangan, minyak sawit perlu dimurnikan melalui proses rafinasi untuk menghilangkan asam lemak bebas, air dan kotoran. Minyak sawit dapat difraksinasi berdasarkan perbedaan titik leleh untuk menghasilkan fraksi olein sawit dan fraksi stearin sawit dengan rendemen masing-masing sekitar 70- 80% dan 20-30%. Produk pangan yang dapat dihasilkan dari minyak sawit dan fraksi-fraksinya meliputi minyak goreng, vanaspati, shortening, margarin, cocoa butter equivalent dan human milk fat substitute. Produk-produk pangan tersebut dihasilkan dengan memodifikasi karakteristik sifat fisikokimia minyak sawit dan fraksi-fraksinya melalui proses pencampuran (blending), hidrogenasi, dan interesterifikasi. Tantangan industri minyak sawit ke depan adalah menghasilkan produk rendah kontaminan seperti 3-monokloropropana-1,2-diol dan glisidil ester, bebas lemak trans, dan produk yang memiliki nilai fungsional dan nutrisi tinggi seperti lipida terstruktur. Dengan dilakukannya peningkatan kualitas dan pengembangan diversifikasi produk pangan berbasis minyak sawit akan mendorong keberlanjutan industri kelapa sawit di Indonesia.Kata kunci: Kelapa sawit, pengolahan, minyak sawit, produk pangan
SISTEM PENYAMPAIAN INOVASI MENDUKUNG PERCEPATAN HILIRISASI DAN ADOPSI TEKNOLOGI INTRODUKSI PERTANIAN / Innovation Delivery System to Support the Downstream Acceleration and the Adoption of Agricultural Introduction Technology Rahmi Wahyuni
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 1 (2021): June, 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n1.2021.p1-8

Abstract

Many technology innovations have been disseminated by agricultural research and study institutions, but have not been utilized or have not been continuously adopted by farmers so that they have not been able to significantly boost the economy of agricultural communities. This is partly due to gaps in the delivery of innovation (delivery system) and innovation acceptance (receiving system). This paper aims to identify the process of delivering innovation to support speeding up of adoption and downstreaming of introduce inovation technology application, as recommendations in preparing dissemination strategy effective agricultural technology that could be implemented in a sustainable way by farmers. In speeding up of adoption and downstreaming of introduce inovation technology application, extension workers are the spearhead in the dissemination of agricultural technology innovations. So far, counseling has focused too much on the delivery of program activities such as input supply and technical services so as to ignore farmers (farmer empowerment) and extension workers (competence or credibility extension workers) that should need to be improved.The essence of a counseling is empowering farmers. Associated with the credibility of an agricultural instructor must have competence, 1) threshold competencies, namely the main characteristics that must be owned by an instructor such as basic knowledge and expertise, and 2) differentiating competencies, are the distinguishing factors between one instructor with another high-performing with the other low performance. So as to create counseling that functions as a motivator, dynamic, facilitator and consultant for farmers.Keywords: Agricultural, innovation, extension, adoption AbstrakBanyak inovasi teknologi yang sudah terdiseminasikan oleh lembaga penelitian dan pengkajian pertanian, tetapi tidak termanfaatkan atau belum diadopsi oleh petani secara berkesinambungan sehingga tidak mampu mendongkrak perekonomian masyarakat pertanian secara signifikan. Hal ini antara lain disebabkan oleh kesenjangan dalam penyampaian inovasi (delivery system) dengan penerimaan inovasi (receiving system). Tulisan ini mengidentifikasi proses penyampaian inovasi dalam mendukung upaya percepatan adopsi dan hilirisasi penerapan teknologi introduksi, sebagai rekomendasi dalam menyusun strategi diseminasi teknologi pertanian yang efektif agar dapat diimplementasikan secara berkelanjutan oleh petani. Dalam percepatan adopsi dan hilirisasi teknologi menjadikan penyuluh sebagai ujung tombak diseminasi inovasi pertanian. Selama ini penyuluhan lebih fokus pada penyampaian program kegiatan seperti suplai input dan layanan teknis sehingga mengabaikan pemberdayaan petani dan penyuluh (kompentensi atau kredibilitas) yang seharusnya perlu ditingkatkan. Esensi penyuluhan pada prinsipnya adalah pemberdayaan petani. Terkait dengan kredibilitas, penyuluh pertanian harus mempunyai kompetensi: 1) threshold competencies, yaitu karakteristik utama yang wajib dimiliki seperti pengetahuan dan keahlian dasar, dan 2) differentiating competencies, faktor pembeda antara penyuluh yang memiliki kinerja tinggi dengan kinerja rendah, sehingga penyuluh mampu berfungsi sebagai motivator, dinamisator, fasilitator, dan konsultan bagi petani.Kata kunci: Pertanian, inovasi, penyuluhan, adopsi 
PEMULIAAN PADI SECARA PARTISIPATIF BERBASIS KONSEP KAWASAN PERTANIAN BERKELANJUTAN / Participatory Rice Breeding Based on The Concept of Sustainable Agriculture Region Vina Eka Aristya; Taryono Taryono
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n2.2021.p125-137

Abstract

The Rice farming system has long been implemented by a typical top-down approach. The degree of creativity and autonomy of farmers has been determined by the continuous external inputs. The main challenge of rice breeding programs is to improve the quality of varieties to be developed in a specific environment and acceptable to the user community. The adoption of new varieties was limited because the breeding process has not taken into account the farmers' preferences. Another obstacle that often arises was that varieties are less adaptive in specific conditions. The variety's productivity depends on farmers' knowledge, facilities, and resource management. This paper explores the principles of participatory rice breeding and its application with a comprehensive approach that aims to encourage farmer empowerment in assembling superior varieties and providing seeds independently. Participatory breeding programs are offered as a solution in understanding the needs of sustainable agriculture. The farmers' involvement serves to capture preferences and selection of lines with high yield potential and were environmentally adaptive. Collaboration was carried out through testing the lines on farmers' land. Decentralization breeding also pays attention to the agroecological paradigm in the scale of the agricultural region. Implementation of agricultural region development serves to preserve sustainable agricultural resources and the environment. The farmers' active participation in the agricultural region has a positive impact on ecosystem sustainability, biodiversity, and environmental conservation for the future. Participatory rice breeding through integrated policies contributes to improving farmers' welfare and realizing environmental sustainability through agricultural region management.Key words: Rice, breeding, participatory, collaboration, varieties AbstrakSistem pertanian padi telah lama diterapkan dengan pendekatan top-down yang khas. Tingkat kreativitas dan otonomi petani ditentukan oleh input eksternal secara terus menerus. Tantangan utama program pemuliaan padi ialah meningkatkan kualitas varietas untuk dikembangkan di lingkungan khusus dan dapat diterima oleh masyarakat pengguna. Adopsi varietas baru terbatas karena proses pemuliaan belum memperhatikan preferensi petani. Kendala lain yang sering muncul yaitu varietas kurang adaptif pada lingkungan spesifik. Produktivitas varietas bergantung pada pengetahuan petani, fasilitas, dan pengelolaan sumber daya. Makalah ini menggali prinsip pemuliaan padi secara partisipatif dan penerapannya dengan pendekatan komprehensif yang bertujuan utuk mendorong pemberdayaan petani dalam perakitan varietas unggul dan penyediaan benih secara mandiri. Program pemuliaan partisipatif ditawarkan sebagai solusi dalam memahami kebutuhan pertanian berkelanjutan. Keterlibatan petani berfungsi untuk menjaring preferensi dan seleksi galur dengan potensi hasil tinggi dan adaptif lingkungan. Kolaborasi dilakukan melalui uji galur di lahan petani. Pemuliaan desentralisasi juga memperhatikan paradigma agroekologi dalam skala kawasan pertanian. Implementasi pembangunan kawasan pertanian berfungsi melestarikan sumber daya dan lingkungan pertanian berkelanjutan. Partisipasi aktif petani di kawasan pertanian berdampak positif terhadap kelestarian ekosistem, keanekaragaman hayati, dan konservasi lingkungan bagi masa depan. Pemuliaan padi partisipatif melalui kebijakan terintegrasi berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan petani dan mewujudkan kelestarian lingkungan melalui pengelolaan kawasan pertanian.Kata kunci: Padi, pemuliaan, partisipatif, kolaborasi, varietas
TANTANGAN IMPLEMENTASI PEMBAYARAN JASA LINGKUNGAN UNTUK PENCEGAHAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN / The Challenges of Implementing Payment for Environmental Services to Prevent The Agricultural Land Conversion Saridewi, Tri Ratna; Nazaruddin, Nazaruddin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n2.2021.p138-148

Abstract

Payments for environmental services mechanism is expected to strengthen decisions of agricultural landowners to maintain the existence of their agricultural land. This mechanism is expected to prevent the conversion of land that occurs due to its lower appreciation compared to other uses. This study is aimed to critically examine the challenges of implementing payments for environmental services in Indonesia and strategies to improve the implementation of payments for environmental services schemes to reduce agricultural land conversion. Ostrom’s Institutional Analysis and Development framework is used to examine the implementation of Payments for environmental services. The implementation was able to run well through the establishment of institutions that regulate constitutional rules. The collaboration between the Government (as the user of environmental service) and farmers (as the service provider) should be declared and fully understood before the scheme is implemented. Therefore, full participation of all related parties was crucial in achieving the program’s goals. Collective understanding of the need to prevent land conversion and the coordination of stakeholders needs to be carried out sustainably.Keywords: Land, conversion, environmental services, paymentAbstrakMekanisme pembayaran jasa lingkungan diharapkan dapat memperkuat keputusan pemilik lahan pertanian untuk mempertahankannya. Mekanisme tersebut diharapkan dapat mencegah konversi lahan yang terjadi akibat apresiasi terhadap lahan pertanian secara ekonomi lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan lainnya. Kajian ini bertujuan untuk menelaah secara kritis tantangan implementasi pembayaran jasa lingkungan di Indonesia dan strategi meningkatkan implementasi skema pembayaran jasa lingkungan untuk mengurangi konversi lahan pertanian. Kerangka Ostrom’s Institutional Analysis and Development digunakan untuk mengkaji implementasi pembayaran jasa lingkungan. Implementasi pembayaran jasa lingkungan dapat berjalan dengan baik melalui penetapan lembaga yang mengatur aturan konstitusional. Kontrak kerja sama antara pemerintah sebagai pengguna jasa lingkungan dengan petani sebagai penyedia jasa lingkungan harus disosialisasikan dan dipahami sebelum skema pembayaran jasa lingkungan dijalankan. Pelibatan partisipan secara penuh merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan program. Pemahaman bersama tentang perlunya pencegahan konversi lahan dan koordinasi seluruh pemangku kepentingan terkait secara berkelanjutan sangat diperlukan.Kata kunci: Lahan, konversi, jasa lingkungan, pembayaran
OZON UNTUK MENGATASI CEMARAN ASPERGILLUS FLAVUS DAN AFLATOKSIN PADA BIJI-BIJIAN: PELUANG DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI / Ozone to Overcome Aspergillus flavus and Aflatoxin in Grains: Opportunities and Challenges of Implementation Nikmatul Hidayah; Christina Winarti; Usman Ahmad
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n2.2021.p149-158

Abstract

Ozone can be used as an alternative to control mold and aflatoxins in grains that is more eco-friendly because it does not leave residues that are harmful for humans, animals and environment. The use of ozone was quite effective in reducing mold and aflatoxin in grains such as barley, whole wheat, corn and rice. In Indonesia, ozone was limited used for sterilization of fruit and vegetable. Therefore, the comprehensive review on the potential of ozone in grains is needed, especially on the priority commodities of agricultural development in Indonesia, such as rice and corn. The objective of this review was to examine the opportunities of ozone to reduce Aspergillus flavus and aflatoxin in grains, so that it can improve its quality and shelf life. Many studies showed that the use of ozone reduced Aspergillus flavus and aflatoxin in grains by 50-90%.Keywords: Grains, Aspergillus flavus, aflatoxin, ozone AbstrakOzon dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pengendalian cendawan dan aflatoksin pada biji-bijian yang lebih ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu yang berbahaya bagi manusia, hewan, maupun lingkungan. Penggunaan ozon cukup efektif mengurangi kontaminasi cendawan dan aflatoksin pada bijibijian seperti barley, biji gandum, jagung, dan beras. Di Indonesia, ozon digunakan secara terbatas untuk proses pencucian beberapa jenis buah dan sayuran. Oleh karena itu diperlukan telaah lebih lanjut mengenai potensi penggunaan ozon pada biji-bijian terutama komoditas strategis yang menjadi prioritas dalam pembangunan pertanian di Indonesia seperti padi dan jagung. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menelaah peluang penggunaan ozon dalam mengurangi kontaminasi Aspergillus flavus dan cemaran aflatoksin pada produk biji-bijian, sehingga diharapkan dapat memperbaiki kualitas dan meningkatkan umur simpan produk. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan ozon dapat menurunkan cemaran A. flavus dan aflatoksin pada biji-bijian sampai 50-90%.Kata kunci: Biji-bijian, Aspergillus flavus, aflatoksin, ozon
PRODUKSI BENIH PADI HIBRIDA: KEMAJUAN, TANTANGAN, DAN PELUANG PENGEMBANGAN DI INDONESIA / Hybrid Rice Seed Production: Progress, Constraints, and Development Opportunities in Indonesia Widyastuti, Yuni; Prabowo, R. Noviadi; Wibowo, Bayu P.; Kartina, Nita; Rumanti, Indrastuti A.; Agustiani, Nurwulan; Mulsanti, Indria W.
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v41n1.2022.p12-20

Abstract

Hybrid seed production is the important key in the commercialization and development of hybrid rice. The successful of hybrid rice development through the exploitation of heterosis phenomenon in China encouraged other countries including Indonesia to develop hybrid rice. Research conducted at Indonesian Center for Rice Research (ICRR) indicated that the development of hybrid rice technology offered opportunities for increasing rice yields by 15-20% compared to inbred varieties. The high cost of hybrid seed is one of the constraints in the adoption of hybrid rice technology. This is primarily attributed to the low hybrid seed yield which is around 1-1.5 t/ha. This article introduces the results of research and development especially in hybrid rice seed production based on genetic of parental lines of hybrid and its field management. The constraints and opportunities of hybrid seed industry in Indonesia also discussed in this article.Keywords: Hybrid rice, seed production, progress, constraint, opportunity. AbstrakProduksi benih merupakan kunci penting dalam keberhasilan komersialisasi dan pengembangan padi hibrida. Keberhasilan Cina mengembangkan padi hibrida dengan memanfaatkan fenomena vigor hibrida (heterosis) telah mendorong negara lain termasuk Indonesia untuk mengembangkannya. Hasil Penelitian di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) menunjukkan penggunaan teknologi padi hibrida memberikan peluang peningkatan hasil 15-20% dibandingkan dengan varietas inbrida. Harga benih yang tinggi menjadi salah satu tantangan dalam adopsi padi hibrida. Hal ini disebabkan oleh produksi benih F1 yang hanya berkisar 1-1,5 t/ha. Artikel ini memaparkan hasil penelitian produksi benih padi hibrida, terutama berdasarkan genetik galur tetua hibrida dan teknis budidaya. Kendala dan peluang industri benih padi hibrida, strategi pengembangan produksi benih dan pembangunan industri benih padi hibrida di Indonesia juga merupakan bagian dari diskusi penting dalam artikel ini.Kata kunci: Padi hibrida, produksi benih, kemajuan, tantangan, pengembangan
PERSPEKTIF KELEMBAGAAN EKONOMI PETANI DALAM MENDUKUNGPERKEMBANGAN PEREKONOMIAN PERDESAAN / Role of Farmers’ Economic Institution in Supporting RuralEconomics Development Cut Rabiatul Adawiyah; S. Rusdiana; Saptana Saptana
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v41n1.2022.p1-11

Abstract

Farmers’ economic institutions have a very important role in thedevelopment of agribusiness, both as a system and as a business.Increasing the competitiveness of agricultural products in the midstof global market competition can be realized through a strategyof transforming farmer institutions towards reliable farmereconomic institutions, agricultural businesses can be managedefficiently with professional human resources and support forconducive government policies, which are expected to produceagricultural and livestock products that are capable of producinghigh quality agricultural products. create added value and strongcompetitiveness, both in domestic and global markets. Developplans for the future so that the farmers’ economy can improve, aswell as look for leverage points that can encourage or triggerfarmers’ welfare. Increased absorption of labor in rural areasencourages other businesses related to agribusiness and theprovision of infrastructure to support economic progress in thecommunity. Institutional support for farmer groups that have beendeveloped is more oriented to agricultural businesses, to produceproducts and strengthen community economic networks based onlocal resources. The agricultural sector during the Covid-19pandemic can actually be used as a strategy for recovery and atthe same time provides the basis for the development of the realsector of economic progress. Strengthening the economy of farmerscan be pursued through support for strengthening farmerinstitutions, guidance, counseling, capital assistance, agriculturalfacilities and facilities, availability and access to input and outputmarkets, as well as policy support and facilitation of central andregional governments.Keywords: Agricultural institutions, perspective, rural, farmer’s economy AbstrakKelembagaan ekonomi petani mempunyai peranan yang sangatpenting dalam pengembangan agribisnis, baik sebagai sistemmaupun usaha. Peningkatan daya saing produk pertanian di tengahpersaingan pasar global dapat diwujudkan melalui strategitranformasi kelembagaan petani ke arah kelembagaan ekonomipetani yang andal, usaha pertanian dapat dikelola secara efisiendengan SDM profesional dan dukungan kebijakan pemerintah yangkondusif, diharapkan dapat menghasilkan produk pertanian danpeternakan yang mampu menciptakan nilai tambah dan daya saingyang kuat, baik di pasar domestik maupun global. Menyusun rencanauntuk ke depan agar perekonomian petani meningkat, sekaligusmencari titik ungkit yang dapat mendorong atau memicukesejahteraan petani. Peningkatan serapan tenaga kerja diperdesaan mendorong usaha-usaha lain yang berkaitan denganagribisnis dan penyediaan prasarana sebagai pendukung kemajuanperekonomian di masyarakat. Dukungan kelembagaan kelompokpetani yang dikembangkan lebih berorientasi pada usaha pertanian,untuk menghasilkan produk dan memperkuat jaringan ekonomikerakyatan berbasis sumber daya lokal. Sektor pertanian pada masapandemi Covid-19 sesungguhnya dapat dijadikan salah satustrategi untuk pemulihan dan sekaligus memberikan landasaanperkembangan sektor riil kemajuan perekonomian. Penguatanekonomi petani dapat diupayakan melalui dukungan penguatankelembagaan petani, bimbingan, penyuluhan, bantuan permodalan,sarana dan sarana pertanian, ketersediaan dan akses ke pasar inputdan output, serta dukungan kebijakan dan fasilitasi pemerintahpusat dan daerah.Kata Kunci: Kelembagaan pertanian, perspektif, perdesaan,ekonomi petani
KARAKTERISTIK GALAKTOMANAN DARI BERBAGAI SUMBER DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PADA PRODUK PANGAN / The Characteristics of Galactomannan From Various Sources And Its Utiization As An Additives in Food Products Fikratul Ihsan; Sugiyono Sugiyono; Nugraha E. Suyatma
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v41n1.2022.p21-31

Abstract

Galactomannans are water-soluble polysaccharides that can be extracted mainly from endosperm of legume seed. Guar gum, locust bean gum and tara gum are commercial galactomannans extracted from endosperm of legume seed that thrive in India and Pakistan. In the food industry, galactomannan is intentionally added as a thickening agent, emulsion stabilizer and gelling agent. This was due the increased use galactomannan in the food industry. The alternative sources of galactomannan began focused of researches. In Indonesia, galactomannans are extracted from the endosperm of palmae seed such as coconut, kolang-kaling and nipah. The differance of galactomannan source will affect the mannosa and galactosa (M/G) ratio of galactomannan which different result of physical characteristics including solubility, viscosity, emulsion stability, gel forming ability and stability of processing. The application of various galactomannans sources as food additives are influenced by the M/G ratio and galactomannans molecular weight. Galactomannan with weakly galactose ratio such as guar gum (M/G 2:1), tara gum (M/G 3:1) and locust bean gum (M/G 3.5:1) can be used as thickener, syneresis prevention and able to form a gel synergistically with other hydrocolloid, whereas fenugreek (M/G 1:1) which has highly galactose ratio can increase the stability of O/W (oil in water) emulsions in food products. In addition, galactomannan acts as a secondary antioxidant with Fe2+ binding mechanism. This article expose of sources, process of extraction, physical characteristics and recommeds the use of galactomannan from various sources.Keywords: Galactomannan, sources, extraction, characterization, recommendationAbstrakGalaktomanan merupakan polisakarida larut air yang diekstrak dari endosperm biji tanaman leguminase. Guar gum, locust bean gum, dan tara gum adalah galaktomanan komersial yang diekstrak dari endosperm biji tanaman leguminase yang tumbuh subur di India dan Pakistan. Pada industri makanan, galaktomanan sengaja ditambahkan sebagai bahan pengental, penstabil emulsi, dan pembentuk gel. Hal tersebut meyebabkan meningkatnya permintaan industri makanan terhadap galaktomanan komersial. Pengembagan sumber alternatif galaktomanan mulai mejadi fokus penelitian. Di Indonesia, galaktomanan diekstrak dari endosperm biji tanaman palmae seperti bungkil kelapa, kolang-kaling, dan nipah. Perbedaan sumber galaktomanan akan memengaruhi rasio manosa dan galaktosa (M/G) yang mengakibatkan terdapatnya perbedaan karakteristik fisik meliputi kelarutan, kekentalan, stabilitas emulsi, kemampuan membentuk gel, dan stabilitas terhadap kondisi pengolahan. Galaktomanan dengan rasio galaktosa yang rendah seperti guar gum (M/G 2:1), tara gum (M/G 3:1), dan locust bean gum (M/G 3,5:1) dapat digunakan sebagai pengental, mencegah terjadinya sineresis, dan memperbaiki tekstur gel hidrokoloid lain, sedangkan fenugreek gum (M/G 1:1) memiliki rasio galaktosa tinggi yang dapat meningkatkan stabilitas emulsi minyak dalam air (O/W) pada produk pangan. Selain itu, galaktomanan dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan sekunder dengan mekanisme pengikatan logam Fe2+. Artikel ini mengungkap sumber, tahap ekstraksi, karakteristik fisik, dan merekomendasikan penggunaan galaktomanan dari berbagai sumber.Kata kunci: Galaktomanan, sumber, ekstraksi, karakteristik, rekomendasi 
PENGELOLAAN HARA MIKRO ZN DALAM TANAH UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN/Management of Micro Zink Nutrition in Soil to Improve Plant Quality and Productivity Mirawanty Amin; Herlina N Salamba; Asnawi Asnawi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v41n1.2022.p32-43

Abstract

Zinc (Zn) is a micronutrient that has an important role in various physiological and photosynthetic processes of plants. However the important role of Zn has not yet been concidered. This paper discussed the source of Zn and its availability in the soil, the important role of Zn in plants and strategies to overcome Zn deficiency in the soil. Zn has an important role in increasing crop production and yield quality. Zn nutrients in soil derived from parent material with an average content of 78 mg/kg. The low Zn level in the soil causes stunted plant and low crop yields. Zinc deficiency in plants resulted leaf chlorosis, necrotic spots on leaves, stunted plants, deformed and stunted leaves. Zn deficiency in soil can cause yield loss up to 40% without the appearance of leaf symptoms. Plants absorb Zn in the form of Zn2+. Soils in Indonesia have low Zn content so that production and quality of crops are low. Zn plays an important role in plant growth, gene expression, enzyme structure, photosynthesis, pollen development, sugar transformation, protein synthesis, membrane permeability, signal transduction and auxin metabolism, and increasing maturation of seeds and stems. The critical limit of soil Zn for most plants ranges from 0.5-2.0 mg Zn/kg for DTPA extractant, while the critical limit in plant tissue is 20 mg Zn/kg. The management of Zn nutrients needs to be considered, although it is needed only in small amounts. Without Zn nutrient management, its concentration in soil will continuously decreased. Management strategies in overcoming low Zn availability in plants are application of fertilizer containing Zn and the use of varieties that have high Zn content. The application of ZnSO4 of 60 kg/ha can increased the yield of grain, straw, number of tillers, plant height and weight of 1000 grains in rice plants. The treatment of soaking rice seeds in a solution of 0.05% ZnSO4 for ± 5 minutes + 100 kg TSP/ha was the best treatment giving the highest grain weight in Grumusol and Alluvial.Keywords: Micronutrients Zn, deficiency, management AbtrakHara mikro Zn memiliki peranan penting dalam berbagai proses fisiologis dan fotosintesis untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman, namun belum mendapatkan perhatian. Naskah ini membahas sumber Zn dan ketersediannnya pada tanah, peranan penting hara Zn pada tanaman, dan strategi mengatasi kekurangan Zn dalam tanah. Hara Zn dalam tanah berasal dari batuan bahan induk tanah dengan kandungan rata-rata 78 mg/kg. Kadar Zn yang rendah di tanah menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan hasil rendah. Kekurangan Zn pada tanaman menyebabkan klorosis dan bintik-bintik nekrotik pada daun, pertumbuhan kerdil, dan daun cacat. Pada tanah yang kekurangan Zn, tanaman dapat mengalami kehilangan hasil hingga 40% tanpa gejala pada daun. Tanaman menyerap Zn dalam bentuk Zn2+. Tanah di Indonesia memiliki kandungan Zn yang rendah sehingga produksi dan kualitas tanaman rendah. Zn berperan penting dalam pertumbuhan tanaman, ekspresi gen, struktur enzim, fotosintesis, perkembangan polen, transformasi gula, sintesis protein, permeabilitas membran, transduksi sinyal, metabolisme auksin, pematangan biji dan batang. Batas kritis Zn dalam tanah untuk sebagian besar tanaman berkisar antara 0,5-2,0 mg Zn/kg untuk pengekstrak DTPA, sedangkan batas kritis pada jaringan tanaman 20 mg Zn/kg. Meskipun diperlukan tanaman dalam jumlah yang kecil, hara Zn perlu dikelola dengan baik. Strategi pengelolaan hara Zn agar selalu tersedia di tanah adalah melalui pemupukan dan penggunaan varietas yang mengandung Zn tinggi. Pemberian ZnSO4 60 kg/ha dapat meningkatkan hasil gabah, jerami, jumlah anakan, tinggi tanaman, dan bobot 1.000 butir tanaman padi. Perlakuan perendaman bibit padi dalam larutan 0,05% ZnSO4 selama ± 5 menit + 100 kg TSP/ ha memberikan bobot gabah tertinggi pada Grumusol dan Aluvial.Kata kunci: Hara mikro Zn, defisiensi, pengelolaan

Filter by Year

2008 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue